"Hai, aku Yoongi. Ayo bermain…"
Wonho, Jackson dan Luhan merinding mendengar nada suara Yoongi. Jikyung benar-benar salah cari lawan. Kalau Yoongi mengajak bermain, itu artinya kau tidak akan dilepaskan sampai kau sekarat atau paling tidak, koma dan trauma seumur hidup.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Jikyung menjerit entah untuk yang keberapa kali saat sakit di tubuhnya bertambah setiap menit. Tendangan, pukulan, jambakan, sundutan rokok, pukulan tongkat baseball, dan masih banyak lagi siksaan yang Jikyung terima.
Jikyung merinding bukan main saat melihat Yoongi tertawa senang mendengar teriakan kesakitannya. Jikyung berulang kali mengirim sinyal meminta pertolongan pada Wonho, tapi Wonho mengabaikannya, berlaku seolah mereka tidak kenal satu sama lain.
"Kau bukan manusia!" Jikyung memandang tajam kemata Yoongi, melakukan perlawanan.
"Itu fakta kuno. Katakan sesuatu yang tidak ku ketahui" Yoongi lagi-lagi tersenyum senang.
"Kau tidak pantas bersama Jimin. Kau sakit jiwa!" Jikyung lagi-lagi melakukan perlawanan.
"Sesama sakit jiwa tidak boleh saling menjelekan" Yoongi mendengus, meremehkan. Tangan pucatnya terulur ke rambut Jikyung, menepuk pelan untuk kemudian menarik rambut Jikyung dengan keras.
"Sa.. sakit…" Kepala Jikyung mendongak keatas karena Yoongi menarik rambutnya dengan paksa.
"Kau tau? Aku sangat senang karena 'mainan' baruku masih bisa banyak bicara setelah ku perlakukan dengan baik. Sepertinya aku akan menyimpanmu lebih lama…" Yoongi berbisik sangat dekat di teling Jikyung.
"Kau… kau sakit…"
"Huh? Yang mana yang sakit?" Yoongi berpura-pura terkejut dan menekan rokok yang menyala ditangannya di luka bekas sundutan rokok dipipi Jikyung, membuat Jikyung berteriak dengan keras merasakan perih di pipinya.
Jikyung terhempas ke lantai setelah Yoongi kembali lagi memukulkan tongkat baseball tanpa ampun ditubuh Jikyung. Baju Jikyung sudah bersimbah darah, wajahnya penuh luka, tapi Yoongi yang marah lebih menyeramkan daripada binatang buas manapun. Dia tanpa belas kasihan sama sekali.
"Henti… hentikan.. ku.. kumohon…" setelah sekian banyak siksaan yang didapat, akhirnya Jikyung memohon agar Yoongi berhenti.
"Hyung, dia bisa mati kalau terus kau pukuli" Wonho mengingatkan dengan takut yang bersarang diseluruh tubuhnya.
Yoongi membuang tongkat baseballnya kelantai begitu saja dan berbalik kearah Luhan, Jackson dan Wonho.
"Kau benar, aku masih membutuhkannya kalau aku butuh sasaran amukan" Yoongi menepuk pipi Wonho dua kali, darah Jikyung menodai pipi Wonho.
"Bos, apa dia boleh jadi mainanku? Daritadi aku hanya menonton, aku juga ingin bermain" Luhan memohon. Daritadi bau darah Jikyung sudah mengganggunya, rasanya sangat gatal ingin ikut 'bermain' juga.
"Terserahmu" Yoongi berucap santai.
Wonho tau urusan Yoongi sudah selesai dengan Jikyung jika Yoongi sudah memberikannya pada Luhan. Wonho melirik Jikyung yang sudah terkapar penuh darah di lantai gudang dan mematai Luhan yang sudah berjongkok mendekat ke Jikyung, mencari-cari tempat kosong ditubuh Jikyung untuk ditato.
"Bereskan semua kekacauan ini, kalau tidak, kau tidak boleh membawa mainan barumu pulang, Lu" Yoongi memerintah.
"Urusan gampang. Jackson, nyalakan keran airnya" Luhan berucap ceria.
Tanpa menjawab, Jackson memutar keran air dan langsung tumpah mengenai Luhan dan Jikyung. Air bercampur darah itu mengalir menuju saluran pembuangan air disudut gudang dengan sendirinya. Tidak sampai lima menit, gudang sudah bersih dari darah dan hanya tertinggal genangan air.
Yoongi baru akan pergi gudang, saat Wonho menghadang jalannya, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Apa?" Yoongi mengernyitkan alisnya bingung.
"Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?" Wonho berkali-kali menunduk dan menaikkan kepalanya, melirik antara lantai dan Yoongi secara bergantian.
"Tentu"
"Hyungwon… dia… baik-baik saja, kan?"
"Apa aku terlihat seperti bodyguard barunya?"
"A.. anio hyung, maksudku bukan seperti…" Wonho mendadak panic.
"Kau bisa menemuinya nanti. Jika sudah ku izinkan" Yoongi menepuk bahu Wonho dan berjalan keluar dari gudang.
Wonho mau tidak mau tersenyum senang. Yoongi adalah orang yang bisa dipegang ucapannya. Jika Yoongi sudah bilang akan mengizinkan Wonho bertemu Hyungwon, nanti, Yoongi pasti menepati ucapannya. Mendadak kesuraman yang terasa di gudang berubah jadi penuh warna di mata Wonho.
"Guys, ayo kita selesaikan dan pulang" Wonho berucap kelewat ceria.
Jackson dan Luhan hanya memandang heran pada Wonho dengan perubahan drastic mood-nya itu.
"Kau sudah gila, ya?" Jackson menyuarakan isi pikirannya.
"Kau ingin makan apa? Ayo ku traktir" Wonho mengabaikan ucapan Jackson dan merangkul bahu Jackson, sok akrab.
"Jawab dulu, apa kau sudah gila?"
"Anggap saja begitu" Wonho berucap santai dan berjalan membantu Luhan membawa mainan barunya.
.
.
.
Jimin terbangun jam sepuluh pagi, hanya tinggal dia sendiri diatas tempat tidur besar itu. Jimin mendudukan diri diranjang sambil melihat berkeliling kamar, tidak ada Yoongi. Jimin berjalan kekamar mandi, tapi sesuatu di sofa menarik perhatiannya. Sebuah catatan kecil dan juga baju tertata rapi di sofa kamar Yoongi.
'Pakai ini. Aku sudah berangkat ke kantor'
Jimin tersenyum senang, ini pertama kalinya Jimin melihat tulisan tangan Yoongi. Rapi. Itu kesan yang Jimin rasa saat melihat tulisan tangan Yoongi. Jimin bergegas mengambil baju di sofa dan berlari menuju kamar mandi. Dia harus pulang, Seokjin dan Jungkook bisa saja sedang mencarinya.
Selesai mandi dan berpakaian, Jimin menuruni tangga yang berhadapan langsung dengan pintu rumah, Jimin baru saja akan membuka pintu rumah saat seorang pelayang menghampirinya dengan terburu-buru.
"Tuan, jangan keluar dulu" sang pelayan menahan gagang pintu agar tidak terbuka.
"Kenapa?" Jimin mengernyit heran.
"Tuan besar bilang, tuan tidak di izinkan keluar rumah"
"Kenapa?" Jimin makin mengernyit heran.
"Sebaiknya anda makan dulu tuan, kami sudah menyiapkan sarapan anda"
"Tapi aku harus pulang kerumah" Jimin memberontak.
"Tuan, setidaknya tolong izin dulu ke tuan besar. Kami bisa kena amukan kalau tidak menjalankan perintah tuan besar dengan baik"
"Tapi ponselku hilang" Jimin mendadak kasihan pada pelayan didepannya.
"Anda bisa pakai telepon rumah ini, tuan"
"Ya sudah. Dimana teleponnya?" Jimin mengalah.
Pelayan itu berjalan lebih dulu ke sisi kiri tangga, dimana terdapat ruang TV dengan layar super besar tergantung di dinding. Tepat disamping TV, telepon rumah Yoongi diletakkan. Pelayan itu memberikan telepon rumah pada Jimin, kemudian mundur beberapa langkah, member privasi pada Jimin dan Yoongi bicara.
"Hyung? Ini aku, Jimin" ucap Jimin saat teleponnya sudah di angkat.
"Sudah bangun?"
"Sudah. Hyung, aku ingin pulang ke apartemen, ya" izin Jimin.
"Kenapa?" Yoongi mengernyit diseberang telepon.
"Aku harus bertemu Seokjin hyung dan Jungkook. Aku takut mereka khawatir" jelas Jimin.
"Jam berapa kau akan kembali kerumah?"
Jimin mengernyit heran. Rumah? Kembali kerumah apanya? Jimin sudah bilang akan kembali ke apartemennya, kan?
"Aku kembali ke apartemen, hyung. Pulang ke apartemenku" Jimin menjelaskan.
"Iya. Jam berapa kau kembali kerumah kita, Park Jimin?" Yoongi berucap gemas.
Jimin memerah. Rumah kita? Uhhh Min Yoongi, manis sekali.
"Eum… tidak tau. aku harus mengurus beberapa hal di kantor agensi juga, hyung. Kalau terlalu malam, mungkin aku akan tidur di apartemen saja" Jimin tersenyum.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh ke kantor agensi. Aku melarang" Yoongi berucap tegas. Tidak habis pikir dengan Jimin yang sepertinya tidak trauma sama sekali.
"Hyuuung.. tapi aku ada pekerjaan…" Jimin merengek.
"Tidak boleh!"
"Aku akan ajak Seokjin hyung" bujuk Jimin.
"Seokjin dan bodyguard" putus Yoongi.
"Bodyguard?" Jimin menaikkan alisnya.
"Aku akan mengirim salah satu bodyguard ku ke rumah Seokjin, namanya Kai. Seokjin kenal dengannya, jadi tidak akan canggung. Dan tunggu Seokjin di apartemen, jangan kemana-mana"
"Aku kan hanya ke gedung agensi, hyung. Tidak perlu bodyguard…"
"Pakai bodyguard, atau tidak keluar rumah sama sekali" Yoongi memberi pilihan.
"Ne, Tuan arogan" Jimin akhirnya menurut.
"Supir yang akan mengantarmu ke apartemen, nanti"
"Ne…" Jimin memutar bola matanya, jengah.
"Sudah minum susu buat baby?"
Jimin memerah lagi. Pintar sekali tuan arogan ini membalikan suasana hati Jimin.
"Belum. Susunya tinggal di apartemen, vitaminnya juga"
"Aku sudah meminta pelayan membeli yang baru, tadi"
"Benarkah?" Jimin terkejut tidak percaya. Yang benar saja namja pucat arogan ini sebegitu perhatiannya.
"Ya! Kau pikir aku ini suami macam apa?" Yoongi tidak terima.
"Kita kan belum menikah…" Jimin terkekeh sendiri, suaranya mendadak mengecil, malu sendiri jika pelayan dibelakangnya mencuri dengar.
"Huh? Kau bilang apa?"
"Hehehe, saranghae hyung. Cepat pulang ya…" Jimin langsung menutup sambungan teleponnya dan Yoongi tanpa menunggu jawaban dari Yoongi.
.
.
.
Jimin sudah sampai di depan pintu apartemennya, sudah akan menekan password pada pintu saat pintu apartemen Jungkook terbuka, terlihat Jungkook yang masih berantakan, seperti baru bangun tidur.
"Jungkook…" panggil Jimin.
Jungkook hanya memicingkan mata dan membelalak saat melihat Jimin berdiri di depannya.
"Jimin hyung! Kau hidup!" Jungkook berucap heboh dan memeluk Jimin erat.
"Ya! Ya! Apa maksudnya itu?" Jimin memaksa Jungkook melepas pelukannya.
"Hyung, aku sangat khawatir. Kau tak apa? Apa yang terjadi? Ceritakan padaku." Jungkook mencecar Jimin dengan pertanyaan.
"Ayo masuk ke apartemenmu. Telepon Seokjin hyung juga"
Satu jam kemudian barulah Seokjin muncul bersama Kai, tapi Kai memilih menunggu diluar gedung daripada bergabung bersama Seokjin, Jungkook dan Jimin. Dia tidak ingin terlibat pembicaraan ketiganya.
"Jimin, aku sangat khawatir mendengar cerita Namjoon" Seokjin beraksi tak kalah heboh dari Jungkook. "Kau tak apa? bayimu?" Seokjin meraba perut Jimin yang rata.
"Kami tidak apa hyung" Jimin tersenyum hangat pada Seokjin yang mengkhawatirkan bayinya.
"Apa yang terjadi?" Jungkook bertanya penasaran.
"Kau ingat Jikyung, Kook?" mulai Jimin.
"Jadi benar, itu Jikyung hyung?" Jungkook membolakan matanya.
"Jikyung temanku mulai kami sama-sama jadi trainee, dulu. Dia orang yang baik, tapi entah apa yang terjadi padanya semalam… dia…" Jimin menceritakan dengan jelas apa yang dialaminya, meskipun badannya bergetar ketakutan mengingat semuanya, tapi dia perlu membagi beban pikirannya pada orang terdekatnya.
"Itu mengerikan…" Seokjin merinding.
"Itu namanya obsesi hyung, bukan cinta" Jungkook ikut merinding mendengar cerita Jimin.
"Tapi jujur saja, aku merasa sedih. Aku kehilangan satu temanku…" Jimin menunduk.
"Teman palsu lebih tepatnya…" Seokjin memperjelas.
"Entahlah , hyung. Aku masih belum percaya dia melakukan itu padaku" Jimin menghela nafas putus asa.
"Sudahlah, itu tidak penting sekarang, yang penting kau dan baby baik-baik saja hyung. Btw, aku mendengar dari Jiwoo hyung, hyung akan melakukan tapping?" Jungkook memperbaki posisi duduknya.
"Bukannya lusa?" Jimin terkejut dengan perubahan jadwal.
"Lusa itu peluncuran MV mu, hyung. Selama tiga hari kedepan kau akan siaran tapping di gedung agensi. Rekamannya akan di kirim ke acara music itu. Jadi kau tidak perlu tampil di depan umum." Jungkook menjelaskan panjang lebar.
"Kenapa mereka tidak bilang padaku dulu?" Jimin mengernyit heran.
"Kau saja yang tidak mendengarkan dengan jelas. Mereka pasti sudah memaparkan secara rinci, tapi kau pasti sedang melamun saat mereka menjelaskan." Ejek Seokjin.
"Kau bisa-bisa sampai menginap di gedung agensi kalau tapping untuk keperluan dua minggu promosi hyung" Jungkook menambahkan.
Jungkook benar, tapping untuk keperluan selama dua minggu promosi, artinya, dalam tiga hari Jimin harus perform empat belas kali, syuting empat belas kali. Jelas tidak ada waktu untuk Jimin pulang ke apartemen, sukur-sukur masih bisa tidur.
"Jangan lupa bawa keperluanmu, terutama vitamin untuk bayimu. Dan jangan memaksakan diri, kalau tidak sanggup, minta istirahat." Seokjin menasehati.
Jimin hanya mengangguk paham. Jimin menunduk lagi, ini bukan pertama kalinya Jimin bekerja tanpa istirahat, tapi kali ini jelas beda, Jimin tidak sendiri sekarang, ada sesuatu yang harus Jimin jaga dalam tubuhnya. Jimin tidak tau efek seperti apa yang terjadi kalau sampai Jimin terlalu lelah.
.
.
.
Diluar perkiraan Jimin, ternyata tapping dimulai hari ini. Semua kru sudah berkumpul dan siap untuk lembur selama tiga hari berturut turut tanpa tidur. Tidak ada waktu untuk bersantai sejenak bagi Jimin.
Sejin bahkan sudah mempersiapkan keperluan Jimin selama tiga hari karena mereka akan menginap di agensi, tanpa bisa pulang.
Jimin melirik ponselnya yang sudah dikembalikan Jungkook, dia baru saja mengirimi Yoongi pesan, tapi namja pucat itu belum membalas pesannya. Jimin mencoba menelepon, tapi Yoongi tidak menjawab panggilannya.
Saat sutradara sudah berteriak, Jimin bergegas meninggalkan ponselnya bersama Sejin. Memulai rekaman yang akan mereka kirim ke acara music.
Menjelang tengah malam, barulah Jimin bisa memegang kembali ponselnya. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Yoongi, membuat semangat Jimin makin turun. Dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang sengaja disediakan kru untuk Jimin istirahat.
"Jim, pakai waktu ini untuk istirahat. Jam tiga pagi nanti kita akan mulai rekaman lagi" Sejin memperingati.
"Aku tahu, hyung. Terimakasih." Jimin memberikan ponselnya pada Sejin dan mulai terlelap. Dia sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
Jam dua pagi, dengan tidak tega Sejin membangunkan Jimin untuk dirias kembali dan memulai syuting. Jimin dengan mata terpejam berjalan ke meja rias. Jimin masih terkantuk-kantuk saat Sejin datang lagi dan memberikan ponsel Jimin.
"Yoongi" ucap Sejin.
Jimin langsung membuka matanya dan mengangkat telepon Yoongi.
"Hyung, darimana saja?" Jimin duduk tegak di depan kaca meja rias.
"Saat teleponmu masuk, ponselku habis batrai, jadi baru bisa menghubungi sekarang. Kau sedang bekerja?" Yoongi mempertajam telinganya, mendengar suara riuh para kru yang sedang menata panggung.
"Begitu… ne, aku sedang bekerja hyung. Kau sudah baca pesanku kan?"
"Sudah. Kau tidak akan pulang sama sekali?"
"Ne." Jimin berucap lemah.
"Ya sudah, jaga kesehatanmu dan baby. Cepat kembali" ucap Yoongi.
"Kau tidak merindukan ku hyung?" Jimin mulai merengek. Tidak ingin Yoongi cepat mengakhiri pembicaraan mereka.
"Aku sudah merindukanmu sejak aku akan pergi ke kantor"
"Kau tidak ingin mengunjungkiku?"
"Ani. Itu bisa mengganggu pekerjaanmu." Yoongi mengerti. Pekerjaan seperti Jimin memang sangat minim jam istirahat.
"Hyuung, mauuu pulang…" Jimin merengek lagi.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kembali kerumah. Aku menunggumu." Yoongi tersenyum mendengar nada suara Jimin yang manja.
"Hyung harus sering meneleponku!"
"Ne.."
"Jawab yang benar!"
"Ne, Jiminie…" Yoongi memutar bola matanya.
"Ya sudah, sampai bertemu dua hari lagi, hyung" Jimin berucap sedih.
"Ne. cepat kembali, aku mencintaimu"
Jimin tidak memerlukan perona pipi lagi, cukup Yoongi yang menyatakan cinta seperti ini saja Jimin sudah memerah alami.
"Nado, hyung.." Jawab Jimin malu-malu. Sementara Cordi noona yang bertugas merias Jimin sudah menaik turunkan alisnya menggoda Jimin.
.
.
.
Syuting sudah selesai dan Jimin bisa kembali ke apartemen, menghabiskan waktunya seharian dengan tidur dan malas-malasan. Balas dendam setelah tiga hari berturut-turut tidak bisa tidur dengan benar.
Total sudah empat hari Jimin tidak bertemu Yoongi, dia ingin langsung menemui namja pucat itu, tapi tubuhnya berkhianat dan memaksa Jimin untuk tidur. Jimin terbangun esok pagi harinya dan sudah mendapatkan telepon dari Yoongi sebanyak enam kali dan tiga pesan. Rekor baru untuk pria cuek seperti Yoongi.
Jimin menekan ponselnya untuk menghubungi Yoongi, tapi sepertinya namja pucat itu sedang sibuk di kantor. Jimin beranjak dari tempat tidur, mendadak sesuatu terasa bergejolak dalam perutnya, siap untuk di muntahkan. Jimin berlari terburu ke kamar mandi dan muntah air.
"Baby, kau sedang menghukum appa karena tidak memberimu istirahat yang cukup?" Jimin terduduk lemas di lantai kamar mandi sambil memegang perutnya.
"Kita berdamai, ya. Jadi anak baik seperti kemarin-kemarin ya…" bujuk Jimin. Tapi sesuatu kembali bergejolak dalam perut Jimin, lagi-lagi dia hanya muntah air karena belum ada makan sama sekali.
Jimin terduduk lemas lagi dilantai kamar mandi, menunggu rasa mual nya mereda. Setelah tiga kali muntah, akhirnya Jimin merasa lumayan baikan dan menyalakan shower, Jimin memilih mandi air hangat untuk membuat tubuhnya lebih rileks.
Jimin keluar dari kamar mandi dan sedikit merasa segar, meskipun sedikit mual. Jimin berpakaian santai dan menuju dapur untuk membuat sarapan dan susu untuknya. Saat Jimin sedang sibuk menyantap makanannya, pintunya terbuka lebar danYoongi muncul di depan pintu.
"Yoongi hyung?" Jimin berdiri dan berlari memeluk Yoongi. "Aku merindukanmu, hyung"
Yoongi menghujani kepala Jimin dengan kecupan-kecupan kecil, dan balas memeluk Jimin dengan erat.
"Kenapa tidak pulang kerumah?" Yoongi bersuara, masih memeluk Jimin.
"Inginnya pulang kerumah, tapi terlalu jauh. Badanku sudah menjerit minta istirahat" adu Jimin. Gedung agensi memang lebih dekat dari apartemen Jimin, hanya butuh lima belas menit jika naik mobil.
"Kau pasti sangat lelah"
Jimin mengangguk, membenarkan ucapan Yoongi. Dia memang benar-benar lelah. Sangat lelah!.
"Kau sedang sarapan?" Yoongi melirik meja makan Jimin.
Jimin mengangguk kembali, menenggelamkan wajahnya di bahu Yoongi.
"Ya sudah, makan lagi sana. Aku kesini hanya sebentar, harus ke kantor" Yoongi merenggangkan pelukannya pada Jimin, tapi Jimin makin menempel padanya. Tidak ingin dilepas.
"Kau sangat merindukan ku?" Yoongi terkekeh melihat Jimin yang tidak mau lepas darinya.
"Hyung tidak merindukanku?" Jimin mengangkat wajahnya dan menatap Yoongi tepat dimata. Matanya seperti mengharapakan Yoongi juga merindukannya.
Yoongi tidak menjawab. Namja pucat itu langsung mencium bibir Jimin dan mendorong Jimin pelan ke dinding dekat dapur. Jimin meremas rambut dan bahu Yoongi saat namja pucat itu menuntut memasukkan lidahnya lebih dalam kemulut Jimin.
Debaran di dada Jimin sudah menggila, pertama kalinya dia dan Yoongi melakukan 'french kiss' dan Jimin tidak bisa berbohong kalau Yoongi adalah pencium yang baik.
Jimin mengerang pelan dan melingkarkan lengannya pada leher Yoongi, membiarkan Yoongi mendominasi ciuman mereka. Sisi liar Yoongi yang muncul jika namja pucat ini mulai 'terbakar'.
Tangan Yoongi sudah menyusup kedalam baju Jimin dan meraba perut rata itu dan berjalan menuju ke dada Jimin, mengelusnya pelan dan membuat Jimin kembali mengerang.
Jas Yoongi sudah terlempar entah kemana dan keduanya sudah berada di atas tempat tidur Jimin yang masih berantakan. Jimin terengah, nafasnya berantakan. Yoongi yang sedang mengurungnya diantara tangan namja pucat itu juga sudah terlihat berantakan, hasil kerja tangan Jimin yang sudah merusak rambut Yoongi dan membuat kancing kemeja namja pucat itu terlepas seluruhnya.
Yoongi menunduk dan menggesekan hidungnya disekitar rahang dan pipi Jimin, hembusan nafas hangat Yoongi membuat Jimin geram dan menarik leher namja pucat itu, mencium dan mengigit kecil bibir Yoongi.
"Sabar…" Yoongi menarik bibirnya yang sudah akan ditarik Jimin lagi dan mengecup Jimin sekali.
"Hyung… please…" Jimin merengek. Tangannya tidak mau lepas dari leher Yoongi, tidak membiarkan namja pucat itu beranjak dari atasnya.
"Dimana?" Yoongi menyeringai dan sialnya itu terlihat seksi dan menyebalkan di saat yang sama.
"Semuanya. Cium aku disemua tempat…" Jimin merengek tak sabar.
"As you wish, love" Yoongi menyeringai.
Sarapan pagi yang 'baik', euh. Min Yoongi?
.
.
.
Hyungwon baru saja bangun tidur dan meihat appa dan ummanya sedang ribut entah tentang apa diruang tamu. Ini sudah jam sepuluh pagi, sangat ajaib menemukan appanya masih dirumah jam segini.
"Selamat pagi, appa, umma" Sapa Hyungwon. Dia mendudukan diri disamping umma nya dan menyender malas pada umma-nya.
"Hyungwonie, lihat, yang ini lebih bagus kan?" Umma nya menunjukan undangan berwarna putih pada Hyungwon.
Hyungwon menegakkan duduknya dan mengambil undangan itu dari tangan umma-nya.
"Umma dan appa ingin menikah lagi?" Hyungwon mengernyitkan alis dan melirik appa dan ummanya bergantian.
"Itu tidak bagus, yeobo. Ini yang bagus. Lihat ini Hyungwon, bagus kan?" tuan Chae menunjukan undangan warna hitam dengan tulisan tinta emas pada Hyungwon.
"Siapa yang akan menikah?" Hyungwon makin bingung karena pertanyaannya tidak di jawab.
"Hyungmu" Jawab tuan Chae.
"Yoongi hyung?" Hyungwon terkejut bukan main dengan berita yang didengarnya.
"Ne. Hyungmu kan hanya satu, sayang" Nyonya Chae mengelus rambut Hyungwon yang terlihat kaget bukan main.
"What? Apa-apaan! Dengan siapa hyung akan menikah?" Hyungwon bahkan tidak menyembunyikan ekspresi terkejut dan tidak setuju nya dari kedua orangtuanya.
"Park Jimin" jawab Tuan Chae. Alisnya berkerut melihat ekspresi anaknya yang berlebihan.
"WHAT? AKU TIDAK SETUJU!" Hyungwon berteriak, mengagetkan kedua orangtuanya.
"Huh? Apa maksudmu tidak setuju? Kalau hyungmu sampai tidak menikahi Jimin, kami yang akan memaksanya" Tuan Chae berucap santai.
"A.. appa? Yang benar saja?" Hyungwon memandang tuan Chae seperti Appanya bukanlah makhluk bumi.
"Jimin sedang hamil anak hyungmu. Masih bagus Jimin tidak melapor polisi untuk minta tanggung jawab"jelas nyonya Chae.
"WHAT?" Hyungwon benar-benar akan terkena sakit jantung kali ini
TBC
*Lari naruto*
Makasi reviewnya kaka-kakak. Ga nyangka uda nyampe segitu aja review nya ;')
Aku terharu,
*Ketjup jidatnya satu-satu*
