Chapter 7
Disclaimer: J. K. Rowling
Warning: OOC, typo(s), slash, bl
.:.:.::"::.:.:.
Sudah seminggu sejak sidang skirpsi Draco telah selesai, Harry belum memunculkan batang hidungnya di hadapan Draco. Ia hanya mengirimkan bunga dan kartu ucapan selamat atas keberhasilan Draco, membuat Draco kembali meragukan perasaannya.
Sebenarnya sudah beberapa kali Draco hampir menelepon Harry ataupun datang ke rumahnya diam-diam, tapi Draco tidak berani mengetuk dan akhirnya ia pulang ke rumah dengan pikiran kalut yang masih sama.
Setidaknya, jika memang mereka ingin berpisah baik-baik, bukan seperti ini caranya. Lagipula, mereka bukan berpisah karena putus cinta, tapi hanya pergi jauh alias LDR.
Orang tua Draco pun hanya bisa diam melihat anaknya yang tiap malam keluar rumah dan baru kembali satu jam kemudian, dengan wajah yang tidak berubah, datar. Narcissa hampir meminta suaminya untuk membatalkan kepergian Draco, tapi ia tahu suaminya tidak akan menyetujuinya.
Daphne juga bertanya-tanya kenapa Draco sudah jarang ke cafe lagi. Perilaku Draco sangat aneh dan yang lebih mengejutkannya lagi, Harry sakit. Draco tidak tahu jika Harry sakit karena Draco sudah tidak mengunjungi cafe lagi. Daphne sudah memberitahu Draco lewat pesan singkat, tetapi tidak ada balasan dari Draco.
Teman-teman Draco pun bingung dengan yang dilakukan Draco. Mereka sudah pernah datang kerumahnya dan pada akhirnya diusir oleh Draco sendiri sepuluh menit kemudian. Menyebalkan.
Ini sudah keterlaluan. Daphne akan menelepon Harry.
/"Iya, Daph? Ada apa?"/ Kata Harry di ujung telepon.
"Harry, bagaimana kabarmu? Sudah baikkan? Apakah obat yang aku kasih sangat manjur?" Kata Daphne.
/"Well, sangat manjur, terima kasih, Bossku tersayang,"/ kata Harry yang suaranya masih terdengar serak.
"Sama-sama, Harry. Kapan kau mulai masuk kerja? Teman-teman disini sudah merindukanmu, tahu," kata Daphne.
/"Benarkah? Aku tidak percaya padamu, Daph, mereka 'kan benci padaku,"/ kata Harry dengan sarkas sambil tertawa.
"Oh kau tidak tahu saja. Bahkan sekarang pun mereka ada di depan wajahku, mendengarkan pembicaraan kita seperti tidak punya malu," kata Daphne dengan sebal sambil mencibir ke arah para pegawainya.
/"Oh, kalau begitu aku percaya padamu. Tapi apakah di situ ada Sarah?"/ kata Harry.
"Ya, dia ada di sini. Kenapa?" Kata Daphne penasaran.
/"Tolong katakan padanya aku rindu dengan ocehannya,"/ kata Harry dengan jahil.
"Oh astaga, kita semua di sini sangat bosan dengan mulut bermesin milik Sarah. Sejak kau sakit, ia tambah cerewet dan sangat rewel dengan ketidakhadiranmu, ugh," kata Daphne sambil melotot ke arah Sarah. Terdengar Harry tertawa sangat keras di seberang telepon.
"Tapi, Harry, bisakah aku bicara denganmu? Ada sedikit masalah-"
/"Tentang Draco, 'kan?"/ kata Harry memotong perkataan Daphne.
"Yah, well, sebentar, aku harus mengusir mereka dulu.." kata Daphne sambil menyuruh mereka untuk bekerja. Tapi pegawainya sangat bandel dan membuat Daphne sebal. Akhirnya Daphne pergi ke luar cafe dan duduk di salah satu bangku yang tersedia.
"Harry?"
/"Ya?"/
"Harry, kau sudah tahu apa yang terjadi dengan Draco? Ia sangat aneh semenjak sidang skripsinya selesai. Aku sangat khawatir.." kata Daphne dengan nada khawatir.
/"Apa Draco ada di cafe hari ini?"/ kata Harry.
"Draco tidak mengunjungi cafe semenjak sidang skripsi itu. Bahkan di rumah pun ia jarang makan dan hanya mengurung diri di kamar,"
/"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu,"/ kata Harry, terdengar helaan napasnya.
.:.:':.:.
Harry bingung apa yang harus ia lakukan. Sudah berkali-kali Harry menelepon Draco tetapi tidak ada respon. Pesan singkatnya pun tidak di balas. Sakitnya ini sangat tidak beralasan, membuat repot banyak orang.
Entah kenapa Harry bisa sakit sampai absen dari cafe selama seminggu sejak sidang skripsi Draco selesai. Tubuhnya sangat lemas dan ia mengeluarkan banyak keringat, namun kulitnya terasa dingin. Hugo pun sampai heran kenapa Harry bisa sakit padahal cuaca sangat bagus musim ini.
Teman-teman Draco, tanpa Draco, menjenguknya kemarin, Harry tidak tahu darimana mereka mendapatkan alamat rumahnya. Mereka menceritakan pada Harry apa yang terjadi pada Draco. Draco tidak kelihatan senang. Wajahnya sangat murung. Mereka semua dibuat keheranan dengan sikap Draco yang seperti itu. Seharusnya mereka bersenang-senang.
Dan setelah Daphne meneleponnya barusan, membuat Harry ingin pergi mendobrak rumah Draco dan mengoceh di depan wajahnya kenapa ia bertindak sangat bodoh.
Tapi, ia harus mencoba telepon Draco lagi, setidaknya ia harus memastikan sebanyak 5 kali, baru ia pergi ke rumah Draco. Ia akan menelepon Draco setelah bersih-bersihnya selesai. Harry turun dari kasur dan melihat dirinya di depan cermin.
Mengenaskan.
Harry menyipitkan matanya melihat penampilannya sendiri. Ia hanya mandi 3 kali dalam seminggu, membuat Hugo ogah masuk ke dalam kamarnya dan hanya menaruh makanan untuknya di depan pintu. Katanya ia tidak tahan dengan bau Harry yang lebih parah dari bau bangkai. Ga segitunya kali.
Harry selesai memilih baju dari lemari, lalu ia melihat sekeliling dan meratapi kamarnya. Kamarnya sangat berantakan oleh baju-baju kotor selama ia sakit. Debu dan remah-remah makanan yang jatuh ke lantai sangat banyak hingga lantai terasa sangat kesat. Baru seminggu ia tidak merawat kamarnya, bagaimana kalau sebulan?
Untungnya ia sudah enakan. Tubuhnya sudah mulai terasa segar dan matanya pun sudah bisa melihat dengan jelas. Selama sakit, mata Harry selalu berair dan terasa panas. Oh sungguh Harry tidak tahu ia sakit apa. Random sekali.
Harry turun ke bawah dan ia melihat kakaknya sedang menonton berita sambil minum kopi. Melihat kopi, ia jadi kangen cafe.
"Hibernasinya sudah selesai, anak muda? Oh, lihat, sudah jam 11 siang, ternyata," Kata Hugo sarkasme dan tidak melepaskan pandangannya dari layar televisi.
"Memangnya aku Sandy si tupai. Aku sakit, tahu. Jahat sekali kau tidak merawatku seming-"
"Berhenti mengoceh. Cepat mandi, dan makan sarapanmu. Sudah lebih dari dua jam makanan itu terpampang nyata tanpa tersentuh," kata Hugo datar.
Harry mendelik ke arah kakaknya dan ke kamar mandi.
.:.:':.:.
"Kenapa kau rapi sekali? Kau mau ke luar?" Kata Hugo melihat Harry, yang sedang makan, memakai baju rapi.
"Aku akan ke rumah Draco."
"Ngapain?"
"Apanya yang 'ngapain'? Ia sedang ngambek padaku," kata Harry dengan jengkel.
"Dan jangan tanya apa-apa," kata Harry langsung bicara begitu Hugo membuka mulutnya.
"Pelit. Aku hanya ingin bertanya apakah kau ingin aku antar?" Kata Hugo dengan sebal.
"Tentu saja aku ingin. Hugo, seharusnya kau tidak perlu bertanya lagi," kata Harry sambil menjulurkan lidahnya pada Hugo.
"Dasar bocah. Cepatlah, makanmu lelet sekali seperti siput, aku ke atas dulu mengambil kunci mobil," kata Hugo sambil beranjak dari kursinya dan naik tangga.
Harry buru-buru menghabiskan makanannya dan mencuci piringnya. Setelah itu ia melihat dirinya di depan cermin lagi, berniat untuk merapikan rambutnya yang sangat tidak manusiawi. Namun Hugo sudah terlanjur turun dan mencela rambutnya lalu kabur ke luar. Harry sangat ingin mencekik Hugo.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Diam sebentar, lalu Hugo membuka percakapan.
"Di mana rumah Draco?" Tanya Hugo.
"Aku tidak tahu," jawab Harry.
"Tidak tahu? Dasar pacar tak berguna,"
Astaga, rasanya Harry ingin menjual Hugo ke pasar loak. Harry hanya balas tersenyum manis ke arah Hugo, membuat Hugo bergidik melihat senyuman itu.
"Lagipula mana mungkin kau tidak tahu rumah Draco? Kau kan bekerja di keluarganya," kata Harry santai.
"Aku hanya mengetesmu, kau ini pacar yang baik atau buruk. Ternyata kau adalah option kedua." Kata Hugo datar.
Harry sebal mendengarnya, tapi ia tidak menyangkal kalau ia pacar Draco. Ia malah senang mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, tumben sekali kau mau pergi ke rumahnya?" Tanya Hugo, sebenarnya ia penasaran sekali.
"Sudah kubilang jangan tanya apa-apa, Hugo," kata Harry sambil menghela napas.
Hugo hanya menghela napas dan mereka pergi, hanya ditemani oleh suara radio. Harry tidak ingin mengambil resiko menceritakan masalah ini pada Hugo. Ia takut Hugo memberikan balasan yang tidak Harry harapkan, seperti berteriak, mengomeli, dan memutar mobilnya kembali ke rumah, misalnya. Nanti saja setelah masalah ini selesai dan sudah menemukan jalan keluarnya, baru ia bercerita.
Setelah sampai di gerbang rumah Draco, tiba-tiba Harry jadi bimbang. Perlukah ia bertemu dengan Draco hari ini? Apakah masalah ini harus diceritakan di rumah Draco? Apakah ada orang tua Draco di dalam sana? Apakah orang tua Draco menginjinkannya masuk? Apakah Draco mau bertemu dengannya jika sms dan telepon darinya saja tidak dibalas?
"Yah dia malah melamun. Harry, kita sudah sampai," kata Hugo dengan sabar. Ia mencoba menjadi kakak yang pengertian.
"Hugo, sepertinya aku tidak jadi menemui Draco," kata Harry dengan serba salah.
Hugo menghela nafas. Sepertinya ini masalah serius. "Oke, jadi kau mau kemana?"
Harry bingung. Ia tidak ingin pulang ke rumah, ia juga tidak ingin pergi ke cafe. Ia butuh refreshing. Ya, ia butuh itu.
Belum sempat ia mengutarakan keinginannya untuk pergi ke mana, Hugo sudah memutar mobilnya dan melaju pergi. Membuat Harry diam saja dan menatap Hugo dengan polos.
"Oh, ya ampun. Apa-apaan ekspresimu itu? Jangan kau pikir aku bodoh, Harry. Aku tahu kau sedang stress dan dilema, ditambah kau baru sembuh. Aku tahu apa yang kau butuhkan saat ini," kata Hugo sambil menyeringai.
Harry hanya diam dan mengikuti kemana Hugo akan membawanya. Ia berhenti menatap Hugo dan melihat jalanan di luar. Kembali melamun.
Hugo melihat yang Harry hanya bisa menggeleng-geleng. Adik kecilnya sudah dewasa. Sudah merasakan stressnya berurusan dengan cinta. Hugo hanya berharap semoga Draco tidak mengecewakan Harry. Pertengkaran antara dua hubungan memang wajar. Ini pertengkaran yang wajar. Tapi kalau pertengkaran antara Harry dan Tom itu tidak wajar, itumah penganiayaan. Kriminal.
Harry tersadar sedari saat ia melihat jalanan sudah bukan lagi toko-toko dan gedung besar bertingkat. Sudah tidak lagi terlihat orang-orang berlalu-lalang. Digantikan oleh pemandangan alam. Pemandangan desa. Sebenarnya mereka di mana?
"Hugo, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Kata Harry to the point yang membuat Hugo tertawa.
"Relax, kid. Aku akan membawamu ke suatu tempat alami yang pas untuk menyegarkan pikiranmu yang berantakan seperti kamarmu," kata Hugo sambil tersenyum.
"Kenapa aku jadi curiga padamu ya?" Tanya Harry dan menyipitkan matanya ke arah Hugo.
"Ya ampun, bocah. Diam saja kau. Sebentar lagi kita sampai," kata Hugo tidak sabaran. Harry hanya memanyunkan bibirnya dan melanjutkan lagi kegiatannya melihat jalanan di luar.
Harry merasakan mobil Hugo sedang parkir. Oh, mereka sudah sampai. Sepertinya perjalanan mereka jauh sekali. Setahu Harry, jarak dari kota ke desa itu jauh. Dan, ternyata mereka menghabiskan waktu dua jam perjalanan.
"Ayo turun. Kita sudah sampai," kata Hugo sambil mematikan mesinnya dan keluar dari mobil. Harry mengikuti. Harry melihat sekeliling.
"Kau membawaku ke tempat alami tapi ujung-ujungnya menginap di villa. Sebenarnya kau sedang apa, Hugo?" Tanya Harry dengan sabar.
"Bocah, dengarkan aku. Kau akan menginap di sini, di hotel ini, sedangkan aku tidak. Aku akan kembali ke rumah dan meminta Daphne untuk memberimu cuti beberapa hari, ia pasti mengerti. Aku tahu kau sedang kalut dan dilema. Daphne sudah menceritakannya padaku. Kau bebas ingin melakukan apa saja di sini. Kau hanya punya waktu tiga hari cuti. Setelah itu kau bisa meneleponku jika kau ingin pulang. Kau mengerti?" Kata Hugo menjelaskan.
Oh, rasanya Harry ingin memeluk Hugo dengan erat sampai ia gelagapan minta dilepas. Pengertian sekali kakaknya ini.
"Ini kartu ku. Kau pakai itu jika kau ingin membeli atau pergi ke suatu tempat. Jangan khawatir soal uang. Yang terpenting sekarang adalah kau sehat, jasmani dan rohani," kata Hugo lagi, membuat Harry menatapnya dengan berkaca-kaca dan langsung melompat memeluknya.
"Tapi, Hugo, aku tidak membawa pakaian sama sekali. Aku hanya membawa handphone, bahkan chargeran pun tidak ku bawa," kata Harry, suaranya terpendam karena ia masih memeluk Hugo.
"Kau bisa pakai charger punyaku. Aku ada baju di mobil. Cukup untuk tiga hari. Dan baju ku pasti muat padamu, itu tersimpan di mobil sudah satu tahun lalu saat aku sedang bertugas di luar kota dan aku terlalu malas untuk mengeluarkannya. Bajunya masih bersih, kok," kata Hugo sambil melepaskan pelukannya dan menatap Harry. Lalu ia pergi mengambil tas ransel berisi baju di bagasi mobil dan memberikannya pada Harry.
"Hugo, sungguh, terima kasih.." kata Harry, tidak tahu harus berkata apa.
"Sama-sama, Harry. Ku tinggal ya," kata Hugo sambil memasuki mobil lalu melaju pergi. Meninggalkan Harry sendirian.
:.:.:.:
4 jam telah berlalu. 4 jam yang lalu Harry habiskan dengan tidur di villa selama 2 jam, 1 jam mandi dan 1 jam makan. Sekarang sudah jam 5 sore. Harry sedang duduk diam di suatu taman. Barang-barang serta urusan penginapannya sudah selesai terurus. Ia bebas pergi ke mana saja yang ia mau. Ia sangat membutuhkan ini. Dan ia memutuskan pergi ke taman yang tempatnya berada tidak jauh dari villa.
Tempat ini sepi. Kebanyakan orang datang ke sini untuk menjernihkan pikiran mereka atau untuk sekedar bersantai dari penatnya suasana kota, begitu kata resepsionis villa itu. Harry menandai villa ini sebagai tempat untuk ia dan Draco liburan nanti.
Ah, Draco. Tiada hari tanpa memikirkan Draco sedang apa, saat Harry masih sakit. Ia tidak tahu
"Draco, kau sedang apa?"
Ia tidak tahu kapan Draco akan berangkat ke Perancis. Bisa saja besok, atau bahkan hari ini? Harry tidak tahu. Acara wisuda Draco saja, Harry tidak tahu. Jangankan acara wisuda, kabar Draco pun Harry tidak tahu. Benar-benar pacar yang buruk, Harry ini.
"Draco, aku merindukanmu. Bodohnya aku menginginkanmu berada di sini saat kau saja tidak ingin menemuiku,"
Ia tidak akan menyangkal hubungan mereka. Biar saja Harry dikata egois jika ia menyebut mereka berpacaran, padahal Draco pun mungkin tidak menganggapnya.
"Draco, apa kau keberatan jika aku menganggap kita ini pacaran?"
Harry hanya ingin bersama Draco. Walaupun Draco akan pergi ke Perancis pun, Harry tidak masalah, asalkan Draco masih mencintainya, itu saja cukup.
"Kau tidak akan ke sini, Draco? Tempatnya enak, tahu. Sangat cocok bila kau butuh tempat favorit baru selain cafe,"
Harry putus asa harus melakukan apa. Ia hanya butuh Draco di sampingnya supaya ia tenang. Sejak Draco hadir dalam hidupnya, Harry menjadi lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
"Terkadang aku membayangkan jika kita tidak bertemu, apakah aku masih bisa bertahan? Kau tahu, Riddle itu sempat membuatku ingin mati saja, karena, orang yang mencintaiku saja menyakitiku, bagaimana jika yang tidak mencintaiku? Mungkin mereka akan membunuhku,"
Ia lebih menghargai waktu. Waktu yang ia punya saat sedang bersama Draco selama ini sangat ia syukuri. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal Draco lebih jauh.
"Draco, aku mencintaimu,"
Ia sangat mencintai pemuda itu.
"Harry.."
Astaga, ia sangat merindukan suara itu. Harry tersenyum, suara itu terdengar sangat lembut saat menyebut namanya. Ia berharap suara itu memanggil namanya di dunia nyata, bukan dalam lamunannya.
"Harry.."
Stop it, Draco. Jangan terus menyebut namaku, kau hanya membuatku ingin menangis karena tidak adanya kau di sisiku. Jangan hanya memanggilku saja, kau harus datang ke sini, aku membutuhkanmu.
Perlahan, air mata turun ke pipinya yang mulus. Ia tidak tahan, ia mulai menangis keras. Harry memeluk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya. Membiarkan air matanya harus turun entah sampai kapan. Andai saja hanya dengan menangis, semua masalahnya akan selesai.
Ia merasakan seseorang memeluk dirinya lembut, Harry terkesiap. Ia mendongakkan kepalanya dan iris hijaunya bertemu dengan iris abu-abu yang sangat dirindukannya. Wajah Harry sangat kacau walaupun ia baru menangis sebentar. Matanya bengkak, pipinya basah oleh air mata, bibirnya memerah. Ia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.
"Maafkan aku telah membuatmu kacau seperti ini. Ternyata aku tidak ada bedanya dengan Riddle itu. Aku sangat brengsek karena membuatmu menangis. Maafkan aku telah meragukanmu,"
Harry masih diam mematung. Masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Masih tidak percaya apa yang didengarnya. Masih tidak percaya apa yang dirasakannya. Draco, kata-kata cinta, dan pelukannya masih membuat Harry tidak percaya jika ini nyata.
"Harry, mau sampai kapan kau menjadi patung?"
Ya Tuhan, ini benar Draco. Harry bernafas. Ia pun tidak sadar jika sedari tadi ia menahan nafasnya hanya karena Draco.
"Um..."
Sungguh, Harry bingung ingin mengatakan apa.
"Um, Draco, sejak kapan kau di sini? Di taman ini, lebih tepatnya,"
Sebenarnya Harry malu jika Draco mendengar ocehannya. Semoga saja Draco tidak mendengarnya.
"Aku diberitahu Hugo alamat di mana kau berada. Tidak berpikir panjang aku langsung ke sini. Alasannya ada dua, aku merindukanmu dan aku masih mencintaimu,"
Harry memeluk Draco dan menangis lagi. Ia sekarang percaya kalau ini nyata. Ia percaya pelukan Draco. Ia percaya kata-katanya. Ia percaya Draco. Harry memeluk Draco sangat erat sampai baju Draco basah oleh air matanya. Draco hanya tersenyum merasakan pelukan Harry yang erat. Oh, Draco tidak keberatan, kok. Ia senang, malah.
"Harry, tatap aku,"
Harry melepaskan pelukannya dan menatap Draco, intens.
"Ikutlah denganku, ke Perancis,"
What?
END
HELLOOOOOO wkwkwkwkwk maapkeun aku ga apdet dari taun lalu dan tiba2 udah end aja:") maapin author atuh ya ih authornya moody an :( setiap lagi ngelanjutin, pasti selalu aja punya ide2 baru gitu jadinya yg ini kaga jadi2 hehehe maapkeun abis inimah kalo kurang memuaskan reader2ku tercinta:") klean bisa bayangin sendiri draco ama harry di perancis ngapain yak wkwk oke dadah smuanyah!
