"Kau yakin hyung? Aku bisa mengurusnya untukmu" Namjoon terdengar panic diujung telepon.

"Tidak, biar aku saja."

"Baiklah hyung. Dan, bagaimana Jimin?" Namjoon bertanya hati-hati. Dia takut, tapi dia penasaran.

"Dia baik"

"Dan?"

"Dia menggantungku"

"WHAT?"

.

.

.

KOI NO YOKAN

.

.

.

6 hari berlalu dengan nyaris baik-baik saja untuk semua orang, kecuali untuk Wonho. Dia tau cepat atau lambat, Yoongi akan memanggilnya, tentu ini karena ulah Hyungwon. Walaupun Wonho tidak tau apa yang terjadi hari itu, dia pasti terkena imbas dari kelakuan Hyungwon.

Seperti pagi ini, tidak, seperti subuh ini, Wonho baru saja pulang dari sebuah club malam. Harusnya harinya bisa lebih baik setelah nyaris 5 hari penuh tanpa perintah dan rengekan Hyungwon. Tapi semua mendadak horror saat ponselnya berdering dan menunjukan nama Yoongi disana. sudah berapa lama boss nya ini tidak menghubunginya?

Wonho gemetar sendiri, ponselnya masih berbunyi dan dia ingin mengabaikan panggilan Yoongi. Dia benar-benar belum punya nyali untuk bertemu namja pucat itu lagi setelah insiden dirumah Yoongi. Panggilan kedua masuk dari Yoongi, saat bunyi ponselnya nyaris mati, Wonho akhirnya mengangkat telepon Yoongi. Pasti soal Hyungwon, batinnya yakin.

"Ne, hyung?"

"Kerumahku sekarang." Hanya itu yang di ucapkan Yoongi dan akhirnya memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Wonho.

Wonho melirik jam dinding di apartemennya, masih jam empat pagi, dan dia harus mengalami nasib buruk bahkan saat matahari belum muncul.

Saat sampai dirumah Yoongi, Wonho langsung berjalan menuju ruang kerja namja pucat itu. Dia sudah pasrah dan akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. Saat bunyi klik terdengar, Wonho mendorong pintu itu. Di depannya, Yoongi sudah duduk bersama Luhan dan Jackson.

"Duduk" perintah Yoongi.

Wonho hanya menurut dan duduk disebelah Jackson yang terlihat seperti baru bangun tidur, bahkan dia memakai kaos kusut dan celana pendek.

"Ada apa, hyung?" Wonho memberanikan diri.

"Mulai hari ini kau akan berhenti bekerja untuk tuan Chae" jawab Yoongi tanpa basa-basi.

"Maksudnya?" Wonho merasa takut sekarang.

"Kau berhenti menjadi bodyguard Hyungwon."

"Ta.. tapi hyung? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku…"

"Kau akan bekerja full untuk ku. Kau dan Jackson akan menjalankan bisnis club malam milikku mulai sekarang. Cukup menarik, kan?" jelas Yoongi.

Wonho membolakan matanya, Jackson hanya mengangguk, sementara Luhan merasa puas karena tak harus menjalankan bisnis Yoongi yang satu itu lagi. Sudah cukup untuknya bekerja di club malam, kepalanya selalu nyaris pecah hanya karena mengurus club malam itu. Terlalu rumit untuk Luhan yang simple.

"Lalu, bagaimana dengan Luhan?" Tanya Wonho sambil melirik Luhan yang sudah tersenyum terlalu senang. Lepas sudah beban di otaknya.

"Dia berhenti. Dia akan menikah, jadi tugas kalian untuk mengurus club itu untukku"

"Benar. Kau lihat ini?" Luhan memamerkan cincin di jari manisnya dengan bangga. "Sehun melamarku. Sangat manis kan?"

"Ya, sangat manis. Aku harap tuan Oh tidak mabuk saat memintamu untuk menikah dengannya" Ujar Jackson.

"Tutup mulutmu, brengsek" Kesal Luhan.

"Tapi hyung, Hyungwon tidak…"

"Aku sudah mencarikan bodyguard baru untuknya. Yang kudengar, kau sudah terlalu sering di pecat sepihak olehnya. Bukannya itu berarti kau tidak becus sebagai bodyguard?" Yoongi memotong ucapan Wonho.

Wonho ingin menjelaskan tentang Hyungwon yang ceroboh, yang tidak bisa apa-apa, yang selalu bergantung padanya, tapi belum selesai dia bicara, Yoongi selalu memotong ucapannya. Melihat tatapan tenang milik Yoongi, Wonho memilih untuk menurut.

Yoongi sudah terlalu baik memperlakukannya. Mulai dari biaya sekolah menegah atas, sampai perkuliahan Wonho, Yoongilah yang membiayainya. Begitu juga dengan Jackson dan Luhan. Rasanya sangat tidak tahu diri kalau Wonho menentang perintah Yoongi.

"Kemarikan ponselmu" Perintah Yoongi pada Wonho.

Wonho hanya menatap bingung Yoongi, tapi meletakkan ponselnya di atas meja, didepan Yoongi. Jackson hanya melirik tanpa minat dan sesekali terkantuk-kantuk di sofa.

Yoongi mengambil ponsel milik Wonho yang terletak diatas meja, dan membelah ponsel berlayar datar itu menjadi dua. Wonho hanya melongo ditempatnya, kemudian mata Wonho menangkap siluet Luhan yang sudah berdiri dibelakang punggungnya.

"Milikmu" Luhan menyerahkan ponsel keluaran baru berwarna hitam untuk Wonho dan silver untuk Jackson.

"Mulai hari ini kalian akan belajar cara mengelola club malam bersama Luhan sampai dua minggu kedepan. Aku harap, sebelum acara pertunangan Luhan, kalian sudah paham apa-apa saja yang harus kalian lakukan untuk mengelola tempat itu. Paham?" Yoongi menjelaskan, tapi tidak ada penjelasan soal ponsel Wonho yang terbelah jadi dua.

"Paham" jawab Jackson tanpa minat.

"Hyung, kenapa ponselku…? Bagaimana kalau Hyungwon mencariku?" Tanya Wonho dengan ekspresi kebingungan yang kental di wajahnya.

"Kau bekerja FULL untukku dan tidak ada lagi Hyungwon. Ada yang tidak kau pahami dari ucapanku? " Yoongi sengaja menekan kata Full pada kata-katanya.

Wonho hanya terdiam. Setengah hatinya merasa tak ikhlas atas keputusan sepihak Yoongi. Sekalipun Wonho dan Hyungwon sangat sering bertengkar, tapi mereka akan segera berbaikan dalam hitungan hari. Hyungwon akan muncul di apartemennya dan bertingkah seperti tidak terjadi apapun diantara mereka.

Wonho sudah terlalu paham atas sikap Hyungwon. Segala kekesalannya tidak pernah bertahan lama untuk anak itu, Wonho akan berakhir dengan selalu memaafkan seluruh tingkah menyebalkan Hyungwon yang terkadang sudah kelewat batas.

Dan hari ini datang. Hari dimana Yoongi menarik Wonho sepenuhnya dari Hyungwon.

"Kau tidak perlu berhubungan lagi dengan Hyungwon. Kurasa itu yang terbaik untuk kalian berdua, kalian saling benci kan? Ah, dan aku sudah menyediakan satu apartemen baru untukmu di Gangnam" lanjut Yoongi.

Lihat? Bukannya Yoongi terlalu bermurah hati pada Wonho?.

.

.

.

Jam tiga sore Jimin sudah sampai didepan apartemennya. Dia pulang satu hari lebih cepat dari seharusnya karena Jihyun mendadak harus kembali ke desa tempat dia bekerja. Setelah sampai didepan apartemen, Jimin langsung menelepon Jin dan Jungkook. Dia ingin menceritakan hal yang terjadi padanya selama ini.

Jimin yakin dia akan dimarahi habis-habisan karena menghilang nyaris dua minggu, tapi dia sudah tidak perduli. Dia merindukan dua kakak-adik itu berada disekitarnya. Setelah meletakkan kopernya di kamar, Jimin terduduk di sofa ruang tamu apartemennya. Melamun.

Tidak sampai setengah jam, pintu apartemennya terbuka dan Seokjin sudah muncul bak banteng yang tengah mengamuk.

"Kenapa kau kembali, Park Jimin?" intonasi nada suara itu penuh sindiran, tapi Jimin tidak peduli. Namja bersurai orange itu berlari dan memeluk Jin dengan erat.

"Aku juga merindukanmu hyung" Jimin menggoyang-goyangkan tubuh Jin ke kiri dan kekanan, masih memeluknya erat.

"Ew, hentikan! Aku sedang marah padamu. Berani sekali kau muncul lagi dihadapanku?" Seokjin melepas paksa pelukan Jimin.

"Ingin minum sesuatu hyung?" Jimin mengalihkan pembicaraan.

"Ya! Kemana saja kau? Aku benar-benar panic saat tidak menemukanmu dimana pun, kau tau?" Seokjin berujar kesal.

"Busan. Kau kan sudah tau. Kenapa bertanya lagi?" Jimin menjatuhkan tubuhnya di sofa. Seokjin mengikutinya dan duduk di sofa tunggal.

"Kenapa kau pergi? Ingin membuat drama?" Seokjin menyindir.

"Hyung, kau tau sendiri keadaanku sangat kacau saat itu. Hanya pergi dari sini yang terpikir olehku." Jelas Jimin.

"Aku paham keadaan mu benar-benar kacau saat itu, tapi, tidak bisakah kau memberitahuku rencanamu?"

"Maafkan aku hyung…" sesal Jimin.

"Apa yang terjadi? Apa Yoongi menemui mu? Yang kudengar dari Namjoon, keadaan Yoongi sangat kacau saat kau pergi. Dia seperti jadi monster berwujud manusia di kantor. Yang ku dengar lagi, dalam waktu seminggu ada sekitar lima atau enam pegawainya yang dipecat karena alasan sepele" cerita Seokjin.

"Oh ya?" Jimin menaikan alisnya tak percaya.

"Hell! Kau meragukan suami ku?"

"Mungkin karena moodnya sedang buruk saja kan? Belum tentu karena aku" Jimin menyangkal.

"Tentu saja, Park Jimin! Kalau dia sedang bahagia, dia tidak akan memecat lima sampai enam orang hanya dalam waktu satu minggu." Seokjin memutar bola matanya jengah.

"Lupakan itu, oke? Hyung, lihat ini" Jimin mengeluarkan kalung bermainan cincin dari dalam bajunya.

"Kalung dan cincin?" Seokjin menaikkan alisnya tak paham.

"Yoongi hyung memberikannya untukku"

"Permintaan maaf?" tebak Seokjin.

"Ani. Dia melamarku"

"The fu*ck?" Seokjin tidak bisa untuk tidak terkejut. Duduknya bahkan tidak bisa sesantai tadi. Badannya condong kearah Jimin.

"Hyung, perhatikan ucapanmu…" Jimin memutar bola matanya jengah.

"Ceritakan semuanya padaku" desak Seokjin.

Jimin mulai bercerita mulai dari Yoongi datang, Yoongi marah, mereka berbaikan, sampai Yoongi melamarnya, Jimin menceritakan nyaris seluruhnya, hanya dihilangkan bagian Jihyun yang memergoki mereka berciuman saja.

"Lalu, kau menerimanya begitu saja?" Seokjin bertanya antusias.

"Ani. Aku meminta waktu untuk berpikir. Besok aku harus menjawabnya"

"Jenius! Kau tidak boleh menerima tawarannya begitu saja" ujar Seokjin bangga. "Dan apa yang akan kau jawab besok?" Tanya Seokjin lagi.

"Aku… aku ingin bertemu ibu nya dulu hyung, setelah bertemu ibunya aku akan memberi jawabannya" jawab Jimin.

"Dia ingin mengenalkanmu pada ibunya dan dia bahkan sudah melamarmu. Wow, Park Jimin, kau pakai guna-guna ya?" tuding Seokjin asal.

"Ya! Enak saja. Aku bahkan tidak berani bermimpi dia memintaku menjadi kekasihnya, kau tau sendiri bagaimana Min Yoongi itu."

"Tapi dia memintamu jadi pendamping hidupnya. Aku tidak bisa berhenti terkejut sejak mengenal Min Yoongi itu. Terlalu banyak kejutan, benar-benar tidak tertebak. Siapa sangka orang yang sepertinya tidak ingin terikat komitmen seperti dia, berani mengambil langkah besar untuk menikah." Seokjin berucap takjub.

"Mungkin karena aku hamil?" Jimin berucap ragu.

"Aku bahkan bisa jamin kalau dia tidak suka anak kecil. Terlalu gampang kalau dia menikahimu hanya karena kau hamil."

"Lalu kenapa?" Jimin bertanya lagi.

Jujur saja, Jimin masih ragu akan perasaan Yoongi padanya. Lebih dari itu, Jimin benar-benar tidak tahu apa-apa soal Yoongi. Dimana rumahnya, dimana kantornya, siapa orangtuanya, apa Yoongi anak tunggal atau memiliki saudara kandung, apa makanan kesukaannya, dan masih banyak lagi hal kecil tentang Min Yoongi yang Jimin tidak tau.

"Apa dia sudah bilang kalau dia mencintaimu?" Tanya Seokjin balik.

"Secara langsung, tidak. Tapi, ya, dia bilang akan mencintaiku"

"Jujur saja, aku penasaran kenapa dia memilihmu. Jangan salah tanggap akan ucapanku, oke? Kau sangat menarik, semua orang mencintaimu, but, hey! Kita bicara soal Min Yoongi dan sederet mantan kekasihnya yang juga sama menariknya denganmu."

"Kau benar hyung. Aku juga selama ini terus berpikir, kenapa aku? Aku tau dia punya mantan kekasih yang jauuuhhhh lebih menarik daripada aku"

"Aku rasa Min Yoongi tidak seburuk penilaian orang diluar sana. Aku akan bertanya pada Namjoon nanti. Bagaimana kabar bayimu?" Seokjin menyudahi soal Yoongi.

"Dia baik. Aku benar-benar bersyukur tidak mengalami yang namanya morning sickness. Hanya saja, aku sering lapar sekarang" jelas Jimin.

"Aku rasa itu bagus. Tidak semua orang hamil mengalaminya, dan kau salah satu yang beruntung tidak mengalaminya. Itu pasti sangat menyiksa. Apa kau sudah memeriksakan kandunganmu?"

"Belum hyung. Mungkin nanti? Entahlah, aku belum siap muncul di public. Apalagi dalam keadaan seperti ini" Jimin berujar sedih.

"Hey, jangan pikirkan omongan orang. Aku akan meminta Ken mengatur jadwal untuk memeriksa kandunganmu, tentu saja tidak pakai nama aslimu… Min Jimin? Sepertinya bagus" Seokjin menaik turunkan alisnya.

"Hyung, hentikan."

"Baiklah, ngomong-ngomong, kapan kau akan bertemu ibu nya Yoongi?"

"Besok. Astaga, aku takut sekali hyung…." Jimin mendadak panic. Telapak tangannya mendingin.

"Santai saja. Bersikaplah yang sopan dan jangan banyak bicara saat pertama kali bertemu. Berikan kesan yang baik pada ibunya" Seokjin member saran.

"Apa yang hyung lakukan saat pertama kali bertemu orangtua Namjoon hyung?"

"Aku tidak banyak bicara, hanya menjawab saat ditanya dan sesekali ikut terlibat dalam pembicaraan mereka. Aku membiarkan Namjoon yang melakukannya untukku. Aku tidak akan bohong, aku hampir mati ketakutan saat itu, tapi orangtua Namjoon adalah orang yang ramah, tidak sulit untukku beradaptasi. Aku sangat-sangat bersyukur akan hal itu" Seokjin terkenang perjumpaan pertamanya dengan orangtua Namjoon.

"Bagaimana kalau ibu Yoongi hyung tidak suka padaku?"

"Hilangkan pikiran jelekmu itu, Park Jimin. Jangan memulai drama lagi. Demi Tuhan. Hadapi saja, oke?"

"Pastikan kau ada di apartemenku besok malam hyung. Aku butuh teman bercerita besok, atau aku akan bertingkah bodoh lagi"

"Tentu, aku akan menunggumu di apartemen Jungkook besok" Seokjin menepuk bahu Jimin, memberi Jimin semangat.

.

.

.

Hyungwon berjalan dengan senang saat mendapat telepon dari Yoongi. Yoongi menyuruhnya datang ke kantornya, bukannya itu bagus? Mood Hyungwon langsung naik seketika. Sore ini, Semua terlihat indah dimatanya saat menuju kantor Yoongi.

Hyungwon sampai didepan pintu kantor Yoongi, pintu itu terlihat terbuka sedikit, Hyungwon langsung mendorong pintu dan masuk kedalam ruangan Yoongi.

"Apa aku terlambat?" Hyungwon langsung duduk didepan Yoongi tanpa diminta. Sementara Yoongi masih sibuk dengan Komputer dan kertas ditangannya.

"Tunggu sebentar" Yoongi menjawab tanpa melirik Hyungwon sedikitpun. Namja pucat itu masih sibuk dengan kertas dan komputernya.

"Ada apa hyung menyuruhku kesini?" lima menit sudah berlalu dengan diam, dan Hyungwon tidak tahan lagi didiamkan.

Yoongi tidak menjawab. Namja pucat itu hanya memencet sesuatu di bawah meja, tidak lama kemudian sekertarisnya muncul.

"Ne, sajangnim?" sekertaris Yoongi muncul setelah mengetok pintu ruangan.

"Bawa mereka masuk" Yoongi memberi perintah.

Sekertaris itu langsung pergi meninggalkan ruangan. Melaksanakan perintah Yoongi.

Tidak sampai semenit, dua orang laki-laki berbadan tegap muncul diruangan Yoongi. Dahi Hyungwon mengerut tak mengerti. Dia butuh penjelasan.

"Pilih" Yoongi berucap pada Hyungwon yang masih kebingungan.

"Apa maksudmu, hyung?"

"Appa memintaku mencarikan pengganti Wonho. Pilih yang kau suka untuk menjadi bodyguardmu"

"Pengganti Wonho? Apa maksudmu dengan pengganti Wonho, hyung?" Hyungwon berdiri tanpa sadar, memandang marah kearah Yoongi yang bersandar dengan santai di kursi kerjanya.

"Wonho sudah tidak bekerja untukmu. Aku sedang mewujudkan mimpimu. Bukannya dari dulu kau ingin Wonho pergi?" Yoongi menaikkan alisnya, wajahnya memandang remeh kearah Hyungwon.

"Dimana Wonho?" Hyungwon mengeram marah. Rusak sudah kebahagiaannya.

"Bukan urusanmu"

"DIMANA WONHO!?" teriak Hyungwon tanpa sadar.

"Kau datang kesini bukan untuk menuntut penjelasan dariku. Kau datang kesini untuk memilih bodyguard barumu. Atau, kau sudah tidak butuh bodyguard?" Yoongi tersenyum sinis.

Hyungwon mengabaikan ucapan Yoongi. Anak manja itu mengambil ponselnya untuk menghubungi ponsel Wonho, tapi bukan nada sambung yang didengarnya. Hanya suara operator yang menjawabnya. Nomor itu sudah tidak bisa dihubungi.

"Dimana Wonho?" Hyungwon menekan kemarahannya.

"Baiklah kalau kau penasaran. Dia sudah bekerja di tempat lain. Ah, aku lupa, bukannya kau sudah memecatnya? Berapa kali? Seratus satu kali?" Yoongi berpura-pura menghitung.

"Demi Tuhan, Hyung! Dimana Wonho? Apa ini ulahmu juga? Kau sengaja memblokir nomorku di ponsel Wonho?" ada nada putus asa dibalik nada marahnya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" nada mengejek itu makin jelas Yoongi tunjukan.

Hyungwon terdiam.

"Pilih" ucap Yoongi santai.

"Aku tidak akan memilih siapapun! Aku ingin Wonho kembali! Kembalikan dia!" Hyungwon meradang.

"Kau terdengar seperti seseorang yang kehilangan kekasih" Yoongi mendengus dan tertawa mengejek.

Hyungwon terdiam lagi. Benarkah dia terlihat seperti itu?. Jauh dibalik rasa marahnya, Hyungwon merasa sedih dan kehilangan. Selama ini Hyungwon tidak pernah serius saat mengucapkan kata 'pecat' untuk Wonho.

Atau Hyungwon saja yang belum sadar arti bodyguard pribadinya itu lebih dari sekedar bodyguard? Kenapa saat menyadari kenyataan dia tidak akan bertemu Wonho lagi, dia merasa sesedih ini?. Mereka sering bertengkar, saling tidak bicara, tapi akhirnya Wonho akan memaafkan Hyungwon lagi dan lagi.

"Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini" suara Hyungwon berubah menyedihkan.

"Memperlakukanmu seperti apa?"

"Kau boleh marah padaku, tapi jangan ambil Wonho dariku"

"Kenapa kau berpikir aku marah padamu? Memangnya apa yang kau lakukan sampai aku harus marah?" Yoongi mendengus dengan sinis. Yoongi tau Hyungwon datang mencari Jimin, dan Yoongi tidak suka urusannya dicampuri. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada anak didepannya ini.

Yoongi tau, Wonho dan Hyungwon saling memiliki, tapi mereka terlalu bodoh untuk sadar. Biarkan Yoongi menikmati mainannya kali ini. Bukannya sudah saatnya adik tirinya ini berhenti bergantung pada seseorang? Dia sudah dewasa, sudah seharusnya mandiri. Anggap saja Yoongi sedang mencari pembenaran atas apa yang dia lakukan terhadap Hyungwon dan Wonho.

"Aku tidak mau bodyguard lain, hyung. Dimana Wonho?" suara Hyungwon terdengar makin menyedihkan.

"Jangan merengek padaku. Kalau kau tidak ingin punya bodyguard baru, keluarlah. Aku masih banyak pekerjaan." Yoongi berucap santai dan menyuruh dua calon bodyguard baru itu menyeret Hyungwon keluar dari ruangannya.

Pintu ruangan kerja Yoongi tertutup dan Hyungwon hanya terdiam disamping pintu. Kemana dia harus mencari Wonho? Bahkan kalaupun Hyungwon merobek bibir Yoongi, Hyungwon yakin tidak akan mendapat jawabannya. Satu-satunya tempat terakhir yang menjadi harapan Hyungwon untuk bisa bertemu Wonho adalah Apartemen milik Wonho.

Dan Hyungwon menangis diam-diam saat penjaga gedung apartemen itu berkata Wonho sudah pindah dari sana.

.

.

.

Jimin mondar-mandir di ruang tamu, hari dimana dia akan bertemu dengan ibu Yoongi sudah tiba, bahkan hanya tinggal satu jam lagi dia akan berhadapan langsung dengan ibu Yoongi. Yoongi berjanji akan menjemputnya, tapi namja pucat itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Jimin hampir terlonjak kaget saat pintu apartemennya terbuka, dan Yoongi muncul diruang tamu dengan wajah datar super tenangnya, seperti biasa.

"Hyung, kenapa lama sekali?" Jimin berjalan kearah Yoongi, menarik namja pucat itu berjalan menuju pintu.

"Tidak ada ciuman untukku?"

"Jangan sekarang hyung, aku panic" Jimin menarik lagi, tapi Yoongi tidak bergerak seinchi pun.

"Pelukan juga tidak ada?" bukannya menanggapi kepanikan Jimin, Yoongi malah mengalihkan ke hal lain.

"Astaga hyung, nan…"

Yoongi menarik tangan Jimin yang tadi menariknya, memberikan ciuman tepat di bibir Jimin. Dan Yoongi menyadari betapa gugupnya Jimin, ciuman Jimin bahkan berantakan.

"Santai saja, oke?" Yoongi mengelus bibir Jimin dengan jempolnya seusai berciuman.

"Aku ketakutan, hyung" Jimin berakhir memeluk pinggang Yoongi dengan erat, menyandarkan pipinya di bahu Yoongi.

"Ibu ku tidak mengigit" Yoongi mencoba mengalihkan ketakutan Jimin dengan bercanda. Namja pucat itu mengelus rambut Jimin dengan sayang.

"Aku tau. Tapi, kalau ibu hyung tidak menyukai ku, bagaimana?"

"Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh restu ataupun tanggapannya soal kita. Dan, apa jawabanmu?" Yoongi melepaskan perlahan pelukannya pada Jimin, membuat mereka berdiri berhadapan.

"Ee… hyung, boleh aku minta waktu sedikit lagi?"

"Lagi?"

"Hanya sampai kita pulang dari bertemu ibu hyung saja. Em, dua jam lagi?" Jimin member penawaran agar namja pucat ini tidak meledak sekarang.

"Kau sedang mempermainkanku?" Yoongi menaikkan sebelah alisnya. Tidak senang dengan apa yang Jimin katakan.

"Anio…" Jimin langsung memeluk Yoongi erat. Dia takut Yoongi marah.

Yoongi hanya mendengus kesal, melepas pelukan Jimin dan menggandeng tangan Jimin. Namja pucat itu tidak lagi bersuara selama perjalanan menuju restoran tempat mereka akan bertemu ibu Yoongi, dan Jimin tidak bisa untuk tidak merasa bersalah.

Mereka sampai di depan hotel, Jimin tahu hotel itu, itu hotel milik Namjoon. Jimin menunduk Selama berjalan disamping Yoongi, tangannya digandeng erat, jari mereka bertaut. Jimin merasa sangat tak nyaman saat melintasi lobi hotel, dia merasa orang-orang membicarakannya, bahkan ada yang tidak segan-segan memperhatikan Jimin yang tidak memakai penyamaran apapun.

Yoongi melirik Jimin yang berjalan menunduk dan terkesan ingin bersembunyi dibalik punggung Yoongi. Yoongi memperhatikan sekeliling dan mendengus kesal, orang-orang sedang memperhatikan, sepertinya sedang menerka-nerka, apakah itu benar Park Jimin atau bukan.

Yoongi melepaskan tautan tangannya dan Jimin dan beralih memeluk pinggang Jimin. Hal itu membuat Jimin mengangkat wajahnya ketakutan.

"Angkat kepalamu" Yoongi meremas pinggang Jimin.

"Hyung…"Jimin merengek. Dia tidak ingin dikenali orang.

"Apa yang kau takutkan? Semuanya sudah berlalu, Park Jimin"

Tapi Jimin benar-benar tak berani mengangkat kepalanya. Dia hanya bisa diam dan berharap cepat sampai di restoran.

Restoran itu tampak sepi, hanya beberapa tamu hotel terlihat berkeliaran di restoran, terlihat dari mereka yang hanya mengenakan piyama dan sandal hotel. Yoongi memanjangkan lehernya, mencari keberaan ibu nya yang sudah berada di restoran.

"Disana" Yoongi menggenggam tangan Jimin yang terasa beku ditelapak tangannya.

"Hyung, aku tidak siap.." Jimin berbisik takut.

"Tidak apa. Aku disini" Yoongi menenangkan.

Mereka sampai didepan wanita yang terlihat sangat menawan, wajahnya terlihat dewasa, ke ibuan, kulitnya putih pucat, matanya kecil seperti milik Yoongi. Sekilas wanita itu terlihat agak mirip Yoongi.

"Eomma, ini Jimin" Yoongi memperkenalkan Jimin. Jimin langsung membungkuk. Reaksi spontan sangkin gugupnya.

"Selamat malam, nyonya Min…" sapa Jimin.

"Bukan nyonya Min, sekarang aku sudah jadi nyonya Chae. Duduklah…" Ibu Yoongi mempersilahkan.

"Ah, maafkan aku…" Jimin membungkuk lagi, merasa tak enak hati.

"Santai saja. Aku rasa anak ini belum bercerita banyak" tangan ibu Yoongi menyebrangi meja, mengelus tangan Jimin yang dingin bak es.

Jimin melirik Yoongi yang duduk disebelahnya. Namja pucat itu bersikap santai, sama sekali tak membantu Jimin.

"Maafkan aku…" jawab Jimin akhirnya.

"Aku merasa tak asing dengan wajahmu, Jimin-ssi" Ibu Yoongi berkomentar setelah memperhatikan Jimin.

"Benarkah?" Jimin memegang paha Yoongi dibawah meja. Sinyal untuk minta bantuan.

Yoongi melirik Jimin, tatapan mereka bertemu dan Yoongi tersenyum geli. Wajah Jimin terlihat benar-benar gugup sekarang.

"Tentu saja eomma tidak asing melihatnya. Dia artis. Park Jimin. Artis agensi milik tuang Bang" Yoongi menjelaskan. Tangannya menggenggam tangan Jimin yang berada diatas pahanya.

"Ah… pantas saja. Apa kau yang terlibat skandal dengan Yoongi?" ibu Yoongi bertanya antusias.

"Maafkan aku" Jimin meminta maaf lagi. Sekarang Jimin tau kenapa Seokjin tidak banyak bicara didepan orangtua Namjoon. Karena memang sangat sulit sekali untuk bersuara saat kau merasa sangat gugup.

"Astaga, kenapa meminta maaf? Tidak apa. Harusnya aku yang meminta maaf karena anak ini, kau jadi kesulitan" Ibu Yoongi tersenyum lembut.

"Eomma sudah pesan makanan?" Yoongi memotong pembicaraan.

"Eomma sudah memesan untuk kita"

"Oh, ya sudah" Yoongi berucap tak perduli. Perhatiannya jatuh lagi pada Jimin yang menunduk, bingung harus apa. Jari Jimin tertaut erat di jari Yoongi. Tangan itu masih dingin.

"Eum, kau meminta eomma datang untuk mengenalkan seseorang, dan orang itu adalah Park Jimin. Apa kalian berkencan?" Ibu yoongi penasaran.

Jimin duduk makin tegak di kursi, gugup yang dia rasakan seolah mencekik lehernya.

"Tidak" Yoongi menjawab sambil memperhatikan Jimin.

"Lalu?" Ibu Yoongi bingung.

"Dia sedang mengandung anakku" Yoongi berujar santai.

Jimin dan Ibu Yoongi sama-sama membolakan matanya. Yoongi terlalu santai dalam menyampaikan berita sepenting itu.

"A.. apa maksudmu, Yoon? Kalian tidak berkencan, tapi kau…" Ibu Yoongi tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

"Aku sedang menunggu 'iya' dari Jimin" Yoongi masih teramat santai dalam menanggapi keterkejutan Ibunya.

"Astaga, kepalaku mendadak sakit. Apa-apaan ini…" Ibu Yoongi memijit pangkal hidungnya.

"Hyung…" Jimin mengiba, suaranya bahkan nyaris tak terdengar.

"Jimin-ssi, tolong maafkan Yoongi" Ibu Yoongi berdiri dan membungkuk.

Jimin berubah panic dan memegang lengan Ibu Yoongi dan berkata tidak apa berkali-kali.

"Yoongi, apa yang kau lakukan?" Ibu Yoongi tidak bisa marah lagi. Dia hanya menatap prihatin pada Jimin dan kembali duduk.

"Eomma, aku memang bukan orang baik. Tapi aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab, apalagi ini soal anakku. Aku akan menikahinya secepatnya kalau dia bilang iya" Yoongi menjelaskan.

"Nyonya Chae, sebenarnya Yoongi hyung sudah berniat bertanggung jawab, tapi…" Jimin mencoba menjelaskan

"Aku paham, Jimin-ssi. Aku juga akan berpikir seribu kali kalau ada laki-laki seperti dia ingin menikahiku" Ibu Yoongi memotong ucapan Jimin dan maklum dengan keraguan Jimin. "Tolong maafkan kami" Sambung Ibu Yoongi lagi.

"Tidak apa, nyonya Chae, sungguh" Jimin berucap tak enak hati.

"Tolong berpikirlah yang matang, Jimin-ssi. Pikirkan yang terbaik untukmu dan juga bayi kalian. Kalau boleh, izinkan Yoongi menjaga kalian. Itu lebih baik…" Ibu Yoongi tersenyum lembut, lagi.

"Kau dengar itu, Park Jimin?" Yoongi merasa diatas angin karena secara tak langsung, Ibunya berada dipihaknya.

Jauh dalam hati, Jimin merasa sangat lega. Ibu Yoongi sangat jauh dari bayangan buruknya. Bahkan sifat ibu Yoongi sangat bertolak belakang dengan Yoongi. Wanita itu sangat lembut dan perhatian. Tidak seperti Yoongi, batin Jimin.

"Pesanan anda, nyonya" pelayan membawakan tiga hiding yang sama untuk mereka bertiga. Meletakkannya tepat didepan ketiganya, kemudia berlalu pergi.

"Jimin-ssi, kandunganmu sudah berapa bulan?" Ibu Yoongi bertanya lagi.

"Sebulan?" Jimin menjawab ragu.

"Kau belum memeriksa kandunganmu?"

"Belum, nyonya Chae" Jawab Jimin gugup.

"Jangan panggil aku nyonya, panggil eomma saja."

"Ne eomma.." Jimin mengangguk. Perasaanya menghangat. Sudah sangat lama panggilan itu tidak pernah terucap dari mulutnya.

Mereka berbincang dengan akrab setelah itu. Ibu Yoongi adalah orang yang menyenangkan dan terbuka. Dari Ibu Yoongi, Jimin jadi tau kalau Yoongi adalah anak tunggal, punya adik tiri bernama Hyungwon, appa tirinya pemilik agensi, bahkan masa kecil dan remaja Yoongi diceritakan dengan semangat oleh Ibu Yoongi.

Jimin melirik Yoongi sedetik, dia melihat mata namja itu berubah, tidak dingin seperti biasanya. Mata itu memancarkan rasa sayang yang sangat pada ibunya. Ibunya yang membersarkannya sendirian saja tanpa ayah.

Mungkin benar, Min Yoongi tidak sebrengsek yang orang lain katakan.

.

.

.

Yoongi dan Jimin sudah sampai di apartemen Jimin, Yoongi mendudukan diri di ruang tamu sementara Jimin pergi untuk ganti baju. Baju yang tadi digunakannya terasa tak nyaman lagi ditubuhnya.

Jimin memakai piyama hitam polos keluar dari kamar, sementara Yoongi sibuk dengan remote tv, sudah sangat lama dari terakhir kali Yoongi menonton. Pekerjaan tidak memberikannya waktu untuk bersantai menonton TV.

Jimin duduk disebelah Yoongi, dan menyandarkan kepalanya dibahu namja pucat itu. Kedua tangan Jimin memeluk lengan Yoongi yang terbalut kaos lengan panjang berwarna hitam.

"Hyung…" Jimin memanggil pelan. Bibirnya beralih memberikan kecupan-kecupan kecil dilengan atas Yoongi, agar namja pucat itu memperhatikannya.

"Hmm.."

"Soal jawabanku…"

Secepat cahaya, Yoongi langsung memusatkan perhatiannya pada Jimin.

"Apa jawabannya?" Yoongi menegakkan badan Jimin agar berhadapan dengannya.

Jimin merogoh kantong piyamanya dan mengeluarkan kalung berhias cincin, meletakkannya diatas telapak tangannya. Pemberian Yoongi.

Yoongi mengantisipasi gerakan Jimin, dia tidak berbicara apapun, begitu juga Jimin, dan Yoongi sampai dalam satu kesimpulan yang diambilnya sepihak.

"Aku bilang kembalikan kotaknya, bukan kalung dan cincinnya" Yoongi berbicara tenang. Emosinya tak terbaca.

"Hyung…"

"Tak apa. Aku akan tetap tanggung jawab, jangan merasa bersalah" Yoongi memandang tepat kedalam bola mata Jimin.

"Pakaikan…" Jimin merengek.

Yoongi merasa darahnya kembali mengalir keseluruh tubuhnya. Sial.

Yoongi menerjang tubuh Jimin dan memeluk Jimin erat.

"Kau milikku…" Yoongi berbisik ditelinga Jimin yang sudah berada di bawahnya.

"Selalu…" Jimin mengalungkan kedua tangannya dileher Yoongi. Memeluk erat namja pucat arogan itu, mencari kenyamanan yang hanya bisa Jimin dapat dari Yoongi.

Yoongi membanjiri Jimin dengan kecupan-kecupan kecil diseluruh wajahnya, dan berakhir mencium Jimin dengan lembut tepat di bibir. "Terima kasih" Yoongi berucap tepat didepan bibir Jimin.

Jimin hanya terkekeh, menarik kepala Yoongi mendekat, membawa namja pucat itu pada satu ciuman panjang.

"Pakaikan…" suara Jimin terdengar manja. Kalung dan cincin itu sudah bergantungan ditangan Jimin. Didepan wajah Yoongi.

Yoongi masih belum beranjak dari atas tubuh Jimin. Kedua tangan Yoongi menahan berat tubuhnya agar tidak menimpa Jimin.

Jimin membeku saat melihat mata Yoongi yang menyorot hangat padanya. Dada Jimin berdebar. Yoongi tidak pernah memandang Jimin seperti ini sebelumnya. Sorot mata yang sama seperti yang Yoongi tujukan pada ibunya. Pandangan penuh rasa sayang.

"Aku mencintaimu" untuk pertama kalinya telinga Jimin mendengar pernyataan dari namja pucat yang berada diatasnya ini.

Jimin merasa debaran dadanya mulai menggila, Wajahnya memerah, tatapan mereka terkunci satu sama lain. "Aku selalu mencintaimu…" Jimin berujar malu. Dia menarik leher Yoongi dan menyembunyikan wajahnya dibahu Yoongi.

"Haruskah kita menikah besok?" Yoongi mengecup kepala samping Jimin yang masih menyembunyikan wajahnya di bahu Yoongi.

"Mana bisa secepat itu" nada suara Jimin terdengar merajuk dan malu-malu disaat yang bersamaan.

"Bagaimana kalau lusa?"

"Hyung!"

"Aku serius"

"Mana ada yang mempersiapkan pernikahan dalam dua hari!" Jimin menggigit main-main daun telinga Yoongi. Dia masih bersembunyi.

"Kalau begitu, kita bisa jadi yang pertama melakukannya" Yoongi menumpukan seluruh berat badannya pada Jimin yang berada dibawahnya.

"Jangan konyol! Aku tidak mau menikah asal-asalan. Menikah itu sekali seumur hidup!"

"Kalau begitu tiga hari lagi"

"Hyung!" Jimin berhenti bersembunyi. Tangannya memegang kedua sisi wajah Yoongi. Jimin menyorot tajam kearah Yoongi.

"Bagaimana kalau…"

Ucapan Yoongi terhenti saat Jimin mencium lembut Yoongi tepat dibibirnya.

"Aku merindukanmu, hyung" Jimin berucap malu-malu.

"Haruskah kita pindah ke kamar?"

Jimin tidak ingat bagaimana dia sudah berakhir diatas tempat tidur dengan Yoongi berada di atasnya, menandai seluruh tubuhnya yang sudah tidak mengenakan apapun lagi.

.

.

.

"Aku khawatir pada Jimin…" Seokjin mondar-mandir diruang tamu apartemen Jungkook.

"Aku lebih khawatir pada Yoongi hyung…" Namjoon berucap gusar, tapi tetap duduk tenang di sofa.

"Bisa tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?" Jungkook bertanya penasaran. Disampingnya Taehyung duduk menempel tanpa jarak, melingkarkan tangannya dibahu Jungkook.

Sebagai orang yang belum tau apapun yang terjadi, Jungkook merasa penasaran dengan pasangan yang sibuk sendiri dengan dunianya itu.

"Jimin sedang bertemu dengan Ibu Min Yoongi, aku khawatir dan penasaran" Seokjin menjawab.

"Ternyata aku ketinggalan banyak sekali…" Jungkook membulatkan matanya. Seingatnya terakhir kali Seokjin bercerita, Jimin sedang galau karena Yoongi tidak menginginkan anak, tapi sekarang sudah bertemu dengan mertua.

"Kau bisa tanyakan hal itu pada Jimin langsung, sayang" Taehyung menimpali.

"Dan kenapa Namjoon hyung mengkhawatirkan Yoongi hyung? Bukannya yang harusnya dikhawatirkan itu Jimin hyung?" Jungkook menaikkan alisnya.

"Jimin… dia… menggantung Yoongi hyung, bersyukur Yoongi hyung masih hidup. Aku tidak menyangka Jimin seperti itu. Mengerikan juga…" Namjoon menjelaskan ke khawatirannya.

"The fu*ck?" Koor Seokjin, Jungkook, dan Taehyung bersamaan.

TBC

:')

Ay laf yu kakak-kakak…

Tetap kasih semangat ya. Berhubung ff ini siap diketiknya uda tengah malam, jadi ga bisa banyak bacot.

Maaf soal chap kemaren banyak TYPOs, yang ini juga kayanya banyak, karena ga baca ulang.

Ah, sudahlah. Yang nunggu drama, entar yak kakak-kakak. Keknya ada di chap depan. muahahha

*KETJUP JIDAT SATU-SATU*