Class Special D
All character belong to Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
1999
Class Special D by Putpit
23 Mei 2013
Inspiration:
Death Bell-South Korean Film
2008
Yoon Hong-seung
Derit yang timbul akibat tekanan antar logam terdengar kala Sakura terburu-buru turun dari ranjang. Dia ingin segera menemui Ino dan meminta kejelasan terhadap apa yang terjadi padanya.
Ingatan terakhir yang ada di kepala Sakura hanyalah kejadian di atap bersama Ino. Lalu, bagaimana bisa ia tiba-tiba berada di UKS bersama seorang cowok yang mengaku telah ia cium? Apa ini mimpi? Jika memang mimpi, maka ini adalah mimpi terburuk bagi Sakura.
Ketika Sakura akan beranjak pergi, sebuah tangan kekar menahan lengannya. "Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan terlebih dulu padaku?" tanya suara berat dengan nada lembut.
Sakura menggerakan sudut matanya ke arah tangan di lengannya lalu beralih ke si pemilik. "Ya," jawabnya pendek seraya duduk di sisi ranjang, berhadapan dengan seorang lelaki bermata sipit. "Em, Shikamaru. Sebenarnya selama seminggu ini aku selalu menaruh kotak bekal makanan di lokermu setiap pagi," ungkap Sakura pelan dan ragu.
"Aku sudah tahu," kata Shikamaru. "Dan kau tidak perlu bertanya mengapa aku bisa mengetahuinya," lanjut Shikamaru cepat sebelum Sakura mengeluarkan suara untuk bertanya.
Sakura merengut. "Terserahlah. Pokoknya aku melakukan hal itu karena Ino," sahut Sakura cuek.
Shikamaru terbelalak. Ekspresinya berubah menjadi kaku dan dingin. "Ino? Ino siapa yang kau maksud, hah?" tanyanya keras.
Sakura sempat kaget terhadap perubahan perilaku Shikamaru padanya, namun ia mencoba bersikap wajar dengan berkata, "Yamanaka Ino. Dia adalah sahabat baruku. Kami berkenalan sebulan yang lalu."
Shikamaru mendadak bangkit hingga kursinya terjatuh ke belakang kemudian memukul meja kecil di samping kirinya dengan amarah yang besar. "Jangan mempermainkanku Haruno Sakura!" ucapnya dengan nada yang menakutkan.
Sakura melesatkan tubuhnya ke bawah hingga berdiri sangat dekat dengan Shikamaru. Ia menunjuk wajah Shikamaru dengan pandangan jengkel. "Hey, tuan pemarah tiba-tiba! Jika kau tidak percaya, ikut aku sekarang!" bentak Sakura sambil menggandeng tangan kanan Shikamaru pergi.
Sakura mengajak Shikamaru ke atap sekolah. Mereka berdiri berseberangan. Sakura di sisi barat dekat pintu masuk sedangkan Shikamaru di sisi timur bersandar pada tembok pembatas.
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
Bel istirahat kedua telah berbunyi. Sakura menunggu kedatangan Ino dengan gusar di pintu masuk atap. Biasanya, Ino yang akan lebih dulu sampai di atap dan menunggu Sakura di bangku yang terletak di utara.
Selama jam istirahat pertama atau kedua, mereka akan sibuk berbincang mengenai berbagai hal. Mulai dari Ino yang tanya beberapa materi pelajaran hingga Ino yang berceloteh tentang lelaki idamannya. Ya, si gadis berambut pirang itu yang lebih sering curhat sementara Sakura menjadi pendengar serta perespon yang baik.
Ah, Sakura jadi teringat kejadian delapan hari yang lalu. Saat Ino memohon pada Sakura agar membantunya membuat kejutan ulang tahun untuk sang pacar. Tanpa pikir panjang, Sakura pun mengiyakannya.
"Memang apa yang kau rencanakan, Ino?" tanya Sakura penasaran sekaligus bersemangat.
Ino tersenyum tipis. "Em, aku mau tanya satu kali lagi. Kau sungguh mau membantu kan Sakura?" tanyanya ragu.
Sakura menghela nafas pelan. "Iya, Ino. Aku berjanji akan membantumu dengan sepenuh tenagaku," jawab Sakura yakin.
"Seminggu sebelum ulang tahunnya, aku ingin rutin menaruh kotak bekal di lokernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya Sakura," kata Ino sedih.
Sakura mengerutkan kening. "Hah? Kenapa?"
"Karena aku tidak pandai memasak," jawab Ino seraya tertawa kikuk.
Kedua bola mata Sakura berputar. "Lalu kau memintaku untuk membuatkan bekal untuk pacarmu itu. Begitu?"
Ino mengusap tengkuknya pelan. "Ya begitulah. Bisa kan?"
"Oke."
Dua tangan Ino meninju udara, senang. "Yei! Terima kasih, Sakura. Tapi, ada satu tambahan lagi," ucapnya ragu-ragu.
"Apa?" tanya Sakura cuek.
"Aku ingin kamu menulis catatan kecil di kotak bekalnya dengan inisial SI dan menaruhnya saat pagi hari supaya tidak ketahuan," ujar Ino sambil tersenyum tipis.
"Kalau untuk urusan seperti itu, kenapa bukan kamu sendiri yang melakukannya?"
"Ayolah, Sakura. Lagipula, kamu kan gemar berangkat ke sekolah pagi hari. Kumohon," pinta Ino dengan wajah memelas.
"Baiklah," ucap Sakura pendek.
Sakura tak mengira bila hari perjanjian itu menjadi awal mula dari sebuah cerita masa lalu. Cerita yang terkuak secara perlahan.
000
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
"Kau membuang waktuku, Haruno Sakura. Dia tak datang," kata Shikamaru saat bel masuk berbunyi.
Sakura menghentak-hentakan kaki ke tanah dengan kesal. "Aku tidak berbohong padamu, Shikamaru. Ino biasanya datang waktu jam istirahat, kami selalu mengobrol panjang disini," jelas Sakura.
Shikamaru berjalan mendekati Sakura kemudian memukul pundak kanannya pelan. "Kau benar-benar butuh ke dokter, Sakura. Maafkan aku," ucapnya.
Ketika tangan kanan Shikamaru memegang kenop pintu dan hampir memutarnya, Sakura tiba-tiba mencekal lengan kirinya sambil berkata, "Kamu adalah pacar Ino. Tapi, kenapa kamu seolah menganggap Ino itu tidak ada?"
Shikamaru mendelik tajam ke belakang. "Apa maumu?" ujarnya sinis.
Sakura melepaskan pegangan tangannya dan menunduk dalam. "Pertama, maafkan aku bila Ino tidak datang. Kedua, aku minta jawabanmu atas pertanyaanku yang tadi."
"Yamanaka Ino itu sudah meninggal setahun yang lalu!" teriak Shikamaru frustasi. Ia menghampiri Sakura cepat lalu mencengkeram kedua bahunya. "Aku bukan menganggapnya tidak ada, tapi memang ia sudah tidak ada!" lanjut Shikamaru keras.
Sendi-sendi Sakura langsung melemas. Ia merosot jatuh terduduk ke tanah. Dua tanganya menelungkup menutupi wajahnya. "Tidak. Tidak. Tidak. Aku baru saja bersahabat dengannya enam bulan. Bagaimana bisa ia telah meninggal setahun yang lalu? Ini mustahil. Kau berbohong, Shikamaru," racau Sakura ketakutan.
Shikamaru memejamkan mata sejenak. Perasaannya campur aduk. Antara sakit, kesal, dan amarah berkecamuk dalam kalbunya. Mengapa saat hati berlubang ini mulai terisi oleh sebuah cinta baru justru cinta lama mengusiknya?
Shikamaru kemudian jongkok di hadapan Sakura. "Karena Ino adalah pacarku, maka tidak ada alasan untuk berbohong. Dia meninggal karena terjatuh dari tangga dan waktu itu kamu sedang dalam masa pertukaran pelajar di China. Wajar jika kamu tidak tahu," tutur Shikamaru pelan.
Angin Musim Dingin bertiup kencang. Januari seharusnya menjadi pembuka tahun yang baik, namun bagi Shikamaru bulan ini menjadi pembuka kenangan pahitnya.
Satu memori dimana ia kehilangan sosok yang begitu dicintainya. Ia yang memenuhi hari-hari Shikamaru dengan omelan, rayuan manja, dan perhatian yang melimpah. Ah, betapa Shikamaru merindukan sosok itu! Yamanaka Ino.
000
Sakura mencoba menahan isak tangisnya, namun sia-sia. Tubuhnya bergetar hebat. Segala hal terasa terjadi begitu cepat dan mendadak. Fakta yang terungkap seolah merupakan bayangan ilusi bagi Sakura.
Lalu sebuah rengkuhan hangat menetramkan Sakura. "Everything gonna be alright," kata sebuah suara menggelitik telinga kirinya.
"Aku baru kembali dari China enam bulan yang lalu. Di saat aku harus beradaptasi lagi, aku bertemu Ino. Dia perhatian dan sangat baik padaku. Ino adalah sahabatku, Shikamaru," cerita Sakura seraya sesengukan.
Shikamaru mengelus punggung Sakura sambil sesekali menepuk-nepuknya pelan. "Tenangkan dirimu, Sakura," ucap Shikamaru lirih.
"Kau tahu, Shikamaru. Ino itu sangat mencintaimu. Dia selalu membicarakanmu saat kami mengobrol pada jam istirahat. Katanya, dia belum sempat mengucapkan salam perpisahan padamu," ungkap Sakura sedih.
Shikamaru sedikit bergidik. Tapi, beberapa detik kemudian ia berkata, "Dia sudah menyampaikan salamnya lewat kamu tadi."
Sakura tak perlu berpikir dua kali untuk mencerna ucapan Shikamaru. "Maksudmu Ino merasuki tubuhku? Begitu?"
Shikamaru mengangkat kdua bahu seraya melepaskan pelukannya. "Mungkin saja. Karena kamu yang selama ini dekat dengannya," jawabnya.
Sakura tertawa kecil. "Berarti ciuman ini," kata Sakura sambil menunjuk bibir mungilnya. "Bukan dari aku lho ya," sambung Sakura menggoda.
Shikamaru menaikan sebelah alisnya. "Oh, jadi aku akan mendapat ciuman dari kamu juga?" balasnya dengan seringai nakal.
Sakura memukul pundak Shikamaru. "Nggak! Aku hanya akan memberikan ciumanku untuk orang yang kucinta," sahut Sakura jengkel.
"Mungkin saja, suatu hari nanti kau mencintaiku, Sakura. Isi hati, siapa yang tahu?" ujar Shikamaru masih dengan seringai naklnya.
Sakura segera bangkit berdiri. "Entahlah!" bentaknya sambil berjalan pergi meninggalkan atap sekolah.
000
Dulu, Shikamaru dan Ino selalu menghabiskan waktu berdua di atap sekolah. Mengobrol, duduk diam menatap awan, atau melakukan apa saja untuk sekedar melepas penat akibat jadwal pelajaran yang terlampau padat.
Pasca kematian Ino, Shikamaru enggan untuk menginjakan kaki di atap sekolah. Menurutnya, awan maupun atap sekolah hanya akan mengingatkannya pada sang kekasih.
Shikamaru menarik nafas panjang lalu berdiri dari posisinya. Ia tersenyum pada keheningan, berbalik, kemudian melangkah pergi.
Tanpa Shikamaru sadari, sebuah sosok putih mengamati kepergiannya. Raut kesedihan serta keputus asaan tergambar jelas di wajahnya yang pucat.
000
Pipi Sakura bersemu merah. Ia bolak-balik senyum-senyum sendiri. Mungkinkah ini karena kejadian di atap tadi? Ah, sungguh Sakura malu bila mengingat momen itu.
Sejak kapan, si Haruno Sakura kikuk di hadapan lelaki. Hah, justru biasanya para lelaki yang keki bila harus bertatapan dengan Sakura.
Sakura menyentuh keningnya. "Apa ini namanya jatuh cinta?" batinnya bingung.
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
Seluruh siswa kelas biasa langsung bersemburat keluar. Bel itu merupakan pertanda pulang bagi para siswa kelas biasa sedangkan pertanda bimbingan pelajaran tambahan untuk siswa kelas spesial.
"Siap-siap untuk tes speaking besok," bisik sebuah suara tepat di telinga Sakura.
Sakura spontan menahan nafasnya. Setelah merasa bila orang di belakangnya telah berdiri tegak, Sakura berbalik. "Jangan sekali-kali berbisik atau berdiri di belakangku secara tiba-tiba!" ancamnya seraya masuk ke dalam kelas. Dua tangannya mengait erat di depan dadanya.
Sakura duduk di samping Hinata dan mengabaikan pandangan Shikamaru yang melirik padanya ketika melintasinya.
Seorang pria berkumis tebal, berambut hitam klimis masuk saat Sakura mencoba meredam detak jatungnya yang tidak karuan.
"Selamat sore anak-anak!" sapanya ramah.
"Selamat sore, Guru Kazu!" sahut anak-anak.
"Hari ini kita akan belajar untuk tes speaking besok. Kalian simak video pidato Presiden Barack Obama yang akan saya putarkan dan kalian bisa ambil contoh gaya bicaranya," kata Guru Kazu seraya memencet tombol remote.
Tepuk tangan riuh penduduk Amerika terdengar ketika Presiden Barack Obama muncul di podiumnya.
"Good morning,"
Ddrrrttt…
Tiba-tiba layar televisi berubah abu-abu dan berganti menjadi cuplikan video seorang perempuan yang diikat secara horizontal menggantung di langit-langit atap.
Kedua kaki serta tangannya ditarik begitu keras hingga darah menetes dan menimbulkan ruam kebiruan.
"Tayuya!" pekik Karin kaget.
Sontak seluruh kelas memperhatikan perempuan yang berada dalam video itu. Wajahnya memang menunduk, tapi rambut merahnya menampakan identitas.
"Jika kalian ingin menyelematkan anak ini, patuhi perintahku. Aku akan memberi kalian sebuah permainan yang mengasyikan. Sebuah teka-teki yang pasti mudah bagi anak-anak kelas spesial," kata suara dalam video.
"Lelucon macam apa ini!" teriak Suigetsu marah.
"Suigetsu, tenang! Dengarkan saja dulu," sela Neji tegas.
"Kalian tidak boleh keluar dari area permainan selama permainan berlangsung. Jika ada satu saja yang keluar, maka seluruh murid kelas spesial akan menanggung akibatnya. Baiklah, teka-teki pertama."
Semua anak kelas spesial tercekat. Tidak ada yang berani bicara maupun bergerak. Pandangan mereka hanya terpaku pada satu, yaitu layar televisi.
"Ada seorang suami yang membunuh istrinya di depan semua orang. Akan tetapi, sang suami tidak diberikan hukuman. Kenapa demikian?"
Semua anak nampak berpikir. Tiga detik, sebuah seruan mengagetkan kelas spesial.
"Karena sang suami adalah algojo yang memang ditugaskan untuk membunuh istrinya," kata Sakura panik.
Terlambat. Tali Tayuya terburu diputuskan oleh seseorang dari sela atap dan ia pun jatuh membentur belasan logam tolak peluru yang telah ditata di lantai. Kepalanya hancur dan cairan kental berwarna merah meluber keluar.
" Teka-teki pembuka yang payah, tapi jangan harap kalian bisa dengan mudah memecahkan teka-teki kedua. Selamat sore anak-anak! D class for death class. Kalian semua akan mati! "
000
Shikamaru memeluk Sakura, menenangkan si gadis musim semi yang syok berat. Bagaimana tidak? Ia baru saja melihat kematian yang sangat tragis. Dan yang bertambah parah lagi, orang yang meninggal itu adalah teman sekelasnya.
Sebenarnya, bukan hanya Sakura saja. Namun, anak-anak kelas spesial D yang lain juga mengalami perasaan yang sama.
Tak pernah ada dalam angan mereka akan menghadapi situasi mengerikan seperti ini. Semuanya saling berpegangan tangan menguatkan seraya berdoa dalam hati.
"Aku takut," ucap Sakura sangat lirih.
Shikamaru terus mempererat pelukannya. "Aku berjanji akan melindungimu, Sakura. Aku akan selalu ada di sampingmu," ujar Shikamaru lembut.
Sakura mendongakan kepalanya menatap Shikamaru. "Sungguh?" tanyanya dengan mata yang merah akibat menangis.
Shikamaru mengangguk. "Sungguh."
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
"Siap untuk teka-teki kedua, anak-anak?"
Tok...tok...tok
Di ruang Penulis~
Editor : Teka-tekinya gampang
Putpit : emang. teka-teki pemula itu
Editor : hmm, nggak ngeri blass
Putpit : aku masih bingung sama adegan kematiannya
Editor : chapter selanjutnya?
Putpit : Oh, ya aku bakalan update lamaaa banget
Editor : kenapa?
Putpit : ada urusan gitu deh. mungkin sebulan
Editor : What?
Putpit : gomen minna
Editor : harap maklum ya
Special thanks to : sasa-chan, Aurora Febria, kirei-neko, somewhere, tohko ohmiya, guest, chappy siegrain fernandes 09, kimeka riekyu, reshanda, dark nivarox, alifia0308941.
Oh, also all silent reades~
MIND to give me reciprocal?
Leave suggestion, critism, or flame in box review
~Thanks~
