Yoongi tidak berharap terlalu banyak dari Helsinki, sejujurnya dia hanya perlu meluruskan pikirannya dan meluruskan lagi niatnya.
Studi-nya menggunakan bahasa Inggris dan anak anak masuk sekolah berbahasa Inggris, tapi karena mereka ada di Finlandia, makan mereka juga mempelajari bahasa Finlandia.
Tempat tinggal Yoongi di Finlandia sudah diatur jadi Yoongi tinggal menempati sebuah rumah dengan tiga kamar tidur. Yoongi mengatur bahwa seorang anak dapat satu kamar tapi Taekwon dan Taegeuk akhirnya malah tidur di satu kamar yang sama setelah perjalanan jauh menuju Helsinki.
Taehyung mengelus bahunya, "Sudah, mereka kan dari bayi selalu bersama, mungkin mereka belum siap untuk pisah kamar."
Yoongi kemudian pergi ke kamarnya juga untuk beristirahat, Taehyung mengikutinya.
Tiba tiba dia memeluk Yoongi dari belakang, "Apa Alpha masih mau menciumku?"
"Apa maksudmu bertanya begitu?" Yoongi membalikan badan, dan yang pertama dia lihat adalah mata Taehyung yang berkaca kaca.
"Aku bukan omega yang baik, Alpha."
"Tidak, kau omega yang baik, kau ibu yang baik."
Air mata Taehyung sudah siap jatuh, "Tapi aku bukan kekasih yang baik untukmu, betul kan?"
Yoongi panik, tapi dia berusaha tetap tenang, entah apa yang Taehyung tahu, walaupun Yoongi penasaran setengah mati saat ini yang terpenting adalah menenangkan Taehyung yang sudah kepalang menangis.
Jadi Yoongi menciumnya, dan seperti itulah mereka menjatuhkan diri ke ranjang. Hal yang pertama kali mereka lakukan pada ranjang mereka di Helsinki bukanlah tidur.
Taehyung menarik selimut menutupi badan telanjangnya yang memunggungi Yoongi, sementara Yoongi memeluknya dari belakang.
"Harusnya aku yang minta maaf padamu, Sayang."
"Tidak perlu minta maaf pun aku sudah memaafkanmu, aku sudah jadi orang tolol karena kau."
Itu adalah kata kata paling kasar yang pernah Yoongi dengar dari Taehyung, memang derajat seseorang bisa dilihat dari cara berbicara, Taehyung biasanya berbicara dengan sopan dan lembut pada semua orang termasuk dirinya, itu menunjukkan Taehyung memiliki sifat yang seperti itu juga, dengan tambahan sifat seperti anak kecil, seperti adik, seperti bocah polos.
Yoongi tidak pintar rayu-merayu, jadi dia bilang, "Biar Helsinki jadi awal yang baru untuk kita."
Taehyung langsung berbalik, berhadapan dengan Yoongi, dan Yoongi menciumnya.
Malam itu Taehyung tidur memeluk Yoongi dengan sangat erat.
Pagi harinya Taehyung bangun dengan segar, dia selalu kelihatan segar kalau dia tahu dia dicintai Yoongi.
Taehyung terlalu baik dan terlalu cantik untuk Yoongi. Dia sangat pantas dengan pembawaan kota Helsinki; sesuatu yang tidak bisa Yoongi nikmati di keadaan biasa. Mencari omega seperti Taehyung bukanlah hal yang mudah, dia benar benar berbeda dari orang lain dan dari orang orang yang Yoongi kenali. Berada di Helsinki juga bukanlah hal yang mudah, mungkin setelah studi-nya selesai nanti dia tidak akan dapat kesempatan ke Helsinki lagi.
Jadi Yoongi membeli sebuah kamera, mengabadikan pemandangan ibukota Finlandia ini.
"Alpha, ayo foto aku!" Seru Taehyung.
Yoongi segera membidikan kamera untuk mengambil gambar Taehyung.
Taehyung suka berfoto, wajahnya yang memikat dan badannya yang tetap ramping walaupun tidak sekecil waktu pertama Yoongi menyentuhnya pertama kali, tertangkap dengan indah di kamera Yoongi.
"Pose yang benar! Jangan sampai aku buang buang film!"
Tapi foto Taehyung tidak ada yang pernah gagal, semua tentang Taehyung, bahkan foto saat dia mabuk -dan Yoongi tidak- masih tetap terlihat menarik, tapi khusus untuk yang satu itu, Taehyung terlihat liar juga.
Yoongi membidik sesuatu saat Taehyung menutup lensanya, "Kapan selesai foto fotonya?" Dia menurunkan kamera Yoongi dari wajahnya dan menciumnya di pinggir jalan, "Aku lapar."
"Ayo kita makan." Kata Yoongi.
Mereka pergi naik metro, dan tetap mencuri curi ciuman. Mereka tidak bisa mengendalikan diri seakan akan mereka pasangan baru menikah.
Bahkan waktu bulan madu mereka dulu saja mereka tidak seperti ini.
Mereka berjalan jalan dan terus berjalan jalan, kadang berdua saja, tapi seringnya bersama anak-anak. Mereka sering pergi ke museum, sesuai dengan kesukaan Taehyung dan yang paling Taehyung suka adalah museum seni.
Kalau Yoongi tidak malas atau tidak banyak alasan mereka sekeluarga pergi jalan jalan dengan mobil, sekali waktu mereka pergi ke pantai dengan Taegeuk duduk di depan dengan Yoongi, bicara tentang arsitektur dan banyak hal lain sementara Taehyung dan Taekwon mengudap di belakang.
Di musim panas itu di pantai, Yoongi dan Taehyung baru sadar lebam di badan anak anaknya.
Yoongi tidak menghancurkan momen wisata ke pantai dengan langsung bertanya apa yang terjadi pada mereka.
Baru ketika di rumah Yoongi secara langsung dan tanpa basa basi bertanya, dia masuk ke kamar Taekwon dan ternyata Taegeuk juga ada di sana. Yoongi bertanya, "Papa lihat ada memar di badan kalian, apa ada masalah."
"Tidak, Pa. Cuma pertengkaran kecil, antar Alpha." Kata Taekwon.
Taegeuk melirik kembarannya dengan sinis, "Kwon ditaksir omega paling tenar satu sekolah, terus dia digencet, terus aku berusaha membantunya tapi kita malah dikeroyok."
"Taegeuk!" Taekwon berseru, sepertinya tidak terima kalau kembarannya cerita seperti itu.
Tapi Taegeuk masih saja melanjutkan, "Untungnya ketahuan guru, jadi kami tidak sampai babak belur."
Yoongi tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dulu dia juga berkelahi, bahkan doyan berkelahi sampai masuk rumah sakit karena bahunya robek karena sayatan pisau, ayahnya tidak benar benar memarahinya, tapi berkata yang buruk buruk tentangnya dan Yoongi tidak mau melakukan hal itu pada anak anaknya, anak anak yang sudah sangat baik dididik oleh Taehyung.
"Apa Mama tahu?"
Si kembar menggeleng.
"Mungkin Mama bisa menangis kalau tahu." Kata Taegeuk.
"Lagipula ini cuma hal kecil, alpha bertengkar itu biasa kan, Pa? Alpha harus kuat, masa cuma memar harus lapor Mama." Kata Taekwon.
"Lihat dia, Pa. Masih mau berlaga kuat."
Yoongi tersenyum mendengarnya, "Iya, alpha memang harus kuat, tapi bukan cuma kuat fisik saja, secara mental juga harus kuat. Kuat itu ada macam macam, kaya itu kuat secara finansial, kecerdasan itu juga sebuah kekuatan. Kekuatan yang seperti itu lebih baik dari kekuatan fisik." Kata Yoongi.
Si kembar mendengarkan dalam diam. Yoongi heran darimana dia dapat kata kata semacam itu.
"Kalau ada masalah kalian bisa cerita padaku kalau tidak mau cerita pada Mama."
"Sebenarnya ada surat panggilan untuk Mama dan Papa dari sekolah." Kata Taekwon.
Lagi lagi, pasti ada saja sesuatu yang terjadi yang membuat Yoongi dipanggil ke sekolah.
"Disini kami yang digencet, kami tidak salah apa apa." Bela Taegeuk.
"Kalau sudah begini kan Mama juga harus tahu." Kata Yoongi.
Si kembar tidak menjawab.
"Sudah, sudah, jangan lesu begitu, selama kalian tidak salah harusnya kalian tidak takut sama sekali." Kata Yoongi.
Begitu Taehyung tahu, dia memeluk anak anaknya, Yoongi tidak tahu apa yang dia lakukan dengan menyemangati si kembar adalah cara yang tepat, tapi begitu Taehyung juga melakukan hal yang sama, Yoongi baru merasa lega.
Dan si kembar mencium pipi ibu mereka bersamaan.
Walaupun akhirnya anak anak tetap dapat skorsing karena terlibat perkelahian, tapi semua orang tahu kalau mereka tidak salah dan keluarga ini menghabiskan waktu nonton film.
Si kembar duduk berdua di depan Yoongi dan Taehyung, mereka menonton film sambil diskusi jadi Yoongi yang suka ketenangan tidak bisa konsentrasi pada film berbahasa asing ini.
Tapi begitu tangan Taehyung menggenggam tangannya, Yoongi langsung lupa tentang film. Diliriknya Taehyung yang menatapnya dengan lembut, tatapan anak kecil dan Yoongi tidak menyangka memiliki keluarga bisa sangat menyenangkan, sangat menenangkan seperti ini. Yoongi mungkin bisa menyimpulkan asal semuanya saling menyayangi dan saling mendukung di situasi terburuk sekalipun tanpa mendesak dan menggurui maka dia bisa punya keluarga yang nyaman. Dan semua ini karena Taehyung, entah apa yang Taehyung lakukan pada si kembar dulu waktu Yoongi sama sekali tidak peduli dengan mereka sampai si kembar bisa jadi seperti sekarang ini.
Jadi Yoongi mencuri ciuman dari bibir Taehyung sementara anak anaknya tidak melihat.
Beberapa lama setelah itu Taehyung menerima telepon saat Yoongi sedang ada di luar rumah.
Kabar kalau ayah Yoongi meninggal. Taehyung sedih sampai menangis, si kembar tidak tahu apa apa karena mereka tidak dekat dengan ayah Yoongi, tapi Yoongi, Yoongi adalah anak yang durhaka, dia merasa lega.
"Apa kita pulang dulu?" Usul Taehyung, "Supaya ibumu tahu kita juga perhatian."
"Aku tidak bisa." Kata Yoongi, singkat, nadanya datar saja, tapi dari tatapan matanya yang tajam sepertinya Taehyung juga bisa menangkap kalau Yoongi memang tidak mau pulang sama sekali.
Waktu itu si kembar sudah kelas sembilan, sudah mulai memikirkan mau masuk SMA mana. Yoongi harus kembali karena dia punya pekerjaan, tapi si kembar kelihatannya betah ada di Helsinki.
Saat itu si kembar dan Yoongi sama sama sibuk sekali untuk tugas dan ujian, dan Taehyung pingsan.
Dia cepat cepat dibawa ke dokter.
"Taehyung cuma kelelahan." Begitu kata dokter.
Wajahnya sangat pucat dan badannya agak dingin, Yoongi menggenggam tangan Taehyung yang tidak diinfus sementara Taehyung istirahat.
Yoongi mengambil keputusan, "Kalian boleh saja kalau mau tetap di Helsinki tapi Papa dan Mama pulang."
"Kenapa!?"
Akhirnya seluruh anggota keluarga pulang ke Korea.
Sejak sebelum berangkat ke Korea Taehyung sudah selalu bilang kalau hal yang harus dilakukan begitu sampai adalah mendatangi ibu Yoongi.
Yoongi menurut saja. Karena sudah lama sekali juga dari terakhir dia bertemu ibunya.
Yoongi berpikir karena dia anak yang durhaka, dia mungkin saja diusir ibunya sendiri. Tapi ternyata ibunya malah mengelus rambut Yoongi, "Senang melihatmu, Seongwol." Yoongi memeluk ibunya, sudah lama sekali sejak dia dipanggil Seongwol -nama panggilan jaman dia kecil.
Ibunya terlihat menua dan kakak Yoongi juga tidak bisa selalu ada menjaganya, jadi Yoongi menawarkan, "Ibu, tinggal dengan Wollie, ya."
"Sst, ibu disini saja, tapi sering seringlah datang."
Jadi Yoongi pulang hanya berempat dengan Taehyung dan kedua anaknya.
Taehyung masih duduk di kursi belakang dengan Taekwon waktu Taekwon bicara, "Jadi nama kecil Papa itu Seongwol, ya? Kalau Mama?"
"Gomsoonnie."
"Kok, kami tidak punya?" Tanya Taegeuk.
"Kenapa, ya? Mama dan Papa tidak kepikiran saja." Jawab Taehyung.
Yoongi kembali ke pekerjaannya lagi, timnya sudah berubah, dua Kasubbid-nya bukan lagi Namjoon dan Seokjin dan Jeon Jungkook sudah pergi jauh.
Taehyung juga kembali lagi aktif di Organisasi Istri. Dia memakai seragam biru yang pas badan. Masuk ke ruangan Yoongi. Dia berdiri di depan meja Yoongi dan melonggarkan pita di kerah seragamnya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan membuatku tidak fokus." Kata Yoongi, "Aku masih harus presentasi dan masih harus tes, Sayang, aku butuh konsentrasi."
Taehyung terkikik, "Aku tadinya mau cerita, masa omega lain di organisasi mau menjodohkan anak mereka dengan Kwon dan Geuk."
"Yang benar?" Tanya Yoongi, "Anak anak kan lulus SMA saja belum, sudah mau dikawin kawinkan segala."
Taekwon dan Taegeuk berhasil lolos tes sebuah SMA bergengsi, mereka aktif di banyak kegiatan sekolah, mereka sering pulang malam sampai Yoongi khawatir.
Taehyung bilang, "Mereka kan alpha, tidak apa apa."
Yoongi diam saja tapi tetap saja dia takut hal hal buruk terjadi.
Tapi begitu anak anak pulang dengan muka ceria dan cerita soal kegiatan Organisasi Siswa atau omega yang mereka taksir di sekolah, Yoongi tidak bisa tidak melunak.
Ketika mereka sudah kelas tiga, Taegeuk bilang, "Aku mau jadi pegawai pemerintah seperti Papa."
Yoongi menyetujuinya, "Kau selesaikan dulu S1-mu, baru daftar, kalau mau lanjut sekolah lagi, tinggal cari beasiswa."
"Papa dulu begitu juga?"
"Dulu aku ikut beasiswa S1, tapi sekarang program itu sudah tidak ada lagi."
Taehyung bertanya, "Kalau Taekwon mau jadi apa?"
"Aku mau jadi pengusaha, kalau bisa aku harus jadi miliarder."
Disitu Yoongi merasa pusing menjadi pengusaha itu adalah sesuatu yang tidak Yoongi pahami, yang ada di dalam kepala Yoongi hanyalah kegagalan kegagalannya saja dan dia tidak mau melihat Taekwon gagal sedikitpun.
Yoongi tidak bisa menunjukkan perasaannya, tapi malam itu dia menggigil karena memikirkan Taekwon, tekanan darahnya tinggi.
Besoknya undangan pelantikan datang ke meja Yoongi, dia akan dilantik naik pangkat, padahal dia belum sembuh betul tapi dia harus tetap datang.
Taehyung menemaninya, berdiri dekat sekali dengan Yoongi, menjaga kalau sampai Yoongi tumbang di tengah jamuan.
Tapi Yoongi baik baik saja, dia cuma bertanya, "Bagaimana Taekwon nanti."
Taehyung menjawab, "Aku percaya setiap orang punya jalannya masing masing, dan keputusan yang diambil dengan mantap biasanya adalah keputusan yang tepat."
Yoongi masih tidak bisa membayangkannya, dia masih bingung.
Satu satunya teman pengusaha yang cukup dekat dengannya adalah Hoseok dan keluarga, mereka punya tokoh bunga dan Yoongi mampir ke sana sekali lagi.
Dia disambut seorang omega yang masih menggunakan seragam SMA. Yoongi bertanya, "Apa kau Hwang Eunbi?"
"Iya, Pak."
"Di mana ibumu? Bilang Min Yoongi mencarinya."
"Jangan menakut nakuti anakku, Tian Min." Hoseok tiba tiba datang dari pintu depan toko, di tangannya ada sekantong plastik, mungkin dia habis keluar untuk membeli sesuatu.
"Mau pesan bunga, Yoongi-sshi?"
"Iya. Ada hal yang ingin kubicarakan juga." Kata Yoongi.
Jadi sambil Hoseok membuat karangan bunga Yoongi bercerita.
