Chapter 6

Disclaimer: J. K Rowling

Warning: OOC, typo(s), slash, bl

.:.:':.:..:.:':.:..:.:':.:.

Draco sedang di Coffee Nerd, seperti biasa. Dan mengerjakan tugas. Tapi ia tidak ditemani dengan gengnya. Mereka beralasan ingin menyegarkan hati dan pikiran mereka terlebih dahulu a.k.a liburan sehari. Yang ia tahu, Blaise pergi bersama Astoria ke luar kota, sudah Draco duga kalau dua temannya itu ternyata ada sesuatu yang mencurigakan. Theo berlibur dengan Pansy, yang satu ini sangat tidak Draco duga sama sekali, setahu Draco, Pansy sudah punya pacar, ataukah mungkin mereka sudah putus? Mungkin Theo hanya ingin menghiburnya, siapa tahu saat mereka pulang, status mereka sudah tidak 'teman' lagi. Hanya Hermione yang tidak ada kabarnya sama sekali, Draco bertaruh ia sedang di perpustakaan, belajar seperti Draco. Gadis itu tidak mau belajar hanya berdua bersama Draco, dengan alasan Draco sangat menjengkelkan, padahal Draco tidak berbuat macam-macam.

Tiga hari lagi ia akan menjalani sidang skripsi. Yang artinya ia tidak bisa sering-sering berduaan dengan Harry. Ia harus fokus dengan tugas akhirnya.

By the way, Harry belum datang, astaga, tentu saja ia belum datang. Ini masih jam 7 pagi dan Daphne memang membuka tokonya dua jam sebelum mereka siap untuk open. Draco mengakui kalau ia sinting karena sangat rajin sampai ia mengekori Daphne membuka tokonya. Daphne terkadang takut dan curiga Draco dirasuki setan iseng.

"Draco, kau sedang apa?" Tanya Daphne dengan teriak sambil mengecek peralatan masak di dapur.

"Aku sedang mengerjakan tugas, Daph, kenapa? Kau butuh bantuan?" Kata Draco, sebenarnya Draco hanya basa-basi bertanya menawarkan bantuan, karena Draco sangat malas jika Daphne sudah meminta bantuan pada Draco, bantuan tersebut sangat merepotkan.

"Ya, aku butuh bantuanmu. Bisakah kau mengecek sampah di pintu belakang? Aku sudah menyuruh Bill untuk membuang sampah semalam, tapi aku tidak tahu dia mengerjakannya atau tidak," kata Daphne balik ke meja kasir untuk mengecek keuangan mereka.

"Ya, aku ke sana sekarang," kata Draco menutup bukunya dan berjalan menjauhi meja tempat ia belajar. Kenapa Daphne menyuruh Bill si pelupa untuk membuang sampah? Ia adalah orang yang sangat merepotkan jika penyakit lupa nya sudah kumat.

Benar saja feeling Draco, kantong sampah besar masih tergeletak di lantai dekat pintu belakang. Draco menghela napas, pagi indahnya sudah tercemar karena membuang sampah. Tidak keren sekali. Draco mengangkat kantong sampah tersebut, yang beratnya bukan main, dan seketika ia menyesal karena tidak membuka pintu dulu, membuat ia menaruh kembali sampahnya untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Draco mengeluarkan sampah besar itu dari cafe dan menaruhnya di tempat pembuangan sampah khusus cafe.

Draco memandang sampah tersebut dengan jengkel. Ketika ia ingin berbalik masuk ke dalam, ia melihat mobil keluarga Malfoy, tidak, itu mobil ibunya, dan ibunya berada di jok belakang, dengan seseorang. Draco tidak melihat dengan jelas siapa sosok di samping ibunya itu. Mereka terlihat sedang mengobrol serius. Dan Draco tidak berniat untuk menghampirinya, itu bukan urusan Draco. Dengan cuek, Draco masuk ke dalam. Siap untuk belajar lagi, atau membantu Daphne.

Tapi, setelah Draco pikir-pikir lagi, ia sepertinya kenal dengan seseorang yang sedang mengobrol dengan ibunya. Ada benda yang sangat familiar sedang dipegang oleh orang di sebelah ibunya. Sebuah topi berwarna hitam dengan tulisan bordiran LIT berwarna putih, terlihat dengan jelas. Tapi Draco lupa siapa pemilik topi tersebut. Draco hanya melihatnya sekali. Ah sudahlah, Draco pusing mengingatnya.

Draco pergi ke dapur untuk bikin kopi hitam untuknya ketika ia mendengar suara berisik dari arah rest room para pelayan di cafe ini. Setahu Draco, hanya ia dan Daphne yang baru datang. Dan ini belum waktunya cafe buka. Tidak mungkin 'kan ada setan pagi buta begini? Draco berjalan ke depan pintu tersebut tetapi tidak membukanya, ia memberanikan diri mengetuk pintunya, pelan. Tidak ada jawaban. Draco mengetuk lagi, kali ini agak keras. Tidak ada jawaban juga. Tapi bunyi gemerisiknya terdengar lebih keras dan ada suara benda terjatuh. Draco mengetuknya dengan keras. Tidak ada jawaban juga. Apa mungkin di dalam adalah maling? Oh, dengan segenap hatinya Draco memberanikan diri membuka pintunya, dan yang ia lihat adalah pemandangan yang tidak biasa.

"DRACO! KAU MENGAGETKANKU!"

"HARRY! Apa yang kau lakukan di sini?" Kata Draco dengan tidak percaya, ia menelan ludah melihat Harry topless dan hanya memakai celana boxer, rambut acak-acakan pula.

"'Apa yang kulakukan di sini?' Ya aku bekerja, lah, Draco," kata Harry dengan jengkel sambil memakai baju cafe dan celana panjang hitam. Ia memasukkan bajunya ke dalam tas dan menaruh tasnya di loker.

"Ku kira hanya ada aku dan Daphne di sini. Aku tidak melihat kau datang, Harry, jangan salah paham dulu, aku bukan orang mesum," kata Draco salah tingkah.

"Aku sudah bilang 'iya, sebentar,' setiap kau mengetuk dan kau sangat tidak sabar sekali sampai akhirnya kau menemukanku, topless," Kata Harry menekankan kata terakhirnya, moodnya agak jelek karna Draco.

Draco merasa bersalah, ia terlalu budeg atau parno, hingga tidak mendengar ada jawaban dari dalam. "Okay, maafkan aku, Harry. Tidak terulang lagi," kata Draco takut-takut.

"Ya sudahlah, lagipula itu sudah terjadi," kata Harry menghela napas. "Well, kau tidak mau ke depan?"

"Oh, ya, aku mau ke depan," kata Draco mempersilakan Harry berjalan duluan. Saat Draco ingin berbalik, ia melihat benda yang tidak asing, digantung pada sebuah paku kecil, sebuah topi hitam, tulisan putihnya menunjukkan kata 'LIT'. Draco berpikir, 'mungkinkah?'

.:.:':.:.

Flashback

Harry berangkat lebih awal, untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat ditundanya semalam. Perasaannya biasa saja, tidak ada yang spesial, ia berangkat seperti biasa, naik bus sampai depan cafe, saat ia dicegat oleh satu pria berbadan tegap, tinggi, dan memakai baju serba hitam, seperti agen rahasia. Oh, ia adalah bodyguard. Ia ingin berjalan melewati pria tersebut, tapi lagi-lagi dicegat oleh tangannya. Ada apa?

Seorang wanita, sudah ibu-ibu, berpakaian rapi, seperti ibu negara pada umumnya, tapi bukan ibu negara. Rambutnya disanggul rapi ke bawah, memakai kalung berlian, sepatu hak tinggi, dan kacamata hitam. Ini kan masih pagi, matahari belum se silau pada siang hari, kenapa ibu ini repot-repot memakai kacamata hitam.

Ibu itu mengamatinya dari atas sampai bawah, lalu membuka kacamatanya, menaikkan sebelah alisnya, dan mulai berbicara.

"Harry Potter?"

Harry hanya menatap ibu itu serba salah, ibu ini terlihat sedang menilai dirinya. Apa ada yang salah dengannya? Baju yang Harry pakai biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh.

"Ya, itu namaku. Ada yang bisa ku bantu?" Kata Harry berusaha sopan.

"Oh, aku Narcissa Malfoy, keberatan aku pinjam waktumu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Narcissa sambil menjabat tangan Harry. Harry menerimanya dengan ragu-ragu.

"Ya, boleh, um.." kata Harry, dan Narcissa mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam mobil. Harry menurut dan Narcissa juga ikut masuk ke dalam.

Situasinya sangat awkward. Ia tak tahu harus berbicara duluan atau tidak, atau menanyakan kabarnya, atau bertanya apakah ia ibunya Draco? Harry bingung.

"Aku ibunya Draco, kau kenal anakku, 'kan? Maaf, tiba-tiba aku menemuimu seperti ini, aku hanya ingin membicarakan hal yang menurutku harus diselesaikan," kata Narcissa.

"Apa yang ingin Anda bicarakan, Ma'am?" Kata Harry gugup.

"Aku hanya ingin bertanya, apa kau berpacaran dengan Draco?" Kata Narcissa langsung.

Harry bingung menjawabnya. Sebenarnya mereka hanya dekat, tanpa ada status yang mengikat. Dan Harry juga belum memberitahu Draco kalau ia juga suka padanya. Harry bingung bagaimana menjawabnya. Ah, tapi Harry serius dengan Draco. Draco juga kelihatannya begitu. Setelah ia pulang dari jalan-jalannya dengan Hugo, Draco kelihatan bahagia sekali. Harry berasumsi kalau Draco baik-baik saja dan mereka sudah mendapat restu.

"Ya, aku berpacaran dengan Draco," kata Harry dengan mantap.

"Begini, Harry, aku tahu Draco belum pernah berpacaran dengan siapapun, tapi ia pernah membawa satu laki-laki ke dalam rumah, ia mengaku kalau ia berpacaran dengan Draco, aku pikir ia lelaki yang baik, ia setahun lebih muda dari Draco. Sejak saat itu, ia sering ke rumah kami, tanpa Draco, dan satu per satu harta kami hilang, perhiasan, uang, dan emas ia ambil sedikit demi sedikit. Aku mulai menyadarinya, lalu aku bertanya pada Draco. Draco bilang, ia tidak berpacaran dengan lelaki itu. Ia hanya meminta bantuan pada Draco sekali untuk masalah kuliahnya. Setelah aku cek di cctv keluarga kami, ternyata memang benar kalau lelaki itu yang mencuri barang-barang kami," kata Narcissa.

Harry tahu maksud Narcissa menceritakan hal tersebut pada Harry. Ia hanya mendengarkan, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya ia sedikit tersinggung, tapi, ia berusaha untuk tidak menunjukkan raut wajah kesalnya.

"Bukan maksudku untuk menyindirmu atau membuatmu tersinggung, Harry. Aku hanya ingin berhati-hati pada siapapun yang dekat dengan Draco. Teman-teman Draco pun, aku tanya satu per satu," kata Narcissa dengan nada minta maaf.

"Tidak, ma'am, aku tidak tersinggung. Aku percaya Anda melakukan hal itu untuk melindungi keluarga Anda. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada diposisimu. Tapi, tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," kata Harry dengan sabar dan tersenyum.

"Okay, aku percaya kau tidak akan mengkhianati keluargaku. Masalah pertama terselesaikan. Aku tahu kau adiknya Hugo. Keluarga Malfoy sangat percaya pada Hugo. Dia sudah kami anggap sebagai orang terdekat kami. Ia orang yang baik, sopan, dan membuat orang sekitarnya merasa aman saat berada di dekatnya," kata Narcissa, ada senyuman saat ia membicarakan Hugo.

Harry tersenyum, senang dan bangga, kakaknya sangat disayangi oleh semua orang. Harry luluh pada wanita ini. Ia sudah tidak merasa kesal.

"Tapi, maaf Harry, aku belum bisa memberimu restu, karna setelah lulus kuliah nanti, Draco akan mendapatkan pelatihan khusus selama dua tahun di Perancis untuk menjadi penerus pemimpin di perusahaan kami, ia juga akan memegang perusahaan kami di cabang Perancis selama satu tahu. Harry, aku dan suamiku akan memberi kalian restu jika Draco lulus pelatihan di sana," Kata Narcissa dengan nada final.

"Kami, aku dan suamiku, sudah membicarakan hal ini dan kami berdua tidak keberatan dengan hubungan kalian. Hanya saja, Draco adalah calon pemegang perusahaan kami, ia punya tanggung jawab yang besar. Aku tidak mau konsentrasi Draco terganggu jika kalian berpacaran,"

Harry diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bagaiamapun, ini berita baru. Ia mendengarnya langsung dari orang tua Draco. Draco ataupun Daphne pun tidak memberitahunya. Atau memang mereka berdua belum tahu? Harry tidak tahu.

"Jangan bilang pada Draco kalau aku menemuimu. Aku hanya tidak ingin dia marah padaku," kata Narcissa lagi.

Harry mengangguk. "Aku mengerti. Terima kasih, ma'am, boleh aku ke luar sekarang?" Kata Harry, untuk saat ini ia tidak tahan berada satu ruangan dengan ibunya Draco.

Narcissa mengangguk dan tersenyum. Harry membuka pintu mobil dan ke luar. Dan mobil itu melaju menjauhinya. Harry pergi ke cafe dengan perasaan campur aduk.

Flashback end

.:.:':.:.

Harry tidak bisa fokus, perasaannya tidak tenang. Ia hampir menumpahkan kopi yang ia bawa untuk pelanggan, tiga kali. Harry tidak bisa bekerja jika pikirannya kemana-mana.

'Bagaimana bisa ibunya Draco tidak memberiku restu? Memangnya aku akan mengganggu Draco? Lagipula selama ini Draco yang selalu menggangguku, aku tidak pernah mengacau selama Draco belajar di cafe, ataupun memeras harta Draco. Ia yang selalu menraktirku padahal aku yang tidak mau--'

"Harry? Kau melamun?"

Harry tersadar dari lamunannya. Ia tadinya sedang mengelap meja, dan ternyata Daphne memerhatikannya.

"Kau sakit? Wajahmu pucat, Harry. Kalau kau sakit, lebih baik kau ke rest room," kata Daphne mengkhawatirkan Harry.

"Tidak, Daphne, aku baik-baik saja, aku hanya haus, aku ke dapur dulu ya," kata Harry langsung pergi ke dapur sebelum Daphne bertanya macam-macam.

Draco yang melihat hal itu, mengikuti Harry ke dapur. Ia bingung kenapa Harry sudah melamun bahkan sebelum mereka membuka toko. Ia lihat Harry minum sambil menyender pada tembok. Matanya terpejam, lalu menghela napas.

"Apa yang kau pikirkan, Harry?" Kata Draco, mengagetkan Harry.

"Astaga, Draco! Bikin kaget saja," kata Harry sebal. Draco menghampiri Harry dan mengurung Harry dengan kedua tangannya di tembok.

"Sepertinya kau lupa satu hal," bisik Draco, wajahnya sangat dekat dengan Harry.

"Aku tidak lupa apapun," kata Harry pura-pura tidak tahu.

"Ya, kau lupa satu hal," kata Draco tidak mau kalah.

Oh, tentu saja Harry peka. Ciuman selamat pagi. Draco alay sekali. Lalu Harry mencium pipi Draco dengan cepat, berharap Draco melepas kurungannya.

"Pada tempatnya, Harry," kata Draco dengan sabar.

Harry memutar kedua bola matanya, dan ia tidak mencium Draco, ia hanya menatap Draco, lama-kelamaan ia tidak tahan, ia tertawa ngakak.

Draco melihat Harry tertawa sampai puas. Tiba-tiba Draco membungkam bibir Harry, alias menciumnya. Melumat bibir bawahnya yang membuat kaki Harry seperti jelly. Otak Harry selalu blank jika Draco menciumnya.

Draco melepas ciumannya, "Kau imut sekali, sering-sering tertawa seperti itu di depanku, Harry," kata Draco yang sangat gemas melihat rona merah di kedua pipi Harry.

Harry lupa akan masalah yang baru di hadapinya beberapa jam yang lalu hanya karena Draco. Draco memang hebat mengalihkan perhatian Harry.

"Astaga! Mataku!" Teriak salah satu pegawai di cafe, Sarah.

Harry malu sekali, ia mendorong Draco lalu menarik Sarah keluar dari dapur. Draco menyeringai.

.:.:':.:.

Harry bingung, haruskah ia bertanya pada Draco, atau merahasiakan ini dari Draco sesuai dengan apa yang diminta oleh ibunya? Tapi Harry juga ingin memastikan satu hal. Ia tidak pandai menyimpan rahasia, dan ia juga tidak ahli dalam berbohong.

Draco bilang sebentar lagi ia akan menjalani sidang skripsi. Jika Harry memberitahukan hal ini pada Draco, Draco pasti tidak bisa fokus. Harry dilema sekali. Tapi, sebaiknya ia bilang pada Draco setelah sidang saja. Mungkin pada saat itu juga Draco akan jujur padanya kalau ia akan pergi.

"Harry!"

Harry berbalik mendengar seseorang memanggil namanya. Ia memutuskan untuk menghampiri Draco karena cafe juga sudah akan tutup, dan ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia lihat Draco juga sudah merapikan meja dan buku-bukunya.

"Harry, aku berencana memberitahu orang tuaku tentang hubungan kita hari ini, setelah kita pulang nanti," kata Draco dengan semangat. Harry menatap Draco dengan pandangan datar lalu tersenyum singkat, tidak memberikan jawaban.

"Kenapa? Kau tidak suka?" Kata Draco kecewa, reaksi Harry tidak sesuai dengan ekspetasinya.

"Aku menyukainya, tapi apakah lebih baik jika kau memberitahu mereka saat kau sudah selesai dengan sidangmu?" Kata Harry dengan hati-hati, agar Draco tidak curiga.

"Tidak, aku sudah mempersiapkan hal ini, lagipula aku serius denganmu. Orang tuaku pasti mengerti," kata Draco dengan optimis. Harry hanya menghela napas.

"Draco, jangan terlalu terbu-buru..."

"Terburu-buru apanya? Aku sudah mantap denganmu walaupun kita baru kenal dua setengah bulan," kata Draco.

"Iya, aku mengerti, hanya saja apakah kita tidak bisa menjalaninya dengan perlahan-lahan? Aku takut orang tuamu tidak setuju," kata Harry dengan was-was, takut keceplosan.

"Orang tuaku pasti setuju, Harry, ia sudah pernah melihat kita berdua, kau tenang saja. Kita bisa kawin lari kalau mereka tidak setuju," kata Draco.

Harry bimbang. Ia teringat kembali dengan kata-kata Narcissa Malfoy tadi pagi. Ia belum memberi mereka restu karena Draco akan pergi.

"Harry, kau mencintaku atau tidak?" Kata Draco dengan tiba-tiba, melihat Harry tidak menjawab kata-katanya. Ia hanya ingin tahu setelah pengorbanannya selama ini, Harry sudah luluh atau belum.

Harry bingung mau menjawab apa. Tentu saja ia mencintai Draco. Tapi apakah ia sanggup mengucapkan kata cinta itu lalu Draco pergi meninggalkannya? Tidak, lebih baik Harry menunggu di saat yang tepat.

"Draco, aku..."

"Jawab aku, Harry." Kata Draco dengan serius.

"Dengarkan aku dulu, Draco.."

"Kau hanya perlu menjawabku, Harry. Ya atau tidak?" Kata Draco.

Harry kalut. Ia ingin sekali menjawabnya, tapi ia takut, karena Draco akan meninggalkannya.

"Kenapa kau tidak menjawabku, Harry? Kau meragukanku? Setelah semua perjuangan yang aku lakukan untukmu?" Kata Draco dengan dingin.

Harry tidak memercayai pendengarannya. Draco dingin sekali. Harry tidak suka Draco seperti ini. Ia tidak suka bertengkar dengan Draco.

"Draco, lebih baik kau pulang saja," kata Harry datar.

"Oh, setelah kau tidak menjawab pertanyaanku, kau mengusirku? Baik. Aku akan pulang," Kata Draco, mengambil tasnya lalu berdiri, memandang Harry yang sedang, sepertinya, menahan tangis.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu hari ini. Jangan kau kira aku tidak memperhatikanmu dari pagi. Kau bertingkah aneh sekali, dan kau sering melamun, atau melakukan sesuatu dengan tatapan kosong," kata Draco.

"Aku pulang dulu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Sepertinya kau butuh waktu sendiri," lalu ia pergi, menjauhi Harry.

Harry bingung harus bagaimana. Ia takut Draco marah pada ibunya jika ia memberitahunya. Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia hanya tidak sanggung orang yang dicintainya ternyata akan pergi meninggalkannya, lagi. Harry tidak akan menahan Draco, siapa dia menghalangi kepergian Draco? Ia bukan pacarnya, tunangannya, suaminya. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Draco tadi.

Draco pulang ke Malfoy Manor dengan perasaan kesal. Moodnya hancur. Ia pikir Harry akan menyetujui idenya. Ia pikir Harry mencintainya.

Draco masuk ke ruang tamu, ayah dan ibunya tidak ada di sana. Mungkin mereka sudah di kamar. Draco memutuskan untuk langsung ke kamar juga, untuk mandi dan tidur. Ia lelah sekali.

Kamar Draco bersebelahan dengan perpustakaan keluarga. Biasanya perpustakaan tersebut menjadi tempat kedua favoritnya setelah kamar tidurnya. Saat ia melewati perpustakaan, samar-samar ia mendengar suara ibunya, ibunya menyebut nama 'Harry Potter'. Dan tidak lama, suara ayahnya muncul membalas perkataan ibunya. Draco penasaran, ia mulai menguping.

"Harry Potter itu, sepertinya ia mengerti kalau kita belum memberi mereka berdua restu," kata ayahnya, Lucius.

"Memang. Tapi, aku takut Draco marah pada kita, karena Draco sendiri pun belum tahu jika ia harus pergi ke Perancis untuk menjalani pelatihan," kata Narcissa dengan nada sedih.

"Urusan Draco aku yang tangani. Anak itu tidak bisa menolak ataupun berontak untuk pergi. Ini semua demi kepentingan kelanjutan perusahaan kita," kata Lucius.

"Aku tidak tega melihat wajah Harry saat aku bilang padanya kalau Draco akan pergi tadi pagi. Wajahnya sangat mengingatkanku akan Hugo," kata Narcissa.

"Tidak apa-apa, Cissy. Harry pasti tahu kewajiban seorang Malfoy seperti apa. Mau bagaimana lagi, kita tunda dulu restu kita, sebelum--"

"Sebelum apa?"

Lucius dan Narcissa kaget lalu melihat ke arah pintu. Draco sudah berdiri di sana dengan tatapan dingin nan menusuk.

"Sejak kapan kau di sana, Draco?" Kata Lucius dengan tenang.

"Aku sudah mendengar semuanya. Kenapa kalian tidak bilang dari jauh-jauh hari kalau aku akan dibuang ke Perancis?" Kata Draco dengan tajam.

"Bukan dibuang, Draco, hanya.."

"Lalu kalau bukan dibuang, apa lagi sebutannya? Pelatihan di sini juga tidak masalah. Aku menolak ke Perancis," kata Draco memotong perkataan ibunya.

"Pelatihan di sini hanya untuk karyawan. Penerus tahta keluarga Malfoy harus dilatih khusus dengan ahlinya. Leluhur keluarga kita asli Perancis. Kau tidak boleh seenaknya saja mengatur di mana kau akan dilatih," kata Lucius dengan dingin.

"Kalian sengaja melakukan ini untuk menyakiti Harry kan? Kalau kalian tidak suka pada Harry, lampiaskan kebencian itu padaku, jangan sentuh Harry," kata Draco.

"Tidak, son, kami tidak punya maksud untuk menyakiti Harry. Kami tidak mungkin menyakiti adik dari orang kepercayaan keluarga kita," kata Narcissa, menghampiri Draco lalu menggenggam tangannya.

Draco diam. Ia memikirkan perasaan Harry setelah tau hal ini. Harry memendam semuanya sendirian. Draco merasa bersalah pada Harry karena sudah keras padanya. Harry polos, ia tidak tahu apa-apa. Draco telah egois padanya.

"Berapa lama aku di Perancis?" Tanya Draco dengan datar.

"Dua tahun pelatihan, satu tahun percobaan memegang perusahaan cabang Perancis," jawab Lucius.

Draco menghela napas. "Inikah penyebabnya Harry bertingkah aneh dari pagi? Melamun dan seringkali salah membawa pesanan untuk pelanggan, karena ibu bertemu dengan Harry dan membicarakan hal ini?" Kata Draco menatap ayahnya dengan dingin.

"Seandainya kalian bilang padaku lebih awal, aku tidak perlu menebar janji-janji cintaku pada Harry," kata Draco menghela napas, lalu melepas genggaman Narcissa dan pergi dari situ.

Draco berhenti di pintu. "Aku terima jika kalian ingin membuangku ke Perancis. Tapi aku ingin kalian berjanji padaku satu hal. Kalian sudah menjanjikan Harry sebuah restu setelah aku pulang dari Perancis, tolong tepati janji itu. Aku akan berusaha semampuku agar aku bisa bersama dengan Harry. Dan kalian tidak boleh menyentuh atau menyakitinya selama aku tidak di sini," kata Draco, lalu pergi dari perpustakaan. Meninggalkan Lucius dan Narcissa yang berpandangan dengan pasrah.

.:.:':.:.

TBC

.:.:':.:.

Author's Notes: Haiiiii maaf bgttt aku telat update dikarenakan sinyal di kampung halaman sangat jelek, padahal udah siap di publish hikhik semoga kalian suka ya chapter ini, aku udh coba buat panjangin dan ternyata cuma nambah sedikit doang. dan btw, aku gatau sidang skripsi itu kaya gimana, dan sidang skripsi di luar negeri itu sistemnya bagaimana, hehe harap dimaklum ya._.v