Chapter 5
"Taetae, kenapa kau suka memanggilku dengan sebutan kelinci sejak kecil? Semua orang jadi ikut-ikutan memanggilku begitu."
"Itu karena wajahmu imut seperti kelinci. Manis seperti kelinci. Menggemaskan seperti kelinci. Membuatku selalu suka melihat wajahmu yang seperti kelinci."
Taehyung kecil sedang bermain mobil-mobilan dengan Minjae di salah satu kelas taman kanak-kanak. Menunggu sekolah dimulai, dan bermain bersama teman-temannya.
"Jae-ya, kemarin ada tetangga baru di depab rumah," ujar Taehyung dengan suara khas anak-anaknya.
"Benarkah?"Taehyung mengagguk cepat, "mereka membawa banyak sekali kardus," ujar Taehyung sambil menggerakkan kedua tangannya. Seolah mengatakan bahwa kardus-kardus yang dibawa oleh sang tetangga baru sebanyak rentangan kedua tangan mungilnya.
"Apakah berisi permen?" tanya Minjae antusias. Membayangkan bahwa tetangga baru Taehyung membawa banyak permen di dalam kardus-kardus itu.
"Atau mungkin mainan?" kini Taehyung yang menebak dengan senyum aneh. Membayangkan ada banyak mainan di dalam kardus.
"Wah..."
"Mereka juga membawa kelinci," ujar Taehyung sambil mengingat-ingat apa saja yang dibawa oleh tetangga barunya.
"Kelinci? Apakah besar? Berbulu tebal?"
Taehyung menggeleng. Seingatnya kelinci yang ia lihat tidak berbulu tebal. Hanya saja pipinya yang gembil dan badannya yang sangat berisi.
"Dia tidak berbulu."
"Kan kelinci itu berbulu. Pasti bukan kelinci."
"Beneran kelinci kok," ngotot Taehyung sambil cemberut karena Minjae tidak percaya padanya.
"Dasar Tae bodoh, kan kelinci punya bulu."
Lalu mereka berdua berdebat tentang bulu kelinci hingga sang guru masuk kedalam kelas.Membuat Taehyung dan Minjae langsung duduk saling memunggungi satu sama lain. Memasang wajah kesal dan mengambil mainan masing-masing.
Hingga mereka tidak sadar bahwa sang guru masuk dengan membawa seorang anak perempuan kecil.
Anak itu memegang tali tas ransel berwarna merah mudanya dengan erat. Menunduk malu-malu dan melihat ke arah kakinya.
"Anak-anak, kalian kedatangan teman baru. Ayo kenalkan namamu sayang," ujar sang guru sambil terduduk di samping anak itu. Menyamakn tinggi dengan anak itu, sambil mengelus rambutnya.
"Uhh, namaku Jeon Jungkook," ujar anak itu dengan nada malu-malu.
Taehyung yang mendengar seseorang berbicara di depan, langsung melihat kearah depan. Dan mendapati seorang anak perempuan berdiri di samping gurunya.Taehyung langsung berdiri dari duduknya dan menunjuk anak itu dengan telunjuknya.
"WAH, AKU SEKELAS DENGAN KELINCI. JAE-YA, ITU KELINCI YANG KUBILANG," teriaknya dengan lantang.
Membuat Jungkook langsung memiringkan kepalanya karena bingung.
Dan Minjae yang menepuk bokong Taehyung dengan keras karena sudah berteriak di kelas.
Setelah kejadian memalukan -menurut Minjae dan Jungkook- itu, Taehyung segera mendeklarasikan sebagai teman nomor satu Jungkook.
xxx
Tidak terasa, sudah hampir sebulan berlalu sejak pertemuan Taehyung dan Jungkook malam itu di Busan. Taehyung langsung kembali ke Seoul setelah menginap semalam di rumah Jungkook.
Taehyung kembali malam itu, dan di sambut dengan pelukan hangat Hoseok begitu ia turun dari kereta. Mendapat traktiran makan bergizi ala Hoseok, dan diberi pelukan hangat lagi ketika salah seorang temannya dan Hoseok ikut bergabung dengan mereka. Mendapat ucapan menenangkan yang membuat Taehyung tersenyum senang malam itu.
Esoknya ia kembali bekerja dan langsung masuk kuliah, meski masa cuti kuliahnya masih tersisa 2 minggu lagi. Menemui dosennya dan mengejar materi yang tertinggal.
Dan sejak itu pula, Taehyung tidak bertemu dengan Jungkook lagi. Meski beberapa kali Taehyung melihat Jungkook dari jauh ketika sedang di kampus. Atau Jungkook yang terus mengirimi pesan, meminta untuk bertemu. Taehyung masih belum berniat untuk bertemu lagi dengan Jungkook.
Kehidupannya berjalan sebagaimana yang telah ia jadwalkan. Bangun lebih awal di pagi hari, ketika orang lain masih bergelung di dalam selimut untuk menghangatkan diri. Pergi mengantar susu dan koran ke pelanggan. Lalu ke pasar untuk membantu Hoseok. Setelah itu kuliah, dan bekerja paruh waktu di kafe pada dari sore hingga menjelang malam hari, atau menyesuaikan jadwal kuliahnya. Menjelang tengah malam ia bekerja sebagai pengantar pizza di hari-hari tertentu. Hanya sempat tidur 2-3jam setelah bekerja, dan sejam disaat istirahat makan siang, itupun jika sempat. Sesekali ia tertidur di kelas karena kelelahan, tapi para dosen sudah maklum dengan hidup Taehyung. Dan dia butuh tidur. Beruntung ia di anugerahi otak jenius.
Dengan jadwal yang begitu padat, tentu saja Taehyung tidak bisa menyimpan waktu kosong untuk Jungkook. Setidaknya ia masih ingat makan.
Kelas sudah usai 30menit yang lalu, dan Taehyung langsung pergi ke kafe tempatnya bekerja. Setelah berbicara tentang tugas kelompok pada temannya, mengusulkan untuk mengerjakan tugas itu di kafe tempat ia bekerja. Jadi ia bisa ikut mengerjakan tugas itu dengan ijin selama sejam. Dan teman kelompoknya pun mengiyakan usulnya.
Sesampainya di kafe, ia langsung menuju loker karyawan. Menyimpan tasnya dan mengganti bajunya dengan baju seragam. Dan langsung keluar dari ruang staff setelahnya.
Langsung menggantikan tugas temannya, dan melayani pelanggan yang memesan.
"1 ice americano, 1 hot cappuchino with low fat sugar, kentang goreng dan juga chocolate cupcakes," ulang Taehyung menyebut pesanan pelanggan sambil mencatatnya, "oke, ditunggu pesanannya," ujar Taehyung sambil tersenyum lalu menuju ke bagian penerima pesanan. Memberikan kertas pesanan ke temannya untuk membuat pesanan.
Taehyung masih berdiri bersandar di dekat meja, sambil mengobrol sejenak dengan temannya. Sambil menunggu pelanggan baru untuk di layani.
"Yoongi noona tidak datang hari ini?" tanya Taehyung pada temannya. Ketika ia menyadari bahwa pemilik kafe tidak kelihatan sejak tadi.
"Dia pergi membeli stok bahan. Mungkin sebentar lagi datang. Damainya kafe ini jika Yoongi noona tidak ada," ujar Bogum, salah seorang temannya, sambil memasang wajah bahagia.
Taehyung terkekeh, "tidak ada nenek-nenek yang akan marah-marah," tambahnya.
"Siapa yang kau sebut nenek-nenek, Byuntae?"
Taehyung langsung tahu siapa yang sudah memanggilnya dengan sebutan byuntae (mesum) itu. Terasa aura mencekam di belakang mereka berdua, yang langsung membuat mereka merinding.
Taehyung berbalik dan tersenyum, "halo noona, cantik seperti biasa ya," goda Taehyung.
Yoongi langsung memukul kepala Taehyung dan juga Bogum dengan buku yang ia pegang, "kembali bekerja bodoh."
"Astaga noona, nanti otak jeniusku menciut," ujar Taehyung sambil mengelus kepalanya.
"Mau kupukul dengan lebih keras, huh?"
xxx
Setelah reuninya dengan Taehyung di Busan malam itu, Jungkook beberapa kali menghubungi Taehyung untuk bertanya kesibukkan Taehyung. Jungkook ingin sekali pergi berkunjung ke tempat Taehyung tinggal selama ini, tapi Taehyung selalu berkata bahwa ia sibuk setiap kali Jungkook menghubunginya.
"Jungkook, ayo ke bioskop nanti malam," ajak Jimin yang sedang tadi sedang duduk di hadapan Jungkook, di kantin fakultas seni.
Jungkook tidak membalas, ia malah sibuk berdecak kesal karena membaca pesan balasan dari Taehyung. Padahal Jungkook ingin membawakan masakan Seokjin untuk makan malam Taehyung. Ia yakin Taehyung tidak pernah makan dengan teratur, melihat betapa kurusnya badan Taehyung.
"Hei, Jungkook," panggil Jimin karena merasa tidak di anggap oleh Jungkook.
"Tidak menjawab, berarti iya," ujar Jimin lagi.
Akhirnya Jungkook langsung melihat ke arah Jimin dengan pandangan kesal, "pergi saja sendiri. Aku sibuk," ujarnya sambil bangun berdiri dan meninggalkan Jimin.
Jimin langsung tertawa pelan. Karena sibuk untuk Jungkook adalah bermain game, makan-makan dan tidur. Karena ajakannya tidak disetujui Jungkook, Jimin pun mengambil ponselnya dan menghubungi salah seorang temannya.
"Hei, kamu tahu kan dimana kafe tempat kerja Byun Taehyung. Ayo kita ke sana, aku yang traktir," ajak Jimin pada temannya.
Setelah mendapat jawaban yang memuaskan dari temannya, Jimin langsung memutuskan sambungan telepon nya.
XXX
Jungkook menekan bel dengan tidak sabaran, di salah satu flat kecil yang ada di hadapannya. Berbekal alamat yang di berikan Taehyung saat di Busan, ia nekat datang berkunjung ke flat Taehyung. Karena jika menunggu jawaban Taehyung, ia akan semakin tidak sabaran.
Pintu flat pun terbuka, menampilkan seorang pria yang memakai celana jeans pendek dengan kaos hitam tanpa lengan. Juga rambut yang masih basah dan handuk yang melingkar di lehernya. Mungkin dia baru saja selesai mandi.
"Mencari siapa ya?" tanya pria itu sambil melihat Jungkook dari atas ke bawah.
"Umm Taetae, eh maksdku Kim Taehyung. Dia ada?"
"Kim Taehyung? Tidak ada yang bernama Kim Taehyung disini."
Jungkook langsung menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya lalu langsung mengambil ponselnya. Menunjukkan alamat yang di berikan Taehyung pada pria itu, "kata Taetae, dia tinggal disini."
"Alamatnya benar, tapi tidak ada yang bernama Kim Taehyung. Mungkin yang kau maksud itu Byun Taehyung? Kalau Taehyung yang itu, dia masih ada jam kerja di kafe," jawab pria itu setelah melihat layar ponsel Jungkook.
"Byun Taehyung? Bisa berikan alamat kafe nya?"
Pria itu mengangguk, lalu mengetikkan alamat kafe di ponsel Jungkook. Setelah itu, ia mengembalikkan ponsel Jungkook yang di terima dengan senyuman oleh Jungkook.
"Terima kasih, oppa," ujar Jungkook sambil membungkuk dan pergi meninggalkan pria itu yang sedang bingung.
"Huh? Sejak kapan Taehyung mengganti marganya menjadi Kim?"
xxx
Taehyung sedang mengangkat persediaan bahan yang telah dibeli oleh Yoongi, dan baru saja di antar oleh mobil supermarket kedalam gudang kafe. Ditemani oleh Yoongi yang sedang mencatat barang apa saja yang sudah masuk kedalam gudang.
Selesai mengangkat dan membawa semuanya masuk, Taehyung berdiri dan bersandar di pintu samping kafe. Sambil melihat kearah Yoongi yang masih sibuk melihat catatan.
"Noona, menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Taehyung tiba-tiba.
"Apanya yang bagaimana? Dengan kelinci itu?" balas Yoongi.
Jika di Busan, Taehyung memiliki Minjae sebagai tempat curhat. Maka di Seoul, Taehyung memiliki Yoongi sebagai tempat curhat. Meski Yoongi adalah bos Taehyung, diluar itu mereka adalah teman baik. Yoongi bahkan sering membeli bahan di tempat Hoseok dan juga berteman dengan Hoseok. Hubungan yang saling menguntungkan.
"Iya. Dengan si kelinci. Bagaimana menurutmu?"
"Temui dia. Kenapa masih bertanya kalau kau sendiri sudah tahu jawabannya," jawab Yoongi kesal. Terkadang jalan pikiran Taehyung yang membingungkan berhasil membuatnya kesal dan marah.
"Kau tahu sendiri aku sibuk dengan pekerjaanku."
"Berhenti jadi kurir pizza, bodoh. Kau sudah terlalu banyak pekerjaan, bisa-bisa kau tumbang sebelum tua," ujar Yoongi sambil memukul kepala Taehyung dengan pelan.
"Ei, nanti aku kekurangan uang."
"Kan sudah kubilang, kau bisa bekerja di kafe sampai jam tutup. Juga membantuku. Dasar bodoh. Berapa jam kau tidur semalam, coba jawab."
Taehyung terdiam sambil mengingat, "2 atau 3 jam, mungkin."
"Dan manusia itu paling tidak butuh 7-8 jam untuk tidur. Berhenti dari pekerjaanmu. Kuliahmu sudah cukup menguras waktu, ditambah pekerjaanmu. Belum lagi kau harus belajar. Atau kau mau aku yang pergi ke bos mu, dan meminta untuk memecatmu. Pilih yang mana?"
Taehyung meringis mendengar omelan Yoongi, "baiklah. Sebentar aku akan pergi dan mengundurkan diri dari sana. Noona puas?"
Yoongi tersenyum menang. Bukan sekali atau dua kali Yoongi meminta Taehyung untuk merelakan salah satu pekerjaannya. Terlalu sering ia meminta, agar Taehyung memiliki banyak waktu untuk tidur.
"Good boy. Dan hubungi kelincimu dan ajak dia bertemu. Mungkin dia akan suka jus wortel buatan Seokjin eonnie," usul Yoongi dengan nada yakin. Seokjin adalah juru masak di kafenya, karena kafenya tidak hanya menyediakan makanan ringan. Tapi juga makanan berat.
Taehyung mengangguk, menyimpan usul Yoongi di dalam memorinya.
xxx
Jungkook sedang melihat alamat kafe yang diberikan oleh pria di flat yang ditinggali oleh Taehyung. Dia melihat dengan bingung, merasa tahu kafe ini. Tapi lupa dimana ia pernah mendengar tentang kafe ini.
"Sugar Cafe, uhh dimana aku pernah mendengar nama kafe ini," gumam Jungkook melangkah menyusuri trotoar area pertokoan. Mengikuti jalur pada peta di ponselnya.
Begitu sesampainya di depan kafe, tepatnya di seberang jalan kafe itu, ia langsung menunjuk salah satu mobil yang terparkir.
"Mobil Seokjin eonnie. Ah benar, tempat kerja eonnie. Kenapa aku baru ingat ya," gumam Jungkook sambil tertawa kecil.
Jungkook memutuskan untuk melihat-lihat dulu dari luar kafe, sambil mencoba menelpon Seokjin. Meski ia tahu, Seokjin tidak akan menyentuh ponselnya ketika sedang bekerja.
Mungkin saja Seokjin sedang beristirahat kan, jadi tidak ada salahnya ia mencoba.
Jungkook melihat lagi ke arah kafe, dan langsung memutuskan panggilan telepon sebelum dijawab Seokjin.
"Itu kan-- , kenapa dia ada disini?" gumam Jungkook ketika melihat seseorang bersama dengan temannya sedang masuk kedalam kafe.
xxx
"Taehyung-ah, bisa tolong ambilkan kotak berwarna merah dibagasi mobil? Aku lupa membawanya tadi," ujar Yoongi sambil melemparkan kunci mobil ke arah Taehyung. Yang langsung di tangkap oleh Taehyung.
"Oke, noona."
Taehyung langsung melangkah menuju pintu kafe. Bertepatan dengan itu, lonceng di pintu berbunyi sebelum Taehyung sampai di pintu. Tanda seorang pelanggan datang berkunjung.
Taehyung membungkuk kecil secara refleks dan hendak mengucapkan salam sambil tersenyum.
"Selamat dat-- ," ucapan Taehyung terhenti begitu melihat siapa yang baru saja masuk.
"Halo Kim Taehyung, lama tidak bertemu."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Uhh, maafkan kalau terkesan pendek lagi chapter yang ini. Maafkan, maafkan. Chapter depan pasti lbh panjang kok, semoga. Kadang ngetik di smartphone itu bikin pegal mata hahaha. Biasanta ngetik di tablet atau PC. Tapi karena udah sejak pulkam ini, tablet di sandera oleh adik. Dan males nyalain PC jga. Jadinya ngetik di ponsel terus. Update dari ponsel juga.
Thanks buat yg udah baca karya unfaedah ini.
