Serendipity
.
.
Cast:
Park Jimin
Min Yoonji
Jung Hoseok
.
.
Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.
.
.
.
FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.
Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.
Happy reading
.
.
.
Jimin meraih beberapa kaleng minunan soda dari dalam lemari pendingin. Memasukkannya kedalam keranjang. Tidak lupa beberapa bungkus makanan ringan pun ikut masuk kedalam keranjang.
Bekas luka berbentuk garis-garis panjang, terlihat dari lengannya yang tidak tertutup apapun. Hari ini sangatlah panas, Jimin memilih untuk memakai kaos tanpa lengan. Memilih tidak peduli dengan lukanya.
Jimin melangkah mendekati kasir, dan meletakkan keranjang belajaannya di atas meja.
"Park Jimin?"
Jimin menoleh, mendapati seorang gadis memanggil namanya.
"Yoonji-ssi, sedang apa disini?" basa basi Jimin yang sangat standar, tapi hatinya berbunga-bunga karena melihat senyum Yoonji.
"Aku mau ke studio kalian. Tapi aku kepanasan, jadi ingin beli minuman," jawab Yoonji sambil tersenyum.
Jimin langsung mengambil satu kaleng soda yang sudah di masukkan kedalam plastik, memberikannya kepada Yoonji, "aku membeli banyak."
Yoonji menerima minuman kaleng itu sambil tersenyum lebar, "terima kasih."
Jimin membayar belanjaanya dan mengajak Yoonji keluar dari market. Mereka pun berjalan berdampingan, menyusuri trotoar menuju studio tari.
"Jimin-ssi, tanganmu kenapa?" tanya Yoonji dengan nada penasaran. Yoonji tidak bodoh, dia tahu itu adalah luka hasil dari menyakiti diri sendiri. Atau buruknya percobaan bunuh diri. Sejak tadi ia bertemu Jimin di market, ia terus melihat kearah luka Jimin.
Jimin refleks menutup lukanya dengan tangan, "bukan luka berat," jawab Jimin.
"Ada masalah? Kau bisa bercerita padaku. Meski kita tidak sedekat itu," ujar Yoonji menawarkan bantuan.
"Bukan masalah besar. Hanya sedang patah hati," kekeh Jimin.
"Wah, Jimin-ssi sedang jatuh cinta rupanya. Bagaimana gadis itu?"
"Dia manis, dan cantik. Dia menggemaskan. Aku selalu memperhatikannya setiap pagi sebelum bekerja, dan sepulang bekerja juga. Aku tidak berani mengajaknya berkenalan. Dan aku menyesal karena tidak mengajaknya berkenalan. Karena sepertinya gadis itu menyukai orang terdekatku. Mereka sangat dekat. Jadi aku patah hati," cerita Jimin sambil menatap Yoonji. Sedangkan yang diperhatikan hanya melihat kedepan sambil mendengar cerita Jimin.
Yoonji terlihat menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu menepuk punggung Jimin dengan pelan, "kau pasti menemukan yang lebih baik darinya."
"Ya, semoga saja. Karena gadis itu terus saja berada disekitarku."
.
.
.
Jimin dan Yoonji masuk kedalam salah satu ruang kosong distudio. Jimin menyimpan belanjaanya dilantai, dekat dengan cermin. Lalu keluar meninggalkan Yoonji yang mulai duduk bersandar di cermin.
Hampir 10menit Jimin pergi, ia pun masuk kembali keruangan.
"Hoseok hyung sedang keluar sebentar. Mau membeli makanan," ujar Jimin sambil duduk menghadap Yoonji.
"Baiklah, aku akan menunggu."
Jimin mengeluarkan salah satu makanan ringan dari dalam plastik, lalu membuka bungkusnya. Menyodorkannya pada Yoonji yang diterima dengan senyuman.
"Yoonji-ssi, apa kau dan Hoseok hyung adalah kekasih?" tanya Jimin dengan nada penasaran yang dibuat-buat. Berusaha untuk menetralkan gemuruh di dadanya.
Yoonji menggeleng dengn cepat, "tidak. Kami bukan kekasih. Tapi jangan bilang-bilang pada Hoseok, kalau aku berharap jadi kekasihnya."
Baru saja Jimin merasa senang dengan jawaban Yoonji, tapi langsung merasakan sakit begitu mendengarkan lanjutan dari kalimatnya.
"Aku akan merahasiakannya, tenang saja."
Jimin, sungguh dirimu berbakat menjadi aktor dengan bakat akting yang bagus. Senyum dan canda penuh kepalsuan. Topeng yang terus melekat diwajahmu, menyembunyikan wajah aslimu.
"Terima kasih, Jimin-ssi."
.
Caught in a lie
Find me when I was pure
I can't be free from this lie
Give me back my smile
.
Senyum Jimin yang sejak awal terus tercetak di bibirnya, kini menghilang. Digantikan oleh raut wajah terluka dan tersakiti. Haruskah seseorang menampar Jimin dengan keras, menyadarkannya bahwa sejak awal ini adalah kesalahannya. Kesalahannya karena memilih untuk menjadi pengintai dari jauh. Kesalahannya untuk berbohong. Kesalahannya untuk memilih menjadi pengecut.
"Bagaimana kalau aku bilang, gadis yang aku sukai itu adalah Min Yoonji?"
"Bagaimana kalau aku bilang, gadis yang membuatku terluka adalah Min Yoonji?"
"Apakah Min Yoonji akan menyukaiku?"
Ucapan Jimin sangat berhasil mengubah suasana didalam ruangan, berubah drastis. Membuat Yoonji terdiam, kaget dan terkejut dengan ungkapan Jimin.
Membuat Yoonji mau tak mau mendengarkan suara lirih penuh luka daei bibir Jimin. Dan melihat raut wajah Jimin yang penuh penderitaan.
"Dan jika Min Yoonji sudah tahu perasanku, apakah Jung Hoseok mau merelakan Min Yoonji untukku? Bagaimana menurutmu, Yoonji-ssi?"
Lalu terdengar suara pintu tertutup, Yoonji pergi dan berlari meninggalkan Jimin dengan pertanyaan bodohnya. Tidak, Yoonji lari bukan karena ia marah. Yoonji lari karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Yoonji lari karena ia bingung dengan situasi ini. Yoonji lari karena ia tidak bisa melihat wajah Jimin yang penuh luka. Dan Yoonji yakin semua itu hanya karena rasa kasihan dan rasa bingung semata. Juga sedikit rasa bersalah, meski ia tidak tahu dimana letak kesalahannya.
Suara tawa terdengar didalam ruangan itu, suara tawa keterpaksaan dari bibir Jimin.
"Ah sial, aku menghancurkan semuanya."
.
.
.
Tanpa Jimin dan Yoonji tahu, seseorang telah mendengarkan pembicaraan mereka. Seseorang yang hendak masuk kedalam ruangan. Seseorang yang hendak mendorong pintu studio yang tidak tertutup rapat. Seseorang yang hendak menunjukkan makanan yang baru saja ia beli.
Orang itu adalah Jung Hoseok, pemuda yang namanya baru saja disebut oleh Jimin didalam ruangan.
Hoseok berdiri mematung, mendengar semua yang keluar dari mulut Jimin. Mendengar semuanya. Lalu ia mengingat bagaimana semangatanya Jimin unthk bangun lebih awal di pagi hari. Semangatnya Jimin untuk berangkat lebih awal, hanya untuk melihat sang pujaan hatinya.
"Aku harus bagaimana?"
.
.
Caught in a lie
Pull me from this hell
I can't be free from this pain
Save me, I am being punished
.
.
TBC
wahhhh apa yang sudah gw tulis ini.. Maafkan kalau menjadi tambah gak jelas ceritanya. Cuma mendadak pingin tulis kayak gini, pas melihat ulang trailer HER. Pas scene dimana si cwek jatuh saat bersama jimin. Gw kepikiran, gimana kalau misalnya sebelum dia jatuh itu mereka bertengkar karena jimin jujur sama si cewek? Pemikiran yang aneh.
Seperti biasa, thanks udah membaca ff ini.
Thanks buat yang udah memberikan komentar untuk ff ini.
Thank you very much.
Saranghae~~
