"Apa yang kau lakukan?" Wonho memutar matanya kesal. Dia belum sembuh total, tapi Hyungwon sudah memaksanya keluar rumah. Ke apartemen Jimin.
"Menemui Park Jimin. Apalagi?" Hyungwon menekan tombol lift dengan tak sabar.
"Sudahlah, Yoongi akan membunuhmu. Kau tau kan?"
"Hussssttt! Kau cerewet sekali! Pulang sana kalau tidak mau ikut!" kesal Hyungwon.
"Ya sudah! Aku tidak akan melakukan apapun kalau Yoongi hyung memukulimu dengan tongkat baseball, dan…."
Pintu lift terbuka, Hyungwon menarik paksa Wonho masuk kedalamnya. Menuju apartemen Jimin.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Selama dalam lift, entah sudah berapa kali Wonho mengumpat, dia kesal. Dia benar-benar ingin meninggalkan Hyungwon dan segala hal yang ingin dia lakukan. Wonho benar-benar tidak ingin terlibat. Cukup sekali Yoongi melepaskannya, jika sampai kedua kali, Yoongi pasti mengiris nadinya dan menggantungnya, membuat Wonho mati perlahan.
Mereka sudah sampai dilantai apartemen milik Jimin, seperti kata receptionist di lobi gedung yang mereka temui.
"Yoongi akan benar-benar membunuhmu kalau dia tau kau melakukan hal yang tidak-tidak pada Park Jimin" Wonho memperingatkan kesekian kali.
"Terimakasih informasinya, anak muda. Sangat membantu" ucap Hyungwon sarkas.
"Aku akan menunggu disamping lift, terserahmu mulai sekarang. Lakukan sesukamu"
"Kau akan membiarkanku sendirian menghadapinya?" Hyungwon berucap tak percaya.
"Dari awal aku memang tidak terlibat. Jadi jangan bawa-bawa aku" Wonho menyandarkan punggungnya disamping pintu lift yang sudah tertutup.
"Sejak kapan kau jadi seperti ini, Wonho?" tangan Hyungwon bersidekap didada, matanya menyalang marah, tapi Wonho tak bergeming ditempatnya.
"Aku kesini karena kau seret. Dan perlu kau tau, tulang rusukku bahkan belum sembuh. Kalau kau ingin mati, matilah sendiri"
Hyungwon terkejut mendengar ucapan Wonho. Seumur hidupnya Wonho tidak pernah berkata kasar seperti itu, biasanya Wonho hanya akan mengumpat tanpa berani mengucapkan langsung ke mukanya, dan apa ini sekarang?.
"O.. oke kalau begitu! Pergi sana! Kau ku pecat!" Hyungwon gentar. Dia tidak terbiasa tanpa Wonho disampingnya. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk merengek di depan Wonho yang menurutnya keterlaluan.
Hyungwon berjalan menghentak, meninggalkan Wonho yang geleng kepala melihat tingkah Hyungwon.
Sangkin marahnya, Hyungwon lupa yang mana unit milik Jimin. Hyungwon berakhir dengan memencet bel apartemen Jungkook yang berada tepat didepan apartemen Jimin.
"Ya?" Jungkook membuka pintunya untuk Hyungwon yang terlihat kesal luar biasa.
"Biarkan aku masuk!" sentak Hyungwon. Hyungwon mendorong pintu apartemen Jungkook dan masuk begitu saja langsung keruang tamu, sementara Jungkook kebingungan dengan tamu yang tidak di undang ini.
Dia kenal Hyungwon. Mereka pernah satu sekolah, dulu. Jadi Jungkook membiarkan saja Hyungwon masuk ke apartemennya. Yang membuat Jungkook bingung adalah, ada urusan apa anak orang kaya paling menyebalkan satu sekolah ini datang ke apartemennya.
"Seingatku kita tak akrab, Chae Hyungwon" Mulai Jungkook. Dia mendudukan diri di sofa panjang miliknya, sementara Hyungwon duduk di sofa tunggal.
"Aku tau. Aku hanya kesal. Biarkan aku disini dulu"
"Dan apa yang membuatmu datang kesini?" Jungkook masih tak habis pikir. Dia baru saja akan tidur, syutingnya baru selesai pagi tadi.
"Ah, untung kau ingatkan. Kau tinggal dengan Park Jimin?" Hyungwon berubah antusias.
"Tidak, ini apartemenku kalau kau mau tau. Apartemen Jimin hyung tepat didepan milikku. Kau kesini mencari Jimin hyung? Kalau begitu kita sama, aku juga mencarinya. Dan apa urusanmu dengan Jimin Hyung?""
"Berarti aku salah unit, ya" Hyungwon berbisik pada dirinya sendiri. "Aku ada perlu, ini soal gossip yang beredar kemarin-kemarin" jelas Hyungwon.
"Apa urusanmu dengan gossip itu?" Jungkook bertanya bak intel.
"Kau pasti tau sesuatu kan soal gossip itu? Katakan padaku." Hyungwon balik bertanya.
"Kenapa aku harus menjelaskan sesuatu yang bukan urusanmu?"
"Wow, lihat si Jungkook ini. Dia lupa sedang bicara dengan Chae Hyungwon…" Hyungwon melengos dengan wajah super menyebalkan,
"Wow, si Hyungwon ini, dia lupa sedang berbicara dengan artis terkenal saat ini…" balas Jungkook.
"Ya! Jungkook!"
"Kau tamu. Dimana sopan santun mu?" Jungkook memutar bola matanya. Seumur hidupnya dia tidak ingin berurusan dengan anak manja ini. Cukup selama sekolah dia melihat wajah menyebalkan Hyungwon di sekitarnya.
"Woah.. daebak! Lihat siapa yang berbicara sekarang?" Hyungwon kaget dibuat-buat.
"Apa maumu?" Tanya Jungkook jengah.
"Baiklah, aku akan langsung saja. Apa Park Jimin dan Min Suga memilik hubungan khusus?" Tanya Hyungwon penasaran.
"Mereka sudah bercinta, tentu saja mereka memiliki hubungan khusus" Jawab Jungkook tak peduli.
"Ya, seperti Min Suga tidak pernah bercinta dengan jalang lain saja. Setelah bercinta sekali, jalang itu pasti dibuang" Hyungwon berbicara dengan intonasi nada yang merendahkan.
"Sepertinya kau tau banyak soal Min Suga. Kenapa kau merepotkan diri sendiri dengan datang kesini mencari tau?"
"Berhenti bersikap menyebalkan, Jungkook! Ayo bicara baik-baik" Hyungwon setengah berteriak. Dia mulai kesal dengan sikap Jungkook yang terlihat tidak terintimidasi sama sekali.
"Harusnya aku yang bicara begitu" Jungkook memutar bola matanya untuk yang kesekian kali.
"Baiklah, berhenti menyebalkan. Apa yang kau ketahui soal mererka berdua?" Hyungwon menahan dirinya setangah mati untuk tidak menjambak Jungkook yang masih terlihat angkuh. Demi Tuhan, kenapa semua orang sangat menyebalkan?.
"Ku harap kau bisa jaga rahasia. Tapi mereka akan menikah" Jungkook berujar santai. Dia berbohong. Jungkook bahkan tidak tau hubungan seperti apa yang dijalani Jimin dan Yoongi. Tapi apa salahnya membuat anak manja ini makin murka? Dia butuh hiburan.
"THE FU*CK? AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU KAU BERBOHONG SOAL INI, JUNGKOOK!" Hyungwon meledak.
"Aku tidak minta kau percaya. Seperti kata orang-orang, yang mencintaimu akan percaya ucapanmu, yang membencimu tidak akan pernah percaya apapun ucapanmu, sekalipun kau membeberkan fakta didepan mukanya" Jungkook menikmati kemenangannya.
"Kau…"
"Dimana peliharaanmu? Tumben kau tidak bersamanya?" Jungkook memotong ucapan Hyungwon yang siap meledak sekali lagi.
"Peliharaan? Apa maksudmu?"
"Siapa namanya? Wonbo? Wondo?" Jungkook mencoba mengingat anak laki-laki yang setia hari berada disampang Hyungwon selama disekolah.
"Wonho."
"Nah, benar. Dimana dia?" Jungkook menyila kakinya diatas sofa.
"Jaga ucapanmu! Dia bukan peliharaan!" Marah Hyungwon.
"Ups, sorry. Aku hanya mengikuti ucapanmu saja. Kau selalu berkata begitu ke teman-teman mu kan?" Jungkook tersenyum sinis.
Hyungwon mendadak terdiam. Benarkah dia mengatakan pada teman-temannya kalau Wonho adalah peliharaannya? Bukankah dia sudah keterlaluan sejak dulu?
"Dia sudah ku pecat…" cicit Hyungwon.
"Ah, akhirnya otaknya berfungsi juga. Seharusnya sudah sejak lama dia pergi, dia layak mendapatkan orang yang memperlakukannya sebagi manusia, bukan peliharaan. Dia layak mendapatkan yang terbaik. Bukannya diam di sisimu" ejek Jungkook.
"Jaga mulutmu" geram Hyungwon.
"Sepertinya aku salah bicara lagi…" Jungkook berpura-pura terkejut. "Btw, apa hubunganmu dengan Min Suga?"
"Aku adik tirinya" jawab Hyungwon tak berminat. Pikirannya sudah melayang ke Wonho.
"The Fu*ck?" Jungkook terkejut.
.
.
.
Yoongi terbangun siang hari setelah semalaman tidak bisa tidur, berpikir karena Jimin menggantung lamarannya. Jawaban Jimin atas ajakannya menikah semalam benar-benar mengganggu pikirannya.
Semalaman dia hanya memeluk Jimin yang tertidur amat nyenyak, sementara Yoongi benar-benar merasa tidak berniat untuk tidur. Tepat pukul lima pagi, barulah Yoongi jatuh tertidur.
"Berikan aku waktu untuk berpikir, ne?"
Jawaban itu bagai mimpi buruk bagi Yoongi.
Yoongi mendudukan dirinya ditempat tidur, sementara Jimin sepertinya sudah bangun. Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Yoongi menarik gorden tebal yang menutupi jendela kaca kamar Jimin, sinar matahari langsung menyerang matanya.
Yoongi baru saja ingin beranjak, saat pintu kamar terbuka. Memunculkan Jimin yang terlihat sudah segar dengan kaos putih dan celana pendek terpasang di badannya.
"Sudah bangun?" Jimin berjalan dengan segelas air putih hangat ditangannya. "Minumlah hyung" Jimin menaiki tempat tidur sambil menyerahkan gelas ditangannya.
Yoongi meminum tanpa menjawab apapun pertanyaan Jimin.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Jimin bertanya lagi.
Yoongi bisa melihat jelas wajah terlalu ceria milik Jimin. Yoongi hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia menyerahkan gelas kosong itu ketangan Jimin.
"Hyung, kau akan kembali ke Seoul hari ini?"
Yoongi mengangguk lagi. Nyawanya masih belum terkumpul seluruhnya.
"Aku akan kembali ke Seoul minggu depan, tidak masalah kan?"
"Aku keberatan" Jawab Yoongi jujur. Yang benar saja, Minggu depan itu lama.
"Hey, hanya seminggu lagi…" bujuk Jimin. Dahinya sudah bersandar dibahu Yoongi, tangannya melingkar di pinggang Yoongi yang terduduk malas ditempat tidur.
"Semalam kau bilang akan pulang lusa. Hari ini seminggu lagi, lalu besok? Sebulan lagi?"
"Janji, hanya seminggu lagi. Jihyun sudah cuti demi menemaniku disini, jadi aku tidak mungkin meninggalkan Jihyun sendiri hyung" Jelas Jimin.
"Siapa Jihyun?"
"Ah, aku lupa memberitahu. Hyung, cepat mandi, akan ku kenalkan pada Jihyun." Ujar Jimin semangat.
"Siapa Jihyun?" ulang Yoongi lagi.
"Adik perempuanku. Dia sedang mandi juga, baru kembali dari rumah temannya." Jimin melepaskan pelukannya
"Adikmu perempuan?" Yoongi bertanya memastikan.
"Ne. cepat mandi. Nanti akan ku kenalkan. Pakai bajuku saja ya Hyung, kau mau kan?" Jimin berucap seperti memohon.
Yoongi menarik tengkuk Jimin dan mencium namja bersurai orange itu dalam. Salahkan Jimin kenapa bertingkah seperti anak anjing minta dipungut.
Jimin mendorong dada Yoongi pelan karena dia butuh udara, Yoongi menciumnya seperti tidak ada hari esok lagi untuk melakukan itu. Jimin malu. Wajahnya memerah. Sementara Yoongi dengan santai bergeser dan turun dari tempat tidur.
"Baiklah, aku akan mandi" Yoongi merenggangkan badannya.
"Bajunya akan kuletakan ditempat tidur, hyung. Ada handuk bersih di kamar mandi, pakai saja"
"Kau terdengar seperti istri yang sedang mengurusi suaminya" Yoongi berucap santai dan berlalu ke kamar mandi. Meninggalkan Jimin yang memerah sekali lagi.
.
.
.
"Hyung, kenalkan ini Jihyun, adikku. Jihyun, kenalkan, iniYoongi…" Jimin mengenalkan Yoongi dan Jihyun. Keduanya berjabat tangan dan saling mengucapkan nama masing-masing.
"Jadi, Yoongi oppa ini siapamu, oppa?" pancing Jihyun. Wajahnya terlihat polos tak berdosa, tapi Jimin tau anak itu sedang menggodanya.
"Benar, kau mengenalkan Jihyun sebagai adikmu, lalu aku apa?" Yoongi memperburuk keadaan Jimin. Wajahnya dipasang se-innocent mungkin. Terimakasih, Min Yoongi.
Jimin menelan ludahnya gugup. Disampingnya Yoongi seperti menuntutnya lewat tatapan matanya, didepannya Jihyun seperti sedang tertawa setan dibalik wajah tak berdosanya. Jimin terjebak. Kedua orang ini jelas mempermainkannya. Mereka sekongkol!.
"Sudah, makan saja makan siang kalian!" Jimin berucap kesal bercampur gugup.
"Oppa?" Jihyun sepertinya tidak puas. Dia mulai mendesak.
"Wah.. ternyata aku hanya Min Yoongi" Yoongi menyindir Jimin yang tidak juga bersuara.
"Jadi, Yoongi oppa ini hanya kenalan Jimin oppa ya?" Jihyun bersuara lagi. Dia jelas tau kalau Yoongi lebih dari itu. Dia bahkan sudah tau kalau Yoongi, Appa dari anak Jimin. Tapi hey, ini menyenangkan.
"Ya. Oppa hanya sebatas Min Yoongi saja untuknya" Jawab Yoongi.
Jimin mendelik tajam kearah Yoongi dan Jihyun yang sepertinya sudah akrab satu sama lain. Hebat sekali.
"Aku pikir oppa ini orang special Jimin Oppa. Ternyata Cuma kenalannya" Jihyun memanasi. Pura-pura tidak melihat tatapan tajam Jimin. Masih bermain peran 'tidak tau apa-apa' ternyata.
"Ya. Sangat mengecewakan, ternyata oppa hanya…."
"Kau tau sendiri kau itu siapa untukku hyung" Jimin memotong ucapan Yoongi.
"Memangnya siapa?" Jihyun dan Yoongi kompak bersuara dengan wajah tidak berdosa yang masih mereka pertahankan. Hebat sekali.
"Ya! Yoongi hyung, kau sendiri, memangnya aku apa untukmu?" Jimin berujar gemas. Dia disudutkan.
"Kalau kau menerimaku, harusnya kau akan segera berganti marga" Yoongi berucap dengan wajah tak berdosa lagi.
"Hentikan, oke? Biarkan aku makan dengan tenang. Bayi diperutku butuh makan dengan tenang, kalian tidak ingin aku tersedak dan terjadi sesuatu dengan kami kan?" Jimin mengancam. Wajahnya sudah merah.
"Ne, eomma" Jawab Yoongi dan Jihyun kompak. Sekali lagi Jimin dibuat terperangah. Sejak kapan mereka bersekongkol seperti ini? Jimin tidak habis pikir.
.
.
.
Mereka berbicara santai diruang tamu selesai makan. Yoongi jadi banyak tau soal Jimin dari Jihyun. Yoongi jadi tau betapa hebatnya Park Jimin-nya, mati-matian bekerja untuk memberi kehidupan layak untuk adiknya. Bukannya itu membanggakan?
Mereka berbincang sampai sore hari, dan Yoongi harus kembali ke Seoul sore ini. Pekerjaannya tidak bisa ditinggal lama, dan dia benci fakta itu. Supirnya akan menjemput sebentar lagi.
Yoongi baru saja selesai mandi sore, dia keluar kamar mandi hanya mengenakan celana jean hitam panjang dengan robek di dengkul milik Jimin yang kebetulan muat untuknya. Wajah Yoongi terlihat agak kesal dengan apa yang dia kenakan sekarang. Hell! Dia pemimpin perusahaan, seorang mafia bawah tanah, dia terbiasa mengenakan setelan jas mahal ditubuhnya, dan apa ini?
Rambut Yoongi masih meneteskan air, handuk tersampir malas dibahunya. Dia berjalan melewati Jimin yang terduduk ditempat tidur, terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Atau pura-pura sibuk?. Dia mengambil sesuatu dari dalam kantong coat coklat miliknya.
Yoongi berjongkok dengan kaki berjinjit didepan Jimin yang masih terduduk ditempat tidur. Tangannya diletakkan disamping tubuh Jimin, matanya memandang tajam, mencari mata Jimin.
"Hyung, pakai bajumu…" Jimin berucap pelan, matanya menolak memandang Yoongi.
"Kau tidak meletakkannya dikamar mandi."
"Bair ku ambilkan" Jimin hendak berdiri tapi ditahan Yoongi.
"Nanti saja" Yoongi meremas pinggang Jimin, mengalirkan sensasi aliran listrik ditubuh Jimin.
"Ne…" Jimin mengangguk patuh.
"Jiminie…" Panggil Yoongi.
Jiminie? JIMINIE? Bolehkah Jimin melayang sebentar? Panggilan itu terlalu manis ditelinga Jimin saat Yoongi mengucapkannya.
"Ne hyung?"
"Kau mungkin masih ragu, tapi aku benar-benar serius semalam. Aku ingin kita menikah" Yoongi mencari mata Jimin yang masih bergerak liar. Yoongi sangat tau Jimin gugup, tangan Jimin bahkan saling meremas diatas paha.
"Hyung, aku…"
"Aku tau kau butuh waktu berpikir. Tapi aku juga punya batas waktu untuk menunggu" Yoongi mendapatkan mata Jimin. Mata itu terlihat terkejut dan sedikit panic dalam satu waktu yang sama. Dan Yoongi berhasil mengunci mata itu, lagi.
"Aku tidak bisa menunggu selamanya." Sambung Yoongi lagi.
"Aku tidak minta hyung menunggu selamanya. Hanya, beri aku waktu berpikir…" Jimin berucap gusar. Matanya memandang lurus kearah Yoongi.
"Sampai kapan? Jiminie, kau harus tau orang juga punya batasan. Kau sudah menolakku dua kali untuk tinggal bersama, ingat?"
"Aku tidak menolak. Aku hanya butuh waktu berpikir hyung. Kalau aku ada dirumahmu, dan orang-orang bertanya aku siapa, lalu aku harus jawab apa? Hanya Park Jimin yang kebetulan diminta tinggal bersama oleh Min Yoongi? Begitu?" Jimin berujar cepat.
"Lupakan yang itu." Yoongi menghela nafas. Namja pucat itu mengambil tangan Jimin dan Menggenggam kedua tangan itu dengan tangannya.
"Aku tidak bisa tinggal dengan orang yang tidak punya ikatan apapun denganku. Jin hyung pasti marah besar kalau aku tinggal bersamamu tanpa ikatan" Jimin menjelaskan, berharap Yoongi mengerti maksudnya.
"Itu kenapa sekarang aku memintamu untuk menikah. Bukan Cuma untuk kau dan aku, tapi buat bayi kita. "
"Tapi aku butuh waktu hyung…" cicit Jimin.
"Minggu depan. Aku menunggu sampai minggu depan. Dan, minggu depan ibu ku akan datang. Aku ingin kau bertemu dengannya, entah sebagai calon pengantinku, ataupun Cuma jadi orang yang mengandung cucunya" Yoongi berucap tanpa melepaskan pandangannya dari Jimin.
"Hyung akan mengenalkan ku dengan ibu hyung?" Jimin bertanya, memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Ya, dia harus tau kau siapa"
"Kenapa?"
"Karena dia harus tau siapa yang dipilih anaknya." Yoongi mencium punggung tangan Jimin saat merasakan tangan Jimin mendingin.
"Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku, hyung?" Jimin bertanya gusar.
"Aku tidak butuh restunya untuk menikahimu. Aku hanya ingin dia tahu kalau anaknya sudah punya seseorang yang menjadi tanggung jawabnya"
"Tapi hyung…"
"Minggu depan Park Jimin. Hanya itu batas kesabaranku. Aku akan menerima apapun keputusanmu nanti." Yoongi berdiri. Mengelus kepala Jimin dan mencium kening Jimin cukup lama.
"Bagaimana kalau aku bilang tidak? Dan bagaimana kalau aku bilang iya?" Jimin menggengam tangan Yoongi yang kini berada dipipinya. Membuat Jimin harus mendongak untuk melihat wajah pucat Yoongi.
"Kalau kau bilang tidak, aku akan tetap tanggung jawab soal bayi kita, dalam segala hal. Dan kalau kau jawab iya… aku akan… oke, aku tidak bisa menjanjikanmu untuk terus bahagia, tapi aku bersumpah kau akan jadi satu-satunya orang yang akan aku cintai" Jawab Yoongi serius.
Jimin tersenyum. Jika kata-kata bisa membuat Jimin terbang, mungkin Jimin sudah terbang sekarang. Rasa ragunya perlahan luntur. Namja arogan ini melunturkan egonya dan menyatakan cinta. Bukankah Jimin terlalu hebat untuk menjinakkan Min Yoongi?.
Dan Jimin mungkin masih tidak tau banyak soal Min Yoongi, tapi tidak masalahkan kalau Jimin mulai mempercayainya?
"Apa aku bisa memegang ucapanmu?" Jimin masih mendongak.
"Aku tidak pernah melanggar sumpahku kalau kau mau tau"
"Cium aku…" pinta Jimin.
"Dengan senang hati"
Yoongi mencium Jimin pelan, perlahan namja pucat itu menidurkan Jimin ditempat tidur. Tangannya berada ditengkuk leher Jimin dan tangan Jimin mengalung dilehernya.
"Aku mencintaimu…" bisik Jimin ditengah ciuman mereka.
"Harusnya kau jawab iya kalau kau mencintaiku…" balas Yoongi, dan kembali membawa Jimin kedalam sebuah ciuman panjang. Bahkan tangan Yoongi sudah menjelaja di perut dan dada Jimin.
Yoongi hampir saja lepas kendali sedetik lagi sebelum pintu kamar Jimin terbuka tiba-tiba. Bunyi pintu itu menyadarkan Jimin dan dengan buru-buru mendorong dada telanjang Yoongi yang sedari tadi belum menggunakan baju. Dengan panic Jimin merapikan pakaiannya, dan buru-buru duduk.
"Haruskah aku menutup pintunya lagi?" Jihyun bertanya tak enak hati.
"Ji… Jihyun, ini bukan seperti…" Jimin panic.
"Maafkan aku, Jihyunie" Yoongi berucap tak enak hati.
"Ah? Oh, tidak apa oppa. Lanjutkan saja…" Jihyun bergegas menutup pintu dan pergi.
"Tahan dirimu, tuan Min…" Jimin akhirnya terkekeh, berdiri dan memeluk Yoongi. Menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.
"Makanya jangan menggodaku!" Yoongi berujar kesal, tapi membanjiri Jimin dengan kecupan dikepala.
"Hyung sendiri yang tidak menahan diri. Kenapa menyalahkanku?"
"Ya sudahlah. Pinjamkan aku bajumu. Mungkin supirku sudah di depan makanya Jihyun menerobos ke kamar" bukannya melepaskan pelukannya, Yoongi malah makin mengeratkan pelukannya pada Jimin.
"Hyung, kau menyuruhku mengambil baju, tapi tidak melepaskan pelukanmu?"
"Sebentar saja" Yoongi mengeratkan lagi pelukannya dan mencium kepala Jimin berkali-kali.
Jimin tertawa lagi. Yoongi-nya ternyata bisa seperti ini.
Setelah pelukan berdurasi lima menit itu terlepas, Jimin mengambilkan kaos putih miliknya dan memberikan pada Yoongi. Namja pucat itu jadi terlihat lebih 'muda' dan terlihat lebih santai dari biasanya. Tapi saat coat coklat itu terpasang ditubuh Yoongi, aura mafia itu keluar lagi.
Ponsel Yoongi berbunyi, dan tepat tebakannya, supirnya sudah menunggu didepan rumah Jimin. Saat akan ke Busan, Namjoon melarang Yoongi menyetir, kondisi emosi yang tidak stabil bisa membahayakan Yoongi dalam perjalanan.
"Jadi, sampai bertemu minggu depan?" Jimin berdiri berhadapan didepan Yoongi.
"Cepatlah kembali" Yoongi memberikan kecupan di bibir Jimin dan menangkup pipi gembul itu dengan kedua tangannya. "Aku menunggu" sambungnya.
"Ne. Hati-hati di jalan hyung. Kabari aku saat kau sudah sampai nanti" Jimin memeluk Yoongi lagi. Rasa rindunya sudah muncul, bahkan saat Yoongi masih di depannya.
"Dan kemana aku harus menghubungi, Park Jimin?" mendadak Yoongi merasa geram karena Jimin tidak bisa di hubungi selama seminggu ini.
"Hehehe, aku akan meneleponmu nanti"
"Jangan menghilang lagi. Aku bisa gila" Yoongi berucap jujur. Kalau Jimin tidak percaya Yoongi menjadi gila karena dia pergi, Jimin bisa bertanya kepada seluruh karyawan Min Multicompany.
"Tidak akan…"
Yoongi memberikan ciumannya sebelum pergi. Hanya sebentar saja. Ingin menyalurkan perasaannya pada Jimin.
"Ini untukmu" Yoongi menyerahkan kotak beludru kecil berwarna biru langit ketangan Jimin.
"Apa ini?" Jimin bertanya bingung.
"Kenakan itu saat kita bertemu minggu depan. Jika kau memakainya minggu depan, berarti kau menerima ku" Yoongi menjelaskan. "Jika tidak, kembalikan kotak itu padaku"
Yoongi memeluk Jimin lagi, rasanya sangat berat harus pergi lagi. Jika saja Yoongi tidak dalam mode 'membujuk' Jimin, Yoongi pasti sudah menyeret Jimin dan mengikat namja bersurai orange itu ditempat tidurnya agar tidar bisa pergi lagi.
Jimin mengantarkan Yoongi sampai di depan gerbang bersama Jihyun. Setelah mobil Yoongi hilang dari pandangan Jimin dan Jihyun, Jihyun masuk kedalam rumah lebih dulu setelah menyenggol Jimin main-main, bermaksud menggoda Oppa-nya.
Jimin merogoh kantong celana pendeknya dan mengambil kotak beludru biru langit itu. Sedaritadi Jimin sudah penasaran, dan sekarang rasa penasarannya bisa terlampiaskan. Jimin membuka kotak beludru kecil itu sambil berjalan menuju rumah. Sampai di depan pintu rumah, Jimin mengeluarkan benda itu dari kotak. Sebuah kalung emas dengan cincin berhiaskan berlian sebagai mainan kalungnya.
Jimin tidak bisa lebih bahagia dari ini, dia berlari kedalam rumah dan mencari Jihyun. Meminta adiknya untuk memadangkan kalung itu dilehernya. Yang Jimin tidak tau, pada cincin yang menjadi mainan kalungnya, ada nama Yoongi terukir didalam cincinya.
.
.
.
"Hyung, Jungkook mengatakan Hyungwon datang ke apartemen. Dia ingin bertemu Jimin." Namjoon langsung menelepon Yoongi setelah mendapatkan aduan dari Jungkook.
"Mau apa dia?" Tanya Yoongi tak berminat.
"Aku tidak tau. Jungkook bilang dia ingin bertemu Jimin" jawab Namjoon.
"Biar aku saja yang mengurusnya"
"Kau yakin hyung? Aku bisa mengurusnya untukmu" Namjoon terdengar panic diujung telepon.
"Tidak, biar aku saja."
"Baiklah hyung. Dan, bagaimana Jimin?" Namjoon bertanya hati-hati. Dia takut, tapi dia penasaran.
"Dia baik"
"Dan?"
"Dia menggantungku"
"WHAT?"
TBC
*Lari Naruto*
Hai kakak-kakak yang ngereview abis baca, yang ga ngereview ga hai, ya.
Btw, aku tersentuh dengan review kakak-kakak. Lagi-lagi bikin ngakak dan makin semangat.
*terharu* udah, gitu aja. Nanti kakak-kakak cape baca kalo kepanjangan.
Sampai ketemu lagi *KETJUP JIDATNYA SATU-SATU*
