Class Special D
All character belong to Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
1999
Class Special D by Putpit
16 Mei 2013
Inspiration:
Death Bell-South Korean Film
2008
Yoon Hong-seung
Konoha High School merupakan sekolah menengah atas swasta terfavorit di Negara Jepang. Dengan sistem pendidikan standar Internasional beserta fasilitas yang mewah nan canggih, membuat para orang tua lebih senang menjaminkan masa depan anak mereka di sekolah ini.
Meskipun terkenal karena elit dan paling diminati, namun Konoha High School adalah sekolah yang penuh persaingan antar siswa. Seluruh siswanya berebut untuk menjadi yang terbaik diantara yang paling baik.
"Gunakan seluruh waktumu untuk belajar karena pengetahuan adalah harta dunia yang paling berharga." Itulah prinsip yang diterapkan oleh Konoha High School. Selama sepuluh jam, para siswa akan disibukan oleh jadwal belajar yang padat. Sedangkan sisanya digunakan untuk istirahat, itupun mungkin akan dikurangi lagi untuk mengerjakan tugas yang begitu banyak.
Ah, betapa menyusahkannya menjadi seorang pelajar!
000
Suatu pagi di ujung koridor loker siswa, nampak seorang gadis berambut merah muda pendek sebahu tengah celingak-celinguk seraya membawa sebuah kotak berukuran sedang.
Ketika benar-benar yakin bahwa keadaan koridor sepi, sang gadis berkulit putih mulus itu berjalan mendekati loker lelaki yang berdiri merapat di sebelah kanan dinding.
Ia berhenti tepat di depan loker nomor 1967 kemudian membukanya menggunakan kunci duplikat di saku seragamnya. Secara ragu-ragu dia meletakan kotak di atas tumpukan buku lalu menutup pintu loker.
"Astaga, sungguh merepotkan melakukan hal seperti ini terus saat pagi hari!" keluhnya keras pada angin.
Tanpa diketahui, rupanya satu sosok tengah mengamati sang gadis dari belakang. Ia bersembunyi di balik loker.
Setelah sang gadis pergi, sosok itu menghela nafas jenuh. "Jika merepotkan kenapa tetap dilakukan," ucapnya pelan.
Matahari perlahan beranjak naik. Menyisakan satu jejak hangat pada hawa sekitar. Di sebuah ruangan, sinar mentari menerobos masuk melalui jendela bening. Menyinari sebelas manusia yang diselimuti keheningan.
Tok…tok…tok
Tiba-tiba terdengar suara ketukan spidol yang dibenturkan ke papan tulis. Di ujung utara ruangan terlihat seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri menghadap pada sepuluh muridnya.
"Walaupun kalian termasuk murid-murid istimewa, kalian tetap harus mematuhi peraturan ujian. Dengarkan baik-baik!" perintah sang guru bernama Asuma. "First of all, don't chit and chat! No handphone! No calculator! And last, no dictionary! Understand?"
"Ya," sahut kesepuluh murid.
Lalu dimulailah pelaksanaan ujian. Semua murid mengerjakan dengan begitu serius bahkan yang terdengar dalam ruang kelas itu hanyalah suara mesin AC.
000
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
Bel sekolah menggema ke seluruh penjuru sekolah. Menandakan datangnya waktu istirahat.
Shikamaru bangkit dari bangku yang terletak di pojok belakang dekat jendela kemudian berjalan maju sambil membawa dua lembar kertas. Ia menyerahkan kertas-kertasnya pada Guru Asuma lalu melangkah keluar kelas.
"Kudengar minggu kemarin Shikamaru berhasil memenangkan perlombaan Olimpiade Fisika di Tokyo. Hebat!"
"Shikamaru bukan cuma hebat, tapi keren,"
"Ah, Shikmaru dari kelas spesial D adalah yang terbaik,"
"Seandainya saja aku mempunyai kekasih seperti dia,"
"Kya kya kya,"
Selalu saja bisikan maupun teriakan pujian gadis mengusik pendengaran Shikamaru ketika ia berjalan di koridor.
Terganggu? Ya, tentu Shikamaru terganggu atas kelakuan remaja-remaja putri itu. Tapi apa daya, jika dia diidolakan. Hak masing-masing individu untuk mengidolakan seseorang selama masih dalam batas wajar.
Selama ini, para penggemarnya hanya mengelu-elukankan namanya atau sekedar mengirim surat cinta. Dan Shikamaru pun menganggap mereka masih dalam batas wajar.
Tapi, ada satu penggemar yang sedang dipikirkan Shikamaru sekarang. Beberapa hari ini, penggemarnya itu rutin meninggalkan kotak bekal makanan di lokernya. Si penggemar memang tidak pernah menunjukan identitasnya, namun berkat kecerdikan otak yang dimiliki Shikamaru, ia akhirnya berhasil menguak jati diri penggemarnya tanpa ketahuan.
Tak terasa, Shikamaru telah berdiri di depan lokernya. Ia membuka pintu loker lalu mengambil kotak yang berada di atas tumpukan buku.
Have nice day, mendokusai! Love you~ #SI
"Dasar cewek!" gumam Shikamaru.
000
Angin sepoi-sepoi menerpa lembut wajah seorang gadis cantik yang sedang terduduk di bangku panjang di atap sekolah.
Ia bersenandung kecil seraya membiarkan melodi angin menerbangkan surai-surai pirang panjangnya.
"Ino!" seru sebuah suara di belakang sang gadis.
Ino memutar tubuhnya sekilas sambil berucap, "Hai, Sakura!"
Cewek berambut merah muda pendek sebahu berlari mendekati Ino. Peluh-peluh keringat nampak menghiasi jidatnya yang lebar. "Maaf telat. Tadi guru Asuma menyuruhku membereskan lembar-lembar ujian terlebih dahulu," jelas Sakura seraya duduk di sebelah Ino.
"Tidak apa-apa kok," sahut Ino pengertian.
Sakura mengangguk lega. "Ino, sekarang apa yang mau kau tanyakan padaku? Apa ada pertanyaan ujian yang sulit tadi?"
Ino memiringkan kepalanya ke kanan. Ia nampak berpikir sejenak. "Em, tidak ada. Semua terasa menyenangkan hari ini," jawab Ino.
Sakura mengedikan kedua bahunya. "Syukurlah kalau begitu," ucapnya.
Detik demi detik berlalu dengan keheningan. Tidak ada obrolan yang tercipta karena dua gadis itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sakura yang gugup akan ujian bahasa Inggris yang diadakan lusa sedangkan Ino justru asyik memandang awan-awan di langit.
"Sakura, terima kasih atas segala kebaikanmu selama ini. Hah, seandainya tidak ada kamu, mungkin aku stress sekarang," kata Ino membuka percakapan.
Sakura tertawa kecil. "Tidak perlu berterima kasih. Sebagai sahabat, aku senang bisa membantu mengatasi segala kesulitanmu. Bukankah sahabat adalah mereka yang berada dalam suka dan duka?"
Ino menoleh ke Sakura kemudian merengkuhnya erat. "Aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu. Terima kasih," ungkapnya girang.
Sakura menepuk-nepuk punggung tangan Ino yang berada di bahunya. "Sama-sama," balasnya tulus.
Ino tersenyum lalu melepaskan pelukannya. "Sakura, apa kau tidak merasa lelah menjadi siswa kelas spesial?" tanya Ino secara tiba-tiba bercampur ragu.
Sakura mengerling pada Ino. "Selama aku menjalaninya dengan senang, aku tidak akan pernah merasa lelah," jawab Sakura santai.
"Loh, kok senang? Bukannya menjadi siswa kelas spesial jauh lebih menguras tenaga dan pikiran ya? Contohnya saja, tugas kalian lebih banyak lalu masa ujian juga lebih lama dibanding kelas yang lain. Iya kan?" kata Ino dengan nada menuntut. "Ditambah lagi, para siswa kelas spesial jadi memiliki waktu minim untuk teman bahkan pacar," sambungnya.
Sakura tersenyum. Ia berujar, "Semua pendapatmu memang benar Ino, tapi ada alasan mengapa kami sanggup bertahan menjadi siswa kelas spesial. Pertama, karena kami benar-benar senang. Kedua, karena orang tua."
Ino mengerutkan kening. "Aku masih belum mengerti," katanya.
"Asal kamu tahu ya. Kami, para penghuni kelas spesial D itu tidak pernah suntuk ataupun jenuh pada jadwal yang berbeda dari kelas lainnya. Kami justru senang karena bisa mendapat lebih banyak pengetahuan daripada anak-anak yang lain. Diskusi, mengerjakan soal-soal sulit, semua hal itu menyenangkan bagi murid kelas spesial D. Selain itu, orang tua juga yang menyuruh dan mendukung kami," cerita Sakura panjang lebar. "Kalau seputar minimnya waktu untuk teman-teman dan pacar itu hal yang wajar. Hm, kadangkala jika kau menginginkan sesuatu, maka ada yang perlu kau korbankan," lanjut Sakura.
"Memang apa yang kalian inginkan?" tanya Ino.
"Pengetahuan yang besar," jawab Sakura.
"Menurutmu apa yang diinginkan Pak. Danzo? Pendiri kelas spesial ini?" tanya Ino lagi.
"Kata Guru Asuma, beliau ingin mencetak generasi yang cemerlang, makanya beliau membuat kelas spesial D. D for Discipline," ujar Sakura.
"I think D for Danzo better than D for Discipline," sahut Ino asal.
Sakura tertawa nyaring mendengar perkataan Ino sementara Ino cuma tersenyum simpul.
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
"Wah, bel masuk. Aku pergi dulu ya," pamit Sakura seraya berlari pergi.
000
Jam di dinding di atas papan tulis menunjukan pukul empat sore. Shikamaru menatap punggung di depannya dengan berbagai pikiran.
Pemilik punggung itu adalah gadis bersurai merah muda yang dikenal Shikamaru sebagai teman sekelas sekaligus penggemar rahasianya.
Namanya Sakura Haruno. Ia cewek yang cantik nan pandai. Bolak-balik ia mendapat penghargaan dari berbagai lomba, selain itu peringkatnya di kelas juga selalu kokoh tak tertandingi. Meski ia selalu mendapat rangking pertama, namun hal itu tidak serta merta membuatnya sombong.
Sakura tetap gadis yang ceria dan tak pernah memilih-milih dalam berteman. Shikamaru tak menyangka bila Sakura merupakan penggemar rahasianya.
Semua bermula kala Shikamaru pertama kali menemukan kotak bekal berwarna putih di lokernya seminggu yang lalu.
Makan yang banyak. Jangan sampai sakit ya! Ini onigiri spesial buatanku. Happy Monday! #SI
Shikamaru membaca catatan kecil yang menempel di kotak itu. Ia tersenyum tipis lalu menit selanjutnya, Shikamaru melahap habis tiga onigiri dalam kotak bekal itu.
Keesokan hari, kotak bekal kembali ada di lokernya. Begitupun esok harinya lagi. Shikamaru terkesan acuh pada pengirimnya, tapi lama kelamaan ia mulai penasaran juga. Di hari ketiga, ia mencoba menyelidiki dengan datang ke sekolah pagi-pagi lalu bersembunyi di balik loker yang cukup jauh dari lokernya.
Betapa terkejutnya Shikamaru saat ia mengetahui bila Sakura muncul di koridor lalu meletakan kotak bekal di lokernya. Beberapa hari kemudian, Shikamaru terus memantau Sakura.
Entah apa alasannya, mungkin ia hanya ingin tahu. 'Apa hari ini Sakura meletakan bekal untukku?'
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
Bel yang berbunyi membuyarkan lamunan Shikamaru. Ia baru sadar bila gadis di depannya sudah pergi entah kemana.
000
"Hai, Ino!" sapa Sakura ramah.
Ino berbalik dan menyahut, "Hai."
"Kamu mau kembali ke asrama?" tanya Sakura.
Ino mengangguk. "Ya. Kamu masih ada bimbingan belajar malam ya?"
"Begitulah," kata Sakura.
Dua gadis itu sekarang tengah berada di atap sekolah. Sama seperti waktu istirahat tadi, mereka bertemu untuk sekedar berbincang ringan.
"Sakura, aku tahu kalau aku sangat merepotkanmu terus. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan terakhir?" tanya Ino.
Semilir angin sore berhembus, menerbangkan rambut Sakura perlahan. "Ya," jawab Sakura yang asyik menikmati sang angin.
"Terima kasih. Besok aku tunggu disini sewaktu jam istirahat," kata Ino senang.
Hari berganti cepat, Sakura memenuhi janjinya pada Ino. Ia menemui Ino yang ternyata telah menunggunya di atap sekolah.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Sakura.
"Kamu cukup pejamkan matamu saja," jawab Ino.
000
"Shikamaru," panggil Sakura tiba-tiba mencegat langkah Shikamaru yang hendak masuk ke kantin.
Shikamaru sedikit menunduk untuk memandang Sakura lalu berujar, "Hm. Ada apa?"
"Aku hanya mau mengucapkan salam perpisahan," balas Sakura seraya meraih kedua tangan Shikamaru yang disembuyikan di dalam saku celanya.
"Apa mak-" Belum sempat Shikamaru melanjutkan perkataanya, bibir Sakura lebih dahulu mengunci ucapannya. Dia menarik dua lengan Shikamaru dalam gengamannya kemudian sambil sedikit berjinjit, ia menempelkan bibir tipis nan lembut itu pada bibir Shikamaru.
Shikamaru tersentak sekaligus terbelalak atas tindakan cewek di hadapannya. Apalagi ketika tangan Sakura kini telah berada di wajahnya dan sedikit menekan permukaan kedua pipinya, mengajak untuk memperdalam ciuman yang tercipta.
Seluruh tubuh Shikamaru langsung berdesir hebat. Perlahan, lelaki bertampang malas itu menutup kelopak matanya. Ah, ternyata dia tidak menolak dan justru menerima ajakan Sakura. Dilingkarkannya lengan kuat miliknya pada pinggang ramping Sakura.
Mint. Itulah rasa yang Shikamaru kecap kala berciuman dengan Sakura. Rupanya sang gadis tengah menikmati sebuah permen tadi sebelum 'menyerang' Shikamaru.
Dua insan yang berdiri menghalangi jalan menuju kantin itu terus berciuman dan mengacuhkan semua pasang mata tertuju pada mereka.
Beberapa menit pun berlalu hingga Sakura melepaskan pagutan bibirnya. Ia berdiri sambil menatap intens pada Shikamaru.
Sakura menghela nafas sejenak. Raut wajahnya begitu mendung seakan menyembunyikan sesuatu. "Candy kiss yang mengasyikan bukan? Sungguh, aku sangat ingin melakukan hal ini padamu menggunakan ragaku sendiri, tapi itu tak mungkin. Shikamaru, selamat ulang tahun! I always love you," kata Sakura seraya mengecup pipi kiri Shikamaru.
Sakura tersenyum kecil melihat Shikamaru yang mengernyit bingung. Tak berselang lama kemudian, sang gadis musim semi ambruk pingsan. Untunglah Shikamaru dengan sigap menangkap tubuh sang gadis sebelum terbentur ke lantai.
000
Sakura membuka matanya pelan. Samar-samar, penglihatannya dapat merasakan sinar lampu yang menggantung di langit ruangan. Sakura memijat pelipis kananya seraya mendudukan diri.
Dia bersandar pada bantal yang ia rapatkan di sisi ranjang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Nuansa ruangan yang didominasi biru serta putih, ranjang berderet di kedua tepi ruangan, dan bau obat-obatan yang menggelitik hidung. Sakura pasti berada di Unit Kesehatan Siswa (UKS).
"Syukurlah, kau sudah sadar," kata sebuah suara dari arah barat.
Sakura menoleh ke sumber suara dan mendapati Shikamaru berjalan mendekatinya. Lelaki berambut nanas itu tersenyum singkat lalu duduk di kursi di samping kiri ranjang.
"Aku barusan dari kamar mandi. Maaf meninggalkanmu sendiri," ujar Shikamaru.
Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Memang kenapa aku bisa sampai ada disini?" tanya Sakura heran.
"Setelah kau menciumku, tiba-tiba saja kau pingsan," jawab Shikamaru santai.
Bola mata Sakura melebar seketika. "Aku menciummu? Apa? Tidak mungkin!" teriak Sakura.
Shikamaru mendecakan lidah sambil mengucek telinga kirinya dengan jari kelingking. "Iya, kita berciuman. Kamu yang menciumku terlebih dulu," sahut Shikamaru malas. Ia tak habis pikir pada sikap cewek di depannya ini. Dia yang meminta, kenapa dia pula yang menyangkal.
"Tidak mungkin! Astaga, aku bahkan belum pernah berciuman sebelumnya!" bantah Sakura dengan nada tinggi.
Shikamaru menghembuskan nafas lemah. Ia berkata, "Hanya gara-gara pingsan kau melupakan kejadian beberapa menit yang lalu? Em, kurasa kau perlu memeriksakan otakmu ke dokter, Sakura."
"Tidak. Otakku baik-baik saja kok," sanggah Sakura sambil merengut sebal atas ucapan Shikamaru. Ia menunduk lalu mendadak teringat sesuatu. "Oh my god! How a big trouble she is!" maki Sakura keras.
Tok...tok...tok
Di ruang Penulis
Editor : Ceritanya terlalu cepet ye? -.-
Putpit : Lagi menggebu-gebu nulis dan publish. Gomen kalau kecepatan :p
Editor : Chapter depan harus lebih baik!
Putpit : Sip bos
Editor : *krik krik*Lalu? Sekarang mau apa?
Putpit : Mau curhat~
Editor : Hm
Putpit : Kagok pas bagian ciuman Shikasaku. Kamu puas?
Editor : Kurang WOW!
Putpit : Okelah diperbaiki lagi nanti :)
MIND to give me reciprocal?
Leave suggestion, critism, or flame in box review
~Thanks~
