Chapter 4
Disclaimer: J. K Rowling
Warning: OOC, typo(s), slash, bl
.:':.
Sudah satu jam Harry menunggu bus di halte, tapi bus itu tidak kunjung datang. Harry menunggu dengan gelisah. Beberapa orang melewatinya sambil bersiul, membuat ia merasa tidak nyaman. Dan hanya ia yang menunggu bus di halte, kemana orang lain? Apa ia harus menunggu sebentar lagi? Atau ia naik taksi saja?
Ini sudah pukul 9.05pm. Harry tidak pernah keluar rumah di jam seperti ini tanpa ada yang menemani. Perlukah ia menelepon Hugo untuk menjemputnya? Ah tidak, ia tidak ingin membuat Hugo khawatir. Harry sudah besar, sudah seharusnya ia berani.
"Harry?"
Mata Harry melebar, ia kenal suara itu.
"Harry? Kau kah itu?"
Harry berusaha untuk tidak menoleh ke samping. Ia hanya ingin pulang, tanpa berencana untuk mendengar suara itu lagi.
Nyatanya, ia malah menoleh ka samping. Ia tersenyum kecil. Harry berusaha tenang, rasanya ia ingin marah melihat wajah itu. Tom Riddle.
"Ternyata benar. Apa kabar, Harry? It's been two years," kata Tom, kelihatan senang sekali.
"Aku baik, terima kasih," kata Harry dengan datar, berbanding terbalik dengan ekspresi Tom.
"Syukurlah kalau kau baik. Um, Harry, aku ingin berbincang denganmu sebentar, bolehkah?" Tanya Tom dengan penuh harap, sambil jalan menghampirinya dan duduk di kursi halte bus.
Harry yang melihatnya berusaha untuk postive thinking, mati-matian untuk tidak berteriak dengan kesal di depan wajahnya. Sudahlah, lagipula ia tidak menggangguku lagi sejak kejadian itu, hanya pernah sekali. Harry menghela napas, yang rupanya sedari tadi ia tahan.
"Baiklah, kau ingin membicarakan apa?" Kata Harry to the point.
"Well, tidak ada hal yang penting, sebenarnya. Kebetulan aku baru pulang dari kantor dan ingin membeli sesuatu di daerah sini, lalu aku melihatmu duduk sendirian. Kau baru selesai kerja?" Kata Tom.
"Ya, aku baru selesai kerja," jawab Harry dengan singkat.
"Singkat sekali, Harry? Yang aku tahu kau ini orang yang cerewet," kata Tom sambil tertawa kecil.
"Tahu apa kau tentang aku?" Emosi Harry mulai naik, namun ia tetap berusaha sabar.
"Aku tahu banyak tentang kau, Harry. Aku ini mantanmu, ingat? Atau jangan-jangan kau tidak menganggapku sebagai mantanmu?" Kata Tom berusaha bercanda.
"Aku tidak sekejam itu," kata Harry. Ia bahkan sudah hampir melupakan Tom jika saja pria ini tidak muncul lagi di hadapannya.
"Baguslah kau masih menganggapku," kata Tom. "Aku merindukanmu, Harry," bisiknya.
Harry tercekat. Walaupun Tom berbisik dan jalanan sangat bising, ia masih mendengar Tom berbisik.
"Aku merindukanmu, Harry," kata Tom dengan suara biasa. Ia mulai menatap Harry, penuh harap Harry akan membalas perkataannya. Tetapi ia melihat Harry diam saja.
"Aku hampir gila karena merindukanmu. Kerjaanku hampir berantakan kalau saja sekretarisku tidak menanganinya dengan baik. Aku tidak bisa berpikir jernih saat aku sedang dalam situasi rapat dengan para klien, kepalaku penuh denganmu. Lagi-lagi sekretarisku yang dengan sabar memeberi penjelasan kepada klienku. Dan aku hampir bunuh diri karena merindukanmu, kalau kau mau tahu. Setahun lebih aku berusaha move on, one night stand di sana-sini, kencan buta dengan beberapa orang, tetap saja kau berlari-larian di kepalaku. Aku tidak bisa seperti ini terus, di hantui oleh kesalahanku yang tidak pantas kau maafkan. Aku pindah ke apartemen baru, karena di rumah kita dulu sangat banyak kenangan indah yang kita buat bersama, aku tidak tahan melihatnya lagi," kata Tom dengan putus asa.
Harry hanya menatap jalan raya dengan datar dan berusaha untuk tidak menangis. Harry akui ia memang merindukannya, tapi bukan berarti ia masih mencintainya. Harry tidak akan mengelak bahwa ia merindukan Tom, karena kenangan selama dua tahun itu tidak mudah untuk di lupakan.
"Katakan sesuatu, Harry, aku mohon," kata Tom dengan nada memohon.
"Dan aku akan menanyakan ini sekali lagi, setelah itu aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu," kata Tom dengan serius. Harry menahan napasnya.
"Kembalilah padaku, Harry."
Harry akhirnya menoleh dan melihat wajah Tom. Melihat ke arah matanya.
"Tidak ada yang perlu kukatakan, Tom. Ini sudah dua tahun lamanya dan kau masih memintaku kembali padamu? Tidak, karena kita memang sudah berakhir. Hanya karena kau menjelaskan padaku betapa menyesalnya kau sudah menyakitiku, bukan berarti aku mudah luluh dengan kata-kata itu. Jelas-jelas kau sudah tidak mencintaiku sejak kau memukulku sampai hidungku patah. Ku pikir kau tidak akan mengulanginya lagi, karenanya aku masih percaya padamu. Ternyata setelah itu kau melakukannya lagi.
"Aku bersabar dengan sifatmu itu, Tom. Kau sudah tidak mendengarkanku lagi, kau pulang malam dengan bau alkohol dan parfum wanita yang sangat menyengat, kau berbicara dingin padaku, kau selalu marah setiap aku bertanya hal-hal kecil, kau tidak peduli jika aku sakit atau sekarat sekalipun, kau lupa kau sudah seperti itu padaku? Dan dengan mudahnya kau memintaku kembali padamu? Jangan harap, Tom," kata Harry dengan dingin.
"Harry, aku menyesal.."
"Aku tahu kau menyesal, Tom. Aku sudah memaafkanmu. Kau boleh bertanya keadaanku atau sekadar berbincang sebentar sebagai teman, asalkan kau tidak memintaku untuk kembali padamu. Karena aku tidak akan menerimanya, Tom, tidak lagi." Kata Harry dengan tegas.
"Tapi, Harry, aku.."
"Jangan sentuh aku, Tom," kata Harry sambil melepaskan tangannya dari genggaman Tom yang tiba-tiba.
"Sekali saja, Harry, aku sangat merindukan memegang tanganmu.." kata Tom masih berusaha.
"Tidak, Tom, tolong, jangan sentuh aku," kata Harry dengan suara yang mulai bergetar. Ia mulai takut jika Tom sudah main fisik.
"Aku tidak akan menyakitimu, Harry," kata Tom yang masih mencoba, kali ini ia mencoba memeluk Harry.
"Tidak, Tom, tolong jangan seperti ini.." kata Harry mulai takut.
Tom tidak memedulikan perkataan Harry dan memeluknya dengan paksa. Harry memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Tom. Ia mulai menangis, ia takut. Tom tidak memedulikan suara Harry yang mulai menangis. Ia tidak peduli, ia hanya mengeratkan pelukannya. Harry masih mencoba memberontak, dan ia mulai menangis dengan keras.
"Hey!"
Suara teriakan seseorang yang sangat Harry kenal membuat ia berhenti memberontak. Harry merasa Tom mulai melepaskan pelukannya dan Harry buru-buru menjauh dari Tom. Rupanya Tom merasa orang itu meneriakinya.
Harry melihat Draco berlari ke arah ia dan Tom dan seketika Harry sangat bersyukur Draco menyelamatkannya.
"Kau siapa? Kenapa kau memeluknya seperti itu?" Kata Draco dengan marah.
"Aku Tom Riddle, mantan Harry. Dan kenapa kau marah karena aku memeluknya? Memangnya kau pikir kau siapa?" Kata Tom tidak kalah judesnya.
"Kau hanya mantan, dude. Aku pacarnya Harry, dan ku perintahkan kau menjauh dari pacarku," kata Draco yang membuat Harry membelalakkan matanya.
"Kau memerintahku? Kau pikir dirimu lebih tinggi dariku?" Kata Tom tidak terima dirinya direndahkan.
"Aku tidak peduli jika kau lebih tinggi dariku. Yang ku pedulikan hanya kau harus menjauh dari Harry, karena Harry sudah muak denganmu," kata Draco dengan dingin. Ia menghampiri Harry yang memeluk dirinya sendiri ketakutan sambil melihat interaksi Draco dan Tom.
"Harry, kau baik-baik saja? Apa dia menyakitimu?" Kata Draco dengan khawatir, ia terlihat panik.
"Aku tidak apa-apa, Draco. Ia hanya memaksaku, ia tidak menyakitiku," kata Harry berusaha menenangkan Draco.
"Itu berarti dia menyakitimu, Harry. Kau tidak terluka, 'kan?" Kata Draco masih gelisah dan menangkup kedua tangannya di wajah Harry, mengecek apakah ada memar atau tidak.
Harry hanya tersenyum sayu melihat Draco yang se takut itu. "Aku baik-baik saja, Draco, kau tidak perlu panik." Lalu Draco memeluknya dengan perasaan lega.
Tom melihat interaksi mereka dengan pandangan menghina ke arah Draco. Ia kesal dan memutuskan menghampiri mereka berdua.
"Harry, urusanmu denganku masih belum selesai. Aku masih akan menemuimu lagi--"
"Kau tidak akan menemuinya lagi, ku pastikan itu." Kata Draco sambil melepaskan pelukannya pada Harry dan menggenggam tangannya.
"Urusanmu dengan Harry sudah selesai. Kalian sudah putus, aku bersama Harry. Yang harus kau ingat adalah aku tidak akan menyakiti Harry seperti kau menyakitinya. Kalau kau macam-macam denganku, ku pastikan perusahaanmu dalam bahaya. Aku tahu kau pemilik Riddle's Company, tapi perusahaanmu masih kalah besar dengan milikku. Aku bisa menghancurkan perusahaanmu kapanpun aku mau jika kau bermain-main denganku. Ingat itu," Kata Draco dengan dingin dan menatap Tom dengan pandangan membunuh. Tom terlihat menyadari sesuatu.
"Ya, aku pemilik dari Malfoy Industries. Kau tahu sejarah perusahaan itu kan? Ia dikenal mampu menghancurkan perusahaan orang lain jika orang itu bermain api dengannya." Kata Draco dengan angkuh.
Tom tercekat dan melihat Draco dengan pandangan benci yang sangat mendalam. Ia bingung harus apa, ia tidak mungkin menginginkan perusahaannya dihancurkan oleh pria ini. Ia sudah membangunnya dengan susah payah.
"Sedang memikirkan bagaimana caranya mengalahkanku? Kau tidak akan bisa, old man. Aku hanya meminta kau menjauh dari Harry dan tidak muncul di hadapannya lagi, itu hal kecil, kenapa kau tidak menurut saja sih?"kata Draco dengan kesal.
Harry menatap Tom dengan datar. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Tom.
"Draco, aku ingin bicara padanya," kata Harry dengan suara pelan.
"What? Harry, kau tidak boleh melakukan itu, bagaimana jika nanti dia memaksamu lagi?" Kata Draco terkejut sekaligus khawatir.
"Aku yakin kali ini dia tidak akan memaksaku. Lagipula, kau sudah mengancamnya, 'kan?" Kata Harry berusaha menenangkan Draco. Ia melepas genggaman Draco dan berjalan menghampiri Tom yang menatapnya.
"Kau sudah mendengar jawabanku, Tom. Aku menolak kembali padamu. Dan kau berjanji tidak akan muncul lagi di hadapanku jika aku sudah memberikan jawaban padamu, 'kan?" Kata Harry kalem.
Tom menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menghela napas pasrah. Ternyata hubungannya dengan Harry memang sudah berakhir.
"Baiklah, aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Ku harap kau baik-baik saja dengannya, Harry. Kau bisa datang padaku kapan saja kau mau jika dia menyakitimu--"
"Tom, please.." kata Harry mengusap wajahnya.
"Okay, tidak, aku hanya bercanda. Aku tidak akan datang padamu lagi, Harry. Ku kira, ini adalah perpisahan?" Kata Tom.
"Ya, ini perpisahan, dan ini yang terakhir," kata Harry mantap.
"Bolehkah aku memelukmu, Harry? Sebagai teman?" Tanya Tom dengan hati-hati.
Harry hanya mengangguk dan memeluk Tom tanpa memedulikan tatapan protes Draco dibelakangnya. Ia melepaskan pelukannya dan Tom berjalan pergi menjauhi mereka berdua.
"Harry, kenapa kau memeluknya?" Kata Draco tidak terima Harry memeluk mantannya di depan Draco.
"Memangnya kenapa kalau aku memeluknya?" Kata Harry tak mau kalah.
"Dan kenapa kau belum pulang? Baru sekali aku tidak bisa mengantarmu dan kau sudah bermasalah dengan mantanmu. Kau itu memang harusnya tidak boleh jauh dariku," kata Draco dengan enteng tanpa memedulikan ekspresi Harry.
"Ayo, kita kembali ke cafe," ajak Draco, kali ini tidak meninggalkan Harry. Ia menggenggam tangan Harry dan berjalan menjauhi halte dan menuju ke cafe.
Mereka berjalan dalam hening. Harry sebenarnya penasaran bagaimana penjelasan Draco soal tadi ia mengaku pacarnya Harry. Ia ingin menanyakan hal itu pada Draco, tapi ia melihat Draco sibuk dengan pikirannya sendiri. Harry urung bertanya dan ia merasa Draco mengeratkan genggamannya.
"Draco? Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" Kata Harry akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Aku memikirkanmu," kata Draco yang membuat Harry terkejut.
"Aku memikirkan bagaimana kalau kau luluh dan kembali padanya. Aku memikirkan bagaimana jadinya jika aku tidak melihat kalian. Aku memikirkan bagimana kau berhenti bekerja karena kembali padanya. Aku memikirkan--"
Ucapan Draco terhenti karena Harry tiba-tiba memeluknya. Draco mematung dan lupa apa yang selanjutnya akan ia bicarakan.
"Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku mempunyai seorang penyelamat, sepertimu," kata Harry, suaranya tidak terlalu keras tapi terdengar jelas di telinga Draco.
"Maukah kau bercerita padaku mengapa tiba-tiba kau berada di halte?" Kata Harry melepaskan pelukannya pada Draco, tetapi ia gagal, karena Draco memeluknya lagi.
"Sebenarnya perasaanku tidak enak setelah kau pergi. Aku mengerjakan tugas tapi tidak fokus. Beberapa kali aku melakukan kesalahan dan mengumpat, membuat semua orang di ruangan itu bertanya-tanya ada apa denganku. Aku pikir aku baik-baik saja jika aku berusaha fokus dan kembali mengerjakan tugas, tetapi satu jam kemudian aku menyerah dan keluar cafe untuk menyusulmu, walaupun aku terlambat satu jam, aku berniat ke rumahmu dan kemudian aku melihatmu dari tempat parkir motor, kau duduk di halte bersama seorang pria. Awalnya aku ingin menghampirimu, tapi aku ingin melihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tahu pria itu Tom Riddle. Aku mengamati kalian hingga Riddle mulai membuatmu tak nyaman dan memaksamu, aku memutuskan untuk menghampiri kalian," cerita Draco dengan detail dan setelah itu melepaskan pelukannya lalu menatap Harry.
"Draco.."
"Harry, aku menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu. Aku tahu aku terlalu cepat menyatakan ini padahal kita baru kenal. Aku pun bingung kenapa perasaan ini bisa datang secepat ini. Aku berusaha untuk tidak memikirkanmu setiap kita jauh tapi ternyata aku tidak bisa melakukannya. Aku selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi padamu, aku ingin selalu ada di sisimu jika kau berada dalam kesusahan, aku ingin kau percaya padaku, Harry. Aku tidak akan mengumbar-ngumbar sebuah janji yang belum tentu bisa aku tepati. Tapi aku bisa memastikan ini; bahwa aku tidak akan menyakitimu, dan tidak akan meninggalkanmu," kata Draco mengakui perasaannya.
Harry bingung harus berkata apa, ini terlalu tiba-tiba. Ia hanya menatap Draco dengan terkejut.
"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, Harry. Aku mengerti jika kau belum siap atau belum mau menjalin hubungan dengan seseorang. Kau bisa memberiku jawaban kapan saja, aku tidak akan pergi darimu," kata Draco lagi, dengan wajah yang terlihat tulus.
Harry tersenyum dan memegang tangan Draco. "Terima kasih, Draco. Aku percaya padamu," lalu ia memeluk Draco sebentar dan melepaskannya.
"Bisakah kita kembali sekarang, Draco? Aku yakin teman-temanmu pasti khawatir padamu karena kau pergi dengan tiba-tiba," Harry mengingatkan Draco dan tertawa kecil saat melihat wajah 'oh-sial' Draco yang lucu itu.
.:':.
"MALFOY! KAU DARI MANA SAJA, SIH? INI SUDAH JAM SEPULUH DAN DARI TADI PONSELMU BERBUNYI-- Harry? Kenapa kau masih di sini? Kenapa kau bersama Draco?"
Draco dan Harry masuk ke ruangan khusus di cafe disambut dengan teriakan dan pertanyaan Pansy. Draco buru-buru mengambil ponselnya dan ia melihat Daphne sudah meneleponnya lima kali. Ini memang sudah jam sepuluh malam dan sudah waktunya menutup cafe. Lalu ia menelepon Daphne untuk memberikan penjelasan
"Well, Harry? Bisakah kau menjelaskan kenapa kau masih disini dan kembali bersama Draco?" Tanya Astoria dengan bingung.
"Um, ada sedikit masalah di luar tadi, tapi sekarang sudah selesai, kok," kata Harry seadanya, tidak berniat bercerita dengan mereka.
"Tapi, kau tidak apa-apa 'kan, Harry? Kau terlihat pucat," kata Theo.
"Aku baik, kalian tenang saja. Tidak ada masalah serius, kok," kata Harry berusaha menenangkan mereka.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Si Malfoy ini membuat kami khawatir karena ia sangat berisik dan tiba-tiba keluar ruangan tanpa penjelasan," kata Hermione dengan sebal.
Harry hanya tersenyum. Draco sangat beruntung mempunyai teman yang sangat peduli padanya. Andai ia mempunyai teman seperti itu..
"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Harry melihat ruangan sudah rapi dan mereka sudah siap untuk pulang.
"Ya, aku sangat mengantuk, dan ingin cepat-cepat tidur," kata Blaise lalu menguap lebar-lebar.
"Maafkan aku, aku membuat kalian menunggu karena Draco membantuku di luar tadi, aku jadi tidak enak pada kalian.." Kata Harry sangat merasa bersalah.
"Tidak, Harry, ini bukan salahmu, mungkin kita tidak tahu masalah apa yang menghampirimu, tapi begitu melihat paniknya Draco keluar dan ternyata ia mengejarmu, pasti masalahmu sangat serius. Jadi ini bukan salahmu, okay?" Kata Astoria sambil menggenggam tangan Harry dan menenangkannya. Harry tersenyum mendengarnya.
"Ayo, kita pulang!" teriak Draco dengan keras dan mengagetkan semua orang disitu yang serius dengan masalah Harry.
"Aku akan membunuhmu kalau kau begitu lagi, Malfoy," kata Blaise sambil mendelik pada Draco. Draco hanya menyeringai.
"Harry, kenapa kau baru pulang?" Kata Hugo heran melihat Harry baru pulang dan di antar Draco.
"Ada sesuatu yang menghalangiku pulang dan Draco membantuku, Hugo, jangan memarahinya," kata Harry cepat-cepat begitu Hugo terlihat ingin mengomeli Draco.
"Tapi wajahmu pucat, Harry, kau benar tidak apa-apa?" Tanya Hugo dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, Hugo," kata Harry. Ia lupa masih ada Draco di belakangnya yang mengamati interaksi mereka berdua. Ia berniat ingin mengucapkan selamat tinggal tetapi sudah didahului oleh kakaknya.
"Terima kasih sudah mengantar adikku, Malfoy. Kau boleh pergi sekarang," kata Hugo dengan datar. Draco hanya mengangguk dan menyalakan motornya dan bersiap untuk pergi.
"Malfoy!" Teriak Hugo. Draco tidak jadi jalan.
"Hugo! Kau mau apa?" Kata Harry heran dan perasaan ia tidak enak.
"Kau besok ada waktu senggang? Kalau ada, besok temui aku di depan taman kota jam 2 siang, aku ingin membicarakan hal serius padamu," kata Hugo dengan datar.
"Okay, aku tunggu di sana," jawab Draco lalu pergi meninggalkan Potter bersaudara tersebut.
Harry menyipitkan matanya ke arah Hugo, curiga dengan apa yang akan ia dan Draco lakukan di sana nanti.
"Aku hanya ingin bersenang-senang, Harry," Kata Hugo sambil nyengir. "Lebih baik kau cerita padaku kenapa kau pulang terlambat hari ini,"
Harry hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
.:':.
TBC
