"Tapi aku merasa tidak asing dengan wajahnya" Taehyung berucap lagi, dan menajamkan matanya untuk memperhatikan gadis yang bernama Stella itu.

"Kau kenal hyung?" Jungkook menaikkan alisnya penasaran.

"Wajahnya tak asing, aku seperti pernah melihatnya sebelumnya, tapi…..HOLLY SHIT!" Taehyung menutup mulutnya dengan tangan. Dia ingat siapa Stella sekarang.

.

.

.

KOI NO YOKAN

.

.

.

"Namjoon, tunggu" Seokjin menahan bahu telanjang Namjoon yang sudah akan turun lagi untuk memberikan Seokjin ciuman dilehernya.

"Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, Jinseok…"

"Tunggu!" Seokjin mendorong keras bahu Namjoon sampai Namjoon terjatuh kebelakang.

"Apalagi? Jinseok, aku sudah kepanasan" Namjoon berucap frustasi sambil menggusak rambutnya.

"Aku lupa menanyakan sesuatu padamu" Seokjin terduduk diatas tempat tidur, mengambil baju Namjoon yang tergelatak diatas tempat tidur dan menggunakannya pada tubuhnya.

"Kenapa kau pakai baju lagi?" Namjoon terang-terangna menunjukan wajah protesnya.

"Duh, aku tidak akan kemana-mana, sabar sedikit, oke? Ada hal yang ingin aku tanyakan" Seokjin merangkak menuju Namjoon yang terduduk di ujung ranjang.

"Kau merusak moodku"

"Jadi kau tidak mau jatahmu?"

"Aku tidak bilang kalau tidak mau, kan?" Namjoon menarik Seokjin duduk dipangkuannya. "Apa yang ingin kau tanyakan?" Namjoon memeluk pinggang Seokjin dengan erat.

"Aku melihat seorang wanita seksi di pernikahan Jimin dan Yoongi tadi" cerita Seokjin. "Wajahnya angkuh, tapi seksi, bagaimana ya menjelaskannya? Auranya sangat dominan" Seokjin meletakkan tangannya di bahu Namjoon.

"Kau merusak suasana hanya karena ingin bertanya soal ini? Demi Tuhan, Kim Seokjin, apa tidak bisa besok saja?" Namjoon menajamkan matanya melihat langsung kemata Seokjin.

"Siapa dia?" Seokjin mengabaikan ucapan protes Namjoon begitu saja.

"Banyak wanita seksi yang bertebaran disana Jinseok." Namjoon memutar matanya.

"AKu tau, tapi dia wanita yang paling terlihat dominan dari antara semua wanita yang datang kesana. Yang bergaun merah menerawang, rambutnya hitam bergelombang, kulitnya putih pucat, dia seperti vampire, sangat mencolok." Seokjin menjelaskan.

"Aku tidak tau wanita mana yang kau maksud"

"Ck, kau pasti tau, Joo-ah. Kau ditugaskan Yoongi untuk memilih tamu-tamu yang boleh datang ke acaranya, kan?"

"Yang bergaun merah ada banyak" Namjoon lagi-lagi memutar matanya.

"Ck, dasar menyebalkan. Lepaskan aku" Seokjin menepuk bahu Namjoon untuk minta dilepaskan.

"Tidak. Kau mau kemana?" Namjoon mengeratkan pelukannya dipinggang Seokjin, membuat wajah Namjoon bertabrakan langsung dengan dada Seokjin.

"Mengambil ponselku. Aku mengambil gambar wanita itu tadi."

"Kau melakukannya?" Namjoon menaikkan alisnya.

"Aku penasaran. Dia sangat dekat dengan Jimin, tapi Jimin tidak pernah bercerita soal wanita itu. Cepat, lepaskan aku" Seokjin berdiri setelah Namjoon melepaskan pelukannya pada pinggangnya.

Seokjin merogoh celana yang tadi dikenakannya saat pergi keacara Jimin dimana Seokjin menyimpan ponselnya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Seokjin kembali ketempat tidur dan duduk dihadapan Namjoon.

"Kesini" Namjoon menepuk pahanya, meminta Seokjin untuk duduk lagi disana.

"Nanti dulu. Lihat ini, ini wanita yang ku maksud" Seokjin merangkak kesamping Namjoon dan memberikan ponselnya.

Di ponsel Seokjin terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian seksi berwarna merah. Cirri-cirinya sama persis seperti yang Seokjin jelaskan tadi. Namjoon hanya menghela nafas saat mengetahui siapa yang di maksud Seokjin.

"Itu Stella" Jawab Namjoon.

"Siapa dia?" Seokjin bertanya penasaran.

"Siapa apanya?"

"Maksudku, kenapa dia bisa diundang? Aku yakin dia tidak datang bersama ahjussi-ahjussi atau siapapun itu, dia datang sendirian" Seokjin menatap mata Namjoon dengan lekat.

"Dia rekan bisnis Yoongi hyung tentu saja"

"Apa dia bagian dari 'bawah tanah'?" lagi-lagi Seokjin menatap dengan tingkat antusias yang makin tinggi dimatanya.

"Iya" Namjoon sudah akan merebahkan Seokjin lagi diranjang, tapi Seokjin lagi-lagi menahan bahunya dan Namjoon menggusak rambutnya makin frustasi.

"Aku belum selesai, tuan Kim Namjoon!" marah Seokjin.

"Aku sudah jawab pertanyaanmu, apalagi sekarang?"

"Apa tugasnya di bawah tanah?" Seokjin memelankan suaranya.

"Dia ratu dibawah tanah" jawab Namjoon, enggan menjelaskan lebih detail tentang Stella. Man, ini bukan saatnya untuk bercerita, dia butuh mencharger dirinya.

"Ratu? Lalu, apa yang ratu kerjakan disana?"

"Seokjin, satu ronde, aku akan menjelaskan siapa Stella, oke?"

"Tidak. Jelaskan dulu, baru kau boleh minta jatah" Seokjin berkeras.

"Ya Tuhan…" Namjoon menjatuhkan badannya di ranjang, makin bertambah frustasi.

"Jelaskan dan kau mendapatkan ku sampai pagi" Seokjin membuat penawaran.

"Call!" Namjoon terduduk dengan semangat lagi. "Oke, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa tugasnya di bawah tanah?" Tanya Seokjin penasaran.

"Dia penguasa perputaran uang 'kotor' dibawah tanah"

"Apa maksudnya itu?" Tanya Seokjin tidak mengerti.

"Money laundry dan penggelapan pajak. Dia ratunya. Seluruh pengusaha kelas kakap dan pejabat tinggi merupakan relasi bisnisnya."

"Huh? Apa yang dia lakukan?"

"AKu tidak paham seluruhnya soal itu, Jinseok. Kalau aku paham cara kerjanya, mungkin aku akan menjadi dirinya saja, tidak perlu mengurus hotel yang membuat kepalaku nyaris pecah setiap hari. Hanya saja kau perlu tau, tidak ada yang lebih berbahaya dari seorang jenius yang memilih menjadi hitam" Jelas Namjoon secara tersirat.

"Kenapa dia melakukannya?"

"Uang"

"Selain uang?" Tanya Seokjin lagi.

"Aku tidak tau isi kepalanya, Jinie."

"Dia wanita yang benar-benar berbahaya kalau begitu, menjadi ratu dan menguasai perputaran uang di bawah tanah bukanlah hal yang sepele" Nada suara Seokjin terdengar seperti takjub mengetahu fakta yang dibeberkan Namjoon padanya.

"Berbahaya dan gila" Namjoon mengoreksi.

"Apa dia segila Min Yoongi?"

Namjoon terkekeh melihat Jin yang begitu antusias mendengar cerita soal Stella.

"Yoongi hyung itu masih gila level 1 dibading dengan Stella. Stella itu sudah gila level 100" Namjoon terkekeh lagi.

"Segila itu?" Seokjin makin takjub.

"Sangat gila Seokjin, sangat gila"

"Apa Jimin akan aman dekat dengannya?" Jin mau tidak mau merasa khawatir pada Jimin.

"Yang kudengar dari Luhan, dia menyukai Jimin dan memaksa Jimin memanggilanya Mommy"

"Dia memaksa Jimin memanggilanya Mommy?" Tanya Seokjin tak percaya.

"Ne. Selain cantik, berbahaya, gila, dia juga pemaksa." Namjoon memilih menyembunyikan fakta lain soal Stella dari Seokjin, tidak baik untuk membahasnya sekarang, hanya akan membuat Seokjin makin banyak Tanya dan membuat Namjoon semakin lama menunggu mendapatkan Seokjinnya. "Jadi, bisa aku makan sekarang?" Namjoon berbalik menghadap Seokjin, matanya seperti nyala api yang siap melahap Seokjin hidup-hidup.

.

.

.

"Dia masih berbentuk seperti ini" Dokter perempuan itu mengarahan jarinya pada layar monitor. "Seperti kacang" jelasnya.

"Mana?" Yoongi memperhatikan dengan serius titik yang ditunjuk oleh dokter perempuan itu, wajahnya maju mendekati layar dan matanya menajam memperhatikan layar hitam putih.

"Ini" Dokter bernama Kim Gyu Ri itu menunjuk sekali lagi titik pada layar.

"Sekecil itu?" Yoongi menaikkan alisnya, antara takjub, penasaran dan tidak yakin bercampur menjadi satu.

"Dia masih berumur satu bulan lebih, wajar kalau masih seperti kacang" Gyuri meyakinkan sekali lagi.

"Kecil sekali…" Jimin berkomentar, wajahnya tak hentinya tersenyum.

"Jujur saja, aku fans mu, Jimin-ssi" Gyuri berucap jujur.

"Oh" Jimin membulatkan matanya kaget.

"Jangan khawatir, aku akan rahasiakan ini. Aku senang kau akhirnya menemukan pasanganmu, tapi tolong beritahu juga fans mu soal kehamilanmu ini. Seperti aku, mereka juga pasti akan senang" Gyuri tersenyum ramah pada Jimin.

"Aku tidak berani… terimakasih sudah bersedia merahasiakan ini, Gyuri-ssi" Jimin mendudukan dirinya diatas ranjang periksa milik Gyuri.

"Aku paham, terkadang fans sering berkomentar tanpa memikirkan perasaanmu, dan Aku masih mau panjang umur, Jimin-ssi. Macan betina itu pasti akan membunuhku kalau aku berani berkoar soal ini" Gyuri melirik Stella yang berdiri tidak jauh dari mereka. Matanya berbinar bahagia, seperti seorang nenek yang mendapatkan cucu pertamanya.

"Anda benar-benar paham situasi" Yoongi menimpali.

"Tentu tuan. Ngomong-ngomong, kalian berdua terlihat serasi. Kalian baru saja menikah, kan? dan Oh, Aku sangat senang karena kalian memeriksakan diri di klinikku…" Gyuri berucap antusias.

"Acaranya baru selesai setengah jam yang lalu. Kami yang berterimakasih karena anda bersedia di ganggu waktu istirahatnya" Yoongi berucap sambil membantu Jimin turun dari ranjang klinik.

"Ini suatu kehormatan untukku, tuan. Orang yang sedang ramai dibicarakan datang ketempatku setelah baru saja menikah dan memeriksakan kandungan istrinya, itu luar biasa" Gyuri tersenyum lebar dan berjalan menuju meja kerjanya.

"Bagaimana? Apa Mochi baik-baik saja?" Stella bertanya penuh antusias, bahkan mendorong Yoongi yang hendak duduk dikursi disamping Jimin.

"Siapa Mochi?" Jimin menaikkan alisnya penasaran.

"Anakmu, tentu saja, Kitten."

"Berhenti memberi panggilan-panggilan aneh pada anakku dan Jimin" Yoongi memutar bola matanya jengah, memilih berdiri dibelakang Jimin setelah di dorong paksa oleh Stella.

"Huh? Kau juga punya panggilan sayang dariku, Yoongi, Jangan khawatir aku melupakanmu. Kau ingatkan, aku selalu memanggilmu Asshole?" Stella membalikkan badannya dan tersenyum manis pada Yoongi.

Jimin dan Gyuri hanya tertawa menanggapi ocehan Stella yang seperti tidak ada takut-takutnya pada Yoongi.

"Kalian saling kenal?" Gyuri memainkan foto hasil USG ditangannya, melirik pada Yoongi dan Stella.

Gyuri adalah teman baik Stella dari dulu, dari Gyuri jugalah Stella mendapatkan rekomendasi dokter yang dapat 'Merubah' dirinya seperti sekarang.

"Mereka sepupu" Jelas Jimin setelah melihat tak ada satupun dari Yoongi dan Stella yang ingin mengakui hubungan persaudaraan antara mereka berdua.

"Mustahil…" guman Gyuri tak percaya.

"Eum, apa itu foto hasil USG anak ku?" Jimin melirik foto USG ditangan Gyuri.

"Ah, ya, ini milikmu, Jimin-ssi" Gyuri memberikan foto ditangannya pada Jimin yang disambut Jimin dengan antusias.

"Kecilnya…" Jimin lagi-lagi berkomentar takjub sambil memandang foto hasil USG miliknya. Sementara Yoongi yang berdiri di belakang Jimin, memberikan Jimin kecupan di puncak kepala Jimin.

"Mochi tumbuh dengan baik, kan?" Stella bertanya penuh antusias.

"Tentu. Dia baik-baik saja. Kau terlihat seperti ibu Jimin-ssi saja. Kau malah lebih semangat daripada Yoongi-ssi" Gyuri terkekeh.

"Tentu saja, aku Mommy nya." Stella berucap bangga. " Hey, sudah malam, untuk pemeriksaan selanjutnya, aku akan minta kau mengosongkan waktumu seperti ini lagi. Kitten tidak berani muncul di public, makanya aku minta jadwal pemeriksaan malam hari. Jangan keberantan!"

"Yes, Queen…" jawab Gyuri patuh.

"Terimakasih atas waktunya, Gyuri-ssi. Maaf mengganggu waktu istirahatmu" Yoongi menjabat tangan Gyuri.

"Ini suatu kehormatan untukku bisa jadi dokter pribadi dari artis idolaku, Yoongi-ssi" Gyuri tersenyum ramah.

"Gyuri-ssi, terimakasih" Jimin menjabat tangan Gyuri dengan senang.

"Ah… jangan tersenyum seperti itu Jimin-ssi. Jantungku lemah.." Gyuri berucap main-main.

"Baiklah, sampai bertemu lagi, Gyuri." Stella berdiri dan memberikan ciuman di pipi Gyuri dan sebuah pelukan singkat.

"Telepon aku saat kau tidak sibuk, Queen" Gyuri berjalan menuju pintu klinik miliknya bersama dengan Stella yang berdiri disampingnya.

"Tentu" Stella berjalan keluar lebih dulu, diikuti Jimin dan Yoongi dibelakangnya.

"Oh ya, Jimin-ssi, tetap minum susu dan vitamin-vitaminnya ya, dan… eum.. tolong kurangi aktivitas malam kalian" ucap Gyuri pelan.

Jimin tidak bisa untuk tidak memerah. Hal seperti itu merupakan ranah privasi untuknya. Jimin hanya mengangguk sementara Stella dan Yoongi terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, terlalu santai.

Setelah Gyuri menutup pintu klinik miliknya, Stella berbalik mengadap Yoongi dan Jimin.

"Aku akan pergi ke club, kalian pulanglah" Stella melirik jam tangan yang melingkar ditangannya, waktu sudah menunjukan pukul setengah satu malam.

"Kau tidak pulang dengan kami, Mom?" Jimin menatap Stella penuh Tanya.

"No Kitten, I have something to do" Stella melepas coat miliknya dan menyampirkan pada Jimin. Meninggalkan sebuah gaun merah tipis yang melapis badannya.

"Kau kemana?" Yoongi menaikkan alisnya penasaran.

"Ada urusan di club milik tuan Choi" Stella merogoh kedalam tasnya untuk mencari ponselnya.

"Pergi dengan siapa?" Yoongi bertanya lagi.

"Dengan Luhan. Dia sudah dekat sini, sebentar lagi juga sampai"

"Kau akan pulang pagi, Mom?" Jimin melirik Stella yang sudah sibuk dengan ponsel miliknya.

"Jangan khawatirkan Mommy, Kitten." Stella tersenyum lucu pada Jimin yang terdengar khawatir padanya.

"Ada urusan apa?" Yoongi memeluk bahu Jimin, membuat Jimin menempel disamping Yoongi.

"Money doesn't grow on trees, Asshole. I have to do something to get fuckin money" Stella berucap santai.

"Money laundry?" tebak Yoongi.

"Exactly!" Stella mengedipkan matanya pada Yoongi.

"Mom, itu tindakan illegal dan melawan hukum, kan?" Jimin mengernyitkan alisnya.

"See? That's why Mommy love you, Kitten. Kau salah satu anak polos yang pernah ku temui di dunia ini. Dunia yang Mommy jalani tidak ada cahaya sama sekali, Kitten. Membunuh atau terbunuh…" Stella menggunakan istilah untuk kehidupan yang dijalaninya.

"Cukup penjelasannya. Kabari aku kalau terjadi sesuatu" Yoongi memotong ucapan apapun yang kiranya akan keluar dari mulut Stella soal pekerjaan 'bawah tanah' mereka.

"Okidoki! sampai bertemu nanti, Kitten" Stella memberi ciuman di pipi kiri Jimin dan berjalan menuju mobil Luhan yang sudah muncul di depan mereka.

Jimin tidak berhenti menatap sampai mobil Luhan menghilang dari pandangannya, coat milik Stella, Jimin rapatkan ditubuhnya. Dia memang hanya menggunakan kemeja tipis berwarna putih dan tidak menyangka sama sekali malam ini terasa sangat dingin. Terimakasih pada Stella karena telah meminjamkan Jimin coat-nya.

"Apa Mommy tidak apa, hyung?" Jimin melirik Yoongi yang kembali merangkul bahu Jimin.

"Nyawanya banyak, jangan khawatir" Yoongi merangkul Jimin selama berjalan menuju mobilnya. "Maaf karena dia membuatmu harus memanggilnya dengan sebutan Mommy" Yoongi membukakan pintu penumpang untuk Jimin.

"Kenapa minta maaf? Aku senang Mommy Stella menyukaiku" Jimin berucap jujur.

Yoongi berjalan memutar dan masuk kedalam kursi pengemudi, menyalakan mesin dan melirik Jimin sekilas untuk memastikan Jimin sudah memakai Seatbeltnya, setelah memastikan Jimin aman, Yoongi menjalankan mobilnya.

"Stella itu benci dengan orang baru disekitarnya. Sangat mengejutkan dia menyukaimu" Yoongi terkekeh.

"Benarkah?" Jimin terkejut, karena sejak awal Stella sangat-sangat ramah padanya.

"Hu'um… biasanya dia akan bertingkah sangat menyebalkan pada orang baru" cerita Yoongi.

"Kenapa?"

"Ini menyeramkan, tapi Stella bisa membaca ke pribadian orang di detik pertama dia melihat orang itu, dia bahkan sangat tau kalau seseorang sedang berbohong, tidak heran dia benci dengan orang baru kalau sudah tau sifat buruknya, apalagi yang bertentangan dengan Stella"

"Itu keren" komentar Jimin. "Lalu, apa pekerjaan Mommy yang sebenarnya?"

"Dia punya saham di pabrik parfum terkenal dan sebagai 'alur' pengaliran dana pencucian uang"

"Alur?" Jimin bertanya penasaran.

"Perantara. Uang hasil pencucian uang itu dikirim ke rekening palsunya agar tidak terdeteksi Interpol atau apapun itu. Dari awal aku sudah bilang kalau aku bukan orang yang baik kan?" Yoongi melirik Jimin sekilas.

"Aku tau. Lalu, uangnya mengalir kemana saja, hyung?"

"Kau sedang mengintrogasi suami mu sendiri, Park Jimin-ssi?"

"Hehehe aku hanya penasaran, hyung" Jimin terkekeh sendiri.

"Jangan mencari tau soal dunia yang seperti ini, tetaplah diatas" Yoongi mengelus kepala Jimin.

.

.

.

Jimin terbangun dipagi hari dengan badan yang terasa akan rontok dan hati yang berdebar menyenangkan. Saat bangun dipagi hari, wajah Yoongila yang pertama kali dia lihat. Mengingat statusnya yang sudah berganti, Jimin merona sendiri.

Sesampainya mereka di rumah, Yoongi benar-benar sudah tidak bisa Jimin tahan lagi. Yoongi langsung mendorong Jimin ketempat tidur, membuka baju Jimin dengan sembarangan dan menyerang Jimin tanpa ampun.

Jimin bahkan untuk pertama kalinya meminta Yoongi untuk pelan-pelan melakukan 'itu' padanya, karena Yoongi benar-benar liar. Berpuasa seminggu lebih membuat Yoongi seperti hewan buas yang kelaparan dan baru saja bertemu mangsa empuk. Tidak ada waktu basa-basi. Langsung diterkam dan dimakan saat itu juga.

Hasilnya adalah, Jimin yang sudah pasti kesulitan berjalan, ditambah dengan bercak kepemilikan Yoongi yang menyala terang di sekujur tubuhnya. Bahkan Yoongi tidak segan lagi memberikan tanda kepemilikan di rahang dan leher Jimin, yang sekarang sudah berubah warna menjadi keunguan. Sebelumnya, Jimin akan menahan Yoongi menandainya di tempat yang terbuka seperti leher dan rahangnya. Tapi, Yoongi sudah jadi suaminya, siapa yang akan marah? Kau melakukannya dengan suamimu sendiri, suami mu yang sangat 'panas', wajar kan?.

Jimin mencoba turun dari tempat tidur dengan cara menggeser pelan-pelan tubuhnya. Selain karena sakit yang dirasakan Jimin jika bergerak berlebihan, Jimin juga tidak ingin macan tidur disampingnya terbangun.

Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Jimin menuju kamar mandi. Jimin menyalakan shower air hangat yang langsung mengguyur badannya. Setelah selesai mandi, Jimin berjalan menuju walk in closet , Jimin sedang memilik baju yang akan dia pakai saat matanya menangkap pantulan tubuhnya di kaca.

Jimin merona hebat melihat leher dan dadanya yang sedikit terlihat, karena bathrobe yang tidak menutup tubuhnya dengan sempurna. Bekas merah keunguan tercetak jelas disana.

"Aku pasti di ejek habis-habisan jika Jin hyung melihat ini semua" Jimin menunduk, malu sendiri melihat pantulan dirinya di cermin.

Saat menunduk, Jimin melihat sekilas perutnya , hasilnya sama saja! Ada bekas yang sama disana. Benar-benar si Min Yoongi ini!.

"Bagaimana cara menutupi ini?" Jimin memegang tanda kepemilikan yang tercetak jelas di lehernya dan mendesah putus asa.

Saat sedang meratapi nasibnya, Jimin mendengar suara air dari shower yang dinyalakan, Jimin yang penasaran, keluar dari ruangan itu masih dengan bathrobe-nya dan melihat ke kamar mandi. Dan Jimin benar-benar salah dengan tindakannya kali ini.

Dibalik kaca transparan yang menjadi sekat, Jimin bisa melihat tubuh Yoongi yang benar-benar naked . Dia hanya terdiam di tempat melihat kulit Yoongi yang pucat dan basah. Jimin menelan ludahnya susah payah.

"Jimin sadarlah" Jimin memperingatkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengintip suaminya mandi dan kepanasan sendiri. Ini konyol.

Jimin baru akan berbalik menuju walk in closet milik mereka saat suara berat Yoongi memanggil namanya. Jimin tersentak dengan bahu yang kaku, dia malu. Bagaimana kalau Yoongi masih… tidak pakai apapun di tubuhnya? Jimin berdebar sendiri memikirkan hal itu.

"Jim?" panggil Yoongi lagi karena Jimin tidak berbalik.

"Ne, hyung?" Jimin menjawab tanpa berbalik melihat Yoongi.

"Kemari"

Jimin tanpa sadar mengumpat sangat pelan. Dia tidak siap bertatapan wajah dengan Yoongi. Setelah menenangkan isi kepalanya yang mulai terkontaminasi, Jimin berbalik dan berjalan kearah Yoongi yang sudah memakai bathrobe berwarna hitam, sama dengan yang Jimin pakai. Entah Jimin harus bersyukur atau harus kecewa kali ini.

"Ne, hyung?" Jimin berdiri di samping Yoongi yang sedang menghadap kaca wastafel.

"Bantu aku cukuran" Yoongi menyerahkan alat cukur yang baru diambilnya dari laci wastafel.

Jimin yang masih setengah sadar, terkejut saat Yoongi mengangkatnya dan mendudukannya di wastafel, berhadapan dengan Yoongi dengan Yoongi yang berada di antara kaki Jimin.

"Ini foam nya" Yoongi menyerahkan kaleng berisi foam untuk bercukur pada Jimin.

Jimin tanpa bicara, mengambil kaleng foam cukur dari tangan Yoongi, menekan kaleng foam itu hingga busa putih keluar dari sana. Jimin meletakkan busa itu ditelapak tangannya dan mulai mengoleskannya pelan-pelan pada rahang Yoongi.

"Hyung, ke- kenapa menatapku seperti itu?" Jimin menundukkan pandangannya ke rahang Yoongi, tidak berani menatap pada mata Yoongi yang sedari tadi menatapnya dengan senyum lebar di bibirnya.

"Aku jadi lapar" Yoongi memajukan badannya, membuat Jimin otomatis mundur dan punggungnya menempel pada kaca wastafel di belakangnya.

"Setelah bercukur, kita bisa makan" Jimin memulai pekerjaannya, membantu Yoongi bercukur.

"Benarkah? Aku boleh memakanmu lagi?"

"Hyung!" Jimin merona tapi wajahnya terlihat kesal.

"Aku bercanda. Apa masih sakit? Maaf semalam aku lepas kendali" Yoongi berdiri tegak dan mengelus rambut Jimin yang masih basah.

"Hyung! jangan dibahas, Aku malu!" Jimin menghentikan pekerjaannya dan memeluk badan Yoongi.

"Itu bukan yang pertama kali kita melakukannya, kan? Kenapa masih malu?" Yoongi terkekeh.

"Hyung cukuran sendiri!" Jimin mendorongkan alat cukur ditangannya didepan dada Yoongi dengan kesal.

"Hey, jangan marah. Kita baru menikah semalam dan kau sudah marah-marah pada suami mu?"

"Dasar menyebalkan!" Jimin menarik tangannya dari dada Yoongi dan kembali dengan pekerjaannya membantu Yoongi bercukur.

Mereka hanya terdiam sampai pekerjaan Jimin selesai. Yoongi membantu Jimin turun dari wastafel dan membasuh wajahnya hingga bersih dari sisa foam cukur yang tadi Jimin oleh di rahangnya.

Saat tapak kaki Jimin menyentuh lantai, saat itu juga Jimin merasa akan muntah. Jimin menggeser tubuh Yoongi pelan dan muntah kosong disana.

"Jiminie? Tak apa?" Yoongi mengelus punggung Jimin dan memberikan Jimin pijatan di tengkuk.

"Aku mual hyung…" Jimin kembali muntah kosong.

"Apa sudah lebih baik?" Yoongi memastika keadaan Jimin.

"Rasanya tidak enak" Jimin mengadu.

"Ayo ke kamar." Yoongi membantu Jimin berjalan menuju tempat tidur dengan memeluk pinggang Jimin posesif. "Minumlah" Yoongi menyerahkan air pada Jimin.

"Gomawo hyung" Jimin menyerahkan gelas yang sudah habis setengah itu pada Yoongi.

"Apa lebih baik?"

"Kau lucu saat khawatir, hyung" Jimin terkekeh melihat wajah Yoongi.

"Ck, apa sudah lebih baik?"

"Sudah appa. Baby sudah tidak protes lagi" Jimin mengelus pipi Yoongi, meyakinkan namja pucat itu kalau dia baik-baik saja. "Ini biasa untuk orang hamil" sambung Jimin.

"Kau pasti tersiksa. Maafkan aku" Yoongi memeluk Jimin yang terduduk di tempat tidur.

"Lihat baby, Appa merasa bersalah. Ini kejadian langka" Jimin mencoba bercanda agar Yoongi tidak merasa tertekan.

"Hah, bagaimana caranya agar baby tidak membuatmu susah dan muntah-muntah?" Yoongi melepas pelukannya dan berlutut dihadapan Jimin yang masih terduduk di ranjang.

"Eum, coba appa bicara dengan baby. Mungkin dia mau mendengarkan?" Jimin menunjuk perutnya yang rata.

"Hey, anak kecil. Kalau kau nakal terus, appa akan memberikanmu adik di dalam sana dan merebut kekuasaanmu di perut eomma, jadi, baik-baiklah disana. Jangan buat eomma susah" Yoongi mengelus perut Jimin dengan lembut.

"Hey! Aku bukan eomma!" Jimin protes.

"Lalu baby akan memanggilmu apa? Ahjussi?"

"Enak saja! Aku ingin di panggil papa! Itu terlihat keren dan cocok untuk ku, hyung"

"Ya, terserahlah" Yoongi mengalah.

"Baby akan memanggil hyung dengan sebutan Appa, dan aku akan di panggil papa. Keren sekali" Jimin tersenyum senang.

"Ya, baby, cepatlah lahir agar eomma bisa kau panggil papa" Yoongi member kecupan di perut Jimin dan berdiri. "Aku akan mengambilak baju untukmu" Yoongi berlalu dari hadapan Jimin.

Jimin menunduk, wajahnya merona hebat karena Yoongi. Jimin memegang perutnya dan mengelusnya dari atas kebawah dengan senang "Kalau papa diperlakukan seperti ini oleh Appa setiap hari, Papa tidak keberatan baby menjadi anak nakal di dalam sana" Jimin berguman pelan dan tertawa kecil dengan pemikirannya.

.

.

.

Seminggu sudah berlalu sejak Jimin memeriksakan kandungannya. Sudah seminggu juga Yoongi menghadapi Jimin yang sangat cepat berubah mood-nya. Sebentar Jimin akan senang sekali, sekedip mata, Jimin akan berubah menjadi sangat sensitive dan perasa, Yoongi salah bicara sedikit saja, Jimin akan menangis dan tidak mau Yoongi sentuh sedikit pun.

Seperti hari ini, Jimin sedang sangat manja pada Yoongi.

"Hyung, ayolah, belikan ya? Ya?" Jimin sedang membujuk Yoongi untuk membelikannya sebuah selimut yang dilihatnya di sebuah acara Tv yang ditontonnya tadi. Jimin sudah bertekat tidak mau melepas Yoongi sebelum keinginannya di kabulkan.

Yoongi yang lagi-lagi bertugas menggendong Jimin hanya mendiamkan Jimin dengan permintaan tidak pentingnya itu. Yoongi baru saja sampai rumah sehabis bekerja dan Jimin sudah memanjatnya , meminta di gendong dan juga memaksa Yoongi membelikannya sebuah selimut. Bukannya Yoongi tidak bisa membelikan Jimin selimut, hanya saja, Yoongi tidak tau selimut seperti apa yang Jimin inginkan dan dimana Yoongi harus membelinya.

"Hyung… baby ingin selimut yang aku lihat di Tv tadi.." Jimin mengalungkan tangannya dileher Yoongi, melingkarkan kakinya di pinggang Yoongi dengan erat dan memandang Yoongi dengan wajah berharap.

"Selimut yang bagaimana, Jiminie?" Yoongi akhirnya bersuara karena lagi-lagi Jimin mengeluarkan senjata andalannya untuk membuat Yoongi mengiya-kan apapun ucapan Jimin.

"Selimut yang aku lihat di TV, hyung"

Yoongi mendudukan tubuhnya di sofa kamar, membuat Jimin terduduk di pangkuannya. Yoongi memegang pinggang Jimin agar namja bersuari orange itu tidak terjatuh dari atas pahanya.

"Aku tidak tau selimut seperti apa yang kau lihat di TV, Jimin" Yoongi memandang tajam mata Jimin.

"Berwarna kuning hyung. kuning cerah" ucap Jimin semangat.

"Lalu?"

"Pokonya selimut kuning! Hyung, belikaannn…." Jimin memeluk leher Yoongi dan menenggelamkan wajahnya dileher Yoongi.

"Ya sudah, nanti kita beli" putus Yoongi.

"Tapi baby maunya sekarang" Jimin menarik wajahnya dari leher Yoongi dan menatap Yoongi dengan wajah minta dikasihani.

Yoongi menghela nafas. Kadang dia bingung, kenapa dia selalu lemah jika Jimin sudah membawa-bawa anaknya. "Kita akan beli sekarang" Yoongi sudah siap berdiri, tapi Jimin menahan pergerakan Yoongi.

"Hyung, nanti saja. Sepertinya aku belum membutuhkan selimut itu" ucap Jimin tiba-tiba.

Sabar Yoongi, Jimin sedang hamil anakmu. Kata-kata itu bak mantra ajaib yang membuat emosi Yoongi menguap dalam sedetik. Dia benar-benar tidak bisa marah setiap mengingat Jimin sedang hamil anaknya.

"Hyung…" Jimin memanggil dengan nada sedih karena Yoongi mendiamkannya.

"Ne, Jiminie?"

"Hyung kesal padaku, kan?" tuding Jimin.

"Tidak, aku tidak kesal" cepat-cepat Yoongi memperbaiki wajahnya yang mungkin terlihat kesal di mata Jimin.

"Hyung tidak marah dengan sifatku yang aneh?" Jimin menyadari perubahan mood-nya yang ekstrim, merasa tak enak hati pada Yoongi.

"Tidak"

"Jadi aku aneh?"

"Tidak ada yang bilang kalau kau aneh, Jiminie…" Yoongi menundukkan wajahnya dan bertabrakan langsung dengan dada Jimin.

"Beri aku peringatan kalau aku sudah mulai membuatmu kesal ya, hyung?" Jimin memeluk kepala Yoongi, mengecup rambut Yoongi dengan sayang.

"Sebelum ku peringati, kau akan tiba-tiba menangis seperti kemarin hanya karena mendengar suaraku yang keras"

"Hehehe aku menyebalkan ya, hyung?" Jimin terkekeh.

"Tidak, sayang" Yoongi mengenggelamkan wajahnya di dada Jimin.

Jimin selalu suka jika Yoongi memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan 'Jiminie'. Sangat menyenangkan mendengar kata itu keluar dari bibir Yoongi.

"Hyung, aku…"

"Jiminie, sebentar" Yoongi meragoh kantong celananya dan mengelurkan ponsel miliknya yang bergetar, ada nama Jackson disana.

"Kenapa?"

"Hyung, aku dan Wonho ada di ruang tamu di depan kamar hyung, ada yang ingin kami berikan" Jackson berucap antusias.

"Sebentar, aku akan keluar" Yoongi memutus sambungan telepon miliknya. "Ada Jackson dan Wonho di luar" Yoongi memandang Jimin tepat dimata.

"Oh.." Jimin turun dari pangkuan Yoongi dan ikut berjalan dibelakang Yoongi untuk menemui Jackson dan Wonho.

Saat pintu kamar terbuka, Yoongi bisa melihat Wonho dan Jackson sedang duduk manis di sofa dengan dua buah kado diatas meja.

"Apa itu?" Yoongi mendudukan diri di sofa tunggal, sementara Jimin berdiri di belakangnya.

"Hyung? Tuan Min Jimin" Jackson membungkuk pada Yoongi dan Jimin dikikuti Wonho yang ikut membungkuk.

"Hyung, kemarin saat hyung menikah, kami sudah memberikan hyung kado, nah, ini kado kedua" Jackson menjelaskan.

"Kado kedua?" Jimin bersuara karena penasaran.

"Ne tuan Min Jimin istri Yoongi hyung" Jackson berkedip-kedip lucu menjawab pertanyaan Jimin, dan membuat Jimin malu karena dari tadi Jackson memakai marga milik Yoongi didepan namanya.

"Apa itu?" Yoongi bertanya penasaran dengan kado berwarna pink dan biru itu.

"Hyung, tadi kami menonton acara gossip kesukaan Luhan, di acara gossip itu ada berita soal ke hamilan Jimin-ssi, jadi kami berpikir untuk menjadi orang pertama yang memberikan kado untuk anak kalian" Wonho menjelaskan.

"Acara gossip?" Jimin memastikan pendengarannya tidak salah.

"Ne, berita tentang kehamil anda sudah tersebar tuan Min Jimin istri Yoongi hyung" jawab Jackson ceria.

Jimin merasakan dingin menyelimuti badannya. Jimin yakin soal berita pernikahan Jimin yang tertutup dari media pasti masih menjadi perbincangan hangat, sekarang Jimin membuat kehebohan baru dengan kabar kehamilannya. Jimin yakin dia akan di sidang lagi di kantor agensi, secepatnya.

"Kabar darimana itu?" Yoongi mengernyit tak percaya.

"Ada seseorang yang mengambil foto kalian saat berdiri di depan klinik dokter kandungan saat tengah malam" jelas Jackson. "Kata Luhan ini berita heboh!" sambung Jackson semangat.

Yoongi melirik Jimin yang mematung dibelakangnya, menarik jari Jimin dan membuat Jimin terduduk di lengan sofa yang di duduki Yoongi.

"Jangan takut, ada aku. Kita akan melakukan jumpa pers secepatnya" putus Yoongi.

.

.

.

TBC

Ini kok jadi Stella stan semua ya?

*Ketjup satoe-satoe*

Sampe ketemu di chap selanjutnya kakak-kakak. Ay laf yu.