.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
Lima belas tahun kemudian…..
"Baiklah, saya akan ke sekolah Mino sekarang. Maaf merepotkan anda, lagi" Yoongi menutup panggilan telepon dari sekolah anaknya.
Min Mino, 16 tahun (umur Korea), kelas dua SMA, anak sulung keluarga Min, biang onar di sekolah.
"Ada apa, hyung?" Jimin melirik Yoongi yang menunduk dan menghela nafas.
Baru dua jam yang lalu anaknya pergi dari rumah dalam keadaan baik-baik saja, dan sekarang Yoongi mendapat telepon dari sekolah kalau Mino menendang bola sampai kaca ruangan kelas pecah.
"Mino, seperti biasa" Yoongi berjalan memeluk Jimin. "Dia memecahkan kaca jendela kelas" Jelas Yoongi, pelukan Yoongi makin mengerat di pinggang Jimin.
"Sepertinya Appa harus mampir ke sekolah Mino dulu, baru ke kantor" Jimin terkekeh dan mengelus sayang rambut Yoongi. "Atau Appa ingin aku gantikan saja kesekolah Mino?" Jimin menawarkan diri.
"Mau bagaimana lagi…." Yoongi terdengar pasrah. "Tidak sayang, Yoonji bisa menangis kalau tidak melihatmu dirumah saat baru bangun tidur"
Min Yoonji, 5 tahun, anak bungsu keluarga Min, bolos sekolah hari ini karena demam.
Yoongi melepas pelukannya pada Jimin dan mengecup bibir Jimin singkat.
"Jangan marahi Mino, ne? mungkin anak kita tidak sengaja melakukannya…" Bujuk Jimin, tangannya sibuk merapikan jas dan dasi Yoongi.
"Tidak sengaja, sampai membuat Appanya tiap bulan harus datang ke sekolah"
"Seingatku, aku bukan anak nakal saat sekolah dulu, mungkin dia menuruni sifat Appa-nya?" Jimin terkekeh saat mata Yoongi menajam menatapnya.
"Jadi kau sedang menuduh sifat nakal Mino itu menurun dariku? Begitu? Huh?" Yoongi mempertajam matanya.
"Aku tidak pernah membuat masalah di sekolah, Appa…" Jimin terkekeh dan kembali memeluk Yoongi, ucapannya seolah mengiyakan kalau sifat nakal Mino, menurun dari Yoongi.
"Appa, Papa…" suara kecil itu menginterupsi Jimin dan Yoongi.
Di depan pintu kamar mereka sedang berdiri gadis kecil berpiyama bunga-bunga dengan selimut kecil yang berada di genggamannya, rambut sebahunya terlihat berantakan karena baru bangun tidur, plester kompres demam, bahkan masih menempel di dahinya, kulit pucatnya semakin terlihat pucat karena demam yang di deritanya. Dia, Min Yoonji.
"Kemari, Boss kecil…" Yoongi berjongkok dan merentangkan tangannya, menyambut anak bungsunya yang terlihat kesulitan menyeret selimut kecilnya.
"Appa, selimutnya berat" Yoongi mengeluh tapi tidak mau melepas genggamannya dari selimut kecil itu.
Mendengar anaknya kesulitan, Jimin berjalan menuju Yoonji, mengambil selimut dari tangan kecil anaknya, dan menggandeng tangan Yoonji untuk berjalan menuju Yoongi untuk memberi pelukan selamat pagi.
"Uh, bau…" Yoongi menutup hidungnya , berpura-pura kebauan dengan Yoonji yang belum mandi.
"Yoonji belum mandi dari semalam, Appa" Jimin mengompori.
"Pantas saja…" Yoongi mengernyit, membuat gadis kecil di depannya mengendus-endus baunya sendiri.
"Yoonji masih wangi, Appa" Lapor Yoonji selesai mengendus baju piyamanya. Masih harum khas bayi.
"Coba sini Papa cium, apa benar wangi…" Jimin ikut duduk di lantai disamping Yoongi.
Dengan polosnya, Yoonji menuruti Jimin dan memberikan pipinya untuk di cium. Setelah mencium pipi Yoonji, Jimin berpura-pura berpikir dan meminta Yoonji memberikan pipinya lagi untuk di cium.
"Sudah wangi setelah Papa cium" Jimin meletakkan telapak tangannya dileher Yoonji untuk memastikan kalau deman Yoonji sudah turun.
"Benarkah? Yoonji, coba kesini Appa cium" Yoongi menarik Yoonji yang kembali menurut. Mau-maunya di kerjai oleh orangtuanya, kasihan.
"Bagaimana, Appa? Yoonji masih wangi kan?" Yoonji bertanya dengan wajah serius, membuat Jimin dan Yoongi menjadi tidak tega mempermainkan anaknya lebih dari ini. Keduanya tertawa dan memeluk Yoonji bersamaan.
"Ya sudah, setelah mengantarkan Appa kedepan pintu, langsung mandi, oke?" Yoongi menggendong Yoonji untuk berjalan menuju pintu kamar dengan Jimin mengekor di belakangnya.
"Demamnya sudah turun sepertinya" Yoongi melirik Jimin yang berjalan di belakangnya, tangannya menyentuh dahi Yopnji yang masih tertempel kompres demam.
"Sudah hyung, sudah tidak panas lagi" Jimin mengangguk.
"Papa, bukan hyung, tapi Appa" koreksi Yoonji.
"Dengar itu, Papa?" Yoongi terlihat mendukung Yoonji dengan serius.
"Siap Boss, Papa salah bicara…" Jimin terkekeh karena anaknya mengoreksi ucapannya.
.
.
.
"Mimo, ayolah, bantu aku sekali ini saja…. Appa pasti merebusku kali ini." Mino berjalan mondar-mandir dengan ponsel tertempel di telinga di depan pintu kelasnya. Baru saja dia dipanggil keruangan kesiswaan karena memecahkan kaca jendela.
"Kali ini apa lagi, monyet kecil?" Stella memutar bola matanya jengah.
"Aku tidak sengaja memecahkan kaca jendela, Mimo. Mimo harus datang sebagai perwakilan orangtua untukku sebelum pihak sekolah menelepon Appa…." Rengek Mino.
"Kenapa kau memecahkan kaca lagi? Astaga… Mimo bahkan belum tidur sama sekali dan sekarang kau minta Mimo datang ke sekolahmu?"
"Jadi Mimo lebih mementingkan waktu tidur Mimo, daripada Monyet kecil Mimo yang bisa saja direbus Appa? Mimo sudah tidak sayang padaku lagi?" Mino merengek lagi.
"Setengah jam lagi, oke?" Stella member penawaran.
"Tidak, itu terlalu lama. Lima belas menit, oke?"
"Astaga… kalau tidak mengingat kau adalah anak dari anak tersayangku Kitten, aku tidak akan mau repot-repot mengurusmu, Monyet kecil. Baiklah, Mimo dalam perjalanan kesekolahmu" putus Stella.
"Mimo memang yang terbaik. Aku menyayangimu, Mimo…" Mino menberi ciuman dari telepon untuk Stella dari ponselnya.
Mino memutuskan sambungan teleponnya pada Stella. Setidaknya, sekarang dia bisa bernafas sedikit lega. Dia bisa kembali ke ruang kesiswaan dan mengatakan kalau Appanya tidak bisa datang, dan yang menggatinkannya adalah Stella.
Mino berlari kencang menuju ke ruang kesiswaan, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Mino menerobos masuk dengan napas terengah, mendudukan diri di depan meja gurunya tanpa di minta.
"Mimo akan datang sebagai perwakilannya, Pak" Lapor Mino.
"Mimo? Apa yang kau bicarakan, Bocah? Bapak baru saja menelepon Appa-mu, dia dalam perjalanan kesini.
Mino hampir menangis mendengar ucapan guru dihadapnnya. Tamatlah dia kali ini.
"Kenapa anda menelepon Appa-ku…."Mino berguman penuh penderitaan.
"Apa maksudnya, dengan kenapa? Tentu saja karena tuan Min adalah Appa-mu. Orangtua mu" tekan sang guru.
"Tamatlah sudah…" Guman Mino putus asa.
Lima belas menit sudah Mino duduk dihadapan guru bagian kesiswaan dan Mino terus-terusan berdoa agar Stella-lah yang muncul lebih dulu ketimbang Appa-nya. Dada Mino berdebar keras saat pintu kaca ruang kesiswaan diketuk dari luar. Secepat cahaya, kepala Mino berbalik menuju kearah pintu, saat siluet bayangan wanita muncul disana, Mino bernapas lega. Stella sudah ada di depan sana.
"Itu Mimo!" Mino berdiri dan membukakan pintu bagi Stella.
Sebelum masuk kedalam ruangan, Stella membungkuk pada guru kesiswaan yang duduk dibalik meja dan tersenyum ramah.
"Selamat siang…" Stella menyapa lebih dulu.
"Ah, ya, silahkan duduk, Nona" Sang guru mempersilahkan.
Mino berjalan lebih dulu masuk keruangan dan mempersilahkan Stella duduk dikursi yang tadi ditempatinya, sementara Mino lebih memilih untuk berdiri dibelakang Stella.
"Maaf mengganggu waktu anda…" mulai sang guru.
"Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu. Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan keponakan saya" hilang sudah sifat ramah Stella diawal, Mood-nya rusak karena guru kesiswaan didepannya tidak berkedip sama sekali melihat belahan dada Stella yang sedikit terlihat.
"Oh…ah.. ya… itu…" Guru kesiswaan itu salah tingkah karena Stella mendingin.
"Damn this Asshole…" maki Stella pelan sekali.
"Ehem…" sang guru berdehem. "Begini nona, Mino, sudah memecahkan kaca…"
"Aku tau. langsung saja pada intinya" Stella memandang tajam guru didepannya. "Berapa kerugian yang harus ku ganti atas kecerobohan keponakan saya" tembak Stella.
"Itu…"
"Maaf saya terlambat.."
Suara berat itu membuat Mino berjengkit ketakutan. Dia hapal suara berat itu, itu suara Appa-nya. Mino menelan ludahnya susah payah.
"Tuan Min?" guru kesiswaan itu berdiri dan membungkuk.
"Stella?" Yoongi melirik Stella yang duduk santai dikursi, tak terpengaruh sama sekali dengan kehadiran Yoongi disana.
"Appa…" Panggil Mino takut-takut.
"Tak apa, jangan takut" Yoongi menepuk bahu Mino dua kali dan duduk disamping Stella.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan yang dibuat oleh Mino?" Yoongi bertanya santai, tapi aura mendominasi langsung mengelilingi ruangan, membuat guru didepan mereka sedikit ngeri, ditambah lagi tatapan intens dari Stella untuknya, membuat nyalinya ciut.
"Maaf sudah membuat anda harus datang kesekolah sepagi ini…"
"Langsung saja, jangan bertele-tele" sela Yoongi.
"Menurut peraturan sekolah, anda diwajibkan membayar ganti rugi kerusakan yang dibuat oleh anak anda" terang sang guru.
"Lalu?" Stella bertanya mewakili Yoongi.
"Dan Mino harus menerima surat peringatan pertamanya"
"Hanya karena tidak sengaja memecahkan kaca?" Stella menaikkan alisnya, tidak suka dengan keputusan sang guru yang memberi Mino SP. Aura yang mengelilingi Stella seperti menghitam dan semakin pekat.
"Tidak masalah jika anak saya menerima SP pertama" Yoongi memutuskan untuk mengikuti aturan, tapi macan betina disebelahnya seperti siap menerkam siapa saja yang menentangnya.
"The fu*ck? Mino hanya TIDAK SENGAJA memecahkan kaca. It's an accident, you Asshole! Akan lebih masuk akal kalau Mino menerima SP karena berkelahi atau membolos! You guys, so idiot!" Maki Stella tanpa bisa dicegah.
Guru kesiswaan itu mendadak gugup melihat betapa mengerikannya Stella mengamuk dan betapa mengerikannya Yoongi yang terlalu tenang setelah dimaki bertubi-tubi.
"Jadi, apa Mino akan menerima SP-nya?" tantang Stella.
"Be-begini nona Stel…"
"Gosh, I hate this dumb. Just say it, yes or no!" ucap Stella tak sabar.
"Stella, tenanglah" tegur Yoongi.
"Shut. up" Stella memutar bola matanya, kesal.
"Mimo… santai sedikit" ucap Mino merasa tak enak hati pada gurunya.
"Oke, Baby boy" Stella menyilang kakinya, duduk dengan santai dan mata yang seolah menguliti guru didepannya.
"Jadi, keputusannya adalah kami harus ganti rugi dan Mino mendapatkan SP-nya, ada lagi?" Yoongi mengambil kesimpulan.
"N-ne tuan Min…" ucap sang guru takut-takut dan melirik Stella beberapa detik. "Tidak ada, hanya itu saja…" putus sang guru.
"Apa kami bisa pergi?" Yoongi tersenyum ramah, tapi sang guru merasakan aura lain dari senyum ramah namja pucat itu.
Tidak ingin berlama-lama merasa terintimidasi, guru kesiswaan itu memperbolehkan keluarga Min itu untuk keluar dari ruangannya.
.
.
.
"Jadi, bisa ceritakan pada Papa, kenapa kau memecahkan kaca jendela?" Jimin bertanya pada anak sulungnya yang sedang disulangi makan dan masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Tidak sengaja, Papa. Kami sedang pelajaran olahraga, Jinwoo mengoper bola padaku, dan aku bersumpah kalau sudah memperhitungkan kalau tendanganku akan masuk kegawang, tapi ternyata meleset dan kena kaca jendela, Pa" cerita Mino sambil mengunyah makanannya.
"Ini bukan pertama kalinya kau memecahkan kaca jendela, Mino" Jimin menyulangkan lagi nasi kedalam mulut Mino.
"Aku hanya sedang tidak beruntung saja, Pa. Biasanya tendanganku tepat sasaran" Mino membela diri.
"Jangan membuat Appa marah, tau sendiri kalau Appa sedang marah itu bagaimana…" Nasehat Jimin.
Mino mengangguk. "Tapi aku benar-benar tidak sengaja melakukannya"
"Sudah minta maaf pada Appa?" Jimin memberikan gelas berisi air untuk Mino.
"Sudah tadi, disekolah…"
"Kenapa memanggil Mimo kesekolah?" Jimin menyipitkan matanya, memandang anak sulungnya dengan curiga.
"Hehehehe tadinya aku tidak ingin Appa dan Papa tau masalah ini, tapi guru itu sudah menelepon Appa. Dasar pengadu…"
"Dasar…" Jimin hanya tertawa kecil melihat anak sulungnya yang sering manja, bahkan setelah Mino memiliki adik.
"Papa, dimana Yoonji? Apa dia sudah sembuh?" Mino melirik ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan adik kecilnya.
"Sedang tidur siang. Demamnya kambuh lagi setelah Appa pergi kerja…" cerita Jimin.
"Ah… kasihan sekali…" Mino menatap sedih pintu kamar Yoonji.
"Cepat habiskan makanmu…" Jimin mengingatkan dan menyuapi Mino lagi.
Setelah selesai makan, Mino permisi untuk melihat Yoonji dikamar. Jimin hanya menggeleng dan membereskan piring sisa makan Mino. Seperti kebiasaan bertahun-tahun, Mino selalu makan dengan disuapi oleh Jimin. Bahkan Yoonji bisa lebih mandiri dalam urusan makan ketimbang Mino.
Selesai membereskan makanan Mino dengan dibantu oleh asisten rumah tangganya, Jimin duduk kembali diruang tamu atas sambil menonton televise. Jimin melirik pada dinding diatas TV dimana ada foto Mino dan Yoonji terpajang besar. Jimin merasakan hangat didadanya.
Jimin tidak pernah berpikir kalau pernikahannya bisa bertahan selama ini, mengingat reputasi Yoongi dimasa lalu. Tentu ada saja masalah dan kesalahpahaman yang terjadi antara Yoongi dan Jimin yang membuat mereka bertengkar selama ini. Dan Jimin takjub begitu menyadari sudah lima belas tahun dia hidup bersama dengan namja super arogan, Min Yoongi.
Saat sedang sibuk mengenang masa lalunya, Jimin terkejut saat Yoongi langsung menjatuhkan tubuhnya diatas Jimin.
"Aku ingin istirahat…" Ucap Yoongi. Suaranya teredam di dada Jimin.
"Bayi besarku sudah pulang, tumben?" Jimin memeluk kepala Yoongi, menaikkan kedua kakinya kesofa, membuat dia bersandar di lengan kursi, dengan Yoongi menelungkup di dada dan diantara kakinya.
"Pekerjaanku jadi lebih ringan karena ada Wonho" Yoongi mengeratkan pelukannya di pinggang Jimin dengan wajah yang masih terkubur didada Jimin.
"Hey, jangan memanfaatkan adik ipar untuk kepentinganmu sendiri. Wonho juga punya keluarga, dia juga butuh waktu untuk bersama Hyungwon dan anaknya" Nasehat Jimin.
"Aku tidak memanfaatkannya" Yoongi membela diri. "Dimana anak-anak?" Yoongi mendongak dan dihadiahi kecupan di bibir oleh Jimin.
"Dikamar Yoonji."
"Sedang apa mereka? Kenapa senyap sekali?" Yoongi sedikit mengintip kearah pintu kamar Yoonji yang terlihat dari sofa.
"Yoonji sedang tidur, tadi demamnya kambuh setelah hyung pergi ke kantor. Mino… mungkin sedang main ponsel sambil menunggu Yoonji bangun"
"Demamnya kambuh lagi? Apa perlu kita bawa ke dokter lagi?" Yoongi bertanya dengan raut wajah khawatir yang ketara. Jimin tersenyum, merasakn hatinya menghangat karena dibalik sifat Yoongi yang kaku, Yoongi adalah sosok ayah yang penyayang.
"Tidak perlu, hyung. Demamnya tidak setinggi kemarin…" Jimin mengelus rambut Yoongi yang berubah menjadi hitam legam. Jimin memainkan jarinya dirambut Yoongi yang sudah kembali bersandar didada Jimin.
"Mino diberi surat peringatan dari sekolah" Cerita Yoongi.
"Oh ya?"
"Dan Stella mengamuk…" sambung Yoongi.
"Huh? Kenapa Mommy mengamuk?" Jimin mau tidak mau tertawa kecil, bisa dia bayangkan seperti apa Stella setiap kali mengamuk.
"Kau tau sendiri kalau Stella sangat menyayangi monyet kecilnya, Mochi kesayangannya, tentu saja dia mengamuk begitu tau Mino diberi surat peringatan"
"Aku bisa membayangkan bagaimana Mommy membela Mino didepan gurunya…" Jimin tertawa kecil. Mengubur wajahnya dirambut Yoongi.
"Tidak ada yang lucu, Park Jimin…" Yoongi memutar matanya mendengar tawa kecil Jimin.
"Hehehe, hyung…" Jimin menegakkan kepalanya lagi. Suaranya memelan saat memanggil Yoongi.
"Hm? Kenapa berbisik?" Yoongi mendongak untuk melihat Jimin.
"Aku mencintaimu…" Bisik Jimin pelan sekali. Jimin bisa merasakan pipinya memanas. Tidak peduli berapa ribu kali Jimin mengatakannya, Jimin akan tetap memerah setiap mengungkapkan cintanya untuk Yoongi.
"Kau sudah tau apa jawabanku, kita bahkan sudah punya dua anak…" Yoongi yang pada dasarnya adalah pria kaku, tentu saja membalas pernyataan cinta Jimin dengan caranya.
"Huh? Apa susahnya sih tinggal menjawab aku juga mencintaimu?" Jimin merengut kesal.
Yoongi menaikkan kedua alisnya, menatap lurus pada Jimin yang sudah membuang pandangannya dari Yoongi. Dasar perusak suasana.
Yoongi menaikkan tubuhnya, membuat wajahnya dan Jimin menjadi sejajar. "Aku juga mencintaimu, Park Jimin…." Yoongi terkekeh.
Jimin membalas tatapan mata Yoongi dengan wajah yang masih terlihat kesal. Jimin menangkup kedua pipi pucat Yoongi dengan kedua tangannya dan menatap makin tajam pada mata Yoongi.
"Kau menyebalkan, hyung…" Jimin mengungkapkan perasaannya lagi.
"Ya, aku tau…" Yoongi tidak menyangkal.
"Kau adalah orang paling menyebalkan sebumi"
"Ya, tapi kau mencintaiku…"
"Dasar Min menyebalkan…"
"Hem? Tapi si menyebalkan ini adalah suamimu…" balas Yoongi.
"Ya, dan aku sudah menikah dengan orang yang menyebalkan ini selama lima belas tahun…"
"Huh? Lima belas tahun?" Yoongi terkejut mendengar ucapan Jimin. Selama ini dia tidak pernah menghitung sudah berapa lama dia dan Jimin bersama. Yang dia tahu, Jimin dan anak-anaknya harus bersamanya selamanya.
"Jangan bilang kalau hyung lupa"
"Aku hanya tidak menghitungnya, sayang…"
"Alasan.." Jimin mencibir.
Yoongi terkekeh dan mengecup bibir Jimin. Awalnya hanya kecupan, tapi bukan Min Yoongi namanya kalau tidak memanfaatkan keadaan sepi dirumah. Dia melumat bibir Jimin tanpa ampun. Ini bukan pertama kalinya Yoongi mencuri-curi kesempatan. Semenjak punya anak, Jimin sudah dimonopoli oleh anak-anaknya sepanjang hari, sementara jatah Yoongi hanya saat anak-anaknya sudah tidur dan ini adalah kesempatan langka karena anak-anaknya sedang istirahat disiang hari.
Tangan Yoongi sudah masuk kedalam kaos yang dikenakan Jimin, meraba kemana saja yang bisa disentuh oleh jari-jarinya, sementara Jimin membiarkan Yoongi melakukan semaunya dan sedikit melupakan anak-anaknya yang bisa saja keluar dari kamar kapan saja.
"Oppa, dimana Appa…" suara Yoonji terdengar dari kamarnya yang terbuka, membuat Jimin tersadar dan mendorong Yoongi yang sudah turun menciumi lehernya.
"H-hyung…. Yoonji sudah bangun…" Jimin mendorong bahu Yoongi sekali lagi.
Yoongi yang merasa acaranya terganggu hanya bisa menghela napas pasrah. Dia harus menunggu sampai malam hari untuk bisa memonopoli Jimin untuknya sendiri. Memangnya Yoongi bisa apa jika sudah berhadapan dengan anak-anaknya?
Jimin merapikan bajunya yang sudah tersingkap keatas dan juga rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah selesai merapikan diri, Jimin melirik Yoongi yang sudah duduk di sofa, rambutnya berantakan karena Jimin meremasnya selama berciuman.
"Hyung, kemari…" Jimin menarik Yoongi mendekat dan merapikan rambut suaminya.
"Tolong cium aku sekali lagi…" ucap Yoongi putus asa sambil memandang Jimin yang sedang merapikan kemeja dan rambutnya.
Jimin melirik ke arah kamar Yoonji sebentar dan memberikan Yoongi ciuman. Tadinya Jimin ingin menyudahi ciuman itu, tapi Yoongi menarik pinggang Jimin, dan memperdalam ciuman mereka. Merasa panic, Jimin menggigit lidah Yoongi pelan, agar Yoongi berhenti menciumnnya.
"Hyung! nanti anak-anak lihat!" Jimin memperingati.
"Ne, maafkan aku" Yoongi mengalah.
"Nanti malam, oke? Aku milikmu…" Jimin mengelus pipi Yoongi dan mengecupnya singkat, "Ayo ke kamar Yoonji" Jimin menarik Yoongi paksa.
.
.
.
"Appaaaa…" Yoonji langsung turun dari atas tempat tidur begitu melihat Yoongi muncul di depan pintu. Yoongi langsung menangkap tubuh kecilYoonji kedalam gendongannya dan kembali membawa Yoonji ketempat tidurnya.
"Jangan lari-lari, Yoonji…" Yoongi mengingatkan. "Sudah makan?" Yoongi meletakkan telapak tangannya diatas kepala Mino yang sibuk dengan ponselnya diatas tempat tidur Yoonji.
"Sudah Appa" Mino menjawab sambil meletakkan ponselnya diatas tempat tidur.
"Appa, apa besok Yoonji boleh ke sekolah seperti Mino Oppa?" Yoonji duduk diatas pangkuan Yoongi sambil memandang wajah Yoongi penuh harap.
"Kalau sudah sembuh, baru boleh sekolah" jawab Yoongi.
"Kalau belum sembuh?"
"Tidak boleh sekolah, nanti teman-teman Yoonji disekolah bisa terkena sakit juga…" jelas Yoongi.
"Yoonji mau sembuh Appa…" ucap Yoonji semangat.
"Kau harus sembuh, bocah. Aku kesepian tidak mendengar pertanyaan-pertanyaanmu yang mengganggu itu…" Mino berucap santai.
"Ne, Appa, kalau Yoonji sudah sembuh, apa Yoonji boleh pergi ke kebun binatang lagi bersama Mimo?" Tanya Yoonji lagi.
"Tentu"
"Kalau Yoonji sudah sembuh, apa Yoonji boleh menonton princess lagi?"
"Eum.. ya.. boleh…"
"Kalau Yoonji sudah…."
"Ya Yoonji, boleh… boleh…" potong Mino. Jika di biarkan, Yoonji bisa bertanya seharian tanpa henti.
"Tidak boleh begitu pada adikmu, Mino.." Nasehat Jimin.
"Yoonji sudah mulai cerewet, dia pasti sudah sembuh, Papa…" Mino tersenyum, merasa bersalah.
"Ah, Appa, Papa, Taeyong bilang dia akan punya adik" Yoonji memulai.
"Oh ya?" Jimin menaikkan alisnya. "Jungkook ahjussi tidak ada cerita apa-apa soal ini"
"Mungkin Kookie ahjussi lupa. Tapi Taeyong bilang dia akan punya adik, Papa…" lanjut Yoonji.
"Lalu? Kau ingin punya adik lagi?" Mino menaikkan alisnya. Rasanya dia bisa menebak arah dari pembicaraan adiknya ini. Pasti adiknya iri dan ingin punya adik juga.
"Eum… apa Papa dan Appa bisa membelikan Yoonji adik juga?" Tanya Yoonji polos.
"Sudah kutebak…" Mino menaikkan alisnya tak setuju.
Sementara Jimin sudah gugup sendiri dan melirik Yoongi yang juga meliriknya, meminta bantuan pada Yoongi untuk menjawab pertanyaan polos anak bungsunya itu.
"Begini, Yoonji-a, adik bayi itu tidak bisa dibeli…" Yoongi menjelaskan dengan bingung.
"Benar, Yoonji-a, adik bayi itu tidak dibeli…" Jimin mengiyakan.
"Lalu, bagaimana adik bayi bisa datang?" Yoonji dan sejuta pertanyaan polosnya.
Jimin duduk dengan gugup disamping Mino. Sementara Yoongi sudah kebingungan harus dengan apa dia menjelaskan datangnya adik bayi pada anak seumur Yoonji.
"Apa Yoonji harus jadi anak baik dulu baru adik bayi mau datang kerumah?" Tanya Yoonji lagi.
"Bocah, kalau kau punya adik, kau harus rela membagi Appa dan Papa padanya. Seperti Oppa membagi Appa dan Papa padamu…" Mino menjelaskan.
"Tidak masalah. Yoonji juga sering membagi roti pada Taeyong, Yoonji tidak merasa keberatan" Yoonji menjawab dengan polos, mengibaratkan kedua orangtuanya adalah sepotong roti.
"Appa dan Papa tidak bisa hanya memperhatikanmu lagi, kalau kita punya adik…" sambung Mino.
"Kenapa?" Yoonji bertanya tidak terima.
"Karena adik bayi belum bisa makan sendiri, mandi sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Jadi, Papa dan Appa harus membagi kasih sayang pada adik bayi, nah, karena kau sudah bisa mandiri, kau tidak akan di perhatikan lagi, bagaimana?" Mino memutar bola matanya.
"Yoonji bisa membantu Appa dan Papa menjaga adik bayi…" Yoonji berkeras.
"E.. Yoonji-a,bagaimana kalau kita menonton princess?" tawar Jimin untuk mengalihkan perhatian Yoonji dari bahasan soal adik bayi.
"Ah, Appa, aku baru ingat, kata Namjoon Ahjussi, Seokjin Ahjussi akan melahirkan anak ketiga minggu ini…" Mino menegakkan tubuhnya.
"Oh ya?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Ne. Kemarin Namjoon ahjussi bercerita padaku…"
"E… bisa kita menonton Princess sekarang?" Jimin mengalihakan pembicaraan.
.
.
.
END
Kakak-kakaaaakkk…..
ini udah aku kasih lanjutannya loh…
Makasi banget udah suka sama FF ini.
*Ketjup satoe-satoe*
