"Bukan. Dia Hyungwon, adik Yoongi, kau lupa?" Nyonya Chae tersenyum lucu kearah Stella.

"Oh, begundal manja itu sudah sebesar ini sekarang?" Stella mencibir pelan. "Lalu, dengan siapa Yoongi akan menikah?" sambungnya lagi.

"Dengan Jimin, tentu saja" Yoongi memutar matanya lagi.

"WHAT THE FU*CK! HELL NO! KITTEN, AYO IKUT MOMMY TINGGAL DI KANADA!" Stella berdiri dari duduknya dan menarik lengan Jimin.

"Stella, jangan tarik paksa Jimin seperti itu, Jiminsedang hamil" Tuan Chae memperingatkan.

"WHAT? YOONGI, YOU ASSHOLE! YOU SUCK!" dan masih banyak lagi deretan makian stella untuk disematkan pada Yoongi.

.

.

.

KOI NO YOKAN

.

.

.

"Hey, Asshole, bangun…" Stella menendang Yoongi yang sedang tertidur pulas diranjang dengan ujung jari kakinya.

"Biarkan aku tidur" Yoongi merengut tak suka karena tidurnya terganggu oleh kehadiran Stella.

Stella naik keatas tempat tidur Yoongi, kemudian berbaring dengan menjadikan perut Yoongi sebagai bantal kepalanya. Benar-benar tidak peduli dengan gumanan protes dari Yoongi.

"Tell me something I don't know" Stella menunjukan keseriusan di nada bicaranya, pertanda kalau Stella sedang tidak ingin bercanda.

"Like what?" balas Yoongi tanpa minat. Dia masih mengantuk. Yang benar saja.

"Ceritakan yang sejujurnya tentang hubungan mu dan kitten"

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Semuanya" Stella berucap gemas.

"Aku menolak bercerita" Yoongi mendorong kepala Stella yang berada diatas perutnya agar menjauh, tapi Stella berkeras dan mencubit dada Yoongi tanpa ampun.

"Ya! Sakit!" protes Yoongi.

"Kau menjebaknya, benar?" Stella mendudukan diri diatas tempat tidur agar bisa melihat ekspresi Yoongi saat menjawab pertanyaannya.

"Menjebak apa?"

"Kau sengaja membuat kitten hamil, iya kan?" tuding Stella.

"Yang penting aku bertanggung jawab, kan?" Yoongi berucap santai, tapi ucapannya membuat tanduk imajinasi dikepala Stella muncul.

"Fu*ckYou! Harusnya aku sudah tahu ini sejak awal. Kau sengaja menghamilinya, kan? bedebah ini!" Stella meledak, mencengkram kerah piyama Yoongi dengan geram.

"What's your problem?" Yoongi melepas cengkraman Stella di kerah bajunya dan ikut duduk diatas tempat tidur.

"Yoongi, kitten tidak sama dengan kita! Hidupnya tidak dilumpur!" Stella mengehela nafas lelah.

"Aku tau. Aku memang berencana mengikatnya dengan membuat Jimin hamil dan rencanaku berhasil lebih cepat dari yang ku perkirakan, sangat membahagiakan, kan?"

"Kenapa kau lakukan itu? Beri aku alasan yang masuk akal agar aku tidak mengacaukan pernikahanmu yang tinggal tiga hari lagi"

"Aku ingin dia tetap disampingku. Aku hilang akal saat bersamanya, yang aku tau beginilah caranya agar dia tetap bersamaku! Kau tidak akan paham, tapi aku akan membunuh siapapun yang menyentuhnya" Jelas Yoongi.

"You loved him! Cukup bilang kalau kau mencintainya, apa susahnya sih? Bertele-tele!" Stella memutar bola matanya, kesal dengan jawaban Yoongi yang berputar-putar.

"Kenapa kau datang kesini?"

"Hanya ingin memastikan saja, kasihan kitten kalau Cuma kau jadikan pabrik anak" Stella berucap santai.

Yoongi harusnya hapal betul dengan kelakuan Stella yang suka seenaknya ini. Yoongi hanya bisa menghela nafas agar emosinya yang sempat naik, bisa turun lagi.

"Kau jadi pemarah semenjak Kitten tidak di izinkan bertemu denganmu" Stella membaringkan tubuhnya lagi diranjang Yoongi dan memeluk guling.

"Usul bodoh siapa yang membuat ku tidak bisa bertemu Jimin sampai hari pernikahan?" Sindir Yoongi.

"Min Stella tentu saja!" Stella berucap bangga.

"Kalau tidak ingat kau adalah hyungku, rasanya aku ingin membuang mu dari balkon kamarku" Yoongi berdiri, berjalan menuju kamar mandi.

"Hey, Asshole, sudah cantik begini masih kau panggil hyung, matamu ingin ku tinju?" Stella menantang.

"Terserahmulah, hyung" ucap Yoongi tak peduli.

.

.

.

Jimin menatap pantulan dirinya di cermin. Setelan jas putih sudah menempel membungkus tubuhnya, disebelahnya ada jas milik Yoongi yang juga berwarna putih. Jimin tidak bisa untuk tidak tersenyum hangat saat melihat jas itu sudah selesai dan akan Jimin kenakan lusa nanti, di pernikahannya.

Jimin yang ditemani Stella, Nyonya Chae, dan Hyungwon sedang berada di tempat designer langganan keluarga Yoongi. Saat sedang memperhatikan detail jasnya, mata Jimin menatap bayangan Hyungwon yang terpantul di kaca, Hyungwon menatapnya datar tapi matanya terlihat tidak bersahabat.

Jimin sudah berusaha mendekatkan diri pada Hyungwon, tapi sepertinya niat Jimin tidak ditanggapi baik olehnya. Setiap Jimin mengajak Hyungwon bicara, anak itu hanya menjawab seadanya, bahkan terkadang tidak menjawab sama sekali, berpura-pura tidak mendengar Jimin.

"Ah… kitten Mommy manis sekali…" Stella berjalan memeluk Jimin gemas.

Jimin hanya tersenyum canggung, karena lagi-lagi Stella memeluk Jimin dan meletakan kepala Jimin di dadanya.

"Bagaimana Love? Apa masih ada yang kurang?" Stella memutar badan Jimin agar menghadap kearah nyonya Chae.

"Sempurna! Yoongi pasti suka" puji Nyonya Chae.

"Ya sudah, ganti baju Kitten. Jas milik Yoongi, biar aku yang antarkan nanti" Stella mendorong bahu Jimin keruang ganti.

Saat tidak ada yang memperhatikan, Hyungwon menyelinap kedalam ruang ganti. Dia sudah lama menantikan hal ini, dia perlu bicara berdua dengan Jimin.

"Tunggu" Hyungwon menarik lengan Jimin paksa, membuat Jimin berbalik berhadapan dengan Hyungwon.

"Hyungwon?" Jimin terkejut bukan main saat mendapati Hyungwonlah yang menariknya paksa.

"Berhenti berpura-pura polos. Kau mengincar harta Yoongi hyung, kan? kau sengaja membuat dirimu hamil agar Yoongi terikat padamu" tuding Hyungwon.

"Apa maksudmu?" Jimin merasa kesal larena harga dirinya sedang direndahkan.

"Jangan berpura-pura di depanku. Lepaskan topeng palsumu itu. Kau hanya mengincar harta Yoongi hyung, kan?" cecar Hyungwon.

"Kenapa aku harus mengincar hartanya? Aku juga punya penghasilan ku sendiri" Jimin mati-matian menahan amarahnya, menjaga nada suaranya agar tidak menimbulkan kegaduhan.

"Cih, jadi sekarang kau sedang membanggakan pekerjaanmu sebagai artis?" ejek Hyungwon.

"Hyungwon, apa maumu yang sebenarnya?" Jimin menelan mentah-mentah kemarahannya.

"Jujur padaku. Aku yakin kau tidak ada bedanya dengan jalang-jalang milik Yoongi hyung dulu, hanya saja kau hamil. Kau pasti memohon-mohon pada Yoongi hyung untuk bertanggung jawab, takut reputasimu sebagai artis baik-baik makin hancur, huh?" Hyungwon menatap nyalang pada Jimin yang gemetar menahan marah didepannya. "Oh, atau jangan-jangan itu bukan anak Yoongi hyung? Tapi…"

"Cukup! Tutup mulutmu!" Jimin berteriak marah. Sudah cukup Hyungwon menghinanya, tapi Jimin tidak bisa diam saja jika sudah menyangkut anaknya. "Jangan mengatakan hal buruk tentang anakku!"

"Huh? Katakan padaku, siapa ayah anakmu itu?" Hyungwon makin mengkonfrontasi Jimin.

"Apa yang menjadi masalahmu? Kalau kau tidak suka padaku, aku akan menghentikan pernikahan ini. Anakku tidak pantas kau rendahkan seperti ini, tanpa Yoongi pun aku sanggup membiayai anakku sendiri!" Jimin meledak, ucapannya meluncur begitu saja dari mulutnya.

"Harusnya sejak awal kau membatalkan pernikahan ini! Kau membuat Yoongi hyung susah karena kehadiranmu! Kau tidak pantas bersama Yoongi hyung!"

"Tidak masalah, aku akan membatalkan pernikahan ini. Anakku tidak pantas kau hina seperti ini! Tanpa Yoongi pun aku…"

PLAK!

Jimin mengerjab berkali-kali. Di depannya, Hyungwon ditampar keras oleh Stella.

"Katakan kau akan membatalkan pernikahan mu sekali lagi Kitten, Mommy akan menunjukan wajah asli Mommy padamu" Desis Stella berbahaya. Jimin merinding mendengar nada bicara Stella yang baru kali ini didengarnya.

"What the fu*ck is this, Chae Hyungwon?" Stella memandang tajam pada Hyungwon yang sudah menunduk didepannya. "Explain yourself!" tuntut Stella.

"Ini bukan apa-apa dan ini tidak ada urusannya denganmu" Hyungwon menatap gentar pada Stella yang sudah melipat tangannya didepan dada.

"This Asshole" maki Stella. "Apa kau sedang menguji kesabaranku? Perlu kau ingat, aku bukan Yoongi. Aku tidak akan sabar menghadapimu. Jadi, jelaskan ini"

"Stella-ssi…." Jimin memegang bahu Stella.

"Stella-ssi? STELLA-SSI? How dare you to call your mom by her name?" Stella menatap galak pada Jimin. "Panggil yang benar!" tuntut Stella.

"Mom…" cicit Jimin.

"Yes, Kitten?"

"Ini hanya salah paham, jangan marah atau mengadu pada Yoongi hyung…" pinta Jimin.

"Kalian berdua akan ku adukan kalau tidak mau menjelaskan apa yang terjadi" ancam Stella. Stella tersenyum menang saat melihat bahu Jimin dan Hyungwon menegang kaku.

"I… ini hanya… hanya… pertengkaran kecil…" Jimin mencoba menjelaskan.

"Pertengkaran kecil yang membuatmu ingin membatalkan pernikahan?" alis Stella naik satu, menantang Jimin untuk bicara lebih banyak lagi.

Jimin dan Hyungwon sama-sama terdiam, tak bisa menjelaskan dan tidak bisa mencari alasan yang masuk akal atas pertengkaran mereka.

"Oke kalau kalian tidak ingin menceritakan masalah ini" Stella menarik ponselnya dari saku celana, mencoba menghubungi Yoongi yang sepertinya masih berada di kantornya.

"Asshole, istri dan adikmu bertengkar" adu Stella, bahkan tanpa basa-basi menggunakan sapaan yang biasa digunakan saat menelepon.

Jimin dan Hyungwon membolakan matanya, Stella sudah mengadu, tidak ada lagi tempat mereka untuk lari atau mengelak.

"Bertengkar kenapa?" Diseberang telepon, Yoongi mengernyitkan alisnya.

"Mereka tidak bilang alasannya, tapi Kitten ingin membatalkan pernikahan kalian. Kemana mereka harus ku antar? Kerumah atau ke kantor? Aku rasa kau perlu mendisiplinkan mereka" Stella menyeringai melihat wajah pucat Jimin dan Hyungwon.

"Bawa Jimin dan Hyungwon kerumah ku sekarang." Ada nada geram dalam ucapan Yoongi yang tertangkap telinga Stella.

"Call" Stella berucap ceria, mematikan sambungan teleponnya dan Yoongi.

"Kalian akan menemui Yoongi sebentar lagi" ujar Stella.

Jimin dan Hyungwon merasa keringat mulai membasahi kening dan punggung mereka.

.

.

.

"Apa lagi yang kau lakukan sekarang?" Yoongi mendesis mengerikan, tatapannya menajam pada Hyungwon. Jimin sedang berada di ruang tamu, menunggu giliran untuk di adili.

"Aku tidak lakukan apapun!" sanggah Hyungwon.

"Kalau kau tidak melakukan apapun, kenapa Jimin bisa berani ingin membatalkan pernikah kami?"

"Dia saja yang aneh!" balas Hyungwon.

"Katakan sebelum aku meledak, Hyungwon" Yoongi menarik rantai besi dari bawah meja kerjanya, bunyi gemerincingnya membuat Hyungwon mulai menciut.

"Jimin tidak mencintaimu, hyung! Dia hanya menjebakmu! Kau tidak bisa menikah dengan orang yang tidak kau cintai!" Hyungwon gemetar, tapi dia tidak ingin mundur sekarang.

"Menjebak?" Yoongi mendengus meremehkan.

"Dia sengaja membuat dirinya hamil, agar kau menikahinya!"

"Lelucon apa ini?" Yoongi terkekeh menyeramkan. "Kau harus tahu kalau aku adalah orang yang brengsek. Otakku licik. Harusnya kau paham betul kalau akulah yang menjebak Jimin agar tetap tinggal disampingku. Kau tau, aku mencintainya sampai rasanya nyaris gila" Yoongi tersenyum mengerikan.

Hyungwon benar-benar merasa mati kata dan terintimidasi. Di depannya, Hyungwon seperti melihat orang lain, dia seperti tidak mengenali Yoongi yang sedang duduk didepannya saat ini. Yoongi yang di cintainya.

"Hyung…."

"Aku bersabar menghadapimu selama ini karena kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Jangan menguji kesabaranku lebih dari ini, Chae Hyungwon" Yoongi mengeluarkan senyum psikopat di wajahnya.

"Aku tidak mengenalimu" Hyungwon merinding takut melihat Yoongi.

"Berhenti mengganggu hidupku mulai sekarang." Yoongi menyentak rantai besi ditangannya hingga ujung rantai itu mengenai pipi Hyungwon, menoreh bekas merah pada pipi Hyungwon.

Hyungwon gemetar bukan main, Yoongi yang dia kenal tidak akan berani berbuat seperti ini padanya. Sekesal apapun Yoongi, Yoongi tidak akan berani menyentuhnya. Tapi apa ini?

"Ini peringatan yang terakhir untukmu. Jangan sentuh keluargaku, jangan muncul lagi dihadapan Jimin atau anakku, apalagi berbuat ulah seperti ini. Batas toleransiku hanya sampai disini, lebih dari sini, kau akan bertemu Min Yoongi yang sebenarnya"

"Aku mau pulang" Hyungwon bergetar, memundurkan kursi yang didudukinya untuk memberikannya ruang untuk berdiri.

"Tidak ada yang bisa keluar dari ruangan ini tanpa izinku" Yoongi berucap dingin.

"Aku mau pulang!" Hyungwon berteriak.

"Hentikan obsesi bodohmu itu padaku. Sampai matipun aku tidak akan pernah melirikmu. Kapan kau akan sadar?"

"Itu bukan obsesi! Jangan seenaknya mengambil kesimpulan!" Hyungwon kembali berteriak.

"Lalu kau sebut apa itu? Kau terlihat seperti orang bodoh yang jatuh cinta pada hyung nya sendiri"

"Kau bukan hyungku!"

"Ya benar, harusnya aku bukan hyungmu. Tapi sialnya orangtua kita menikah" Yoongi menatap menantang pada Hyungwon.

Hyungwon terdiam.

"Sampai kapan kau akan seperti ini? Kalau kau terus berharap padaku, kau hanya akan berakhir sia-sia! Kapan kau akan menyadari perasaanmu pada Wonho?" Yoongi mencoba bersabar, membuat anak manja ini mengerti memang tidak bisa dengan kekerasan.

"Kenapa kau membawa-bawa Wonho?"

"Cepatlah sadar sebelum Wonho dibawa Stella ke Kanada"

"What?" Hyungwon terkejut bukan main.

"Stella sangat menyukai Wonho, tapi hanya sebagai mainannya. Tidak ada yang tau, kapan Stella akan bosan dengan mainannya, jadi sebelum Wonho menghilang ke Kanada dan bertemu dengan orang lain disana, pastikan perasaanmu mulai sekarang."

"Apa Wonho setuju untuk ikut ke Kanada?"

"Tidak ada yang bisa menolak Stella. Dan Stella selalu mendapatkan apa yang dia mau, tanpa terkecuali, dengan cara apapun!"

Hyungwon kembali terdiam, perasaanya terbagi saat nama Wonho disebut. Sebelumnya Hyungwon yakin kalau dia mencintai Yoongi, tapi perasaanya berubah lagi saat mendengar nama Wonho.

"Aku tahu, Wonho mencintaimu" Yoongi membeberkan fakta yang selama ini tersimpan rapi.

Hyungwon merasa degupan di dadanya mengeras, jauh lebih keras dari sebelumnya. Wonho mencintainya? Hyungwon tidak bisa untuk tidak merasa bahagia.

"Pergilah, aku ada urusan dengan istriku. Aku tidak akan memintamu untuk minta maaf padanya, cukup jangan mencari masalah lagi dan membuat aku marah" Yoongi menekan tombol dibawah meja dan otomatis pintu ruang kerjanya terbuka.

Hyungwon menatap Yoongi lama, memastikan perasaanya sendiri untuk yang terakhir kali. Meskipun masih ragu, Hyungwon berdiri dan meninggalkan ruangan Yoongi.

.

.

.

"Duduk" Yoongi memerintah Jimin untuk duduk diatas ranjang kamarnya. Berbeda dengan Hyungwon, Jimin diadili di kamar Yoongi. Stella bahkan pergi meninggalkannya dengan tega setelah Jimin memohon agar Stella menemaninya menghadapi Yoongi.

"Katakan lagi yang kau ucapkan didepan Hyungwon" Yoongi melipat tangannya di depan dada, menatap Jimin dengan tajam.

"Hyung, aku sedang marah saat itu. Aku menyesal…" Jimin memainkan ujung bajunya dengan gelisah.

"Kalau begitu, katakan apa yang diucapakan Hyungwon padamu" Yoongi menuntut.

"Hyung…." Jimin memandang penuh permohonan. Dia tidak ingin mengulang kembali ucapan Hyungwon ataupun ucapannya tadi.

"Kau tidak akan ku izinkan pulang kalau kau tidak mengatakannya" ancam Yoongi.

"Hyung, aku hanya sedang marah dan kata-kata itu meluncur begitu saja" sesal Jimin.

"Apa yang kau katakan?"

"Hyung, aku minta maaf, Baby juga minta maaf pada appa…" Jimin mengeluarkan senjata andalannya.

Yoongi mendengus, berjalan mondar-mandir di depan Jimin, menata hatinya agar tidak luluh pada Jimin.

"Appa… maaf, ya?" Jimin memainkan ujung bajunya lagi dan melirik-lirik Yoongi dari balik poninya.

"Ya! Jangan bawa-bawa baby kalau kita sedang bertengkar! Aku jadi tidak bisa marah, kan?" Yoongi berjalan kearah Jimin dan memeluk Jimin yang masih terduduk diatas ranjang.

"Gomawo appa…" Jimin menenggelamkan wajahnya di perut Yoongi dan memeluk pinggang Yoongi dengan erat. Jimin tersenyum menang.

"Aku merindukanmu…" Yoongi mengecup puncak kepala Jimin berkali-kali.

"Kami juga merindukanmu, hyung" Jimin mengeratkan pelukannya pada Yoongi.

"Aku tidak sabar untuk menikah agar kau bisa tinggal bersamaku lagi di rumah. Peraturan konyol Stella dan umma benar-benar menyiksa!" Yoongi menggerutu.

"Hehehe, sabar… sebentar lagi" Jimin mengusap punggung Yoongi lembut.

"Ya, hanya beberapa hari lagi, aku harus bersabar"

Tiba-tiba Jimin melepaskan pelukannya pada Yoongi, mendorong perut Yoongi pelan agar dia mendapatkan ruang untuk bisa berdiri.

"Kenapa?" Yoongi bertanya heran.

"Hyung, drama Jungkook akan mulai sebentar lagi. Ini episode pertama, aku tidak boleh ketinggalan" Jimin sudah bersiap untuk pulang, tapi Yoongi menahan Jimin.

"Hyung, aku buru-buru" rengek Jimin karena Yoongi tidak melepas tangannya.

"Kau bisa menonton disini, kan?"

"Tidak apa?"

"Siapa yang melarangmu?"

"Tapi Stella…" Sela Jimin.

"Persetan! Kau tidak menginap, jadi tidak masalah" Yoongi mengambil remote TV dan menyerahkannya pada Jimin.

Yoongi menarik Jimin untuk duduk diranjang. Yoongi mendudukan Jimin diantara kakinya, sementara Jimin menyandarkan punggungnya didada Yoongi. Wajah Jimin berseri-seri saat drama Jungkook mulai ditanyangkan.

Seumur hidup, Yoongi baru pertama kali menonton drama sampai habis. Setidaknya, meskipun tidak paham alur ceritanya, Yoongi benar-benar menghabiskan satu jam miliknya hanya untuk menemani Jimin menonton drama. Ini keajaiban yang tidak akan bisa dipercayai karyawan Yoongi.

"Jungkook keren sekali…" Puji Jimin setelah drama itu selesai. Jimin mendongak hanya untuk melihat wajah Yoongi yang terlihat datar-datar saja.

"Hyung, Jungkook keren, kan?" ulang Jimin.

"Hmm…" respon Yoongi tak peduli.

"Kau lihat tadi, hyung?" Jimin memiringkan badannya untuk melihat wajah Yoongi. "Jungkook yang biasanya cerewet menjadi pria dingin di…."

Cerita Jimin terpotong karena Yoongi mencium bibirnya tiba-tiba. Matanya membola karena ciuman yang tiba-tiba. Jimin meremas kemeja kerja Yoongi saat merasa lidah Yoongi bermain-main di mulutnya, matanya terpejam. Sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu, dan sudah seminggu lebih juga Jimin tidak pernah disentuh sama sekali. Jimin rindu.

Yoongi menidurkan Jimin diranjang, tangannya sudah dengan lihai meraba perut Jimin sampai baju Jimin tersingkap keatas. Keduanya terlarut bersama atmosfer yang mulai memanas diantara keduanya. Seminggu lebih tidak saling menyentuh, membuat Yoongi lebih cepat hilang kendali diri seperti sekarang ini. Dia rindu Jiminnya.

Yoongi beralih mencium Jimin mulai dari rahang, leher, dada hingga perut, Yoongi juga memberikan gigitan kecil dipinggang Jimin, membuat tanda kepemilikan disana. Tangan nakal Yoongi sudah bersiap untuk menarik celana milik Jimin turun saat tangan Jimin menahan pergerakannya.

"Kenapa?" Yoongi mengernyit tak suka.

Jimin mendudukan diri diranjang dan memberi ciuman pada bibir Yoongi.

"Hyung, sudah malam, aku harus pulang" Jimin mengelus rahang Yoongi dengan lembut dan terkekeh melihat wajah frustasi Yoongi.

"Tidak bisakah kau disini saja?" Yoongi meletakkan dahinya di bahu Jimin. Badannya sudah memanas dan Jimin dengan tega menghentikan 'pekerjaan' Yoongi.

"Setelah kita menikah, hyung akan melihatku setiap hari sampai bosan" Jimin terkekeh lagi dan mengelus rambut Yoongi dengan sayang.

"Aku tidak akan bosan"

"Berita bagus kalau begitu" Jimin memeluk kepala Yoongi dan mencium rambut abu Yoongi berkali-kali.

"Aku masih merindukanmu…" bisik Yoongi, Tidak ingin membiarkan Jimin cepat pergi.

"Aku juga merindukanmu, hyung. Selalu"

"Pulangnya nanti saja" suara Yoongi terdengar membujuk.

"Umma bisa marah kalau tau aku pulang malam, hyung. Jihyun juga akan datang ke apartemen malam ini"

"Biarkan aku memelukmu dulu kalau begitu" Yoongi memeluk Jimin erat. Memberikan bahu Jimin kecupan-kecupan kecil.

"Hyung, bisa berjanji sesuatu padaku?" Jimin berbisik ditelinga Yoongi yang masih memeluknya erat.

"Apa?"

"Tidak ada orang lain selain aku yang boleh memelukmu seperti ini…"

"Tidak akan ada orang lain lagi, aku janji. Untuk pelukan seperti ini, bisa berikan pengecualian untuk anak-anak kita?"

"Anak-anak?" Jimin tersenyum dan senyumnya berubah jadi tawa kecil yang menyenangkan telinga Yoongi.

"Aku tidak berencana punya satu anak, Park Jimin" Yoongi mencium telinga Jimin setelah berbisik.

"Memangnya hyung ingin berapa anak?" Jimin terkekeh.

"Tiga"

"Tiga ya…"

"Aku tidak menerima penolakan, Park Jimin" Yoongi melepaskan pelukannya, kemudian memengang kedua sisi wajah Jimin dengan tangan besarnya.

"Memangnya aku pernah menolakmu, hyung?"

"Sebentar, ku ingat-ingat dulu…" Yoongi mencoba berpikir.

Jimin memberikan kecupan di bibir Yoongi, merasa lucu dengan wajah pura-pura berpikir yang di tunjukan Yoongi padanya.

"Hyung, aku harus pulang sekarang"

"Ku antar!"

"Ani! Supir hyung saja yang antar" Tolak Jimin.

"Kau baru saja menolakku…"

.

.

.

Pernikahan itu terlaksana dengan tamu undangan yang terbatas. Jimin dan Yoongi hanya mengundang teman terdekat dan beberapa rekan bisnis Yoongi saja.

Diluaran, sudah tersebar kabar kalau Jimin menikah hari ini, Jimin yakin beberapa fansnya akan marah dan Jimin tidak bisa menyalahkan mereka. Tapi, jauh dari itu semua, Jimin berharap mereka bisa memaafkan Jimin karena tidak memberikan pernyataan apapun seputar pernikahannya dan Yoongi. Bukannya tidak mau, tapi Jimin masih takut. Bahkan untuk memeriksakan kandungannya saja Jimin tidak berani.

"Jimiinnnnn….. aku sangat senang, akhirnya kau menikah" Jin memeluk Jimin dengan erat.

"Gomawo, hyung. Aku juga sangat senang, terimakasih sudah datang" Jimin membalas pelukan Jin sama eratnya. "Dimana Jungkook?"

"Sedang bersama Jihyun dan Taehyung" Jin menunjuk Jungkook yang sedang berbincang dimeja. "Yoongi datang…" Jin menarik Jimin berdiri disampingnya.

Yoongi datang bersama Namjoon, terlihat berbicara serius, begitu mendekat, barulah Jimin dan Seokjin bisa mendengar isi percakapan mereka. Bisnis!.

"Namjoon-ah, ini hari pernikahan, tidak bisakah kalian berhenti membicarakan bisnis?" Jin memandang malas pada Namjoon dan Yoongi.

"Hehehe. Maaf Jinseok. Ah, Jimin, Selamat" Namjoon menepuk bahu Jimin.

"Terimakasih hyung. Aku menunggu kado kalian" ucap Jimin main-main.

"Tenang, sudah ada di kamarmu" Jin berjalan kesisi Namjoon.

"Hyung, kami akan pergi mengambil minuman dulu" Pamit Namjoon dan membawa Seokjin bersamanya.

"Ayo" Yoongi mengulurkan tangannya pada Jimin. "Ayo tersenyum dan menyapa tamu" Yoongi menarik Jimin kepelukannya.

"Hyung, senyum yang ikhlas!" Jimin memperingati, karena sejak tadi Yoongi hanya tersenyum basa-basi.

"Ne…"

"Jawab yang benar!"

"Ne, Jiminie" Yoongi menggenggam tangan Jimin dan mengecupnya lama.

"Hyung, terimakasih" Jimin memadang Yoongi dalam.

"Bukannya harusnya aku yang berterimakasih?" Yoongi balas menatap Jimin.

"Aku mencintaimu" Jimin memeluk Yoongi erat. Tidak lagi canggung untuk memeluk Yoongi didepan umum. Yoongi sudah sah jadi miliknya.

"Terimakasih sudah mencintaiku, Jiminie. Aku lebih mencintaimu" balas Yoongi.

.

.

.

"Itu siapa?" tunjuk Jungkook pada perempuan cantik bergaun super seksi yang tengah berdiri didepan meja minuman.

"Yang mana?" Jihyun memanjangkan lehernya untuk melihat siapa yang dimaksud Jungkook.

"Bergaun merah menerawang" jelas Jungkook.

Dari tadi hampir seluruh mata memandang pada wanita seksi berkulit putih, berambut hitam panjang tergerai indah itu. Wanita itu begitu mengintimidasi dengan caranya, hanya dengan berdiri dia berhasil menyedot perhatian seluruh tamu.

Jihyun tersenyum lucu saat melihat siapa yang dimaksud Jungkook. Wanita bergaun merah seksi dengan dada membusung, tatapan sensualnya benar-benar tidak bisa di abaikan.

"Oh, itu Stella. Mommy baru ku dan Jimin oppa" Jihyun terkekeh.

"Mommy baru?" Taehyung akhirnya tertarik dengan pembicaraan Jungkook dan Jihyun.

"Satu-satunya 'orang' Yoongi oppa yang tidak memihak pada Yoongi oppa"Jelas Jihyun.

"Cantik sekali" puji Jungkook.

"Auranya sangat mendominasi" ucap Taehyung.

"Ya, Mommy Stella memang sangat mengintimidasi, tidak heran dia bisa mengimbangi Yoongi oppa. Aku senang Mommy Stella sangat peduli pada Jimin Oppa. Aku jadi bisa tenang" jelas Jihyun.

"Tapi aku merasa tidak asing dengan wajahnya" Taehyung berucap lagi, dan menajamkan matanya untuk memperhatikan gadis yang bernama Stella itu.

"Kau kenal hyung?" Jungkook menaikkan alisnya penasaran.

"Wajahnya tak asing, aku seperti pernah melihatnya sebelumnya, tapi…..HOLLY SHIT!" Taehyung menutup mulutnya dengan tangan. Dia ingat siapa Stella sekarang.

.

.

.

TBC

Maaf atas lamanya update ini kakak-kakak, soalnya aku lagi banyak tugas L

Masih nungguin kan?

Uda nikah ni, kado dong.

*Ketjup satoe-satoe*

*Lari naruto*