Class Special D
All character belong to Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
1999
Class Special D by Putpit
17 Juli 2013
Inspiration:
Death Bell-South Korean Film
2008
Warning! Murder scene.
Dua orang itu telah berhenti meraung kesakitan. Tubuh mereka ambruk bak daun yang gugur. Cairan kental berwarna merah menggenang layaknya karpet penghantar kematian.
Keputusasan dan kepiluan menghinggapi relung empat orang yang berdiri tak jauh dari dua sosok yang telah kehilangan nyawa itu.
"Karin, Suigetsu," lirih gadis berambut merah muda. Tubuhnya tiba-tiba merosot ke tanah dan pundaknya bergetar hebat."Maaf."
Shikamaru yang berada di samping kiri sang gadis sontak jongkok lalu melingkarkan sebelah lengannya pada bahu gadis tersebut. Tidak ada ucapan menenangkan, melainkan hanya tepukan-tepukan lembut untuk meredakan emosi yang bergejolak tak karuan.
Sedangkan Hinata-gadis lain yang berambut indigo-menyembunyikan wajah sedihnya dengan memeluk Neji, sepupunya. Ia menangis dalam kebisuan yang menyakitkan.
Dorr Dorr Dorr
Suara tembakan yang terdengar kontan membuyarkan suasana haru keempat murid tersebut. Mereka tercekat sesaat, namun detik berikutnya mereka segera berlari menuju UKS. Segala pikiran buruk berkecamuk diiringi gumaman doa agar teman-teman mereka baik-baik saja.
Empat murid tersebut pun terbelalak kala mengetahui pintu UKS yang dirusak paksa. Hinata dan Sakura bergegas masuk ke ruang UKS dengan wajah panik sedangkan Neji dan Shikamaru masih terdiam di depan pintu. Dua lelaki itu menatap lantai secara seksama, menyadari adanya darah yang tercecer disana.
Shikamaru melirik Neji dan dibalas anggukan singkat oleh lelaki itu. Neji berjalan menghampiri dua gadis yang tengah sibuk mencari keberadaan tiga teman mereka yang lain sementara Shikamaru berjalan pergi mengikuti jejak darah yang ada di lantai.
Shikamaru terus melangkah menyusuri lorong bagian barat. Sampai di ujung, jejak darah itu mendadak terputus. Ia pun mendongakan kepala dan mendapati lubang di atasnya.
Shikamaru mendecakan lidah kesal. Tiba-tiba sebuah suara berteriak padanya dari arah belakang, "Shikamaru, menunduk!"
Shikamaru refleks menjatuhkan dirinya di lantai. Ia terkejut saat mengetahui sebuah timah panas melesat memecahkan jendela kaca di depannya. Shikamaru menoleh ke belakang dan mendapati sosok berpakaian sama dengan yang menembak Lee tengah mengarahkan pistol padanya. Ketika Shikamaru hendak bangkit untuk menangkap si pelaku, sosok itu justru naik ke lubang ventilasi menggunakan tali lalu menghilang.
Sakura berlari menghampiri Shikamaru. Raut khawatir nampak jelas di wajahnya. Dia menyentuh pipi Shikamaru seraya berkata pelan, "Syukurlah kamu tidak apa-apa."
Tangan kanan Shikamaru terangkat, ia mengambil tangan Sakura, meremasnya lembut. "Terima kasih."
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
"Siap untuk teka-teki ketiga, anak-anak?"
Sakura maupun Shikamaru saling melempar pandangan sesaat kemudian bergegas kembali ke ruang UKS. Ada Neji, Hinata, Jirobo, dan Lee yang begitu ketakutan. Juugo telah diculik. Satu lagi teman mereka berada dalam bahaya. Teror keji ini rasanya tak akan pernah berakhir bagi murid kelas special D. Mereka benar-benar bertaruh pada kematian.
"Baris pertama dan kedua menghasilkan hal yang sama saja. Baris ketiga menghasilkan hal yang berbeda sepuluh angka."
Benak enam murid tersebut dipenuhi oleh tanda tanya. Mereka menerka-nerka apa maksud perkataan dari sang pelaku.
Dddrrrtt…
"Kali ini aku akan berikan sedikit kemudahan. Berlarilah ke ruang Laboratorium Fisika dan jika beruntung Guru tercinta kalian bisa terselamatkan."
Dddrrrttt…
"Guru Kazu!" teriak keenam murid kelas special D bersamaan.
Mereka bergegas menuju lantai satu. Dimana ruang Laboratorium Fisika berada. Shikamaru mencoba membuka pintu laboratorium, namun gagal karena pintunya terkunci dan harus menggunakan password untuk membukanya. Shikamaru yang merupakan penanggung jawab laboratorium fisika pun langsung memencet kombinasi angka password yang diketahuinya, tetapi pintunya tetap tak mau terbuka.
Hinata meremas kedua tangannya ketakutan. "Teman-teman aku ra-rasa kita harus me-mecahkan teka-teki ini dulu," panggil Hinata seraya menunjuk samping kiri pintu laboratorium yang tertempel sebuah kertas dengan kotak-kotak angka.
01 06 02 08
03 05 04 07
10 09 12 11
"Mungkin kita harus memasukkan semua angka itu," ucap Jirobo hendak memencet tombol, tapi dicegah oleh Shikamaru.
"Jangan gegabah! Pintunya hanya bisa dibuka dengan enam angka saja dan pintu ini akan terkunci 24 jam jika kita salah memasukkan password untuk kedua kalinya," kata Shikamaru memperingatkan.
"Shit! Teka-teka sialan! Pembunuh sialan!" umpat Jirobo penuh emosi.
Anak-anak kelas spesial D hanya bisa menghela napas prihatin. Fisik maupun batin mereka rupanya mulai lelah dengan teror yang terjadi. Keheningan menyelimuti keenamnya selama beberapa saat.
"12-12-22." Shikamaru memecah keheningan pertama kali. "Kalau dilihat lagi, kita bisa dapat enam angka itu dari selisih barisan hitung. 01 dan 02 selisih satu, 06 dan 08 selisih dua. 03 dan 04 selisih satu, 05 dan 07 selisih dua, terakhir 10 dan 12 serta 09 dan 11 selisihnya sama-sama dua. Jadi kalau angka-angka itu digabung membentuk 12-12-22," lanjut Shikamaru menjelaskan perhitungannya yang sederhana.
"Oh iya, angka yang disebutkan sama Shikamaru sesuai dengan petunjuk tadi. Barisan pertama dan kedua sama-sama menghasilkan hal yang yaitu 12 sedangkan barisan ketiga menghasilkan hal yang berbeda sepuluh angka yaitu 22. Iya Shikamaru! Kamu benar! Kamu benar!" dukung Lee mengaitkan ucapan Shikamaru dengan petunjuk yang sebelumnya mereka dengar di ruang UKS.
Neji, Sakura, dan Hinata mengangguk bersamaan pertanda ikut setuju akan perhitungan Shikamaru.
Selagi Shikamaru menekan kombinasi password, Hinata berujar lirih, "Tanggal 22 bulan 12 tahun 2012. Tanggal itu adalah tanggal kematian Yamanaka Ino. Apa mungkin teror ini ada hubungannya…"
Belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, Shikamaru menyela keras, "Jangan pernah menyangkut pautkan Ino dengan masalah gila ini!"
Hinata menunduk. "Maaf Shikamaru. Aku tidak bermaksud."
Ketika pintu laboratorium terbuka, enam murid kelas special D terperanjat kaget. Penampilan Guru Kazu sungguh berantakan. Mulutnya diplester, tubuhnya digantung dan dililit oleh banyak kabel yang tersambung dengan listrik bertegangan tinggi. Jirobo langsung melepaskan kabel-kabel tersebut, tapi tak berapa lama tercium bau aneh di sekitar ruangan.
Sakura menuju lemari yang terletak di pojok kiri ruangan. Dia membuka lemari tersebut dan terjatuh sambil menutup wajahnya.
"Sakura!" seru Shikamaru menghampiri sang gadis.
Hinata, Neji, dan Lee menyusul. Keempatnya memejamkan mata tak tega kala mengetahui bila Juugo terjebak di dalam lemari dengan tubuh gosong. Wajahnya rusak dan tidak dapat dikenali lagi.
Ternyata kabel yang melilit Guru Kazu juga tersambung dengan kabel yang melilit Juugo. Mereka tak menyangka jika peneror memainkan kematian mereka dengan sungguh kejam.
"Kapan ini akan berakhir?" lirih Sakura menatap Juugo sedih. Dia dengan cepat berdiri. Kedua tangannya terkepal kuat dan napasnya tak beraturan. "Biadab! Keluar kau pembunuh! Aku tak takut padamu! Keluar kau! Jangan bunuh teman-temanku lagi! Keluar!" raung Sakura.
Shikamaru beranjak. Dia memeluk Sakura, mengelus rambutnya lembut. "Everything gonna be alright," ucapnya lembut.
Sama seperti kejadian di atap. Kehangatan dan kelembutan Shikamaru mampu membuat Sakura perlahan tenang. Ia menangis dalam diam. Wajahnya tersembunyi di dada Shikamaru, tangannya terkait erat memeluk lelaki yang entah sejak kapan menjadi bagian terpenting bagi Sakura.
000
"Aku akan memeriksa ruang broadcast," kata Neji saat mereka keluar dari ruang Laboratorium Fisika.
"Lebih baik kita selalu bersama. Situasinya sedang berbahaya sekarang," sahut Guru Kazu terbatuk. Tubuhnya dipapah oleh Jirobo.
"Be-benar apa yang di-katakan oleh Guru Kazu, Kak Neji. Jangan berpencar!" ujar Hinata menyetujui.
"Aku muak dengan hal gila ini. Aku ingin menangkap si peneror sebelum ada korban lagi."
"Kalau begitu kita akan ikut denganmu," kata Sakura.
"Tidak. Kalian tunggu disini saja. Guru Kazu dan Lee terluka, kita tidak bisa terus-terusan bergerak dan membuat luka mereka semakin memburuk," tolak Neji.
"Tapi kamu sama saja memberikan nyawamu pada si peneror kalau kamu pergi sendiri, Neji!"
"Aku akan berhati-hati."
"Walaupun kamu berhati-hati peneror itu menggunakan pistol, tetap saja kamu tak bisa melawannya seorang diri."
"Sudahlah, Haruno. Jangan khawatirkan aku! Yang lebih penting sekarang adalah menghentikan terror ini apapun caranya." Nada suara Neji terdengar naik satu tingkat.
Sakura menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu aku ikut denganmu," ujarnya menatap tajam pada Neji.
"Aku- aku juga ikut," kata Hinata
Neji memandang dua perempuan di hadapannya lalu berkata, "Terserah kalian."
Neji dan Hinata berjalan pergi. Sakura yang hendak melangkah, tangannya ditahan oleh Shikamaru.
"Aku ikut denganmu," kata Shikamaru.
Sakura menggeleng. "Tidak. Kamu lebih baik disini saja menjaga Guru Kazu, Lee, dan Jirobo. Aku pasti kembali kesini," ujar Sakura meyakinkan.
Shikamaru masih enggan melepas pegangannya. Iris emerald Sakura menatap lembut, pelan-pelan Shikamaru pun menurunkan tangannya. Sakura tersenyum untuk terakhir kalinya lantas berlari menyusul Neji dan Hinata.
"Jika terjadi apa-apa pada dirimu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, Sakura," bisik Shikamaru memperhatikan sosok Sakura yang semakin menjauh.
000
Sakura berlari menyusuri lorong-lorong yang gelap. Tiba-tiba sebilah pedang muncul menghalangi jalan Sakura, seketika gadis itu membungkukan punggungnya ke belakang, menghindari pedang tersebut. Jika Sakura tidak waspada, dia bisa saja tersabet.
Sakura berpaling ke kanan dan melihat orang berjubah hitam bertopeng mengerikan mengacungkan pedangnya. Tanpa takut, Sakura melakukan perlawanan. Ia yang cukup mahir melakukan seni bela diri campuran akhirnya bertarung dengan tangan kosong. Berbagai tendangan, pukulan ia lancarkan, beberapa berhasil mengenai si penjahat.
Tak berapa lama, Sakura meringis, memegang lengan kanannya yang berdarah. Sejago apapun dia, Sakura tetap saja terluka.
"Apa motifmu sebenarnya?" tanya Sakura.
"Mata dibalas mata, tangan dibalas tangan, dan darah dibalas darah," jawab si penjahat mengacungkan pedangnya tepat di leher Sakura.
Sakura mengepalkan tangannya. Ia tidak berkutik.
"Cukup Sai," sela sebuah suara.
Sakura membelalakan mata. "Sai? Kamu Sai, idola Ino?" tanya Sakura tak habis pikir.
"Terlalu banyak tahu itu tak baik, sayang," kata suara yang menyela sebelumnya.
Pemilik suara tersebut jongkok di hadapan Sakura lalu menyutikkan sesuatu hingga membuat Sakura pusing dan pingsan.
000
"Tuan merepotkan, menurutmu aku bisa tidak masuk kelas spesial sama seperti kamu?" tanya Ino yang tengah duduk bersampingan dengan Shikamaru di bangku di atap sekolah.
"Mungkin saja asalkan nilai kamu bagus," jawab Shikamaru asyk memandangi gumpalan-gumpalan awan yang bergerak statis.
"Kamu mau nggak mengajariku supaya aku bisa dapat nilai bagus?" tanya Ino lagi.
"Aku bukan guru les," sahut Shikamaru malas.
Ino mengerucutkan bibirnya. "Jahat ah!" serunya kesal. Beberapa detik setelahnya, tangannya menggelayut manja lalu dia kembali berkata, "Aku akan membayarmu kalau kamu mau mengajariku."
"Aku tidak butuh uang."
Ino terlihat berpikir sejenak. "Kalau begitu aku akan membayarmu dengan hal lain. Apa saja," rayunya.
Shikamaru melirik kekasihnya, sebelah alisnya terangkat. "Yakin?"
Ino mengangguk. "Yakin. Apa saja akan kuberikan," sahutnya mantap.
"Baiklah, aku akan mengajarimu Nona Berisik," kata Shikamaru mengacak rambut Ino penuh sayang.
"Yei!" teriak Ino menyandarkan kepalanya pada bahu Shikamaru.
SET
Keadaan berganti pada hal lain. Ino terlihat di sebuah ruangan gelap bersama dua orang perempuan.
"Cewek udik kayak kamu mau masuk kelas spesial? Hell, sadar diri dong!" teriak perempuan pertama. Dia ternyata Tayuya.
Perempuan kedua menjambak rambut Ino. "Anak seorang petugas kebersihan nggak pantas masuk kelas spesial. Kamu harus paham statusmu, Ino," ucapnya.
"Sakit, sakit Karin," rintih Ino.
Si perempuan kedua alias Karin tertawa. "Kalau begitu, jangan coba jadi sok pintar. Tetaplah di kelas terendah."
"Kudengar kau menjadi pelacur Shikamaru supaya dia mau mengajarimu," ujar Tayuya, kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Tidak. Gosip itu tidak benar. Aku tidak pernah tidur dengan Shikamaru," sangkal Ino sambil menahan sakit.
Karin semakin menarik rambut Ino. "Bodoh! Bukan itu yang ingin kami dengar. Kamu seharusnya mengakui kalau kamu pelacur, entah itu benar atau tidak!" bentaknya marah.
Ino menggigit bibirnya. Hatinya seperti diiris-iris lantaran dilecehkan oleh teman-temannya. "Kumohon Karin, lepaskan aku!" pintanya.
"Mengakulah kalau kamu pelacur, maka akan kulepaskan."
Ino bungkam. Dia menolak untuk mengakui hal yang tidak dilakukannya.
"Kamu mau melihat ayahmu dipecat dan diusir dari sini?" ancam Tayuya memperhatikan kukunya yang terpoles cantik dengan cat kuku berwarna merah.
Ino memejamkan mata. "Iya, aku mengaku kalau aku adalah seorang pelacur."
Karin tertawa keras. "Bagus! Dasar pelacur rendahan!" ujarnya mendorong kepala Ino. "Ayo pergi!" ajaknya pada Tayuya.
Keduanya meninggalkan ruangan dan Ino yang terjatuh sambil menangis sesenggukan.
SET
Keadaan beralih ke sebuah rumah, sebenarnya tak bisa dikatakan rumah karenan ukurannya yang sangat kecil dan terbuat dari kayu-kayu reot.
"Ayah, Kak Sai akan kembali dan dia mengajak kita pindah ke rumah yang baru," kata Ino pada seorang pria.
"Sampai matipun ayah tidak akan pergi dari sini," ujar sang pria tanpa membalikan badan.
"Apa ayah tidak lelah membenci Kak Sai selama sepuluh tahun ini? Dia sekarang sudah sukses dan ingin menembus kesalahannya, kumohon ayah memaafkannya," kata Ino memegang lengan ayahnya.
"Kamu saja yang ikut kakakmu, ayah tidak ingin bertemu dia lagi."
"Ayah.."
SET
"Ayah," lirih Sakura. Perlahan kesadarannya pulih, kepingan-kepingan keadaan yang berada dalam mimpinya barusan adalah kenangan Ino. Mungkin saja sahabatnya itu ingin menunjukan sesuatu yang lebih melalui mimpi, akan tetapi Sakura lebih dulu sadar.
Sakura mengedarkan padangannya. Dia tidak tempatnya berada sekarang karena begitu gelap dan pengap. Ketika mencoba menggerakkan badan, tangan serta kakinya dirantai pada satu tiang. Sakura tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali berdoa agar ada seseorang yang menyelamatkannya.
"Shikamaru," bisik Sakura memejamkan mata.
000
"Kenapa kalian kembali hanya berdua? Dimana Sakura?" tanya Shikamaru saat mengetahui Hinata dan Neji telah kembali dari ruang broadcast.
"Apa maksudmu? Aku kira Sakura tidak jadi ikut denganku karena kamu larang," jawab Neji bingung.
"Jangan bilang …" Shikamaru tidak dapat melanjutkan ucapkannya karena bel tiba-tiba berbunyi.
Ting tong ting tong…ting tong ting tong
Di ruang penulis~
Editor: Putpit, WOY! WOY UDA TIGA TAHUN INI WOY! (teriak pakai toak)
Penulis: (Sembunyi di ketiak Shika) Uwaaaaa, maaf readers. Saya sibuk di dunia lain. Maaf maaf banget ne~
Editor: (Jewer telinga Putpit) Makanya, jangan janji! Apalagi readers sampe nunggu tiga tahun ini. Mungkin mereka udah lupa sama cerita kamu.
Penulis: Uwaaa, ini diluar kehendakku. Awalnya aku sudah menulis seperempat bagian tapi berhenti. Tuh lihat tanggalnya aja 17 Juli 2013
Editor: Hn (gaya ala Sasuke) Alasan aja. Apa ada yang kamu mau omongin lagi? Pokoknya jangan buat janji!
Penulis: Aku mau ngucapin terima kasih buat kalian yag sudah mendukung dan bersedia review, follow, maupun fav. Tanpa kalian aku hanyalah butiran debu #singasong
Editor: Duh -.- Oh iya, ada beberapa guest yang perlu kamu jawab reviewnya.
Penulis: Yamanaka-chaaan ini sudah update, maaf kalau ngga bisa kilat yaaa. Bryan makasih buat dukungan dan semangatnya yaaa. HarunoSakura ceritanya uda aku lanjut nih, jangan sedih yaa.
Editor: Jangan sungkan memberi kritikan dan saran para readers! Terima kasih banyak untuk semuanya^^
Penulis dan Editor: Review dari kalian benar-benar penting. Jangan lupa tinggalkan review yaa, tinggal tiga chapter lagi nih. Semoga tuntas yaa fanfic ini^^
Special thanks to: Emiria Tsubaki-san, ocha chan, Kiki RyuEunteuk, yamanaka-chaaan, kanon rizumu, pidaucy, Kimeka RizuKyu, TitaniaGirl, Balok Bambu, lawliet uzumakie, fidorara, haruno sakura, CEKBIOAURORAN, ccherrysand1, Bryan, all followers, all favorites.
Oh, also all silent reades~
MIND to give me reciprocal?
Leave suggestion, critism, or flame in box review
~Thanks~
