Chapter 5
Disclaimer: J. K Rowling
Warning: OOC, typo(s), slash, bl
.:.:':.:..:.:':.:..:.:':.:.
11.00 am
Draco tidak fokus belajar. Ia pikir ia sudah bisa konsentrasi belajar karena ia sudah menghabiskan 3 kopi. Pikirannya terpusat pada pertemuannya dengan Hugo nanti. Ia khawatir Hugo akan bertanya macam-macam. Atau mungkin ia tidak merestui hubungannya dengan Harry. Atau ia ingin Draco enyah dari kehidupan Harry. Ia tahu Hugo adalah karyawan ayahnya, tapi tetap saja, di luar kantornya, ia adalah kakaknya Harry. Padahal masih beberapa jam ke depan ia akan bertemu Hugo, tapi ia sudah khawatir sejak ia bangun tidur tadi pagi.
Sebenarnya setelah Hugo mengajaknya ketemuan, Draco sangat kaget, sekaligus takut. Tapi bukan Malfoy namanya jika ia tidak stay cool. Ia sok-sokan membalas perkataan Hugo dengan nada datar agar tidak terdengar jika suaranya sebenarnya bergetar. Dan sepanjang perjalanan pulang ia masih memikirkan apa yang akan terjadi di pertemuan mereka.
Draco menyerah. Ia berhenti belajar dan merapikan buku-buku dan kertas yang berserakan di atas mejanya. Ia meneguk cangkirnya tapi sudah kosong, kopinya sudah habis. Ia harus minum kopi lagi. Tapi itu tidak bagus untuk tubuhnya. Draco menyenderkan tubuhnya dan memejamkan mata. Berusaha tenang dan tidak gelisah sambil mengatur napas, ia seperti terkena panic attack.
Daphne memandang prihatin pada bocah pirang itu. Ia sudah menuntut penjelasan pada Draco, tetapi Draco menolak menjelaskan, ia hanya langsung mengusir Daphne setelah memberikan pesanan Draco. Harry sedang sibuk melayani pelanggan sehingga ia tidak bisa bertanya pada Harry.
Tadi pagi saat sarapan bersama keluarga mereka, Narcissa, ibu mereka, bertanya hal yang membuat Draco menyemburkan makanannya keluar saking kagetnya. Katanya sudah beberapa kali ia melihat Draco berboncengan dengan seorang pria. Draco hanya mengiyakannya dengan samar-samar dan melanjutkan makannya. Sebenarnya ibu mereka tidak masalah dengan pacar Draco nantinya, asal ia tidak akan membawa kabur harta keluarga Malfoy. Mungkinkah Draco memikirkan hal itu? Ah sudahlah, memikirkan Draco hanya membuat kepalanya pusing. Ia melanjutkan pekerjaannya.
12.00 pm
Draco ketiduran. Ia lelah hanya dengan memikirkan pertemuannya dengan Hugo nanti. Ia butuh pengalihan. Ia melihat Harry masih sibuk dan sesekali menatap Draco dengan pandangan maaf karena tidak bisa menemaninya. Draco hanya tersenyum dan memutuskan untuk minta bantuan pada teman-temannya. Ia membuka group chatnya dan segera mengetik.
DracoMalfoy: Aku butuh bantuan kalian.
Draco menunggu, ia kira mereka akan membalasnya dengan cepat. Ia membuka instagram dan melihat profil Harry. Harry mempunyai foto yang sedikit dan ada foto mereka berdua yang ia unggah, membuat Draco senang setengah mati, tapi followersnya sangat banyak, tidak sebanyak milik Draco, sih. Tetap saja itu membuatnya jengkel karena Harry-nya dipuja oleh banyak orang. Tak lama balasan datang, satu per satu bermunculan.
TheodoreNott: Kau butuh bantuan apa, Draco?
DracoMalfoy: Aku akan bertemu dengan Hugo, kakaknya Harry.
TheodoreNott: Oh, rupanya kau akan bertemu dengan kakak iparmu, Draco. Semoga beruntung, kalau begitu.
DracoMalfoy: Aku benar-benar butuh bantuan sekarang, Theo. Aku tidak butuh ucapan 'selamat beruntung'mu.
TheodoreNott: Hanya itu bantuan yang bisa kuberikan padamu, Draco. Doa itu perlu, kau tahu.
BlaiseZabini: Kau bisa percayakan hal itu padaku, Draco. Kau butuh apa?
DracoMalfoy: Aku butuh kalian untuk menghilangkan rasa gelisah dan khawatirku ini.
BlaiseZabini: Aku bukan psikiater, Draco. Aku tidak bisa berurusan dengan mental seseorang. Kupikir kau butuh pinjam baju atau apa.
DracoMalfoy: Tidak, you silly. Untuk apa aku meminjam bajumu kalau bajuku saja lebih keren dan mahal darimu.
BlaisrZabini: Sialan kau, Malfoy.
AstoriaGreengrass: Kau hanya butuh di semangati, iya 'kan, Draco?
DracoMalfoy: Tepat sekali, Tori.
AstoriaGreengrass: Kenapa kau tidak minta disemangati saja pada Harry? Ia harusnya bertanggung jawab telah membuatmu panik.
DracoMalfoy: Harry sedang sibuk. Kalau ia tidak sibuk, untuk apa aku meminta bantuan kalian?
HermioneGranger: Yang kau perlukan hanya mencari kesibukan agar pikiran kau tidak kalut, Draco, seperti mengerjakan tugas atau membaca buku, mungkin?
DracoMalfoy: Aku sudah berusaha konsentrasi belajar sedari tadi, 'Mione. Bahkan aku sudah tiga kali minum kopi agar aku tidak gelisah.
PansyParkinson: Dasar bodoh. Minum kopi sebanyak itu hanya akan membuatmu semakin gelisah tiada henti, Draco.
AstoriaGreengrass: Harusnya kau minum air putih atau cokelat panas saja, Draco. Itu akan membuatmu tenang sedikit.
HermioneGranger: Dan, Draco, jika kau gugup, pikirkan saja mengapa kau pantas bersanding dengan Harry jika seandainya Hugo tidak merestuimu. Lagipula, ia karyawan ayahmu, 'kan?
DracoMalfoy: Aku tidak akan membawa-bawa urusan pekerjaan ke kehidupan percintaanku, 'Mione. After all, ia adalah kakak dari calon pacarku, ia berhak memarahiku jika aku membuat Harry sedih.
HermioneGranger: Baiklah, tapi ingat, Draco, jangan minum kopi lagi, itu tidak baik untuk jantungmu. Minumlah air putih agar kau sedikit tenang dan pikirkan tentang hal-hal yang membuatmu bahagia.
DracoMalfoy: Okay, ma'am. Thank you, guys, kalian benar-benar menolongku kali ini. Doakan aku sukses ya!
Draco mematikan ponselnya. Ia sudah lebih tenang sekarang. Berbagi cerita pada temannya saat sedang kalut memang obat terbaik, bisa membantu menghilangkan bebannya.
01.00 pm
Oh sial, satu jam lagi. Draco mencoba tenang dan mengatur napasnya berkali-kali dan melakukannya dengan keras, membuat pengunjung yang lain menjadi terganggu. Ia tidak peduli, ia hanya perlu tenang. Ia sudah mencoba saran dari teman-temannya selama satu jam ini dan efeknya memang manjur, namun tidak berapa lama Draco kembali gelisah.
Harry menghampiri Draco dengan khawatir. Untungnya ia sudah bisa istirahat sejenak dari pelanggan yang terus-menerus datang. Daphne juga yang menyuruhnya langsung untuk menemani Draco, dan pekerjaannya akan digantikan dengan yang lain. Ia duduk di sebelah Draco dan menatapnya datar.
"Kau tahu, Draco? Kakakku bukan monster, tahu. Kau tidak perlu se gelisah ini," kata Harry enteng.
"Aku lebih baik menghadapi monster beneran daripada bertemu kakakmu," kata Draco dengan jengkel.
Harry tertawa, kelihatan, deh, sifat Draco yang sarkartis ini. "Kalau kau lebih memilih bertemu monster, berarti kau tidak mendapat restu kakakku, Draco," kata Harry menggoda Draco.
"Kau tidak membantuku, Harry, sungguh, setega itukah kau membiarkanku gelisah seperti ini?" Kata Draco sambil menatap Harry putus asa.
"Tidak, Draco, seriously, kau menghadapi Hugo tidak memakai ujian tes atau apapun, kau hanya akan mengobrol dengan dia, percaya padaku, Hugo tidak se seram yang kau kira," kata Harry, lama-lama ia tak tega juga membiarkan Draco takut seperti ini.
"Bukan itu yang aku takutkan, Harry, aku takut dia tidak merestui kita, dan lebih parahnya lagi, bagimana kalau dia benar-benar akan mengujiku?" Kata Draco kalut.
'Astaga, susah sekali menenangkannya,' ujar Harry dalam hati. "Draco, dengar ya, dia adalah kakakku, otomatis sifatnya tidak jauh berbeda dariku. Hugo bukan orang yang serius, kok, ia hanya tegas, dan dia adalah orang paling santai yang pernah aku kenal. Mungkin memang beberapa orang menganggapnya orang yang dingin, tapi itu jauh sebelum mereka mengenal Hugo. Mereka mengatakan kalau Hugo adalah orang favorit mereka setelah mengenal Hugo dengan baik. Hugo bisa membedakan kapan saatnya untuk santai, dan kapan saatnya untuk serius. Nah, Draco, jadilah diri sendiri, jangan bertingkah seperti seseorang yang bukan kau. Jadi, setelah penjelasanku yang panjang ini, bagaimana perasaanmu?" Kata Harry sambil berharap Draco tidak gelisah lagi
"Melihatmu dan mendengarkanmu bicara menenangkanku saja sudah membuatku jauh lebih baik, Harry. However, penjelasanmu barusan akan aku ingat jika aku sudah bertemu dengannya, terima kasih, my Harry," kata Draco sambil tersenyum kecil saat melihat pipi Harry bersemu merah.
"Okay, sama-sama. Draco, ini sudah 01.30 pm, kau tidak mau berangkat?" Kata Harry mengalihkan pembiaraan.
"Oh, yaampun, mimpi buruk akan datang. Doakan aku lancar, Harry," kata Draco sambil memegang tangannya dan mencium kening Harry lalu pergi ke luar cafe. Harry melotot, mematung, dan pipinya semakin merah, dan berusaha untuk tidak salah tingkah. Ia bangkit berdiri dan melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan senyuman misterius Daphne yang sedari tadi melihat interaksi mereka.
.:.:':.:..:.:':.:..:.:':.:.
Draco sudah sampai depan taman kota 10 menit lebih awal, rencananya ia ingin berlatih ekspresi apa yang akan ia tunjukkan ke Hugo nanti. Ia tidak mau menunjukkan ekspresi takut dan gugup karena itu akan merusak citra seorang Malfoy. Ia harus bertingkah tenang dan 'jadi diri sendiri', Harry yang menyuruhnya begitu. Okay, ia akan bertingkah kalem dan tetap stay cool.
'Mungkin jalan-jalan sebentar di sekitar taman akan membuatku rileks sedikit,' ujar Draco dalam hati. Ia berjalan pelan sambil melihat-lihat tanaman yang ada di pinggir jalan, sesekali menendang kerikil, atau iseng mencabut daun dari pohon lalu menjatuhkannya lagi. Draco sangat gabut.
"Ekhm,"
Suara deheman seseorang membuat Draco tersadar dan langsung membalikkan badannya. Hugo sudah ada di sana, memakai outfit yang sangat tidak biasa. Hugo memakai kaus polo berwarna hijau terang, sebuah sweater berwarna merah bergaris kuning melekat di tubuhnya, lalu ia memakai skinny jeans berwarna merah muda, bowler hat berwarna ungu sudah ada di kepalanya dan sebuah sunglasses hitam menghiasi wajahnya yang berjenggot, dan untuk sepatu, kalau tidak salah ia memakai Adidas Breeze, 101 2 Men's Running Shoes.
Astaga, Draco sakit mata.
Seriusan, mata Draco berair melihatnya.
"Hello, Draco," sapa Hugo menyadarkan Draco yang terpana dengan dirinya, well, pakaiannya, actually. "Bagaimana penampilanku?" Kata Hugo dengan percaya diri.
"Ah, Hello, um.. kau tampak menakjubkan. Err.. what should I call you, sir?" Kata Draco bingung bagaimana memanggil Hugo, sepertinya kalau hanya 'Hugo' dirasa kurang sopan.
"Hugo saja, please, atau kau punya panggilan khusus untukku? Seperti 'bro'?
"Okay, Hugo, deal," kata Draco dengan gugup. Astaga, ia nervous sekali.
"Bagaimana denganku? Apa aku harus memanggilmu Draco? Atau Adik? Haruskah ku tambahkan ipar? Jadinya 'adik ipar', dong ya? Kau suka itu, Draco?" Kata Hugo lagi. Draco bingung Hugo hanya menggodanya atau memang sudah sifatnya yang cerewet itu.
"Just Draco, 'adik ipar'nya nanti saja," kata Draco, masih bingung harus berwajah seperti apa.
"Panggilan nama sudah clear, sekarang saatnya kita pergi. Menurutmu sebaiknya kita pergi ke mana, Draco?" Kata Hugo dengan santai, berbeda sekali sifatnya dengan beberapa waktu belakangan, dingin dan datar, oh, dan tidak cerewet.
"Aku tidak tahu. Aku jarang sekali berpergian, banyak waktu ku habiskan di cafe," kata Draco berusaha menyesuaikan cara bicaranya dengan Hugo.
"Okay, aku akan menjadi tour guide mu untuk beberapa jam ke depan, dan aku sudah tau kita akan ke mana sekarang," kata Hugo menyeringai. Oh tidak, ia sudah mulai menyeringai.
.:.:':.:..:.:':.:..:.:':.:.
"Aku tidak menyangka kau membawaku ke sini," kata Draco dengan terpana.
Bagaimana tidak, Hugo membawanya ke London Dungeon, sebuah perpaduan antara museum, rumah horror, dan panggung komedi yang bertemakan sejarah berdarah di Inggris. Draco pernah membaca di salah satu artikel tentang tempat ini. Dan ia hanya pernah melewati tempatnya saja, tidak pernah masuk ke sini sebelumnya, karena ia pikir untuk apa ia kesana untuk mengetahui sejarah jika ada buku yang bisa dibaca.
"Kau tahu tempat ini, Draco?" Kata Hugo menyadarkan lamunan Draco.
"Ya, aku tahu tempat ini, tapi aku belum pernah masuk," kata Draco dengan jujur.
"Membosankan sekali kau, Draco, apakah kau tahu sejarah-sejarah yang ada di sini?" Kata Hugo lagi, seperti sedang menguji Draco.
"Aku tahu sebagian besar sejarah yang ada di Inggris, karena aku membaca buku," Draco sedikit pamer tentang hobinya yang satu ini, karena, jarang-jarang, 'kan, pria se-almost perfect Draco ternyata hobinya adalah membaca buku?
"Kalau hanya membaca buku saja, itu tidak ada seninya sama sekali. Tempat ini di buat tidak hanya untuk mengetahui sejarah semata, melainkan menghibur pengunjungnya dengan cara yang unik, padahal di dalam sana sangat menyeramkan," kata Hugo.
Mereka mulai masuk ke dalam London Dungeon setelah membayar tiket masuk. Draco sedikit terpana, karena bagaimanapun ia tidak pernah pergi ke amusement park sebelumnya, saat ia kecil pun tidak. Yeah, Draco mengalami masa kecil kurang bahagia.
"Ayo, kau mau terpesona sampai kapan?" Kata Hugo mengajak Draco.
.:.:':.:..:.:':.:..:.:':.:.
"ASTAGA! ITU TADI SERU SEKALI! HEY HUGO, KALAU KAU INGIN PERGI KE TEMPAT-TEMPAT SEPERTI INI, AJAK AKU!" Kata Draco dengan antusias.
Mereka memulai perjalanan mereka dari The Crypt sampai berakhir di Extremis: Drop Ride to Doom. Segmen dari awal sampai akhir berjumlah 14 segmen. Aktor dan aktrisnya sangat piawai dalam memainkan perannya masing-masing. Draco dan Hugo juga berkesempatan untuk ikut berakting seolah-olah mereka adalah bagian dari cerita masa lalu.
"I will, Draco, I will, reaksimu sama dengan reaksi Harry saat aku membawanya ke sini, hanya saja Harry memakai aksi lompat-lompatan saking bahagianya, kau hanya kalem, dalam artian tidak ikut melompat seperti Harry, namun tidak juga naif untuk teriak saking excitednya," kata Hugo membandingkan Draco dan Harry. Draco hanya salting karena sepertinya ia sudah berhasil membuat Hugo suka padanya.
"Um, setelah ini, kita mau ke mana?" Tanya Draco, ia penasaran, Hugo akan membawanya ke mana lagi.
"Kita makan dulu, aku lapar sekali--"
"Aku yang traktir!" Kata Draco dengan semangat.
"Tidak, Draco, kau tidak usah--"
"Tidak, Hugo, kau sudah membuatku bahagia hari ini, biarkan aku menraktirmu, please.." kata Draco berusaha membujuk Hugo.
"Astaga, lagi-lagi kau sama saja dengan Harry. Ya sudah, ayo keluar dari sini," kata Hugo mengajak Draco keluar dari area London Dungeon karena tempat itu sudah akan tutup. Draco hampir melompat kesenangan karena dirinya disamakan dengan Harry lagi.
Mereka makan di salah satu fast food terdekat di daerah situ. Draco menyuruh Hugo untuk duduk setelah menanyakan pesanannya sementara Draco mengantre untuk memesan.
Saat gilirannya tiba, Draco memesan 2 double cheeseburger, curly french fries, dan 2 lemon iced tea.
Draco sedang mencari di mana Hugo duduk ketika ia melihat salah satu wajah yang tidak asing, sedang mengobrol dengan Hugo.
'Astaga, ada berapa banyak Tom Riddle di dunia ini? Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?' Ujar Draco dalam hati. Draco menghampiri mereka dengan wajah bete. Ia melihat rahang Hugo mengeras, sangat berbeda dengan ekspresi saat mereka bermain tadi.
"Draco Malfoy, ya?" Kata Tom Riddle menyapa Draco duluan.
"Terakhir aku cek, ya, namaku Draco Malfoy," kata Draco dengan sinis.
"Astaga, kenapa orang-orang yang aku temui berwajah dingin semua, ya?" Kata Tom berbicara sendiri lalu tertawa miris.
'Itu karena kau seorang dirty-as*hole, dude,' ujar Draco dalam hati dengan sebal.
"Aku hanya mampir ke sini untuk mengambil pesananku, tenang saja, aku tidak menguntit kalian, kok. Hugo, bagaimana kau bisa kenal Draco?" Kata Tom dengan nada santai yang dipaksakan, sebenarnya ia gugup menghadapi mantan kakak iparnya.
"Bukan urusanmu," kata Hugo dengan dingin.
"Okay, okay, aku pergi dulu, salam untuk Harry, ya," kata Tom sambil keluar membawa bungkusan makanannya.
Draco melihat wajah Hugo, ia sangat badmood, padahal tadi ia baik-baik saja. Draco menyenggol lengan Hugo dan menujuk burgernya dengan dagunya. Hugo menghela napas lalu mengambil burgernya dan memakannya dengan diam. Sangat canggung.
"Aku tidak menyangka aku bertemu dengan dia lagi, ku kira ia sudah meninggal," kata Hugo sarkartis.
"Maaf mengecewakanmu," kata Draco membalas perkataan Hugo.
"Kenapa kau yang minta maaf?" Kata Hugo dengan bingung.
"Well, aku bertemu dengannya semalam, sebenarnya aku punya niatan untuk membunuhnya karena dia masih mengganggu Harry, apa Harry sudah cerita?" Kata Draco dengan santai, seolah-olah ia memang merencanakan hal itu.
"Ya, ia sudah cerita, aku pun hampir memarahi Harry karena sudah memberinya kesempatan untuk bicara lagi dengannya," kata Hugo.
"Draco, apakah kau serius dengan Harry?" Tanya Hugo dengan serius.
Draco tak bisa berkata-kata, ia hanya mengunyah makanannya dengan pelan sambil memikirkan jawabannya.
"Begini, Draco, aku tidak akan merestui kalian jika kau tidak serius dengannya, kau tahu apa yang aku maksud, 'kan? Serius yang aku maksud bukan hanya kau akan menikahinya, tetapi tidak melakukan kekerasan dan masih memperlakukannya dengan manusiawi jika kau marah padanya. Kau boleh marah padanya, aku serius, hanya, tolong untuk tidak pakai kekerasan. Aku menasehatimu seperti ini sebagai kakak, baik untuk Harry maupun untukmu, Harry adalah segalanya untukku, ia satu-satunya yang masih aku miliki sampai sekarang. Kau pasti tahu dan mengerti bagaimana cara menghargai milik orang lain, 'kan? Yaitu dengan menjaganya, menyayanginya, dan peduli padanya. Untuk saat ini ia masih milikku, tetapi jika ia sudah menikah nanti, ia akan jadi milik orang lain, tetapi ia masih menjadi adikku. Aku sangat menyayanginya.
"Aku tidak mengajakmu ke sini tanpa alasan, begitu pula dengan cara berpakaianku hari ini. Aku hanya ingin melihat, jika aku memakai pakaian aneh ini, kau akan mengejekku dan malu untuk pergi denganku, atau kau hanya cuek dan tetap bermain tanpa peduli malu atau tidak. Jujur, aku terkesan kau hanya tekejut di awal dan masih mengatakan kalau aku 'menakjubkan', dan aku lebih terkesan lagi saat kau menikmati waktumu bersamaku tanpa peduli betapa anehnya pakaianku hari ini. Bahkan kau tidak peduli pada orang-orang yang menunjukku karena memakai pakaian yang aneh, kau hanya menikmati waktumu denganku. Mungkin alasan ini terlalu kekanakkan, tapi ini berarti besar untukku, dan untuk Harry. Aku akan melakukan apapun untuk Harry asal ia bahagia, aku tidak peduli harus menjual ginjal atau tubuhku asalkan Harry bisa tetap hidup enak," kata Hugo panjang lebar.
Draco terpana mendengarnya, ia merasa kasih sayang Hugo pada adiknya itu benar-benar luar biasa, dan ia akan menjadi pria terjahat se dunia bila ia mengecewakan Hugo. Diam-diam Draco bersyukur memiliki seorang kakak perempuan yang mengajarkannya untuk menjadi orang yang dapat membuat orang lain bahagia, bisa apa ia tanpa Daphne yang mendampinginya dari kecil itu?
"Hugo, terima kasih sudah membiarkanku mengetahui apa yang ada di pikiranmu tentangku. Biarkan aku memberitahu mu. Aku belum punya mantan, satupun, tetapi aku pernah dekat dengan beberapa orang dan tidak sampai pada tahap pacaran, karena aku ini tipe orang yang tidak mau membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak perlu, saat ini aku sedang sibuk sekolah karena father akan mempercayakan perusahaan padaku. Aku bukanlah orang yang main-main, apalagi dalam urusan percintaan seperti ini, dan aku juga tidak mudah mengumbar janji-janji yang belum tentu bisa ku tepati, aku sudah mengatakan itu pada Harry. Well, ini pertama kalinya untukku berbicara dengan pihak keluarga calon pacarku. Aku berencana akan menikahinya nanti, aku belum tahu pasti kapan, yang jelas kau bisa pegang janjiku yang satu ini, bahwa aku akan menikahinya nanti, jika Harry sudah membalas perasaanku.
"Saat pertama kali aku melihat Harry, seakan ada cupid yang menembakkan panahnya padaku dan Harry, aku langsung jatuh cinta padanya. Ia terlihat ramah, pekerja keras, pemberani, dan ia sangat suka tersenyum, lalu aku sangat menyukainya kalau ia sedang ngambek dan mengeluarkan kata-kata sarkartis. Aku membutuhkan Harry untuk meredamkan amarahku bila aku tidak bisa mengontrol emosiku, tapi tenang saja, aku tidak akan melakukan kekerasan padanya, untuk apa aku melukai perasaan orang yang kucintai? Itu sama saja dengan menyia-nyiakan pemberian yang diberikan Tuhan padaku. Intinya adalah, kau bisa percayakan Harry padaku. Aku akan mencoba membicarakan ini pada orang tuaku, kau bisa tunggu kabar dariku, jika kau mau," kata Draco dengan tulus.
"Untuk saat ini aku percaya padamu, semoga kau menggunakan kepercayaan itu dengan baik," kata Hugo, terlihat puas.
Draco tersenyum bangga, akhirnya, permasalahan antara dirinya dan Hugo telah selesai. Draco sangat lega saat Hugo ternyata orang yang easy going dan suka bercanda, bahkan ia tergolong orang yang jahil, kata-kata Harry sudah terbukti.
"By the way, aku merestui kalian berdua, kau dan Harry," kata Hugo dengan mantap.
Akhirnya, Draco bisa mengerjakan tugas akhir kuliahnya dengan tenang dan damai.
.:.:':.:.
TBC
.:.:':.:.
Author's Note: Hai semuaaaaa aku telat update padahal ceritanya udh rampung dan siap dipublish:") maapkeun:") menjelang lebaran bener2 gaada waktu sedetikpun buat buka hape, harus bantuin mamah masak:"D
btw, aku mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin:)) xoxo
ps: namaku fitria loh xD #gapenting
