Chapter 2
Disclaimer: J. K Rowling
Warning: OOC, typo(s), slash, bl
.:.
"Mari berkencan!" Kata Draco dengan semangat sambil berjalan keluar, tanpa peduli ekspresi melongo Harry.
Harry tersadar lalu mengejar Draco keluar cafe. Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir motor, dan Harry memecah keheningan.
"Um, by the way, kita mau nonton apa?" Tanya Harry basa-basi.
"Kita akan nonton Wonder Woman. Sekarang baru jam 8 lewat beberapa menit, bagaimana kalau-"
"WONDER WOMAN? LIKE, WONDER WOMAN?! Oh My God, you know what? I really love superhero movies!" Teriak Harry excited.
"Wow, Harry, tak perlu teriak seperti itu. Tak salah, 'kan, aku memilih film itu? Ku dengar filmnya sangat bagus dan para kritikus juga memberikan komentar yang sangat positif tentang film itu," Kata Draco dengan perasaan bangga.
"Yeah, aku tahu. Hanya saja, aku beruntung sekali bisa menontonnya di hari pertama film itu dirilis. Sudah lama aku tidak menonton film lagi karena.. um, dulu pernah ada insiden, yang membuatku takut untuk berinteraksi dengan siapapun. Ah, itu tidak penting lagi sekarang," Kata Harry.
Draco yang mendengarnya hanya bisa melihat Harry dengan tatapan tak terbaca. Ia melihat menunduk, tersenyum sedih. Draco tidak tahan dengan kesunyian ini. Ia menyalakan motornya dan memberikan helm pada Harry.
"C'mon, Harry. Aku tidak akan ngebut-ngebut, kau tenang saja," Kata Draco berusaha meyakinkan.
Harry menaiki motor Draco dengan ragu-ragu. Ia mengencangkan helmnya. Draco yang melihatnya hanya menyeringai.
"Kau boleh memelukku, Harry,"
Harry memberinya tatapan kaget dan refleks memeluk Draco karena tiba-tiba Draco menjalankan motornya.
"So far, that was the best movie I've ever seen," Harry mengatakannya dengan wajah yang sedikit memerah karena ia terlalu senang.
Draco menyeringai, "Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku hanya makan brownies di cafe tadi,"
"Tidak, aku langsung pulang saja. Rumahku tidak jauh dari sini, kok," Kata Harry berusaha menolak.
"No, Harry. Kau tidak boleh menolakku. Kita teman sekarang. Biarkan aku menraktir temanku lagi, okay?" Kata Draco sedikit memaksa.
Harry menimang-nimang ajakan Draco. Bagaimanapun mereka baru kenal beberapa jam yang lalu. Tapi mengapa ia merasa sudah kenal Draco sejak lama? Dan mengapa pula ia percaya pada Draco? Bagaimana ia bisa tahu jika Draco tidak akan menipunya? Mengapa ia merasa nyaman padahal mereka baru sekali jalan bersama? Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa Harry jawab sekarang. Lagipula, Draco adalah adik dari bos Harry, dan Daphne adalah orang baik, ia sudah percaya pada Daphne, sepenuhnya. Tidak salah, 'kan, kalau Harry percaya juga pada Draco?
"Okay, kita mau makan di mana?" Kata Harry menghela nafas lalu tersenyum.
"Aku tahu restoran enak dekat sini yang memiliki menu rahasia dan hanya aku yang tahu menu rahasia itu," Kata Draco dengan sombong. Mereka mulai berjalan menuju restoran tersebut.
"Hanya kau yang tahu? Memangnya restoran itu punyamu?" Kata Harry tidak percaya.
"Lihat saja nanti, Harry," Draco menyeringai.
Mereka berjalan beriringan sambil berbicara santai. Draco menatap pemuda yang lebih pendek darinya itu selagi Harry berbicara. Harry banyak bercerita. Draco baru tahu ternyata Harry tidak berkuliah, karena menurut Hugo, Harry tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya Hugo lah yang akan membiayai kebutuhan hidup Harry.
"Tetap saja aku merasa tidak enak padanya, Draco. Ia kelihatan sibuk sekali semenjak aku tinggal di rumahnya. Ia juga belum punya istri karena sibuk dengan pekerjaannya dan mengurusi aku. Padahal aku bukan anak kecil lagi, 'kan-- oh, terima kasih, Draco," kata Harry yang sedikit terkejut saat Draco membukakan pintu restoran untuk Harry.
Restoran tersebut bernama "Zabini's", dan ya, restoran ini milik Ayah dari Blaise Zabini. Mereka memilih duduk di kursi langganan Draco yang kebetulan kosong. Ayah Blaise yang melayani Draco langsung karena ia melihat Draco datang dengan seseorang.
"Selamat malam, Draco. Kulihat kau membawa seseorang ke sini," kata Mr. Zabini penuh selidik.
"Selamat malam, uncle. Perkenalkan, ini Harry Potter, teman baruku," kata Draco mengenalkan Harry. Harry menjabat tangan Mr. Zabini.
Mr. Zabini menyeringai mendengar perkataan Draco, "Teman baru? Atau sesuatu yang lain?"
"Teman baru, uncle. Untuk saat ini," Kata Draco dan membisikkan kalimat terakhir agar tidak ketahuan Harry.
"Menu seperti biasa, Draco? Atau kau ingin yang lain?" Tanya Mr. Zabini menanyakan pesanan Draco.
"Aku ingin yang seperti biasa, uncle. Dan untuk Harry.."
"Sama dengan Draco,"
"Menu yang sama, uncle. Untuk dua orang," kata Draco.
"Okay, silakan ditunggu selama 15 menit." Kata Mr. Zabini lalu pergi ke Dapur.
Harry merasa tidak enak pada Draco. Kelihatannya restoran ini sangat mewah dan berkelas. Tidak cocok untuk di kunjungi oleh pria tidak berkelas seperti dirinya. Draco yang melihat ketidaknyamanan Harry pun langsung membuka pembicaraan.
"Jadi, Harry. Karena kau temanku, maukah kau bercerita sedikit tentang dirimu?" Kata Draco memulai.
"Sebenarnya aku sudah cerita banyak tadi sebelum masuk ke restoran ini, tapi, baiklah. Kau pasti sudah tau tentang insiden masa lakuku, 'kan? Daphne pasti sudah cerita padamu karena aku melihat kalian sedang berbicara serius saat aku ingin berganti baju." Kata Harry.
"Yeah, dan aku minta maaf karena kau mengalami hal seperti itu. Itu sangat keterlaluan dan tidak manusiawi. Apa dia masih mengganggumu Harry?" Kata Draco
"Lima bulan sejak kejadian itu, ia datang ke rumah Hugo untuk meminta maaf padaku dan bilang ia ingin bersamaku lagi. Saat itu Hugo sedang bekerja, jadi aku sendirian di rumah. Aku menolaknya, Draco. Walaupun aku sempat luluh karena aku melihat ketulusan dia, tetap saja aku takut hal itu terulang lagi. Saat aku melihat dia pun, aku sedikit bergetar, namun aku berusaha menutupinya dan menghadap dia dengan berani. Aku berusaha sopan dengan mengajak ia duduk di ruang tamu, memberikannya teh, lalu aku tunggu sampai ia berani berbicara duluan," kata Harry menjelaskan.
"Aku tetap menolaknya karena aku sudah berjanji tidak mau bersamanya lagi walaupun ia sudah tulus atau bahkan sudah berubah. Sejak itu ia tidak datang menggangguku lagi sampai sekarang. Ia membuatku trauma untuk berhubungan dengan seseorang. Hugo benar-benar terpukul melihatku down seperti itu. Ia merasa dikhianati oleh orang yang ia kira bisa melindungi adiknya." Kata Harry melanjutkan.
Draco mendengarkan cerita Harry dengan perasan kagum karena Harry bisa melewati semua itu. Draco bahkan mengamati cara Harry bercerita seperti itu insiden orang lain. Harry bercerita dengan santai, tanpa takut, dan berani. Padahal ia bercerita tentang masa lalu nya yang menakutkan.
"Entah kenapa aku merasa bangga padamu, Harry. Aku ingin bertanya, kita baru kenal, dan aku sudah lancang mengajakmu menonton, ku akui aku sangat terkejut saat kau menerima ajakanku. Kenapa kau percaya padaku Harry?"Kata Draco berusaha tidak terlalu penasaran.
"Entahlah, aku hanya merasa kau tidak akan menyakitiku. Jadi aku percaya padamu. Mungkin kau nanti akan di 'tatar' habis-habisan oleh Hugo karena mengajakku jalan," kata Harry berusaha bercanda.
"Terima kasih sudah memperingatkanku, Harry. Tapi, tidak, aku tidak takut. Seorang Malfoy tidak mungkin takut. Ia berani terhadap apapun--terima kasih," kata Draco dengan sombong sambil berterima kasih kepada pelayan saat makanan mereka datang. Harry tersenyum meledek pada Draco.
Mereka makan dengan tenang. Draco melihat Harry dengan pandangan yang sulit diartikan. Draco benar-benar sudah jatuh hati pada pemuda bermata hijau ini. Harry yang melihat Draco sedang menatapnya merasa gugup, tapi ia tetap makan. Draco tidak tahu kalau sebenarnya Harry sudah deg-degan saat Draco mengajaknya nonton. Ia seperti merasa suka dengan seseorang lagi seperti dulu. Tetapi Harry berusaha menahannya, ia takut Draco sama saja dengan masa lalunya. Lebih baik jika mereka berteman dulu. Lagipula tidak ada salahnya berteman, 'kan?
.:.
"Oh! Sebentar, Draco. Aku ingin beli es krim dan cokelat di sana dulu, ya," kata Harry tiba-tiba. Tanpa sempat Draco membalas perkataan Harry, ia melihat Harry sudah berlari meninggalkannya menuju toko es krim "Florean Ice Cream and Chocolate". Draco hanya geleng-geleng kepala. Harry masih polos dan menyukai makanan manis. Draco memutuskan untuk menghampiri Harry dan memasuki toko es krim tersebut. Ia melihat Harry sedang memilih-milih es krim.
"Kau mau, Draco? Kau mau rasa apa?" Tanya Harry saat ia merasa Draco di sampingnya.
"Well, aku tidak makan es krim Harry," kata Draco.
"Kau harus makan es krim disini, Draco. Mereka menjual hanya yang terbaik dari yang terbaik," kata Harry berusaha memaksa.
"Tidak, Harry.. aku--"
"Sir, aku ingin yang rasa vanilla dan mint. Dan aku ingin cokelat itu-- ya! Yang itu," kata Harry memotong pembicaraan Draco. Draco hanya diam saat perkataannya dipotong. Kenapa Harry bisa tahu kalau Draco suka mint? Atau, yang mint itu untuknya, dan yang vanilla untukku? Ah, sudahlah. Ia lihat Harry mulai membayar, seketika Draco langsung tersadar.
"Harry, biar aku saja yang baya--"
"No, Draco, please, biarkan aku menraktirmu kali ini. Kau sudah menraktirku dua kali, kalau kau lupa," Kata Harry memotong perkataan Draco lagi dan memberinya tatapan memohon.
Draco hanya pasrah melihat puppy eyes seperti itu. Ia kalah, God.
Di tangan Harry sudah ada dia es krim. Ia memberi Draco es krim rasa mint, sedangkan vanilla adalah miliknya. Ternyata benar, yang mint untuk Draco. Mereka keluar toko dan memutuskan untuk berjalan kaki sebentar sambil makan es krim.
"Terima kasih sudah memberiku ini, Harry. Tapi, kenapa kau memberiku rasa mint?" Tanya Draco sangat penasaran.
"Um, aku hanya mencium aroma mint dari baju yang kau pakai, dan juga, tanganmu dingin, seperti rasa mint," Harry menjelaskan dengan wajah sedikit memerah.
Draco tidak menyangka alasan Harry seperti itu. Ia pikir Harry stalking Draco diam-diam. Atau mengumpulkan informasi tentang Draco. Atau pengagum rahasia Draco. Draco terlalu berharap. Dan ia sangat suka aroma mint. Tapi ia merasa senang, Harry memberinya alasan yang Draco cukup yakin Harry akan cepat mengenalnya dengan hanya hal kecil saja.
Draco menjilat es krimnya pelan-pelan dan sedikit-sedikit. Draco tidak makan es krim karena ia tidak suka dengan rasa dingin di dalam mulutnya. Di tambah, es krimnya rasa mint. Tambah dingin aja, deh.
"Draco, kenapa makan es krimnya seperti itu?"
"Harry, kenapa es krim mu sudah mau habis?"
Harry melihat cup es krimnya. Ia memang cepat kalau makan es krim, apalagi jika es krimnya rasa favorit Harry, yaitu vanilla.
"Aku memang suka es krim. Draco, jika kau makan seperti itu terus, es krimnya akan mencair, dan nanti namanya bukan es krim lagi," kata Harry bawel.
"Tidak apa-apa, Harry. Aku lebih senang jika es krimnya mencair. Itu berarti mulutku tidak akan merasakan dingin," kata Draco kalem.
"Sini, berikan padaku," perintah Harry yang membuat Draco terkejut.
"Mau kau apakan es krimnya, Harry?" Tanya Draco dengan heran.
"Berikan saja, Draco," kata Harry sekali lagi.
Draco hanya memberikan es krimnya masih dengan keheranan. Ia melihat Harry menyendokkan es krimnya, dan menyodorkan sendoknya pada Draco. Harry akan menyuapi Draco. Harry menaikkan alisnya dan memberinya tatapan 'Buka mulutmu.'. Draco menurut, ia membuka mulutnya dan membiarkan Harry menyuapinya. Sepertinya ada kupu-kupu di dalam perut Draco.
"Harry, kau tidak perlu repot seperti itu, aku bisa sendiri," kata Draco berusaha menolak halus dan sok cool, walaupun sebenarnya berharap Harry melanjutkan kegiatannya menyuapi Draco.
"Dan membiarkan es krim ini cair di tanganmu? Tidak, Draco." Kata Harry dengan keras kepala.
"Baiklah kalau kau memaksa," kata Draco berusaha untuk tidak terlalu kelihatan bahagia dan gugup.
Harry tetap melanjutkan kegiatannya menyuapi Draco. Ia sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba ia berinisiatif menyuapi Draco, seperti orang pacaran saja. Mereka kan hanya teman, walaupun sebenarnya Harry berharap lebih, dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Sesekali Harry menyuapi Draco dengan gaya pesawat, yang membuat Draco tertawa karena Harry seperti anak kecil. Harry hanya tertawa dan kadang-kadang ia sengaja menyuapi Draco dengan salah, bukannya masuk ke mulut, malah kena hidung Draco.Hidung Draco sangat lengket karena tidak sekali Harry sengaja mengenai es krimnya ke hidung Draco.
Draco merasa bahagia. Sangat bahagia. Sepanjang hidupnya belum ada yang membuat Draco sebahagia ini. Jalan-jalan kecil yang tidak terencana ini menjadi momen yang paling Draco sukai. Padahal mereka hanya menonton, makan malam, dan makan es krim. Biasa saja. Tetapi keberadaan Harry membuatnya sangat spesial. Ia tidak ingin momen ini berakhir. Mungkin ia bisa jalan dengan Harry lagi di lain waktu.
"Terima kasih untuk malam ini, Harry. Aku senang sekali kau bisa menemaniku. Biasanya aku hanya nonton sendiri. Well, kadang-kadang ditemani oleh teman-temanku," kata Draco yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Mereka sudah selesai makan es krim dan sekarang sudah berada di depan motor Draco.
"It's my pleasure untuk menemani adik dari bos kesayanganku," kata Harry ramah.
Draco ingat kalau ia membutuhkan bukti untuk teman-temannya. Dengan gugup ia mengajak Harry berfoto.
"Um, Harry, sebelum kita pulang, kita foto dulu, ya? Untuk kenang-kenangan saja, bukan apa-apa,"
Harry tertawa melihat ekspresi gugup Draco.
"Kau sangat lucu, Draco. Baiklah, ayo foto!" Kata Harry dengan semangat.
'Ia bilang apa tadi? Ia bilang aku lucu? Astaga semoga wajahku tidak terlalu merah,' kata Draco salah tingkah. Ia mengeluarkan ponselnya lalu berfoto bersama Harry. Dua kali foto. Dan hasilnya sangat bagus.
Harry mengeluarkan ponselnya dan menanyakan nomor telepon Draco untuk dikirim fotonya pada Harry. Tanpa pikir panjang Draco memberikan nomornya pada Harry. Draco merasa malam ini adalah malam yang sempurna dalam hidupnya.
Mereka pulang kerumah dalam keheningan yang untungnya tidak canggung. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Draco dengan pikirannya yang bingung bagaimana caranya menghadapi dan minta restu pada Hugo nanti, dan Harry dengan pikirannya yang hanya dipenuhi oleh pemuda berambut pirang platinum ini.
20 menit perjalanan rupanya tidak terasa bagi mereka. Draco mengantar Harry sampai pintu rumahnya.
"Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot mengantarku sampai depan pintu, Draco. Kau boleh langsung pergi," kata Harry.
"Kau mengusirku? Aku hanya ingin melihat-lihat rumahmu saja, mana kakakmu? Aku tidak melihatnya?" Kata Draco.
"Mungkin ia sudah tidur. Akhir-akhir ini dia pulang terlambat karena kerjaan yang menumpuk. Well, Draco? Kau tidak ingin pergi? Bagaimana kalau Hugo melihatmu? Kau mau kena omelannya dia?" Kata Harry perlahan, takut Draco merasa tersinggung. Harry terheran-heran karena Draco tidak pergi juga.
"Okay, okay, aku pergi dulu. Dan, Harry, aku tidak takut pada kakakmu." Kata Draco berusaha tetap tegar dan jalan menuju motornya.
Harry hanya tersenyum mendengarnya. Ia melambaikan tangannya pada Draco. Ketika Draco sudah hilang dari pandangan, Harry menghela napas. Ia tidak kuat menahan perasaannya. Ia pasrah. Tetapi ia juga tidak yakin dengan perasaan Draco padanya. Ia takut salah mengira jika Draco juga punya perasaan yang sama.
Tidak akan ada habisnya memikirkan masalah ini. Lebih baik ia tidur. Besok masih harus kerja. Oh, crap, berarti ia akan bertemu Draco lagi. Ia harus pintar-pintar menahan detak jantungnya.
Tanpa Harry sadari, ada seseorang mengamati interaksi Harry dan Draco dari jendela lantai 2.
.:.
TBC
