"Kau bisa tanyakan hal itu pada Jimin langsung, sayang" Taehyung menimpali.

"Dan kenapa Namjoon hyung mengkhawatirkan Yoongi hyung? Bukannya yang harusnya dikhawatirkan itu Jimin hyung?" Jungkook menaikkan alisnya.

"Jimin… dia… menggantung Yoongi hyung, bersyukur Yoongi hyung masih hidup. Aku tidak menyangka Jimin seperti itu. Mengerikan juga…" Namjoon menjelaskan ke khawatirannya.

"The fu*ck?" Koor Seokjin, Jungkook, dan Taehyung bersamaan.

.

.

.

Jimin mengerjapkan matanya lagi demi memastikan pemandangan didepannya.

Min Yoongi, hanya menggunakan handuk dari pinggul sampai lutut, kulitnya basah, rambutnya basah, wangi shampoo dan sabun milik Jimin masuk kehidung, rasanya Jimin masuk surga. Air dari rambut Yoongi yang menetes kepunggung telanjang Yoongi seperti mengejek Jimin dan memperparah keadaan.

Jimin menggelengkan kepalanya beberapa kali, sepertinya pikiran kotor sudah menyerang isi kepalanya. Ini masih pagi, dan dia menginginkan namja pucat itu lagi untuknya, padahal mereka baru saja selesai bercinta subuh tadi. Ini gila. Jimin sadar akan itu.

"Pagi…" Yoongi menyapa Jimin yang sudah berhenti menggelengkan kepalanya.

Jimin tergugup ditempat tidur, dia menarik selimut sampai dagu dan tersenyum konyol kearah Yoongi yang sudah berdiri di sisi ranjang.

"Tidurmu nyenyak?" Sambung Yoongi.

Jimin hanya mengangguk.

"Tidur saja lagi kalau masih lelah. Maaf membuatmu terbangun" Yoongi menumpukan satu lututnya pada ranjang, tangannya bergerak mengelus kepala Jimin dan memberi Jimin kecupan dikepala, kemudian berdiri tegak lagi.

"Hyung akan pergi?" Jimin akhirnya bersuara. Dia ingin duduk tapi pinggangnya seperti tidak memberikan persetujuan.

"Aku harus ke kantor. Tuan Chae ingin bertemu"

"Appa hyung?"

"Ne"

"Jam berapa sekarang?" Jimin meraba meja nakas disamping tempat tidur dan mengambil ponselnya.

"Masih jam tujuh pagi. Istirahat saja lagi" Yoongi ingin berjalan menuju kamar mandi setelah mengambil pakaiannya yang berserak di sofa kamar Jimin.

"Hyung akan datang lagi, kan?" Jimin bertanya malu-malu. Bahkan selimut sudah menutupi bibir dan hidungnya.

"Aku akan muncul setiap hari sampai kau bosan" Jawab Yoongi dan berlalu ke kamar mandi.

Jimin meneggelamkan diri didalam selimut, pikirannya yang sudah terkontaminasi perlahan bisa Jimin kendalikan. Saat Jimin menurunkan selimut sampai dada, dua orang memerobos kamar Jimin.

Seokjin dan Jungkook. Siapa lagi memangnya?

"Ya! Aku menunggumu semalaman!" Seokjin langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur disebelah Jimin.

"Hyung, Kookie?" Jimin terlihat panic. Hell! Yoongi masih di kamarnya!.

"Cepat ceritakan pada kami, apa yang terjadi semalam?" Jungkook mendudukan diri di sofa.

Sangat kelihatan kedua kakak- adik ini baru bagun dan langsung ke apartemen Jimin. Mereka masih memakai piyama saat berkunjung.

Jimin terlalu panic untuk menjelaskan, terlalu panic hanya untuk meminta Jungkook dan Seokjin menunggu di ruang tamu, Jimin hanya bisa berharap Yoongi berlama-lama memakai baju dikamar mandi. Jangan sampai mereka tau Yoongi menginap semalam. Jimin bisa….

Terlambat.

Pintu kamar mandi terbuka, memunculkan Yoongi yang sudah berpakaian rapi.

Seokjin langsung mendudukan diri dari baringnya, Jungkook terkejut seketika, ini sangat… eum… awkward. Bukan hanya untuk Seokjin dan Jungkook, tapi juga untuk Yoongi. Jimin bahkan sudah menenggelamkan diri di dalam selimut lagi.

"Jimin tidak bilang kau menginap disini, Yoongi-ssi" Seokjin memecah keheningan canggung diantara mereka.

"Huh? Oh, ya…" Yoongi menjawab tak kalah canggungnya.

"Sepertinya kami akan kembali nanti saja" Jungkook berdiri canggung.

"Tidak apa, aku akan pergi sekarang. Harus ke kantor." Yoongi menjelaskan. Namja pucat itu mengambil ponselnya di meja nakas dekat Jimin.

"Hyung langsung pergi? Tidak sarapan dulu?" Jimin memunculkan kepalanya dari selimut.

"Nanti saja di kantor." Yoongi mencium kepala Jimin dan berjalan menuju pintu kamar. Tidak lupa juga pamit pada Jungkook dan Seokjin yang masih merasa sangat-sangat canggung disana.

Mereka terdiam beberapa menit setelah Yoongi pergi, saling pandang dan kemudian Seokjin dan Jungkook menatap kejam pada Jimin.

"Sia-sia aku mengkhawatirkan mu semalam…" Seokjin berucap dramatis sambil menggelengkan kepala.

"Tau begini aku tidak akan mau repot-repot merasa khawatir" tambah Jungkook.

"Hyuuunggg maafkan aku" Jimin memeluk Seokjin dari samping dan menggoncang-goncang tubuh Seokjin. Suaranya merengek tapi Jimin tersenyum senang.

"Sepertinya berakhir baik" Jungkook mendudukan diri di tempat tidur.

"Apa yang terjadi semalam?" Seokjin menghentikan Jimin dan kembali bertanya serius.

"Aku sudah bertemu ibunya. Dia orang yang baik, hyung."

"Dan?" Kali ini Jungkook tidak bisa untuk tidak penasaran.

"Aku setuju" Jimin menunjukkan cincin di jari manisnya.

"Aku senang mendengarnya, Jim" Seokjin tersenyum lembut pada Jimin.

"Padahal kemarin aku hanya berbohong soal Jimin hyung dan Yoongi hyung akan menikah. Ternyata jadi kenyataan secepat ini" Jungkook berguman sendiri.

"Kau bohong pada siapa?" Jimin melirik Jungkook penasaran. Telinganya cukup tajam untuk menangkap ucapan Jungkook yang pelan.

"Hyungwon. Adik tiri Yoongi hyung" jawab Jungkook jujur.

"Dimana kau bertemu dengannya?" Jimin makin penasaran.

"Di apartemenku" Jungkook menjawab tanpa minat.

"Btw, Dari mana kau mengenalnya?" Seokjin bertanya lagi.

"Dia teman satu sekolahku, dan dia itu si Hyungwon yang dulu pernah aku ceritakan, hyung. Si anak orang kaya menyebalkan itu" Jungkook berapi-api.

"Hyungwon yang itu?" Seokjin memastikan.

"Ne!"

Seokjin mengelus lengan Jimin prihatin dan Jungkook ikut-ikutan berwajah prihatin melihat Jimin. "Kuatkan dirimu, Jim"

Apa yang terjadi? Jimin kebingungan.

.

.

.

"Appa dengar, kau akan menikah?" Tuan Chae tersenyum senang.

Pria paruh baya ini tidak pernah berubah, menurut Yoongi. Dia selalu tersenyum ramah, baik, dan kebapakan. Mungkin karena sifatnya ini yang membuat Hyungwon tumbuh jadi anak yang menyebalkan. Dia terlalu baik.

"Ne, Appa" Yoongi menyesap kopinya.

Mereka berada di kafe dekat kantor Yoongi. Tuan Chae sengaja datang berkunjung untuk menemui anak sulung (tiri) nya ini setelah mendengar cerita istrinya. Meskipun Yoongi tidak mengundangnya saat bertemu Jimin, tapi Tuan Chae sangat senang mendengar kabar anaknya akan menikah.

"Maaf tidak mengajak Appa semalam" Yoongi melanjutkan.

"Bukan masalah. Tapi kalau kau izinkan, Appa juga ingin bertemu calonmu" Senyum itu tidak pernah luntur dari wajah Tuan Chae. Membuat Yoongi sedikit merasa bersalah.

"Ne. Nanti akan ku kenalkan langsung pada Appa."

"Yoongi" Tuan Chae memanggil Yoongi yang menunduk dihadapannya.

"Ne?"

"Boleh Appa dan Umma yang menyiapkan pernikahanmu?" Tuan Chae bertanya hati-hati. Dia sangat paham sifat Yoongi. Anaknya ini tidak pernah mau ada orang lain mencampuri urusannya tanpa izin, maka Tuan Chae memilih bertanya dulu.

"Aku bisa melakukannya sendiri. Pekerjaan Appa sudah banyak, jangan menambahinya lagi"

"Bukan masalah. Appa hanya sangat senang akhirnya kau akan menikah. Appa ingin sekali mempersiapkan pernikahan yang terbaik untukmu"

Yoongi memandang lekat pada sosok dewasa didepannya, matanya mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya mengelak, tapi yang Yoongi lihat hanyalah mata seorang ayah yang benar-benar bahagia untuk anaknya. Lagi-lagi Yoongi merasa tercekik karena rasa bersalah.

"Akan ku bicarakan dengan Jimin lebih dulu, aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak, Appa" Jawab Yoongi akhirnya. Kalau boleh jujur, Yoongi sudah mulai merasa capek mencurigai suami ibunya ini.

"Kau benar-benar berubah, nak. Biasanya kau akan mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan pendapat orang lain. Sepertinya Park Jimin benar-benar sukses merubahmu. Kau terlihat lebih tenang dan sedikit ramah sekarang" Tuan Chae kembali tertawa.

Yoongi mau tidak mau ikut tertawa bersama Tuan Chae.

"Segera pertemukan Appa dengannya. Appa ingin mendengar jawaban kalian berdua secara langsung." Lagi-lagi Tuan Chae tersenyum. Tangannya menepuk jari-jari Yoongi diatas meja.

"Ne, Appa"

"Bagaimana Bodyguard Hyungwon?"

"Aku sudah meminta dia untuk memilih, tapi dia minta Wonho dikembalikan" jelas Yoongi.

"Anak itu…" Tuan Chae tertawa lagi. "Dimana Wonho sekarang? Appa rasa memang Cuma Wonho yang bisa mengendalikan anak itu. Cuma Wonho yang berani menentang perintah-perintah aneh Hyungwon."

"Dia kembali bekerja untukku sekarang"

"Apa Wonho tidak bisa bekerja kembali untuk Hyungwon?" Tuan Chae tersenyum tapi matanya berharap.

"Tidak, Appa. Wonho disekolahkan bukan untuk menjadi pengawal Hyungwon."

"Ah, kau benar" Tuan Chae tersenyum maklum.

"Maaf Appa, tapi sudah saatnya Hyungwon mandiri. Dia tidak bisa selalu mengandalkan orang lain. Jangan terlalu memanjakannya"

Tuan Chae terdiam sesaat. Namja setengah baya itu mulai berpikir kalau ucapan Yoongi memang benar. Anaknya terlalu manja.

"Kau benar. Sudah seharusnya Hyungwon mandiri sepertimu, seperti hyungnya" Senyum itu mengembang lagi.

Lagi-lagi Yoongi merasa bersalah. Namja didepannya ini tidak pernah memperlakukan Yoongi dan Hyungwon dengan berbeda. Dia tidak pernah pilih kasih pada anaknya. Mungkin ini saatnya Yoongi benar-benar berhenti mencurigai suami ibunya ini, Appanya.

.

.

.

Portal berita dibuat heboh lagi dengan pemberitaan Park Jimin dan Min Suga. Seseorang ternyata mengambil foto Jimin dan Yoongi saat di hotel dan direstoran. Social media Jimin kembali dibanjiri dengan komentar-komentar entah bernada sinis dan ada juga yang bernada bercanda dengan menggoda Jimin.

Jimin lagi-lagi terperangah. Sejak mengenal Min Yoongi, hidup Jimin yang super datar dan membosankan mendadak jadi terlalu banyak warna. Terlalu banyak kejutan.

Jimin menscroll layar ponselnya, membaca satu-satu komentar netizen yang ada di berita online. Jimin membaca komentar di foto yang diambil dari belakang saat Yoongi memeluk pinggang Jimin ditangga hotel menuju restoran, kemudian beralih lagi ke foto saat Yoongi mengelus kepala Jimin saat direstoran dengan wajah ibu Yoongi yang di blur, kemudian bergeser lagi ke foto tangan Jimin dan Yoongi yang bertautan dibawah meja.

"Mereka menyeramkan" Jimin berguman sendiri. Merinding karena mereka bahkan memotret tangan Jimin dan Yoongi di bawah meja. Terlalu hebat. Terlalu sakti!.

Jimin kembali lagi membaca komentar yang membanjiri fotonya dan Yoongi. Jimin terkadang tertawa dan mengernyitkan alisnya. Tidak seperti kasusnya bersama Mirae dan Yoongi kemarin dimana Jimin habis-habisan di hujat, kali ini komentar yang masuk kebanyakan bernada lucu dan ada beberapa juga yang masih membahas-bahas Mirae disana.

Jimin masih saja sibuk membaca komentar-komentar saat matanya menangkap satu komentar 'Min Yoongi sangat panas. Pantas saja Park Jimin jatuh padanya'.

"Aku setuju denganmu. Min Yoongi ku memang sangat panas" Jimin berguman menyetujui komentar yang dibacanya.

'Ya! Park Jimin! Kapan kau akan mengkonfirmasi ini. Aku menunggunya! Jangan permainkan perasaanku seperti ini!' Jimin membaca ulang komentar itu lagi. Kemudian tersadar.

"Benar juga. Aku belum bicara apa-apa soal Yoongi hyung dan aku" Jimin lagi-lagi berguman sendiri.

'Min Yoongi, kalau Park Jimin juga menyangkalmu seperti Mirae, datang padaku!' Jimin mengernyitkan alisnya tak suka.

"Huh? Enak saja. Diperutku ada anaknya, tau!" Jimin kesal sendiri membaca komentar itu.

Sangkin sibuknya membaca komentar di ponsel, Jimin tidak menyadari kedatangan Yoongi.

"Sibuk sekali…" Yoongi mendudukan dirinya di sofa tunggal ruang tamu Jimin.

"Hyung? Kapan datang?" Jimin terkejut. Matanya melirik jam didinding, sudah jam enam sore. Pantas saja.

"Barusan. Sedang apa? Serius sekali?" Yoongi meluruskan kakinya dan duduk merosot disofa.

"Membaca komentar. Ingin istirahat?" Jimin Tersenyum merentangkan kedua tangannya.

Istirahat. Seperti kebiasaan Yoongi. Istirahat berarti Yoongi yang tidur telungkup memeluk Jimin di bawahnya, kepalanya menyandar malas di dada Jimin.

Yoongi tidak menjawab. Namja pucat itu melepas jasnya dan berjalan kearah Jimin. Memerangkap namja bersurai orange itu dengan tangannya.

Yoongi tidur telungkup dengan kepala menyadar didada Jimin, sementara Jimin membanjiri kepala Yoongi dengan kecupan dan belaian tangannya.

"Bagaimana harimu hyung?" Jimin mulai bertanya. Jarinya memainkan rambut silver Yoongi.

"Tidak terlalu buruk"

"Hyung jadi bertemu tuan Chae?"

Yoongi mengangguk.

"Apa kalian bertemu untuk membahas bisnis?"

"Tidak." Yoongi mengangkat kepalanya, hidungnya bertabrakan dengan dagu Jimin.

Jimin tersenyum dan sedikit menunduk, memberikan namja arogan diatasnya ini ciuman dibibir. Saat ciuman itu terlepas, Yoongi kembali menyandarkan pipinya di dada Jimin.

"Lalu? Apa kalian membahas Hyungwon?" Tanya Jimin lagi. Jimin memang sudah tau Hyungwon dari ibu Yoongi.

"Sedikit. Appa ingin bertemu denganmu"

"Denganku?" Jimin terkejut. Tangannya berhenti memainkan rambut Yoongi.

"Ne. Appa juga bilang ingin mempersiapkan pernikahan kita"

"Huh?" Jimin makin tak percaya dengan pendengarannya.

"Appa dan umma, mereka ingin mengurus semua keperluan pernikahan kita. Bagaimana menurutmu?" Tanya Yoongi. "Hey! Elus kepalaku lagi" Yoongi memerintah.

"Benarkah? Apa tidak merepotkan? Maksudku, mereka orang sibuk hyung…" Jimin kembali memainkan rambut Yoongi dengan jarinya.

"Kalau kau ingin kita yang mengurus semuanya juga tidak masalah. Appa hanya menawarkan diri. Kita bisa menolaknya kalau kau tidak mau"

"Ani. Aku setuju!" Jimin berucap semangat. Dalam hati Jimin merasa hangat. Orangtua Yoongi menerimanya.

"Ya sudah. Besok kita kerumah orangtuaku" Yoongi memerintah.

"What? Hyung! Aku tidak siap. Jangan besok!" Jimin berubah panic.

"Aku tidak meminta pendapatmu, Park Jimin" Yoongi mendengus.

"Hyung… ayolah, jangan besok ya. Aku bisa kena serangan jantung…" rengek Jimin.

"Ya sudah, aku akan bilang pada Appa kalau kau menolak bertemu dengannya" Yoongi berucap santai, tapi Jimin tau dia sedang di ancam secara tidak langsung. Dasar mafia!.

"Ya! Aku tidak bilang tidak mau bertemu, tapi…"

"Ya sudah. Akan ku batalkan janjinya" Yoongi berbohong. Jelas-jelas dia tidak membuat janji apapun pada Tuan Chae.

"Ani… ani… jangan dibatalkan. Baiklah, tapi hyung tidak boleh hanya diam saja seperti direstoran kemarin! Hyung harus membantuku bicara"

"Hmm…" Yoongi menyeringai tanpa Jimin ketahui.

"Hyung, akan menginap lagi, kan?" Jimin merubah topic pembicaraan yang membuat jantungnya berdetak gugup.

"Tidak. Aku harus ke club nanti malam."

"Harus ke club?" Jimin mengernyit tak suka.

"Ne"

Jimin tidak menjawab apapun lagi. Dia merasa tak suka jika Yoongi harus ke club. Hey, club malam itu bukan tempat yang bagus. Bagiamana kalau Yoongi… dia… bertemu seseorang kemudian mereka…

Jimin menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mengusir pikiran jelek itu dari kepalanya.

"Hyung ke club dengan siapa?" Tanya Jimin. Dia tidak bisa untuk menahan rasa penasarannya.

"Sendiri"

"Ada janji bertemu seseorang?" tanpa sadar Jimin seperti mengintrogasi Yoongi.

Yoongi menaikkan tubuhnya sampai wajahnya sejajar dengan wajah Jimin, sikunya membantu untuk menahan tubuhnya. Alis Jimin masih mengernyit tak suka suka sejak mendengar Yoongi akan pergi ke club.

"Ada apa dengan wajah cemberutmu itu, Park Jimin?" Yoongi meneliti wajah Jimin yang terlihat kesal.

"Jawab saja. Hyung ada janji bertemu dengan siapa?" Jimin balik bertanya lagi.

Yoongi ingin menciumnya, tapi Jimin menahan bibir Yoongi dengan telapak tangannya.

Yoongi menarik tangan Jimin dari bibirnya, menggenggam tangan itu dan menciumnya berkali-kali.

"Ada yang tidak kau suka dari itu?" Yoongi bertanya. Matanya menyorot tajam pada Jimin yang masih terlihat kesal.

"Semuanya. Aku tidak suka hyung pergi ke club"

"Posesif sekali…" Yoongi terkekeh dan membuat Jimin makin kesal.

"Huh? Posesif? Ya sudah! Hyung pergi saja sana" Jimin makin kesal. Dia mendorong Yoongi, tapi Yoongi malah menenggelamkan diri dileher Jimin. Memeluk Jimin erat.

"Minggir! Park Posesif ingin tidur. Pulang sana" usir Jimin.

"Kenapa malah marah?" Yoongi memiringkan kepalanya, berhadapan langsung dengan kulit leher Jimin dan rahangnya.

Jimin merasakan hembusan nafas Yoongi di lehernya. Dia merinding.

"Ti… tidak, Siapa yang marah. Sana pergi!" Jimin menjauhkan lehernya dari Yoongi yang sudah mulai mencium dan gigit kecil lehernya. Bisa bahanya kalau Jimin terlena. Dia sendang marah.

"Aku bekerja, sayang…" Bisik Yoongi. Suara beratnya terdengar seksi ditelinga Jimin.

Damn it, Min Yoongi! Dada Jimin berdebar keras karena panggilan sayang dari Yoongi.

"Bekerja?" Jimin mati-matian menahan diri agar tidak menjadi gila dan meminta Yoongi lagi malam ini.

"Ne. Jackson dan Wonho, mereka bekerja padaku untuk mengelola club malam milikku. Mereka masih baru, jadi aku perlu mengawasi mereka" Yoongi menjelaskan.

Min Yoongi memilik sebuah club malam. Min Fucking Rich Yoongi memiliki sebuah club malam! Wow! Jimin tidak pernah tidak terkejut dengan fakta-fakta soal calon suaminya.

"Oh…" Jimin terkesiap. Dia tidak bisa berkata apa-apalagi sekarang.

Sepertinya Jimin perlu meminta daftar kekayaan Min Yoongi dari Namjoon agar dia tidak terlihat bodoh didepan Yoongi seperti sekarang.

"Jangan berpikir aneh-aneh. Aku hanya bekerja disana. Mungkin sampai club tutup, untuk memantau kerja mereka berdua" Yoongi memperjelas.

"Jam berapa club malamnya tutup?" Jimin mengintogasi lagi.

"Subuh. Mungkin jam empat pagi"

"Jadi hyung tidak akan tidur?"

"Ini mau tidur." Yoongi kembali keposisi awalnya. Menyenderkan pipinya di dada Jimin.

"Hmm… ya sudah. Istirahtalah hyung" Jimin mengecup kepala Yoongi.

"Elus kepalaku lagi" perintah Yoongi.

"Ne, tuan arogan…" Jimin menjalankan jarinya lagi dikepala Yoongi sampai namja pucat itu tertidur.

Satu jam Jimin membiarkan Yoongi tertidur didadanya. Jimin mengisi waktunya sambil memainkan ponselnya lagi, tiba-tiba Jimin teringat akan komentar yang membuatnya sedikit cemburu.

Jimin mengarahkan ponselnya kearah Yoongi yang tertidur didadanya, mengambil foto Yoongi diam-diam. Foto itu hanya menampilkan sisi samping wajah Yoongi dengan jari tangan Jimin terlihat sedikit, memeluk bahu Yoongi.

Satu ide terlintas dikepala Jimin. Ini saatnya dia membalas perlakuan Yoongi saat di hotel. Yoongi tidak segan-segan memeluk pinggang Jimin didepan umum dan memamerkan Jimin sebagai miliknya. Sudah saatnya Jimin melakukan hal yang sama kan?

Dengan jari gemetaran, Jimin memposting foto Yoongi di instagramnya dengan caption: Sorry, he's mine.

Jimin langsung melempar ponselnya ke sofa dibelakangnya dan menyembunyikan wajahnya dirambut Yoongi. Dia yakin sebentar lagi Instagramnya akan dibanjiri komentar, entah itu yang positif ataupun yang negative, tapi Jimin sudah tidak perduli.

.

.

.

Seseorang disana, didalam kamar meremas ponselnya geram melihat postingan Jimin.

TBC

Hallo kakak-kakak….

;')

Terimakasih atas reviewnya, akoeh sungguh terharu dan ngakak sendiri lagi.

:')

Yang nunggu drama nya kayanya chap depan deh. Rasanya ga pas kalo buat di chap ini. Nyang sabar yak kakak-kakak..

*Lari Naruto*