Chapter 6
.
.
.
"Hello Kim Taehyung, lama tidak bertemu."
Ini bukan bagian dari hal-hal yang diinginkan oleh Taehyung hari ini. Suasana hatinya sedang baik hari ini, setelah sesi meminta solusi dari Yoongi tentunya. Dan suasana hatinya langsung memburuk begitu mendapati seorang pria dengan mata berbentuk bulan sabit terbalik ketika ia tersenyum, berdiri di hadapannya. Di tempat ia bekerja.
Pria itu tersenyum penuh arti, dan langsung meninggalkan Taehyung yang masih terdiam di tempatnya berdiri. Pria itu mengikuti temannya yang mulai mencari tempat kosong di kafe itu.
Jitakkan pelan di kepala Taehyung, membuatnya tersadar dari aksi terdiam bagai patung di depan pintu.
"Cepat ambil kotak di mobil, jangan menghalangi jalan," tegur sang pelaku penjitakkan dengan nada kesal. Siapa lagi kalau bukan Min Yoongi.
"Baiklah, baiklah," jawab Taehyung sambil mengelus kepalanya dan melangkah keluar dari kafe. Menuju ke mobil milik Yoongi yang terparkir di depan kafe. Matanya tidak sengaja melihat pria dengan mata bulan sabit itu, melihat kearahnya dari tempat ia duduk yang berada di bagian teras kafe.
Selesai mengambil kotak yang di maksud, ia segera masuk kedalam dan memberikan kotak itu pada Yoongi.
"Aku ijin 30 menit," ujar Taehyung sambil melepaskan apron coklat di pinggangnya dan menyimpannya di kursi kasir. Yoongi hanya mengangguk dan memilih tidak peduli. Toh, pasti Taehyung akan bercerita nantinya.
Taehyung langsung menghampiri pria itu dan duduk di kursi.
"Sungwoon-ah, bisa tinggalkan kami berdua. kau pesan saja, nanti aku yang bayar," ujar pria itu kepada temannya. Yang dibalas dengan dengusan kesal dari temannya, lalu ia bangun dan mencari tempat lain.
"Ada apa kau kemari, Park Jimin? Atau harus ku panggil Kim Jimin?" tanya Taehyung dengan nada datar.
"Aku sedang membeli makan, Byun Taehyung," kini gantian Jimin yang memanggil nama Taehyung menggunakan nama barunya, "pintar sekali mengubah margamu. Ngomong-ngomong, margaku tetap Park," sambungnya lagi.
"Tidak perlu basa basi, sialan. Apa yang kau mau?" geram Taehyung sambil menahan kesal.
Kedatangan Jimin yang mendadak di kafe tempat ia kerja, membuatnya yakin bahwa itu bukanlah sebuah kebetulan. Ia tahu, Jimin mencarinya selama ini. Jimin tahu dia kuliah dimana. Taehyung tahu dengan pasti, bahwa selama ia cuti, Jimin terus mencari tahu tentangnya. Ia tahu, cepat atau lambat pasti Jimin akan datang ke tempat ia kerja. Atau buruknya, ke flatnya.
"Baiklah, kau tidak sabaran sekali. Aku hanya ingin kau tidak pernah muncul dihadapan Jungkook. Kau yang seperti sekarang, tidak pantas untuk Jungkook."
Ingin rasanya Taehyung tertawa. Dia bahkan sudah bertemu dengan Jungkook saat di Busan. Dan dalam waktu dekat, ia akan mengajak Jungkook bertemu lagi.
"Oh ya, dan apakah Jungkook akan mau denganmu yang merusak kebahagiaan keluarga orang lain?"
"Oke, itu memang kesalahanku. Tapi jika kau menyayangi Jungkook, seharusnya kau memikirkannya. Kau bahkan harus bekerja hanya untuk biaya hidup. Apa yang bisa kau beri untuk Jungkook? Bahkan kau sendiri susah mempunyai waktu kosong. 2 tahun ini dia baik-baik saja tanpamu. Ada aku yang menjaganya. Ada aku yang selalu ada untuknya. Jadi, jauhi Jungkook."
Taehyung terdiam. Sepertinya jalan pikiran idiotnya sedang kumat. Ia mulai berpikir bahwa yang dikatakan oleh Jimin adalah benar. Bahwa ia tidak pantas untuk Jungkook. Jungkook lebih baik tanpanya. Setidaknya Jungkook tidak akan pernah kesepian, karena Jimin selalu bisa hadir ketika dibutuhkan. Tidak seperti dirinya yang selalu sibuk dan tidak bisa meluangkan waktu.
Seseorang memukul kepala Taehyung dari belakang dengan keras.
Taehyung segera berbalik untuk melihat siapa yang sudah memukulnya. Dan ia mendapati Yoongi yang melipat kedua tangannya sebatas dada.
"Yak noona, kenapa memukulku," ujar Taehyung dengan kesal sambil mengelus kepalanya.
"Jika kau ijin hanya untuk membicarakan pembicaraan yang tidak penting dan memakai otak idiotmu, lebih baik kau pergi kedapur dan bantu temanmu disana. Atau kupotong gajimu," ancam Yoongi dengan memasang wajah galak. Meski terkesan gagal, karena bagaimanapun wajah Yoongi tetap terlihat manis.
"Baiklah baiklah," balas Taehyung tidak ikhlas sambil bangun berdiri dan melangkah.
Baru saja Taehyung ingin melangkah kedalam kafe, Yoongi langsung menghentikan langkahnya dan berbisik ditelinganya. Yang membuat Taehyung langsung melangkah dengan cepat dan masuk kedalam.
Tinggal Jimin dan Yoongi yang ada disitu sepeninggal Taehyung.
Jimin tersenyum, dan hanya di balas dengan ekspresi datar oleh Yoongi.
"Dan kau-- ."
"Jimin, Park Jimin."
"Oke, Park Jimin-ssi. Jika kau masih setidaknya punya hati, jangan lanjutkan rencana gilamu untuk membujuk Taehyung dalam hal apapun. Taehyung butuh alasan untuk terus hidup dan berbahagia, aku bosan melihatnya seperti mayat hidup. Jadi, berhentilah," ujar Yoongi dengan nada memerintah, bukan dengan nada meminta ataupun memohon. Lalu langsung meninggalkan Jimin yang bingung dengan ucapan Yoongi.
.
.
.
"Kau benar, dia seperti kelinci. Dia menunggumu di ruang staff," bisik Yoongi pada Taehyung. Dan membuat mata Taehyung membulat tak percaya, dan langsung melangkah dengan cepat ke ruang staff.
Sesampainya di ruang staff, terlihat seorang gadis yang sedang meminum milkshake. Ditemani oleh Seokjin noona yang sedang mengambil waktu istirahat. Terlihat mereka berdua sedang mengobrol.
"Kookie, bagaimana kau tahu aku disini?" tanya Taehyung yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tadi ke tempat tinggalmu. Lalu seseorang yang tinggal bersamamu bilang kau sedang bekerja. Jadi aku meminta alamat, dan datang kesini. Maafkan aku," jawab Jungkook sambil tertunduk. Menyadari bahwa ia sudah lancang bertanya tentang tempat kerja Taehyung.
Taehyung langsung menggeleng dan melangkah mendekati Jungkook, "kenapa tidak bilang padaku?"
"Aku tahu kamu sibuk."
Taehyung menghela nafas pelan, "baiklah, tidak apa-apa. Apa noona dan Kookie sudah saling kenal?"
Seokjin yang sejak tadi merasa menjadi obat nyamuk, akhirnya tersenyum, "aku dan Kookie tinggal bersama. Jadi Taetae yang selama ini sering disebut Jungkookie, itu kamu?"
Taehyung mengangguk.
"Jika saja aku tahu, sudah dari dulu aku membawa dia kesini. Dia selalu menolak menunjukkan fotomu, jika kutanya."
Taehyung tertawa, membayangkan wajah Jungkook saat menolak menunjukkan foto dirinya pada Seokjin. Dan Jungkook langsung mengerucutkan bibirnya karena menjadi bahan pembicaraan kedua orang di hadapannya.
"Kelincimu benar-benar manis ya, Byuntae," ujar seseorang yang sedang berdiri di pintu dengan nada mengejek pada Taehyung.
"Yak noona, berhenti memanggilku Byuntae," amuk Taehyung kesal. Yang hanya dibalas dengan tawa oleh orang-orang yang ada di ruang staff.
"Kau baru boleh pulang 2jam lagi, pergi bekerja. Aku ingin mengobrol dengan kelincimu ini," titah Yoongi dengan nada penuh arti yang membuat Taehyung merinding. Yoongi dan rasa penasarannya adalah hal yang mengerikan.
Taehyung ingin meminta izin dengan memohon pada Yoongi. Dia tidak ingin Jungkook terjebak bersama Yoongi yang sedang penasaran. Baru saja Taehyung ingin berucap sambil berlutut -mungkin- pada Yoongi yang terlihat seperti macan--
"Aku bercanda. Pergilah."
--galak, ralat, tapi seperti gadis manis. Taehyung langsung memeluk Yoongi, "terima kasih, noona."
"Jauh-jauh dariku, Byuntae sialan."
.
.
.
Taehyung dan Jungkook sedang berjalan di taman dekat kafe dalam diam. Sesekali Jungkook melihat sekitar, mengusir rasa bosan karena berjalan dalam keheningan. Mereja menemukan sebuah bangku kosong di dekat kolam, dan memilih untuk duduk disana.
Taehyung menggaruk tengkuknya dengan gusar. Tidak menyukai keheningan yang tercipta. Tapi ia juga bingung harus berbicara apa.
"Uhh, maafkan aku. Karena tidak pernah menghubungimu," ujar Taehyung akhirnya setelah terdiam dalam keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.
Jungkook mengangguk, meski ia sadar Taehyung tidak akan melihat gerakan kepalanya. Karena Taehyung sibuk menatap kakinya yang terbalut sepatu butut yang mungkin sudah lama tidak ia cuci.
"Apa saja yang Jimin katakan padamu?"
"Bukan hal penting. Cuma basa-basi," bohong Taehyung. Taehyung bukannya takut Jungkook akan mengamuk pada Jimin karena pembicaraan mereka. Taehyung cuma takut Jungkook akan kecewa padanya, bahwa dalam hatinya ia masih memikirkan untuk pergi menjauhi Jungkook lagi.
"Aku tahu Taetae berbohong."
Betapa pintarnya gadis kelinci itu, membuat Taehyung bergidik ngeri. Sempat lupa bahwa gadis disampingnya mungkin saja keturunan cenayang yang bisa tahu ia berbohong atau tidak.
"Hanya pembicaraan tidak penting, Kookie."
"Lalu kenapa Taetae tidak pernah mau bertemu denganku lagi?"
"Kamu tahu kehidupanku bagaimana sekarang. Aku sibuk mencari uang disana-sini. Terus belajar demi mempertahankan beasiswa di kam-- upss," sepertinya Taehyung tanpa sadar telah membocorkan bahwa ia sedang berkuliah saat ini.
Jungkook langsung menatap Taehyung dengan pandangan kesal, "jadi Taetae selama ini kuliah juga? Dimana? Jangan-jangan Byun Taehyung yang di maksud teman Jimin itu Taetae?"
Taehyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menghindari tatapan kesal dari Jungkook yang mengarah padanya.
"Maafkan aku. Aku ada didekat kalian, saat kalian berbicara dengan Jongin sunbae."
Beberapa pukulan kesal dilayangkan Jungkook ke tubuh Taehyung, "Taetae menyebalkan."
"Aku minta maaf, Kookie."
"Lanjutkan cerita tadi," titah Jungkook masih dengan ekspresi kesalnya yang menggemaskan.
"Oke, jadi aku harus terus belajar untuk mempertahankan beasiswaku. Lalu mencari uang disana-sini. Jika ada waktu kosong, kugunakan untuk duduk di perpustakaan selama mungkin. Sepulang dari kafe, aku tidak langsung pulang kerumah. Aku masih harus menjadi pengantar pizza hingga dini hari. Hanya tertidur beberapa jam, lalu terbangun di pagi hari untuk mengantar susu dan koran. Aku tidak punya waktu lebih untuk mengajakmu jalan-jalan atau bertemu. Aku bahkan tidak yakin bisa mengajakmu keluar dengan kondisiku yang seperti sekarang. Jadi kupikir Kookie akan lebih sering bersama Jimin dan bersenang-senang."
Jungkook berdecak kesal setelah mendengar cerita Taehyung. Ia tahu Taehyung hanya jenius dalam pelajaran, tapi jalan pikirannya terkesan idiot.
"Aku kan bisa mengunjungi flat Taetae. Atau pergi makan siang bersama di kantin kampus. Atau juga pergi ketempat kerjamu. Taetae pikir aku itu hanya suka jajan saja?"
"Sayangnya, itu benar. Kookie kan suka makan."
"Aku sedang tidak bercanda, Taetae. Dan apa itu tadi, hanya tidur beberapa jam? Manusia butuh setidaknya 7-8 jam untuk tidur. Aku akan datang ke flat Taetae setiap pagi, jadi pastikan pulang setelah mengantar susu dan koran."
Taehyung menatap tidak percaya, "untuk apa? Setelah mengantar susu, aku langsung kepasar untuk membantu Hoseok hyung."
Jungkook menjitak kepala Taehyung dengan pelan, "lihat, Kookie yakin Taetae tidak akan ingat sarapan. Tidak ada bantahan. Jika kabur, aku akan mencari Taetae dan menarik Taetae pulang untuk sarapan."
"Kenapa semua orang sangat suka menjitak kepalaku. Tapi aku memang langsung kepasar, aku tidak enak pada Hoseok hyung. Dia banyak membantuku."
Jungkook menghela nafas dengan keras, "baiklah-baiklah. Aku yang akan mencari Taetae kepasar dan membawakan sarapan."
Baru saja Taehyung ingin menolak, Jungkook sudah memberikan penyataan tegas, yang mau tak mau harus dituruti.
"Tidak ada penolakkan."
.
.
.
Awalnya Taehyung yakin bahwa Jungkook tidak akan datang kepasar pagi itu. Masih pukul 7 pagi saat itu, dan Taehyung langsung menatap tak percaya pada sosok gadis yang berdiri dihadapannya sambil membawa tas berisi kotak makanan.
Jungkook dan bangun pagi, adalah satu kesatuan yang tidak bisa disatukan. Jungkook yang lebih sayang pada gulingnya, daripada bangun dipagi hari untuk menghirup udara segar. Kini berdiri dihadapannya sambil tersenyum menang.
Bahkan Seokjin yang baru saja bangun dan hendak membuat sarapan, langsung melongo tak percaya ketika melihat sosok kelinci gembul yang sedang bersenandung, berdiri di dapur.
Dan sosok itu sedang membuat sarapan, saat waktu masih pukul 6 pagi.
Seokjin bahkan sampai menempelkan tangannya di dahi Jungkook, dan yakin bahwa Jungkook tidak sedang sakit.
"Wow, Kookie berhasil bangun pagi," ujar Taehyung sambil bertepuk tangan bak anjing laut di kebun binatang.
"Siapa dulu dong, Kookie," ujar Jungkook dengan nada bangga.
"Omong-omong, yang tadi itu bukan pujian," tambah Taehyung sambil tersenyum menyindir dan di beri hadiah cubitan kesal dari Jungkook di pinggangnya.
Taehyung merintih kesakitan, cubitan Jungkook memang tidak main-main.
"Eh, nona yang kemarin mencari Kim Taehyung," ujar Hoseok yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka sambil menunjuk Jungkook.
"Halo, oppa," salam Jungkook dengan nada sopan.
"Sudah bertemu dengan Kim Taehyung?" tanya Hoseok lagi yang membuat Jungkook melihat kearah Taehyung dengan pandangan bingung.
Taehyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Kim Taehyung itu nama lahirku, hyung."
"Hah? Kukira nama aslimu Byun Taehyung. Aku merasa dibohongi," ujar Hoseok dengan ekspresi sedih.
"Jangan berlebihan, hyung."
"Cuma bercanda. Sarapan yang banyak, dia jarang sekali sarapan," ujar Hoseok dengan nada jahil, sambil melangkah pergi untuk mengurus perkerjaan miliknya yang tertunda.
Jungkook langsung menatap Taehyung dengan tatapan uang sulit di artikan, ketika mendengar ucapan Hoseok. Membuat Taehyung langsung memasang wajah seolah meminta maaf, sambil tersenyum.
"Ayo sarapan."
.
.
.
TO BE CONTINUED
Hello, im back. Maaf karena baru mengupdate lanjutannya.
Gw terlalu sibuk untuk mengurus segala hal dalam beberapa waktu ini. Sekarang juga masih lumayan sibuk, mendekati natal soalnya. Gw sedang pulang ke rumah, karena sudah lama sekali tidak natal di rumah dg keluarga. Jadi lumayan sibuk, tapi tidak sesibuk kemarin-kemarin. So, gw masih bias mengetik lanjutan ff ini. Ff lain akan gw update secepatnya juga. Diusahakan sebelum Natal.
Thanks udah menunggu ff gw.. itupun kalau ada yang menunggu.
Thanks udah membaca ff gw. I love you.
