"Hyung, aku tidak akan mengulangi ucapanku. Kalau kau tidak mendengarkan ucapanku tadi dengan baik, maka kau harus membaca kertas ini untuk…"
"Diamlah, aku sedang memikirkan nama anakku"
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Seminggu rasa neraka lapis ketujuh, itulah yang dirasakan pegawai kantor Min Multicompany.
Min Suga yang biasa tidak ramah, sejuta kali berubah tidak ramah.
Min Suga yang biasa galak, berubah sejuta kali lebih galak.
Tercatat sudah enam orang pegawai dipecat hanya karena masalah sepele, entah karena kurangnya huruf A pada laporan, Peletakan tanda koma yang salah dilaporan, OB yang terlambat sekian detik mengantar kopi, karyawan yang tidak sengaja bertatap mata dengan Yoongi, dan banyak lagi kesalahan kecil yang membuat Yoongi meledak. Entah pada pagi, siang, atau sore hari. Dan pada malam hari, hanya karena relasinya salah bicara, Yoongi membatalkan SEMUA kontrak kerja sama tanpa berpikir dua kali.
Badai bernama Min Yoongi ini jelas-jelas mengkhawatirkan bagi mereka yang masih ingin makan dari gaji selama bekerja dibawah naungan Yoongi. Badai bernama Min Yoongi yang dipicu oleh hilangnya seseorang dari sisinya. Orang yang bertanggung jawab atas seluruh kekacauan yang diciptakan oleh Min Yoongi. Park Jimin orangnya.
.
.
.
"Jadi oppa pergi begitu saja? Tanpa mengatakan yang sebenarnya pada Yoongi oppa?" Jihyun melotot, ingin marah tapi tidak tega melihat Jimin yang masih saja murung semenjak tiba di Busan.
Jimin bahkan tidak keluar kamar selama seminggu. Demi Jimin, Jihyun bahkan harus mengambil cuti dari rumah sakit tempat dia bekerja. Demi bisa mendengar penjelasan Jimin yang sejelas-jelasnya tanpa terpotong karena Jimin yang mendadak menangis hebat sampai tertidur.
"Dia sudah bilang kalau punya anak tidak ada ditujuan hidupnya. Memangnya apalagi yang bisa kuharapkan?" Jimin mengernyit kesal. Nada bicara Jihyun seolah mengatakan Jimin adalah manusia terbodoh dimuka bumi yang pernah dia temui. Sangat mengesalkan.
"Setidaknya kau harus bicara jujur, Oppa." Jihyun merapatkan giginya saat berbicara, dia gemas sendiri melihat kelakuan kakaknya.
"Buat apa? Supaya dia bisa mengusirku secara langsung? Kau pikir aku akan sanggup menghadapinya, Park Jihyun?" Jimin mengeratkan pelukannya pada guling ditempat tidur, badannya bersandar nyaman dikepala ranjang.
"Kau bahkan belum mencoba jujur padanya. Tidak ada yang tau kan bagaimana reaksinya kalau dia diberitahu, ternyata akan punya anak?"
"Ya, aku bisa menebak reaksinya. Dia akan terkejut, diam, dan memintaku membunuh bayiku. Dan membunuh anakku sendiri tidak ada tercantum dalam tujuan hidupku. Kau harus tau, tidak ada mantan anak, yang ada adalah mantan pacar, mantan teman, mantan istri, dan mantan suami"
"Kita sedang tidak membahas mantan, oke? Ini soal Oppa yang tidak jujur pada ayah dari bayi oppa sendiri. Oppa harus paham kalau anak oppa juga berhak mengetahui siapa ayahnya" Jihyun melunak.
"Ya, dia akan tau saat dia bertanya padaku, nanti"
Jihyun melengos kesal. Sangat kesal. Bagaimana bisa kakaknya ini sekeras batu. Jihyun hanya meminta dia menghubungi Yoongi dan memberitahu yang sebenarnya, tapi akan berakhir dengan argument yang tidak bisa Jihyun bantah. Bahkan sudah seminggu mereka tarik urat soal Jimin yang harus jujur. Tapi Jimin terlalu pengecut untuk jujur.
"Semoga saat bertemu nanti, kau tidak dibunuh karena menyembunyikan anaknya" Jihyun menyumpah.
"Ya! Disini akulah yang paling tersakiti! "
"Oppa, kau harus paham satu hal. Yang paling merasa sakit dari kehilangan adalah yang ditinggalkan, bukan yang meninggalkan."
Jimin terdiam memandang Jihyun. Rasanya tak percaya adiknya yang cerewet ini berubah dewasa lebih cepat darinya. Agaknya Jimin takjub.
"Ya, dia akan merasa sakit jika dia mencintaiku, tapi kita bicara soal Min Yoongi, dia bahkan tidak pernah mengucapkan apapun yang berhubungan dengan kedua orang yang saling mencintai, dan…."
"Omong kosong. Kasih sayang, cinta, perhatian, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan romantisme itu dilihat dari tindakan, bukan omongan." Jihyun menutup pembicaraan soal Min Yoongi.
Gadis berambut panjang itu berdiri diatas tempat tidur Jimin, memandang kakaknya yang diam terbengong menatapnya. Mata gadis itu berputar, dia jengah.
"Mandilah, oppa sudah seminggu berkurung dikamar. Kita harus pergi jalan-jalan keluar"
"Aku tidak…"
"Kau harus keluar, aku tidak mau dititipi lagi. Kita harus membeli susu untuk keperluan keponakanku yang ada di dalam perut, dia perlu nutrisi. Jadi, cepat mandi. Kutunggu limabelas menit lagi" Jihyun melompat turun dari tempat tidur Jimin dan bergegas keluar. Enggan mengdengar protes Jimin lagi.
.
.
.
Jimin berdiri gusar sambil mendorong troli disalah satu swalayan di Busan. Jimin berpakaian serba tertutup, Hoodie, masker, dan topi menempel, membantu penyamaran Jimin. Selama berbelanja bahkan Jimin menunduk, tidak berani menatap kedepan, dia hanya mengikuti jejak kaki Jihyun kemana saja sambil mendorong troli. Bahkan saatnya pembayaran menuju kasir, Jimin hanya menyerahkan dompetnya pada Jihyun dan memilih masuk mobil Jihyun, menunggu gadis itu selesai membayar belanjaan.
Jimin memandang ponselnya yang sudah seminggu tidak ada telepon ataupun pesan dari siapapun. Jimin sudah mematahkan simcard ponselnya dan membuangnya ditengah jalan saat menuju Busan. Matanya memandang sedih layar ponselnya, tangannya bergulir menuju galeri foto dan matanya kembali berkaca-kaca saat melihat foto pria bersurai silver sedang tidur nyenyak di pangkuannya. Pria itu, Min Yoongi.
Jimin merindukannya. Sangat. Bahkan dalam khayalan Jimin, dia menginginkan Yoongi mencarinya dan menjemputnya pulang bersama. Jimin bahkan selalu menangis saat malam karena merindukan namja arogan itu.
Ketukan dikaca mobil mengejutkan Jimin, namja bersurai orange itu langsung menyimpan kembali ponselnya di saku Hoodie saat melihat wajah Jihyun teramat dekat dengan kaca. Jimin tertawa, dan membuka pintu mobil untuk sang adik.
"Ini dompetmu, Oppa" Jihyun menyerahkan dompet Jimin, mendudukan diri disamping kursi kemudi, dan belanjaan yang berada di pangkuannya.
"Pasang seatbelt mu" Jimin mengingatkan.
"Oke. Ah, Oppa… aku ingin membeli minuman sebelum pulang, atau bagaimana kalau kita mampir ke café milik oppa?" Jihyun berujar ceria. Jujur saja, dia hampir mati bosan hanya berkurung dirumah menemani Jimin.
Jimin berpikir sebentar. Dia juga mulai bosan berada di kamar terus menerus, jam masih menunjukkan pukul setengah tiga sore, dan biasanya café akan sepi dijam segitu, setelah berpikir beberapa menit, Jimin menyalakan mesin mobil dan menangguk untuk ide Jihyun itu.
Disinilah Jimin dan Jihyun berada. Setelah memarkirkan mobil dan memastikan penyamarannya sempurna, Jimin masuk ke café miliknya. Jihyunlah yang lebih dulu disambut oleh para pekerja, karena mereka hanya tau, café itu atas nama Jihyun, bukan milik Jimin si artis. Bahkan fakta soal Jihyun yang merupakan adik kandung Jimin hanya diketahui oleh salah satu pekerja café.
Jimin langsung berjalan kelantai dua café tanpa menyapa para pekerja yang sudah mengerumuni Jihyun dan sibuk mengurusi pesanan gadis itu. Setelah memesan, Jihyun berjalan kearah Jimin yang sudah melepas masker dan topi, duduk disamping Jimin yang memilih kursi paling sudut yang langsung berhadapan dengan pemandangan pantai.
Hampir satu jam mereka berada di café dengan Jihyun yang berbicara tentang manajemen café yang diolahnya. Jimin tidak benar-benar mendengar adiknya berbicara, matanya sibuk memandang hamparan laut sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan ketika bayinya lahir nanti.
"Oppa, kau mendengarkan ku tidak sih?" Jihyun mulai kesal karena Jimin hanya menjawab 'hem, oh, iya'.
"Soal mengganti meja kasir kan? Lalu bagaimana?"
"Oppa, kau melamun? Aku sudah tidak membicarakan meja kasir sejak setengah jam yang lalu!"
Jimin hanya berhehehe ria sambil meminta maaf, karena dia benar-benar tidak focus tentang apapun yang dibicarakan adiknya. Kepalanya penuh.
"Astaga, aku sedang memberitahu perkembangan café, dan kau melamun. Terima kasih" Jihyun memutar matanya kesal.
"Maafkan aku" Jimin tersenyum merasa bersalah.
Mereka sibuk berbicara lagi tanpa sadar seseorang mengambil foto Jimin diam-diam diluar.
.
.
.
Foto itu tersebar luas dengan cepat. Terima kasih untuk internet, social media, dan fans. Foto itu diposting disalah satu social media yang merupakan fanbase Jimin, tidak ada caption yang memprovokasi, hanya tanggal hari itu, diikuti dengan nama café, dan lokasi daerahnya. Patut disyukuri karena foto itu tersebar di internet, Jimin sudah dalam perjalanan pulang bersama Jihyun.
Rasanya hanya baru sebentar Jihyun meninggalkan café dan seseorang yang bekerja dicafe menelepon Jihyun.
"Ada apa?" Jihyun mengernyit bingung.
"Café membludak nuna, banyak orang mencari Park Jimin datang kesini, dan kami kesulitan memenuhi pesanan, kami butuh bantuan, bisa tolong teleponkan Ryuji dan Jiho untuk membantu kami, nuna?" suara itu terdengar panic dan mati-matian berusaha terlihat tenang. Jihyun bisa mendengar keramaian dari sambungan telepon mereka.
"Apa mereka seperti mafia atau orang jahat?" Jihyun memastikan.
"Ani. Mereka sepertinya fans Park Jimin yang tersasar. Kami sudah bilang tidak ada Park Jimin disini, tapi mereka tidak percaya"
"Ah, syukurlah. Ya sudah, layani saja. Akan ku telepon Ryuji dan Jiho sekarang. Semangat!" Jihyun menutup ponselnya dengan tertawa senang, sementara Jimin memandangnya dengan bingung.
"Ada apa?"
"Café sedang ramai, aku senang" Jihyun menjawab dengan terlalu ceria pertanyaan Jimin, membuat Jimin makin bingung.
"Kita baru saja pulang dari café, dan hanya ada lima pengunjung lain selain kita, bagaimana bisa ramai? Ada yang mendadak membuat arisan atau apa?" Jimin melirik Jihyun dan kembali konsentrasi menyetir mobil.
"Rahasia.." Jihyun menaik turunkan alisnya. Gadis itu mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Kyungsoo, satu-satunya pegawai yang mengetahui hubungan Park Jimin dan Park Jihyun.
'Katakan pada mereka, jika mereka ingin foto Park Jimin yang baru saja berkunjung, mereka harus membeli minuman dari café. Aku akan mengirim foto Jimin oppa setelah ini. Baik-baik dengan fans oppa ku, oke? Perlakukan mereka dengan special. hahahaha'
Jihyun benar-benar mengirim foto Jimin pada Kyungsoo. Terkadang, kau harus memanfaatkan keadaan demi keuntungan. Sebagai pebisnis muda, otak Jihyun jelas bisa diperhitungkan. Dasar licik.
.
.
.
Setengah jam saat foto itu tersebar, Jackson dan Luhan sudah berdiri lebih dari lima menit di depan pintu ruangan Yoongi tanpa berani mengetuk pintunya, bernafas pun mereka takut. Jika mendengar cerita dari para pekerja di kantor Yoongi, ruangan Yoongi tak ubahnya 'Red Room'. Masuk, dan kau akan mati.
Keduanya bernafas lega saat melihat Namjoon muncul dengan tergesa, Namjoon mengernyit saat melihat wajah lega yang tidak ditahan-tahan itu terpampang didepannya.
"Sedang apa kalian disini?" Namjoon mengernyitkan alisnya.
"Syukurlah kau datang hyung. Cepat ketuk pintunya" Jackson mendorong punggung Namjoon mendekat ke pintu.
"Ada apa ini?" Namjoon makin bingung.
"Sudah, ketuk saja. Kami di belakangmu hyung, jadi kalau ada peluru nyasar, kau yang lebih dulu kena" Jackson berucap jujur. Namja keturunan cina itu bahkan sudah menyembunyikan diri dibalik badan Namjoon, disusul Luhan dibelakang Jackson.
"Kau…"
"Sudah, ketuk saja" potong Luhan tak sabar.
Jadilah Namjoon yang mengetuk pintu ruangan Yoongi, setelah mendengar bunyi 'klik' pada pintu, Jackson menahan nafas karena gugup, sementara Luhan menahan tangan Namjoon untuk mendorong pintu agar terbuka.
"Apalagi?" Kesal Namjoon.
"Sebentar, aku ingin menyingkir dulu" Luhan bergeser agak jauh dari pintu sementara Jackson masih setia berlindung dibalik tubuh Namjoon.
Pintu terbuka dan aura dingin dingin terasa sangat kental diruangan itu.
Yoongi sedang duduk dikursinya sambil melirik tajam kearah Namjoon dan Jackson di depan pintu, sementara Luhan tidak terlihat lagi. Dia kabur.
"Apa?" Yoongi dengan intonasinya yang tenang, sinyal bahaya.
"Aku menemukan Jimin" Namjoon berujar langsung. Bukan saatnya untuk basa-basi.
"Tidak! Aku yang lebih dulu menemukan Jimin!" Sela Jackson tak terima. Dia refleks. Tujuannya datang ke kantor Yoongi memang ingin memberitahukan soal Park Jimin.
Setelah mata Yoongi mengilat kejam, Jackson membungkuk dan meminta maaf.
"Dimana dia?" Yoongi bertanya lagi, tapi auranya sudah mulai berangsur normal, tidak sedingin tadi.
"Busan" Jackson yang menjawab kali ini.
Namjoon bisa melihat tangan Yoongi meremas pulpen digenggamannya dengan keras.
"Apa yang harus kulakukan, hyung?" Namjoon bermain aman. Dia tidak ingin membuat monster didepannya ini lebih mematikan dari biasanya.
"Apa kami harus membawanya kembali, boss?" Jackson bertanya takut-takut.
"Batalkan semua pertemuanku, aku sendiri yang akan menyeretnya kembali" putus Yoongi.
Namjoon bisa melihat amarah di mata Yoongi dan itu bukan hal yang baik. Sangat tidak baik. Amarah Yoongi sudah terlalu lama dipendam, seminggu! Jimin bisa tinggal nama kalau bertemu Yoongi.
Namjoon mencoba menenangkan pikirannya agar bisa berpikir jernih, dan sesuatu melintas dibenak Namjoon.
"Hyung, ada anakmu diperutnya. Jangan melakukan hal apapun yang bisa mengancam keselamatan Jimin atau kau tidak akan pernah melihat anakmu" Namjoon berucap tenang.
Bak bom air yang dihempaskan tepat diatas kepala Yoongi, amarah namja pucat itu menguap. Sesuatu yang kejam yang ingin Yoongi lakukan agar Jimin kembali, mendadak hilang. Yoongi terdiam sesaat, menyesali pikiran jahatnya.
Yoongi marah bahkan hampir hilang akal. Dia tidak terbiasa di tinggalkan, tidak boleh lebih tepatnya. Seumur hidupnya dia terbiasa mengatur dan dituruti, dan apa yang dilakukan Jimin tidak bisa ditoleransi. Tapi mendadak semuanya hilang saat Yoongi mengingat ada anaknya bersama Jimin. Yoongi marah karena Jimin meninggalkannya tanpa mengatakan apapun, dan itu membuat dia bingung setengah mati. Lebih dari semua itu, sebenarnya Yoongi hanya ingin penjelasan dari semua hal yang terjadi. Dia bukan ingin, tapi butuh penjelasan.
"Aku tau" Yoongi berucap dingin.
"Ini alamat rumah Jimin di Busan, Boss" Jackson menyerahkan alamat lengkap Jimin pada Yoongi. Sementara Namjoon hanya melongo. Bagaimana bisa namja cina ini memiliki alamat Jimin dengan sangat mudah saat Namjoon harus membelikan Seokjin parfum merek ternama dengan harga tidak masuk akal untuk mendapatkan alamat Jimin. Ini tidak adil!.
.
.
.
"Mau kemana?" Tanya Jimin penasaran saat melihat Jihyun berdandan rapi, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan itu membuat Jimin lebih penasaran lagi.
"Kerumah Dawon, teman sekolahku dulu, oppa" jawab Jihyun sambil memasukkan ponsel dan dompetnya kedalam tas.
"Malam-malam begini? Untuk apa?" intonasi nada Jimin jelas menunjukan ketidaksetujuan.
"Dia sedang patah hati. Pacarnya baru saja ketahuan selingkuh, jadi dia butuh teman sekarang" jelas Jihyun.
"Suruh saja dia yang kerumah kita"
"Dan membuat dia memberitahu dunia kalau Park Jimin tinggal dirumah ini? Kau yakin, Oppa?"
Jimin terdiam.
"Dia fans mu, ngomong-ngomong. Dia bahkan menyumpahi Yoongi karena berani menciummu" tambah Jihyun.
"Cukup beritahu dia untuk tutup mulut kan?" Jimin masih bersikeras.
"Tidak ada yang bisa percaya mulut wanita, Oppa. Kecepatan mulut wanita bahkan bisa mengalahkan kecepatan cahaya dalam urusan bergosip" Jihyun berucap jengah.
Jimin terdiam lagi.
"Aku harus pergi, kasihan Dawon kecil ku sedang merana sekarang" Jihyun bergegas menuju garasi yang memiliki pintu terhubung dengan dapur.
"Jam berapa kau akan pulang? Biar oppa saja yang mengantar dan menjemputmu"
"Aku akan menginap. Jadi oppa istirahat saja. Kasihan baby kalau diajak bergadang. Dan, aku sudah membuatkan susu untuk oppa. Masih hangat" Jihyun berjalan ke rak sepatu yang berada digarasi mobil sementara Jimin mengekori dibelakang.
"Kenapa menginap?" Protes Jimin.
"Oppa, Dawon membutuhkan ku. Cuma aku sahabat yang mengerti dia, jadi aku harus pergi. Aku tinggal, oke? Besok pagi aku akan kembali" Jihyun membuka pintu garasi, membuat pintu itu berderit ribut. Kemudian berlari membuka gerbang dan kembali ke garasi.
"Setelah sampai dirumah Dawon, biarkan aku berbicara dengan orang tuanya" tegas Jimin.
"Ne"
"Ya sudah, pergi sana. Biar oppa yang menutup garasi dan hati-hati…"
"Gomawo, oppa" Jihyun memundurkan mobil dan menghilang.
Jimin sudah selesai menutup gerbang dan garasi, dia kembali kedapur dan mendapati susu yang di buat Jihyun diatas meja dapur. Baru saja Jimin akan mengangkat gelas, pintu rumahnya diketuk dari luar.
"Pasti ada barang yang tertinggal…" gerutu Jimin.
Jimin berjalan kearah pintu depan, membuka pintu tanpa repot-repot mengintip dari celah kaca transparan yang ada didepan pintu. Dan Jimin terdiam tak percaya, bukan Jihyun yang datang.
Min Yoongi. Namja pucat itu berdiri dengan wajah datar dan dingin. Tepat di depan Jimin.
Sedetik terpaku, akhirnya Jimin sadar kalau dia sedang tidak berhalusinasi, itu benar Yoongi. Dia terburu menutup pintu dan gagal. Kaki Yoongi sudah lebih dulu mengganjal pintu, membuat Jimin panic dan mendorong pintu sekuat tenaga. Dia takut.
"Hentikan, Park Jimin!" desis Yoongi. Namja pucat itu mendorong pelan dan kuat, membuat celah pintu melebar sedikit demi sedikit.
Merasa kalah kuat, Jimin berlari kedalam rumah. Kemudian bingung harus kemana. Jimin bisa melihat Yoongi mengunci pintu dan mengantongi kuncinya di saku celana. Tamatlah dia sekarang.
Yoongi berjalan tenang kearah Jimin yang melirik ke kiri dan kanan, mencari tempat bersembunyi yang aman. Dia bisa melihat mata Jimin berkaca-kaca, Jimin bisa dipastikan ketakutan sekarang.
Saat berada tepat di depan Jimin, Yoongi mencengkram lengan atas Jimin dan menarik paksa Jimin kedepannya, kemudia menarik dagu Jimin agar menatap matanya. Yoongi marah, tapi melihat Jimin yang gemetar membuatnya sakit. Setakut itukah?
"Katakan alasanmu, Park Jimin" Yoongi memandang tepat dikedua mata Jimin yang menolak tatapannya.
"Le.. lepaskan, Yoongi. Kumohon…" Isakan Jimin mulai terdengar.
"Aku akan benar-benar melepaskanmu saat aku tau alasanmu…" desis Yoongi.
"A.. apa yang ingin kau dengar?" Jimin bergetar. Tangannya yang lain memegang tangan Yoongi yang mencengkram lengan atasnya.
"Alasanmu pergi. Jelaskan" Yoongi mati-matian menahan diri agar tidak meledak, menahan amukan dan makian yang sudah berada di ujung lidahnya.
"Ti… tidak ada alasan khusus" cicit Jimin. Air matanya mengalir makin deras.
"Lalu kenapa kau pergi tanpa kabar? Ingin dicari, huh?" Yoongi memprovokasi.
Jimin merasa marah karena Yoongi meremehkan kepergiannya. Jimin benci mendengar intonasi merendahkan itu, seolah Jimin sedang bercanda, seolah kepergian Jimin hanya untuk mencari perhatian Yoongi.
"Aku tidak seperti itu!" Jimin memberontak, matanya menatap marah, tapi air matanya tidak berhenti sama sekali.
"Lalu?" Yoongi tersenyum meremehkan.
"Kenapa kau mencariku?" Jimin menantang mata Yoongi. Amarah mulai membakarnya.
"Aku sudah bilang dari awal, aku butuh penjelasan!"
"Aku hanya ingin pergi" Jimin berpaling. Begitu melihat mata Yoongi, rasa rindunya mengalahkan amarahnya, dan Jimin tidak ingin terlihat lemah untuk kemudian menangis meraung-raung sambil memeluk Yoongi yang akhirnya membuangnya.
"Perlu ku ingatkan lagi, tidak ada yang bisa pergi tanpa seizinku, Anjing kecil"
Jimin merasa nada itu penuh ejekkan ditelinganya. Dentuman jantung Jimin menggila dan namja bersurai orange itu mematung ditempatnya.
"Aku bisa. Aku bisa melakukan apapun yang ku mau" Jimin berontak lagi.
"Kau. Tidak. bisa" Yoongi menekan semua ucapannya.
"Apa maumu?!" Jimin meledak dalam tangisnya. Sesuatu dalam perutnya seperti bergejolak, memperparah keadaan.
"Penjelasan"
"Aku hanya ingin pergi, itu saja!" Jimin berteriak frustasi.
"Kau tidak bisa pergi dengan alasan itu. Apa yang aku tidak ketahui, Park Jimin…" Yoongi mendesis mengerikan. Memaksa Jimin buka mulut dengan sejujur-jujurnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Yoongi, lepas…" Jimin mengiba agar tangannya dilepas, karena cengkraman Yoongi makin menguat.
"Katakan yang tidak aku tau" Yoongi memandang dengan pandangan yang menuntut.
"Yoongi lepas…" Jimin mengiba lagi.
"KATAKAN, PARK JIMIN!" kesabaran Yoongi habis. Dia membentak Jimin tanpa sadar karena Jimin tidak juga berkata jujur padanya.
"Sakitt…" Jimin menangis makin keras.
"APA KAU SANGAT BENCI ANAKKU SAMPAI KAU SEPERTI INI? APA KAU BENAR-BENAR TIDAK SUDI MEMILIKI ANAK DARIKU? KATAKAN, PARK JIMIN!" Yoongi benar-benar meledak.
Jimin tergugu, dia berhenti berontak. Hanya suara sesenggukan Jimin yang terdengar. Yoongi menunduk dan mengusap wajahnya kasar, dia melepaskan cengkramannya dan berteriak mengeluarkan rasa frustasinya. Mengatur nafas dan emosinya agar tidak berbuat kasar pada Jimin.
"Jimin…"
Yoongi terkejut saat Jimin menerjang tubuhnya dan memeluknya erat sambil menangis sesenggukan. Meskipun bingung, Yoongi balas memeluk Jimin dan mengecup puncak kepala Jimin berkali-kali. Dia merindukan anjing kecilnya dipelukannya.
"A… aku hiks… aku pikir kau… kau tidak ingin anak ini…" Jimin menangis hebat lagi dipelukan Yoongi, bicaranya bahkan berantakan. Sangat berantakan. "Aku… aku, aku takut kau membenci anak ini… aku takut, Yoongi"
"Apa yang membuatmu berpikir begitu? Siapa yang sudah mengacaukan pikiran bodohmu?" Yoongi melunak. Diangkatnya wajah Jimin yang dialir air mata, kemudia menghapusnya dengan tangan pucatnya.
"Kau… kau sendiri yang bilang… kau.. kau tidak ingin punya anak. Punya anak tidak ada dalam tujuan hidupmu. Aku ketakutan…" Jimin sesenggukan makin parah, dan Yoongi tetap menghapus air mata Jimin dengan tangannya.
"Kapan aku bilang begitu? Kau bahkan tidak memberitahuku"
"Saat kau istirahat di apartemen. Aku bercerita… hiks.. soal teman ku, lalu aku .. aku bertanya soal anak… dan…"
"Ya Tuhan, Maafkan aku…" Yoongi mencium bibir Jimin, meredam tangis namja itu dan menyalurkan permintaan maafnya. Agar Jimin mengerti kalau Yoongi menginginkan Jimin disisinya. Juga Membuat Jimin mengerti kalau Yoongi membutuhkannya.
Namja pucat arogan itu baru sadar kesalahannya. Ya, setelah seminggu barulah dia sadar akan kesalahannya.
Dan Jimin juga baru sadar kebodohannya yang tidak berani berkata jujur dari awal. Harusnya mereka tidak perlu seperti ini jika Jimin Jujur.
Yoongi melepas ciumannya dan Jimin masih terisak walaupun air matanya masih mengalir meski tidak sederas tadi. Yoongi memeluk Jimin erat, menyalurkan rasa rindu yang membuat kewarasannya hilang. Mengecup kepala Jimin berulang kali.
"Ayo kita pulang" Yoongi berujar pelan.
"Aku masih ingin disini…" cicit Jimin. Suaranya teredam dibahu Yoongi yang masih memeluknya.
"Sampai kapan aku harus menunggu?"
Ini adalah keajaiban. Min Yoongi rela sabar menunggu seseorang. Jimin harusnya terharu!. Sekali lagi Jimin memenangkan hal termahal dari Min Yoongi. Waktu milik Min Yoongi.
"Biarkan aku disini dulu, aku ingin menenangkan diri…"
"Tapi Rumah kita menunggu…"
Jimin tersentak. Jantungnya berdebar kencang mendengar ucapan Yoongi. Rumah kita katanya? Kenapa Min Yoongi si arogan ini bisa jadi manis sekali…
"Ini rumahku…" cicit Jimin. Dia malu.
"Ya, ini rumahmu. Tapi rumah kita sudah menunggu"
"Dan dimana rumah kita itu?" Jimin mengeratkan pelukannya. Rasanya dia akan meleleh sekarang.
"Ayo pulang, akan ku tunjukan dimana rumah kita"
"Aku tidak bisa berada dirumahmu" Jimin merasa sesuatu tidak benar, dia tidak bisa tinggal bersama Yoongi.
"Kau bisa"
"Tidak, kita…"
"Park Jimin, ayo menikah dan tinggal dirumah kita"
.
.
"Apa yang kau lakukan?" Wonho memutar matanya kesal. Dia belum sembuh total, tapi Hyungwon sudah memaksanya keluar rumah. Ke apartemen Jimin.
"Menemui Park Jimin. Apalagi?" Hyungwon menekan tombol lift dengan tak sabar.
"Sudahlah, Yoongi akan membunuhmu. Kau tau kan?"
"Hussssttt! Kau cerewet sekali! Pulang sana kalau tidak mau ikut!" kesal Hyungwon.
"Ya sudah! Aku tidak akan melakukan apapun kalau Yoongi hyung memukulimu dengan tongkat baseball, dan…."
Pintu lift terbuka, Hyungwon menarik paksa Wonho masuk kedalamnya. Menuju apartemen Jimin.
.
.
.
TBC
*terharu lagi*
*Ketjup jidatnya satu-satu*
Ga nyangka kakak-kakak suka sama ff ini, sampe di samperin di PM :')
Makin semangat update begitu baca reviewan kakak-kakak.
Sebagai author yang baru lahir aku sangat terharu, dapat review satu aja uda seneng banget.
Iya, murahan ya. Dapat review aja kesenengan. Tapi ini beneran XD Jangan cape-cape review ya kak…
