[ 2 tahun kemudian...]

Taehyung membasuh wajahnya dengan air keran, lalu menyeka nya dengan handuk kering yang sejak tadi tergantung di pundaknya.

Sebuah botol air mineral dingin menempel di pipinya, membuatnya menoleh ke arah datangnya botol itu.

"Hoseok hyeong, kau membuatku kaget," gerutu Taehyung sambil menunjukkan raut wajah kesal.

Pemuda yang di panggil Hoseok, hanya tertawa karena berhasil membuat Taehyung kesal.

"Maaf maaf. Makan siang bersama?" Tanya Hoseok sambil melihat kearah Taehyung yang sedang meminum air mineral yg diberikan oleh Hoseok tadi.

"Maaf hyeong, aku ada kelas siang ini," lalu Taehyung melihat arloji tua yang melingkar di lengannya, "30menit lagi kelas dimulai."

"30menit lagi? Yang benar saja, kau belum makan siang, bahka belum sarapan tadi pagi. Dan sekarang kau akan ke kampus, tanpa makan dan mandi? LAGI?" ujar Hoseok dengan nada kesal.

Jangan heran kenapa Hoseok bisa tahu tentang itu, mereka berbagi kamar di flat kecil bersama. Menyewanya bersama, agar lebih menghemat pengeluaran.

Taehyung memilih untuk tidak membalas ocehan Hoseok. Sungguh, Taehyung sudah hafal isi kepala Hoseok. Membalas ucapannya sama saja berhadapan dengan ibu-ibu yang tidak kebagian diskon di pusat perbelanjaan.

Taehyung memakai topi hitamnya dan memakai tas ranselnya, lalu mengendus bau badannya sendiri.

'Tidak bau. Setidaknya aku sudah ganti kaos,' pikir Taehyung.

Memilih cuek dengan penampilannya sendiri. Bersyukurlah karena ia di anugerahi oleh wajah yang tampan.

Taehyung meraih gagang sepeda miliknya, lalu menuntun sepedanya keluar dari area pasar. Sejak pagi, Taehyung akan mengirimkan susu dan mengantarkan koran ke pelanggan. Lalu Taehyung akan membantu Hoseok yang memiliki toko sayuran di pasar tradisional. Membantu mengangkat sayuran yang baru datang dari petani, untuk dikirimkan ke pedagang sayuran lainnya. Selesai dengan sayuran, ia akan pergi untuk kuliah sesuai jadwal.

"Taehyungie, kuliah?" Seorang wanita paruh baya -pedagang di pasar- menyapa Taehyung yang sedang menuntun sepedanya.

Taehyung berhenti sejenak dan tersenyum, "Iya bibi."

"Sudah makan? Jika belum, minum ini untuk mengisi perutmu. Jangan sampai kelaparan," ujar wanita itu sambil memberikan 2botol susu pisang pada Taehyung.

"Ini kan bekal bibi, jangan berikan padaku terus. Aku bisa makan di kantin kampus nanti," tolak Taehyung sopan.

Dia merasa tidak enak pada bibi yang sering sekali memberikannya susu pisang. Bahkan pedagang sayuran lainnya juga sering memberikannya makanan. Mereka beralasan bahwa Taehyung terlalu kurus. Atau Taehyung sudah seperti anak mereka sendiri, sehingga mereka suka memberikan Taehyung makanan.

"Ambil saja, bibi masih punya banyak."

Akhirnya Taehyung menerima susu pisang itu, "Aku hanya mengambil satu. Aku tahu bibi bohong, yang satunya untuk bibi."

Bibi itupun mengangguk, tahu bahwa seperti biasa Taehyung akan menolak atau hanya mengambil satu botol.

Taehyung pun pamit dan mulai menaikki sepeda. Ia mengayuh sepedanya dengan pelan, melewati area pasar yang masih ramai dengan pembeli. Sesekali ia membalas sapaan dari para pendagang pasar yang mengenalnya. Sambil tersenyum tentunya.

Keluar dari area pasar, ia mulai mengayuh sepedanya dengan kuat.

--

Menuju ke Universitas Seoul. Sesekali ia melirik ke arah arloji tua miliknya, mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kelas.

Sesampainya di kampus, ia segera menuju ke parkiran sepeda yang berada di depan gedung fakultasnya. Lalu memarkirkan sepedanya, dan menguncinya.

"TAEHYUNG-AH!" Baru saja Taehyung akan melangkah , terdengar seseorang memanggilnya dari kejauhan.

Taehyung mencari asal datangnya suara, dan mendapati seorang gadis, err bukan, seorang pemuda dengan rambut panjang dan halus, berlari ke arahnya.

Rambut halus pemuda itu bergerak mengikuti gerakan pemuda itu. Berkali-kali Taehyung meminta agar temannya itu memotong rambutnya. Tapi tidak di hiraukan.

Hell, karena rambut itu Taehyung sering di sangka sedang berjalan dengan wanita.

"Ada apa, Moonbok-ah?"

"Prof. Kim tidak masuk. Ayo ke kantin?" ajak Moonbok.

"Tidak masuk? Kalau begitu aku akan ke perpustakaan."

Moonbok menatap temannya dengan tatapan tidak percaya, bukan cuma sekali Taehyung menolak ke kantin dan memilih berdiam diri dengan tumpukkan buku di perpustakaan.

"Lagi? Ayolah, aku tahu kau belum makan siang. Ayo ke kantin."

"Tidak, aku harus belajar. Kau tahu sendiri, beasiswaku bisa di cabut jika nilaiku menurun." Ujar Taehyung sambil melangkah dan berjalan menuju perpustakaan milik fakultasnya. Meninggalkan Moonbok yang masih memasang wajah tidak percaya miliknya.

Nilai Taehyung tidak akan turun jika ia membolos seminggu. Taehyung jenius sejak lahir, meski terkadang idiot.

Taehyung berhasil masuk manajemen bisnis di salah satu Universitas ternama di Seoul, dengan berbekal beasiswa yang berhasil ia miliki. Sempat tertahan setahun setelah lulus sekolah menengah, tertahan dan tidak melanjutkan pendidikannya karena kondisi keluarganya. Jatuh bangun setelah dibawa pergi oleh ibunya meninggalkan sang ayah. Beberapa kali tersandung masalah, entah sudah berapa kali ia melihat ibunya menangis diam-diam. Entah sudah berapa kali ia berpura-pura tidur ketika ibunya masuk ke kamarnya dan mengelus puncak kepalanya sambil menangis.

Sempat berpikir bahwa ia tidak akan bisa melanjutkan pendidikannya, tetapi seorang teman memberikan beberapa formulir beasiswa padanya. Dan dia berhasil mendapatkan satu beasiswa di universitas ternama.

Dan sekarang, saatnya Taehyung untuk perlahan merangkak naik.

Taehyung melangkah menuju perpustakaan, tapi sedetik kemudian ia memutuskan untuk berbalik. Melangkah menjauh dari pintu gedung fakultasnya. Berjalan dengan langkah cepat sambil menunduk, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.

Dengan cepat, Taehyung langsung melangkah ke arah pohon besar yang berada di taman depan gedung fakultas. Lalu menyembunyikan dirinya dibalik pohon besar itu.

Ia menyandar di pohon lalu bernafas lega setelahnya, seolah baru saja menghindari sekelompok penjahat bersenjata.

"Aku belum siap," gumam Taehyung sambil tertawa miris.

Taehyung mengintip dari balik pohon tempat ia bersembunyi, melihat ke arah pintu masuk gedung fakultasnya. Terlihat 2 sosok yang sedang berbicara dengan salah satu senior dari fakultasnya. Salah satu dari mereka adalah wanita yang menguncir rambutnya dengan asal, memakai pakaian yang jauh dari kata feminim. Pipi gembilnya yang terlihat menggemaskan, dan senyum gigi kelincinya. Hanya melihatnya dari jauh, cukup membuat Taehyung merasakan debaran di dadanya yang tak karuan. Sosok lainnya adalah pria yang tidak bisa di bilang tinggi, tinggi yang standar. Tapi memiliki otot lengan yang kokoh dan bentuk tubuh yang bagus. Mungkin dia sering berolahraga untuk membentuk tubuhnya. Wajahnya tampan meski memiliki pipi sedikit berisi serta eyesmile yang akan muncul ketika ia tersenyum.

Terlihat dua sosok itu membungkuk sebentar lalu melangkah pergi menjauh dari fakultasnya.

Taehyung menghela nafas lega, hampir saja batinnya.

Ia pun keluar dari persembunyian dan menghampiri senior itu, yang masih beridiri di pintu fakultas. Mungkin sejak menunggu seseorang.

"Siang, Jongin sunbae," sapa Taehyung sopan.

"Oh, Byun Taehyung. Kau disini."

Taehyung mengangguk, "mau ke perpustakaan. Prof. Kim tidak masuk hari ini."

"Rajin sekali," goda Jongin sambil tertawa.

"Yang tadi itu teman sunbae?"

"Maksudmu Park Jimin dan Jeon Jungkook? Aku dan Jimin satu klub dance, sedangkan Jungkook itu teman atau mungkin kekasih Jimin. Mereka selalu sama-sama. Kenapa? Kau kenal mereka?"

Ada rasa sakit tak nampak yang langsung dirasakan Taehyung ketika mendengar soal 'kekasih Jimin'. Meski Taehyung sudah sering mendengar soal itu, tapi tetap saja ia belum terbiasa.

"Tidak. Pacarnya manis sekali kalau begitu. Untuk apa mereka kesini?"

"Mereka mencari seseorang bernama Kim Taehyung yang baru masuk tahun ajaran ini. Seingatku, mahasiswa baru bernama Taehyung hanya kau saja. Dan margamu itu Byun, bukan Kim. Jadi aku bilang tidak ada yang bernam Kim Taehyung disini."

Taehyung mengangguk tanda mengerti, meski dalam hatinya merasa takut untuk bertemu mereka dalam waktu dekat ini. Bukan hal yang mustahil jika dalam waktu dekat, mereka akan tahu dimana ia berada.

Tidak banyak yang tahu bahwa ia memiliki nama lahir Kim Taehyung. Tidak banyak yang tahu bahwa ia menganti marganya menggunakan marga Byun milik keluarga ibunya, sejak lulus SMA. Bahkan Hoseok pun tidak tahu. Mereka hanya mengenalnya sebagai Byun Taehyung. Bukan Kim Taehyung.

"Mungkin mereka salah orang. Baiklah, aku ke perpustakaan dulu sunbae," pamit Taehyung sopan. Di balas senyuman oleh Jongin.

Taehyung melangkah menuju perpustakaan sambil sesekali melihat note kecil yang ada ditangannya. Melihat jadwal-jadwal harian yang telah ia catat, agar tidak lupa. Lalu melihat arloji tua di lengannya.

"Masih ada 3 jam lagi sebelum shift di cafe," gumam Taehyung.

--

Jungkook menghentakkan kakinya dengan kesal sambil duduk di bangku taman depan fakultas seni. Jimin yang duduk di sampingnya hanya bisa menghela nafas.

"Aku berani bersumpah pernah melihat Taetae masuk ke gedung itu, bagaimana bisa dia tidak ada disana?" ujar Jungkook dengan nada kesal.

"Mungkin kau salah lihat," ujar Jimin mencoba mencari alasan yang paling logis.

"Mataku tidak rabun, aku yakin itu Taetae. Apa jangan-jangan sunbae itu yang salah?"

"Jongin sunbae salah satu panitia ospek kemarin, mana mungkin dia salah. Lagipula kenapa kau yakin sekali dia akan kuliah disini tahun ini?" balas Jimin dengan nada kesal.

"Karena feelingku tidak pernah salah. Yaudah, aku ada kelas 10menit lagi."

Jimin hanya mengangguk, lalu Jungkook pergi melangkah kearah gedung fakultas seni.

Jimin menatap punggung Jungkook dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Taetae ini, Taetae itu. Selalu saja Kim Taehyung. Kapan kau akan melihat ke arahku?"

Tentu saja Jimin tidak bisa mengatakanya langsung di depan Jungkook. Mungkin, jika ia nekat mengatakan hal itu, Jungkook akan berkata "salah siapa taetae dan bibi Byun pergi? Aku dan taetae sudah bersama sejak kecil. Jadi aku masih sedikit membencimu karena membuat taetae pergi."

Bukan sekali dua kali Jungkook mengatakan tentang ia yang masih sedikit membenci Jimin karena masa lalu.

Jimin sadar, semuanya memang kesalahannya. Salahnya yang datang tanpa peringatan lalu menghancurkan keluarga bahagia seseorang. Salahnya yang memilih egois dengan menutup mata terhadap penderitaan yang mungkin di alami Taehyung dan ibunya. Salahnya yang tidak pernah mencari Taehyung untuk memohon maaf. Ketika sang ayah menderita dan mengurung diri dengan tumpukkan pekerjaan, Jimin memilih terus tersenyum dan menutup mata dengan segalanya.

Dan salahnya juga, ia mulai menyukai Jungkook yang terus memarahinya, membencinya secara terang-terangan. Tapi masih mau berteman dengan dirinya yang membuat Kim Taehyung pergi.

--

Taehyung duduk di sudut perpustakaan, dengan beberapa buku menumpuk di hadapannya. Sebuah buku tentang bisnis terbuka di hadapannya. Meskipun buku di hadapannya telah terbuka, pikiran Taehyung malah melayang entah kemana.

Memikirkan tentang Jungkook, memikirkan tentang ibunya di Daegu, memikirkan tentang hidupnya. Memikirkan tentang segala hal, menahan banyak beban di pundak tegapnya. Tidak sekalipun Taehyung menangis, ataupun mengeluh. Yang ia lakukan hanyalah terus tersenyum dan melakukan segala hal dengan baik. Mencari uang dan uang. Belajar dan belajar. Menyimpan semua bebannya dan memikulnya sendirian.

Getar di sakunya membuyarkan lamunannya.

Hanya sebuah pesan dari kakeknya.

From: Kakek

Tae, pulanglah sebentar.Ibumu sakit.

Taehyung menghela nafasnya pelan, seolah ia baru saja di beri tugas menumpuk dari dosennya. Sudah setahun ini ibunya sakit-sakitan. Dengan tidak rela juga ia meninggalkan ibunya bersama sang kakek demi berkuliah di Seoul. Sang nenek yang sudah tiada beberapa bulan setelah mereka tiba di Daegu malam itu. Membuat kakek harus mengurus semuanya sendiri. Bahagia ketika mengetahui Taehyung mendapatkan beasiswa penuh universitas di Seoul. Dan memaksa Taehyung pergi, cukup pulang sesekali untuk melihat ibunya.

Taehyung memilih untuk tidak membalas pesan kakeknya, tapi langsung membereskan buku-buku yang belum sempat ia baca. Memilih untuk langsung ke cafe. Mengusahakan cuti untuk melihat ibunya.

Lagipula ia tidak memiliki kelas besok, ia hanya punya setumpuk jadwal untuk mencari uang di tempat Hoseok. Hoseok pasti bisa memberikannya ijin.

Taehyung menyimpan buku-buku perpustakaan di atas meja yang ada di dekat rak.

Ia langsung melangkah keluar dan menuju ke parkiran sepeda. Sesampainya di parkiran sepeda, ia langsung membuka kunci sepedanya dan menaikinya. Dan langsung mengayuhnya menuju ke cafe tempat ia bekerja.

Tanpa ia sadari, sepasang mata melihat dirinya yang melewati tempat sosok itu duduk bersama teman-temannya.

"Hei, siapa dia? Yang baru saja lewat memakai sepeda," tanya sosok itu pada temannya. Temannya pun melihat Taehyung yang di tunjuk olehnya. Taehyung yang sedang berhenti di depan gerbang kampus, menunggu kendaraan lewat.

"Oh, itu si jenius Byun Taehyung. Mahasiswa jurusan manajemen bisnis. Dia anak beasiswa penuh. Ada apa?"

"Kau tahu dimana dia tinggal?"

"Kudengar dia tinggal di area pasar tradisional sekitar sini. Ingin berkenalan dengannya? Mending jangan, dia terlalu ramah tapi tertutup di waktu yang sama. Dia punya banyak kerjaan, jadi susah sekali untuk mengajaknya keluar," jawab temannya sambil melirik ponselnya.

'Jadi Jungkook benar, pintar sekali mengganti marganya. Jungkook tidak boleh tahu,' monolog sosok itu dalam hati sambil tersenyum samar.

TO BE CONTINUED