Class Special D
All character belong to Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
1999
Class Special D by Putpit
27 Juni 2013
Inspiration:
Death Bell-South Korean Film
2008
Warning! Curse words and murder scene.
Bila mimpi buruk menjelma menjadi kenyataan, maka kehidupan tak ubahnya seperti berada dalam kegelapan. Kegelapan yang mengurungmu dalam ketakutan juga tangisan.
Anggapan di atas cocok untuk menggambarkan hal yang terjadi pada anak-anak kelas spesial D. Ketenangan belajar mereka tiba-tiba dirusak oleh teror kematian. Sebuah permainan konyol menyangkut kelangsungan hidup mereka di berikan. Dan para murid jenius itu wajib menjawabnya dengan benar. Bila salah, entah mimpi buruk macam apa yang akan menghampiri mereka.
"Fuck! Fuck about this stupid situation!" seru pemuda berambut perak klimis seraya menjatuhkan meja di hadapannya dengan keras.
Kabut keheningan yang semula menyelimuti, berganti menjadi helaan-helaan nafas putus asa.
"Tenanglah Suigetsu. Kita berada di situasi yang sama sekarang. Umpatanmu justru mempekeruh segalanya," nasehat teman si pemuda berambut hitam mirip nanas.
Suigetsu-si pemuda pemarah itu-mendengus mengejek. "Sudahlah, aku mau pergi, Shikamaru! Ayo Karin!" ucapnya dengan nada tinggi sambil menarik tangan kekasihnya yang berada di samping kanannya.
"Hei, berhenti Suigetsu! Apa kau tidak ingat ancaman di pembunuh?" kata Karin seraya menghempaskan tangan sang kekasih darinya.
Suigetsu memutar tubuhnya ke arah Karin. Mata ungunya langsung mendelik marah. "Kalau kau tak mau ikut, biar aku saja yang pergi," ujarnya lalu melanjutkan langkah.
"Eh," kata Karin serba salah.
"Tunggu!" seru teman si pemuda bernama Shikamaru.
Suigetsu pun menghentikan gerak kakinya dan menunggu Shikamaru menghampirinya. Dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter, membuat lelaki klan Nara itu sedikit menunduk saat berdiri di depan Suigetsu yang lebih pendek sepuluh sentimeter.
"Aku akan ke asrama dan menelepon polisi. Jangan halangi aku!" bentak Suigetsu.
Shikamaru memejamkan mata sejenak. Ia benar-benar dibuat pusing akibat tidak adanya alat komunikasi. Peraturan di Konoha High School sangat ketat dan tegas. Salah satunya ialah tidak diizinkannya para murid untuk membawa ponsel selama jam sekolah. Dan dalam menjalankan peraturan-peraturan itu, setiap pagi selalu ada patroli ketertiban sehingga pelanggaran dapat diminimalisir sedini mungkin.
"Kita harus berada dalam area permainan," kata Shikamaru.
"Persetan dengan ancaman bodoh itu. Aku masih ingin hidup," ujar Suigetsu sinis.
Shikamaru memutar bola matanya jengkel. "Kita harus tetap bersama agar bisa mengatasi masalah ini. Jangan bertindak egois."
"Biarkan saja dia," sela sebuah suara berat.
Dua orang lelaki yang tengah ribut itu spontan menoleh ke belakang. Pandangan mereka menangkap sosok lelaki tegap berambut oranye.
"Terima kasih Juugo," kata Suigetsu sambil menarik sudut bibirnya.
"Hah, setelah cewek kasar itu, maka giliranmu mati," komentar pemuda tambun dan botak di sebelah Juugo.
Kening Suigetsu langsung berkedut. "Berengsek kalian Jirobo!" teriaknya kencang.
"Teman-teman, berhentilah bertengkar," sela sebuah suara lain.
Kali ini, tiga kepala menolehkan kepala ke kiri secara bersamaan.
"Hah, sekarang si Lee. Apa kau juga mau bicara omong kosong untuk mencegahku?" sentak Suigetsu kesal.
Lelaki berambut hitam mangkuk yang dimaksud, menggaruk belakang kepalanya kikuk. "Tidak. Aku justru ingin bergabung denganmu. Aku suka semangatmu agar cepat keluar dari masalah ini,"ucapnya dengan kedua bola mata bulat yang nampak berkobar.
Suigetsu menyeringai. "Oke, Lee," ujarnya sambil melirik gadis berambut merah yang berada tak jauh darinya. "Kau ikut/tidak sayang?" tanya Suigetsu pada sang gadis.
Karin mengerjap beberapa kali. Ia akhirnya mengangguk lemah lalu berjalan mendekati Suigetsu.
"Kalian pasti berterima kasih pada kami nanti," kata Suigetsu sambil menggandeng tangan Karin.
Ketika terdengar bunyi pintu tertutup keras, keheningan kembali menyeruak di ruang kelas D. Shikamaru mendekap Sakura untuk menguatkannya, Neji dan Hinata hanya dapat duduk saling berdekatan, sedangkan tiga orang lain berdiri kaku.
000
Kenyamanan yang diberikan Shikamaru sedikit menyurutkan goncangan emosi Sakura. Dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Secara perlahan, Sakura melepaskan pelukan Shikamaru.
"Terima kasih," ucap Sakura.
"Sama-sama," sahut Shikamaru.
Guru Kazu yang sedari tadi berdiri di dekat meja guru akhirnya angkat bicara, "Kita tidak bisa membiarkan Suigetsu, Lee dan Karin keluar dari area sekolah. Berbahaya!"
"Itu pilihan mereka. Biarkan saja," balas Jirobo acuh.
Doorrr Doorrr Doorrr
Tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun. Seluruh penghuni kelas spesial D sontak terbelalak kaget. Dengan cepat, Sakura berlari keluar kelas. Ia takut terjadi hal buruk pada teman-temannya.
Shikamaru yang melihat Sakura berlari panik, langsung mengikutinya dari belakang. Disusul Guru Kazu, Neji, Hinata, Juugo, dan Jirobo.
Gema suara tembakan masih bisa ditangkap oleh gendang telinga Sakura saat ia telah berada di lobby sekolah. Beberapa detik kemudian, dia tercekat pada pemandangan di depannya.
"Astaga, Lee!" pekik Sakura.
Suigetsu serta Karin hanya bisa duduk ketakutan di samping Lee. Mata keduanya melebar tatkala melihat sang pemuda nyentrik tergeletak tak berdaya di lantai. Pemuda itu meringis kesakitan sambil memegangi lengan kanannya yang bercucuran darah.
Sakura melangkah mendekati tiga temannya lalu jongkok di sebelah kiri Lee. Dia pun mengikuti arah pandang Lee. Disana, di luar gedung sekolah, berdiri sosok berbaju hitam dan bertopeng tengah mengacungkan pistolnya ke depan.
Sosok tersebut langsung kabur ketika Shikamaru mendekatinya dengan langkah cepat.
"Berhenti Shikamaru! Jangan keluar dari area permainan! Berbahaya!" seru Sakura mengingatkan.
Pemuda klan Nara itu spontan menghentikan kejarannya sebelum mencapai pintu masuk utama Konoha High School.
"Aku tidak mau mati!" raung Karin seraya bangkit berdiri. Dia memeluk tubuhnya yang gemetar lalu berlari pergi.
"Karin!" panggil Suigetsu panik.
"Suigetsu, ayo cepat kejar kekasihmu! Anak-anak, tolong kalian obati Lee," perintah Guru Kazu dan bergegas menyusul Karin bersama Suigetsu.
Setelah tiga orang lenyap dari lobby, ganti Sakura yang memberi instruksi. "Shikamaru, Neji, tolong bopong Lee ke UKS!"
Dua lelaki itu pun mengikuti perkataan Sakura. Shikamaru mengangkat bagian atas tubuh Lee sedangkan Neji bagian bawah.
"Hati-hati dengan lukanya! Jika kalian menyentuhnya, malah akan tambah infeksi," kata Sakura yang berjalan di belakang.
"Baik Nona Haruno," tanggap Shikamaru pendek.
Saat sampai di UKS (Unit Kesehatan Siswa), Shikamaru dan Neji langsung membaringkan Lee di ranjang. Keduanya kemudian bergabung dengan teman-teman lain di ruang tunggu.
Sakura lantas cepat bertindak. Berkat pengetahuan dari sang Ibu yang merupakan Dokter Spesialis Bedah, ditambah pengalamannya menjadi dokter kecil semasa di Junior High School, menangani pasien terluka bukanlah hal sulit baginya. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, luka Lee telah berhasil terbalut dengan baik.
"Teman-teman, kenapa Guru Kazu belum datang juga ya? Apa sangat sulit untuk membujuk Karin kembali?" tanya Sakura pada anak-anak yang terduduk di sofa di seberangnya.
"Aku akan mencari mereka," jawab Shikamaru.
"Eh, tunggu!" cegah Sakura. Dia tahu bila Shikamaru mempunyai kekhawatiran yang sama dengannya, tapi membiarkan si cowok nanas pergi sendiri justru menambah tingkat khawatirnya. "Aku akan menemanimu," ucap sang gadis musim semi kemudian.
Shikamaru menggeleng singkat. "Tidak. Aku bisa pergi dengan Neji. Kau bisa dijaga oleh Juugo dan Jirobo," ujarnya seraya beranjak dari sofa.
Namun, belum sempat Neji ikut berdiri, dentang bel berbunyi nyaring.
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
"Teka-teki kedua untuk menyelamatkan dua teman tersayang," ucap sebuah suara melalui sound speaker.
Semua orang langsung mematung di tempat.
"Terdapat lima botol di koridor kelas di lantai tiga. Putih bisa membawamu ketenangan untuk selamanya. Dua dari kanan si putih, ada merah yang memberimu euforia tanpa ujung. Diantara merah dan putih, ada hijau yang mempunyai efek tidak terkira. Lalu di ujung lain, kuning bisa menemanimu hingga tak lelah sedetik pun. Dan di sebelah kuning, si biru bisa mengantarkan pada gerbang kelegaan sesaat. Empat botol itu berisi racun sedangkan satunya hanya sirup biasa. Pilih satu botol lalu minum dan temukan petunjuk penyelamatan."
"Karin, Suigetsu," ucap Sakura lirih.
Dddrrtt
Kemudian terdengar teriakan perempuan yang memekikan. "Akhh, akhh, sakit!"
"Berhenti!" timpal suara lelaki.
Dddrrtt
"Pecahkan teka-tekinya dengan benar. Atau korban semakin banyak."
Hening. Permainan dilanjutkan. Nyawa ibarat kertas yang dapat disobek dengan mudahnya.
"Aku akan disini menjaga Lee. Kalian pergi saja," kata Jirobo membuka suara.
"Aku juga disini," timpal Juugo.
Shikamaru menatap dua temannya bergantian lalu mengangguk kecil. "Hati-hati. Lebih baik kalian kunci pintu UKS," ucapnya.
"Ayo!" ajak Sakura yang telah lebih dulu berdiri di pintu UKS.
Ada permainan kematian yang harus segera diselesaikan.
000
Shikamaru tak mau melepaskan gengaman tangannya dari gadis berambut merah muda di belakangnya. Ia seolah ingin sang gadis tetap aman dalam jangkauannya.
UKS yang terletak di lantai satu membuat nafas empat orang tersengal-sengal akibat harus berlari menuju lantai tiga. Mereka pun dapat menemukan sebuah meja dengan lima botol di atasnya di tengah koridor.
"Putih, hijau, merah, biru, dan kuning. Mana yang hanya berisi sirup?" pikir Sakura setelah sampai di depan meja.
"Menurut petunjuk teka-teki, botol putih bisa membawa ketenangan untuk selamanya. Hijau, mempunyai efek tidak terkira . Botol merah, memberi euforia tanpa ujung. Biru, bisa mengantarkan pada gerbang kelegaan sesaat. Sedangkan botol kuning, menemani hingga tak lelah sedetik pun." Sakura mengulang ucapan dari sound speaker beberapa waktu yang lalu.
"Em-empat diantaranya merupakan ra-cun," tambah Hinata.
"Dan kita harus meminum salah satu jika ingin menemukan petunjuk menyelamatkan Karin serta Suigetsu," kata Neji.
"Benar-benar merepotkan. Tapi, teror kematian ini harus cepat dihentikan," ucap Shikamaru.
Mereka pun terdiam sejenak. Berpikir keras demi nasib dua teman yang sedang terancam.
"Kurasa, aku tahu mana yang bukan racun," ujar Sakura setelah lima menit berpikir. Tiga orang yang berada di kanan kiri sang gadis spontan memusatkan perhatian padanya.
"Yang mana?" tanya Shikamaru seraya mengangkat sebelah alis.
"Botol biru," jawab Sakura pendek.
"Ke-kenapa bisa biru?" Kali ini giliran Hinata yang bertanya.
"Karena hanya botol biru yang dijabarkan berbeda. Selamanya, tidak terkira, tanpa ujung, dan tak lelah sedetik pun memiliki makna yang sama. Yaitu, tidak ada batasan. Sedangkan sesaat, itu mempunyai batasan. Bisa satu menit, dua menit, atau tiga menit," jelas Sakura panjang lebar.
Shikamaru tersenyum. Analisis Sakura memang sungguh hebat. Tak heran bila ia selalu menyabet rangking pertama. "Baiklah. Aku akan meminumnya," kata Shikamaru.
Ketika ia akan meraih botol berwarna biru, tiba-tiba Sakura merebutnya dan langsung meminum cairan yang ada di dalam botol.
"Jika ada yang meninggal karena analisisku, maka itu harus aku sendiri," kata Sakura.
"Gadis yang merepotkan," ucap Shikamaru marah.
Beberapa detik, tidak ada yang terjadi pada Sakura. Gadis bermarga Haruno itu justru memeletkan lidahnya. "Ada sesuatu dalam minumannya," ujar Sakura seraya mengambil bulatan kecil dalam mulutnya.
Sakura membuka bulatan plastik yang ternyata menyembunyikan secarik kertas kecil di dalamnya.
"Kekuasaan dan dosa asal," kata Sakura membaca isi kertas tersebut.
"Sial, masih berlanjut rupanya," ucap Neji kesal.
"Em, aku pernah membaca sebuah buku. Disitu ular diceritakan mempunyai dua pengertian. Ular bisa melambangkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan kearifan. Tapi, ular juga bisa berarti simbol setan dan dosa asal," kata Hinata memberikan pendapat.
"Ular ya?" ungkap Sakura kembali berpikir.
"Em, di laboratorium Biologi, ada ular-ular untuk percobaan. Lalu, di ruang Guru Orochimaru juga ada ular peliharaannya," kata Hinata menambah pendapat.
"Diantara dua opsi itu, mana yang terdapat petunjuk berikutnya?" ucap Shikamaru. "Mungkin lebih baik, kita berpencar untuk mencari tahu," sambungnya.
"Benar," timpal Neji setuju.
"Ayo!" perintah Shikamaru seraya bergegas ke lantai satu dimana ruang laboratium Biologi berada sedangkan Neji serta Hinata naik ke lantai empat.
000
"Bukan. Petunjuk sebenarnya ada di lukisan ular di lantai dua. Beritahu mereka Sakura," bisik sebuah suara lembut di telinga Sakura.
"Tunggu!" ucap Sakura menahan tangan Shikamaru.
Sontak Shikamaru serta dua orang lain menghentikan langkah. "Ada apa?" tanya Shikamaru.
"Petunjuknya ada di lukisan ular di lantai dua," jawab Sakura.
"Bagaimana bisa kau memutuskan segampang itu?" tanya Neji.
"Sudahlah. Tidak ada waktu untuk beragumen lagi. Percaya padaku, teman-teman," sahut sang gadis musim semi seraya menarik tangan Shikamaru.
Sakura mengenali bisikan yang barusan terdengar di telinganya. Itu adalah suara Ino, sahabatnya. Meskipun tabu bila begitu saja mengikuti bisikan itu, tapi Sakura percaya pada Ino. Karena dia adalah sahabatnya.
Saat sampai di lukisan yang dimaksud, Sakura langsung mencari kertas, atau benda apapun yang menjadi petunjuk teka-teki. Ia sekilas melihat nama pelukis di pojok kanan bawah.
Sai
"Bukankah Sai merupakan idola Ino?" batin Sakura sembari membalik lukisan. Dia pun terbelalak ketika mendapati kertas yang tertempel di lukisan tersebut.
Kesakitan menghujammu hingga mati
Laboratorium Kimia pukul 07.00 p.m
"Hanya tersisa satu menit lagi. Cepat!" seru Neji usai membaca tulisan yang tertera di lukisan.
Neji dan Hinata lekas turun ke lantai satu sedangkan Sakura masih di tempatnya memandang heran pada Shikamaru. "Hei, kau tidak apa-apa? Kenapa malah bengong sih?" omel Sakura keras.
Lelaki berambut nanas itu sontak tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng singkat kemudian menggandeng tangan kanan Sakura. "Maaf," ucapnya.
"Ya," jawab Sakura pelan.
Derap langkah kaki-kaki yang terburu-buru, memecah kesunyian gedung Konoha High School. Mereka harus ke ruang laboratorium Kimia yang berada di pojok belakang. Mereka harus menyelamatkan nyawa dua teman yang berada di pucuk kematian. Mereka harus berlomba dengan waktu.
Betapa terkejutnya, empat murid kelas spesial tersebut kala tiba di tujuan. Peluh keringat maupun nafas yang beradu, mencapai hasil berupa keputus asaan serta tangisan.
Sakura menatap pilu pemandangan di hadapannya. Ia meremas roknya seraya menggigit bibir dengan kuat. Ia sungguh miris. Sangat miris dan ngeri.
Di hadapan empat remaja itu, nampak Suigetsu dan Karin yang sama-sama duduk bersimpuh di lantai. Seragam keduanya tercabik-cabik dan berlumuran darah. Dari atas, tertumpah cairan kimia yang membakar kulit mereka hingga melepuh.
Teriakan-teriakan kesakitan terus menggaung hingga berganti senyap. Kematian. Takdir itu baru saja dipermainkan.
Dan permainan masih belum usai.
Di ruang penulis~
Editor : Lama banget updatenya. Satu bulan!
Penulis : Hahaha, aku sibuk CM (Class Meeting) dan bingung dalam menentukan teka-tekinya XD #tampang polos
Editor : -.- lalu apa chapter selanjutnya juga akan lama?
Penulis : Tidak. Aku sudah ada ide untuk chapter mendatang. Judulnya adalah Play XD
Editor : Okelah kalau begitu. Eh, siapa Kazu itu?
Penulis : Dia karakter buatan saya
Editor : Oh
Penulis dan Editor : Maaf ya readers atas kelamaannya dan mohon reviewnya ^^
Special thanks to: kirei-neko, kanon rizumu, mia, Kimeka ReiKyu, Somewhere, ocha chan, Kiki RyuEunTeuk, Ruru, lawliet uzumakie, pidaucy, last but not least ALL SILENT READERS
MIND to give me reciprocal?
Leave suggestion, critism, or flame in box review
~Thanks~
