Serendipity

.

.

Cast:

Park Jimin

Min Yoonji

Jung Hoseok

.

.

Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.

.

.

.

FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.

Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.

Happy reading

.

.

.

Why do i still love you?

Even though i know,

I'll get hurt.

.

.

Hari itu Jimin sedang terduduk di salah satu ruang di studi tari, seperti biasa. Setelah kelasnya bubar. Sambil mendengarkan musik yang terputar dari pemutar musik di sudut ruangan. Matanya fokus pada layar ponsel yang di pegangnya. Sesekali bibirnya bersenandung mengikuti alunan musik dengan random.

Seseorang, tidak, ada dua orang yang masuk ke dalam ruangan dengan berisik karena tawa. Membuyarkan fokus Jimin pada layar ponselnya.

Jimin melihat kearah datangnya suara berisik itu, dan mendapati Hoseok bersama dengan seorang gadis, masuk ke dalam ruangan.

Seketika itu juga, Jimin merasa jantungnya berdetak dengan kencang. Melihat sang gadis membuatnya tersenyum. Tapi ketika melihat sang gadis tidak melihat kearahnya, tetapi kearah Hoseok, senyumnya langsung tergantikan oleh garis datar di bibirnya.

"Ah, baguslah kau disini, Chim," ujar Hoseok mendekati Jimin dengan cepat. Membuat ekpresi bingung Jimin muncul seketika.

"Kenapa?"

"Bisa tolong kau merekam kami melakukan dance berdua?" tanya Hoseok sambil memasang wajah memohon yanh membuat Jimin ingin muntah seketika.

Jimin mengangguk, dan langsung membuka aplikasi kamera di ponselnya. Sedangkan Hoseok mengganti lagu di pemutar musik, untuk lagu dance mereka.

Musik berputar, Save Me karya BTS, grup idol papan atas yang sedang mendunia. Hoseok dan gadis itu mulai melakukan gerakan gemulai, sesekali gerakan asli untuk lagu dari grup BTS itu mereka tambahkan dalam tarian mereka.

Jimin merekam dengan diam, merekam kedua insan yang sedang melakukan duet. Harus Jimin akui, gadis itu pintar menari.

Alunan musik mendekati akhir. Tanpa Jimin sadari, kedua jarinya menyentuh layar ponsel dan membuat gerakan di layar untuk memperbesar fokus kamera. Kini wajah gadis itu memenuhi layar, senyum gadis itu memenuhi layar.

Jimin yang terlalu fokus pada wajah gadis di layar ponsel, langsung terkaget ketika suara Hoseok memanggilnya. Membuyarkan lamunan sesaatnya.

Gadis itu melihat kearah Jimin, tepatnya kearah kamera ponsel yang masih mengarah kearahnya. Membuat Jimin salah tingkah, takut ketahuan. Dengan refleks, ia langsung mematikan ponselnya dengan gugup.

"Astaga, ponselku lowbat," dusta Jimin sambil memasang wajah menyesal yang palsu.

"Benarkah? Astaga, lalu videonya?"

"Nanti bisa rekam ulang lagi, hyung. Ngomong-ngomong, kau belum juga mengenalkan gadis disampingmu. Pacarmu ya hyung?" goda Jimin dengan memasang wajah jahil, meski hatinya merasa sakit.

Hoseok tertawa malu, "maaf, aku lupa. Kenalkan, dia Min Yoonji. Dia pemilik toko bunga didepan stasiun. Kau sering melewati toko bunganya."

Jimin memasang ekspresi kaget -hanya kepura-puraan semata-, "Benarkah? Wah, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Aku Park Jimin," ujar Jimin sambil menyodorkan tangannya. Mengajak salaman sambil tersenyum dengan ramah.

"Salam kenal, Jimin-ssi."

.

.

.

Min Yoonji

Min Yoonji

Min Yoonji

Nama itu terus berputar didalam benak Jimin sejak pertemuan hari itu. Masih melakukan kegiatannya mengawasi sang gadis toko bunga dari jauh, seperti biasa.

Beberapa kali berkumpul bersama Hoseok dan Yoonji. Mengobrol bersama, tertawa bersama, bercanda bersama, makan malam bersama. Dan selama itu pula Jimin terus menampilkan senyuman manisnya, senyum ramahnya. Jimin tahu, itu semua adalah topeng andalannya untuk menghadapi Hoseok dan Yoonji yang selalu terlihat seperti sepasang sejoli yang sangat serasi. Memakai topeng kepalsuan penuh senyuman.

Jimin duduk meringkuk bersandar di dalam kamar mandi di kamarnya. Tidak lupa pintu kamar yang telah ia kunci sebelumnya. Ia duduk meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Berharap kehangatan didalam ruangan dingin itu.

"Apa aku harus kehilangan lagi?"

"Kehilangan sebelum aku sempat mengejarnya."

Jimin melirik sebuah pisau lipat yang ada disampingnya. Pisau lipat dengan ukiran unik di gagangnya. Satu-satunya peninggalan dari sang ibu yang bisa ia selamatkan dan ia simpan.

Jimin meraih pisau lipat itu, dan membukanya. Ia tersenyum kecil, dan mengarahkan mata pisau itu ke arah lengannya. Samar-samar terlihat bekas luka lama dari beberapa tahun lalu. Ia mulai menggoreskan pisau itu pada lengan kirinya, membentuk sebuah garis panjang.

Satu garis.

Dua garis.

Tiga garis.

Empat garis.

Jimin tersenyum puas, melemparkan pisau itu membentur dinding. Tangannya terkulai di lantai dengan darah yang mulai membasahi lantai. Jimin tertawa pelan, sambil tangan kanannya menutup mulutnya. Air mata mulai membasahi pipinya, dan ia masih tertawa.

"Tidak sakit."

.

.

.

"Lelah menggunakan topeng.

Senyum palsu penuh kebohongan .

Menutupi rasa sakit tak kasat mata.

Apa aku akan sanggup seperti ini, selamanya?"

- Park Jimin

.

.

.

TBC

Awalnya, gw cuma mau pake lirik serendipity eng ver untuk ff ini. Tpi semakin kesini, gw berniat pake lirik dari Lie juga nanti. Mengambil potongan dari MV mereka sebelumnya. Menambah beberapa bagian juga. Tapi tetap akan berpusat di Jimin. Jadi hanya akan ada kisah Jimin dan sedikit tentang Hoseok, yang di ambil dari teori atau MV mereka.

And, thanks for reading my fanfiction.