Class Special D

All character belong to Naruto

Naruto © Masashi Kishimoto

1999

Class Special D by Putpit

27 Desember 2017

Inspiration:

Death Bell-South Korean Film

2008

Warning! Violance.

Sampai kapanpun, Sakura tidak akan pernah paham apa yang terjadi saat ini. Bagaimana kehidupannya yang baik-baik saja berubah menjadi begitu mengerikan dalam satu malam? Kenapa dia harus terjebak dalam permainan yang melibatkan nyawa teman-temannya sebagai taruhan? Dimana dia bisa mendapatkan bantuan untuk keluar dari teror ini? Ah, apa mungkin dia akan mati lebih dulu tanpa sempat berbuat apapun?

"Argh." Sakura merintih kesakitan tatkala dia merasa bila ada seseorang yang menarik rambutnya ke belakang.

"Gadis jelek yang malang," ejek sebuah suara berat.

Sakura membuka mata dan mendapati laki-laki berwajah pucat tengah tersenyum padanya.

Refleks, Sakura menggerakan kepalanya agar terbebas dari jambakan laki-laki tersebut. Namun, kepala Sakura jadi semakin sakit lantaran si laki-laki tidak mau melepaskan jambakannya.

"Kau bukan Ino. Berhentilah bersikap seperti dia."

Sakura menggigit bibir bagian bawah seraya berkata, "Aku tidak pernah mencoba bersikap seperti Ino. Dia yang tiba-tiba datang dan meminta bantuanku, Sai."

"Darimana kau tahu namaku?" tanyanya. Nadanya terdengar pelan sekaligus licik.

"Ino sering cerita tentang kamu," sahut Sakura tenang.

"Menarik," kata Sai. Dia terus saja tersenyum sedangkan Sakura terus saja menatapnya lekat.

Sakura harus waspada. Ia tahu bila senyuman yang ditunjukan Sai adalah jenis senyuman palsu yang berbahaya. Sakura tak akan lengah.

"Cukup! Berhentilah menyiksanya, Sai. Sudah waktunya kita memainkan teka-teki keempat," sela seseorang.

"Baiklah," kata Sai pergi menjauh. "Aku ingin segera membunuh mereka semua."

Sakura tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang menyela mereka karena dia bersembunyi di balik kegelapan. Hal terakhir yang ditangkap dari indera penglihatannya adalah sebuah benda kecil berkilauan yang ada di leher si pelaku.


000


Ting tong ting tong…ting tong ting tong

Layar televisi yang berada di ruang kelas menampilkan sosok gadis berambut merah muda yang tengah berdiri terikat pada suatu tiang. Mata serta mulutnya tertutup kain hitam. Kamera menyorot ke atas tiang. Disana telah ada kotak besi berukuran besar yang siap untuk jatuh mengenai si gadis.

"Teka-teki keempat!"

Shikamaru memandang layar di depannya tajam. Memperhatikan satu per satu benda yang bisa memberikan petunjuk keberadaan Sakura.

"Kalian punya waktu tiga menit untuk kesini sekaligus menjawab pertanyaan yang diberikan. Setiap jawaban yang salah maka kotak ini akan turun sekali dan setiap jawaban yang benar maka kotak ini akan tetap di tempat."

"Bangsat!" maki Shikamaru memukul meja keras. Selama ini dia selalu terlihat tenang, tapi sekarang Sakura dalam bahaya. Shikamaru tak akan pernah memaafkan siapapun bahkan dirinya sendiri bila gadis tersebut sampai terluka atau mati gara-gara permainan konyol ini.

Neji yang berada di samping kanan Shikamaru meremas bahunya pelan. "Haruno akan baik-baik saja. Tenanglah," kata Neji mencoba meredakan emosi Shikamaru.

"Oke, mulai. Selamat bermain!"

Shikamaru langsung bergegas keluar dan berlari menyusuri koridor sekolah.

"Pertanyaan pertama. Sudah ada berapa kematian di Konoha High School?"

"Empat!" seru Shikamaru tanpa pikir panjang. Dia menaiki dua hingga tiga anak tangga sekaligus.

Ting…

"Salah."

Shikamaru terbelalak. "Shit!" umpatnya. Ia kembali berteriak, "Tayuya, Suigetsu, Karin, Juugo. Lalu siapa lagi yang mati selain mereka, hah?"

"Aku beri kesempatan kedua."

"A-da li-lima," sela satu suara di belakang Shikamaru. Itu Hinata. Walaupun fisiknya lemah, tapi tak ada raut ketakutan di wajahnya. Neji pun nampak menggenggam erat tangan Hinata.

Tiga orang siswa menuju satu tempat, yaitu gudang di lantai paling atas. Mereka sama-sama bertaruh pada waktu sekaligus takdir untuk menyelamatkan Sakura.

Ting…tong…

"Benar. Pertanyaan kedua, apa yang menyebabkan mereka mati?"

"Terjatuh, cairan kimia, listrik," jawab Shikamaru.

Ting…

"Salah."

Shikamaru mengumpat, "Sialan! Aku benar-benar akan membunuh dalang di balik semua ini."

Neji serta Hinata berpandangan sejenak lantas mengejar Shikamaru yang telah berada di lantai tiga.

"Ter-jatuh, cairan kimia, listrik, dan-dan racun," kata Hinata sedikit terbata ketika berhasil menyamai langkah Shikamaru. Ia pun berkata kembali, "Pertanyaan selanjutnya biar aku saja yang menjawab, Nara."

Ting..tong…

"Benar. Lalu, siapa saja mereka?"

"Tayu-ya, Suigetsu, Karin, Juugo, dan-dan…" Jeda sejenak sebelum Hinata melanjutkan perkataannya, "Dan I-Ino."

Shikamaru meremas kedua tangannya kuat. Berbagai hal melintas di kepalanya, namun dia mencoba fokus.

Hal terpenting sekarang adalah Sakura. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Shikamaru tidak ingin kehilangan Sakura.

Ting...tong…

"Wah! Kalian semakin jago bermain dengan kematian ya. Selamat karena berhasil menyelamatkan gadis jelek itu."

Dddrrrttt…

Suasana berubah hening. Mereka telah berada tepat di depan pintu gudang, tapi entah kenapa Shikamaru mendadak merasakan ketakutan yang aneh.

Ketiganya mengatur napas lalu dengan hati-hati Hinata membuka pintu gudang. Neji menepuk bahu Shikamaru sekilas, memberikan energi positif.

Ketika Shikamaru melihat Sakura berdiri diam dengan kotak besi yang hanya berjarak dua jengkal di atasnya, lelaki itu langsung berlari menuju Sakura.

"Hati-hati, Shikamaru. A-aku takut ka-lau itu je-jebakan yang lain," seru Hinata mengingatkan.

Shikamaru yang berada dua langkah di dekat Sakura sontak menghentikan langkah. Dia memperhatikan sekeliling secara seksama, menarik napas dalam, dan maju perlahan.

Shikamaru melepas tali yang melilit Sakura kemudian memapahnya menjauh.

Buughh…

Tiba-tiba kotak besi seberat sepuluh kilogram tersebut meluncur ke bawah hingga menimbulkan bunyi yang keras. Bahkan lantai yang terkena hantamannya retak seketika.

Shikamaru membuang napasnya lega. Dia melepas kain yang menutupi mulut serta mata Sakura. Akan tetapi, gadis itu masih enggan membuka matanya. Tubuhnya pun bergetar hebat hingga Shikamaru harus menopangnya agar Sakura tidak terjatuh.

"Aku disini. Semua baik-baik saja," kata Shikamaru mengelus pipi Sakura.

Perlahan, kelopak mata Sakura terbuka. "Terima kasih," sahutnya kemudian pingsan dalam dekapan Shikamaru.


000


Sakura mengerjapkan matanya. Dia menerawang langit-langit ruangan lantas menggerakan kepalanya ke samping kanan dan mendapati Shikamaru tengah menatapnya khawatir.

"Syukurlah kamu sudah sadar, Sakura," kata Guru Kazu mendadak muncul di sisi Shikamaru.

Sakura hanya mengangguk kecil. Ia berbaring di sebuah kasur bekas yang ada di gudang. Ia juga belum dapat bicara banyak lantaran masih shock pada kejadian yang dialaminya barusan.

"Istirahatlah. Aku disini," kata Shikamaru mengusap lembut rambut Sakura.

"Iya, kami semua ada disini menjagamu. Pokoknya kita harus selalu bersama. Jangan berpencar atau psikopat gila itu bisa menculik kita," ujar Lee pada teman-temannya.

"Sai," sela Sakura lirih.

"Apa yang kamu katakan, Haruno?" tanya Neji.

Sakura menarik napas dalam. "Sai," ulangnya. "Penjahatnya bernama Sai, kakaknya Ino, dan satu orang lagi."

Semua orang terdiam. Mereka menunduk, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Kita harus segera mengakhiri semua ini. Apa kamu tahu letak persembunyian mereka?" tanya Neji lagi.

Sakura terdiam lalu mengangguk.

"Jangan ada yang pergi! Pembunuh itu bisa menculik kita jika kita terpisah. Kita harus tetap bersama supaya bisa saling menjaga. Sebentar lagi pagi, polisi pasti akan datang," sahut Lee.

"Benar apa yang dikatakan Lee, kita harus tetap disini," kata Jirobo.

"Bahkan sebelum polisi datang, kita akan mati!" seru Neji. Dia menatap satu per satu temannya dengan putus asa. "Setidaknya kita harus melawan atau mati sia-sia."

"Aku tidak akan membiarkan Sakura dalam bahaya untuk kedua kali, Neji," ujar Shikamaru pelan namun terdengar mengancam.

Neji melirik Shikamaru marah. Ia hendak mengeluarkan argumen, tetapi Sakura lebih dulu bersuara.

"Kita pergi bersama," kata Sakura.

"Kamu terluka, Sakura," ujar Shikamaru menyentuh lengan Sakura.

"Aku baik-baik saja Shika, Selama aku sama kamu, aku akan baik-baik saja," sanggah Sakura meraih tangan Shikamaru dan menggenggamnya.

Shikamaru memejamkan mata. "Aku takut," gumamnya menunjukan kelemahannya. "Aku takut tidak bisa melindungimu."

Sakura mengusap pergelangan tangan Shikamaru. Lelaki yang terlihat dingin dan cuek itu kemudian berkata, "Akulah penyebab kematian Ino."

Semua orang kontan menatap Shikamaru kaget. Hening selama beberapa saat sebelum akhirnya Neji bertanya, "Apa maksudmu?"

Shikamaru menghela napas berat. "Waktu itu, Ino meneleponku, dia mengeluh pusing. Tapi karena aku sedang fokus olimpiade, aku mengacuhkannya. Ino terjatuh dari tangga saat berusaha berjalan ke UKS sendirian."

"Itu bukan salahmu, Shika," kata Sakura.

Shikamaru menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu salahku, Sakura. Seharusnya aku ada saat dia membutuhkanku. Seharusnya aku lebih sering mendengar keluh kesahnya. Seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Seharusnya..."

Sakura meletakan kedua tangannya di pipi Shikamaru. Dia kemudian mengarahkan wajah Shikamaru hingga berhadapan dengannya. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Shika. Kita pasti akan keluar dari teror ini. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku."

Shikamaru memejamkan mata sambil menarik napas untuk menenangkan dirinya.

"A- ku merasa kema-tian Ino bu-bukan karena ja-tuh," kata Hinata tiba-tiba. Dia menautkan jari-jarinya dan memainkannya takut. "Dia diberi ra-"

Belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, Neji memotong secara sepihak. "Untuk sekarang, lebih baik simpan dulu pikiran tentang Ino. Kita harus cepat bergerak sebelum si pelaku bertindak lagi."

Sakura bangkit duduk. "Baiklah. Pertama, kita harus merusak semua CCTV yang ada supaya tidak ada yang mengawasi kita."

Jirobo yang sedari tadi berdiri diam tiba-tiba mengambil sebuah kursi lalu melemparkannya ke kamera di pojok gudang. Dia berkata, "Aku hafal semua letak kameranya. Ayo kita pergi!" ajaknya.


000


"Kamu yakin kita masuk kesana, Haruno?" tanya Neji memandang sebuah lubang ventilasi reot yang berada di atap.

Sakura mengangguk. "Percaya padaku."

"Aku duluan," kata Shikamaru menarik tutup ventilasi lalu masuk ke lubangnya.

Terdengar bunyi gedebuk lalu Shikamaru berteriak, "Aman!"

Sakura tersenyum. Dia sedikit bisa bernapas lega. Ia lantas masuk untuk menyusul Shikamaru.

Setelah semua orang berkumpul. Mereka hanya dapat terpaku di tempat. Mereka benar-benar takjub sekaligus takut terhadap apa yang mereka lihat di ruangan asing itu.

Puluhan televisi nampak merekam berbagai penjuru Konoha High School. Ratusan artikel mengenai anak-anak Class Special D tertempel di satu dinding. Ada pula sketsa rencana permainan maupun kematian yang digambarkan dengan begitu detail nan menyeramkan.

Terakhir, terdapat sebuah lukisan Ino yang tengah tersenyum memenuhi seluruh sisi dinding lainnya.

"Astaga," gumam Sakura kehabisan kata. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ino?"

Shikamaru meraih tangan tangan Sakura, menggenggamnya erat. Hinata menautkan tangannya di depan dada dan Neji merengkuhnya untuk memberikan rasa perlindungan pada saudaranya tersebut.

"Selamat datang!" seru seseorang mendadak muncul dari balik lukisan Ino. Rupanya ada pintu rahasia disana.

Sakura dan lainnya langsung waspada. Mereka merapatkan diri.

"Perkenalkan nama saya, Sai," ucapnya tersenyum sangat lebar.

"Hentikan semua permainan gila ini, Sai," kata Hinata. Sungguh diluar dugaan Hinata bisa berbicara seperti itu, bahkan tanpa terbata-bata.

Lekuk senyuman Sai semakin tinggi dan terlihat menakutkan.

Detik selanjutnya, hal yang terjadi bagai kilatan petir. Sai mengeluarkan pistol dari saku celananya lalu mengacungkannya ke depan.

Doorrr

Semua orang spontan membungkuk untuk menghindari tembakan.

Shikamaru mengepalkan tangannya marah. Dia berdiri dan hendak menerjang Sai. Namun belum sempat kakinya melangkah, perutnya terasa perih sekaligus nyeri.

Shikamaru menyentuh perutnya dan merasa lembab di pergelangan tangannya.

Sakura terbelalak begitu mengetahui cairan kental berwarna merah tercetak jelas di baju Shikamaru.


Di ruang penulis~

Editor: Apa kabar?

Penulis: Baik (senyum tanpa dosa)

Editor: Sok polos. Jadi, kapan cerita ini bakalan selesai?

Penulis: Tak tahu, hiks hiks T.T

Editor: Semoga cepet selesai deh. Kasihan kelamaan dianggurin

Penulis: Doakan aja. Tinggal dua chapter lagi. Semoga ada waktu dan inspirasi mengalir

Editor: Yauda deh. Tapi btw, teka-teki keempat itu lebih mirip tebak-tebakan deh

Penulis: Maaf ya. Itu sudah terbaik yang bisa aku pikirkan. Oh iya, buat yang uda ninggalin review atas nama Sakurai Uzuka ini sudah lanjut yaaa Class Special D-nya. Semoga suka

Editor: Satu lagi, untuk Litaa-san makasih ya. CEKBIOAURORAN makasih banget sudah ngingetin. Aku lanjut ini juga karena kamu hehe. Maaf nggak bisa bulan Desember karena aku ada banyak urusan. Maaf banget ya. Terima kasih jugaa. Kamu terbaek.

Penulis dan Editor: Aku benar-benar berharap semua pembaca bisa memberikan review membangun untuk fic ini. Terima kasih.

Special thanks to: Emiria Tsubaki-san, ocha chan, Kiki RyuEunteuk, yamanaka-chaaan, kanon rizumu, pidaucy, Kimeka RizuKyu, TitaniaGirl, Balok Bambu, lawliet uzumakie, fidorara, haruno sakura, CEKBIOAURORAN, ccherrysand1, Bryan, akurai Uzuka, Litaa-san, all followers, all favorites.

Oh, also all silent reades~

MIND to give me reciprocal?

Leave suggestion, critism, or flame in box review

~Thanks~