Jimin merasakan dingin menyelimuti badannya. Jimin yakin soal berita pernikahan Jimin yang tertutup dari media pasti masih menjadi perbincangan hangat, sekarang Jimin membuat kehebohan baru dengan kabar kehamilannya. Jimin yakin dia akan di sidang lagi di kantor agensi, secepatnya.
"Kabar darimana itu?" Yoongi mengernyit tak percaya.
"Ada seseorang yang mengambil foto kalian saat berdiri di depan klinik dokter kandungan saat tengah malam" jelas Jackson. "Kata Luhan ini berita heboh!" sambung Jackson semangat.
Yoongi melirik Jimin yang mematung dibelakangnya, menarik jari Jimin dan membuat Jimin terduduk di lengan sofa yang di duduki Yoongi.
"Jangan takut, ada aku. Kita akan melakukan jumpa pers secepatnya" putus Yoongi.
.
.
.
Akun resmi agensi yang menaungi Jimin sudah membuat dua konfirmasi sekaligus, yang pertama soal pernikahan Jimin dan Yoongi dan kedua soal kehamilan Jimin. Nama Jimin sudah berada di pencarian teratas selama dua hari berturut-turut karenanya.
Besok adalah hari jumpa pers yang di janjikan mengenai pernikahan dan kehamilan Jimin. Selama berita itu menyebar, Jimin tidak tidur, terhitung sudah tiga hari semenjak berita kehamilan Jimin tersebar di media dan membuat Jimin terpaksa di infuse di rumah karena keadaannya yang benar-benar kacau. Kurang istirahat dan stress adalah kombinasi paling ampuh untuk membuat seseorang yang sedang hamil langsung tumbang.
"Berhenti mencari-cari ponselmu, Kitten" Stella menatap tajam pada Jimin yang sedang berbaring di ranjang kamarnya dan Yoongi, tangannya merayap ke meja nakas dimana ponselnya terletak.
"Mom, aku ingin tau perkembangannya" ucap Jimin lemah.
Belum sampai tangan Jimin meraih ponselnya, tangan Stella lebih dulu menyambar ponsel milik Jimin.
"Perkembangan apa? Kau hanya membaca komentar-komentar sampah dari fans mu yang cemburu dan marah karena kau menikah dan hamil. Kalau mereka benar-benar fans mu, mereka tidak akan berkata kasar seperti itu. Dan haters-mu, berhenti memberi perhatan pada mereka, Kitten. They don't deserve your attention!." Stella berdiri dengan menyilang kedua tangannya di dada.
"Tapi, Mom"
"Stop it already. Perhatikan kondisimu dan bayimu. Kau menyakitinya dengan berlaku seperti ini!"
"Aku tau Mom, tapi…"
"Fu*ck this phone!" Stella tersenyum sinis dan meremas ponsel Jimin hingga remuk dengan satu tangannya.
Jimin membolakan matanya, takjub dengan kemampuan Stella yang bisa meremukkan ponselnya hanya dengan satu tangannya.
"Sorry Mom.." Jimin mencicit ketakutan.
"Berhenti membuat Mommy kesal, Kitten. Mommy menyayangimu, kau tau itu kan? Mommy hanya ingin kau kembali pulih dan berhenti berpikir seolah hidupmu sudah kiamat. Ini yang terakhir, kalau mereka memang fansmu, mereka akan ikut senang jika kau senang." Stella tersenyum hangat, bertingkah seolah dia tidak melakukkan apapun sebelumnya.
.
.
.
"Sepertinya Mommy marah padaku, hyung" adu Jimin saat Yoongi sudah pulang dari kantor. Selama Yoongi berada di kantor, Stella yang bertugas menjaga Jimin.
"Huh? Marah kenapa?" Yoongi melepas jas dan dasinya, kemudian duduk disamping Jimin yang bersandar di kepala ranjang dengan tangan terinfus. Tidak lupa member kecupan di dahi Jimin.
"Aku ingin melihat ponselku, ingin tau sudah seperti apa perkembangan di luar sana soal kita. Tapi Mommy marah dan merusak ponselku, setelah itu Mommy tidak mengajakku bicara sampai hyung pulang kerja" cerita Jimin sedih.
"Dia merusak ponselmu?" Yoongi merangkul bahu Jimin, memainkan jarinya di telinga Jimin.
"Lihat ini" Jimin mengambil ponselnya yang sudah remuk, meletakkannya di tangan Yoongi.
"Dia menghancurkan ponselmu dengan palu?"
"Tidak, Mommy meremukkannya dengan tangan" jelas Jimin.
"Damn it…" Yoongi memperhatikan remukkan tidak berbentuk ponsel Jimin ditangannya. "Jim, selama aku tidak ada dirumah, menurutlah padanya"
"Ne, hyung. Aku tidak akan melawan Mommy lagi" Jimin menurut.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baikan?" Yoongi memeluk Jimin yang sudah menyandarkan kepalanya di dada Yoongi.
"Setelah tidur, aku merasa sangat baik sekarang, hyung"
"Bagaimana dengan baby? Apa kau masih merasa sakit di bagian perutmu lagi?"
"Sudah tidak lagi, hyung. Gyuri bilang, aku harus benar-benar tidak boleh tidak tidur, stress dan banyak pikiran, itu bisa berpengaruh pada baby, bisa-bisa baby marah padaku"
"Aku ingin mati saat melihatmu pingsan kemarin" aku Yoongi.
"Hehehe, Sorry, Appa" Jimin terkekeh dan mengecup pipi Yoongi sebentar.
"Jangan ulangi lagi."
"Ne Appa, kami berjanji" Jimin tertawa kecil.
.
.
.
"Siapa kau?" Namja berambut hitam berumur 40 tahunan melotot tak suka pada Stella yang sedang duduk di kursi miliknya dengan kaki terangkat ke meja.
"Pemilik perusahaan yang baru" Stella tersenyum ramah pada pria berambut hitam di depan pintu.
"Apa maksudmu?"
"Hey, sopan sedikit" Stella berucap santai menanggapi bentakan pria yang akrab dipanggil tuan Jang itu.
"Selamat siang…"
"Tuan Yang" Sapa pria berambut hitam itu dengan hormat.
Tuan Yang adalah salah satu pemilik saham tertinggi di perusahaan yang memproduksi majalah ternama dan berita online. Berita online pertama yang membongkar pernikahan Jimin dan kehamilan Jimin.
"Tuan Jang, saya kesini ingin menyerahkan ini" Tuan Yang menyerahkan selembar amplop kepada Tuan Jang, salah satu pemimpin tertinggi redaksi majalah.
"Tuan, apa ini?" Setelah membuka isi amplopnya, Tuan Jang tidak bisa untuk tidak terkejut. Dia di pecat.
"Mulai hari ini, anda kami pulangkan" ucap Tuan Yang tak enak hati, matanya melirik pada Stella yang duduk di meja dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.
"Tapi kenapa?" Tuan Jang tidak terima.
"Kau salah cari lawan, tuan. Kau menyentuh anakku, aku tidak suka" Stella menaikkan kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya.
"Apa maksud anda?" tuan Jang menatap tajam pada Stella.
"Berita soal Park Jimin. Anda sendiri yang menulisnya di berita online itu, kan?" Stella menatap sedih, seolah menyesali tindakan tuan Jang. "Aku tidak suka dengan ide membongkar privasi orang lain. Kau membuat ku kesal"
"Tuan Jang, nona Stella ini adalah pemilik perusahan yang baru. Dia baru saja membelinya tadi siang" jelas Tuan Yang. "Dia adalah pemilik saham tertinggi saat ini"
"Bagaimana bisa?" Tuang Jang menatap tak percaya.
"Kalau kau punya banyak uang, kau akan paham kekuatan uang sesungguhnya" Stella tersenyum senang.
"Tuan, tapi karena berita yang saya buat, nama berita online milik kita makin menaik dan…"
"Stop it asshole. Jangan membuat ku marah, pergilah" Stella bernada ceria, berbanding terbalik dengan ucapannya yang memaki.
"Tuan Yang, saya sudah bekerja disini puluhan tahun, bagaimana…"
"Tuan Yang, aku tidak suka melakukan tindak kekerasan untuk mengusir orang, kalau aku sudah melakukan tindakan, dia bisa keluar dari gedung ini dengan patah tulang di sekejur tubuh" Stella menatap mengintimidasi pada dua pria yang berdiri di depannya. "Atau sekalian ku lenyapkan" Stella tersenyum mengerikan, tangannya menarik pistol yang tersembunyi di balik coat miliknya terletak di atas meja,
"Ini masih baru, belum pernah ku coba. Anda bersedia menjadi teman main Pisty? Ah… pistolku yang baru ini namanya pisty, manis sekali kan?" Stella menodongkan pistol berwarna pink menyolok mata kearah kedua pria yang ada di depannya. Matanya berbinar-binar.
"Tuan Jang, sebaiknya anda keluar baik-baik" Bisik tuan Yang pelan. "Dia sakit jiwa" sambungnya dengan suara makin pelan.
"Ku anggap itu pujian tuan Yang" Stella yang duduk diatas meja mendengar suara yang teramat pelan dari tuan Yang.
"Maafkan saya, nona" Tuan Yang membungkuk.
"Saya permisi, tuan" pamit tuan Jang.
Belum sempat tangan tuan Jang mendorong pintu, Stella mengarahkan pistolnya kearah tuan Jang dan menembaknya tepat di jantung. Pria berumur 40 tahunan itu jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir dari tubuhnya, tepat di depan pintu.
"Ooops" Stella menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut.
"N.. nona, kenapa anda…" Tuang Yang berdiri mematung di dekat mayat tuan Jang, bajunya terkena sedikit cipratan darah.
"Dia membuatku kesal" Stella mem-pout-kan bibirnya.
Tuan Yang hanya bisa berdiri gemetar di depan pintu, wanita ini benar-benar sakit jiwa.
"Keluarlah" Stella berubah dingin dalam satu detik, matanya seolah menyiaratkan agar tuan Yang segera pergi dari ruangan.
Tanpa diminta dua kali, Tuan Yang mendorong pintu dengan sedikit kesusahan karena gemetar akhirnya mendorong pintu. Meninggalkan Stella dengan mayat tuan Jang bersimbah darah di depannya.
Stella mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans ketat yang membalut kaki jenjangnya, mencari kontak seseorang yang selalu berada di pihaknya dalam hal apapun yang Stella kerjakan. Tuan Min, Papa Stella.
"Papa!" Stella menyahut riang saat teleponnya di angkat oleh sang ayah.
"Hallo, anakku, bagaimana harimu?" Tuan Min berucap senang.
"Aku sedikit kesal hari ini. Papa ingat pisty? Pistol baruku yang berwarna pink yang di berikan Yoongi?"
"Ne, ada apa dengannya? Apa dia nakal?"
"Pisty menembak seseorang yang membuatku kesal, Papa. Dia nakal! Aku tidak suka Pisty lagi." Stella mengadu.
"Apa yang terjadi? Apa Pisty membuat seseorang kehilangan nyawa?"
"Yes, Papa. Aku benci beres-beres, Pisty juga tidak bisa di andalkan, Papa bisa menyuruh orang-orang milik Papa untuk membereskan kekacauan yang di buat Pisty, kan?"
"Tentu anakku, kirimi Papa alamat keberadaanmu, mereka akan membereskan kekacauan yang di buat Pisty, oke? Jangan kesal lagi. Kau ingin belanja, agar tidak kesal lagi?" tawar tuan Min.
"Papa yang terbaik. Aku mencintaimu. Segera kirimi aku uang, oke? Apa aku harus menunggu sampai mereka datang?"
"Tidak perlu. Berikan papa detail tempatnya, mereka akan kesana. Ah.. papa sudah mengirim uang untukmu berbelanja. Apa kau ingin punya mainan baru? Sepertinya Pisty tidak menurut padamu?"
"Tidak papa, aku harus bicara dengan Pisty dulu, membuat Pisty disiplin. Dia pistol yang cantik, tapi menyebalkan, tapi aku suka" Stella memandang pistol pink yang menjadi tertuduh dalam hal penghilangan nyawa.
"Ya sudah, pergi dari sana segera dan pastikan tidak ada yang melihatmu, atau kalaupun ada, pastikan dia tutup mulut" pesan tuan Min.
"Tentu, jangan khawatir soal itu. Eum… Papa, aku baru saja membeli perusahaan…"
"What? Kenapa membeli perusahaan?" tuan Min terkejut.
"Ck, orang yang membuat ku kesal punya jabatan tinggi di perusahaan yang juga membuatku kesal, jadi cari terbaik yang bisa aku pikirkan adalah dengan membeli perusahaan ini. Kerjakan perusahan ini untukku ya, Papa…." Bujuk Stella.
Terdengar helaan nafas tuan Min dari seberang sambungan telepon "Oke, Papa akan minta Jaebum bekerja disana mulai sekarang. Jangan kesal lagi, oke?" tuan Min menyerah.
"Okidoki, Papa. Sampai bertemu nanti" Stella memutus sambungan telepon dengan sang ayah.
Stella melompat turun dari meja dan menyambar coat serta pistol pink miliknya, berjalan melewati mayat tuan Jang tanpa meliriknya sama sekali.
"Sudah mati saja masih menyebalkan" Stella berguman, mendorong pintu dan melenggang santai, seperti tidak terjadi apapun di dalam sana.
.
.
.
Hari jumpa pers akhirnya datang, meskipun masih belum pulih, Jimin terpaksa pergi untuk menyelesaikan semuanya. Ruang konferensi pers itu hanya bisa menampung 20 wartawan, sengaja di batasi karena Yoongi yang meminta.
Dipanggung kecil itu terdapat meja panjang dengan latar belakang putih dan enam bangku. Di bawah panggung sudah di sedikan empat meja bundar dengan lima kursi di masing-masing meja untuk wartawan. Hanya yang memiliki undangan saja yang bisa masuk. Pintu depan ruangan sudah dijaga oleh empat bodyguard sekaligus, berbaris membelakangi pintu, membuat tidak ada seorang pun yang bisa menerobos masuk tanpa pemeriksaan lebih dulu.
Pintu ruangan yang masih berada dalam gedung agensi Jimin itu terbuka, memunculkan Jimin, Yoongi, Hoseok dan Bang PD-nim. Beberapa wartawan yang masih sibuk memperbaiki letak kamera, terburu-buru mengarahkan kamera mereka kearah pintu masuk.
Meski sudah dirias, wajah Jimin masih terlihat pucat dan terlihat lingkaran mata yang menghitam yang sudah disamarkan dengan bantuan make up. Jimin dan Yoongi sampai di panggung dan beberapa staff agensi yang sudah berada di dalam ruangan lebih dulu, mengarahkan Jimin dan Yoongi untuk duduk di tengah, diantara Hoseok dan Bang PD-nim.
Riuh suara jeperetan kamera membuat Jimin hanya bisa tersenyum lemah. Tangannya mencari tangan Yoongi di bawah meja dan menggenggam tangan Yoongi kuat-kuat. Jimin ketakutan tapi tidak bisa lari lagi. Diatas meja di depan mereka sudah bertumpuk puluhan mic dari berbagai stasiun TV, majalah, dan berita online.
"Tidak apa, aku disini" Yoongi meletakan tangan mereka yang tertaut diatas pahanya. Matanya memandang Jimin sambil tersenyum, seperti isyarat kalau semua akan baik-baik saja.
"Aku takut, hyung" Jimin mencicit pelan, wajahnya tertunduk, merasa tak nyaman dengan puluhan kamera yang menyorot padanya.
"Kami tidak akan lama, jumpa pers ini hanya akan berlangsung lima belas menit. Kami hanya memperbolehkan tiga pertanyaan saja untuk di ajukan, silahkan…."
Belum sempat Hoseok menyelesaikan ucapannya, suara riuh protes terdengar dari seluruh wartawan yang datang.
"Baiklah, karena kalian protes, kami akan memberikan kalian lima menit dengan satu pertanyaan, silahkan berembuk" Hoseok lagi-lagi diserbu protes dan hanya tertawa saja menanggapi protes dari para wartawan. "Teman-teman, waktu kalian berkurang dua menit" Hoseok memperingatkan.
"Silahkan pertanyaan yang pertama…" Hoseok berucap lagi.
Beberapa wartawan terlihat sibuk dibawah, memilih pertanyaan yang tepat untuk mereka tanyakan pada Jimin. Setelah mendapatkan yang tepat, salah satu wartawan yang berada di meja dekat kiri panggung mengangkat tangan.
"Silahkan.." Hoseok mempersilahkan. Meletakkan mic milik agensi di meja.
"Park Jimin-ssi, kenapa menyembunyikan pernikahan dan kehamilan anda?" wartawan berbaju biru dengan lambang salah satu stasiun TV di lengan bajunya bertanya.
Jimin melirik kearah Yoongi, sementara Yoongi memandang tajam satu persatu wartawan yang hadir.
"Maaf soal itu. Kami tidak bermaksud menyembunyikan pernikahan kami, hanya saja, kami butuh privasi. Kami ingin pernikahan kami beratmosfir kekeluargaan. Kami juga bermaksud mengumumkannya ke public setelah hari pernikahan kami, tapi sepertinya public sudah tau lebih dulu." Jimin menguatkan genggaman tangannya pada Yoongi, tangannya mendingin, dia tidak tau harus menjawab apa soal kehamilannya.
"Hyung…" Jimin mencicit pelan, memanggil Yoongi, meminta namja pucat itu menjawab.
"Soal kehamilan Jimin, bukankah kami seharusnya mendapatkan ucapan selamat?" Yoongi tersenyum ramah. Ini kejadian langka. Jimin bahkan seperti tidak mengenali Yoongi sama sekali. sejak kapan namja pucat ini pandai tersenyum? Sok ramah pula.
Suara wartawan kembali riuh, atmosfir yang tadinya tegang mendadak menjadi lebih hangat karena jawaban Yoongi. Sangat pintar memanipulasi keadaan dan memanipulasi jawaban. Secara tak langung, Yoongi tidak benar-benar menjawab pertanyaan wartawan.
Terdengar beberapa wartawan saling bersahutan mengucapkan selamat dengan keras. Yoongi melirik Jimin kesamping, terlihat bahu Jimin yang tadinya tegang, menjadi lebih rileks.
"Bertahan sebentar lagi, oke?" Yoongi mengelus tangan Jimin yang ada di genggamannya. Jimin hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oke, pertanyaan selanjutnya" Hoseok menengahi keriuhan di bawah panggung.
Wartawan berkaos putih mengangkat tangannya.
"Silahkan" Hoseok mempersilahkan.
"Sejak kapan kalian berkencan?" wartawan berkaos putih itu bertanya, terlihat cengiran di wajah-wajah wartawan yang datang.
"Kau bertanya padaku? Apa aku terlihat seperti Park Jimin?" Yoongi sengaja bercanda dengan menunjuk dirinya karena wartawan itu melihat kearahnya, bukan pada Jimin.
Wartawan itu tertawa dan mengangguk.
"Sepertinya anda menyukaiku" Yoongi kembali bercanda, Jimin refleks menyubit perut Yoongi. "Jimin mencubit perutku di bawah meja, ini salah anda kalau aku tidak boleh tidur di kamar setelah ini" sambung Yoongi.
Beberapa wartawan tertawa menanggapi. Atmosfer ruangan benar-benar mencair, tidak ada lagi keteganggan di wajah Jimin dan juga Bang PD, yang sengaja menyeret Hoseok ke jumpa pers untuk menggantikannya.
"Baiklah. Akan ku jawab. Kami tidak pernah berkencan" Yoongi berucap serius.
Lagi-lagi suara wartawan riuh dibawah panggung terdengar, merasa tidak percaya dengan jawaban Yoongi.
"Kami tidak berkencan, aku tidak pernah meminta Jimin untuk menjadi kekasihku, sama sekali. Aku langsung melamarnya" sambung Yoongi.
Kembali lagi suara riuhwartawan menggema, kini ditambah sorakan menggoda kearah Jimin terdengar. Jimin hanya menunduk malu menanggapi godaan-godaan yang di arahkan padanya.
"Oke, pertanyaan terakhir" Hoseok kembali menengahi keriuhan.
Terlihat beberapa wartawan berdebat tentang pertanyaan yang akan mereka tanyakan dibawah sana. Setelah dua menit berembuk, akhirnya seseorang yang duduk di tengah mengakat tangannya.
"Silahkan" Hoseok mempersilahkan.
"Park Jimin-ssi, apa setelah ini anda akan tetap bekerja menjadi artis?"
"Terimakasih atas pertanyaanya. Aku… akan berhenti" jawab Jimin final.
"Tapi kenapa?" wartawan itu kembali bertanya.
"Jimin punya suami Billionaire. " Hoseok tertawa sambil menjawab pertanyaan wartawan itu.
"Terimakasih sudah menyempatkan waktu anda untuk datang kesini, dan terimakasih juga atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah kalian sampaikan. Silahkan nikmati makan siang kalian, kami permisi" tutup Bang PD-nim yang sudah merasa santai sejak Yoongi menjawab pertanyaan.
Mereka undur diri. Melewati wartawan-wartawan yang sibuk mengambil foto Jimin dan Yoongi sampai pintu ruangan itu terbuka dan tertutup kembali.
Jimin langsung memeluk Yoongi begitu mereka keluar dari ruangan. Kakinya lemas bukan main, rasanya seperti pertama kali berurusan dengan media.
"Sudah merasa lebih baik?" Yoongi mengelus punggung Jimin.
"Sangat baik, hyung. Rasanya lega. Terimakasih sudah mendampingiku, tadi. Dan terimakasih sudah mengendalikan atmosfir ruangan, keadaan jadi jauh lebih baik daripada yang ku bayangkan." Jimin mengurai pelukannya.
"Perlu kau ingat, kalau suamimu ini Min Yoongi" Yoongi berucap bangga. Menggandeng tangan Jimin untuk berjalan pulang.
.
.
.
Sampai dirumah, Stella sudah ada disana. Duduk santai di ruang tamu lantai atas, dengan sebotol jus sayur diatas meja.
"Wow, Asshole. Aku seperti tidak mengenalimu di TV. So fake.." Stella bertepuk tangan bangga kearah Yoongi yang baru muncul dari tangga.
"Aku merasa tersentuh. Baru kali ini kau memujiku" Yoongi mendudukan diri di sofa tunggal, di samping Stella.
"Mana Kitten?" Stella melirik kearah tangga.
"Sedang minum susu"
"Oh…"
"Mommy…" panggil Jimin pelan, ditangannya ada segelas susu hangat.
"Hey, anak Mommy. Sini.." Stella menepuk sofa di sebelahnya dengan semangat.
Jimin meletakkan gelas susunya di samping botol jus sayur milik Stella dan mendudukan diri di Samping Stella.
"Mommy sudah tidak marah?"
"Marah?" Stella mengernyit bingung.
"Iya, Mommy tidak marah lagi?"
"Astaga, Mommy tidak bisa marah padamu. Ah, ambil ini" Stella menarik tangan Jimin dan meletakkan ponsel keluaran terbaru di tangan Jimin.
"Apa ini?" Jimin menaikkan alisnya.
"Mommy sudah merusak ponselmu, ini gantinya" jelas Stella. "Jangan berani-berani menolak pemeberian Mommy!" Stella memandang tajam pada Jimin.
"Thanks Mom…" Jimin tertawa dipandang tajam oleh Stella.
"Kenapa kau kesini?" Yoongi yang merasa terabaikan, akhirnya bersuara.
"Iseng saja. Aku bosan" Jawab Stella cuek. "Asshole, belikan aku senjata laras panjang…" ucap Stella tiba-tiba.
Jimin membolakan matanya mendengar ucapan Stella, sementara Yoongi mengehembuskan nafasnya lelah. Kenapa dia yang selalu di todong soal membelikan senjata. Kalau senjatanya masih normal, mungkin Yoongi tidak akan kesusahan. Tapi ini Stella, dia selalu meminta senjata dengan warna-warna mencolok seperti pink, orange, hijau neon, dan masih banyak lagi. Yoongi terpaksa mengeluarkan uang lebih hanya untuk membelikan Stella mainan.
"Kenapa dengan pistol pink mu itu? Aku beri membelikannya, kan?" Yoongi memandnag Stella dengan tatapan malas.
"Bosan. Aku ingin mainan yang panjang" rengek Stella.
"Hmm…" Yoongi berguman.
"Oh ya, Kitten, Mommy akan kembali ke Kanada malam ini" Stella memandang Jimin dengan sedih.
"Huh? Kenapa tiba-tiba? Kapan Mommy akan kembali?" Jimin mengernyit tak suka. Wajahnya menunjukkan protes dengan jelas.
"Uhhh… anakku…" Stella memeluk Jimin gemas.
"Stella memang tinggal di Kanada" Yoongi menjawab.
"Kapan Mommy akan pulang ke sini lagi?" Jimin melepas pelukan Stella dan memandang penuh tuntutan kearah Stella.
"Saat anak Mommy melahirkan?" Ucap Stella tak yakin.
"What? Mommy akan pergi lama?" Jimin makin tidak bisa menyembunyikan protesnya.
"Stella punya tanggung jawab disana, jadi dia tidak bisa lama-lama disini" lagi-lagi Yoongi yang menjelaskan.
Jimin menunduk diam. Dia sudah merasa nyaman berada dekat Stella.
"Mommy akan sering-sering kesini, jangan sedih begitu, nanti Mommy menangis!" Stella berkacak pinggang.
"Hyung…" Jimin melirik Yoongi dengan sedih, dia ingin Yoongi untuk membujuk Stella tetap tinggal di Korea.
"Tidak sayang. Stella sudah berjanji akan sering datang kan? Ratu harus segera kembali ke singasananya kalau tidak ingin kerajaannya di hancurkan orang lain" Yoongi menjelaskan dengan secara tidak langsung.
"Mommy harus janji untuk sering menghubungiku.." Jimin memandang sedih kearah Stella.
"Tentu" Stella memeluk Jimin lagi. "Aku harus pergi sekarang. Tidak usah di antar" Stella berdiri.
"Pesawat jam berapa?" Yoongi melirik jam ditangannya, sudah menunjukan jam lima sore.
"Jam tujuh"
"Kenapa tidak boleh diantar?" Jimin protes.
"Mommy sudah minta Wonho yang mengantarkan Mommy. Oh, ada hadiah untukmu di kamar kalian" Stella memeluk Jimin sekali lagi, beralih pada Yoongi dengan menepuk kepala Yoongi.
Stella menuruni tangga dengan berlari. Meninggalkan Yoongi dan Jimin di belakang. Diluar, Wonho sudah menunggu Stella untuk diantar. Setelah sampai didalam mobil, Stella melirik kearah pintu rumah lagi, Jimin sudah berada di sana sendirian, menatap sedih kearah mobil Wonho.
"Ayo Daddy" Stella melirik Wonho.
"Tidak ingin melambai pada Jimin-ssi?" Wonho melirik Stella lagi.
"Tidak, nanti aku sedih. Ayo jalan, Daddy"Stella berucap ceria.
Mobil melaju pelan meninggalkan rumah.
.
.
.
Jimin dan Yoongi mematung dikamar, di atas ranjang dan sofa kamar mereka sudah dipenuhi puluhan paper bag dari berbagai merek brand fashion ternama. Jimin membolakan matanya saat menangkap beberapa paper bag yang ada di meja sofa, salah satu merek jam tangan yang punya harga seharga rumah. Stella tidak main-main soal hadiah yang dia katakan.
Yoongi berjalan menuju ranjang, mengambil salah satu paper bag berwarna orange menyala dengan lambing H di tengahnya. Di paper bag itu tertulis nama pemiliknya, ada tulisan 'Asshole' disana, yang artinya itu adalah milik Yoongi Yoongi mengeluarkan isinya dan melihat ada ikat pinggang disana.
Jimin berjalan mendekat, mengambil Paper bag berwana putih dengan aksen kekanakan, ada nama 'Mochi' disana. Jimin menumpahkan paper bag besar itu diatas ranjang yang menyempit karena ada belasan paper bag lain disana. Saat paper bag itu di tumpahkan, Jimin melihat berbagi baju bayi yang lucu-lucu keluar dari sana. Dan Jimin hanya bisa tertawa.
"Hyung, lihat, ini piyama gajah" Jimin mengambil salah satu piyama bayi berbentuk gajah.
Yoongi tersenyum, sedikit banyak dia merasa terharu karena Stella memperhatikan anaknya. Terbukti dari banyaknya nama 'Mochi' tertempel di paper bag diatas ranjang dan sofa.
"Dia benar-benar gila" Yoongi tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Ya! Jangan berkata buruk soal Mommy!" Jimin memarahi Yoongi.
"Ya? Kau membentak suamimu, Park Jimin?" Yoongi membolakan matanya.
Jimin hanya tertawa kecil dan memeluk Yoongi erat, mengecup pipi Yoongi berkali-kali dan menggumankan maaf.
Dengan bantuan pembantu dirumah, akhirnya Jimin dan Yoongi selesai membereskan semua hadiah dari Stella yang kebanyakan adalah milik 'Mochi'. Sementara Jimin dan Yoongi hanya dapat empat paper bag dari 76 paper bag besar yang berserakan di kamar.
"Kita tidak perlu membelikan baju untuk baby sampai dia berumur dua tahun" Komentar Yoongi saat melihat isi lemari mereka yang sudah terisi baju-baju dan sepatu Mochi.
"Hahaha, Mommy memang yang terbaik" Jimin tertawa memandang isi lemari.
.
.
.
Jimin sedang menunggu Yoongi selesai mandi dengan bermain ponsel baru yang di berikan Stella. Jimin sudah berkali-kali mencoba untuk Login di akun social medianya, dan berkali-kali juga Jimin menutup aplikasi itu. Dia tidak berani melihat komentar yang para fansnya berikan di akun social medianya.
Setelah berkali-kali membuka tutup aplikasi, akhirnya Jimin memberanikan diri membuka Instagram miliknya. Jimin melihat komentar-komentar difoto terakhir miliknya, dadanya berdebar kencang.
'Aku patah hati, tapi aku juga bahagia. Selamat atas pernikahanmu, Jimin-ssi'
'Jimin-ssi, tolong doakan aku juga punya suami kaya raya dan panas seperti Min Suga'
'My Baby, Jiminie memang pintar memilih suami. Aku juga akan meninggalkan pekerjaanku kalau punya suami seperti Min Suga'
'Sekarang aku harus apa? Hatiku sakit sekali. Membakar album mu? Membuang semua fotomu?'
Jimin berguman maaf saat membaca komentar yang terakhir dibacanya. Jimin menutup aplikasi instagram miliknya dan membaca komentar dari artikel yang membahas soal konferensi pers siang tadi.
'Jiminie, jangan minta maaf. Kami ikut berbahagia untukmu walaupun kami tidak di undang di pernikahanmu hahahaha'
'Min Suga itu keturunan vampire? Dia putih sekali'
'Jiminie, kalau kau bosan dengan Min Suga, aku ada untuk menampungnya. Hahaha'
'Dimana aku bisa menemukan pria yang seperti Min Suga, Jiminie?'
'Jiminie dan baby, sehat selalu….'
Dan masih banyak ratusan komentar yang tidak bisa Jimin baca seluruhnya. Jimin tersenyum saat melihat respon public yang terbilang baik setelah jumpa pers. Jimin melirik album foto di meja nakas dengan tulisan 'Mochi', salah satu hadiah dari Stella juga, dimana di dalamnya sudah ada foto USG milik 'Mochi'.
"Sedang apa?" Yoongi yang baru saja selesai mandi, mendudukan diri disamping Jimin yang sedang memangku album foto.
"Melihat foto baby" Jimin menunjuk foto USG bayinya.
"Kau membaca komentar lagi?" Yoongi melirik ponsel Jimin yang masih menyala.
"Hehehe, aku sudah baik-baik saja hyung" Jimin terkekeh, menutup album itu, dan meletakkan nya di atas nakas.
"Jangan pikirkan omongan mereka. Mereka bicara tanpa berpikir" nasehat Yoongi.
"Hyung, peluk…" Jimin merengtangkan tangannya.
Tanpa diminta dua kali, Yoongi memeluk Jimin erat dan mengelus punggung Jimin.
"Kau ingin tidur?" Yoongi mencium kepala Jimin.
"Belum. Aku merindukanmu hyung"
Yoongi menyeringai.
Jimin melepas pelukannya, menangkup kedua pipi Yoongi dan memberikan ciuman di bibir Yoongi. Ciuman yang tadinya lembut itu berubah menjadi liar saat Yoongi sudah merebahkan Jimin di ranjang.
Jimin terengah saat tautan bibir mereka terlepas. Mata Jimin menatap dalam kedalam mata Yoongi dan mengelus pipi pucat itu penuh sayang.
"Bolehkah?" Yoongi bertanya, tapi matanya jelas-jelas tidak ingin ditolak. Dia menginginkan Jiminnya.
"Pelan-pelan, oke? Ada Baby.." Jimin mengingatkan, wajahnya memerah padam saat mengucapkannya.
"Ingatkan aku kalau aku sudah lepas kendali"
Jimin tertawa kecil dan menangguk. Dia membiarkan Yoongi membuka seluruh pakaiannya dan membuat pakaian itu berserakan di lantai kamar, membiarkan Yoongi menandai seluruh tubuhnya dengan bercak merah keunguan di seluruh tubuhnya.
.
.
.
END
Terimakasih kakak-kakak yang sudah membaca FF ini dan memberikan Review.
*Ketjup satoe-satoe*
Sampai bertemu lagi
Hahahhaa
