Taehyung menggenakan pakaian tidurnya yang paling tipis dan merangkak ke arah Yoongi yang bersiap tidur.
Taehyung mencium pipi Yoongi.
"Cepat tidur, Taehyung." Kata Yoongi.
"Tapi aku tidak mau langsung tidur, Alpha." Kata Taehyung.
"Kau itu banyak maunya, ya." Kata Yoongi.
Taehyung terdiam.
"Sini, cium."
Jadi Taehyung mendekat lagi dan mencium bibir Yoongi. Dia naik ke pangkuan Yoongi sambil tetap berciuman. Begitu tangan Yoongi mulai meraba tubuhnya, Taehyung menjauh, dia melepas pakaian tidurnya yang tipis, "Aku ingin berterimakasih."
"Aku tidak terima tanda terimakasih dalam bentuk bercinta." Kata Yoongi, dia mengelus pinggang Taehyung yang kini telanjang, merasakan guratan yang terbentuk di sana.
Taehyung lagi lagi terdiam, "Jadi aku harus apa?"
"Cari tahu sendiri." Kata Yoongi.
Taehyung terlihat berpikir keras di atas pangkuannya, persis seperti bocah. Yoongi mengacak rambut Taehyung, "Jangan terlalu dipikirkan. Atau kau mau berhenti sekarang?"
"Mau lanjut!" Seru Taehyung, buru buru.
"Lakukan sesukamu kalau begitu." Kata Yoongi.
Itu lampu hijau. Taehyung mencium Yoongi, lalu melakukan banyak hal untuk memujanya, Yoongi tinggal santai dan menikmati.
"Kali ini aku tidak mau ada pembatas di antara kita." Kata Taehyung, "Aku mau Alpha menyelesaikannya di dalam."
"Oh, kau mau tambah anak?"
"Mau, Kwonnie dan Geukkie juga sudah masuk SD."
"Mau berapa?"
"Mau lima." Taehyung tersenyum.
"Yakin tidak terlalu banyak?"
"Yakin." Taehyung tersenyum makin lebar. Senyumnya masih seperti anak kecil, tidak berubah walaupun dalam diri Taehyung banyak yang berubah -atau harusnya disebut menjadi dewasa.
Setelah punya si kembar Taehyung pelan pelan berubah, menjadi lebih seperti seorang ibu yang anggun, Yoongi merasa Taehyung makin mirip saja dengan ibu mertua Yoongi.
Cara Yoongi menangani Taehyung juga jadi agak berubah karena medan yang akan Yoongi masuki sudah tidak seperti dulu lagi sejak kelahiran si kembar.
Tadinya Yoongi pikir ini akan jadi hal yang sementara yang akan kembali menjadi normal ketika anak anak sudah agak besar dan selesai menyusu, tapi ternyata dia juga harus pintar pintar mencari cara baru untuk menyenangkan Taehyung. Untungnya Taehyung yang sangat suka anak anak, menyukai perubahan dalam dirinya yang disebabkan oleh anak anaknya sendiri juga.
"Aku merasa jadi omega yang baik, yang bisa menyelesaikan tugas tugasnya." Begitu katanya.
Sambil menikmati Taehyung, Yoongi bisa merasakan bagian dari kulit Taehyung yang memiliki gurat peregangan. Contohnya adalah bagian di belakang ketiak, di daerah perut dan sedikit di dada, di pinggul dan di betisnya.
Bagian bagian itu memiliki tekstur yang khas dan Yoongi senang merasakannya. Dan untungnya Taehyung adalah omega dengan rasa percaya diri yang tinggi -seringnya, tapi dia bisa tiba tiba menjadi tidak percaya diri. Tidak terprediksi- jadi dia senang kalau Yoongi terlihat menyenangi badannya yang sekarang.
Taehyung akan bangun pagi dengan perasaan yang baik dan senyum yang lebar walaupun badannya sakit. Badan Yoongi juga sakit, dia tidak seceria Taehyung, dia lelah dan ingin tidur seharian tapi melihat Taehyung yang sedang senang begitu sama dengan disorot senter di mata; Yoongi tidak bisa tidur dengan tenang.
Jadi Yoongi menyerah, di hari Minggu pagi dia ikut duduk di meja makan dengan seluruh anggota keluarga kecilnya yang semuanya masih pakai piyama.
Taehyung tidak memakai pakaian tidurnya yang tipis itu, dia memakai jubah tidur dengan bahan yang sama sekali tidak menerawang yang diikat dengan kurang baik sampai dadanya sedikit terlihat. Dia membawakan Yoongi secangkir kopi.
Setelah Yoongi meneguk kopinya dia baru benar benar bangun dari tidurnya. Taekwon dan Taegeuk makan sendiri sambil diam diam saling bercanda, sementara Taehyung membaca sesuatu.
"Apa itu?" Tanya Yoongi, karena jarang sekali Taehyung membaca sesuatu saat makan.
"Ini katalog barang jualan Jimin, Alpha." Jawab Taehyung.
Jeon Jimin. Yang alphanya cuma staff tapi berani buat anak empat; Jeon Jungkook.
Yoongi ingat pertemuannya dulu dengan pasangan Jeon itu, Jimin cantik sekali dan kelihatan lembut sekali.
Sayang sekali dia berakhir dengan Jungkook. Mungkin sebenarnya menikah dengan Jeon Jungkook bukan hal yang buruk -malah hal yang sangat baik, tapi sayang sekali Jimin punya anak empat dengan Jeon Jungkook yang cuma staff -yang gajinya memang hanya cuma cukup membiayai dua anak.
"Jimin jualan macam macam, dari pakaian sampai perabotan rumah. Aku ingin coba beli karena dari setiap pembelian Jimin dapat untung tigapuluh persen, lumayan bukan?" Jelas Taehyung.
"Iya, belilah sesuatu untuk membantunya." Kata Yoongi, karena dia yakin gaji Jungkook tidak cukup untuk menghidupi enam orang, "Kasihan dia pengeluarannya pasti banyak."
"Darimana Alpha tahu itu?" Tanya Taehyung.
"Jungkook cerita mereka punya anak empat, apa kau terbayang bagaimana cara mereka menghidupi dan mengurus keempatnya?"
Taehyung terdiam.
Seharian itu Taehyung membolak-balik balik katalog dari Jimin, karena dia tidak bisa langsung melihat barangnya dia tidak yakin dengan kualitasnya. Dan mencari model pakaian yang Taehyung suka adalah hal yang kadang mudah kadang susah tapi kali ini sedang susah.
"Telepon saja Jimin, minta dia bawa barangnya, besok kau lihat di kantor. Punya alpha tenaga kuli seperti Jungkook harusnya dimanfaatkan untuk saat saat seperti ini." Saran Yoongi.
Taehyung terkikik. Dia langsung menelepon kediaman keluarga Jeon dan setelah semuanya menjadi lebih tenang Yoongi bisa tidur siang dengan Taegeuk yang menyusup ke pelukannya dan Taekwon yang memeluk Yoongi dari belakang dengan kakinya seperti guling.
Sore harinya Namjoon datang berkunjung, dia memberikan undangan pernikahan.
"Akhirnya sudah tidak ada lagi Kasubbid di kantor yang melajang."
Tanggal pernikahan Namjoon masih minggu depan, seminggu sebelumnya Taehyung sudah mulai berpikir apa yang harus dia pakai ke acara itu, "Ini Joonie Hyung, Alpha! Dia adalah teman kita, aku harus tampil sebaik mungkin." Alasan Taehyung.
"Pakai saja sesuatu yang tidak mencolok, kasihan nanti omeganya Namjoon kalah cantik darimu di hari pernikahannya sendiri."
Akhirnya Taehyung memakai sesuatu yang sederhana saja, tapi kesederhanaan itu malah membuat perhiasannya yang cantik terlihat lebih mencolok.
Mereka pergi ke pernikahan Namjoon berdua saja, ibu Taehyung dipanggil ke rumah untuk menjaga si kembar. Ibu Taehyung tidak menolak dan Yoongi senang karena itu.
Pernikahan Namjoon sebenarnya biasa saja untuk Yoongi. Dekorasinya elegan dan Seokjin memuji jamuannya membuatnya ingin menangis -karena terlalu enak. Banyak rekan kerja di kantor yang Yoongi temui, bahkan Kepala Pusat juga datang.
Tapi kemudian Jeon Jungkook datang, agak terlambat. Dia datang bersama Jimin.
"Maaf, tadi Yoosung sama sekali tidak bisa ditinggal." Dia beralasan.
"Yoosung demam." Jimin menambahkan, suaranya tinggi dan lembut, dia juga bicara dengan lembut dan hati hati.
"Yoosung itu yang sepantaran Taegeuk dan Taekwon itu kan?" Tanya Seokjin.
"Bukannya itu Hyesung? Umur tujuh, kan, Jungkook-sshi?" Kata Taehyung.
"Iya," jawab Jungkook, "Yoosung itu yang sepantaran Minha-mu, Jin Hyung."
"Oh, iya? Aku tertukar kalau begitu."
Jimin berdiri di samping alphanya yang sedang mengobrol. Dia mungil, putih dan badannya berisi setelah melahirkan empat kali, terlihat lembut dan empuk. Wajahnya dan caranya tersenyum terlihat dewasa, tanpa kesan kekanakan sama sekali.
Yoongi banyak diam diobrolan kali ini tapi dia tidak curigai karena dia biasanya tidak banyak bicara.
"Jimin, katanya kau jualan, ya?"
Jimin terlihat terkejut, dia tidak mengira akan dapat pertanyaan seperti itu di depan alphanya sendiri. Jeon Jungkook terlihat tidak senang, mungkin dia merasa tersindir tidak bisa membiayai omeganya sendiri sampai Jimin harus berdagang.
Yoongi dan Taehyung sama sekali tidak berani membahas usaha Jimin karena masih menghormati Jungkook, tapi berani sekali ada yang terang terangan menyindir Jungkook. Yoongi cuma tersenyum, mungkin sebentar lagi akan ada konflik di kantor yang melibatkan Jungkook, kedengarannya akan seru sekali.
Tapi Jimin tersenyum, "Iya." Jawabnya, dan dia tidak membahas apapun lebih lanjut lagi.
Sampai pasangan itu pamit pulang lebih dulu karena khawatir dengan keadaan anak mereka yang demam.
Taehyung merapat pada Yoongi, berbisik, "Apa ada yang lucu, Alpha?"
Yoongi balas berbisik, "Kenapa?"
"Dari tadi Alpha senyum senyum terus."
"Sepertinya Jungkook merasa tersindir, itu lucu menurutku."
"Sst, kasihan dia."
Yoongi tertawa kecil.
Walaupun merasa tersindir, sepertinya Jungkook juga sadar diri. Terbukti dengan Taehyung yang duduk duduk di sofa ruangan Yoongi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau membuat konsentrasiku buyar."
"Buyar karena aku terlalu menarik?"
Yoongi mendekatinya, menengadahkan dagu Taehyung agar menghadapnya, lalu menciumnya.
Lalu dia bertanya, "Jawab, Taehyung, kenapa kau di sini?"
"Aku menunggu Jimin, aku menyuruhnya membawa jualannya ke sini jadi aku bisa memilih dengan tenang, kalau di ruang organisasi pasti omega yang lain ikut ikutan rusuh."
Kemudian pintu ruangan Yoongi diketuk.
"Masuk." Seru Yoongi.
Dan Jimin masuk, "Permisi, Yoongi-sshi. Aku diminta kemari oleh Taehyung."
"Iya, iya. Masuk saja dan jangan terlalu formal, Jimin."
Dan Taehyung berakhir belanja cukup banyak.
"Terimakasih, Tae." Kata Jimin, terdengar singkat, tapi begitu Yoongi melihat matanya sampai berkaca kaca, Yoongi tahu Jimin sudah tidak bisa berkata kata lagi.
Taehyung juga pasti tahu, dia tersenyum dan memeluk Jimin dengan erat sebelum Jimin pergi keluar.
Barulah Taehyung duduk di hadapan Yoongi yang duduk di balik mejanya.
"Punya anak banyak itu sulit, ya?" Tanya Taehyung.
"Kau bisa lihat Jimin. Tanya saja."
"Sebenarnya Jimin cerita."
"Cerita apa?"
"Rahasia antar omega." Kata Taehyung, "Aku tidak bisa menceritakannya."
Yoongi berdecak kesal.
"Aku ingin membantu Jimin." Kata Taehyung.
Yoongi diam memikirkan cara membantu Jimin, tapi tidak menemukannya.
Taehyung setiap sebulan sekali membawa pulang katalog barang jualan Jimin. Untuk mendapatkan katalog itu juga perlu biaya walaupun sebenarnya tidak seberapa.
Taehyung bilang, "Jimin dapat untung dari setiap penjualan katalog, jadi walaupun aku tidak belanja barangnya tapi aku membantu Jimin juga."
"Lalu apa yang mau kau lakukan pada semua katalog itu?"
"Mungkin aku bisa promosi di kompleks kita."
Walaupun Taehyung jadi ikut berjualan juga di luar kantor dan di luar organisasi, katalog itu tetap saja berakhir menjadi bahan guntingan Taekwon dan Taegeuk.
"Papa, aku butuh majalah bekas buat tugas, Papa punya?" Tanya Taegeuk. Si kembar menunggu jawaban Yoongi. Walaupun mereka beda kelas, tugas mereka pasti sama sama saja.
"Minta ke Mama sana, Mama punya banyak majalah bekas."
Kadang katalog itu diantarkan Jungkook ke meja Yoongi. Sekali waktu ada Taehyung di sana.
"Wah, katalog bulan ini, ya, Kookie?" Kata Taehyung, semangat sekali.
Tapi Jungkook tidak menjawab apa apa, dia langsung pamit pergi lagi.
"Aku salah bicara, ya?" Tanya Taehyung setelah Jungkook pergi.
Yoongi tertawa, "Ya, sangat salah."
Taehyung terdiam, menyesal mungkin.
"Pertama kau membahas jualan Jimin, dan kau memanggilnya Kookie. Tapi jangan dipikirkan, dia harusnya belajar terima nasib."
"Aku pikir tidak apa apa panggil nama kecilnya, Jin Hyung dan Joon Hyung saja tidak marah."
"Tiap orang punya sifat yang berbeda, Sayang."
Pintu ruangan Yoongi kembali diketuk.
"Masuk." Seru Yoongi.
"Permisi, Pak Kabid." Kata Seokjin, serius, "Pinjam katalog dong." Lalu tiba tiba berubah jadi tidak serius.
"Lihat saja, Hyung." Kata Yoongi.
Seokjin duduk di hadapan Yoongi, membuka segel katalog itu, "Tadi aku sudah cegat Jungkook, tapi dia ngotot katalognya harus sampai di mejamu dulu, Yoongi. Ampun deh anak itu, minta disepak."
Taehyung yang duduk di sofa ruangan Yoongi protes, "Hyung, aku belum baca sama sekali!"
Seokjin menyodorkan katalog itu pada Taehyung, "Silahkan baca duluan."
Dan Taehyung menerimanya, dan membacanya dengan cepat, di tangannya ada pulpen untuk menandai barang barang yang kemungkinan dia beli. Yoongi sudah hapal kelakuannya.
"Hyung, nanti siapa yang dinas dua hari ke daerah?"
"Harusnya kau sebagai Kabid."
"Tapi aku kan ada rapat, Hyung harusnya berangkat, Hyung kan PPK-ku."
"Siap, Bos. Aku berangkat. Satu orang lagi, aku tugaskan Jungkook ya?"
"Iya, itu bagus." Kata Yoongi. Honor perjalanan itu lumayan.
Seokjin melirik jam kecil di meja Yoongi, yang bersatu dengan tempat pulpen, "Makan, yuk. Jam sudah duabelas." Ajak Seokjin.
"Duluan saja." Tolak Yoongi.
"Oke." Kata Seokjin, dia berdiri dan pergi, "Tae, nanti katalognya Hyung bawa pulang dulu, ya biar si Nyonya lihat dulu."
"Oke! Nanti aku taruh di meja Hyung, ya."
Yoongi mendekati Taehyung, mengintip apa yang Taehyung baca.
"Jimin jual tempat minum tidak?" Tanyanya.
"Jual kok." Jawab Taehyung.
"Aku mau satu, kalau bisa jangan plastik. Kalau ada termos kecil mungkin itu saja."
"Untuk apa?"
"Aku mau bekal kopi."
"Kan pakai yang biasa anak anak pakai juga bisa."
"Tapi nanti kopinya jadi dingin."
"Oke, aku pesankan satu, ya."
Pesanan Yoongi itu datang diantar langsung oleh Jimin ke ruangannya.
"Ya, ini yang aku mau." Katanya. Dia langsung membayar Jimin, "Kembaliannya ambil saja."
"Tapi, Yoongi-sshi, ini terlalu banyak."
"Sudah, ambil saja."
"Terimakasih."
Yoongi iseng bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan Jungkook?
Jimin menunduk, "Kami baik baik saja."
"Wisung sudah kelas enam, kan?"
"Iya."
"Mau masuk SMP mana?"
Yoongi tahu Wisung, walaupun Yoongi heran kenapa namanya harus Wisung. Dia anak yang sangat amat pendiam, dia sering duduk sendirian di koridor kantor tanpa ditemani siapa siapa. Wajahnya mirip Jimin tapi matanya yang bulat pasti turunan Jungkook, dia omega yang sangat amat ketus.
Yoongi memberinya jeruk dan kue manis konsumsi rapat, tadinya Wisung tidak mau menerimanya, tapi Yoongi bilang, "Ambil saja, tidak kumakan. Ini bukan racun, ini konsumsi rapat."
Wisung baru menerimanya.
Jimin di hadapan Yoongi menghela napasnya, "Maaf, Yoongi-sshi, tapi aku tidak bisa banyak bercerita, aku harus menghormati alpha-ku."
"Tunggu," kata Yoongi, "Apa yang membuatmu berpikir aku mau mengorek masalah rumah tanggamu? Tadi kau bilang kau dan Jungkook baik baik saja. Aku kan bertanya soal Wisung."
Yoongi berusaha menjebak Jimin, sampai akhirnya Jimin membuka diri dan menangis di ruangannya.
Yoongi tidak mengira Jimin akan sampai menangis, benar benar menunjukkan sisi lemahnya yang selama ini ditutupi senyumnya yang cantik pada Yoongi. Bagaimana Yoongi bisa menahan diri di depan Jimin?
Mereka jarang bertemu, hanya saat ada jamuan saja. Jimin selalu terlihat manis, lembut, dewasa dan tegar di samping Jungkook, tapi Yoongi tahu apa yang sebenarnya ada di balik semua itu.
Yoongi melirik Jimin dan sedikit mengangkat alisnya, Jimin langsung berbalik.
Taehyung mengobrol dengan omega omega yang lain saat Yoongi memanggilnya, "Iya, Alpha."
"Aku mau ke toilet sebentar." Kata Yoongi.
Yoongi tidak benar benar pergi ke toilet, dia berdiri di sekitaran toilet sampai seseorang yang dia tunggu datang. Jimin datang.
"Seperti itukah caramu menyambutku?" Goda Yoongi.
"Yoongi, kita ada di tempat umum, tadi aku ada di sebelah Jungkook, bagaimana kalau dia lihat?" Jimin meledak.
Di balik kesan lembutnya, Jimin adalah omega yang berapi api.
"Aku lelah, Yoongi. Daehan masuk SD, kami makin banyak pengeluaran tapi pemasukan kami segitu gitu saja." Jimin mengeluh, tidak sadar kalau mengumbar cerita begitu sama saja dengan menjatuhkan martabat alphanya sendiri, "Aku tidak tahu ke depannya akan bagaimana, mungkin anak anak akan diurus sepupu atau paman Jungkook, Wisung sekarang saja tinggal dengan neneknya, aku tidak tahu adik adiknya akan bagaimana."
"Santai, Jimin, sekarang bersenang senang saja dulu, siapa tahu kau dapat pencerahan."
"Bersenang senang dengamu?"
Jimin adalah omega yang berapi api.
Yoongi senang bermain dengan api.
"Apa maksudmu bersenang senang denganku?"
"Halah! Jangan sok polos!"
Mereka mencuri waktu.
"Harusnya aku jadi omega keduamu saja." Kata Jimin.
Yoongi cuma tertawa.
Hari hari berjalan seperti biasa saja selama Yoongi dan Jimin sama sama diam.
Jungkook juga bekerja dengan baik, dia pegawai yang potensial, sayang sebenarnya kalau dia dipusingkan masalah keuangan.
Taehyung tiba tiba masuk ke ruangan Yoongi yang saat itu pintunya tidak tertutup.
"Ada apa kesini?" Tanya Yoongi.
"Katanya tahun ini tahun terakhir ada program beasiswa tingkat satu." Kata Taehyung.
"Kau tahu darimana?"
"Jin Hyung." Jawab Taehyung, "Jin Hyung mau Jungkook ikut, tapi entah Jungkook mau ikut atau tidak."
Yoongi tahu keputusan Jungkook ketika berkas tentang beasiswa Jungkook sampai di mejanya, karena memang dibutuhkan ijin atasan. Yoongi tidak perlu berpikir panjang untuk menandatanganinya.
Tapi dia tetap memanggil Jungkook ke ruangannya dan menanyainya, "Jadi kau benar benar ingin sekolah lagi?"
Jimin senang mendengar kabar itu. Walaupun menurut hitungan Yoongi pasangan Jeon masih akan tetap kesusahan tapi lebih baik ada sedikit peningkatan daripada tidak sama sekali.
Taehyung belanja lagi dan Jimin sendiri yang mengantarkan barang belanjaan Taehyung ke ruangan Yoongi.
"Kau kelihatannya senang sekali." Kata Yoongi.
"Tentu saja!" Kata Jimin dengan semangat.
"Kau cantik kalau begini."
Hari itu Yoongi pulang malam karena alasan lembur.
Taehyung menangis.
Yoongi panik, "Ada apa, Tae!?" Dia memeluk Taehyung.
"Kita dipanggil ke sekolah."
Di satu sisi Yoongi lega.
Dia ambil cuti satu hari untuk mendengarkan semua keluhan guru tentang si kembar.
"Genius memang tidak diciptakan untuk mengikuti metode kolot." Kata Yoongi saat mereka sudah meninggalkan sekolah, "Mau es krim?"
Ada kedai es krim baru di sebelah florist langganan Yoongi. Mereka duduk di sambil Taehyung bercerita tentang keseharian anak anak.
"Mereka memang kelebihan energi." Kata Yoongi.
"Mereka tipe yang harus banyak bergerak, mereka tidak bisa belajar kalau hanya duduk saja seperti di sekolah." Kata Taehyung, dia menyendok lagi es krimnya.
"Baguslah kalau ibunya tahu, kau bisa tahu cara menangani mereka lebih dari guru guru yang katanya ahli itu."
Yoongi kembali ke kantor besoknya dengan sedikit suntuk. Sistem pendidikan di sini tampaknya tidak cocok untuk Taekwon dan Taegeuk.
Belum lagi dia ditugaskan dinas ke luar kota.
Tiba tiba pintu ruangannya diketuk.
"Masuk." Seru Yoongi, agak terlalu kasar.
"Yoongi, ini Jimin." Jimin langsung masuk, "Katalog bulan ini." Dia meletakan katalog itu di meja Yoongi.
"Iya, iya, terimakasih."
"Wah," kata Jimin, "Ada yang sedang kesal sepulang cuti ternyata, ada apa?" Tanyanya.
"Anak anak membuatku pusing."
Jimin tertawa, benar benar tertawa lepas, "Kau harusnya berkaca padaku dong, anakku empat, aku dua kali lebih pusing darimu."
"Ya, kau benar." Kata Yoongi, dia mengambil salah satu berkasnya di meja dan menyodorkannya pada Jimin, "Baca."
"Apa ini?" Jimin menerima dan membacanya.
"Undangan seminar di luar kota, mau bermain?"
"Kau jahat sekali, Yoongi." Kata Jimin.
"Aku cuma membutuhkanmu."
Mereka berakhir di sebuah kamar hotel, siang hari sebelum Yoongi pergi dinas.
Jimin tidak rapat, tidak begitu punya banyak waktu juga karena dia banyak kegiatan, banyak anak dan punya alpha yang menurut Yoongi cerdas tapi otaknya tidak dipakai.
"Jungkook tidak bisa membuatku merasa seperti ini lagi setelah pasang KB."
"Jadi aku lebih baik dari dia?"
"Kau lebih paham aku, Yoongi."
Tapi ini Jimin, Jimin yang lembut, manis tapi juga berapi api. Jimin yang mencuri perhatian Yoongi sejak pertama mereka bertemu.
Jimin mandi lebih dulu. Begitu Yoongi selesai mandi dan bersiap berangkat dinas Jimin bertanya, "Apa kau tidak merasa kita jahat, Yoongi."
Yoongi memikirkannya untuk waktu yang lama.
Dia senang bermain kucing kucingan. Sembunyi dari Taehyung yang sudah sangat baik dan Jungkook yang sedang berjuang.
Tapi Jimin sudah menetapkan hatinya sendiri.
Pintu ruangan Yoongi diketuk.
"Masuk." Seru Yoongi.
Itu Jimin.
"Aku mengantar belanjaan Taehyung." Nada bicaranya datar, dia tidak terlihat seperti Jimin yang biasanya menggoda Yoongi.
"Simpan saja di meja." Kata Yoongi.
"Aku juga punya hal yang harus kukatakan padamu, Yoongi."
"Duduklah kalau begitu, kau butuh apa, Cantik?"
"Kita harus berhenti, Yoongi. Aku tidak bisa begini terus, aku merasa jahat pada Jungkook."
Yoongi paham, "Jadi kau lebih memilih dia daripada aku? Memangnya dia bisa apa selain menjadi bocah dan menyusahkanmu."
"Dia alpha-ku, Yoongi, selamanya akan jadi begitu."
"Tidak akan jadi seperti itu kalau kau memilihku."
"Pikirkan Tae, Yoongi." Seru Jimin, suaranya bergetar, "Dia sangat mencintaimu, aku tidak bisa mencintaimu sebanyak dia."
Yoongi tidak ingin bicara panjang lebar, "Ada alasan lain kau pergi dariku?"
"Aku akan pindah setelah Hyesung SMP."
"Kemana?"
"Jangan mengejarku, Yoongi."
"Baik kalau itu maumu. Kau boleh keluar kapanpun kau mau."
Tahun itu Yoongi tiba tiba memutuskan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.
"Finlandia." Katanya.
Taehyung terkejut, "Itu jauh."
"Tapi aku mau kau dan anak anak ikut, Tae. Biar mereka sekolah di sana."
