Chapter 3
Disclaimer: J. K Rowling
Warning: OOC, typo(s), slash, bl
.:.
Sudah seminggu dan sudah seperti kegiatan rutin, Draco mengantar Harry pulang ke rumah, setiap Harry selesai bekerja. Dan sudah seminggu ini sejak mereka jalan berdua, Harry mengambil shift siang sampai malam. Dan Harry merasa heran sedikit karena Hugo tidak, atau mungkin, belum tahu akan hal ini. Biasanya Hugo paling update jika itu menyangkut Harry. Karena mereka belum juga membicarakannya. Seperti sekarang, Harry pulang ke rumah dan rumah masih kosong.
Setiap Harry pulang ke rumah, Hugo selalu belum pulang. Ia akan pulang pada tengah malam, dengan wajah kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan dengan rapi. Harry tahu, maka dari itu Harry memaksa Hugo untuk mengizinkannya bekerja, apapun itu. Kasir, librarian, pelayan, atau jasa antar barang, apapun itu, akan Harry lakukan asalkan Hugo mengizinkannya, karena ia ingin membantu kakaknya. Setelah bernegosiasi cukup panjang, Hugo menyetujuinya.
Pada hari sebelum Hugo mengantar Harry ke Coffee Nerd, Hugo mengatakan hal yang cukup membuat Harry terkejut.
"Kau tahu, Harry, aku mengizinkanmu bekerja karena aku tahu kau sudah siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar. Aku tahu kau belajar banyak hal dari masa lalu. Kau boleh berpacaran dengan siapapun, aku tidak akan melarangmu lagi. Well, sedikit interogasi singkat mungkin akan kulakukan. Tapi ingat, kau harus berhati-hati sebelum membuat keputusan yang serius dengan pacarmu nanti. Pastikan ia bukan orang yang suka menindas orang lemah," kata Hugo.
Jika mengingat perkataan Hugo yang seperti itu, Harry jadi merenung. Orang sebaik Hugo, kenapa belum ada wanita yang cocok untuk kakaknya itu. Dan, kenapa Harry juga merasa ingin ikut menyeleksi calon pacar atau istri Hugo? Gen keluarga memang susah dihilangkan.
Renungan Harry terhenti saat ponselnya berbunyi, dengan nomor dan wajah Draco terpampang nyata di sana. Kenapa Draco meneleponnya? Secepat itukah ia sudah sampai di rumahnya, atau mungkin di cafe?
"Harry, aku baru ingat, aku meminjam sweater mu saat tiga hari yang lalu kita kehujanan, aku sudah menaruhnya di jok motor dan berniat untuk mengembalikan saat mengantarmu pulang, tapi aku lupa hehehe. Aku kembali lagi ke rumah mu ya?" Kata Draco.
"Kita masih punya hari esok, Draco. Kenapa harus sekarang?" Tanya Harry sambil terkekeh.
"Karena aku juga masih belum jauh dari kompleks perumahanmu. Oke, kututup ya," Kata Draco dan langsung memutus sambungan telepon. Harry tidak ambil pusing. Ia ke dapur untuk membuat cokelat panas untuknya. Tidak lama, ia mendengar suara ketukan pintu. 'Secepat itukah kau, Draco?' Ujar Harry dalam hati sedikit heran. Ia membuka pintu dan langsung bicara.
"Kenapa kau cepat sekali Draco--"
"Draco? Ini aku, Harry," kata Hugo dengan bingung dan penuh selidik.
'Oh, crap!'
"Hugo! Kau sudah pulang. Kenapa hari ini pulang cepat? Ini baru jam 9.." kata Harry seperti orang tertangkap basah.
"Kenapa kau bingung aku pulang cepat? Biasanya kau hanya senang dan tidak tanya alasanku pulang cepat," kata Hugo, masih penuh selidik.
"Tidak ada salahnya, 'kan, aku tanya begitu? Um, Hugo, kau tidak mau masuk?" Kata Harry dengan gugup.
"Nanti, aku ingin tanya kau dulu. Siapa yang kau panggil 'Draco' itu, Harry?" Kata Hugo, aura gelapnya langsung terasa oleh Harry.
"Um, dia adalah.. um.." kata Harry bingung menjawabnya.
"Aku Draco," satu suara yang dikenal Harry dan tidak dikenal Hugo terdengar dari belakang Hugo. Harry hanya menatap Draco horror lewat bahu Hugo. Hugo membalikkan badannya menghadap Draco.
"Kau siapa, young man? Ada urusan apa kau ke sini?" Kata Hugo dingin.
"Aku Draco Malfoy, sir. Aku ke sini untuk mengembalikan sweater yang dipinjamkan Harry untukku," kata Draco, tidak memedulikan nada dingin Hugo.
"Ceritanya panjang, Hugo," Harry buru-buru bicara ketika ia lihat Draco ingin membalas perkataan Hugo. Ia menghampiri Draco dan mengambil sweater dari tangan Draco.
"Dan ia akan pulang sekarang," kata Harry pada Hugo sambil mendorong Draco ke arah motor yang diparkirkan di depan pagar rumah Harry.
"Apa-apaan kau, Harry? Aku sedang berbicara dengan kakakmu," Kata Draco tidak terima ia diusir Harry.
"Bicaranya nanti saja, Draco. Aku akan mengurus ini dulu," kata Harry langsung menyuruh Draco pergi. Draco menurut, lalu ia menyalakan motornya dan pergi.
Harry menghampiri kakaknya yang menaikkan sebelah alisnya, menuntut penjelasan. Harry yang melihatnya hanya berusaha untuk tidak kelihatan salah tingkah.
"Masuk dulu, Hugo. Akan kujelaskan di dalam," kata Harry akhirnya pasrah.
"Kau berkeringat, Harry? Padahal di sini dingin," goda Hugo saat melihat setetes keringat muncul dari kening Harry. Harry menatap Hugo dengan sebal. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Hugo di pintu yang tertawa keras.
.:.
"Jadi, ia adik dari pemilik cafe tempatmu bekerja?"
Harry hanya mengangguk. Ia sudah menceritakan semuanya pada Hugo. Detail. Karena Hugo yang meminta. Harry berniat menceritakan intinya saja jika Hugo tidak meminta. Tetapi Harry tidak memberi tahu Hugo kalau Draco sering mengantarnya pulang.
"Harry, kau suka padanya?" Kata Hugo terdengar serius.
Harry hanya menatapnya, tidak langsung menjawab. Ia sendiri bingung. Bukan, bukan bingung apakah Harry suka atau tidak. Bukan itu yang membuatnya bingung. Ia hanya bingung. Tidak tahu bingung kenapa.
"Aku menganggapnya sebagai 'ya' kalau kau diam saja. Dan, apakah ia menyukaimu balik?" Tanya Hugo.
"Aku tidak tahu," jawab Harry. "Aku merasa kalau Draco tidak mungkin menyukaiku. Tapi.."
"Jika Draco tidak suka padamu, lalu mengapa sudah seminggu ini dia rajin mengantarmu pulang?" Tanya Hugo penuh selidik.
Harry yang mendengarnya hanya melotot tidak percaya. "Bagaimana kau tahu aku diantar oleh Drac-- oh, lupakan, kau memang tahu segalanya walaupun kau tidak melihatnya," kata Harry dengan sebal. Hugo hanya tertawa mendengarnya.
"Aku tidak menguntitmu atau memasang cctv di depan rumah kita, Harry. Kau tahu temanku, Ron, yang punya rumah di depan kita? Ia yang memberitahu ku. Padahal aku tidak memintanya. Ia sering melihatmu lewat jendela kamarnya di lantai dua, kau pulang di antar laki-laki berambut pirang platinum mengendarai motor. Well, aku ingin menanyakan hal itu padamu hari ini, sebenarnya, karena aku pulang cepat. Tanpa di sengaja, kau memang sudah di takdirkan untuk membicarakannya padaku sekarang ya," kata Hugo terkekeh melihat mata Harry mendelik padanya. Harry sangat mirip mendiang ibu mereka jika sedang mendelik seperti itu.
Harry berhenti mendelik pada Hugo dan berusaha untuk tidak ingin memarahi Ron yang sudah mengadu pada kakanya itu. Ia melanjutkan ceritanya.
"Ia hanya bilang kalau aku tidak mau terus ditraktir Draco, aku harus setuju untuk dia mengantarku pulang," kata Harry menghela napas.
"Itu hanya alibi dia saja, Harry. Kurasa ia menyukaimu," kata Hugo menebak-nebak.
Harry menatap Hugo dengan hopeless.
"Ia tidak mungkin menyukaiku, 'kan? Ia bisa mencari orang yang lebih baik dariku dan.. ia juga anak dari bos di tempatmu bekerja, Hugo! Mana mungkin ia menyukai pria biasa dan tidak istimewa sepertiku. Aku malu, Hugo. Ia sudah mengetahui masa laluku yang kelam itu. Ia sudah mengetahui kelemahanku. Padahal baru seminggu, tapi sudah banyak yang ia tahu tentangku. Dan itu membuat aku minder, karena aku tidak pantas bersanding di sisinya yang hampir sempurna. Kami berdua bagaikan air dan api, sangat berbeda dan berlawanan, yang jika bersatu, salah satunya harus mati," kata Harry putus asa dan menundukkan wajahnya.
Hugo memeluk Harry dengan sayang.
"Terkadang air dan api bisa saling berkaitan, Harry. Jika ada kebakaran, apa lagi yang bisa membuat apinya padam? Hanya air, 'kan? Begitulah kau dan Draco, kalian berdua bisa menjadi air atau api. Kalian berdua bisa saling menyelamatkan satu sama lain karena perbedaan kalian. Jika Draco sedang dalam mode 'api', kau sebagai air bisa memadamkan api yang ada dalam diri Draco. Begitu pula sebaliknya. Kalian berdua tidaklah sempurna, dan Draco tidak se-sempurna yang kau pikirkan, Harry. Ia juga pasti banyak kekurangannya, dan ia butuh orang lain untuk menyelamatkannya dari 'api' itu. Ia butuh kau," kata Hugo berusaha menenangkan Harry. Ia melepaskan pelukannya. Melihat air mata Harry terjatuh. Oh, Harry-nya sangat rapuh.
"Aku hanya takut kejadian yang dulu terulang lagi. Dulu, kita berdua juga berbeda, Hugo. Aku dan Tom. Dan pada akhirnya malah seperti itu. Aku sangat takut," kata Harry sambil berusaha menenangkan diri.
"Kau dulu mengibaratkan dirimu dan Tom adalah gajah dan semut hanya karena Tom adalah pemilik dari perusahaan besar, Harry. Tapi, apakah gajah dan semut bisa menyelamatkan satu sama lain? Aku yakin gajah pun tidak tahu jika ia sering menginjak semut, 'kan?" Kata Hugo kalem.
Harry memikirkan kata-kata Hugo, dan merasa beruntung punya seseorang yang bisa menjadi ayah, kakak, atau teman di sampingnya.
"Aku tidak masalah jika Draco menjadi pacarmu, Harry, atau bahkan jika kalian menikah nanti. Aku percaya ia orang baik. Orang tuanya pun sangat baik padaku, well, pada semua pekerja di sana, sebenarnya. Tetapi terkadang aku merasa diistimewakan, aku juga tidak tahu mengapa. But, aku tidak ambil pusing dan hanya bekerja seperti biasa," kata Hugo.
"Kau yakin tidak apa-apa jika aku suka pada Draco, bahkan jika kami berdua pacaran?" Kata Harry berusaha memastikan.
"Ya, Harry. Tapi kau jangan bilang-bilang pada Draco kalau aku sudah merestui kalian. Aku ingin mengerjai Draco sedikit," kata Hugo dengan nada jahil. Harry yang melihatnya hanya bisa pasrah. Sifat jahil dari ayah mereka yang menurun ke Hugo tidak juga hilang, atau bahkan tidak akan pernah hilang.
.:.
Semakin lama wajah Draco semakin menyeramkan. Ia sudah seperti mayat hidup, kulitnya yang pucat semakin pucat. Tugas akhir yang merajalela inilah yang menjadi penyebabnya. Bukan hanya Draco, teman-temannya juga. Blaise, Theo, Pansy, Hermione, dan Astoria yang kebetulan satu fakultas dengan Draco pun merasakan hal yang sama. Mereka kurang tidur, makan seperlunya saja, kafein yang terus-menerus masuk ke tubuh mereka, dan tubuh yang semakin kurus pun mereka rasakan. Menjadi mahasiswa tingkat akhir memang melelahkan.
Saat ini mereka sedang berada di ruangan khusus di Coffee Nerd, tempat Draco dan teman-temannya biasa mengerjakan tugas atau hanya sekadar hangout. Draco memesankan satu ruangan khusus ini pada kakanya dengan penuh perjuangan dan rayuan hingga kakaknya luluh.
"Aku lapar. Seriously," kata Blaise sambil merebahkan tubuhnya di permadani. Ia memejamkan matanya.
"Kau baru makan setengah jam yang lalu, Blaise. Tapi kenapa kau semakin kurus, ya? Padahal kau makan terus," Kata Hermione yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku hanya makan cupcake, 'Mione. Aku masih lapar," kata Blaise merana.
"'Hanya'? Blaise, 'hanya'? Kau makan lima cupcake, astaga. Mengapa aku terkejut? Aku heran kau tidak sakit," Kata Astoria jengkel.
"Ia harus makan pangsit berkuah dan sepiring penuh dim sum dulu baru ia kenyang, Tori," kata Theo terkekeh.
"Tori, sayang, kau menyakiti hatiku, sungguh," kata Blaise menggoda Astoria dan berlagak seperti laki-laki patah hati yang dibuat-buat. Astoria hanya mendelik pada Blaise.
"Aku juga lapar, guys. Dan aku akan membeli shihlin, aku tidak peduli ini jam 8 malam dan akan membuatku gendut. Aku lapar," kata Pansy sambil berdiri dan keluar ruangan.
Saat Pansy membuka pintu, ia melihat Harry di pintu sudah membawa 6 kantong shihlin lengkap dengan lemon iced tea. Pansy terkejut.
"HARRY! Thank God kau membawa shihlin ke sini!" Teriak Pansy sambil mengambil kantong itu dan membagikannya kepada yang lain. Teman-teman Draco sudah mengenal Harry sejak sehari setelah mereka jalan berdua.
"Harry? Kau belum pulang? Ini sudah jam 8 malam," kata Draco keheranan melihat Harry masih di cafe, tapi sudah berganti baju. Ia menghampiri Harry.
"Sebelum aku pulang Daphne menyuruhku membeli shihlin untuk kalian. Well, aku tidak bisa membiarkan kalian kelaparan, 'kan, jika aku langsung pulang?" kata Harry ramah sambil tersenyum.
"Hawwy (Harry), kau memhang (memang) pahwawankuhh (pahlawanku)~" kata Blaise dengan mulut penuh makanan. Astoria mendelik sebal pada Blaise karena bicara sambil makan. Blaise hanya nyengir tanpa dosa.
"Sungguh, Harry, terima kasih, kau menyelamatkan kami," kata Pansy mewakili teman-temannya untuk berterima kasih. Harry melihat teman-teman Draco menatapnya penuh terima kasih. Harry hanya tersenyum geli dan mengangguk.
"Well, Daphne menitipkan pesan padaku untuk kalian, kalian diperbolehkan disini hanya sampai jam 10 malam. Draco, kau sudah tau harus apa, 'kan? Kunci pintu dan pastikan semua lampu dimatikan. Daphne harus pulang ke rumah lebih awal karena suaminya sakit," kata Harry menjelaskan.
"Oke, Harry," teman-teman Draco kompak menjawan perkataan Harry, kecuali Draco. Ia hanya menatap Harry.
"Aku tidak bisa mengantarmu pulang, Harry. Aku tidak bisa meninggalkan tugas-tugasku. Maaf ya.." kata Draco dengan tatapan minta maaf.
"Tidak apa-apa, Draco. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula ini belum terlalu malam dan jalanan juga pasti masih ramai. Aku akan naik bus saja," kata Harry santai.
"Biarkan aku mengantarmu sampai depan pintu, ya?" Kata Draco langsung jalan mendahului Harry. Harry hanya bingung, Draco sering sekali meninggalkannya. Lalu ia mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman Draco dan menyusul Draco.
"Draco, kau tidak harus mengantarku sampai pintu," kata Harry dengan sabar.
"Aku hanya ingin melihat kau baik-baik saja, at least saat jalan menuju halte bus," kata Draco enteng.
"Ya sudah, baiklah. Aku pulang dulu, ya. Good night, Draco," kata Harry sambil melambaikan tangan dan berbalik.
"Kau tidak ingin mendengar balasanku, Harry?" Kata Draco dengan nada suara yang aneh.
'Balasan?' Ujar Harry dalam hati. Ia membalikkan badannya lagi menghadap Draco.
"Balasan? Apa maksudmu--"
Draco mengecup bibirnya. Draco menciumnya.
Oh my God.
"Good night, Harry," kata Draco dengan sangat lembut.
Harry mematung dan melebarkan matanya. Draco terkekeh melihatnya, ia langsung masuk ke cafe, meninggalkan Harry yang masih mematung dan berusaha menetralkan detak jantungnya.
'Si pirang itu. Katanya ia ingin melihatku jalan menuju halte bus,' ujar Harry dalam hati dengan sebal.
.:.
TBC
.:.
Author's Notes: makasih banyakkkk untuk kaliaan yang udah review dan mengkritik fic aku:)))
