Yoongi serasa membeku tentang permintaan Taehyung.

Yoongi bertanya, "Apa omega lain bicara buruk tentang kita?"

Taehyung terdiam, tapi Yoongi mengartikan itu sebagai iya.

Mereka sudah menikah untuk beberapa tahun dan sebenarnya menguntungkan kalau mereka punya anak karena tunjangan anak akan turun, tapi entah kenapa Yoongi merasa membeku kalau membahas keinginan Taehyung yang ini.

Berlawanan dengan Yoongi, Taehyung punya rencana yang jelas. Sementara Yoongi punya pekerjaan yang jelas menyita pikirannya, Taehyung punya daftar pejabat berpengaruh yang baiknya Yoongi dekati; beberapa teman teman ayahnya dan beberapa temannya waktu sekolah dulu.

Pejabat tingkat tiga di atas Yoongi kebetulan adalah teman ayah Taehyung waktu mereka berdua masih staff, Taehyung bilang pejabat ini sudah seperti saudara ayahnya dan menyarankan Yoongi untuk mendekatinya.

Yoongi tidak tahu apa yang nanti terjadi tapi dia menuruti Taehyung. Lagipula pejabat yang bersangkutan adalah atasannya langsung, akan sangat bagus kalau Yoongi menjadi andalannya di antara Ketua Subbidang yang dia bawahi.

Pejabat ini sebentar lagi pensiun dan memang sudah harus dibantu. Dia merokok dan terkena stroke ringan sekitar delapan bulan yang lalu sebelum pelantikan.

Yoongi berpikir merokok itu benar benar merugikan, bukan hanya membakar uang tapi mengundang penyakit untuk diri sendiri. Yoongi tidak mau uang tabungannya habis untuk mengobati penyakit yang datang karena kebodohan diri sendiri. Tapi walaupun Yoongi tidak setuju dengan kebiasaan atasannya, tentu saja dia tidak bisa serta merta menunjukan ketidaksukaannya.

Yoongi hanya akan menjadi bawahan yang baik, mengerjakan pekerjaannya dengan baik, membantu atasannya, dan menggantikan atasan saat ada rapat penting yang tidak bisa atasannya hadiri.

Walaupun berarti dia banyak meninggalkan Taehyung. Mereka biasa makan siang bersama, kalau Taehyung memang sedang ada di kantor dia akan menghampiri meja Yoongi dan mengingatkannya kalau ini sudah jam makan.

Tapi Yoongi akhir akhir ini sering muncul di ruangan Organisasi Istri yang didominasi warna biru, semua omega yang kalau tidak berseragam biru akan memakai aksesoris bernuansa biru melihat seakan takjub pada Yoongi begitu Yoongi bilang, "Permisi, ada Min Taehyung?"

Taehyung melesat buru buru menghampiri alphanya, "Ada apa, Alpha?"

"Aku ada rapat siang ini, jadi kita tidak bisa makan siang berdua. Kau tidak apa apa makan siang sendiri kan?"

Taehyung masihlah seperti anak kecil yang suasana hatinya mudah sekali terbaca dari wajahnya, Yoongi tahu dia tidak suka.

"Ini kepentingan pekerjaan, Sayang." Kata Yoongi.

Dan mereka berpelukan sebelum Yoongi pergi rapat.

Yoongi merasa telah mendapat citra alpha yang benar benar menyayangi omeganya di antara anggota Organisasi Istri dan itu adalah hal yang bagus -citra baik selalu bagus.

Hal lain selain rapat yang sering terjadi adalah Yoongi pergi makan siang dengan atasannya bersama rekan rekan satu bidang. Beberapa kali hanya para pegawai yang pergi makan siang, tapi kemudian istri atasannya ikut dan atasannya bilang, "Kalian boleh mengajak omega kalian juga."

Yoongi dengan cepat bertanya, "Boleh saya ajak omega saya sekarang?"

"Iya, silahkan." Kata atasannya.

Dan begitu Yoongi memanggil Taehyung, pejabat tingkat tiga itu terkejut. Tidak seperti pejabat tingkat empat atau staff lain, atasan Yoongi yang jarang di kantor ini tidak familiar kalau Taehyung yang anak temannya adalah omega Yoongi. Yoongi yakin ingatan atasannya ada yang terganggu karena fungsi otaknya pernah juga terganggu.

Walaupun di siang hari Yoongi jadi lebih sibuk dan jarang pergi makan siang dengan Taehyung, tapi begitu mereka pulang ke rumah mereka jadi banyak mengobrol lagi.

"Nyonya Heo itu susah sekali didekati." Taehyung membicarakan istri atasan Yoongi begitu mereka sampai rumah, "Di Organisasi Istri dia pilih pilih sangat teman, padahal masih cukup muda dan cantik dan jabatannya bagus. Tapi sekarang aku lumayan dekat dengannya. Bagus kan?"

"Bagus." Jawab Yoongi, "lebih bagus lagi kalau kau siapkan air mandiku sekarang."

"Baik, Alpha."

Yoongi ingin mandi air hangat lalu tidur, dia ingin hidup setenang dan senyaman ini selamanya.

Tapi Taehyung membuatnya tidak bisa tenang. Dia masih ingat tentang keinginannya punya anak dan melakukan apapun supaya dia dan Yoongi bisa mengusahakannya.

Yang sering Taehyung lakukan adalah menginvasi waktu mandi Yoongi, berbisik memanggil Yoongi dengan lembut di telinga Yoongi, bagaimana Yoongi bisa menolaknya?

Taehyung lembut, sangat bergantung pada Yoongi, sangat menurut pada Yoongi dan Yoongi senang melihatnya sampai menangis.

Yoongi tidak mengerti kenapa teman temannya mengeluhkan omega mereka yang tidak bisa diajak kerja sama di ranjang, karena Taehyung sangat amat bisa diajak bekerja sama -atau mungkin si alpha sendiri yang tidak bisa diajak bekerja sama.

Yoongi mendengarkan Taehyung. Mana yang membuatnya sakit, mana yang membuatnya senang, apa dia siap. Menurut pengalaman, menyenangkan omega tidak semudah menyenangkan alpha, jadi Yoongi memprioritaskan kesenangan Taehyung karena kalau Taehyung senang otomatis Yoongi juga terkena dampak senangnya.

Tapi kadang kadang ada saatnya juga Taehyung ada di luar kendali, dan Yoongi masih tidak bisa menyimpulkan apa keinginannya sebenarnya.

Taehyung duduk di sebelahnya, merapat padanya dan Yoongi mencium bibirnya sebentar, "Aku lelah, Tae."

Taehyung terlihat kecewa dan muncul sesuatu seperti sebuah kebingungan dalam diri Yoongi.

Sesuatu yang membuatnya selalu merasa tidak enak melihat Taehyung, tidak enak kepada Taehyung.

Di saat itu Yoongi pikir dia butuh waktu sendiri, jadi dia mengajukan keikutsertaan pada Diklat pejabat tingkat empat. Yoongi dapat waktu sendiri, juga mempermudah jalannya naik tingkat -langkah yang tepat menurut Yoongi.

Mengikuti diklat seperti ini berarti harus menetap di asrama, untungnya Taehyung juga paham bagaimana jalannya diklat jenis ini karena ayahnya juga pasti pernah mengikutinya waktu Taehyung kecil dulu.

Yoongi berangkat pagi membawa semua perlengkapan untuk tiga bulan, dia memang berencana untuk jarang pulang kalau sedang libur.

Taehyung melepasnya dengan senyum, dia masih pakai piyama sutranya dan mantel di atasnya. Melihatnya membuat Yoongi merasa tidak enak, tidak enak pada Taehyung, tidak enak kalau tidak mengabulkan permintaan Taehyung, tapi juga tidak nyaman kalau berpikir dia akan mengabulkan permintaan Taehyung.

Taehyung menciumnya dan Yoongi pergi.

Sampai di asrama dia langsung mencari kamarnya, dia belum tahu siapa saja teman satu diklatnya walaupun saat mengisi absen tadi sebenarnya dia bisa membaca daftar namanya.

Dari dua puluh kamar asrama yang dipakai, Yoongi menempati kamar nomor dua belas. Seperti bulan lahir Taehyung.

Di depan pintu kamar tercantum siapa saja nama penghuni kamar. Ada namanya dan Kim Seokjin.

Yoongi buru buru masuk kamar. Pintunya terkunci tapi Yoongi pegang duplikat kuncinya jadi dia membukanya dengan buru buru.

Waktu Yoongi membuka pintunya, Seokjin menjerit, dia sedang pakai celana tapi Yoongi tidak peduli.

"Jangan teriak teriak, aku tidak minat padamu." Kata Yoongi.

"Kau juga jangan tiba tiba masuk! Ketuk dulu atau apa lah!"

"Ini kan kamarku, kenapa aku harus mengetuk?"

"Karena aku roommate-mu dan aku bilang kau harus mengetuk pintu sebelum masuk! Aku lebih tua darimu, dengarkan aku!"

Seokjin berisik, menjerit jerit seperti Yoongi membahayakannya. Dia memakai segaramnya dengan cepat. Mereka harus bersiap untuk pembukaan diklat nanti jam delapan.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Yoongi."

"Iya." Yoongi membaringkan diri di kasur terdekat.

"Sudah berapa lama ya kira kira?"

"Kalau dari pelantikan sudah setahun lebih."

"Oh, iya!" Seokjin berseru, "kau tahu tidak kamar tiga belas siapa yang pakai?"

"Siapa?"

"Kim Namjoon." Jawab Seokjin, "Kalian sama sama dapat beasiswa dari kantor kan?"

Yoongi merasa sedikit kesal, dia harus bisa mengalahkan anak yang hampir membuatnya tidak dapat beasiswa itu.

Karena mereka awalnya tidak saling mengenal, tapi bertemu tiga kali di kesempatan yang penuh dengan aura kompetisi, Yoongi mencap Namjoon adalah rivalnya.

Padahal begitu Yoongi kenal Namjoon, Yoongi bisa bilang anak itu tidak buruk juga.

Namjoon itu tinggi, kakinya panjang, dan Yoongi iri pada hal itu. Namjoon ini bisa dipastikan lebih tinggi dari Taehyung, dan itu membuat Yoongi makin kesal lagi.

Dia belum menikah, "Tidak ada alasan khusus. Mungkin nanti, mungkin tahun depan." Kata Namjoon.

Dan kalau tidak menjadi rival, dia akan jadi mitra yang sangat baik. Yoongi satu kelompok dengannya dalam beberapa tugas diklat dan sangat mengakui kalau Namjoon ini cerdas, kemampuan analisanya bagus, nalarnya bagus, inovatif, dan lebih lugas berbicara dibandingkan Yoongi.

Namjoon, dengan kemampuan diri yang sebaik itu, menjadi lulusan diklat terbaik.

Tapi Yoongi sekarang senang senang saja. Dia, Seokjin dan Namjoon duduk duduk di teras asrama sambil minum kopi.

Seokjin bertanya, "Bagaimana kabar Taehyung?"

Yoongi menghela napas.

"Ada masalah apa? Bukannya kalian pasangan paling romantis seantreo kementerian?"

Mata Seokjin dan Namjoon yang memandanginya membuatnya tertekan, tapi Yoongi sadar dia tidak bisa diam selamanya, kalau tidak dia akan meledak.

"Aku takut punya anak." Kata Yoongi.

Mereka bertiga lalu diam.

"Aku jelas bukan calon ayah yang baik." Kata Yoongi lagi.

"Jangan bilang begitu, Yoongi." Kata Seokjin, "Kau galak tapi penyayang, kau pasti bisa jadi ayah yang baik."

"Apa yang membuatmu takut?" Tanya Namjoon, "maaf, kalau tidak mau cerita juga tidak apa apa."

Yoongi diam saja.

"Kau harusnya bicara pada Taehyung." Kata Namjoon.

Yoongi mengusap mukanya, "Kalian berdua kan lajang kenapa aku cerita pada kalian?"

"Setidaknya lebih baik daripada dipendam." Kata Namjoon.

Mereka diam, menyeruput kopi, dan diam lagi.

"Kalau Taehyung mau disia-siakan begitu lebih baik kau berikan padaku." Kata Seokjin.

Namjoon mencubitnya, "Aduh! Kenapa aku dicubit!?"

"Maaf, Pak. Sengaja."

"Mau mati, ya?" Tanya Yoongi.

Walaupun yang tadi itu cuma bercandaan, tapi Yoongi serius tidak akan memberikan Taehyung pada Seokjin, atau omega sejenis Taehyung pada Seokjin. Orang seperti Seokjin mungkin akan sangat marah kalau tahu omeganya tidak bisa masak.

Taehyung dari awal menikah sampai sekarang pun masih tidak bisa memasak. Yoongi tidak pernah ingat Taehyung berusaha memasak setelah Yoongi melarangnya memasak lagi.

Waktu Yoongi sampai rumah seselesainya diklat, dia disambut harum masakan. Dia langsung makan sementara Taehyung dan pembantunya memandanginya lekat lekat.

Masakannya agak sedikit terlalu asin, agak sedikit tidak menyenangkan di lidah dan makin tidak menyenangkan begitu ada yang memelototinya saat makan.

"Jangan melihatku seperti itu. Ada apa?" Katanya.

"Hari ini Nyonya yang masak, Tuan." Kata pembantu mereka, dia berdiri dan bicara di sebelah Taehyung, mewakili Taehyung yang menunduk.

"Bagus." Kata Yoongi. Dalam standar Taehyung, masakan terlalu asin adalah sebuah prestasi. Tapi ada yang Yoongi khawatirkan, "Bagaimana kondisi dapur?"

Dan Taehyung marah.

Marahnya seperti bocah, dia tidak mau bicara pada Yoongi. Yoongi cuma tertawa saja.

Dia tidur memunggungi Yoongi, tapi Yoongi tahu dia sebetulnya belum tidur.

"Kau mau terus marah padaku?"

Taehyung tidak menjawab.

"Aku bertanya, Taehyung."

Taehyung masih tidak menjawab.

"Baik kalau itu maumu."

"Alpha." Taehyung merengek, dia berbalik dan langsung memeluk Yoongi, "Jangan marah."

"Yang sedang marah sekarang itu kau, bukan aku."

Taehyung masih seperti bocah dan dia aneh, sekarang dia bertanya, "Bagaimana masakanku?"

Haruskah Yoongi bohong, atau haruskah dia jujur?

"Jadi selama aku diklat kau belajar masak?" Jadi Yoongi bertanya.

"Iya." Jawab Taehyung.

"Bagus, lanjutkan." Kata Yoongi.

Taehyung tersenyum, seperti bocah. Yoongi tidak habis pikir bocah seperti Taehyung ingin punya anak, bocah mengurus bocah, entah apa yang nanti akan terjadi.

"Kau pergi lama sekali, Alpha." Keluh Taehyung.

"Tiga bulan kau bilang lama, bagaimana kalau aku ditempatkan di daerah untuk dua setengah tahun?"

"Aku akan ikut." Kata Taehyung.

"Sekalipun di daerah tidak ada tempat belanja?"

"Sekalipun di daerah tidak ada tempat belanja." Ulang Taehyung, "Tapi jangan ya, lebih baik Alpha sekolah lagi di Itali."

"Supaya kau bisa beli tas kulit bermerek, hm?"

Taehyung tersenyum dan Yoongi menciumnya, karena Taehyung benar; Yoongi sudah pergi lama sekali, Yoongi juga merasa begitu.

Ciuman mereka makin dalam dan merambat kemana mana, setelah itu tidak ada pertanyaan lagi dan mereka tidak berpikir lagi.

Yoongi melupakan hal hal yang dia takutkan, juga melupakan saran untuk membicarakan semua ketakutannya dengan Taehyung.

Seakan akan dalam pelukan Taehyung semuanya menjadi ringan untuk Yoongi, dan semuanya menjadi jelas, lalu Yoongi menjadi berani.

Malam itu tidak ada di antara mereka yang saling menahan diri. Pikiran Yoongi sudah hilang digantikan keinginan untuk menikmati Taehyung yang memang miliknya.

Setelah itu semua kembali seperti biasanya. Mereka kembali pada urusan masing masing.

Suatu pagi Taehyung bilang, "Aku berdarah."

Nadanya biasa saja jadi Yoongi tidak berpikir ada hal yang serius, "Tiap bulan juga kau berdarah."

"Tapi kalau aku berdarah nanti kita tidak bisa-" muka Taehyung memerah.

Yoongi terkekeh, "Ternyata kau diam diam mesum, ya."

Akhir akhir ini Taehyung sedang mempersiapkan acara bakti sosial ke panti asuhan, dia berangkat pagi bersama Yoongi dengan naik mobil dinas.

"Alpha hari ini makan siang dengan siapa?" Tanya Taehyung.

"Belum tahu, nanti kuberitahu kalau sudah pasti."

"Baiklah." Kata Taehyung.

Lalu sampai di kantor mereka berpisah arah.

Ruangan Yoongi terasa aneh, meja Ketua Subbidang-nya terasa aneh. Dia terbiasa masuk ke kelas diklat, terbiasa tidur satu kamar dengan teman kesayangannya; Seokjin dan terbiasa melihat rivalnya yang sekarang adalah temannya; Namjoon. Dia terbiasa makan siang bersama peserta diklat lain dan bukannya menerima ajakan yang lebih seperti paksaan makan siang dengan atasannya.

Jadi Yoongi pergi untuk pamit pada Taehyung di ruang Organisasi Istri.

"Taehyung ada di poliklinik."

"Poliklinik?" Tanya Yoongi, "Kenapa?"

"Dia agak kurang enak badan, jadi kami menyuruhnya periksa."

Yoongi buru buru pergi ke poliklinik. Ada dokter umum di sana dan ada Taehyung berbaring di salah satu ranjang yang sudah disiapkan.

Yoongi duduk di kursi di samping ranjang yang Taehyung tiduri, "Ada apa? Kau sakit?" Tanyanya.

Taehyung menggeleng, tangannya bergerak memeluk Yoongi.

"Ada apa, Taehyung?"

Taehyung membisikinya, "Aku hamil."

Yoongi memeluknya erat erat.

Taehyung tidak punya kesalahan dan maksud buru apapun, dia cuma omega muda yang masih seperti bocah, keinginannya hanya menjadi omega yang baik untuk alphanya dan memberikannya keturunan.

Yang salah sepenuhnya adalah isi kepala Yoongi.

Tiap pagi Taehyung muntah muntah, makannya jadi lebih pilih pilih bahkan Yoongi sampai harus memaksanya dulu. Dia mudah lelah tapi masih ingin ikut banyak kegiatan, membuat Yoongi pusing. Tapi dia selalu bahagia.

Satu satunya kebahagiaan yang juga bisa Yoongi rasakan adalah waktu dokter bilang mereka punya anak kembar alpha. Ada kesombongan dalam diri Yoongi; sudah dapat alpha, langsung dua lagi.

Di dunia ini alpha memang sangat berharga, sangat membanggakan untuk orangtua mereka. Banyak orang melakukan cara apapun untuk bisa melahirkan bayi alpha, makanya Yoongi jadi sombong -dia punya dua alpha kecil dalam sekali usaha.

Taehyung bilang ingin menamai si kembar Taekwon dan Taegeuk, Yoongi cuma mengiyakan.

"Kau punya riwayat kembar?" Tanya Yoongi.

"Iya," jawab Taehyung, "Adik adikku itu kembar campuran."

Yoongi teringat kakaknya, lalu orang tuanya.

Begitu Taehyung hamil tua, Yoongi tidak mengizinkannya keluar rumah. Walaupun imbasnya tagihan telepon Yoongi membengkak seperti dada dan perut Taehyung karena Taehyung terlalu banyak telepon orang, mulai dari anggota Organisasi Istri sampai ibunya sendiri.

Suatu siang dia menelepon Yoongi di kantor.

"Aku rasa ketubanku pecah tapi aku tidak merasakan apa apa." Kata Taehyung.

Yoongi tidak main main dan dia menganggap semua hal serius sampai dia tidak bisa santai, "Jangan panik." Katanya, padahal mungkin Yoongi sendiri yang panik, "Kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan menjemputmu."

Yoongi pergi membawa mobil dinas, dia tidak izin pada siapa siapa, tapi salah satu staffnya tidak sengaja mendengar pembicaraan Yoongi dan omeganya -Ketua Subbidang dan staff ada dalam satu ruangan, tentu saja staff Yoongi bisa mendengarnya bicara di telepon.

Waktu itu penghujung musim panas, udara sudah menjadi lebih dingin, di malam hari Yoongi menemani Taehyung berjuang. Yoongi tidak takut darah, tidak jijik pada lendir, juga tidak pusing memikirkan biaya persalinan yang semuanya ditanggung kantor. Yang dia takutkan hanya kalau Taehyung tidak kuat atau anak anaknya tidak kuat. Sebagian pikiran Yoongi terpusat pada Taehyung, tapi sebagian lagi mengingat keluarganya sendiri.

Taekwon lahir lima menit sebelum Taegeuk. Taekwon kakaknya, paling besar, juga paling berisik, walaupun dua duanya juga berisik dan menyusu dengan kuat.

Taehyung tidak punya masalah apa apa menurut dokternya, dia juga bahagia bahagia saja walaupun dua kali lebih kerepotan dari omega kebanyakan. Yoongi sampai heran, omega yang cuma omega manja dan kekanakan dan tidak bisa mengurus rumah, ternyata bisa juga mengurus anak.

Rumah mereka sering didatangi orang, teman dan saudara.

Seokjin tiba tiba datang. Dia datang jauh jauh hanya untuk melihat si kembar, "Aku sedang ada dinas ke sini." Alasannya, "Aku ada sesuatu yang ingin kuberikan."

Dan dia memberikan undangan pernikahannya.

Tempatnya lumayan jauh, empat jam perjalanan itupun kalau jalanan lancar.

"Kalian pasti sedang repot, tidak usah datang juga tidak apa apa." Kata Seokjin.

"Mana bisa begitu?" Kata Yoongi, aku akan datang. Taehyung mengangguk mengiyakan.

Atasan Yoongi juga datang, bersama semua orang dari satu bagian kerjanya. Ini sejujurnya agak membuat Yoongi khawatir karena mereka punya pembantu yang benar benar mengurus semua hal di rumah sementara Taehyung tidak tahu apa apa, dan itu bukan citra omega yang baik. Tapi ternyata pembantu mereka juga bersembunyi dari tamu dan tidak akan muncul kalau tidak Yoongi panggil. Yoongi memang tidak memanggilnya, dia menyuruh pembantunya menyiapkan suguhan di dapur dan Yoongi mengambilnya sendiri, beralasan kalau Taehyung pasti lelah mengurus si kembar.

Tapi kunjungan yang paling penting adalah kunjungan dari orangtua.

Orangtua Yoongi datang setelah Yoongi lama tidak mendatangi mereka dan Yoongi tidak tahu harus merasa apa.

Mereka adalah pasangan yang biasa saja menurut Yoongi, tidak buruk, tapi tidak patut dicontoh. Yoongi punya alasannya dan dia lelah mengingat ingatnya lagi.

Tidur adalah cara yang menyenangkan untuk melupakan masalah, jadi Yoongi tidur di sebelah Taehyung di siang hari setelah orang tuanya pulang. Dia tidak sadar tidur terlalu rapat pada Taehyung sampai Taehyung menggeser posisi tidurnya.

"Taegeuk menangis, mungkin dia mau susu." Kata Taehyung.

"Kalau aku yang menangis kau mau memberiku susu tidak."

Taehyung mengusap pipi Yoongi, "Tidak usah menangisinya kuberi." Katanya, "Sekarang Alpha tidur saja dulu, ya?"

Yoongi tidak tahu terus diam saja adalah hal yang bagus atau tidak. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan Taehyung dengan ceritanya yang dipenuhi kekhawatiran tidak berarti.

Waktu orangtua Taehyung yang datang Yoongi merasa lega, mereka tahu Taehyung anaknya seperti apa jadi Yoongi tidak perlu susah susah menjaga citra baik.

Kepada ibu Taehyung Yoongi bilang, "Jangan sungkan untuk datang, Taehyung pasti membutuhkan bantuanmu, Bu."

"Kemana orangtuamu, Nak?"

Jadi Yoongi menjawab, "Saya lebih percaya Ibu untuk menjaga Taehyung dan anak anak."

Ibu mertuanya itu memeluknya.

"Kau akan jadi ayah yang baik, Yoongi." Kata ayah Taehyung.

"Terimakasih, Pak." Walaupun Yoongi sebenarnya tidak paham apa itu ayah yang baik.

Taehyung bertanya, malam malam sebelum mereka tidur, "Kenapa Alpha lebih percaya orangtuaku daripada orangtua Alpha sendiri?"

Malam itu Yoongi sudah mengantuk, mungkin karena itulah akhirnya dia bisa bercerita, setelah lama sekali sejak darah Taehyung menetes ke ranjang mereka. Yoongi bercerita tentang semuanya, dia punya masa kecil yang menyenangkan karena dia hanya tinggal dengan ibunya, tapi ayahnya bukan ayah yang baik dan sekarang Yoongi adalah seorang ayah, dia merasa takut tidak sengaja akan melakukan apa yang ayahnya lakukan padanya dulu.

Yoongi merasa kacau, tapi anehnya merasa kuat setelah cerita, terutama karena Taehyung berbisik -dengan suaranya yang dalam, "Kau akan jadi ayah yang baik, ayah yang sangat hebat, Alpha."

Itu semua membuat Yoongi bisa tidur nyenyak.

Walaupun Yoongi masih begitu begitu saja setiap hari. Taehyung menggambarkan alphanya menjadi orang yang terlihat tidak peduli tapi sebenarnya adalah yang paling terbebani.

Yoongi meneruskan sekolahnya sambil kerja, dia jadi sering diam lama lama di kantor dan menyuruh Taehyung pulang dengan diantar mobil dinas.

Yoongi takut melihat anak anak lama lama, takut memberi mereka pengaruh buruk.

"Tidak akan, Alpha!" Kata Taehyung, "itu tidak ada hubungannya sama sekali."

Yoongi melarikan diri dengan masuk kamar mandi, "Kau mau ikut aku mandi atau mau bicara terus?"

Walaupun Yoongi masih suka tidur siang dengan anak anak di hari libur. Dan masih menerima mereka kalau mereka datang ke ruangan Yoongi.

Begitu Yoongi melihat mereka duduk di lantai sambil menggambar di kertas surat yang salah diketik, pikiran Yoongi dipenuhi harapan; bukan harapan bahwa anak anaknya akan membuatnya bangga, tapi harapan supaya dirinya sendiri tidak menjadi bajingan yang menghancurkan anak anaknya yang membuatnya bangga.

Taehyung bilang ingin memasukkan anak anak ke play group. Yoongi mengiyakan. Yoongi tidak butuh penjelasan kenapa play group dibutuhkan atau tidak dibutuhkan, apapun yang Taehyung inginkan dan disetujui oleh orangtua Taehyung adalah yang menurut Yoongi benar.

Dua alpha kecil dari keluarga Min sering muncul dengan seragam kuning yang warnanya menjijikkan tapi lucu lucu saja dipakai anak kecil seperti mereka. Rambut mereka disisir dengan rapi oleh Taehyung dan semua orang memuji si kembar, "Mirip sekali dengan Taehyung." Itu yang sering Yoongi dengar.

Yoongi cuma tersenyum. Anak anaknya akan mirip dengan Taehyung karena mereka banyak dididik oleh Taehyung dan ibu Taehyung. Mereka akan hidup mapan seperti keluarga Taehyung karena Yoongi juga punya pekerjaan yang mapan seperti ayah Taehyung dulu. Mereka akan terbebas dari kesulitan kesulitan yang disebabkan oleh kebodohan kepala keluarganya, karena Yoongi tidak bodoh begitu, kalaupun dia bodoh, dia yakin Taehyung bisa menyelamatkan semuanya.

Yoongi secepat mungkin berusaha naik jabatan sebelum anak anak masuk SD. Dia buru buru menyelesaikan sekolahnya, karya siswanya (lagi) dan ikut seleksi kenaikan tingkat.

Yoongi memang berusaha untuk naik tingkat dengan cepat, tapi dia tidak menyadari seberapa cepat sampai dia selesai dilantik.

Taehyung masih menemaninya, seragamnya masih sama, tapi jadi lebih pas di badan Taehyung. Membuat Yoongi ingin meremasnya.

Hanya dia sendiri yang naik menjadi Ketua Bidang. Bidang yang dia pimpin sekarang memiliki dua Subbidang yang masing masing dipimpin oleh Seokjin dan Namjoon.

Orang bisa bilang Yoongi berjodoh dengan Seokjin makanya mereka bertemu terus, tapi Yoongi percaya kalau mereka adalah duo mahadahsyat yang melakukan pekerjaan dengan mahabaik kalau berdua dan ditambah dengan kemampuan diri Namjoon, maka Bidang yang Yoongi pimpin akan menjadi Bidang yang bekerja mahacepat dan mahatepat.

Salah satu staff Yoongi, dibawah Namjoon adalah Jungkook, alphanya Jimin.

Yoongi memanggilnya ke ruangan Ketua Bidang-nya.

"Kau tidak minat naik tingkat?" Tanya Yoongi. Bukannya ada yang salah dengan hanya menjadi staff, tapi kalau Jungkook bisa menjadi lebih baik lagi apa Yoongi salah kalau dia ingin memotivasinya.

"Kalau memikirkan anak, aku mau, Hyung. Tapi sekolahku tidak tinggi."

"Memangnya berapa anakmu?" Tanya Yoongi. Kalau dua, dua duanya masih ditanggung pemerintah, harusnya Jungkook tidak takut.

Jungkook tersenyum, gigi depannya besar seperti kelinci, "Empat, Hyung. Yang bungsu baru lahir kemarin."

Yoongi ingin menonjoknya.

"Kebablasan." Alasan Jungkook.

"Kebablasan atau memang doyan?"

Namjoon masih saja tidak menikah, dia sangat bisa naik jadi Ketua Bidang tapi dia tidak dibantu omega yanh seperti Taehyung dan tidak banyak pencitraan pada atasan seperti Yoongi, makanya jabatannya disitu situ saja.

Seokjin punya satu anak, tapi omeganya banyak diam di rumah dan tidak ikut kegiatan organisasi.

Yoongi merasa beruntung.

Suatu sore yang cerah sehabis gerimis, Yoongi mampir ke toko emas, lalu ke toko tas kulit, semuanya dibungkus rapi seperti hadiah dalam kotaknya masing masing.

Di perjalanan pulang Yoongi melihat sebuah toko bunga dan dia mencoba masuk ke sana.

Yoongi jarang membeli bunga jadi dia bingung.

"Ada yang bisa saya bantu?" Yoongi disambut seorang omega yang kelihatan sedang hamil tua.

"Maaf." Kata Yoongi, "Tapi kenapa kau sendirian saat hamil? Dimana alphamu?"

"Dia sedang mengambil stok bunga yang kurang, terimakasih sudah bertanya." Omega itu tersenyum, "Apa kau butuh bunga?"

"Iya, bunga apa yang menurutmu bagus?"

"Semua bunga bagus, untuk acara apa?"

"Tidak ada acara apa apa."

Omega itu mengangguk, "Untuk siapa?"

"Istriku."

"Hohoho, kau romantis juga ya." Kata omega itu, "Aku Hoseok."

"Untuk apa kita berkenalan?" Tanya Yoongi.

"Tidak tahu, bayiku yang ingin." Kata Hoseok.

"Apa orang hamil selalu mengambinghitamkan bayi mereka?"

Hoseok tertawa, tidak menjawab, "Mawar itu bunga cinta, satu hand bouquet mawar?"

"Iya, boleh."

Yoongi akhirnya pulang dengan membawa kartu nama Tuan Hwang, "Kami melayani dekorasi juga."

Waktu Yoongi sampai rumah Taehyung sedang bermain dengan anak anak, pembantunya yang membukakan pintu.

Taehyung baru menghampirinya setelah itu. Dan Yoongi langsung memberikan semua yang dia beli untuk Taehyung.

"Kenapa tiba tiba memberiku semua ini?" Tanya Taehyung, kalung emas yang Yoongi berikan cantik sekali melingkar di leher Taehyung dan tas kulitnya yang hitam elegan untuk dijinjing kemanapun, dia memeluk bunga dari Yoongi.

"Tidak ada apa apa." Kata Yoongi.