Satu ide terlintas dikepala Jimin. Ini saatnya dia membalas perlakuan Yoongi saat di hotel. Yoongi tidak segan-segan memeluk pinggang Jimin didepan umum dan memamerkan Jimin sebagai miliknya. Sudah saatnya Jimin melakukan hal yang sama kan?
Dengan jari gemetaran, Jimin memposting foto Yoongi di instagramnya dengan caption: Sorry, he's mine.
Jimin langsung melempar ponselnya ke sofa dibelakangnya dan menyembunyikan wajahnya dirambut Yoongi. Dia yakin sebentar lagi Instagramnya akan dibanjiri komentar, entah itu yang positif ataupun yang negative, tapi Jimin sudah tidak perduli.
Seseorang disana, didalam kamar meremas ponselnya geram melihat postingan Jimin.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Park Jimin sukses membuat kehebohan, lagi.
Bukan hanya berimbas pada Jimin tapi juga pada agensi yang menaunginya. Sejak Jimin memposting foto Yoongi di akun pribadinya, telepon kantor agensi Jimin tidak pernah berhenti berdering. Semua telepon yang masuk menanyakan satu hal yang sama, sama-sama meminta pernyataan resmi dari agensi soal foto yang diposting Jimin.
Saat kegemparan terjadi di kantor agensinya, Jimin sudah tertidur nyenyak bersama Yoongi di sofa apartemennya tanpa tau efek yang sudah ditimbulkannya.
Yoongi meninggalkan Jimin setelah menggendong namja bersurai orange itu ke kamar. Setelah memastikan keadaan Jimin baik-baik saja, Yoongi pergi dari apartemen Jimin dengan tenang, tanpa tau kegemparan yang terjadi diluar sana. Bahkan Yoongi melewati lobi apartemen dengan sangat santai.
Yoongi mengabaikan puluhan wartawan yang sudah menunggu didepan gedung apartemen. Berjalan santai melewati mereka karena bodyguard Yoongi sudah membukakan jalan untuk Yoongi melangkah menuju mobil yang menjemputnya. Jelas Yoongi tidak sadar kalau dialah yang dicari para wartawan selain Park Jimin. Tapi bukan Yoongi namanya kalau dia peduli.
.
.
.
Jimin pagi-pagi sekali sudah berada dikantor agensi, tepatnya sudah duduk di depan Bang PD yang sudah memijit-mijit pangkal hidungnya. CEO itu berkali-kali menghembuskan nafas lelah. Tidak habis pikir sejak kapan anak kesayangannya yang tidak pernah membuat masalah selama karirnya, mendadak sangat sering membuat masalah.
"Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi, Jim?" Bang CEO mulai bertanya.
"Soal?" Jimin menunduk. Tidak berani menatap kearah sang CEO.
"Postingan fotomu di instagram"
"Ne?" Jimin bertanya bingung. Dia belum memeriksa ponselnya, terakhir kali tepat jam tujuh tadi Sejin, manager Jimin, menelepon Jimin dan meminta Jimin segera ke gedung agensi.
"Kau berbuat ulah lagi. Dari semalam entah sudah berapa ratus telepon yang masuk kesini menanyakan soal postinganmu" Bang CEO menghembuskan nafasnya lagi.
"Ada apa?" Tanya Jimin masih kebingungan.
"Jim, mereka bertanya soal Min Suga."
Saat nama Yoongi disebut, barulah Jimin sadar apa yang terjadi. Kegemparan. Tentu.
"Maaf tidak memberitahu anda soal ini, Bang PD-nim. Tapi,…"
"Jadi itu benar? Kau berkencan dengan Min Suga?"
"Maaf aku terlambat" Hoseok. Produser yang menangani album Jimin muncul. "Hai, Jim. Lama tidak terlihat. Kau baik?" Hoseok menepuk bahu Jimin dan hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan oleh Jimin.
"Duduklah" Bang CEO mempersilahkan.
"Jadi, ada apa aku disuruh datang pagi-pagi?" Hoseok mendudukan diri disebelah Jimin.
"Aku ingin minta saranmu. Biasanya kau selalu berkepala dingin" Jelas Bang CEO.
"Ada apa?" Hoseok menaikkan alisnya penasaran.
"Tanya Jimin" Bang CEO melirik Jimin sekilas.
"Ada apa?" Hoseok bertanya penasaran, duduknya bahkan menyamping agar bisa berhadapan dengan Jimin.
"Aku memposting foto Min Suga" mulai Jimin.
"Oke, lalu?" Hoseok mengernyit bingung.
"Banyak telepon masuk ke agensi karena itu" sambung Jimin.
"Ada kehebohan baru, Park Jimin?" Hoseok tersenyum pada akhirnya.
"Sepertinya aku menimbulkan kekacauan…" Cicit Jimin tak enak hati.
"Bagus kan?" Hoseok mendadak ceria dan menjentikkan jarinya.
"Bagus apanya?" Bang CEO mengernyitkan dahinya.
"Mata public sedang tertuju pada Jimin sekarang. Kita bisa melepas MV milik Jimin yang sempat tertunda, kan? memanfaatkan situasi." Jelas Hoseok.
"What?" Jimin dan Bang CEO berbicara bersamaan.
"Ck, ini beda kasus dari yang kemarin, kan? Saat itu pemberitaan sedang memojokkan Jimin, aku rasa sekarang berbeda. Jimin hanya memposting foto Min Suga, apa yang salah?" Hoseok mengernyitkan alisnya.
"Tidak ada yang salah seharusnya, kalau saja foto itu tidak terlalu mesra" Bang CEO menatap Hoseok jengah.
"Memangnya kau posting foto habis bercinta, Jim?" Hoseok bahkan memajukan badannya, benar-benar penasaran.
"Ya! Mana mungkin aku melakukan itu. Itu hanya foto…. Hanya…." Jimin mendadak malu menjelaskan.
"Hanya foto Min Suga yang tertidur didadanya. Manis sekali kan?" Bang CEO menyindir.
"Aku tidak berpikir akan terjadi kehebohan karena foto itu, Sajangnim.." Jimin berucap jujur. Dia memang tidak berpikir sejauh ini. Dia hanya memperkirakan akan mendapatkan komentar negative atau positif di akunnya.
"Bukannya tambah bagus?" Hoseok melirik Bang CEO.
"Dimana letak bagusnya?" Bang CEO mengernyitkan dahinya.
"Karena foto itu, para wartawan pasti sedang memburu Jimin. Paling hanya ingin tahu apa itu benar atau tidak. Kita tinggal buat pernyataan ke public saja kan? lalu kita bisa melepas MV Jimin." Hoseok menjelaskan. Karena Hoseok merasa hal ini bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan.
"Jadi, apa benar kau berkencan dengan Min Suga?" Bang CEO mengulang pertanyaannya.
Jimin terdiam sejenak. Rasanya suaranya hilang tertelan masuk keperutnya.
"Jim?" Hoseok menaikkan alisnya. Menunggu jawaban Jimin.
Jimin mengangguk.
"See? Mereka berkencan. Wajar kan? Mirae juga sudah membuat pernyataan di akun pribadinya kalau dia tidak punya hubungan dengan Min Suga. Lalu, dimana masalahnya?" Hoseok menekuk alisnya.
Jimin melirik Hoseok. Merasa senang karena Hoseok ada dipihaknya. Dia tersenyum.
Sementara Bang CEO terlihat sedang berpikir keras.
"Sajangnim, ini Min Suga. Min. Su. Ga" Hoseok menekan nama Yoongi dalam mengucapkannya.
Seperti baru mendapatkan pencerahan dalam hidupnya, Bang CEO tersenyum cerah. Benar. Ini bukan masalah besar, dan tidak merugikan. Jimin, artis kesayangannya berkencan dengan Min Suga si Milyarder muda. Ini bahkan bisa menguntungkan.
"Kau benar. Ini kenapa aku memanggilmu untuk datang kesini. Kau benar-benar berkepala dingin. Mungkin aku hanya sedikit strees dengan kekacauan yang terjadi karena telepon kantor yang tidak berhenti berbunyi, sampai tidak bisa melihat sisi baiknya." Bang CEO tersenyum cerah kearah Jimin dan Hoseok.
"Jadi, kapan kita bisa melepas MW Jimin ke public? Aku ingin membeli motor besar, ngomong-ngomong. Itu perlu biaya yang tidak sedikit juga." Hoseok berucap terang-terangan.
"Kau sedang menyindirku soal royalty lagumu?" Bang CEO melirik Hoseok tajam.
"Anio. Aku Cuma butuh dana tambahan, sajangnim. Melepas MV Jimin, itu berarti aku akan segera dapat pemasukan baru" Hoseok berucap makin jujur dan cengiran tertera jelas di bibirnya.
"Baiklah, pertama kita buat konfirmasi dulu. Lusa, kita bisa melepas MV Jimin, dan kita bisa memikirkan soal jadwal promosi lagu ini" Bang CEO makin ceria.
"Eum… sajangnim" Jimin bersuara takut-takut.
"Ne?"
"Aku setuju dengan usulanmu, seluruhnya aku setuju. Tapi, ada hal lain juga yang ingin ku sampaikan…." Jimin mendadak gugup.
"Apalagi?"
"Sebenarnya, aku.. aku dan Min Suga, kami,… kami akan… menikah" walaupun berantakan, akhirnya Jimin bisa menyelesaikan ucapannya.
"Huh? Kapan?" Hoseok yang lebih dulu merespon ucapan Jimin.
"Mungkin sebulan lagi? Kami masih belum menentukan kapan tanggal pastinya, tapi…"
"Ah, tidak apa. Kau akan menikah dengan Min Suga kan? itu bagus. Hey, tolong ceritakan yang baik-baik pada suami mu soal agensi kita ini. Siapa tau dia berminat menginvestasikan uangnya ke agensi kita, seperti dia menginvestasikan uang nya di agensi milik tuan Chae." Bang CEO memotong ucapan Jimin, dan berbicara sambil memencet ponselnya entah berbuat apa.
"Tapi, sajangnim, masih ada lagi…" Jimin berujar gemas karena ucapannya dipotong.
"Btw, selamat, Jim. Aku ikut senang. Semoga pernikahanmu berjalan lancar. Aku akan mulai memikirkan kado untukmu" Hoseok tersenyum cerah.
"Ya, benar. Selamat, Jim. Katakan, kau mau kado apa?" Bang CEO menimpali.
"Aku hamil" Jimin mengaku dan berbicara cepat.
"Kau apa?" Hoseok mendekatkan telinganya kearah Jimin, dan Bang CEO mempertajam pendengarannya, karena Jimin berucap sangat cepat.
"Aku hamil. Aku hamil, anak Min Suga" Jimin berucap lambat namun dengan suara pelan.
Hening menyelimuti ruangan….
"WHAT?" Koor Bang CEO dan Hoseok bersamaan.
.
.
.
Jimin baru pulang hampir jam 10 malam dari agensi. Semenjak pagi, Jimin habis-habisan di introgasi. Dan sampailah agensi pada keputusan akhir, agensi mengkonfirmasi berita soal Jimin dan Yoongi, Jimin tetap promosi lagu barunya, tapi hanya dalam waktu dua minggu masa promo, dan kabar Jimin yang hamil, agensi mengambil keputusan akan tetap merahasiakan dari publik. Mereka memutuskan kalau Yoongi dan Jimin yang berhak membuka hal itu.
Jimin berjalan menunduk menuju lift, ingin menuju basement dimana mobilnya terparkir. Pikirannya sedikit melonggar karena sudah membagi bebannya pada Bang CEO dan Hoseok. Sambil menunggu lift, Jimin memeriksa ponselnya, tidak ada panggilan atau pesan masuk dari yoongi. Jimin kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Aku merindukan Yoongi hyung," Jimin berguman sendiri sambil mengehela nafas.
"Jimin …"
Jimin membalikkan badannya dan bertemu dengan Jikyung. Temannya mulai dari masa trainee dulu. Jikyung sekarang berprofesi sebagai pengajar koreo di agensi. Entah atas alasan apa, Jikyung mendadak berubah pikiran dan menjadi pengajar koreo.
"Jikyung!" Jimin tersenyum cerah. Sudah cukup lama Jimin tidak melihat Jikyung.
"Wah, ini dia si pembuat onar" Jikyung menggusak rambut Jimin gemas.
"Hey, hentikan. Kau merusak rambutku." Protes Jimin.
"Apa kabar?" Jikyung tersenyum ramah.
"Baik. Kau?"
"Baik. Langsung pulang?" Jikyung memandang Jimin dari atas sampai bawah.
"Ne. Aku habis disidang, jadi butuh istirahat" curhat Jimin.
Lift mendadak terbuka, keduanya masuk kedalam lift dengan Jimin lebih dulu kemudian diikuti Jikyung.
"Itu karena kau mendadak berubah jadi anak nakal, Park Jimin" Jikyung terkekeh.
"Jangan ikut-ikutan menasehatiku. Telingaku sudah pegal" Jimin keluar dari lift yang sudah sampai di basement.
"Dasar. Kau bawa mobil?" Jikyung telah sampai didepan mobilnya yang memang terparkir dekat pintu kaca basement.
"Ne. Ngomong-ngomong, kau kemana saja? Kau sudah lama tidak mengunjungiku! Dasar menyebalkan!" Jimin mulai mengomel.
"Harusnya aku yang bertanya. Kau sudah lama tidak pernah meneleponku lagi, kalau kau datang ke agensi, kau juga tidak menemuiku." Jikyung membalas.
"Aku mengunjungimu. Tapi setiap aku berkunjung, kau selalu sibuk dengan anak didikmu. Aku bisa kena marah kalau mengganggu mu mengajar. Kau kan paling kesal kalau diganggu" Jimin berujar kesal.
Jikyung hanya tersenyum melihat Jimin yang tidak pernah berubah.
"Ternyata kau masih paham sifatku, ya" Jikyung tersenyum lagi.
"Ah, maaf. Ponselku bunyi" Jimin pamit sebentar. Dilayarnya ada nama Yoongi terpampang. Jimin mau tidak mau tersenyum.
"Ne?" Jimin tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia rindu Yoonginya.
"Sudah pulang?" Suara Yoongi terdengar datar diseberang telepon.
Jimin sudah memberitahu Yoongi kalau dia dipanggil agensi melalu pesan singkat- meskipun tidak dibalas-. Dan membuat Jimin merasa bersalah karena tidak jadi bertemu Appa dan Umma Yoongi, padahal Jimin tidak tau saja kalau Yoongi hanya berbohong.
"Sebentar lagi. Hyung dimana?"
"Masih dikantor. Beritahu aku kalau sudah dirumah. Menyetir sendiri?"
"Ne. Nanti akan ku beritahu. Hyung akan ke apartemen kan, nanti?"
"Mungkin sebentar. Setelahnya aku harus pergi ke club lagi. Kenapa belum pulang? Menunggu siapa?"
"Club lagi… club lagi…" Jimin berujar kesal.
"Kenapa belum pulang?" Yoongi mengulang lagi pertanyaannya. Menolak untuk merespon kekesalan Jimin.
"Aku sedang bertemu teman lamaku, hyung. Ingin ngobrol sebentar, setelahnya langsung pulang"
"Siapa?" Yoongi tidak bisa untuk tidak penasaran.
"Jikyung. Dulu, dia adalah temanku saat masa trainee" cerita Jimin.
"Oh, ya sudah. Jangan lupa beritahu kalau sudah sampai apartemen" Yoongi mengingatkan.
"Ne. Hyung…"
"Hmm?"
"Saranghae…" Jimin berbisik ditelepon, takut Jikyung mendengar ucapannya. Kan malu.
"Hmm…"
"Dasar tidak romantis!" Jimin berujar kesal karena hanya direspon dengan 'hmm'.
"Jangan pulang terlalu larut, kasihan anak kita yang diperutmu diajak keluar malam-malam…"
Jimin mendadak memerah. Benar-benar memerah. Kau lihat itu? Kelakuan Min Yoongi itu? Berani sekali dia membuat Jimin memerah dan berdebar-debar hanya karena diperingati seperti itu.
"Huh! Aku tau! Tidak perlu diperingati!" Jimin mempertahankan nada kesalnya, agar Yoongi tidak menyadari Jimin sedang gugup.
"Hati-hati menyetir"
"Ne" Jimin menutup panggilan dari Yoongi.
Jimin menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Setelah dia merasa membaik, Jimin berbalik.
Jimin mendapati Jikyung yang sudah berdiri sangat dekat dengannya, tangannya memegang sapu tangan dan menempelkannya kehidung Jimin. Jimin berubah panic dan segalanya menggelap dalam seketika.
.
.
.
"Hyung, kau oke?" Namjoon melirik Yoongi yang seperti tidak focus pada apa yang Namjoon ucapkan.
"Huh? Ya?" Yoongi tersentak.
"Kau oke? Sepertinya kau tidak focus, apa kita berhenti dulu hyung?" Namjoon meletakkan laporan manajemen perhotel miliknya di meja.
"Tidak, lanjutkan saja. Sudah malam, Seokjin pasti sudah menunggumu" Tolak Yoongi.
"Kau tak focus, Hyung. Ada apa?" Namjoon menutup kertas laporannya.
"Bukan hal penting. Hanya saja, perasaan ku tidak enak" Yoongi berucap jujur.
"Jimin?" tebak Namjoon.
"Entahlah. Aku baru meneleponnya, dia baik-baik saja" jawab Yoongi.
"Dimana dia?"
"Di gedung agensi. Dipanggil tuan Bang" jelas Yoongi.
"Oh, pasti soal foto itu" Namjoon mengangguk yakin.
"Fota apa?" Yoongi mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak tahu, hyung?" Namjoon menaikkan alisnya.
"Memangnya ada apa?"
"Jimin memposting fotomu di akun pribadinya, dia tidak izin padamu?" Namjoon terkekeh sendiri.
"Foto apa?" Yoongi bertanya tak mengerti.
Namjoon merogoh ponselnya didalam jas, membuka aplikasi instagram milik Seokjin yang terpasang di ponselnya, dan menunjukan akun milik Jimin, dimana ada foto Yoongi terpampang.
"Lihat ini, hyung. Dia membuat fansnya gempar" Namjoon tertawa akhirnya sambil menggeleng kepalanya. Memberikan ponselnya pada Yoongi.
"Kapan dia mengambil foto ini?" Yoongi mengernyit heran.
"Bukannya Jimin manis sekali? Caption yang dia tulis apalagi…" Namjoon makin tertawa sendiri.
Yoongi melihat caption yang ditulis Jimin pada fotonya. Mau tidak mau, Yoongi tersenyum, dadanya menghangat. Si Park Jimin ini…..
"Aku jadi ingin cepat pulang. Ayo kita selesaikan ini!" Yoongi berucap semangat.
"Pulang kemana, hyung? Kepangkuan Jimin?" Sindir Namjoon.
"Kemana lagi, dia rumahku…"
Namjoon tertawa mendengar jawaban Yoongi. Tidak pernah dalam sejarah hidupnya, Namjoon meliha Yoongi yang 'sehidup' ini. Terimakasih pada Jimin yang bisa menyentuh sisi lain dari si monster pucat ini.
"Ah… akhirnya hatimu berfungsi, hyung" Namjoon berseloroh.
Yoongi dan Namjoon kembali serius membahas laporan hotel milik Namjoon, melupakan sejenak perasaan cemas milik Yoongi yang mungkin tidak beralasan.
.
.
.
Jimin terbangun dengan panik. Dia merasa berbaring disesuatu yang empuk. Jimin berusaha membuka matanya, tapi sulit. Dia sadar, matanya tertutup sesuatu, mungkin kain yang menutupi. Kemudian Jimin menggerak tangannya, tapi sesuatu yang dingin melingkari kedua tangannya. Saat Jimin menggerakkan kedua tangannya yang terikat keatas, Jimin mendengar bunyi besi yang bertabrakan. Jimin menarik kaki kirinya untuk menekuk, tapi sesuatu yang dingin dan keras juga mengelilingi kakinya.
Jimin makin panic saat menyadari kalau dia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jimin berusaha memberontak, dan ingin berteriak, tapi lagi-lagi ada sesuatu yang menutupi, bibir Jimin dilakban.
Jimin dihantui ketakutan, tidak ada yang bisa dia gerakkan selain badannya, dan hal itu sama sekali tidak berguna. Jimin berusaha tenang dan mengingat apa yang terjadi sebelum ini.
Jikyung.
Nama itu terlintas dibenaknya. Jimin ingat, Jikyung membuatnya tidak sadarkan diri dan berakhir seperti ini.
"Kau sudah sadar, Jim?"
Jimin tersentak takut, tangannya yang terikat keatas memberontak. Menarik kemana saja agar ikatan tangannya terlepas.
"Ssshhh… jangan takut, ini aku…" Jikyung menyentuh pipi Jimin. Mengelusnya dengan hati-hati.
Jimin berusaha menjauhkan tangan Jikyung dengan menggeser kepalanya menjauh. Jimin ingin berteriak marah, tapi mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara.
"Jim, kenapa kau melakukan ini padaku?" Jikyung bernada sedih, dan menempelkan dahinya di dada Jimin.
Jimin bergerak menjauh lagi, meronta sebisanya agar Jikyung menjauh dari badannya. Meskipun Jimin melakukan perlawanan, Jimin tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Jimin merasa tidak lagi mengenal Jikyung. Yang Jimin tau, Jikyung yang ada dihadapannya ini, berbahaya untuknya dan bayinya.
"Apa salahku, Jim?" Suara Jikyung kembali terdengar mengiba.
Jimin berontak lagi, berusaha sekuat tenaga agar ikatan tangannya terlepas.
"Aku merelakan semuanya untukmu, mimpiku, cita-citaku, semuanya! Tapi apa balasan yang aku terima darimu!" Jikyung melepaskan kemarahannya.
Jimin bergetar ketakutan saat Jikyung menarik rambut Jimin dengan keras, bahkan Jimin sampai mendongakkan kepalanya.
"Kau tau, aku mencintaimu dari dulu, Park Jimin! Semuanya ku korbankan untukmu. Aku menunggumu, tapi kau tidak pernah mengerti perasaanku" suara Jikyung kembali mengiba. Dia melepaskan tangannya dari rambut Jimin yang ditariknya, menyisakan rambut Jimin yang rontok ditangannya.
Jikyung akhirnya sadar, dia menutup mulut Jimin dengan lakban. Pelan-pelan Jikyung membuka lakban yang menutupi mulut Jimin, memastikan agar namja bersurai orange itu tidak terluka karena perbuatannya.
"Jim?"
"JIKYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN INI!" Jimin meledak saat lakban terlepas dari bibirnya. Suaranya bergetar takut, tapi Jimin memilih untuk melawan sampai akhir.
"Tidak! Kau tidak akan kemana-mana! Kau hanya boleh disini! Disampingku!"
"Ku bilang, lepaskan aku, Jikyung! Apa kau sudah gila?" Jimin bergerak lagi saat merasakan Jikyung menyentuh tangannya yang terikat.
"Kau akan pergi dengan Min Suga kalau kulepaskan, Jim. Kau tidak akan pernah pergi kemanapun! Kau itu milikku!" Jikyung membentak.
"Jikyung, kau ini kenapa? Lepaskan aku" Jimin mengiba.
Jimin tersentak, tubuhnya bergetar ketakutan saat merasakan tangan Jikyung yang menelusup kedalam bajunya. Jimin menggerakkan tubuhnya dengan liar, bergerak kemana saja agar tangan itu tidak menyentuh kulit perutnya.
"Jikyung, jangan… kumohon…" Jimin mengiba. Ketakutannya sudah tidak bisa lagi Jimin sembunyikan.
"Kau tidak pantas bersamanya, Park Jimin. Aku yang paling mencintaimu! Aku yang merelakan semuanya untukmu!" Jikyung membentak.
Merasa kesal karena Jimin menolaknya, Jikyung kembali menarik rambut Jimin, kemudian naik ketempat tidur dan mengukung Jimin dibawahnya.
"Jikyung, jangan… ku mohon…" Jimin tidak bisa untuk tidak ketakutan sekarang. Dia bisa merasakan tubuh Jikyung dekat dengan tubuhnya, bibir Jikyung terasa menyentuh kulit leher Jimin. Kembali Jimin menjauhkan kepalanya, tapi tidak berhasil karena Jikyung menarik rambutnya dengan keras.
Rasa sakit akibat rambut Jimin yang diremas dan ditarik paksa, tidak lagi Jimin hiraukan. Jimin mati-matiaan melawan dan menangis mengiba.
"Ji.. Jikyung, lepaskan aku…" Jimin menangis.
Jimin merasa dikhianati dan dilecehkan dalam satu waktu. Dia tidak pernah membayangkan, temannya selama masa trainee, temannya membagi suka dan dukanya, bisa berubah menakutkan seperti ini. Dia benar-benar tidak lagi bisa mengenali Jikyung. Hatinya sangat sakit.
"HANYA AKU YANG MENCINTAIMU, JIM! HANYA AKU! KENAPA KAU TIDAK SADAR ITU!" Jikyung menghempaskan kepala Jimin keatas bantal setelah berkali-kali Jimin menolak sentuhan Jikyung.
Jikyung berdiri dan menjauh dari Jimin. Jimin bernafas lega sedetik sebelum suara teriakan dan pecahan barang membuat Jimin kembali waspada.
"KAU HANYA AKAN BAHAGIA BERSAMA KU, JIM!" Jikyung berteriak putus asa.
Kembali Jimin bisa mendengar pecahan barang disekitarnya, dan berakhir dengan suara pecahan kaca.
"Ah… kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak satu orangpun dibumi ini yang bisa memilikimu Park Jimin. Aku bersumpah…" suara Jikyung terdengar mengerikan ditelinga Jimin.
Tidak sampai beberapa detik, Jikyung mulai tertawa. Tawanya mengundang kengerian yang lebih kelam untuk Jimin.
.
.
.
TBC
*Lari Naruto*
*Ketjup satu-satu*
*takut lupa kaya kemaren*
*Lari kencang-kencang*
