Chapter 3

Taehyung duduk dengan tenang di salah satu kursi penumpang di kereta yang menuju Daegu. Menyandarkan kepalanya pada jendela, dan kedua telinganya yang tersumpal oleh earphone. Mendengarkan musik dari band kesukaannya, The Chainsmoker.

Langsung mengambil keberangkatan pertama pagi itu, dan pulang ke Daegu. Hanya untuk melihat ibunya. Sejak semalam ia mengabarkan pada kakeknya tentang kapan ia akan pulang, kakeknya tidak bisa di hubungi.

Ia bahkan tidak sempat sarapan dan langsung menuju stasiun begitu ia selesai bersiap.

Taehyung melirik layar ponselnya dan tidak mendapati satupun pesan dari kakeknya. Menelpon pun percuma. Sejak pagi Taehyung mencoba menelpon kakeknya, selalu tak tersambung.

Taehyung khawatir, tapi masih mencoba berpikir positif. Mungkin saja kakeknya cuma lupa mengisi ulang baterai ponselnya. Kakeknya sering seperti itu. Menelpon nomor ibunya pun lebih percuma, karena ia tahu ibunya sudah tidak memakai ponselnya sejak 6 bulan belakangan. Entah apa yang di pikirkan oleh ibunya.

xxx

Jungkook baru bangun dari tidurnya, hari ini dia tidak ada kelas di pagi hari. Jadi ia merasa terlalu malas untuk sekedar bangun dari kasurnya. Perutnya yang sudah mulai kelaparan, tidak membuatnya bangun dari kasurnya. Ia malah meraih toples biskuit yang ada di atas meja samping tempat tidurnya, lalu memakan biskuit sambil berbaring dan memainkan ponselnya.

Tipikal orang malas. Sangat pemalas. Tapi mulutnya tidak akan pernah malas untuk berhenti mengunyah, tentu saja.

"Astaga Jungkookie, bangunlah pemalas. Dasar kelinci gendut," terdengar teriakkan dari arah pintu kamar. Mungkin orang itu histeris melihat kemalasan Jungkook yang menyedihkan.

"Aku bukan kelinci gendut, eonnie," balas Jungkook tidak terima pada Seokjin, teman se-apartement dengan Jungkook. Orang tua Jungkook tidak setega itu untuk membiarkan anaknya tinggal sendiri di Seoul karena sifat malas Jungkook. Mungkin Jungkook akan tinggal nama dalam beberapa hari karena kemalasannya.

"Jika kau bukan kelinci gendut yang pemalas, bangunlah sekarang juga. Dan pergilah sarapan, bukan ngemil biskuit di kasur," titah Seokjin dengan nada marah.

"Iya iya."

Seokjin menggelengkan kepalanya saat melihat Jungkook yang terlihat tidak rela untuk bangun dari kasur tercintanya.

Jungkook melangkah dengan malas, menuju ke ruang tengah yang merangkap ruang makan dan dapur. Mulai tercium wangi masakkan Seokjin yang membuat perut Jungkook berdemo untuk segera di isi.

Baru saja akan duduk di kursi, ia melihat ada orang lain di ruangan itu. Ada 2 orang, salah satunya adalah kekasih Seokjin. Dan satunya, adalah orang yang tidak ingin di lihat Jungkook di pagi hari. Selalu menempel padanya saat di kampus, sudah cukup membuat Jungkook bosan melihat wajahnya. Tapi entah bagaimana, Jungkook tetap tidak bisa untuk bersikap acuh tak acuh padanya. Mungkin inilah yang disebut hubungan 'teman tapi benci' ala Jungkook.

"Sedang apa kau disini?" tanya Jungkook dengan nada kesal.

"Di ajak Namjoon hyeong sarapan disini. Tentu saja tak akan ku tolak, Kookie," jawab pria itu dengan eyesmile dan senyuman di wajahnya.

"Hanya Taetae yang boleh memanggilku dengan panggilan itu, kau ... ," ucapan Jungkook di potong oleh pria itu, yang tidak lain adalah Jimin.

"Tidak pantas menyebutnya. Ya ya ya, maaf. Aku keceplosan," sambung Jimin dengan nada malas. Dia sudah bosan dengan kalimat Jungkook tentang hal yang sama.

"Jangan bertengkar di meja makanku, cepat makan sarapan kalian lalu pergi dan biarkan kelinci gendut ini tenang. Aku bosan mendengarnya mengomel seharian," ujar Seokjin sambil meletakkan semangkuk sup di atas meja.

"Mengusirku?" tanya Namjoon yang sejak tadi hanya menonton drama picisan di hadapannya.

"Tidak, tapi kau harus bekerja. Jadi cepat habiskan sarapan kalian."

Jungkook meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi instagram. Membuka pesan masuknya, lalu menghela nafas kesal. Pesannya pada salah satu akun yang ia follow, tidak di balas sama sekali oleh sang pemilik akun. Akun dengan username @vante95 dan memakai nama V sebagai nama akunnya.

Semua pesan yang ia kirim pada akun itu, tidak ada satupun yang di balas.

"Ck, tidak di balas. Padahal aku yakin sekali itu akun Taetae," gumam Jungkook dengan suara pelan. Dan sayangnya, di dengar oleh Jimin yang kebetulan duduk di sampingnya.

Jimin hanya bisa berharap bahwa akun yang selama ini membuat Jungkook penasaran, bukanlah akun Taehyung.

Bukan karena asal tebak, Jungkook yakin pemilik akun itu adalah Taehyung. Akun itu menulis 'Busan boy, but im Daegu boy too' di bio nya. Belum lagi foto-foto yang di upload oleh pemilik akun itu, adalah foto-foto di area Busan yang sangat di kenal oleh Jungkook. Bahkan postingan pertamanya adalah foto area perumahan dengan filter hitam putih, dengan caption 'i miss you, my fave Busan girl'. Jungkook tahu foto itu di ambil di area perumahannya, tepat di jalan depan rumah Taehyung, mengarah ke arah rumahnya. Karena terlihat rumahnya dalam foto itu.

Meski tidak ada satupun foto pemilik akun di akun itu, tetap saja Jungkook yakin bahwa itu adalah akun Taehyung. Jangan tanya bagaimana ia bisa tahu akun itu. Terima kasih pada bakat mencari informasi karena penasaran level akut, yang membuatnya mencari-cari di semua akun teman-teman nya di Busan. Karena ia yakin, mungkin saja Taehyung mengikuti akun salah satu temannya.

Jungkook mengetikkan pesan untuk di kirimkan pada akun itu.

Hei, balas pesanku dong V. Ah sudahlah, pasti tidak di balas. Pesan kesekian dalam setahun ini. Tapi aku akan tetap mengirimkan pesan sampai kau membalasnya. Kau sedang kemana? Sedang pulang ke Busan? Atau Daegu? and, same question again. So, are you Taetae?

Seokjin mengetok kepala Jungkook dengan sendoknya.

"Cepat makan, bukan bermain ponsel," omel Seokjin.

Seokjin, tak tahukah kau, sekarang dirimu lebih mirip seorang ibu yang memiliki satu anak berjenis kelinci gendut yang manja. Namjoon hanya tertawa melihat tingkah kekasihnya. Sedangkan Jungkook langsung mengelus kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.

Baru saja Jimin berusaha mengintip ke ponsel Jungkook, tapi sudah diberi tatapan kesal dari Jungkook. Setidaknya Jimin hanya bisa berharap itu bukan Taehyung.

xxx

Kereta sudah tiba di Daegu. Sesampainya di stasiun, Taehyung langsung menyewa taxi untuk langsung ke rumah kakeknya. Rumah kakeknya terletak di pinggiran Daegu, dekat dengan area perkebunan. Jadi cukup jauh dari stasiun.

Sesampainya dirumah, ia langsung menuju pintu yang tertutup dan mencoba membukanya.

Tapi pintu rumah dalam keadaan terkunci. Dan ia tidak mempunyai kunci duplikatnya. Ia mencoba menghubungi kakeknya, mengabarkan bahwa ia telah tiba di rumah. Tapi hasilnya nihil, nomor kakeknya masih saja tidak bisa di hubungi.

"Taehyungie, kau pulang?" terdengar suara teguran dari arah jalan depan rumah.

"Baru saja sampai. Apa bibi tau dimana kakek? Rumah terkunci."

"Ibumu masuk rumah sakit semalam, Taehyungie."

Jawaban bibi tetanga kakeknya langsung membuatnya berlari keluar dari halaman rumah. Berlari menuju rumah sakit, tentunya setelah menanyakan dimana rumah sakit tempat ibunya di rawat.

Taehyung terus berlari, sambil membawa ransel yang sejak awal tidak ia lepaskan. Sesekali ia menoleh mencari taxi kosong yang lewat. Karena berlari menuju rumah sakit umum Daegu, tentu saja ide yang buruk. Rumah sakit itu berada jauh dari rumah kakeknya.

Begitu ia mendapatkan taxi, ia langsung masuk dan menyebutkan tujuannya. Lalu meminta sang supir untuk lebih cepat. Taehyung terus merapalkan doa di dalam hatinya, berharap bahwa ibunya baik-baik saja.

Bergerak tidak sabaran dikursi penumpang. Terus meremas kedua tangannya yang berkeringat. Terus meminta sang supir untuk melajukan taxi nya. Ingin marah pada penumpang, tapi sang supir maklum dan berpikir bahwa sang penumpang sedang kalut.

Beberapa lampu lalu lintas dan kemacetan membuat taxi tak bisa bergerak lebih cepat. Jam makan siang memang waktunya macet. Meski tidak semacet itu. Mungkin hari ini memang sedang sial untuk Taehyung.

Taehyung melihat ke arah luar, dan memutuskan untuk turun saja. Macet tidak membuatnya cepat sampai. Lagi pula, jarak rumah sakit sudah dekat.

Ia langsung membayar taxi sesuai dengan angka yang tertera di kargo, lalu keluar dari taxi. Setelah itu dia langsung berlari menuju rumah sakit, menerobos sekumpulan manusia yang sedang berjalan dengan santai di trotoar untuk mencari makan siang.

Berlari dengan kencang selama hampir 5 menit, kakinya mulai terasa pegal. Tapi Taehyung tidak peduli. Beberapa teriakkan makian marah ia terima karena tidak sengaja menabrak pejalan kaki.

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju bagian informasi dan bertanya tentang ibunya.

"Pasien Byun Baekhyun di ruang ICU," jawab si petugas.

Taehyung langsung melangkah dengan langkah cepat ke arah ruang ICU. Tidak perlu waktu lama untuk mencari, karena dari kejauhan ia sudah melihat kakeknya yang terduduk di kursi dengan kepala tertunduk.

"Kakek, ibu dimana? Apa kata dokter? Ibu baik-baik saja kan?" tanya Taehyung tak sabaran. Bahkan ia tidak sempat untuk sekedar mengucapkan salam atau duduk.

Sang kakek hanya terdiam dan melihat ke arah Taehyung dengan tatapan kosong dan sedih, tidak berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Taehyung.

"Kenapa tidak menjawab kek?"

Taehyung yang tak dapat satupun jawaban, langsung masuk ke dalam ruang ICU dan mencari ibunya di antara beberapa ranjang di ICU. Bertanya pada perawat yang ada disana, dimana ibunya berada.

Mendapat tepukkan pelan dipundak. Seolah memintanya untuk tegar. Lalu perawat itu menunjuk ranjang tempat sang ibu berbaring.

Taehyung terdiam begitu melihat ranjang ibunya.

Ada sesosok tubuh yang tertutupi kain putih di sekujur tubuhnya. Tubuh kaku yang terbaring tak bernyawa lagi. Dia melangkah dengan cepat dan membuka kain penutup itu.

Taehyung langsung terduduk di lantai begitu melihat siapa yang ada di balik kain itu.

Taehyung meraih tangan dokter yang sedang berdiri di sampingnya, "Dokter, itu bukan ibuku kan? Dimana ibuku? Dia bilang akan memasak bulgogi kalau aku pulang. Dia tidak pernah mengingkari janjinya. Jadi, katakan dimana ibuku," lirih Taehyung berharap.

Berharap bahwa yang di hadapannya bukalah ibunya. Berharap sang dokter akan mengatakan bahwa ibunya baik-baik saja. Berharap bahwa sang dokter akan membawanya menemui ibunya.

Dokter itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk membuat Taehyung tenang.

Sebuah pelukan dari belakang dirasakan Taehyung. Itu kakeknya, Taehyung tahu itu. Kakeknya terus membisikkan kata-kata menenangkan. Tapi itu tidak berhasil, Taehyung mulai menangis. Sambil meraih tangan ibunya yang telah dingin dan kaku.

"Ibu, bangunlah. Aku sudah pulang. Bukankah ibu memintaku pulang? Ayo bangun, aku ingin makan bulgogi buatan ibu. Kumohon bangun," isak Taehyung dengan nada bergetar. Sang kakek terus mengeratkan pelukannya, berharap cucunya akan merasa tenang.

"Kumohon bangun, jangan tinggalkan aku."

Berkali-kali Taehyung memanggil, meski ia tahu bahwa semuanya percuma, ia tetap saja memanggil ibunya.

Bukan ini yang Taehyung harapkan begitu ia sampai di Daegu. Yang ia harapkan adalah sang ibu cuma sakit biasa, mungkin demam atau sakit rindu padanya. Lalu menyambutnya pulang dengan pelukan hangat dan senyuman. Kemudian sang ibu akan memasakkan makanan kesukaannya. Sang kakek akan mengajaknya ke kebun, dan ia akan membantu kakeknya membersihkan kebun. Dan mereka akan makan malam bersama.

Tapi yang ia dapatkan malah tubuh ibunya yang terbaring tak bernyawa di rumah sakit. Ia bahkan tidak bersama ibunya di saat-saat terakhir. Ia bahkan tidak sempat bilang bahwa ia sangat mencintai ibunya, ia sangat menyayangi ibunya.

Salah satu alasan Taehyung untuk terus maju dan terus merangkak naik pun hilang. Karena alasannya untuk bekerja keras, mengais uang, dan menjadi sukses adalah ibunya. Hanya ibunya.

xxx

Semuanya berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah 2 minggu terlewati. Tapi terasa lambat bagi Taehyung. Pemakaman ibunya telah di laksanakan. Dan ia tidak berpikir untuk kembali ke Seoul. Ia terus saja terdiam di kamar ibunya. Tertidur di kamar ibunya, lalu bangun, melamun, dan tidur lagi. Jika tidak di paksa oleh kakeknya, mungkin Taehyung tidak akan ingat untuk makan dan mandi.

Untung saja kakeknya sudah menelpon Hoseok sepulangnya dari rumah sakit, dan Hoseok dengan suka rela langsung mengurus ijin cuti untuk Taehyung. Mungkin cuti sebulan itu cukup.

Taehyung tiba-tiba bangun dari duduknya dan keluar dari kamar ibunya. Melangkah menuju kamarnya. Langsung meraih ranselnya dan memasukkan beberapa barangnya. Juga bsrang ibunya yang telah ia ambil dari kamar ibunya.

Kakeknya yang kebetulan melewati kamar Taehyung langsung masuk ke kamar Taehyung ketika melihatnya berkemas.

"Mau kemana, Taehyungie?" tanya kakek dengan nada lembut.

"Ke Busan, lalu kembali ke Seoul," jawab Taehyung pelan.

"Hanya untuk mengenang ibu."

Kakeknya mengangguk maklum. Kenangan dengan ibunya memang kebih banyak di Busan. Dan kakeknya hanya berharap semoga Taehyung tidak bertemu dengan ayahnya.

Taehyung memasukkan kamera kesayanannya yang ia tinggalkan di Daegu. Kamera hadiah dari sang ibu. Mungkin ia akan mengambil beberapa foto di tempat kenangannya dengan ibunya.

Taehyung tahu, ia tidak boleh terlalu lama bersedih seperti itu. Ibunya pasti akan memarahinya jika melihatnya dari atas sana.

xxx

Jungkook mengulum lolipop sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja tiba di Busan sore itu dengan menggendong ransel merahnya. Dia memiliki libur selama 3 hari dari universitas, dan ia sudah menyusun rencana bersantai dengan tenang di hari libur. Tapi rencananya harus batal ia laksanakan, karena ibunya menuntut Jungkook untuk pulang hari itu juga.

Kakak perempuan Jungkook yang sedang berkuliah di Jepang, sedang pulang berlibur setelah sekian lama ia tidak bisa pulang.

Jungkook memilih untuk berjalan-jalan terlebih dahulu di pantai. Pantai di Busan tetap ramai, meskipun langit mulai beranjak gelap. Anak-anak muda berkumpul bersama temannya. Bersenang-senang dan bercanda bersama.

Jungkook mengetikkan pesan pada ibunya, untuk memberitahukan pada orangtuanya kalau ia akan pulang terlambat.

"Jeon Jungkook!" terdengar seseorang berteriak memanggil nama Jungkook.

Jungkook mencari arah datangnya suara, dan mendapati seorang pemuda yang memakai celemek serta memegang pencapit batu bara, sedang berdiri di depan kedainya sambil melambai ke arahnya.

Jungkook tersenyum dan langsung menghampiri pemuda itu.

"Wow chef Kim Mingyu," godanya sambil tersenyum jahil.

Pemuda yang bernama Mingyu hanua tersenyum malu, "jangan menggodaku. Aku cuma membantu kedai orang tuaku. Sedang apa kau disini?"

"Cuma berjalan-jalan. Ibu menyuruhku pulang, karena eonnie akan pulang libur malam ini," jawab Jungkook sambil duduk di salah satu bangku kedai tanpa disuruh.

Karena terlihat kedai yang masih agak sepi, jadi Mingyu pun ikut duduk di depan Jungkook.

"Oh begitu. Sampaikan salamku untuk Wonwoo noona, dia pasti tambah manis."

"Tidak ku restui kau mendekati kakakku. Manis apanya, lebih manis juga aku," canda Jungkook dengan nada pura-pura marah.

"Kau sama sekali tidak manis. Ah, ngomong-ngomong, coba tebak tadi aku bertemu siapa?"

"Siapa?"

"Kim Taehyung, tadi dia makan disini," ujar Mingyu membuat Jungkook melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

"Sungguh. Aku ingin menegurnya, mengajaknya ngobrol mungkin. Tapi dia terlihat tidak ingin di ganggu, dia hanya memesan bulgogi lalu pergi setelah membayar," tambah Mingyu lagi untuk meyakinkan Jungkook.

"Apa dia baru saja pergi?"

Mingyu menggeleng, "dia sudah pergi sejak sejam yang lalu. Kau telat. Dia terlihat kurus. Dia memang kurus, tapi kali ini dia lebih kurus. Wajahnya terlihat lelah dan murung. Dia sudah berubah."

Jungkook menghela nafas kesal, hampir saja dia bisa bertemu Taehyung. Tapi sepertinya takdir masih ingin bermain-main dengannya. Padahal Jungkook sudah sangat merindukan sahabat terbaiknya itu. Terkahir kali ia bisa menghubungi Taehyung adalah 2 tahun lalu. Satu bulan setelah Taehyung pindah, Taehyung menghilang bagai di telan bumi. Jungkook tidak bisa menghubunginya lagi.

"Mungkin belum saatnya untuk bisa bertemu Taetae," gumam Jungkook pasrah.

"Biar Jungkookie semangat, ku buatkan cumi bakar untukmu. Dan ice chocolate, bagaimana?"

"Oke."

xxx

Taehyung merebahkan tubuhnya di kasur, lalu memejamkan matanya. Beruntung salah satu teman baiknya masih tinggal di Busan. Jadi ia tidak perlu membayar hotel. Dan juga, temannya berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang dirinya.

Tadi dia sempat berdiam diri di pantai, hanya duduk dan melihat pantai. Melihat ombak-ombak yang berlomba-lomba menuju pantai. Melihat anak-anak yang sedang bermain dengan orang tua mereka. Lalu memakan bulgogi di kedai favorit ibunya. Ibunya sangat suka membeli bulgigi di kedai itu, saat mereka masih tinggal di Busan.

Terdengar suara tombol kunci pintu di tekan, menghasilkan bunyi yang khas. Seseorang membuka pintu, dan langsung mendapati Taehyung yang berbaring di atas kasurnya. Ia masuk dan melepaskan sepatunya, lalu melangkah menuju dapur kecil yang ada di samping pintu kamar mandi.

"Kau sudah makan?" tanya pemuda itu sambil mengeluarkan belanjaannya dari kantong plastik supermarket.

"Tadi makan bulgogi," jawab Taehyung seadanya.

Pemuda itu melangkah lagi menuju kasur, lebih tepatnya menuju ke kulkas kecil yang merangkap menjadi meja lampu di samping kasur. Membuka kulkas dan mengambil sekaleng bir di dalamnya.

"Kapan rencanamu kembali ke Seoul?"

"Tidak tahu."

"Jangan terlalu lama bolos kuliah," ujarnya sambil membuka penutup kaleng bir dan meneguknya seteguk, "mau?" tawarnya pada Taehyung.

Taehyung menggeleng, "sedang tidak ingin minum bir. Kurasa aku akan pergi jalan-jalan keluar. Kuharap kau tidak bercerita tentangku pada siapapun, Minjae-ah."

Minjae terkekeh pelan, "kau sudah mengatakan hal itu sebanyak 3kali hari ini. Kenapa? Takut si kelinci tahu kalau kau ada disini?"

Taehyung bangun dari kasur, lalu memakai hoodie hitam miliknya, "hmm, mungkin saja."

"Aku tidak mengerti, apa sebenarnya alasanmu menghindari Jungkook. Dia bahkan mencarimu selama hampir 2 tahun ini. Dan kau masih saja menghindarinya."

"Entahlah, dia juga terlihat bahagia dekat dengan Jimin."

"Peduli setan dengan si pendek itu. Aku yakin, Jungkook pasti akan lebih bahagia jika bertemu denganmu," jawab Minjae dengan nada kesal begitu mendengar nama Jimin.

Minjae tahu semuanya, segala hal yang terjadi di keluarga Taehyung. Minjae merupakan tenpat curhat Taehyung, selain Jungkook. Dan sepertinya, posisi Jungkook sebagai orang yang tahu Taehyung luar dan dalam, harus tergeser oleh Kim Minjae.

"Bagaimanapun, dia masih sedarah denganku kan. Aku pergi dulu, nanti kuhubungi lagi," ujar Taehyung sambil meraih ponsel, earphone dan dompetnya. Menyelipkan dompetnya kedalam saku celana, lalu menutup kepalanya dengan hoodie.

Minjae hanya mengangguk dengan malas. Bingung dengan Taehyung yang membenci Jimin, tapi masih menerima bahwa mereka ada hubungan darah dari sang ayah. Bingung dengan keputusan Taehyung untuk menghindari Jungkook, meski ia sebenarnya sangat merindukan Jungkook.

Hanya Taehyung yang tahu, kenapa ia melakukan hal bodoh seperti itu. Sepertinya Minjae lupa, bahwa Taehyung terkadang mengambil keputusan idiot yang menyusahkan diri sendiri.

xxx

Jungkook sedang duduk di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Sambil memetik senar gitar miliknya dengan pelan, memainkan nada-nada dengan asal tapi masih bisa terdengar sebagai melodi indah.

Kakaknya sudah tiba di rumah sejak sejam yang lalu, dan dia malah memilih untuk duduk bersantai di kamarnya. Kabur dari ibunya, menghindar untuk menjadi asisten dadakkan sang ibu. Sesungguhnya Jungkook memang pintar memasak, tapi dia lebih suka untuk menikmati makanan, bukan memasak makanan.

Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat rumah Taehyung yang berada di seberang jalan. Rumahnya kini terlihat sangat sepi, seperti tidak ada penghuni.

Jungkook berhenti memainkan gitarnya, ketika ia melihat sosok asing memakai hoodie yang menutupi kepalanya di bawah sana. Sedang berdiri di depan rumah Taehyung. Berdiri dan terus melihat ke arah rumah yang terlihat sepi itu.

Jungkook memicingkan matanya, berusaha untuk melihat lebih jelas. Ketika sosok itu menurunkan tudung hoodienya, Jungkook langsung menyimoan gitarnya dan berlari keluar kamarnya.

Berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Mendapat hadiah teguran keasal dan ibunya.

Jungkook terus berlari, dan langsung keluar dari rumah. Tanoa ingat untuk sekedar mengganti sendal rumah nya.

Lalu ia berlari keluar menuju rumah Taehyung dan menghampiri sosok ber hoodie itu. Ia meraup nafas sebanyak-banyaknya seakan nafasnya telah habis karena berlari.

Ia berdiri mematung begitu sosok itu berbalik dan melihat ke arahnya.

"Taetae... ."

xxx

TBC

PS. karena kemarin lupa di tulis di chapter sebelumnya tentang umur mereka. V, Jimin dan beberapa tokoh pendukung jadi lebih muda di FF ini. Sisanya mengikuti line asli mereka di real life.

V : 96L , semester 1.

Jimin : 96L, semester 3.

JK : 97L, semester 3

Wonwoo: 94L.

Author's note:

Sebelumnya, gw yakin akan ada yang bilang bahwa ide ceritanya agak mainstream. But, i dont care. Soal waktu apdet juga tidak menentu, dan juga gw selalu menulis ff di smartphone gw. Gw tidak akan menjanjikan bakalan apdet cepat atau jadwal apdet yang tetap. Karena gw punya kesibukkan, meski saat ini gw lagi masa tenang dan liburan di kampung halaman. Gw sibuk kesana kemari haha. Jadi, gw bakalan lanjutin ff nya kalau lagi pengen nulis lanjut, atau lagi kosong, lagi bosan dan lain-lain. Apdetnya suka-suka, istilahnya. Meski ff gw bakalan ga punya bnyak peminat, gw tetap tulis ini saja, biar gak di tagih. Karena gw dulu pernah jadi author yang sering di tagih untuk apdet cepat, padahal banyak ff yang belum di lanjut. Akhirnya cerita jadi mulai buruk, dan gw jadi kena 'writers block'. So, ff kambek gw setelah sekian tahun hiatus ini, gw bakalan tulis dengan santai dan berusaha untuk tetap berada di alur yang udah gw susun.

Buat yang udah sempatin waktunya untuk membaca ff unfaedah ini, thank you very much..