Serendipity
.
.
Cast:
Park Jimin
Min Yoonji
Jung Hoseok
.
Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.
.
.
.
FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.
Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.
Happy reading
.
.
.
When you called me,
I become your flower.
As if we were waiting,
we bloom until we ache.
.
.
.
.
Pertemuan pertama Hoseok dan Jimin adalah di hari berhujan 6 tahun silam. Saat itu Hoseok sedang berjalan pulang menuju ke apartementnya, dengan membawa sekantung mie instan dan juga bahan makanan lainnya. Hujan tidak terlalu deras, jadi Hoseok tidak repot-repot memakai payung. Ia hanya memakai jaket tebal dan topi yang menutupi kepalanya.
Saat sedang menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau, ia melihat seorang pria yang baru saja tidak sengaja menabraknya. Langkah pria itu terlihat pelan, dengan kepala yang terus menunduk. Hanya mengenakan kaos tipis dan celana jeans panjang yang membaluk kakinya. Tanpa alas kaki.
Lampu masih berwarna merah, tapi langkah kaki pria itu terus berjalan menuju jalanan. Hendak menyebrang di tengah keramaian lalu lintas malam itu.
Dengan refleks, Hoseok langsung menarik lengan pria itu. Menjauh dari jalanan dan menyelamatkannya yang mungkin sebentar lagi akan di jemput malaikat pencabut nyawa.
"Kau berniat mati? Jangan membuat keluargamu khawatir," omel Hoseok yang hanya dibaalas dengan tatapan kosong oleh pria itu.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," jawab pria itu dengan nada yang sangat pelan. Hampir terdengar seperti bisikkan.
"Oh, maafkan aku," ujar Hoseok sambil melepaskan jaketnya, "lebih baik kau ikut aku. Aku juga tidak punya siapa," jawab Hoseok sambil memakaikan jaketnya pada pria itu.
Pria itu hanya diam ketika Hoseok sibuk memakaikan jaket padanya. Terlihat goresan-goresan dengan panjang yang tidak beraturan di lengan pria itu. Hoseok meringis pelan melihat bekas luka itu. Menyakiti diri sendiri, membuatnya teringat pada dirinya yang dulu saat terjerat narkoba.
"Namaku Jung Hoseok. Siapa namamu?"
"Park Jimin."
"Berapa umurmu sekarang?"
"16."
"Panggil aku hyung. Aku 2tahun di atasmu."
Dan setelah itu, Hoseok membawa Jimin ke apartement kecilnya. Mengajaknya tinggal bersamanya. Menyuruh Jimin melanjutkan sekolahnya, setidaknya hingga ia lulus sekolah menengah. Dan mengangkatnya menjadi adik sekaligus sahabat hidup.
.
.
.
.
Jimin duduk dalam diam sambil bersandar di dinding cermin yang ada di salah satu ruang studio tari yang kosong. Sambil memainkan pemantik yang ada di tangannya. Sudah lama Jimin meninggalkan kebiasaannya yang suka menghisap batang tembakau dengan kandungan nikotin itu. Tapi kebiasaannya memainkan pemantik disaat sedang berpikir sendirian, tidak pernah hilang.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Hoseok yang membawa 2 kaleng minuman bersoda di tangannya. Ia ikutan duduk di samping Jimin, dan memberikan salah satu minuman bersoda itu pada Jimin. Yang diterima dengan diam oleh Jimin.
"Ada masalah?" tanya Hoseok sambil membuka penutup kaleng.
"Tidak juga. Hanya merasakan hilang sebelum mengejar," jawab Jimin dengan kalimat ambigu.
Hoseok meminum minumannya dan tersenyum, "aku sedang menyukai seseorang. Mungkin ini yang kau rasakan kemarin. Aku jadi merasa seperti orang gila sekarang."
Jimin merasakan sesuatu menusuk dadanya, membuatnya merasakan sakit dan terluka disaat yang sama.
"Bukankah itu bagus, hyung? Jadi boleh aku memasukkanmu ke rumah sakit jiwa?" canda Jimin dengan tawa hambar. Tawa kepalsuan yang kini kembali bersarang di bibirnya.
"Eii, aku cuma bercanda saat itu, Chim. Bagaimana denganmu? Sudah ada kemajuan dengan pujaan hatimu?"
Jimin tersenyum miris, "dia hilang sebelum aku sempat mengejarnya. Lain kali, kenalkan aku pada pujaanmu, hyung."
"Aku tidak mengerti maksudmu. Baiklah, dia menyukai dance juga. Nanti kapan-kapan aku aja menari disini dengan kita."
Jimin mengangguk dan terlihat semangat dengan senyum lebarnya. Yang tanpa Hoseok sadari, bahwa itu adalah senyum penuh kepalsuan yang selalu Jimin tampilkan selama ini.
Hoseok bangun berdiri dan berdiri menghadap dinding kaca dan mulai menari dengan gerakan gemulai.
Jimin mulai memainkan pemantiknya lagi, dan memikirkan beberapa skenaria yang mungkin saja terjadi. Aku harus merelakan gadis itu untuk Hoseok hyung.
Tanpa Jimin sadari, Hoseok melihat Jimin yang masih memainkan pemantiknya dan menampilkan raut wajah yang sulit tertebak. Dan Hoseok tahu dengan pasti, bahwa Jimin memiliki masalah di dalam kepalanya.
.
.
"Bukankah kupu-kupu membutuhkan rasa sakit untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah?
Berjuang hidup sejak menjadi ulat kecil dan merasakan sakit ketika akan keluar dari kepompongnya.
Anggap saja aku adalah kupu-kupu yang sedang berusaha keluar dari kepompong.
Tidak apa jika aku merasakan sakit.
Untuk kebahagiaan."
Park Jimin
.
.
TBC
Thanks for reading. See you at next chapter.
