"KAU HANYA AKAN BAHAGIA BERSAMA KU, JIM!" Jikyung berteriak putus asa.
Kembali Jimin bisa mendengar pecahan barang disekitarnya, dan berakhir dengan suara pecahan kaca.
"Ah… kalau aku tidak bisa memilikimu, tidak satu orangpun dibumi ini yang bisa memilikimu Park Jimin. Aku bersumpah…" suara Jikyung terdengar mengerikan ditelinga Jimin.
Tidak sampai beberapa detik, Jikyung mulai tertawa. Tawanya mengundang kengerian yang lebih kelam untuk Jimin.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
"Rasanya badanku mau patah…" Jungkook mengeluh setelah menyelesaikan syuting distudio agensi. Jungkook tetap berjalan menuju basement gedung agensi. Managernya sudah menunggu di mobil, terlalu lelah untuk ikut Jungkook masuk ke gedung agensi lagi.
Jungkook berjalan malas, mendorong pintu kaca, dan melirikkan kepalanya kederetan mobil yang terparkir di basement. Saat sedang mencari mobil managernya, Jungkook menemukan mobil Jimin terparkir tidak jauh dari pintu kaca basement.
"Ada apa Jimin hyung masih di gedung agensi jam dua pagi?" guman Jungkook.
Jungkook merogoh ponselnya, mencari nama Jimin di kontaknya. Setelah menemukan nama Jimin, Jungkook mencoba menelepon Jimin. Hitung-hitung bisa mendapat tumpangan gratis, jadi dia bisa meminta managernya langsung pulang ke rumahnya.
Panggilan Jungkook masuk, dan Jungkook dikejutkan dengan suara dering ponsel. Jungkook merasa tidak asing dengan dering ponsel yang di dengarnya, kemudian mencari-cari sumber bunyi itu.
Jungkook terkejut saat melihat ponsel Jimin tergeletak begitu saja di samping tiang pembatas. Dia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak itu dan perasaannya mulai tidak enak.
Ponsel Jimin berdering lagi, kali ini ada nama Yoongi disana, Jungkook kembali mengernyit, menyingkirkan prasangka buruk yang sudah bersarang dikepalanya.
"Park Jimin! Kau kemana saja?" Bentak Yoongi saat teleponnya diangkat Jungkook.
"Hyung, ini aku, Jungkook. Kau tidak bersama Jimin hyung?" Jungkook merasakan ketakutan mulai memerangkapnya.
"Jungkook? Dimana Jimin?"
"Aku menemukan ponselnya tergeletak dekat tiang, di basement. Mobil Jimin hyung juga masih di basement" tangan Jungkook mendingin.
"Apa maksudmu? Kau tidak bersama Jimin?"
"Tidak hyung. Aku juga sedang mencarinya…" Jungkook berucap jujur.
"F*ck!" Yoongi mengumpat. "Jungkook, tolong periksa CCTV basement. Aku akan kesana sekarang" Yoongi memutuskan panggilan teleponnya.
Jungkook tergugu ditempat. Dia berusaha menolak semua pikiran buruk yang menyerangnya sekarang. Dia berusaha menenangkan pikirannya dan berjalan masuk kedalam gedung, memeriksa rekaman CCTV di basement.
Lima belas menit sudah Jungkook memelototi rekaman CCTV basement, pukul tujuh lewat mobil Jimin sudah terparkir di basement, dan Jungkook masih dengan sabar memeriksa CCTV. Pada rekaman sudah menunjukkan pukul 10 pagi karena sudah dipercepat dan mobil Jimin tidak bergerak dari sana.
Ponsel Jungkook berbunyi lagi, ada nama Namjoon tertera di layarnya, kemudian Jungkook menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Lantai berapa?" nada suara Namjoon terdengar tak sabar ditelinga Jungkook.
"Lantai 7, hyung"
"Tunggu aku di dekat Lift, sekarang" Namjoon memerintah dan langsung menutup sambungan teleponnya dengan Jungkook.
Jungkook pamit pada operator yang mengontrol seluruh CCTV dalam gedung untuk keluar sebentar. Tidak sampai lima menit, Namjoon sudah menampakan diri didepan lift. Wajahnya gusar, sama seperti Jungkook.
"Dimana ruangannya?" Namjoon bertanya makin tak sabar.
"Disana" Jungkook memimpin jalan, membukakan pintu ruang control CCTV untuk Namjoon.
"Biar aku yang memeriksanya" Ucap Namjoon pada sang operator yang duduk masih mempercepat rekaman CCTV didepannya.
Sang operator mempersilahkan Namjoon dengan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Tidak lupa pamit pada Jungkook dan Namjoon.
"Hyung, bagaimana kalau terjadi sesuatu?"Jungkook tidak bisa untuk tidak cemas.
Namjoon tidak menjawab pertanyaan Jungkook, karena dia juga tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa untuk adik iparnya ini. Namjoon terus mempercepat rekaman CCTV didepannya dan sampailah saat Jimin dan seorang lelaki keluar dari pintu kaca basement.
Namjoon mempercepat lagi beberapa menit, sampai Namjoon melihat Jimin yang sudah digendong oleh pria yang sama, yang ikut keluar dengan Jimin.
"GOD! Apa yang terjadi? Putar ulang hyung" Jungkook maju kedepan, dekat dengan layar.
"Tidak sekarang" Namjoon malah makin mempercepat rekaman CCTV. Direkaman itu terlihat Jimin yang dimasukkan kedalam sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu kaca basement.
Namjoon memperbesar gambar dilayar untuk melihat nomor polisi mobil sedan tersebut, meskipun samar, Namjoon yakin dengan angka yang tertera di nomor polisi kendaraan itu. Namjoon mengambil ponselnya dan menghubungi Jackson. Memberitahu nomor polisi, merk, dan warna mobil itu agar dilacak keberadaanya.
Kemudian Namjoon memutar ulang rekaman itu kembali saat Jimin dan lelaki itu keluar dari pintu kaca basement dan memperbesar gambar dilayarnya.
"Siapa ini?" Namjoon menunjuk pria yang berdiri disamping Jimin pada Jungkook.
Sangkin samarnya hasil capture rekaman CCTV itu, Jungkook bahkan memajukkan wajahnya dekat dengan layar untuk memastikan siapa pria yang sedang bersama Jimin. Jungkook berusaha mengingat tapi dia benar-benar tidak tau siapa pria yang bersama Jimin itu.
"Kau kenal?" Tanya Namjoon tak sabar.
Jungkook memperhatikan sekali lagi, mengingat siapa yang kemungkinan memiliki postur tubuh seperti itu dan memiliki mobil sedan berwarna hitam, tapi lagi-lagi Jungkook gagal.
"Coba ingat!" Namjoon membentak Jungkook tanpa sadar.
"Jikyung… apa mungkin itu Jikyung hyung?" Jungkook berguman sendiri.
"Jikyung? Namanya Jikyung?"
"Aku tidak yakin kalau itu Jikyung hyung, aku hanya bertemu sekali dengannya. Tapi, sepertinya itu memang dia."
"Oke" ucap Namjoon. Terlihat dari raut wajahnya dia tidak puas dengan jawaban Jungkook. Tapi informasi sekecil apapun sangat dibutuhkan saat ini, maka Namjoon mengirimkan informasi baru itu pada Jackson lagi.
.
.
.
Untuk Jackson yang sudah terbiasa untuk mencari informasi, apalagi dengan adanya clue seperti ini, sangat-sangatlah gampang. Hanya perlu dua menit untuknya mengetahui dimana mobil itu berada setelah Namjoon memberikan informasinya.
Yoongi sudah berada di mobil bersama Jackson dan Wonho, bersiap mencari Jimin kemana saja. Tadinya Yoongi ingin pergi sendiri, tapi Jackson dan Wonho berkeras ingin ikut. Emosi yang tidak stabil bisa membuat Yoongi menghancurkan semua hal yang menghalangi jalannya dan itu bukanlah hal yang baik melihat Yoongi menabrak kendaraan dan orang-orang yang dianggap mengganggu jalannya. Jadilah Wonho yang mengambil alih kemudi.
Jackson mendapatkan pesan baru dari Namjoon tentang nama pria yang bersama Jimin, dan dahinya mengernyit heran dengan dua informasi yang di dapatnya.
"Aku merasa tidak asing dengan alamat ini" Jackson berguman.
Yoongi memajukan duduknya kedepan, melihat kearah Jackson. Sedari tadi Yoongi sedang berusaha menahan amarahnya agar kedua orang yang sedang duduk didepan tidak jadi sasaran. Menahan mati-matian umpatan yang siap meluncur dari mulutnya karena kesabarannya seperti di uji.
"Coba kulihat" Wonho menarik laptop dari pangkuan Jackson yang menunjukkan peta jalan dilayarnya. "Ini alamat apartemen lama milikku!" Wonho terkejut.
"Cepat jalannkan mobilnya" Yoongi berucap tenang. Tenang dan sangat dingin. Wonho dan Jackson bahkan merinding mendengar suara Yoongi.
Tidak perlu diperintah dua kali, Wonho memacu mobil dengan kencang, melanggar semua lampu lalu lintas, dan tidak berhenti menerima makian dari beberapa pengguna jalan yang masih berkeliaran ditengah malam.
.
.
.
Jimin gemetar dan menangis sesenggukan saat sesuatu yang dingin dan keras menyapa kulit perutnya lagi.
Gunting.
Jimin merasa gunting itu berjalan makin keatas dan bajunya terbelah jadi dua. Diatas tubuh Jimin sudah duduk Jikyung yang tertawa mengerikan sambil menggunting baju Jimin.
"Jikyung… kumohon…" entah sudah berapa kali Jimin memohon, tapi Jikyung seperti mati rasa untuk sekedar mengasihani Jimin.
"Sabar sayang, sebentar lagi…" Jikyung berbisik mengerikan ditelinga Jimin.
Jimin menjauhkan kepalanya dari Jikyung dan berontak lagi. Bunyi gemerincing dari besi yang mengikat tangan dan kakinya membuat Jikyung makin tertawa keras. Lagi, Jimin merasakan Jikyung tengah menggesek hidungnya dirahang Jimin dan turun ke leher. Kain yang menutup mata Jimin bahkan sudah basah karena air mata Jimin yang terus mengalir, tapi Jikyung tidak mau ambil pusing.
"Jangan menolakku!" bentak Jikyung dan kembali menarik rambut Jimin dengan keras.
"Jikyung, sakit…" Jimin merasa jambakan pada rambutnya menguat dua kali lipat dari sebelumnya. Perutnya yang tertekan karena diduduki Jikyung juga memperparah keadaan Jimin.
"Aku menyakitimu…" Jikyung melepas rambut Jimin dan memeluk leher Jimin erat. Suaranya penuh permintaan maaf.
Jimin tidak pernah membayangkan kalau Jikyung bisa berubah seperti ini, atau memang inilah Jikyung yang asli? Jimin tidak mengerti. Yang Jimin tau, Jikyung adalah teman yang baik. Mereka saling membantu dan menguatkan selama masa trainee dulu. Tidak pernah ada satu hal pun yang mencurigakan dari Jikyung yang Jimin ingat.
Jikyung kembali tegak dan mengelus kepala Jimin.
"Apa masih sakit?" Jikyung bertanya dengan nada sedih.
Jimin makin gemetar mendapat perlakuan seperti itu. Sebentar Jikyung akan mengamuk, dalam sedetik dia akan meminta maaf, benar-benar tidak tertebak dan Jimin makin takut.
"Kumohon Jikyung, lepaskan aku…" suara Jimin bercampur isak tangis terdengar.
"Kau aman bersama ku, Jim…" Jikyung mengelus pipi Jimin berkali-kali.
Jimin tidak berusaha menghindar, karena Jikyung pasti akan melakukan hal yang tidak bisa Jimin prediksi lagi, untuk menyakiti Jimin.
"Kalau kau mengikatku seperti ini, Kau sudah menyakitiku…" Jimin berusaha membujuk.
Diluar dugaan Jimin, ternyata bujukan palsu Jimin bisa diketahui Jikyung dan membuat Jikyung marah. Tangan Jikyung bahkan melayang menampar pipi Jimin dengan keras.
"Kau pikir aku bodoh?! Kau akan pergi dengan Min Suga kalau ku lepas!" Jikyung berteriak dan kembali menarik rambut Jimin. "Jangan pernah coba-coba mempermainkanku, Park Jimin!" Desisinya marah.
Jimin meringis merasakan sakit di dua tempat sekaligus. Jimin hanya bisa terdiam dan menangis. Tidak berniat lagi memberikan respon apapun yang akan terjadi padanya. Jimin sudah menyerah. Semakin Jimin bicara dan menghindar, makin banyak hal buruk yang terjadi pada tubuh Jimin.
"Jangan perlakukan aku seperti ini , Jim. Jawab aku…" suara Jikyung mengiba karena Jimin tidak merespon ucapannya. Kembali Jikyung mengelus pipi Jimin, tepat dibelas tamparannya yang mulai memerah.
Tepat saat Jikyung akan mencium bibir Jimin, pintu kamarnya terbuka. Jikyung terkejut dan langsung berdiri, meninggalkan Jimin ditempat tidur dalam keadaan berantakan.
Didepannya berdiri tiga orang, satu berkulit pucat, satu terlihat tersenyum ramah sambil membawa laprop ditangan, dan satu lagi adalah Wonho, tetangga sebelah apartemennya.
"Kau mengganggu acaraku bermain" ucap Jikyung tak senang.
Jikyung tidak dalam keadaan siap saat Yoongi maju, mencengkram lehernya dan memukulkan kepala belakang Jikyung kedinding sebanyak tiga kali. Darah mentes menuruni dinding, dan Jikyung sudah pingsan. Yoongi benar-benar tidak menahan lagi amarahnya dan menumpahkan seluruhnya pada Jikyung melalui pukulan kepala ke dinding.
Wonho dan Jackson yang sama sekali tidak memperkirakan tindakan Yoongi, hanya melongo tak percaya. Terlalu cepat dan mengerikan disaat yang bersamaan.
"Bos benar-benar marah. Hanya tiga kali, dan selesai sudah" bisik Jackson pada Wonho yang masih membolakan matanya terkejut.
"Bawa dia ke gudang. Rantai" perintah Yoongi. Nadanya tenang dan dingin. Tidak tersirat emosi apapun dalam suaranya.
Wonho berkedip dan tersadar dari keterkejutannya, menyeret Jikyung yang sudah pingsan keluar dari ruangan bersama Jackson yang masih berkeras ingin mengintip Yoongi dan Jimin. Wonho menutup pintu dan berjalan menuju lorong apartemen. Menunggu diluar bersama Jackson yang sudah protes karena diseret Wonho keluar.
Jimin bergerak menjauh setelah mendengar suara kesakitan Jikyung dan suara lain yang seperti berbisik, Jimin berusaha menjauh entah dari apa. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat. Saat suara pintu tertutup, Jimin terkesiap, dan mulai bersuara.
"Si-siapa itu? Jikyung, lepaskan ini…" suara Jimin makin gemetar saat tidak ada lagi suara yang terdengar didalam ruangan. Hanya suara mesin pendingin ruangan yang masuk ketelinga Jimin.
Yoongi menunggu entah apa. Dia hanya berdiri memperhatikan Jimin yang berantakan dengan baju yang terbuka, tangan dan kaki dirantai, mata yang tertutup kain basah, rambut berantakan, dan pipinya yang memerah sebelah.
"Tolong aku…" Isak Jimin memilukan. "Siapa saja, tolong aku… kumohon…" Jimin mengiba, tangisnya makin terdengar memilukan.
Yoongi mati-matiaan menahan ledakan marahnya dan berlari keluar untuk membunuh Jikyung detik itu juga. Tapi Yoongi memilih menahan sekali lagi dan berjalan kearah Jimin.
Jimin merasakan seseorang duduk ditempat tidur, dia hapal wangi parfum ini, tapi dia tidak ingin bersuara dan juga tidak bisa merasa lega. Jimin merasa sudah mulai gila karena dia bisa merasakan Yoongi disekitarnya.
Yoongi menarik rantai yang mengikat tangan Jimin hingga terlepas, kedua tangan Jimin yang terikat keatas akhirnya bisa turun setelah beberapa jam terikat. Dengan cepat Jimin mengarahkan tangannya keikatan kain yang menutupi matanya, menurunkan kain itu sampai lehernya. Saat matanya terbuka, Jimin makin menangis hebat.
"H.. hyung, apa benar kau Yoongi hyung?" Jimin gemetar.
Yoongi langsung memeluk Jimin erat. Merasa sangat bersalah karena sudah lalai menjaga namja bersurai orange yang berada dalam pelukannya.
"Maafkan aku… maafkan aku" Yoongi memohon maaf, penyesalan merayapi seluruh tubuhnya. "Maaf aku terlambat…"
Jimin tidak menjawab lagi. Tangis ketakutannya berubah menjadi tangis penuh kelegaan saat matanya menangkapYoongi dihadapannya. Dia memeluk Yoongi sangat erat, seolah Yoongi adalah dunianya, dan dia tidak ingin melepaskan dunianya lagi.
"Hyung… aku… aku tidak mau… tidak mau ada disini.. ayo pergi…" Jimin memohon disela isak tangisnya yang membuat ucapannya berantakan.
"Kita pergi" putus Yoongi.
Yoongi menarik ikatan rantai kaki Jimin yang terhubung di kaki tempat tidur. Menariknya begitu saja hingga terlepas, memperdengarkan bunyi gemerincing yang menakutkan bagi Jimin.
Yoongi melepaskan coat dan kemudian kemejanya, menyisakan kaos polos putih pada tubuhnya. Yoongi memasangkan kemeja dan coat miliknya pada Jimin setelah membuang baju Jimin yang sudah rusak tergunting. Lagi, Yoongi mati-matian menahan amarahnya yang siap meledak sedetik lagi, demi Jimin. Jimin-nya.
.
.
.
Wonho pergi lebih dulu bersama Jackson dan Jikyung, setelah Namjoon tiba dan memastikan keadaan sudah baik-baik saja. Wonho mengirim pesan pada Yoongi yang mengatakan kalau dia meletakan kunci mobil di meja ruang tamu Jikyung, agar Yoongi tidak mencari mereka kemana-mana.
Jimin sudah berada di mobil bersama Yoongi yang masih diam. Jimin bisa melihat rahang Yoongi yang mengeras dan ekspresinya yang dingin belum hilang sejak tadi. Jimin mengeratkan coat milik Yoongi ditubuhnya untuk memberi sedikit rasa hangat kemudia melirik keluar jendela dan memilih untuk diam.
Jimin melirik Yoongi saat merasa jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju apartemen Jimin. Jimin menegakkan tubuhnya dan melirik Yoongi heran saat mereka memasuki kawasan perumahan elit di Seoul. Mobil Yoongi berhenti disebuah rumah berpagar hitam tinggi yang gagah, beberapa pria berbadan kekar membukakan pintu pagar untuk mereka dan membungkuk hormat saat melihat Yoongi lah yang datang.
Jimin makin heran saat mobil Yoongi berhenti tepat didepan rumah super megah dengan empat tiang raksasa di terasnya. Pintu berwarna hitam kelam yang terkesan mahal, dan dinding warna putih itu menyambut Jimin. Sangkin terkesimanya, Jimin tidak sadar Yoongi sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untu Jimin.
Jimin menggenggam tangan Yoongi erat karena merasa asing dengan tempat ini. Dia tidak berani bersuara karena Yoongi terlihat akan meledak kapan saja. Mereka disambut dua pelayan yang masih belum tidur lengkap dengan pakaian seragamnya, yang sering Jimin lihat saat sedang syuting dan di drama-drama.
"Selamat datang, tuan. Kami akan segera menyiapkan kamar tamu untuk tamu tuan ini" salah satu pelayan Yoongi membungkuk sambil bicara, terlihat sangat hormat pada Yoongi.
"Dia tidur di kamarku" Yoongi menjawab cepat dan menarik Jimin menuju tangga yang berada tepat berhadapan dengan pintu rumah.
Jimin bisa melihat keterkejutan dimata kedua pelayan itu atas ucapan Yoongi, mereka hanya mengikuti dari belakang dan tersenyum hormat pada Jimin yang juga sedang melihat mereka berdua.
"Anda perlu sesuatu, tuan?" tawar salah satu pelayan yang mengikuti Yoongi naik keatas.
"Bawakan minuman hangat dan air putih hangat untuk kami. Bawa ke kamarku, sekarang" perintah Yoongi tanpa melihat lagi kearah pelayan.
Saat sampai ditangga terakhir, Jimin makin tercengang. Ruangan itu sangat mewah dengan enam lampu Kristal menggantung diatas atapnya. Beberapa set sofa mewah yang keseluruhannya berwarna hitam menyerbu penglihatan Jimin. Jimin bahkan yakin, luas ruangan ini sama dengan lapangan bola disamping apartemennya.
Jimin ditarik lagi melewati ruangan itu dan berhenti pada satu pintu yang lagi-lagi berwarna hitam dan mewah dengan dua daun pintu. Yoongi menempelkan jempolnya pada satu alat yang menempel di pintu, saat bunyi klik terdengar pintu itu terbuka.
"Ini kamar kita" Yoongi bersuara dan menyalakan lampu kamar, yang kata Yoongi 'kamar kita'.
Jimin lagi-lagi tercengang. Kamar ini sangat luas. Bahkan lebih luas dari keseluruhan apartemen Jimin. Jimin yakin itu.
Tempat tidur raksasa dengan ukiran rumit dikepal ranjang, satu set sofa mewah berwarna putih, karpet bulu yang juga berwarna putih dibawah meja sofa, TV raksasa menggantung di dinding dan sebuah lukisan abstrak panjang yang memenuhi satu dinding. Satu kata yang bisa Jimin simpulkan dari kamar 'kita' ini adalah kata mahal.
"Ayo mandi" Yoongi menarik Jimin menuju kamar mandi, yang lagi-lagi Jimin turuti tanpa berkta apapun.
Lagi-lagi kata 'mahal' berteriak dengan sangat keras dari seluruh interior kamar mandi ini.
Jimin tersadar saat Yoongi membuka coat yang Jimin pakai. Matanya berkedip dan dia memandang mata Yoongi dengan kebingungan.
"Hyung…" Jimin menahan tangan Yoongi yang sudah siap membuka kemeja yang Jimin kenakan.
"Ya?"Yoongi balas menatap mata Jimin.
"A.. apa yang kau lakukan?" Jimin kebingungan. Tangannya masih memegang tangan Yoongi yang sudah turun kebawah.
"Memandikanmu?" Yoongi berucap tak yakin.
Jimin berubah memerah dalam sedetik.
"A.. aku bisa sendiri" Jimin mendadak menjadi gugup.
"Oh, oke." Yoongi juga mendadak menjadi salah tingkah karena Jimin.
"Bisa aku pinjam bajumu, hyung?"
"Tentu. Ikut aku" Yoongi berjalan lebih dulu menuju pintu yang terhubung dengan kamar mandi. Saat pintu itu terbuka, barisan lemari yang lagi-lagi meneriakan kata 'mahal' menyapa mata Jimin.
Ruang wardrobe itu berlantai kayu dan seluruh lemari dominan berwana putih, dengan sebuah kotak kaca besar berada ditengah-tengah ruangan itu. Jimin melirik sekilas dan melihat susunan dasi dan beberapa penjepit dasi tersusun sangat rapi didalam kotak kaca.
Jimin berhenti disamping kotak kaca dan melihat Yoongi menggeser pintu lemari sebelah kiri untuknya.
"Semua yang ada disini belum pernah ku pakai. Pilih yang kau mau" Yoongi menjelaskan tumpukan baju dan beberapa piyama menggatung dilemari. Jimin bisa melihat beberapa label harga baju terkenal menggantung diantara baju-baju itu.
"Handuk ada dilemari, sebelah wastafel" sambung Yoongi.
Jimin hanya mengangguk.
"Kita akan bicara setelah kau selesai mandi" Yoongi keluar dan mengecup dahi Jimin sebentar.
.
.
.
Jimin sudah selesai mandi dan dia memilih memaki piyama milik Yoongi yang tergantung dilemari sebelah kanan. Piyama yang sama, yang Yoongi pakai saat Jimin masuk kerumah sakit.
Jimin ingin keluar dari kamar mandi tapi dia mulai merasa gugup. Meskipun dia masih takut atas kejadian yang menimpanya, tapi rasa gugup dan tertarik sudah menguasi Jimin sebanyak 80%. Dia berada dirumah Yoongi, didalam kamar Yoongi. Ini pertama kalinya Jimin dibawa kerumah milik Yoongi yang sangat jauh dari bayangan Jimin.
Jimin tidak pernah berpikir Yoongi tinggal dirumah semegah ini. Kapan Yoongi bisa berhenti memberi kejutan pada Jimin?.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Jimin keluar kamar mandi. Yoongi sudah menunggu diatas tempat tidur, terlihat segar, sepertinya baru saja mandi.
"Kemari" Yoongi menepuk tempat tidur disampingnya, menyuruh Jimin agar mendekat.
Jimin menurut dan mendudukan diri disamping Yoongi yang bersandar di kepala tempat tidur. Jimin melirik kesamping, sudah ada teh dan air putih dimeja nakas, juga buah-buahan segar.
Yoongi memberikan air putih hangat untuk Jimin dan mengelus kepala namja bersurai orange itu dengan lembut.
"Dimana yang sakit?" Yoongi duduk menghadap Jimin yang sudah menunduk dan meletakan kembali gelas kemeja nakas. Ingatan samar atas apa yang menimpanya tadi, masuk lagi tanpa bisa Jimin cegah.
Jimin tidak menjawab, tapi Yoongi bisa melihat bahu Jimin menegang dan sedikit bergetar.
"Tidak apa. Tidak harus cerita sekarang. Ayo tidur" pertama kalinya bagi Yoongi untuk bersabar berkali-kali, demi menjaga orang yang sama. Keajaiban, kalau kata orang-orang yang bekerja untuk Yoongi.
Yoongi menarik bahu Jimin dan tertidur. Jimin menenggelamkan wajahnya pada dada Yoongi dan memeluk Yoongi erat. Rasa takut itu muncul lagi dan Jimin benci ketakutan yang membuatnya akan berakhir dengan tangisan.
"Tidurlah, aku disini" Yoongi memberikan salah satu lengannya sebagai bantal Jimin dan sebelah tangannya memeluk dan mengelus punggug tegang Jimin hingga merasa tenang. Kepala Jimin berkali-kali dikecupnya, permintaan maaf yang tidak terucap.
"Dia, temanku hyung. Kami bertemu saat trainee dulu" Jimin mulai bercerita. Suaranya bergetar teredam di dada Yoongi. "Dia sangat baik. Dia teman pertamaku, di Seoul…" sambung Jimin.
Yoongi mengecup kepala Jimin lagi, tanda kalau dia mendengarkan.
"Kami baik-baik saja selama ini. Selalu bertukar kabar, terkadang aku berkunjung kalau dia tidak sibuk, begitu juga sebaliknya…" Jimin terdiam sejenak. Tangannya berpindah ke depan, meremas baju Yoongi dengan kuat.
"Aku tidak tau kenapa dia berubah seperti sekarang. Aku seperti tidak mengenalnya, hyung. Dia sahabat baikku, tapi aku seperti tidak pernah mengenalinya. Aku ketakutan, hyung" Jimin menangis.
"Apa saja yang dia katakan padamu, tadi?" Yoongi mencoba menahan diri agar tidak membrondoli Jimin dengan seluruh pertanyaan yang bersarang dikepalanya.
"Dia bilang, dia mencintaiku, aku hanya akan bahagia bersamanya, aku…" Jimin tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis didada Yoongi, tanpa Jimin sadari, mata Yoongi berubah kelam.
"Apa dia menyakitimu?" Yoongi tanpa sadar mengeraskan rahanganya. Jawaban Jimin akan menjadi tindakan Yoongi selanjutnya untuk namja itu.
"Dia menamparku…Dia menggunting bajuku, dia menduduki perutku, menarik rambutku…" Jimin tidak sanggup bercerita lagi. Badannya mendingin saat mengingat perlakuan Jikyung. "Aku takut, hyung. Aku seperti tidak mengenalnya" Jimin berakhir dengan tangis lagi.
Yoongi mati-matian menahan diri, menelan ludah seolah dia bisa menelan kemarahannya juga.
"Apa dia 'menyentuhmu' mu?" Yoongi bersumpah akan menyiksa pria itu sebelum membunuhnya kalau dia menyentuh Jimin-nya.
Jimin menggeleng kencang.
"Dia hanya mencium leherku, dan rahangku…" Jimin menjawab jujur.
Darah Yoongi rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Dia harus membuat pria brengsek yang berani menyentuh miliknya mengerti. Mengerti bagaimana posesifnya seorang Min Yoongi pada 'miliknya', mengerti bagaimana Min Yoongi menyelesaikan masalahnya, mengerti bagaimana 'binatang'nya Yoongi jika sedang marah.
"Apalagi yang dia lakukan?" Yoongi menahan nada suaranya agar terdengar tenang tanpa emosi di telinga Jimin.
"Tidak ada. Setelah itu, hyung datang…" Jimin menghapuskan air matanya mengunakan baju Yoongi yang diremasnya. "Darimana hyung tau aku ada disana?" Jimin mendongak menatap Yoongi.
Matanya yang bengkak karena menangis membuat Yoongi gemas sendiri. Jika saja Yoongi tidak punya perasaan apa-apa, mungkin Jimin sudah berakhir dibawah Yoongi saat ini.
"Tidak ada yang penting, yang paling penting, kau sudah bersamaku, dirumah kita" ucap Yoongi. Yang sebenarnya adalah, dia malas kembali menjelaskan kronologinya. Hey, itu tidak penting sekarang.
"Jadi, ini rumah kita?" Jimin memandang Yoongi dengan polos.
"Kau suka? Besok, aku akan mengajakmu berkeliling rumah" janji Yoongi.
Sekilas Yoongi bisa melihat pergelangan tangan Jimin bekas ikatan rantai besi, mulai membiru dan dia mengumpat dalam hati.
"Hyung tinggal sendiri?"
"Mulai bulan depan, sudah tidak" Yoongi mengelus kepala Jimin.
"Kenapa?" Jimin terkejut dengan jawaban Yoongi.
"Ya! Kau lupa kita akan menikah?"
"Benar juga…" Jimin menangguk-anggukan kepalanya. Baru sadar.
"Benar juga?" Yoongi mengernyit marah.
"Saranghae, hyung" Jimin mengecup bibir Yoongi dengan cepat dan bersembunyi didada Yoongi lagi. Takut kena marah.
"Ya! Ya! Park Jimin! Jangan pura-pura tidur. Apa maksudnya itu? Kau lupa kita akan menikah?" Yoongi memaksa Jimin melihat kearahnya, tapi Jimin malah mengeratkan pelukannya.
"Nado saranghae, hyung. Good nite. I love you, too." Jimin terkekeh. Dia memang sempat lupa akan menikah dengan Yoongi.
"Ya! Aku tidak bilang apa-apa! Hey!" Yoongi masih memaksa Jimin.
"Jiminie mengantuk…" Jimin mendongak dengan tatapan polos, hanya untuk ber-aegyo. Siapa tau, Yoongi tidak jadi marah.
"Sial. Aku kalah" Yoongi menyerah.
"Hehehe, hyung…"
"Hmm?"
"Hyung?" panggil Jimin lagi.
Yoongi mengerutkan hidungnya.
"Hyung, jawab!" Jimin mencubit dada Yoongi main-main.
"Ne?"
"Bukan begitu jawabnya! 'Ne, Jiminie..' begitu!" kesal Jimin, mengajari Yoongi cara menjawab panggilannya.
"Ne, Jiminie… ne… ne…." Yoongi menunduk dan mencium bibir Jimin. Gemas juga lama-lama.
Setelah ciuman terlepas, Yoongi menghapus sisa saliva di bibir Jimin dengan jarinya.
"Hyung, apa yang hyung lakukan selama di club?" ini dia. Mulai lagi, Jimin sang 'investigator'.
"Bekerja"
"Tidak mungkin hanya bekerja!" tuding Jimin.
"Memangnya aku harus apa di club?" Yoongi mengernyitkan alisnya.
"Disana banyak perempuan seksi. Kata Jungkook, mereka juga menari dengan seksi diatas meja. Tidak mungkin hyung tidak lihat, kan?"
"Kau tidak pernah ke club malam?" Yoongi menaikkan alisnya mendengar ucapan Jimin yang membawa-bawa nama Jungkook.
"Tidak. Aku tidak suka keramaian"
"Sekalipun?" Yoongi memastikan.
"Hanya sekali. Pertama kali setelah debut sebagai penyanyi, ada club baru yang buka, aku disuruh menyanyi disana, dan aku membenci club malam semenjak itu" cerita Jimin.
"Kenapa?"
"Ramai, banyak asap rokok, mereka bertingkah liar saat mabuk, itu mengerikan" lanjut Jimin.
"Bukannya club malam itu bagian dari kehidupan selebritis?" Yoongi bertanya lagi. Bukan tanpa sebab Yoongi bertanya, ada banyak artis yang datang berkunjung ke club malam miliknya, bahkan yang berimej lugu tanpa dosa pun sudah Yoongi lihat sisi liarnya.
"Selebritis yang pernah berkencan dengan mu, hyung?" sindir Jimin telak.
"Aku mengantuk" Yoongi mengalihkan pembicaraan, dan mengubur bawahnya dirambut Jimin.
"Minggir sana." Usir Jimin. Mendadak dia jadi kesal pada Yoongi.
Yoongi tidak bergeming dan mengeratkan pelukannya.
"Hyung! Ya! Min Yoongi!" Jimin mendorong dada Yoongi.
"Jangan cemburu. Itu kan dulu. Sekarang aku sudah punya Jiminie" bujuk Yoongi.
"Huh? Cemburu? Yang benar saja…" Jimin mengelak.
"Kalau tidak cemburu, cium aku, cepat" tantang Yoongi.
"Minta cium saja pada mantan-mantan kekasih hyung!"
"Hey… sudahlah, kenapa jadi marah? Itu masa lalu. Aku tidak bisa merubahnya. Maaf karena aku pernah jadi orang yang sangat brengsek. Tapi aku ingin berubah" Yoongi menatao mata Jimin serius.
"Jadi, apa yang hyung lakukan selama di club?" Jimin dan segala sifat ingin tahunya.
"Ya Tuhan… aku bekerja, sayang. Bekerja" Yoongi menjelaskan putus asa.
"Ya.. ya… bekerja sambil memperhatikan wanita seksi, begitu kan?" tuding Jimin.
"Anakku, cepatlah lahir. Bantu appa…" Yoongi menghela nafas.
"Jangan bawa-bawa baby! Ini urusan kita!"
"Urusan apa? Itu sudah berlalu sayang. Tolong maaf kan aku, untuk semuanya. Semua perlakuan brengsekku dulu. Oke? Bisa kau berikan aku ciuman dan kita tidur sekarang?" Yoongi mengalah. Keajaiban nomor sekian.
"Sudah ah. Dasar menyebalkan!" Jimin tidur memunggungi Yoongi.
Yoongi hanya bisa pasrah dan memeluk Jimin erat. Menempelkan punggung Jimin ke dadanya, dan membanjiri kepala Jimin dengan kecupan-kecupan.
.
.
.
Jam lima pagi, Yoongi pergi ke gudang setelah memastikan Jimin tertidur lelap.
Digudang sudah ada Jackson, Wonho dan Luhan yang sedang mentato badan Jikyung yang sudah terikat tangannya keatas.
"Bagaimana Jimin?" Luhan berdiri meninggalkan Jikyung yang masih pingsan terikat.
"Sudah tidur nyenyak" jawab Yoongi.
"Dia pasti kelelahan menghadapi mu diranjang. Dasar boss tidak punya perasaan!" tuding Luhan.
"Bangunkan dia" Yoongi memilih tidak menanggapi tudingan Luhan. Kalaupun Yoongi membuat Jimin 'lelah', apa masalahnya?.
Wonho memutar keran air disampingnya dan air deras megucur tepat kebawah Jikyung. Jikyung terbagun panic karena kesulitan bernafas.
Yoongi berjalan kearah Jikyung yang terduduk dilantai basah dengan tangan terikat dan kaki yang terkalung bola besi. Tersenyum mengerikan sampai Jikyung merasakan tubuhnya merinding.
"Bangku" Yoongi meminta, dan Jackson menyerahkan satu bangku tanpa sandaran untuk Yoongi.
Yoongi duduk dibangku yang diletakkan tepat didepan Jikyung. Saling bertatapan tepat dimata.
"Hai, aku Yoongi. Ayo bermain…"
Wonho, Jackson dan Luhan merinding mendengar nada suara Yoongi. Jikyung benar-benar salah cari lawan. Kalau Yoongi mengajak bermain, itu artinya kau tidak akan dilepaskan sampai kau sekarat atau paling tidak, koma dan trauma seumur hidup.
.
.
.
TBC
Wasap, kakak-kakak!
Dramanya uwes ya nih… nanti kalo panjang-panjang kepala aku kena sleding.
Gimana? Bisa minta reviewnya ga kakak-kakak?
*Ketjup satu-satu*
*Lari-lari kecil ditengah hujan*
