HALF OF MY HEART

Kyuhyun and Sungmin

KyuMin

They belong to each other

The storyline is mine

PLAGIARISM IS NOT ALLOWED

Casts: Super Junior, Dongbangshinki, Sonyeosidae

Genre: Drama, Romance, little Angst

WARNING: BOYS LOVE, IF YOU READ DON'T BASH, TYPO

Cast:

Cho Kyuhyun (17 th)

Lee Sungmin (17 th)

Tan Hangeng (18 th)

Kim Youngwoon (18 th)

Kim Heechul ( 20 th)

Kim Kibum (17 th)

Park Jungsoo (20 th)

Shin Donghee (19 th)

Lee Hyukjae (17 th)

Kim Jongwoon (19 th)

Choi Siwon (18 th)

xxx

Valentine days...

Harusnya hari ini akan berjalan biasa saja jika Sungmin tidak bertemu Kyuhyun lagi. Sungmin tidak tahu bagaimanapun upayanya untuk menghindari Kyuhyun, ia pasti akan bertemu dengan Kyuhyun. Sungmin tidak membenci Kyuhyun sampai ia harus menghindari anak itu, tetapi ia tahu Kyuhyun membenci eksistensi dirinya entah apa sebabnya. Padahal ia baru sebulan masuk ke sekolah ini.

Ini adalah jam istirahat, sebelum istirahat Sungmin mempunyai kelas bahasa yang berada di laboratorium bahasa dan mengharuskannya memakai sepatu dalam ruangan. Sehingga ia memerlukan untuk mengganti sepatunya sekarang. Ketika ia membuka loker pribadinya, sudut matanya menangkap Kyuhyun yang sedang berjalan ke arahnya dengan tangan yang penuh oleh tas karton berwarna pink dan coklat bar dengan hiasan pita yang cantik. Sungmin mencoba untuk tidak mempedulikan itu. Tetapi ia tidak tahu bahwa letak loker pribadi Kyuhyun bersebelahan tepat dengan lokernya. Sungmin tetap mengabaikan itu, ia merapikan sedikit isi lokernya dan hendak menutupnya ketika Kyuhyun melongokkan wajahnya ke lokernya.

"Kau tidak mendapat coklat dari penggemarmu hari ini?" tanya Kyuhyun dengan nada yang menyebalkan.

"Bukan urusanmu aku mendapatkan coklat atau tidak," jawab Sungmin singkat, mengunci lokernya dan bersiap akan pergi dari sana.

"Ahh benar, coklat hanya diberikan oleh anak perempuan kepada anak lelaki yang disukainya. Sedangkan yang menyukaimu kan lelaki semuanya, jadi sabar saja mungkin di white day kau akan banjir permen dan coklat," sindir Kyuhyun yang tetap sibuk menjejalkan hadiahnya di loker miliknya.

"Hentikan!"

"Atau mungkin kau tidak mendapat coklat dari anak perempuan karena mereka tahu kau dilahirkan sebagai perempuan oleh ibumu, kemudian kau operasi kelamin dan tumbuh menjadi anak lelaki," Kyuhyun mengabaikan permintaan Sungmin sembari tetap fokus dengan lokernya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Sungmin hingga...

BRAKKK

Mulut Kyuhyun menganga sempurna dengan jantung hampir jatuh ke lantai saat meihat loker di sebelahnya – loker Sungmin – hancur oleh tendangan Sungmin. Seluruh tubuhnya kaku menghadapi kekuatan Sungmin yang sedang marah, kaki kanan Sungmin masih bertengger dengan kuat di lokernya sendiri. Dengan pelan Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin. Mendapati wajah yang sebenarnya manis itu merah padam hingga telinga, matanya menampakkan kemarahan yang pekat, rambut yang biasa tertata rapi dan klimis menjadi terurai ke depan mungkin karena kuatnya ia menendang tadi.

"Apa yang kau lakukan, kau merusak fasilitas sekolah?" tanya Kyuhyun pelan, mulutnya masih kelu sebenarnya.

Terlihat Sungmin mengatur napasnya, menurunkan kakinya dan membenarkan rambutnya sedikit. Kemudian Sungmin memejamkan matanya, sementara Kyuhyun hanya diam seakan menunggu jawaban Sungmin. Ini bukan kebiasaan Kyuhyun untuk menunggu Sungmin berbicara sesuatu, tapi entahlah ia merasa harus menunggu.

"Aku bilang berhenti, tapi kau terus mengatakan omong kosong. Jangan pernah mengangguku Cho Kyuhyun, kita tidak saling mengenal tolong berhentilah, aku tidak tahu hingga kapan aku bisa menahan diri," lirih Sungmin kemudian berlalu dari hadapan Kyuhyun.

Membiarkan lokernya berantakan dengan pintu yang sudah hancur dan barang-barang pribadinya yang berserakan. Kyuhyun memandang kekacauan di hadapannya dengan pandangan kosong. Merasa bersalah karena sudah berbicara keterlaluan, tetapi kemudian matanya tertuju pada satu foto milik Sungmin yang tergeletak di depan kakinya. Kyuhyun memungutnya, memandanginya sebentar kemudian meremasnya hingga tidak terbentuk dan membawanya ke saku celananya. Merasa percuma ia sempat merasa bersalah kepada Sungmin.

"Kyuhyun-ah, kami menunggumu di kantin mengapa diam disitu?" Kyuhyun akan berbalik ketika ia mendengar suara Hangeng memanggilnya, dan ia tidak sempat berbicara apapun saat Hangeng dan Kangin sudah berdiri di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan, kenapa bisa seperti ini," Kangin terkejut melihat loker yang sudah hancur di hadapan Kyuhyun. Dan Kyuhyun hanya terdiam.

"Kau yang melakukannya?" tanya Kangin lagi.

Kyuhyun menggeleng, "Tolong rapikan semua barang di loker itu dan berikan kepada Sungmin, Kangin hyung. Sisanya biar aku yang mengurus."

Mengabaikan kedua sahabatnya, Kyuhyun pergi dari ruang loker. Merasa membutuhkan ketenangan saat ini juga. Dengan bergegas ia pergi ke danau sekolah yang berada sedikit jauh di area halaman belakang sekolah. Tidak akan ada seorang pun siswa yang mau membuang waktunya di tempat yang gelap karena perdu pepohonan yang menutup langit. Dan di sanalah Kyuhyun termenung, membuka lagi satu bagian hidupnya yang ia tutup rapat dan menyingkirkan jauh dari ingatannya. Tapi semua itu tidak mungkin jika sang lakon utama di masa lalunya malah ada di depan matanya.

Kyuhyun mengambil foto di saku celananya, foto yang sudah demikian kusut hingga tidak menyisakan hal apapun. Tetapi Kyuhyun masih mengenali 2 wajah di foto itu. Kyuhyun bahkan masih sangat ingat momen-momen yang terjadi saat foto itu diambil. Momen ketika Sungmin berulang tahun yang ke-15 dua tahun lalu.

.

.

.

Jika Kyuhyun bukan anak lelaki, ingin rasanya ia menangis saat ini juga. Atau jika ia lebih besar dari anak lelaki yang berusia 13 tahun, mungkin Kyuhyun bisa mendobrak pintu mobilnya kemudian lompat dari mobil. Apapun akan ia lakukan asal perjalanannya menuju asrama sekolah barunya terhenti, ia akan sangat bersyukur jika itu akan batal sama sekali. Tetapi semua itu tidak mungkin, ia hanya anak berusia 13 tahun yang semua kebutuhannya masih dipenuhi asisten pribadinya, di sekolah pun ia selalu dijaga 2 sahabatnya yang ia anggap kakak kandung, Hangeng dan Kangin.

Tetapi semua fasilitas itu akan berhenti mulai sekarang, ia tidak lagi memiliki asisten pribadi yang bahkan akan sabar menggosok giginya di pagi hari karena ia masih mengantuk. Juga tidak akan ada Hangeng dan Kangin yang akan mengiringinya kemanapun. Dan ia membenci ayahnya atas penderitaan yang akan ia alami sebentar lagi.

Dengan alasan agar Kyuhyun mandiri, dan bisa menggantikan posisi ayahnya nanti, Cho Yeunghwan mengirim Kyuhyun ke sekolah tingkat pertama khusus siswa laki-laki dan tinggal di asrama. Ia tahu bahwa semua itu hanya alasan ayahnya karena ia selalu merengek ketika sang ayah tidak bisa hadir di pertemuan orangtua, atau ketika ia menjuarai olimpiade Matematika siswa sekolah dasar tingkat nasional tetapi tidak ada orangtuanya menemaninya menerima trophy kemenangan. Ia yakin, ayahnya ingin menyingkirkan anak manja sepertinya.

Jauh di dasar hatinya sebenarnya Kyuhyun takut akan apa yang ia hadapi nanti. Ia sering menonton film tentang sekolah berasrama, yang kebanyakan siswanya membentuk gank-gank. Dan jika ada anak yang tersisih, tidak memiliki teman, manja, tidak menonjol maka akan menjadi bulan-bulanan oleh anggota gank. Ketika siswa itu sudah berubah menjadi mengenaskan, maka sang ketua gank akan meludahi wajahnya, menendang perutnya kemudian mengunci sang siswa di toilet asrama yang pengap dan kotor. Kyuhyun tidak mau itu terjadi padanya, mengingat deskripsi tentang siswa payah yang tidak akan direkrut oleh gank manapun, sangat melekat pada dirinya. Ia tidak memiliki teman di sekolahnya dulu, selain Hangeng dan Kangin. Mengingat semua kebutuhannya selalu dipenuhi asisten pribadi, sudah dipastikan Kyuhyun adalah anak yang manja. Ia juga bukan siswa yang menonjol jika saja ia tidak memiliki otak cemerlang.

Mobil berhenti di depan gerbang dengan pengamanan yang canggih, Kyuhyun memejamkan matanya, merasa bahwa ini adalah hari terakhir ia bisa merasakan bahagia untuk terakhir kalinya. Ketika mobilnya sudah memasuki gerbang dan berjalan melintasi halaman asrama, ia semakin memejamkan matanya. Sampai mobilnya berhenti, dan sang sopir membuka pintu mobil untuknya. Kyuhyun masih memejamkan matanya, tidak mau menghadapi kenyataan apapun.

"Tuan Muda kita sudah sampai," panggil sang sopir karena Kyuhyun tak kunjung keluar dari mobilnya.

Tetapi tetap tidak ada reaksi apa-apa dari Kyuhyun. Membuat sang sopir melongokkan kepalanya melihat keadaan Kyuhyun, dan tertawa setelahnya. Ia mendengar dari asisten pribadi Kyuhyun, yang sudah mengasuh tuannya sejak lahir itu, bahwa Kyuhyun menyimpan banyak ketakutan pada sekolah barunya. Maka dengan lembut ia meraih lengan Kyuhyun, tetapi tuannya itu tetap berjengit kaget.

"Kyuhyun-ah kita sudah sampai, bukalah matamu ini sangat indah," panggil sang sopir lagi, kali ini tanpa embel-embel 'tuan muda' lagi. Biasanya panggilan ini menghapus jarak antara sopir dan majikan di antara mereka, dan membuat Kyuhyun mau membuka perasaannya kepadanya.

Benar saja, Kyuhyun membuka matanya dan memandang sang sopir penuh harap.

"Jung Hoon ahjussi kita pulang saja," pinta Kyuhyun dengan mata memelas.

"Tidak, jadilah anak lelaki yang tangguh Kyuhyun-ah, ahjussi sudah menceritakanmu tentang ksatria-ksatria di Three Muskeeters bukan? Jadilah seperti mereka, hadapi apapun yang harus kau hadapi," dengan tegas Jung Hoon menolak permintaan Kyuhyun.

"Turunlah, lihatlah ini tidak seperti bayanganmu. Asramamu sangat megah," lanjut Jung Hoon bersemangat, membuat Kyuhyun penasaran dan memutuskan untuk keluar dari mobil meski penuh keraguan.

Ketika Kyuhyun sudah keluar dari mobil, Jung Hoon mendongakkan kepala Kyuhyun untuk melihat pemandangan di depannya karena Kyuhyun terus menunduk daritadi. Kyuhyun tercengang melihat gedung di depannya, itu tidak seperti yang ia bayangkan bahwa sekolah berasrama pasti terdiri dari 3 tingkat dengan bentuk bangunan yang kaku dan suram. Tapi gedung di depannya ini seperti hotel berbintang, berbelas-belas lantai yang megah. Kyuhyun masih mengagumi gedung asramanya ketika Jung Hoon menggandengnya menuju lobi. Kyuhyun semakin berdecak kagum melihat arsitektur di dalam lobi yang jauh dari kesan menegangkan seperti di benaknya. Ini sangat keren.

Kyuhyun melirik sekilas kepada Jung Hoon yang sibuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada petugas lobi. Beberapa siswa berlalu lalang di hadapannya, mereka sangat rapi dan ramah karena beberapa tersenyum kepada Kyuhyun. Jauh dari kesan gangster di kepala Kyuhyun. Tidak ada siswa dengan baju berantakan dan tatanan rambut yang aneh. Sepertinya mereka menyenangkan.

"Sungmin! Kau Lee Sungmin bukan?" Kyuhyun menoleh kepada petugas yang sedang berbincang dengan Jung Hoon tadi, petugas itu memanggil satu siswa yang sedang melintas sendirian.

"Iya saya Lee Sungmin, Pak," jawab anak itu.

"Baiklah kemarilah, dan Cho Kyuhyun kau bisa kemari juga, Nak," petugas itu juga memanggilnya. Maka Kyuhyun berjalan mendekati petugas itu. Sedikit melirik pada siswa yang dipanggil Lee Sungmin tadi.

"Cho Kyuhyun akan menjadi teman sekamarmu, Sungmin. Kau bisa mengajaknya ke kamar kalian bukan?" tanya petugas itu kepada Sungmin.

"Tentu saja, Pak," jawab Sungmin bersemangat, kemudian ia beralih menatap Kyuhyun. Membuat Kyuhyun salah tingkah dengan mata bersinar milik anak lelaki itu.

"Hallo, aku Lee Sungmin. Kita akan menjadi teman sekamar, mohon dukungannya," Sungmin membungkuk di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun ingin tertawa karena seharusnya ia yang mengatakan itu.

"Hallo, aku Cho Kyuhyun. Senang berkenalan denganmu," Sungmin membungkuk lagi ketika Kyuhyun membungkuk padanya, anak ini sepertinya lumayan menyenangkan pikir Kyuhyun.

"Nah baiklah Sungmin, ajak Kyuhyun ke kamarmu ya? Kami akan memeriksa bawaan Kyuhyun dulu dan akan mengirimnya ke kamar kalian," perintah petugas asrama kepada Sungmin. Sungmin mengangguk kemudian dengan isyarat matanya mengajak Kyuhyun untuk mengikutinya.

Kyuhyun mengikuti Sungmin dengan antusias, ia bahkan lupa untuk berpamitan kepada Jung Hoon. Membuat Jung Hoon tersenyum akan itu, padahal anak itu tidak mau membuka matanya karena ketakutan sesaat lalu. Sungmin menekan tombol untuk memanggil lift. Kyuhyun mengamati Sungmin yang terlihat casual dengan topi hitam, jaket hitam, celana sebatas betis dan sandal jepit berwarna pink. Kyuhyun sedikit khawatir dengan gaya pakaian Sungmin, karena meskipun ini adalah pengujung musim dingin tetapi suhu kota masih mencapai 15 derajat celcius. Kyuhyun saja masih rapat mengenakan sweater, tetapi Sungmin bahkan tidak menarik risleting jaketnya hingga menutupi dadanya.

"Apa kau tidak dingin?" tanya Kyuhyun.

"Huh?" Sungmin memandang Kyuhyun tidak mengerti.

"Kau berpakaian seperti itu, apa tidak dingin?" Kyuhyun memperjelas pertanyaannya.

Sungmin mengamati dirinya sendiri, kemudian membandingkan penampilannya dengan Kyuhyun. Bibirnya mengerucut lucu ketika menyadari perbedaan penampilan mereka.

"Oh maksudmu ini ya? Aku berasal dari distrik Seodaemun, dekat dengan puncak gunung Inwangsan. Membuatku terbiasa dengan udara dingin," terang Sungmin,

"Begitu rupanya," tepat ketika Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, denting lift berbunyi dan pintunya terbuka. Sungmin masuk ke dalam lift, diikuti oleh Kyuhyun.

"Kamar kita ada di lantai 8 nomor 23. Jika kau lupa kau cukup mengingat angka 2308, karena angka itu yang tertera di loker kita," Kyuhyun mengangguk dengan informasi yang diberikan Sungmin.

Sisa perjalanan mereka habiskan dengan diam, Sungmin tidak terlihat seperti anak yang suka banyak berbicara meskipun ia memiliki perawakan wajah yang ceria. Sedangkan Kyuhyun sebenarnya juga tidak pernah nyaman dengan orang baru, tetapi Sungmin berbeda dengan orang lainnya. Ia tidak berusaha sok akrab dengan Kyuhyun, seperti masih menjaga privasi masing-masing dan Kyuhyun melihat memang seperti itulah karakter Sungmin. Bukan karena mereka baru bertemu.

.

.

.

Ini adalah setahun tepat Kyuhyun dan Sungmin sekolah di tempat yang sama, dan berbagi kamar. Meski mereka tidak sekelas, tetapi sudah terkenal di penjuru sekolah dan asrama bahwa Sungmin milik Kyuhyun, dan tidak boleh ada yang mengusik itu. Tidak ada satu pun siswa yang berani mengajak Sungmin pergi makan siang atau berolahraga sore bersama, karena pasti akan berakhir dengan omelan penuh intimidasi dari mulut tajam Kyuhyun.

Pada awal tahun ajaran, Kyuhyun dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak ramah. Tidak suka bergaul dan berbasa-basi dengan orang baru. Hanya ada satu orang yang bisa berada di dekatnya, yaitu Sungmin. Sedangkan Sungmin meski juga pendiam dan jarang memulai pembicaraan, tetapi akhirnya ia akan menyenangkan untuk diajak mengobrol. Ia juga tipe orang yang perhatian dengan teman-temannya, membuatnya banyak disayangi teman setingkatnya. Tetapi Kyuhyun tidak suka itu, dan selalu mengusir siapapun yang mengalihkan perhatian Sungmin darinya. Membuat image Kyuhyun yang tadinya sebagai anak pendiam dan tidak ramah, menjadi anak menyebalkan dan sama sekali tidak ramah. Tetapi Kyuhyun tidak mempedulikan hal itu, selama ada Sungmin di sisinya.

Ini hampir mendekati liburan musim panas, semua siswa sudah sibuk mempersiapkan liburannya atau pulang ke kampung halaman masing-masing. Tetapi sama sekali tidak ada pergerakan dari Kyuhyun dan Sungmin, ketika semua temannya berkerumun membicarakan rencana liburan mereka Kyuhyun dan Sungmin sama-sama tidak memiliki rencana apapun.

Dan ketika libur musim panas benar-benar tiba, Kyuhyun dan Sungmin tetap bertahan di asrama sekolah dengan beberapa siswa dan petugas asrama yang tersisa. Orangtua Kyuhyun sebenarnya sudah berniat menjemput Kyuhyun di asramanya yang terletak di Daegu itu, tetapi ketika mengetahui bahwa Sungmin tidak bisa pulang ke rumahnya maka Kyuhyun melarang ayahnya untuk menjemput. Sungmin pernah bercerita bahwa sejak kecil, ia mengetahui jika keluarganya tidak bisa berkumpul selayaknya keluarga lainnya karena itulah akan percuma jika Sungmin pulang ke rumah pribadinya karena hanya akan bertemu dengan pegawai ayahnya lagi dan lagi. Sementara ibunya tinggal terpisah dengan adik laki-lakinya, dan ayahnya yang tidak tetap tempat tinggalnya sesuai dengan tempat bertugasnya yang berpindah-pindah. Ketika Kyuhyun bertanya apa pekerjaan ayah Sungmin, Sungmin hanya menjawab agen rahasia. Antara percaya dan tidak, tetapi Kyuhyun tidak mau menanyakan itu lagi karena Sungmin terlihat tidak nyaman membicarakan itu.

"Sungmin-ah, apa kau pernah berpacaran?" tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin sibuk dengan bacaan majalah fashionnya, sementara Kyuhyun sudah bosan merakit robotiknya. Tetapi pertanyaan Kyuhyun kali ini menurut Sungmin sangat tidak berbobot.

"Tidak pernah," jawab Sungmin malas.

"Tidak pernah? Lalu gadis yang rutin datang untukmu sebulan sekali dengan membawa cake dan coklat kesukaanmu itu siapa?"

Sungmin memandang Kyuhyun dengan pandangan menyelidik.

"Kau hanya ingin tahu tentang Kwon Yuri saja pertanyaannya berputar-putar seperti ini," cibir Sungmin.

"Tidak, aku serius. Kau tidak pernah menceritakan tentang gadis itu sementara kau menceritakan apapun padaku," terang Kyuhyun.

Sungmin menutup majalahnya, kemudian beralih duduk di karpet bersandar pada tempat tidurnya. Kyuhyun pun turut beringsut duduk di sebelah Sungmin.

"Kwon Yuri itu anak sahabat ibuku, dia tidak mempunyai teman lain selain aku. Jika kau menempel padaku sekarang, maka dulu ketika di sekolah dasar dia lah yang menempel padaku. Maka wajar saja jika dia datang menemuiku meski Seodaemun dan Daegu sangat jauh, dia tetap ingin bertemu denganku meski hanya sebulan sekali," cerita Sungmin sambil mengingat sosok Yuri.

"Kau...melihat Yuri sebagai adikmu atau sebagai teman perempuanmu?" tanya Kyuhyun sedikit ragu.

"Aku menganggapnya seperti adikku, meski ia hanya beberapa bulan lebih muda dariku," jawab Sungmin, tepat setelah ia menjawab itu ia mendengar helaan nafas lega dari Kyuhyun, samar.

"Apa kau pernah berciuman?" cukup lama mereka terdiam tidak ada pembicaraan apapun, tiba-tiba Kyuhyun bertanya hal yang aneh lagi menurut Sungmin.

"Apa kau pikir anak 14 tahun pernah berciuman?" Sungmin bertanya sarkatis.

"Tidak, maksudku kita sering menonton film dan drama yang ada adegan ciuman. Kau tidak penasaran dengan itu?" tanya Kyuhyun lagi.

"Sesekali aku penasaran, tetapi aku tidak sering menonton drama."

"Kau ingin mencobanya?"

"Mungkin aku ingin mencobanya."

"Kau ingin mencobanya denganku?"

"Mungkin...eh apa?"

Sungmin beralih menatap Kyuhyun dengan ekspresi horor di wajahnya. Sedangkan yang ditatap berdehem berkali-kali salah tingkah.

"Umm maksudku, aku bermimpi bergandengan tangan dan berciuman dengan entah siapa beberapa waktu lalu. Dan aku penasaran dengan rasa ciuman itu sebenarnya seperti apa," dengan salah tingkah dan terputus-putus Kyuhyun memberi penjelasan kepada Sungmin.

Sungmin hanya diam, terlihat berpikir atau mungkin merasa muak dengan penjelasan Kyuhyun. Yang pasti itu semakin membuat Kyuhyun salah tingkah dan tidak enak, menyesal sudah membahas tema ini.

"Kita bisa mencobanya mungkin," jawab Sungmin, kali ini Kyuhyun yang memandangnya dengan ekspresi horor.

"Aku serius, aku juga pernah mengalami mimpi sepertimu dan aku juga penasaran. Karena tidak ada siswa perempuan yang bisa kita dekati saat ini, hanya ada kau di hadapanku, mungkin kita bisa mencobanya," lanjut Sungmin.

Tetapi Kyuhyun hanya terdiam dengan mata yang masih terbelalak kaget, membuat Sungmin gemas karenanya. Kemudian tanpa perhitungan, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyuhyun. Kyuhyun yang lebih tinggi dengannya meski dalam posisi duduk sekalipun, membuatnya harus mendongakkan wajahnya. Dan tiba-tiba, entah keberanian datang darimana Sungmin mengecup bibir Kyuhyun. Hanya sesaat, kecupan yang hanya menempel 2 detik saja. Tetapi itu membuat wajah Sungmin memerah sempurna. Dengan canggung, Sungmin berdiri dari duduknya. Buru-buru memasang sepatu olahraganya.

"Hari sudah sore, ini sudah tidak panas lagi. Aku akan jogging sebentar," pamit Sungmin sambil membuka pintu kamar mereka.

Ketika pintu sudah tertutup, Kyuhyun tersadar dari rasa terkejutnya. Buru-buru Kyuhyun juga mengenakan sepatu olahraganya, keluar dari kamar dan mengejar Sungmin yang sudah meninggalkannya. Tetapi ketika ia sudah sampai di depan lift, lift yang sepertinya dinaiki oleh Sungmin sudah tertutup pintunya. Membuat Kyuhyun harus menunggu dengan sabar. Kyuhyun menatap refleksi dirinya di pintu lift yang menampakkan bayangannya meski samar, kemudian meraba bibirnya. Meski Sungmin mengecup bibirnya hanya sesaat, tetapi ia bisa merasakan bibir Sungmin yang begitu lembut. Ia tidak berciuman sebelumnya, mungkin dengan ibunya tetapi rasanya sangat berbeda. Kulit pipi Sungmin semakin terasa halus ketika itu menempel pada kulit pipi Kyuhyun. Mata Sungmin yang biasanya bersinar terlihat semakin cemerlang menatap matanya. Dan lebih dari itu, ia merasa jantungnya berdebar bahkan hingga lebih dari 5 menit Sungmin mengecupnya. Kyuhyun memegang dadanya, debarannya bahkan masih kuat.

"Aku bisa mati jika begini," gumam Kyuhyun, kemudian mengatur napasnya untuk menurunkan detak jantungnya.

Pintu lift terbuka tepat setelah Kyuhyun berhasil menormalkan detak jantungnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam lift, kali ini Kyuhyun tidak bisa sabar. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai lift. Mungkin Sungmin sudah berlari entah sampai mana, ia hanya berharap semoga Sungmin jogging di rute yang biasa mereka lewati. Karena halaman asrama yang berhektare-hektare luasnya, tentu akan sulit untuk mencari Sungmin jika anak itu mengambil rute yang berbeda. Kyuhyun berlari dengan kencang ketika pintu lift yang mengantarkannya di lantai 1 terbuka, meski berlarian di lobby adalah terlarang. Kyuhyun tidak lagi memikirkan tentang sangsi dan pengurangan poin, ia hanya ingin mengejar Sungmin.

Kyuhyun terus berlari hingga rasanya nafasnya telah habis, tetapi ia tetap tidak bisa mengejar Sungmin di rute yang biasa mereka lewati. Padahal kecepatan lari Kyuhyun kali ini lebih cepat daripada biasanya. Kyuhyun membungkukkan badannya, mengambil nafas dalam-dalam. Kakinya sudah sangat pegal, ia membutuhkan istirahat. Maka ia berjalan menuju lapangan tenis, ada tribun di sana. Mungkin ia akan bisa menemui Sungmin sekembalinya ia ke kamar nanti. Kyuhyun meminum air dari kran di pinggir lapangan, kemudian berjalan menuju tribun dan mengambil posisi berbaring menghadap plafon tribun. Kyuhyun mengatur nafasnya dengan lengan yang menutupi matanya, hingga rasanya matanya memberat, Kyuhyun mengantuk.

"Kyuhyun-ah," Kyuhyun akan tertidur ketika ia mendengar suara lembut memanggil namanya.

Kantuk Kyuhyun seketika hilang saat ia mendengar suara itu, matanya terbuka dan ia terduduk memutar tubuhnya mencari sumber suara yang ternyata ada di belakangnya.

"Sungmin, kenapa disini?" tanya Kyuhyun, ternyata itu Sungmin yang memandangnya dengan bingung.

"Aku tadi jogging, kemudian pelatih Jo memintaku untuk merapikan bola tenis jadi aku kemari," jawab Sungmin.

"Ah aku mencarimu, aku pikir kau kemana," sahut Kyuhyun, menarik pergelangan tangan Sungmin utnuk duduk di sebelahnya.

Sungmin menurut, kali ini tidak seperti biasanya yang Sungmin akan bercanda dan berceloteh ketika ia bersama Kyuhyun. Ia hanya diam, membuat suasana menjadi canggung. Tetapi Kyuhyun tidak mempedulikan itu, matanya sibuk menatap bibir Sungmin. Kadang Sungmin mengerucutkan bibirnya, kadang menggigit bibir bawahnya, atau tidak sengaja ia menjilat bibirnya sendiri. Semua tingkah Sungmin dengan bibirnya itu entah mengapa membuat Kyuhyun semakin hilang kendali.

"Sungmin-ah..."

"Kyuhyun-ah..."

Bersamaan mereka memanggil nama orang di depan mereka masing-masing, membuat mereka tersentak salah tingkah dan membuat jarak tubuh mereka semakin menjauh.

"Kau duluan," kata Kyuhyun memecah keheningan.

"Baiklah, umm aku...aku minta maaf karena kejadian tadi, yang membuat suasana di antara kita menjadi kaku," kata Sungmin sambil menunduk.

"Kenapa minta maaf, kau tidak perlu minta maaf," jawab Kyuhyun, membuat Sungmin bingung. Sungmin pikir Kyuhyun menjadi lebih pendiam hari ini karena jijik melihat dirinya, sesama teman lelaki berciuman bukankah itu tidak wajar?

"Jika kau ingin meminta maaf, bukan karena kau menciumku. Tapi karena cara menciummu yang salah," lanjut Kyuhyun semakin membuat Sungmin tercengang tidak mengerti.

Kyuhyun mendekatkan tubuh mereka, kemudian tangannya yang besar itu meraih rahang Sungmin yang masih tercengang dengan mulut terbuka.

"Aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara berciuman yang benar," bisik Kyuhyun. Sungmin tidak menjawab apa-apa, hanya matanya yang mengerjap bingung.

"Pejamkan matamu," Sungmin menurut, ia memejamkan matanya.

Dadanya berdebar ketika ia merasakan jempol Kyuhyun mengelus pipinya lembut. Semakin berdebar saat nafas Kyuhyun yang hangat membentur wajahnya. Aliran darah Sungmin seakan berhenti ketika bibir Kyuhyun menempel di bibirnya, Sungmin menghitungnya hingga hitungan ke tujuh dan bibir Kyuhyun masih menempel pada bibirnya, tidak ada pergerakan apapun. Sampai bibir Kyuhyun terbuka, meraup seluruh bibirnya, tubuh Sungmin melemas seakan coklat panas yang meleleh. Kyuhyun menggerakkan bibirnya di atas bibir Sungmin, Sungmin membuka matanya. Menyaksikan wajah Kyuhyun yang tidak berajarak dengan wajahnya, matanya terpejam menikmati kegiatan yang ia mulai sendiri.

Sungmin merasakan sensasi geli di perutnya, Kyuhyun menjilat bibirnya menggunakan lidahnya. Memaksa membuka bibir Sungmin, dan Sungmin hanya menurut. Membuat Kyuhyun melumat bibir atas dan bawahnya dengan posisi kepala berganti-ganti. Sungmin terlena sampai ia kembali memejamkan matanya dan menikmati cumbuan Kyuhyun di bibirnya.

Sungmin sudah lupa menghitung berapa detik ia dan Kyuhyun saling melumat, tangan Kyuhyun sudah menangkup wajah Sungmin. Tangan Sungmin tergantung di bahu Kyuhyun, sedang tangan lainnya mengelus kepala belakang Kyuhyun. Semua berjalan dengan begitu natural mengikuti keinginan hati. Kyuhyun dan Sungmin bahkan melupakan kenyataan jika mereka sama-sama laki-laki. Mereka menghapus batasan apapun dan lebih fokus kepada kegiatan yang memabukkan seperti ini.

Hingga napas Sungmin tersengal, ia melepaskan ciumannya pada Kyuhyun, menjauhkan wajah mereka. Kyuhyun tidak melawan, ia tersenyum melihat Sungmin yang tertunduk dengan wajah merah padam. Ia mengelus bahu Sungmin, meraih dagu Sungmin untuk menatapnya.

"Sungmin-ah apa yang kau rasakan?" tanya Kyuhyun, kali ini Sungmin mengutuk pertanyaan ini karena membuatnya semakin malu.

"Terasa baik," jawab Sungmin singkat, tetapi Kyuhyun tersenyum karena.

"Itu adalah ciuman pertamaku," lanjut Kyuhyun.

"Bohong!"

"Aku serius."

"Dari mana kau belajar ciuman?" dengan polos Sungmin bertanya, tetapi sebenarnya daritadi itulah yang ada di kepalanya saat Kyuhyun bisa menciumnya dengan hebat.

"Hanya dari film."

"Seharusnya anak seumur kita belum boleh menonton film seperti itu."

"Aku tidak peduli, asal kau tahu menciummu akan menjadi hobi baruku sekarang," kata Kyuhyun dengan wajah jahilnya.

"Apa? Jadi ini bukan terakhir kalinya kau menciumku?" Kyuhyun mengangguk dengan menjaga senyumnya yang menyebalkan di mata Sungmin.

"Aku tidak mau!"

"Ya kau tidak boleh begitu."

"Aku tidak mau, kataku!" Sungmin kemudian berdiri dan turun dari tribun, berlari meninggalkan Kyuhyun.

"Sungmin-ah, aku akan mencium orang lain jika kau tidak mau!" teriak Kyuhyun, membuat Sungmin menghentikan langkahnya.

Sungmin menoleh kepada Kyuhyun, dengan mata sengit penuh permusuhan. Mukanya memerah lagi, tapi Kyuhyun tahu itu bukan karena malu. Ia berjalan mendekati Sungmin yang sudah sampai di tengah lapangan tenis sebelum berhenti oleh teriakan Kyuhyun tadi.

"Kau akan mencium orang lain?" tanya Sungmin ketika Kyuhyun sudah di hadapannya.

"Mungkin saja iya, jika kau tidak mau. Karena kau tahu, aku ternyata sangat menyukai rasanya berciuman," jawab Kyuhyun.

Sungmin terdiam, tetapi Kyuhyun tahu ia sedang marah. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.

"Baiklah, ciuman sana dengan orang manapun sesukamu. Aku tidak peduli," dengan kesal Sungmin berbalik, berniat meninggalkan Kyuhyun lagi.

Tetapi Kyuhyun meraih pergelangan tangannya, memaksanya berhenti dan berbalik menghadap Kyuhyun. Sungmin menolak menatap Kyuhyun, ia hanya menunduk menatap ujung sepatunya.

"Aku tidak serius," kata Kyuhyun tidak dibalas apapun oleh Sungmin, ia tetap diam menunduk.

"Hei dengar, kau adalah ciuman pertamaku jika nanti aku berciuman dengan orang lain aku pasti akan tetap membayangkanmu, membandingkan rasanya dengan ciumanmu," jelas Kyuhyun, membuat Sungmin menatapnya.

"Tetap saja kau jahat, kau menjadikanku bahan percobaan kemudian kau akan mencium orang lain?"

"Tidak, tidak. Aku tidak akan bisa lagi berciuman dengan siapapun selain denganmu mulai sekarang."

"Tetapi kita sama-sama lelaki, Kyuhyun. Berciuman itu hanya dilakukan oleh lelaki dan perempuan."

"Siapa bilang, film yang sering ku tonton sesama lelaki berciuman."

Sungmin terbelalak kaget.

"Kau menonton film seperti itu?"

Kyuhyun mengangguk tidak memusingkan itu.

"Dengar Sungmin, mau kau adalah lelaki atau perempuan aku tetap mau hanya dirimu. Asalkan itu kau Lee Sungmin," Sungmin terdiam, ia berpikir apakah ini artinya Kyuhyun menjadikannya kekasih, atau apa? Kenapa tiba-tiba Kyuhyun yang menyebalkan berubah menjadi romantis?

CUPP

Kyuhyun mengecup bibir Sungmin sekilas, menyadarkan Sungmin dari lamunannya. Kemudian menyeret Sungmin pergi dari sana.

"Aku sudah lapar, ayo kembali ke asrama."

Sungmin menurut, sesaat ia menoleh ke belakang di tempat Kyuhyun mengecupnya tadi. Di tengah lapangan tenis, dengan sinar matahari senja yang emas kemerahan pasti siluet mereka sangat indah tadi. Sungmin tersenyum malu karenanya. Kemudian dengan langkah ringan, ia mengikuti Kyuhyun yang menggandeng lengannya.

.

.

.

Kyuhyun mengatur napasnya yang tersengal, membuka ingatan masa lalu ternyata masih menyesakkan dadanya. Membuka matanya, Kyuhyun melepas pandangannya pada danau sekolah yang sepi. Mungkin bel masuk sudah berbunyi sejak tadi, tetapi Kyuhyun tidak memikirkan itu. Ia akan membolos hari ini, terlalu lemas jika harus mengikuti pelajaran. Atau mungkin ia bahkan kesulitan berdiri kini. Kyuhyun meraih foto kusut yang terjatuh di atas rumput, memandangnya lagi.

"Lee Sungmin," bisiknya seakan memanggil sosok kecil dengan gigi kelinci yang rapi dan pipi yang putih, senyumnya yang lebar membuat pipinya semakin terlihat menggemaskan di foto itu.

"Kau sudah pergi selama 2 tahun, dan itu baik untukku. Mengapa kau kembali lagi sekarang? Kau ingin membuat hidupku kembali berantakan?" lirih Kyuhyun, pandangannya sudah mengabur.

"Aku membencimu, membenci hingga ke dalam tulangku. Jangan membalikkan hatiku dengan mudah, kau tidak berhak atas itu. Aku harus selalu membencimu, jangan tersenyum padaku. Kau hanya perlu membenciku, maka aku akan tetap membencimu, Lee Sungmin," kali ini bukan hanya mengabur, tetapi mata Kyuhyun sudah basah oleh airmatanya.

Jauh di dalam hatinya Kyuhyun merasa kesakitan yang amat dalam. Bertahun-tahun ia bertahan sendiri, menutupi lukanya dengan kesombongannya sebagai ketua black blade. Aktivitasnya dipenuhi dengan aktivitas gank pembalap di tengah kegelapan. Tetapi ketika Sungmin datang, hanya sesaat membuat Kyuhyun tertegun. Dan itu sudah meruntuhkan perlindungannya dari hati Kyuhyun sendiri. Lukanya terbuka lagi, masih terasa basah, dan nyerinya terasa hingga ke dalam jantung. Kyuhyun tidak bisa menahannya, matanya tidak lagi basah. Mulutnya pun terisak, merintih berisi kesakitan di dalam hatinya. Tangisan ini bukan sebagai bentuk penyembuhan lukanya meski hanya sedikit, tangisan ini adalah bentuk pertahanan Kyuhyun yang mulai runtuh. Kyuhyun sudah tidak bisa bertahan akan kesakitannya.

Kyuhyun tersungkur, bahkan fisiknya juga tidak mampu menahan kesakitan di hatinya. Tubuhnya tergelung memeluk dirinya sendiri di atas rumput yang tumbuh liar di pinggir danau. Pikirannya terus membuka lembaran masa lalunya dengan detail, masa yang ingin ia hapus dari hidupnya. Tetapi Kyuhyun sadar, sejauh apapun ia menghindar ingatan itu tetap melekat di kepalanya, dan sakitnya terasa hingga ke ulu hatinya. Kyuhyun menangis, meratapi kelemahan dirinya, merasa kecewa pada dirinya yang ternyata tidak memiliki kekuatan apa-apa jika dihadapkan pada Lee Sungmin.

"Kyuhyun..."

"Kyuhyun-ah..."

Kyuhyun mungkin akan hilang kesadaran, saat seseorang memanggilnya dengan ribut. Mengguncang tubuhnya dengan kencang, dan menepuk pipinya berkali-kali. Tetapi Kyuhyun tidak bisa menyahuti panggilan itu, matanya sudah semakin berat ia juga tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri.

"Kyuhyun-ah, bicara lah aku mohon," Kyuhyun bisa menangkap kecemasan dari orang yang memangku kepalanya.

"Sungmin, Lee Sungmin," rintih Kyuhyun susah payah, kemudian benar-benar hilang kesadaran.

T B C

Nah loh pingsan...nangis doang bisa pingsan? Namanya juga nangisin belahan jiwanya (eh maaf spoiler)

Nggak ada balapan di chapter ini ya, chapter depan juga kayaknya nggak ada balapan. Jadi 2 chapter saya mau flashback, chapter ini udah flashback seperti apa KyuMin di masa lalu. Chapter depan mungkin...*tiiiittt* spoiler lagi nanti.

Banyak yang kepikiran nggak, kok 14 tahun udah bisa ciuman kayak gitu? Kok umur segitu perasaannya udah dalem sedalem-dalemnya sampai bikin pingsan? Ya udah saya jawab meski kalian nggak nanya ya, untuk masalah ciuman Kyuhyun udah cerita dia bisa karena nonton film dan dia nggak bohong kok. Awalnya dia mau nyobain, tapi tau ciuman itu enak dia jadi eksplor deh. Lagian nggak pake belajar, ciuman juga udah pasti jago kalo cowok mah. Masalah perasaan udah dalem, itu gini ya. Di awal saya udah menggambarkan ketakutan Kyuhyun akan keluar dari zona nyamannya, jauh dari asisten 'pengasuh' pribadinya, nggak ada dua sahabat 'pengawal' nya, dan harus hidup mandiri meski asramanya tetep mewah. Jadi dengan kerapuhan ala anak manjanya itu, Kyuhyun butuh penopang. Udah ah segini aja spoiler lagi.

Banyak yang nanya masalah masa lalu Heechul dan Jungsoo ya? Nanti pasti ada, saya jawab pertanyaannya satu-satu.

Banyak yang request anggota SJ lengkap 15 member hadir disini? Nggak terima 15 member, bahkan prince manager pun saya jadiin sopirnya Kyuhyun hehehe. Jadi sebenarnya inspirasi fic ini datang waktu saya ngeliat everysing Sorry Sorry yang bergaya gangster, kata seorang senior tercinta saya (mama Cinta) juga untuk memperingati Sorry Sorry 5th anniversary 12 Maret nanti. Jadi kalo mau nurutin itu sebenarnya hanya ada 13 member, tetapi karena Henry semakin lucu akhir-akhir ini, Zhoumi juga udah bekerja terlalu keras untuk SJ jadi saya akan menghadirkan mereka segera. Meskipun saya belum menemukan HenMi bergaya gangster, kalo ada yang punya bisa mention saya ke akun twitter buat nambah inspirasi penggambaran karakter.

Saya senang karena readers lama saya akhirnya bisa menemukan fic baru saya, kangen banget tukar pendapat di kotak review kayak di DG ya? Jadi mari kita rajin berinteraksi seperti dulu. Dan selamat datang untuk readers baru, hallo kenalkan saya author baru, ibu rumah tangga, pekerja, jadi hanya bisa update seminggu sekali karena kesibukan, jangan protes ya? Terimakasih sudah sabar menunggu update dari saya.

Kebiasaan saya adalah membalas review satu persatu, meskipun ada puluhan review sekalipun. Tetapi kali ini saya mohon maaf nggak bisa bales, karena buru-buru laptop mau dibawa suami tugas ke luar kota. Saya updatenya juga buru-buru nyelesaiin hingga tengah malam demi readers saya. Maaf sekali bukan karena mengabaikan review kalian, tapi kondisinya benar-benar mendesak. Review kalian tidak percuma, saya selalu baca, jadi penyemangat, jadi bahan pertimbangan akan seperti apa saya bawa chapter depan, juga jadi penunjuk kalo KMS masih sopan baca fic ninggalin review bukan malah lari. Tapi kali ini kalo ngerasa saya jahat, boleh kok nggak review. Karena saya tau jadi reviewer itu juga sama susahnya dengan author, saya sedih harus mengabaikan review kalian apalagi yang panjang dan ngereview sepenuh hati. Aduh maaf ya, dan terimakasih banyak.

2013/02/28

Twitter tercantum di Bio