.

.

.

KOI NO YOKAN

.

.

.

Jimin sedang sangat-sangat manja hari ini, setelah sukses membuat Yoongi tidak ke kantor, malamnya Jimin ngotot ingin ikut ke club. Yoongi sudah habis akal untuk membuat Jimin tetap tinggal di apartemen, karena bisa-bisa Jimin tidak tidur lagi hanya untuk menemani Yoongi bekerja. Dan Jimin bisa jatuh sakit dan berdampak buruk untuk bayi mereka.

Jimin bahkan memeluk kaki Yoongi agar namja pucat itu meluluskan keinginan Jimin untuk ikut ke club. Sudah dari siang hari Jimin selalu menempeli Yoongi, bahkan untuk mengambil minum pun, Jimin tidak ingin di tinggal, dengan terpaksa Yoongi harus menggendong Jimin kemana saja Yoongi bergerak. Hanya ke kamar mandi saja Jimin menurut untuk turun dari gendongan Yoongi.

"Hyuung, ikut ya…" Jimin lagi-lagi merengek, menggoncang kaki Yoongi untuk menarik perhatian. Yoongi yang sedang mengenakan baju bahkan kesulitan untuk bergeser dari tempatnya berdiri. Jimin masih setia memeluk kakinya sedari Yoongi selesai mandi.

"Kau akan kelelahan disana, aku bekerja. Kau akan bosan" Yoongi menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.

"Tidak akan bosan. Aku akan duduk manis dan tidak akan mengganggu hyung bekerja" Jimin kembali membujuk Yoongi. Mendongak keatas, melihat Yoongi yang sedang merapikan rambutnya.

"Ini sudah malam. Sebaiknya kau tidur dirumah bersama baby. Kalian butuh istirahat"

"Tapi baby ingin ikut Appa bekerja…" Jimin menatap penuh permohonan kepada Yoongi.

Yoongi menghela nafas. Yoongi kalah lagi. Dia tidak akan bisa menolak Jimin jika sudah membawa-bawa bayi mereka dalam hal apapun. Yoongi akan meluluskan semua permintaan Jimin kalau sudah begini.

"Ya sudah, ganti baju sana. Pakai baju yang hangat. Udara malam tidak baik untuk mu dan baby" Yoongi menghela nafas putus asa, lagi.

"Yey!" Jimin bersorak, berlari menuju lemari dan mengambil sweater tebal untuk dia kenakan.

.

.

.

Suara music menghentak langsung menyambut telinga Jimin saat pintu dibukakan oleh para penjaga di depan club, Jimin berjalan merapat dibelakang Yoongi karena merasa tidak nyaman dengan keadaan club yang bising, remang, dan banyak asap rokok.

"Hyung…" Jimin memeluk lengan Yoongi tanpa sadar. Keadaan club yang ramai membuat Jimin kesulitan menyeimbangkan diri.

Yoongi melirik Jimin yang berdiri di belakangnya, sedang kesulitan menyeimbangkan diri. Namja pucat itu menarik pinggang Jimin dan membuat Jimin berdiri merapat di depannya dengan tangan tangan kanan Yoongi memeluk perutnya dan tangan kiri Yoongi memegang lengan atas Jimin.

Setelah beberapa menit melewati ruangan penuh manusia itu, akhirnya Jimin dan Yoongi sampai ditangga menuju ruangan Yoongi. Sebenarnya bisa saja Yoongi melewati pintu yang biasa dia gunakan, pintu khusus untuk Yoongi menuju ruangannya tanpa harus melewati club dulu, tapi Yoongi sedang ingin iseng, ingin membuat Jimin jera datang ke club dengan membawa Jimin ketengah keramaian seperti ini. Ketempat yang Jimin benar-benar tidak suka.

Mereka melewati tangga menuju ruangan Yoongi, beberapa mata pengunjung melirik tanpa ditahan-tahan pada Jimin. Mereka jelas kenal Jimin, hanya warga asing yang tidak kenal Jimin di Seoul. Beberapa dari mereka yang sedang berdiri ditangga juga langsung mengarahkan ponselnya kearah Yoongi dan Jimin yang sedang menunduk dalam. Diam-diam menyesali keputusannya datang ke club.

Keadaan ruangan di lantai tiga, jauh berbeda dari keadaan dilantai dua dan lantai dasar club itu. Keadaan dilantai tiga begitu lengang dan tenang, hanya suara music yang samar yang terdengar, tidak ada orang berlalu lalang disana. Hanya ada loby dan beberapa pintu yang terhubungan dengan ruangan.

Yoongi sudah berdiri di depan pintu ruangannya, menekan password dan mendorong pintu itu sampai terbuka sedikit.

"Hyung, mau ketoilet…" Jimin menarik-narik tangan Yoongi agar melihat kearahnya.

"Ada di sudut ruangan sana. Toilet didalam ruanganku masih dalam masa renovasi. Mau ku antar?" Yoongi menawarkan.

"Tidak, aku akan pergi sendiri hyung."

"Ya sudah, nanti langsung masuk saja"

Yoongi melihat Jimin berjalan menuju sudut ruangan dimana ada toilet diujungnya. Setelah tubuh jimin tidak terlihat, Yoongi mendorong pintu ruangannya dan mengernyit heran dengan tamu yang sudah duduk di atas meja kerjanya.

Jimin berjalan kembali keruangan Yoongi sambil memperhatikan dinding di kiri dan kanannya, banyak lukisan abstrak tergantung di dinding itu. Beberapa kali Jimin berhenti hanya untuk memperhatikan detail dari lukisan yang terpajang di dinding.

Jimin mendorong pintu ruangan Yoongi dan terpaku disana. Di depannya, Yoongi sedang ditarik kerah bajunya oleh seorang wanita seksi, bukan, sangat seksi. Keduanya berjarak sangat dekat, hidung mereka nyaris bersentuhan satu sama lain.

Saat mendengar pintu tertutup, keduanya seolah baru sadar ada Jimin di ruangan itu. Wanita itu melirik dari balik badan Yoongi. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang bergelombang, bibirnya dipoles lipstick merah, sangat kontras dengan kulit putihnya.

Wanita itu melompat dari atas meja Yoongi dan melirik Jimin lagi dari balik badan Yoongi, tangannya sudah terlepas dari kerah baju Yoongi. Wanita itu mendorong Yoongi dan berdiri didekat Yoongi.

Jimin bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, wanita itu benar-benar sangat seksi, gaunnya membentuk dengan jelas lekukan tubuhnya, belahan dadanya terlihat jelas, gaun nya panjang dengan belahan sampai ke pinggulnya. Benar-benar menggoda iman siapapun yang melihatnya.

Jimin hanya terdiam, menanti penjelasan dari Yoongi tentang apa yang terjadi, tapi namja pucat itu hanya diam dan memutari meja, duduk di kursi kerjanya yang mewah.

"Kau terdampar, kucing kecil?" wanita itu memiringkan kepalanya, menatap Jimin dengan pandang polos dan kasihan.

Jimin mengerjabkan matanya beberapa kali, tersadar wanita itu sedang berbicara padanya. Jimin hanya tersenyum canggung, matanya bergantian melirik Yoongi dan wanita itu.

"Jangan takut padanya, wajahnya memang seram, tapi Dia tidak mengigit." Wanita itu melirik ke Yoongi. " Kemari, come to mama… apa kau terdampar?" wanita itu berjalan mendekat pada Jimin yang masih berdiri di depan pintu.

"Kucing kecil siapa ini? Jangan takut, ada mama disini…" wanita itu memeluk Jimin, meletakkan kepala Jimin di dadanya, mengelus kepala Jimin dengan rasa iba, merasa kasihan melihat wajah Jimin yang sepertinya sedang syok.

"Jangan sentuh milikku" akhirnya Yoongi bersuara. Memandang tajam wanita yang sedang memeluk Jimin itu dengan tajam.

"Huh? Milikmu?" Wanita itu menarik kepala Jimin dari dadanya. Melirik Jimin dan Yoongi bergantian.

"Jimin, kemari" Yoongi memanggil Jimin yang masih setia dengan wajah syoknya.

Jimin merasa tidak enak hati, dan melepas pelan tangan wanita itu yang sedang memegang kedua sisi wajahnya, berjalan kearah Yoongi.

"Duduk" Yoongi menepuk pahanya, mengisyaratkan Jimin agar duduk di pangkuannya.

Jimin melirik canggung antara Yoongi dan wanita itu secara bergantian.

"What the fu*ck are you doing, Min Yoongi?" wanita itu berjalan kedepan meja Yoongi. "Scaredy cat, come here. Mommy will protect you from this asshole" wanita itu mengibaskan tangannya, meminta Jimin berjalan kesampingnya.

Lagi-lagi Jimin hanya terdiam dan melirik Yoongi dan wanita itu yang seperti sedang saling membunuh dari cara mereka memandang satu sama lain.

"Jimin, duduk" Yoongi memegang pergelangan tangan Jimin, memaksa Jimin duduk di pangkuannya.

"Seriously, Min yoongi?" Wanita itu memandang Yoongi seperti Yoongi adalah pedofil predator.

"Dia milikku. Ada yang tidak kau pahami dari ucapanku? He's Mine. He's Min Yoongi's."

"Dia bahkan takut padamu! Lihat wajahnya. Dia pucat!" wanita itu menatap Yooongi nyalang. "Kemari, kucing kecil…" Wanita itu melirik Jimin dan berusaha menggapai tangan Jimin.

"Sentuh dia, kau mati di tanganku" Yoongi menantang keberanian wanita di depannya itu.

"You pedo!" maki wanita itu. Mau tidak mau mendudukan diri di kursi didepan meja Yoongi. "Jangan takut kucing kecil, mama akan menyelamatkanmu" Wanita itu memandang kasihan lagi pada Jimin.

"Dia tidak butuh uluran tanganmu. Kenapa kau kemari?" Yoongi meletakkan tangannya diatas tangan paha Jimin yang sedang berada di pangkuannya.

Jimin hanya menundukkan kepalanya dalam, merasa canggung. Ini pertama kalinya Jimin sedekat ini dengan yoongi di depan umum.

"Ah, aku sampai lupa tujuanku kemari. Kau benar-benar brengsek, Min Yoongi" Lagi-lagi wanita itu memaki. Jimin agaknya salut pada wanita di depannya ini, seperti punya Sembilan nyawa.

"Kita sudah kenal lama, harusnya kau sudah tau fakta kalau aku adalah orang brengsek" Yoongi membalas dengan santai makian wanita itu.

"Exactly! Apa yang kau lakukan pada rekeningku, brengsek? Kau pasti meminta Jackson menyedot semua uang itu kan?" tuding wanita itu.

"I am." Jawab Yoongi santai, membuat wanita itu meradang, siap meledak.

"Kau benar-benar brengsek! Kau tidak bisa mengambil semuanya, kau melakukan transaksi pencucian uang, mengirim kerekeningku, dan…"

"Rekening palsumu" koreksi Yoongi.

"Whatever… kalau tidak ada rekening itu, kau tidak akan bisa mendapatkan aliran dana pencucian uang itu. Kita sudah membuat perjanjian soal itu kan? aku juga mendapat bagian dari hasil pencucian uang itu! Dan apa-apan yang kau lakukan? Kenapa kau menyedot semua uangnya?" wanita itu mengebrak meja, marah.

"Jadi kau marah karena tidak dapat bagian?" Yoongi mendengus meremehkan.

"Tentu! Kau memakai rekeningku. Harusnya aku mendapatkan persenan dari dana itu" Wanita itu megibaskan rambutnya, mengipasi wajahnya dengan tangan, rasanya dia ingin meninju wajah santai Yoongi.

"Kau mendapatkan bagianmu, tentu saja. Jackson juga dapat" Yoongi mengejek dari caranya tersenyum.

"Apa yang ku dapat, asshole? Rekening itu kosong! Saldonya nol!"

Yoongi merogoh laci di mejanya, mengambil sebuah kunci dari dalam dan melemparkannya kearah wanita itu.

"Milikmu. Ada di basement" ucap Yoongi santai.

Wanita itu melirik kunci yang ada ditangannya, mendadak matanya berbinar senang.

"Surat-suranya ada di dalam. Itu cukup untuk menutup mulutmu kan, Joo..."

"Stella! Namanku Stella, brengsek." Wanita yang mengaku bernama Stella itu memotong ucapan Yoongi yang akan menyebutkan nama aslinya. "Btw, kau benar-benar membelikanku Lamborghini?" Stella bertanya memastikan identitas kunci mobil di tangannya.

"Kau meragukan uangku?" Yoongi menaikkan alisnya.

"Hell no! Thanks, by the way…" Stella memainkan kunci mobil di tangannya.

"Pergilah. Aku masih banyak kerjaan" usir Yoongi.

"Ah, aku sampai lupa. Kucing kecil, siapa namamu?" Stella melipat tangannya diatas meja dan mengintip Jimin yang masih saja menunduk.

Jimin mengangkat wajahnya, matanya melirik pada wanita yang sedang tersenyum kearahnya, menanti jawaban Jimin.

"Park…"

"Min Jimin" Potong Yoongi sebelum Jimin menyelesaikan ucapannya.

"Ew, this asshole! Aku tidak bertanya padamu. Jangan sembarangan mengganti marga orang lain dengan milikmu" Stella menegakkan tubuhnya lagi, memandang malas kearah Yoongi.

"Jadi namamu Park Jimin, ya. Baiklah, sampai bertemu lagi, oke? Sering-seringlah main ke sini. Kau terlihat berbeda dari jalang-jalang miliknya dulu. Aku menyukaimu" sambung Stella, tersenyum ramah pada Jimin.

"Dia bukan jalangku." Yoongi melirik tajam Stella.

"Tentu saja dia bukan. Mana ada jalang yang seperti ini. Aku yakin kucing kecil ini bahkan tidak menyentuh rokok, bagaimana bisa dia jadi jalang. Kau pasti menjebaknya dengan ancaman. Aku tau kau, Min Yoongi" tuduh Stella.

Terlalu lama hidup di dunia bawah tanah, membuat Stella bisa menebak dengan sekali lihat, mana yang anak baik-baik dan mana yang bukan. Dan Jimin masuk dalam kategori polos di mata Stella. Memandang dada Stella saja, Jimin segan.

"Baguslah kalau kau sadar. Pergi sana. Jangan kembali ke sini kalau tidak ada perlu" Yoongi mengusir Stella.

"Baiklah, aku akan pergi." Stella berdiri dari duduknya, merapikan gaun dan rambutnya. "Sampai bertemu lagi, kucing kecil." Stella tersenyum ramah pada Jimin.

"Ya! Pergi sana…" Usir Yoongi lagi, tak sabar.

"Aku memang akan pergi, tidak perlu mengusirku berkali-kali! Btw, thanks mobilnya, daddy" Stella mengedipkan matanya kearah Yoongi dan berjalan keluar dari ruangan.

Pintu tertutup bersamaan dengan Stella yang menghilang di baliknya, Yoongi menekan tombol dibawah meja kerjanya dan terdengar suara 'klik' yang menandakan kalau pintu sudah terkunci.

Jimin berdiri tiba-tiba dan menjauhkan diri dari Yoongi. Matanya tersirat rasa kecewa dan sedih.

"Kenapa?" Yoongi ikut berdiri, mendekati Jimin yang sudah menghindar, menjauh dari Yoongi.

"Mau pulang!" Jimin lagi-lagi menghindari Yoongi yang ingin memegangnya.

"Kita baru sampai…"

"Aku mau pulang!" Jimin berkeras.

"Oke, tapi kenapa mendadak minta pulang?" Yoongi memasukkan tangannya kedalam kantong coatnya.

"Aku tidak mau disini"

"Apa yang ku bilang soal jangan ikut ke club, Park Jimin?" Yoongi menatap tajam kearah Jimin.

Jimin mendadak merinding mendengar nada suara Yoongi.

"Aku bisa pulang sendiri. Hyung bisa tinggal disini"

"Kemari" Yoongi memundurkan langkahnya, dan menepuk kursi yang tadi di dudukinya, meminta Jimin untuk duduk disana.

Jimin bergeming ditempatnya, tidak ingin bergerak.

"Park Jimin, kemari" suara Yoongi memberat, pertanda kalau namja pucat itu tidak ingin di bantah.

Jimin yang merasa takut, menuruti Yoongi tanpa bicara apapun lagi. Jimin duduk diam di kursi dan menunduk.

"Ada apa?" Yoongi berlutut, memegang tangan Jimin yang bertaut diatas paha.

Jimin tidak menjawab dan hanya menundukkan kepala, takut pada Yoongi yang sedang marah.

"Jiminie…" Yoongi memegang pipi Jimin dan mengelusnya. Memberitahu Jimin kalau dia tidak marah.

"Aku hanya ingin pulang, hyung…" Jimin berbisik.

"Tapi kenapa? Tadi saat di apartemen kau sendiri yang memaksa ikut kesini"

"Aku…"

"Kau tidak suka pada Stella?" tebak Yoongi.

"Tidak, dia baik. Aku hanya… dia.. dia sangat cantik. Semua orang pasti berpendapat sama denganku. Dia… kalian.. cocok" suara Jimin memelan di akhir kalimat.

Yoongi mendengus. Meletakkan kepalanya diatas paha Jimin.

"Kau cemburu?" Yoongi mengangkat kepalanya, menatap Jimin tepat di mata.

"Dia memanggilmu Daddy…" Jimin menyuarakan pemikirannya yang terganggu dengan sebutan itu.

"Dia juga menyebutku Asshole, brengsek, dan pedo" tambah Yoongi menyebutkan panggilan yang Stella gunakan untuknya.

"Kalian sangat nyaman satu sama lain…" lanjut Jimin lagi.

"Sangat nyaman sampai aku ingin membolongi kepalanya…"

"Tapi hyung membiarkan dia mencium hyung" Jimin berucap lagi.

"Kapan dia mencium ku?" Yoongi mengernyit heran.

"Saat aku membuka pintu, kalian baru berciuman kan?" tuduh Jimin.

"Dia menarik kerahku, kami tidak berciuman, hanya hidung kami saja yang nyaris bersentuhan. Aku bisa menunjukan apa yang terjadi selama kau ke toilet tadi dari rekaman CCTV. Aku akan membunuhnya kalau berani menciumku" Yoongi mendengus, jengah.

"Benarkah? Dia sangat cantik, kenapa hyung tidak suka di cium olehnya?" Tanya Jimin tidak percaya ucapan Yoongi.

"Aku tidak suka barang palsu" Yoongi berdiri.

Yoongi Memegang kedua pipi Jimin, menunduk, ingin mencium Jimin, tapi Jimin mendorong dada Yoongi, merasa hal ini belum beres seluruhnya.

"Apa maksudnya itu?" Jimin mengernyitkan alis, tidak mengerti ucapan Yoongi.

"Kau berhadapan langsung dengannya, harusnya kau bisa lihat dengan jelas, kan?"

"Maksudnya?" Jimin mendorong Yoongi lagi, karena Yoongi lagi-lagi mencoba menciumnya.

"God… biarkan aku menciummu dulu, Park Jimin!" Yoongi berucap frustasi.

"Tidak mau! Jelaskan dulu" tolak Jimin.

"Dia transgender!"

.

.

.

Jimin berakhir tidur di sofa panjang ruang kerja Yoongi setelah kelelahan 'digarap' Yoongi. Yoongi mengunci Jimin diruangannya dan pergi ke ruangan Wonho yang masih satu lantai dengan ruangan Yoongi. Memeriksa pekerjaan Wonho seperti yang belakangan ini sering dia lakukan.

"Ternyata kau tidak sebodoh perkiraanku, Wonho" Luhan menepuk-nepuk kepala Wonho, bangga karena Wonho dapat dengan cepat menguasai pekerjaan.

"Hentikan itu" Wonho menggeser kepalanya dari tepukan tangan Luhan.

"Ada perkembangan?" Keduanya berhenti bermain dan melirik Yoongi yang terlihat sangat segar di pagi buta seperti ini.

"Sepertinya ada yang baru saja mendapatkan jatah malamnya…" sindir Luhan.

Yoongi tidak menanggapi, namja pucat itu mendudukan diri di sofa ruang kerja Wonho dan Luhan. Jackson sedang berada di bawah, memantau club.

"Sepertinya Wonho sudah bisa ku tinggal" lapor Luhan.

"Sudah kau periksa seluruh laporan yang dia buat?" Yoongi memandang kearah Wonho yang sudah beranjak dari depan computer di meja kerjanya. Berjalan kearah sofa dan mendudukan diri di depan Yoongi.

"Sudah. Kau bisa periksa ulang, bos" Luhan memberikan kertas berisi laporan yang di buat Wonho.

Yoongi menghabiskan 10 menit untuk membaca laporan yang dibuat Wonho dan dia tersenyum puas.

"Kau sudah paham cara menjalankan club ini?" Yoongi meletakkan laporan yang dibuat Wonho di atas meja.

"Mereka sudah paham, Bos." Jawab Luhan.

"Belum dua minggu dan kau sudah mengerti pekerjaanmu. Itu bagus" Yoongi menganggukan kepalanya.

"Aku dengar kau membelikan Jackson Lamborghini?" Luhan mendudukan diri di samping Wonho, menatap kearah Yoongi.

"Kau juga akan mendapatkan hadiahmu" Yoongi bisa melihat Luhan yang merasa Yoongi lebih berpihak pada Jackson.

"Apa? Kau membelikan Wonho apartemen, Jackson mendapatkan mobil, lalu aku?" Luhan menyilang kedua kakinya.

"Kau sudah mendapatkan apartemen dan mobil lebih dulu, kau lupa?" Yoongi menaikkan alisnya.

"Ya, kau benar. Lalu, hadiah apalagi yang bisa kau janjikan padaku?" Luhan menatap Yoongi dimata.

"Kau akan mendapatkan 10% saham club ini dan…"

"Are you fucking serious?" Luhan menegakkan badannya. Wonho membolakan matanya.

"Ya, itu artinya jika kau menerima saham club, kau tetap akan bekerja disini" Yoongi menyeringai.

"Harusnya aku tau kau sangat licik" Luhan menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Keputusan ada padamu" Yoongi mengangkat bahunya tidak peduli.

"Berikan aku cuti dua minggu. Juga ruangan milikmu" Luhan membuat penawaran.

"Call!" Yoongi dengan santai menyetujui tawaran Luhan.

Luhan sudah sangat paham seluk beluk club ini, ditangan Luhan jugalah club ini makin besar. Sangat disayangkan kalau otak Luhan tidak di manfaatkan.

"Lalu, apa hadiah yang Wonho dan Jackson dapatkan? Mereka sudah menguasai cara pengelolaan club ini" Luhan bertanya lagi.

"Karena mereka sudah membuat segalanya jadi lebih mudah, mereka mendapatkan saham club ini masing-masing 5%. Aku rasa cukup adil. Secara tidak langsung, club ini milik kita bersama. Perhatikan dengan baik sumber uang kalian. Makin besar club ini, makin deras uang yang mengalir" Yoongi menyeringai.

Yoongi adalah pebisnis. Dia sangat pintar mengikat orang disekitarnya. Sama halnya seperti Namjoon yang mengurus hotel untuknya. Yoongi membuat orang-orang yang bekerja untuknya tidak bisa berkutik melawannya dengan cara memberi bagian mereka sendiri. Orang bodoh sekalipun tidak akan menghancurkan sumber uang nya kan?.

Wonho membolakan matanya lagi. Tidak sampai sebulan setelah Yoongi menariknya dari sisi Hyungwon, mendadak Wonho berubah jadi jutawan dalam semalam. Hal ini tidak pernah terlintas di pikirannya sekalipun, dia memiliki 5% saham di club ini? Ini gila. Wonho membatin.

Wonho makin sadar. Semakin dia menurut pada Yoongi, dia akan mendapatkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ada dalam mimpinya.

.

.

.

Jimin terbangun pagi hari dan sudah berada di kamar milik Yoongi. Jimin tidak ingat bagaimana dia bisa berpindah ketempat tidur Yoongi. Jimin terduduk dan melihat Yoongi tertidur disampingnya. Tangan Yoongi yang memeluk Jimin semalaman melorot jatuh ke pangkuan Jimin.

Jimin tersenyum kecil, mengucek matanya dan mendadak sesuatu menyerang perutnya lagi seperti kemarin. Dia mual lagi. Jimin berdiri dan berlari menuju wastafel kamar mandi, kembali muntah air.

Yoongi yang terkejut Karena guncangan ditempat tidur, terbangun dan mendudukan diri. Matanya melirik ke pintu kamar mandi yang terbuka dan mendengar suara muntahan dari dalam kamar mandi.

Yoongi berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dia langsung berdiri di belakang Jimin dan membantu namja bersurai orange itu dengan memijit tengkuk Jimin yang sedang muntah kosong.

"Jim, kau oke?" Yoongi bertanya khawatir.

Jimin tidak menjawab. Dia menyalakan keran air dan membasuh wajah dan mulutnya. Punggung Jimin bertabrakan dengan dada Yoongi, Jimin bersandar lemas disana. Yoongi memegangi pinggang Jimin agar tidak terjatuh kelantai.

"Kau tak apa?" Tanya Yoongi lagi.

Jimin berbalik dan memeluk leher Yoongi. Badannya terasa lemas habis muntah.

"Hyung, kepalaku pusing…" suara Jimin teredam dibahu Yoongi yang sedang dia peluk erat.

"Ya sudah, ayo ketempat tidur"

Jimin melompat, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Yoongi dan meneggelamkan wajahnya dileher Yoongi.

Yoongi meletakkan Jimin diatas tempat tidur, menyelimuti Jimin dan berjalan ke meja untuk mengambil air minum untuk Jimin.

"Minum dulu" Yoongi menyerahkan segelas air pada Jimin.

Tanpa bicara, Jimin mengambil gelas itu dan meminum seluruh air di dalamnya sampai habis.

"Istirahatlah" Yoongi meletakan gelas kosong itu di meja nakas dan mencium kening Jimin.

Jimin mencoba kembali tidur, tapi suara getaran ponsel Yoongi diatas meja nakas menganggu Jimin. Jimin melihat Yoongi mengambil ponselnya diatas nakas, ada nama ibunya disana.

"Eomma?" Yoongi mengangkat panggilan telepon dari eommanya.

"Yoongi? Kau sudah berangkat kerja?" nyonya Chae bertanya penuh semangat.

"Belum eomma. Ada apa?"

"Appa bilang kau akan mempertemukan appa dan Jimin. Kapan?" Tanya nyonya Chae masih penuh semangat.

"Jimin sedang tidak enak badan. Nanti saja"

Jimin mencoba duduk setelah paham kalau nyonya Chae-lah yang menelepon, tapi Yoongi menahan Jimin dan membuat Jimin kembali berbaring.

"Ah.. morning sickness… eomma paham. Apa Jimin ada dirumahmu, sekarang?" nyonya Chae terdengar khawatir.

"Ne. Sedang istirahat, barusan dia muntah" jelas Yoongi.

"Eomma dan Appa boleh berkunjung?"

"Jam berapa eomma dan appa akan datang?"

"Jam makan siang? Sekalian membahas pernikahan kalian…"

"Ya sudah. Oh ya, eomma, kami setuju eomma dan appa yang mengurus pernikahan kami. Sepertinya Jimin dan aku tidak akan sanggup mengurusnya, jadi ya, tolong bantu kami…" ucap Yoongi.

"Tentu! Eomma dan appa bahkan sudah memilih beberapa gedung, EO, dan undangan untuk kalian. Kalian hanya tinggal pilih yang kalian suka, sisanya, jadi urusan eomma dan appa" nyonya Chae terdengar ceria di ujung telepon.

"Baguslah kalau begitu. Sampai bertemu nanti siang, eomma"

"Ne. sampai bertemu nanti siang" nyonya Chae mengakhiri panggilannya.

"Eomma dan appa akan datang kesini nanti siang" ucap Yoongi.

Jimin mendadak merasakan dingin diseluruh tubuhnya. Waktu yang sudah di ulur-ulurnya selama mungkin untuk bertemu appa Yoongi akhirnya datang juga. Mau tidak mau, Jimin harus siap.

"Hyung, bajuku tidak ada disini. Tidak mungkin aku memakai piyama untuk bertemu dengan orangtua mu kan hyung?" Jimin panic sendiri.

"Kau hanya bertemu orangtuaku, bukan presiden, santai saja" Yoongi menggusak rambut Jimin.

"Justru ini lebih penting daripada itu" Jimin mendudukan diri di tempat tidur.

"Lebih baik kau istirahat, jadi nanti kau bisa merasa lebih baik saat bertemu mertua" Yoongi mencium dahi Jimin cepat dan tertawa menuju kamar mandi. Menertawakan wajah panic Jimin.

.

.

.

Siang datang lebih cepat dari yang Jimin harapkan. Dia sudah berpakaian rapi setelah memaksa Yoongi mengantarnya ke apartemen hanya untuk bertukar pakaian. Mereka kembali kerumah dan mendapati sebuah mobil sedan mewah sudah terparkir di depan rumah Yoongi. Jimin merasa kegugupan luar biasa.

"Mereka sudah datang" Yoongi seperti menambah kegugupan yang Jimin rasa sejak tadi.

Yoongi sudah membuka pintu mobil miliknya, tapi Jimin tetap bergeming dan tidak berniat turun. Dia masih ingin menenangkan diri sebelum bertemu appa Yoongi.

"Ayo turun" ajak Yoongi.

"Hyung, aku takut" Jimin merasa badannya menjadi kaku.

"Tidak apa. Ada aku. Ayo…" Ajak Yoongi lagi.

Setelah berpikir beberap detik, akhirnya Jimin turun dari mobil. Tangannya mendingin didalm genggaman tangan Yoongi yang besar. Mereka berjalan memasuki rumah dan langsung disambut oleh nyonya Chae yang sedang duduk santai di ruang TV bersama tuan Chae dan Hyungwon.

"Hai, Jiminie, sudah baikan?" Sapa nyonya Chae dan menarik Jimin duduk di sampingnya.

"Ne eomma…" Jimin berucap gugup, berkali-kali Jimin melirik Yoongi yang sedang tersenyum geli kearahnya.

"Kenalkan, ini Appa Yoongi" Nyonya Chae memperkenalkan Jimin pada pria setengah abad yang sedang tersenyum ramah ke arahnya.

"Annyeong, ahjussi. Park Jimin imnida" Jimin membungkuk hormat.

"Ah, akhirnya aku bisa melihat Park Jimin yang asli…" tuan Chae menepuk bahu Jimin, mencoba bersikap akrab untuk mengurangi ke canggungan Jimin.

"Dan ini Hyungwon, adik Yoongi" Nyonya Chae memperkenalkan anak lelaki yang sedaritadi sibuk dengan ponselnya.

"Hai" sapa Hyungwon, senyumnya terlihat palsu dan tidak ramah.

"Pelayan sudah menyiapkan makanan, sebaiknya kita langsung makan saja" Yoongi menarik Jimin lagi dari ibunya, membuat namja bersurai orange itu bersandar di badannya.

Mereka memasuki ruang makan yang terhubung dengan dapur, Jimin duduk di sampaing nyonya Chae, Yoongi berada di depannya bersebelahan dengan tuan Chae dan Hyungwon.

Mereka berbincang santai sambil membahas pernikahan Jimin dan Yoongi. Yoongi dengan seenak hatinya menetapkan pernikahan mereka dua minggu lagi. Tugas mereka jauh lebih ringan karena mereka hanya perlu memilih yang mereka suka mulai dari gedung, pakaian, undangan dan dekorasi pernikahan.

Jimin sangat sadar, Yoongi merasa menang karena Jimin tidak akan berani membantah apapun yang Yoongi katakan jika ada orangtua Yoongi. Jadilah Yoongi yang memutuskan dan Jimin hanya mengangguk mengiyakan semua pilihan Yoongi.

Sementara mereka sibuk membahas pernikahan, Hyungwon mematai Jimin terang-terangan, menilai dan mencari apa hebatnya Jimin dibanding dirinya, sampai akhirnya Hyungwon sampai pada kesimpulan yang membuat egonya senang, Jimin dan Yoongi menikah karena Jimin sedang hamil. Hanya itu.

Hyungwon tidak berani mengkonfrontasi Jimin karena jujur saja, dia tidak berani pada Yoongi. Hanya Karena Hyungwon berencana menemui Jimin saja, Wonho lenyap dari sisinya. Bagaimana kalau Hyungwon berani mencecar Jimin di depan Yoongi, mungkin Hyungwon yang lenyap.

Meja makan sudah dibereskan, dan mereka mulai lebih serius membahas pernikahan Yoongi dan Jimin, sementara Hyungwon hanya menjadi pelengkap penderita disana. Jimin sudah berkali-kali mengajak Hyungwon bicara atau sekedar menanyai pendapat Hyungwon, tapi Hyungwon hanya menjawab 'terserah' dan 'tidak tau' untuk semua pertanyaan yang Jimin ajukan.

Saat sedang sibuk dengan pembahasan mereka, mata Hyungwon menangkap siluet bayangan Wonho, mendadak dadanya berdebar keras. Dia menegakkan tubuhnya, mengantisipasi munculnya Wonho di depannya lagi.

Wonho memang muncul, tapi tidak sendiri. Stella menempel erat bak terlem pada Wonho dan Hyungwon jelas merasa sangat tidak senang dengan hal itu.

"Sedang kumpul keluarga ternyata" sapa Stella dengan heboh. Dia berlari menuju nyonya Chae dan mencium pipi Nyonya Chae lalu beralih pada pipi Jimin, membuat Jimin terkejut dengan tindakan Stella.

"Hai Love… aku sangat merindukanmu…" Stella memeluk nyonya Chae dengan erat.

"Joo…"

"Stella! Ste-lla!" Stella memotong ucapan nyonya Chae.

"Kau semakin cantik" puji nyonya Chae.

"Tentu, aku menghabiskan uang untuk perawatan tubuh dan wajah agar terlihat cantik, love…" Stella menangkup kedua pipi Nyonya Chae dengan gemas. "Oh, hai tuan Chae. Lama tidak bertemu, kapan kita terakhir bertemu? Ah.. ya, di pernikahan kalian dulu" Stella bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.

Jimin yang tidak paham dengan hubungan akrab Stella dan Nyonya Chae hanya menatap bingung kea rah Yoongi.

"Hey, kitten. Kau baik? Mommy sudah rindu padamu, makanya mommy kemari" Stella beralih pada Jimin dan mengelus kepala Jimin.

"Kau bukan ibunya" Yoongi memutar bola matanya, jengah.

"Aku tidak ada urusan denganmu" Stella membalas Yoongi.

"Ah, Kitten, kenalkan, ini Daddy, Daddy Wonho. Tampankan?" Stella menarik Wonho kedepan Jimin. Jimin membungkuk.

"Love, kenalkan, ini Wonho, Daddy ku yang baru…"Stella memperkenalkan Wonho pada nyonya Chae dan hanya tertawa menanggapi Stella.

Wonho merasa sangat jengah. Bahkan karena Stella, Wonho sampai tidak sadar Hyungwon sedang menatap tajam padanya.

"Tuan Chae" Wonho menyapa dan membungkuk hormat pada mantan bos nya itu.

"Wonho, kau sehat?" Tuan Chae bertanya ramah.

"Ne tuan. Aku sehat" Wonho membungkuk lagi.

"Berhenti bertingkah konyol Min Stella" Yoongi memperingatkan sepupunya itu. Iya, sepupunya.

"Duh, pak tua ini. Mengganggu kesenangan ku saja. Jadi, ada apa keluarga ini berkumpul disini?" Stella mendengus pada Yoongi dan mendudukan diri di samping Jimin.

"Kami sedang membahas pernikahan Yoongi" jawab Nyonya Chae.

"Yoongi? Menikah?" Stella menaikkan alisnya, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Ne. Yoongi akan menikah" jawab nyonya Chae lagi.

"Dengan siapa? Dia?" Stella menunjuk pada Hyungwon yang duduk di depannya.

Saat Stella menunjuk Hyungwon, barulah Wonho sadar, ada Hyungwon disana. orang yang dirindukannya sejak kemarin-kemarin. Orang yang sangat ingin dia temua, orang yang sedang menatap benci kearahnya saat ini.

"Bukan. Dia Hyungwon, adik Yoongi, kau lupa?" Nyonya Chae tersenyum lucu kearah Stella.

"Oh, begundal manja itu sudah sebesar ini sekarang?" Stella mencibir pelan. "Lalu, dengan siapa Yoongi akan menikah?" sambungnya lagi.

"Dengan Jimin, tentu saja" Yoongi memutar matanya lagi.

"WHAT THE FU*CK! HELL NO! KITTEN, AYO IKUT MOMMY TINGGAL DI KANADA!" Stella berdiri dari duduknya dan menarik lengan Jimin.

"Stella, jangan tarik paksa Jimin seperti itu, Jiminsedang hamil" Tuan Chae memperingatkan.

"WHAT? YOONGI, YOU ASSHOLE! YOU SUCK!" dan masih banyak lagi deretan makian stella untuk disematkan pada Yoongi.

.

.

.

TBC…..

*Ketjup satoe-satoe*