Chapter 4
Taehyung melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang sering ia lewati sejak ia kecil dulu. Sesekali ia berhenti, duduk terdiam, mengenang memori bersama ibunya di beberapa tempat. Kedua telinganya tersumpal dengan earphone, tangannya memegang susu kotak rasa strawberry. Susu kotak kesukaan ibunya. Sesekali menyedot isi susu kotak itu, meskipun itu bukan rasa kesukaannya.
"Hmm, enak juga," gumamnya sambil membuang susu kotak yang telah kosong di tempat sampah. Akhirnya mengerti kenapa ibunya sangat menyukai susu strawberry.
Taehyung berhenti, ketika langkahnya membawanya ke taman kanak-kanak. Sekolah pertamanya di masa kecil. Ia melihat taman kanak-kanak itu dalam diam, lalu tersenyum kecil. Tidak ada perubahan, pikirnya.
Teringat saat hari pertama ia masuk sekolah, ia menangis karena merasa takut bertemu dengan orang baru. Ibunya pun menjaganya seharian di sekolah, karena Taehyung merengek tidak ingin di tinggal. Dan hari berikutnya, Taehyung malah meminta ibunya untuk langsung pulang setelah mengantarnya. Karena ia sudah memiliki banyak teman baru.
Di taman kanak-kanak itu juga ia berkenalan dengan Jungkook, tetangga baru yang baru saja pindah di dekat rumahnya. Mulai menjalin persahabatan dengan gadis tomboy itu.
Setiap hari ibunya selalu mengantar dan menjemput Taehyung. Mereka akan pulang dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Terkadang Taehyung akan menceritakan apa saja yang ia lakukan di sekolah, atau sang ibu yang akan menggodanya. Sejak ada Jungkook, kadang-kadang gadis itu pulang bersama mereka. Taehyung dan Jungkook akan berjalan di depan sambil bercerita dengan ribut. Dan kedua ibu mereka mengikuti dari belakang sambil mengobrol atau tertawa melihat tingkah anak mereka.
Taehyung terus melangkah, seolah mengikuti bayangan masa kecilnya yang sedang tertawa bersama sang ibu. Dan langkahnya membawanya menuju jalan masuk menuju area perumahan tempat ia tinggal dulu.
Area perumahan lumayan sepi malam itu, meski ada beberapa keluarga yang sedang mengobrol bersama keluarganya di halaman rumah. Tersenyum miris, mengingat Taehyung sering melakukan hal itu bersama ayah ibunya dulu.
Langkah kakinya berhenti, tepat di deoan sebuah rumah bercat putih. Rumah yang pernah menjadi rumahnya. Terlihat sangat sepi seperti tak ada penghuninya.
Taehyung melepaskan earphonenya, lalu menyimpannya di saku. Menurunkan hoodienya karena dirasa tidak ada satupun yang akan melihatnya. Ia bahkan yakin bahwa Jungkook tidak akan ada di rumah saat ini.
Ia menatap dengan pandangan sedih ke arah rumah itu, mengingat bahwa ia dan ibunya pernah menghabiskan waktu bahagia bersama sang ayah di dalam sana. Sebelum Jimin datang membawa aib ayahnya.
Taehyung terdiam ketika mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya. Terdengar dengan samar bawa orang itu kini sedang mengambil nafas setelah berlari.
Taehyung berbalik dengan ragu, melihat kearah sosok itu yang kini sedang menatapnya.
"Taetae," lirihnya.
Taehyung terdiam, melihat sosok didepannya yang ternyata adalah Jungkook. Belum sempat Taehyung membalas panggilannya, Jungkook sudah menerjang Taehyung dengan pelukan erat.
"Kau kemana saja, Taetae jahat sekali," isaknya pelan lalu melepaskan pelukannya.
Jungkook memukul dada Taehyung dengan marah sambil menangis, "aku membencimu. Kenapa kau baru muncuk sekarang. Aku membencimu."
Taehyung tidak menghentikan pukulan bertubi-tubi dari Jungkook, ia tahu bahwa ia pantas mendapatkannya.
"Maafkan aku," ujar Taehyung dengan nada pelan. Mengulangnya beberapa kali, dan terus di hadiahi pukulan dari Jungkook.
"Maafkan aku, Kookie."
xxx
Taehyung duduk dengan tegang di salah satu kursi yang ada di meja makan. Beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Ingin rasanya Taehyung lari ketika tadi Jungkook sudah berhenti memukulinya. Tapi belum sempat ia kabur, Jungkook langsung menarik tangan Taehyung dengan kuat dan membawanya masuk kerumahnya.
"Berhenti melihat Taehyungie, kalian membuatnya tidak nyaman," tegur ibu Jungkook sambil meletakkan semangkuk bulgogi di atas meja. Begitu tahu Taehyung datang, ibu Jungkook langsung memanaskan bulgogi yang sudah ia buat siang tadi.
"Taehyungie pasti lapar, makan yang banyak oke," ujar ibu Jungkook yang di balas anggukan oleh Taehyung.
Mereka pun memilih untuk mulai makan dengan tenang, memilih untuk tidak bertanya apapun pada Taehyung.
Jungkook menyendok sesendok penuh bulgogi dan di letakkan di piring Taehyung, "Taetae kan suka bulgogi. Jadi makan yang banyak, biar kenyang dan menginap disini."
Ancaman tidak langsung dari Jungkook. Sudah pasti Jungkook ingin menggali informasi darinya, kemana saja dia selama ini. Kenapa menghilang, dan lain sebagainya.
Taehyung menyuap sepotong bulgogi kedalam mulutnya, lalu ia langsung menambah bulgogi lagi kedalam mulutnya dengan nasi. Hingga mulutnya sangat penuh. Tanpa ia sadari, air mata mulai membasahi pipinya. Ia mengunyah dengan cepat, lalu memakannya lagi.
Hingga bulgogi di piringnya telah habis. Semua orang yang ada diruangan itu hanya menatapnya dalam diam, terheran kenapa Taehyung menangis hanya karena bulgogi.
Taehyung meminum air dari gelas yang baru saja di berikan oleh ibu Jungkook.
"Seperti masakan ibu," gumamnya dengan nada lirih.
"Bibi, boleh tidak aku datang ke sini jika ingin makan bulgogi? Ibu sudah tidak bisa memasak bulgogi untukku lagi, tidak ada ibu yang akan memasak untukku. Bolehkan?" tanya Taehyung sambil menyeka air matanya dengan lengan hoodienya.
Ibu Jungkook langsung paham apa yang di maksud oleh Taehyung, ia langsung bangun dari kursinya dan memeluk Taehyung.
"Kau boleh datang kapan saja kesini," ujarnya sambil menepuk pelan punggung Taehyung.
Taehyung merasa pelukan ibu Jungkook sangat hangat, meski tidak sehangat ibunya. Taehyung langsung membalas pelukannya dengan erat dan menangis. Ia hanya menangis saat di rumah sakit. Saat pemakaman ibunya, ia hanya duduk terdiam di dalam kamar, sambil melihat foto ibunya. Hanya kakeknya yang mengurusi acara pemakaman dan menerima tamu. Tapi ketika di peluk oleh ibu Jungkook, semua yang ia pendam akhirnya berlomba-lomba keluar.
"Jungkookie, nanti Taehyung tidur di kamarmu. Kamu tidur dengan eonniemu, bereskan kamarmu," titah sang ayah sambil mengelus kepala Taehyung yang sedang menangis di pelukan istrinya
Jungkook mengangguk dan langsung melahap habis makanannya.
xxx
Taehyung duduk di balkon kamar Jungkook, di temani Jungkook yang baru saja duduk setelah membereskan kamarnya. Taehyung membuka salah satu aplikasi di ponselnya, instagram. Membuka kotak masuknya, dan tersenyum kecil melihat salah satu pesan masuk yang berada paling atas.
Ia mengetik pesan balasan untuk sang pengirim pesan.
Yes, im Taetae. Kamarmu tidak banyak berubah. Maaf baru membalas pesanmu, maaf untuk semuanya.
Jungkook melihat ada pemberitahuan pesan masuk dari akun instagramnya, langsung membuka pesannya. Baru saja membaca isi pesan itu, ia langsung menatap Taehyung dengan pandangan kesal.
"Sudah kuduga, akun vante95 itu kamu. Dasar jahat," ujarnya marah.
Taehyung hanya terkekeh pelan, "maafkan aku."
"Akan ku maafkan jika kau menceritakan semuanya."
"Tidak ada yang harus di ceritakan. Sekarang aku cuma anak yatim piatu yang hanya memiliki kakek seorang. Hanya itu," jawab Taehyung sambil mengalihkan pandangannya ke arah rumah yang dulu pernah jadi rumahnya.
"Lalu ayahmu? Dia masih hidup, dan kau menganggap sudah jadi yatim piatu."
"Kalau dia masih menganggapku anak. Dia bahkan tidak pernah datang ke Daegu sekalipun. Mungkin Jimin lebih berharga dariku dan ibuku."
"Lalu selama ini kamu dimana?"
Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "hanya mencari uang dimana-mana."
Jungkook langsung menatap Taehyung dengan tajam, seolah berkata 'jangan bohong padaku'. Taehyung langsung menghindari tatapan Jungkook dan tertawa kecil. Susah membohongi seseorang yang sudah menjadi sahabatmu sejak kecil.
"Aku cuma bekerja di banyak tempat, Kookie. Aku tidak bisa mengatakannya padamu, karena aku selalu berpindah-pindah tempat selama ini," bohongnya sambil menghindari tatapan Jungkook. Jungkook tahu, dan selalu tahu bahwa Taehyung berbohong padanya. Hanya saja ia memilih untuk tidak menuntut lebih, dia yakin suatu saat Taehyung akan bercerita padanya.
"Bagaimana kisahmu dengan Jimin. Kudengar kalian sangat dekat. Ceritakan padaku," ujar Taehyung setelah mereka terdiam cukup lama. Nada suara yang terdengar tenang dan menggoda, tapi di dalam hatinya ia berharap bahwa apa yang ia dengar selama ini adalah salah.
Jungkook berdecak kesal, "gosip dari mana lagi yang kau dengar?"
"Dari mana-mana."
"Jadi kau kuliah di kampusku? Kau satu kampus denganku kan? Kalau tidak, bagaimana bisa kau dengar gosip murahan seperti itu."
"Cuma pernah mendengar di tempat kerja, banyak mahasiswa yang bergosip."
Taehyung tidak sepenuhnya berbohong. Cafe tempatnya bekerja paruh waktu, sering menjadi tempat nongkrong mahasiswa dari kampus nya. Beberapa kali ia mendengar para wanira bergosip tentang Park Jimin dan tentu saja Jungkook juga.
"Tsk, jangan percaya dengan gosip itu. Jimin saja yang suka mengikutiku kemana-mana. Padahal jurusan kami berbeda. Aku jadi merasa seperti induk ayam."
Taehyung mendesah lega mendengar itu, karena kookie-nya belum di miliki oleh siapapun. Setidaknya untuk saat ini.
"Hei, kenapa jadi aku yang bercerita. Jangan mengalihkan pembicaraan, dasar alien bodoh."
Taehyung tertawa pelan, "ketahuan ya."
"Sekarang berikan nomormu, berikan alamatmu saat ini meskipun kau sering berpindah-pindah. Beritahu aku dimana kau bekerja saat ini," ujar Jungkook dengan nada menuntut sambil menyodorkan ponselnya, "aku tidak ingin kehilangan Taetae lagi," lanjutnya setengah berbisik.
Taehyung yang mendengar kalimat terakhir Jungkook, meski terdengar samar, langsung tersenyum senang dan langsung meraih ponsel Jungkook. Mengetikkan nomornya dan juga menyimpan alamatnya disana.
"Aku tinggal bersama seorang teman disana. Tapi hubungi aku dulu jika ingin datang. Kau tidak mau kan, saat datang malah tidak siapapun disana. Aku bekerja dimana-mana," ujar Taehyung sambil mengembalikan ponsel Jungkook.
Jungkook mengangguk paham sambil melihat alamat yang tertera, "huh? Dekat dengan kampusku. Dan apartemenku terletak tidak jauh dari sana," ujar Jungkook bingung. Bingung karena selama ini dia berada dekat dengan Taehyung, tapi tidak pernah bisa menemukan Taehyung.
"Aku tahu dimana kamu tinggal. Satu gedung apartemen dengan Jimin."
Jungkook melempar bantal yang menjadi bantal sandarannya, ke arah Taehyung yang langsung di tangkap oleh Taehyung, "jadi selama ini Taetae tahu aku dimana, dan tidak pernah sekalipun berniat menemuiku? Sedangkan aku mencari Taetae selama ini, wah sungguh mengejutkan."
"Maafkan aku oke, tidak akan ku ulangi. Kookie sudah mendapatkan nomor dan alamatku kan sekarang, jadi jangan marah lagi."
"Dasar jahat. Sekarang lanjutkan ceritamu. Setelah pindah dari sini, kenapa kamu menghilang?"
"Banyak yang terjadi Kookie. Nenek sakit keras, hanya sebulan setelah aku dan ibu pindah kesana. Membuat kakek menjual setengah perkebunan untuk biaya pengobatan nenek di rumah sakit. Ibu yang melamar kerja di banyak tempat untuk membantu pengeluaran, tapi tidak juga mendapat pekerjaan. Aku membantu dengan mengirim koran dan susu setiap pagi sebelum ke sekolah. Hingga lulus SMA, nenek meninggal. Aku tidak bisa melanjutkan kuliah, karena biaya tentu saja. Lalu beberapa bulan kemudian, tepat setahun yang lalu, ibu mulai sakit-sakitan. Ada tumor yang bersarang. Kami menjual segalanya, mobil dan benda-benda berharga yang tersisa. Bahkan aku merelakan uang hasil bekerjaku untuk biaya rumah sakit. Aku tidak sempat berpikir hal lain lagi. Sampai aku ke Seoul, berharap mendapatkan banyak uang untuk membantu biaya rumah sakit. Selama ini kakek hanya berharap dari perkebunan hanya tinggal setengah. Puncaknya adalah dua minggu kemarin, kakek menyuruhku pulang. Lalu ketika aku pulang, yang kudapati tubuh kaku ibu di rumah sakit. 2 minggu aku seperti mayat hidup, lalu memutuskan kesini sebelum kembali ke Seoul. Jadi maafkan aku karena menghilang tiba-tiba dan ... ."
Jungkook langsung berdiri dan memeluk Taehyung dengan erat, memotong kalimat panjang Taehyung. Taehyung langsung membalas pelukan Jungkook.
"Jangan menyimpan semuanya sendiri, Taetae punya Kookie yang siap mendengarkan semuanya kan. Jangan lagi menyimpannya sendiri lalu emnghilang. Atau aku akan benar-benar membencimu."
xxx
Sinar mentari masuk melalui celah-celah tirai di kamar Jungkook, menyinari wajah seorang pemuda. Membuat pemuda itu langsung membalikkan badannya dan meringkuk sambil memeluk guling.
Bunyi dering alarm dari ponselnya langsung membangunkannya. Dia langsung meraih ponselnya yang tersimpan disampingnya. Melihat beberapa panggilan dari kakeknya dan juga dari Minjae. Dia lupa mengabarkan Minjae kalau dia akan tidur di rumah Jungkook. Ia langsung mengetikkan pesan untuk kakeknya, mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Dan mengetikkan pesan untuk Minjae.
"Baru jam 7," gumamnya dengan suara serak. Khas baru bangun tidur.
Ia langsung bangun, terduduk beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan nyawa yang tercerai berai. Lalu ia bangun dari kasur, dan mulai merapikan tempat tidur dan membuka tirai kamar.
Selesai melakukan itu semua, ia langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah menuju ruang makan.
"Selamat pagi Taehyungie, tidurmu nyenyak?" tanya ibu Jungkook ketika melihat Taehyung yang melangkah menuju dapur.
Taehyung mengangguk, "ada yang bisa ku bantu bi?" tanyanya sambil melangkah menuju ibu Jungkook yang berada di dapur.
"Astaga anak ini, sejak kapan kau suka turun ke dapur seperti ini hmm? Bahkan Jungkookie saja berusaha kabur ketika kuminta."
"2 tahun ini membuatku terbiasa bi," jawabnya sambil tersenyum. Ibu Jungkook langsung mengangguk mengerti, mengerti bahwa Taehyung sudah melewatkan banyak hal dalam hidupnya.
"Kalau ingin membantu, tolong bangunkan Jungkook. Dia sangat susah di bangunkan, kau tahu sendiri kan."
Taehyung mengangguk dan langsung menuju ke kamar Wonwoo yang terletak versebelahan dengan kamar Jungkook di lantai atas.
Begitu sampai di depan pintu kamar Wonwoo, pintu langsung terbuka sebelum ia menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu.
"Oh, Taehyungie mau membangunkannya? Masuk saja," ujar Wonwoo yang baru saja membuka pintu kamar dan hendak ke kamar mandi.
"Oke noona. Ngomong-ngomong, noona makin cantik," goda Taehyung yang mendapat jitakkan pelan di kepalanya. Taehyung langsung tertawa dan masuk ke dalam kamar.
Taehyung mendapati Jungkook yang masih tertidur sambil memeluk boneka beruang besar miliknya. Sesekali ia bergumam tidak jelas dalam tidurnya karena merasa tidurnya terusik oleh sinar matahari.
Taehyung duduk di atas kasur dan menepuk menepuk pelan badan Jungkook dengan salah satu boneka kecil yang ada disitu. Taehyung tidak ingin di anggap mesum jika menepuk menggunakan tangannya. Cara tidur Jungkook yang terkesan berantakkan, sudah berhasil membuatnya deg-degan. Bagaimanapun Taehyung masih seorang pria normal yang bisa tergoda melihat hal seperti ini.
"Kookie, bangun'" panggil Taehyung dengan suara keras.
Sekali, duakali, tigakali, tidak mendapatkan hasil.
Akhirnya Taehyung langsung bangun dari duduknya, dan menarik selimut yang Jungkook gunakan. Dan tanpa sengaja Taehyung melihat baju Jungkook yang tersingkap sedikit dan memperlihatkan perutnya. Dan celana pendeknya yang memperlihatkan paha atasnya.
"OH ASTAGA," teriak Taehyung dan langsung berbalik. Wajahnya terasa panas dan memerah.
Jungkook yang mendengar teriakkan Taehyung, langsung terbangun dan mendapati Taehyung yang berbalik sambil bergumam 'aku tidak lihat apa-apa' berulang kali. Jungkook langsung sadar apa yang di lihat Taehyung langsung melempar Taehyung dengan bantal.
"KIM TAEHYUNG, KUBUNUH KAU."
Dan orang tua Jungkook serta wonwoo yang berada di ruang makan langsung tertawa mendengar teriakkan mereka.
"Pagi yang ramai," ujar ibu Jungkook sambil tertawa.
xxx
Tbc
Part ini agak lebih pendek dari part sebelumnya. Dan terkesan aneh. Maafkan jika agak aneh. Cuma emang fokus dulu sama VKOOK yang saling melepas rindu, eaaaaa.. Thanks buat yang selalu membaca ff unfaedah ini. Sejujurnya ide ff ini berawal dari obrolan unfaedah di salah satu grup chat RP yang kebetulan membernya udah pada kenal RL, telponan atau vidcall, bahkan meetup. Ada yang sampai kapelan juga. Cieeeee.. Gw makcomblangnya/eh.. Obrolan gosip seme-seme arisan/eh. Thanks buat ide nya, dasar seme-seme jones doyan arisan. Hahaha.
Jika ada yang suka main RP, terutama di KKT.. Dan punya grup unfaedah yang suka menyerempet mesum(?) Ajak ajak gabung ya(?) Author ini otaknya rada mesum, tapi sayangnya member grup2nya banyak yang masih polos sepolos bokong dek bayi. Jadi kasihan mau nodain.. Id kkt gw : 95taetaekim.
Thanks buat yang udah baca ff ini.. See you at next chapter.
HAPPY BDAY FOR JEON JUNGKOOK, KELINCI nya Taehyung hehehehe. keep cute baby, keep cute, keep cute, keep montok, keep cute, keep montok hohohohoho..
