Serendipity

.

.

Cast:

Park Jimin

Min Yoonji

Jung Hoseok

.

.

Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.

.

.

.

FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.

Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.

Happy reading

.

.

.

Hoseok menegak habis segelas soju yang ada di depannya, lalu menuangkannya lagi, dan meminumnya lagi. Sudah botol kedua yang Hoseok habiskan di kedai itu.

Seorang pemuda datang, lalu duduk di depan Hoseok. Mengambil botol soju yang ada di tangan Hoseok, lalu menuangkannya ke gelas kosong dan meminumnya. Hoseok melihat siapa yang telah menganggu kegiatannya. Lalu tersenyum setelahnya, karena mengenal pemuda itu.

"Ah, Park Jimin. Adik kesayanganku," ujar Hoseok sambil tersenyum dengan lebar.

"Kau sudah minum terlalu banyak, hyung."

Hoseok menggelengkan kepalanya dengan cepat, "tidak, aku baru saja mulai."

Jimin hanya berdecak kesal lalu menuangkan soju ke gelas Hoseok dan juga miliknya. Ia tahu, Hoseok peminum yang kuat. Baru botol ke tiga, dan Hoseok tidak akan mabuk hanya dengan tiga botol.

"Kenapa mengajakku minum, hyung? Tumben sekali."

"Hanya sedang ingin saja. Sesekali minum bersama, tidak ada salahnya."

Jimin mengangguk pelan, lalu meneguk segelas soju dalam sekali teguk. Banyak pertanyaan yang muncul didalam kepala Jimin. Hoseok jarang sekali mengajaknya minum bersama seperti saat ini. Karena jika Hoseok mengajaknya minum bersama, pasti ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh Hoseok.

"Aku mengenalmu bukan satu atau dua hari, hyung. Apa yang ingin kau bicarakan?"

Hoseok tertawa hambar, "bisakah kau menjauhi Yoonji untukku?"

.

.

.

Jimin menendang kaleng kosong yang menghalangi langkahnya dengan pelan. Sesekali mengumpat dengan nada kesal. Mengundang tatapan mata pengguna jalan lainnya.

Terus melangkah tanpa arah, merasa enggan untuk pulang. Dan tanpa ia sadari, langkah kakinya membawanya di tempat ia melihat Yoonji dari jauh. Seberang jalan, toko bunga milik Yoonji.

Jimin duduk di bangku yang menjadi tempatnya duduk setiap pagi dan malam. Melihat kearah toko milik Yoonji. Tokonya terlihat gelap tak berpenghuni. Tentu saja, toko itu sudah tutup sejak tadi. 'Bisakah kau menjauhi Yoonji untukku?'

Jimin tertawa miris, sambil terus memandangi toko bunga Yoonji. Bingung apa yang akan ia lakukan saat ini. Menjauhi Yoonji sesuai permintaan Hoseok, atau terus mengejar Yoonji. Meski tanpa sadar, ia telah menghancurkan semuanya.

Yoonji dan Hoseok hyung saling menyukai.

Lalu bagaimana denganku?

Apa aku harus menderita sendirian?

Atau haruskah aku menyerah demi Hoseok hyung?

Jimin mengacakkan rambutnya dengan kasar, merasa bingung dengan pemikirannya yang bercabang. Disatu sisi, ia ingin membalas kebaikan Hoseok. Dengan menyerah untuk mengejar Yoonji dan mendukung hubungan mereka. Disisi lain, ia tidak ingin menyerah. Ia juga ingin bahagia. Ia juga ingin merasakan mencintai seseorang yang berharga untuknya.

Disaat seperti ini, Jimin ingin sekali menambah garis-garis di lengannya. Setidaknya rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit dihatinya. Tidak sebanding dengan penderitaan yang telah ia alami sepanjang hidupnya.

Mengingkari janji itu tidak salah kan?

.

.

.

Yoonji mondar mandir didalam kamarnya, sambil menggenggam ponselnya. Sesekali ia menghela nafas panjang, sesekali ia melihat ponselnya. Ingin menelpon Jimin, tapi baru ia sadari jika ia tak memiliki nomor Jimin.

Yoonji mulai merasa bersalah, sejak pengakuan lancang Jimin di studio malam tadi. Belum lagi keadaan lengan Jimin yang penuh luka garis yang terlihat baru saja mengering. Yoonji cukup pintar untuk bisa menebak, bahwa luka itu karena dirinya.

Pengakuan Jimin, dan cerita Jimin tentang masalahnya.

Ponsel Yoonji berdering, tanda ada panggilan masuk. Dilihat siapa yang menelponnya disaat seperti ini. Terlihat id Hoseok yang nampak di layar ponsel. Dengan terburu, Yoonji langsung menjawab panggilan itu dan menjawabnya.

"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, ini tentang Jimin. Bisakah kita bertemu malam ini?"

.

.

.

Jimin duduk dalam diam di studio, bersandar di dinding dan melihat kearah cermin besar yang ada dihadapannya. Tidak ingin pulang, dan memilih untuk menginap di studio yang dingin.

Jimin terbiasa dengan dingin yang menusuk dan rasa sakit.

Tidur semalaman tanpa selimut dan alas apapun, bukan hal yang baru untuknya. Dan juga bukan hal yang menyakitkan untuknya. Ia bisa saja terjaga semalaman, atau bahkan tidur meringkuk menikmati hawa dingin.

Suara pintu terbuka, membuat Jimin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Nampak Yoonji yang sedang berdiri di ambang pintu sambiil tersenyum canggung. Bajunya terlihat sedikit basah karena terkena hujan.

"Uhh, maaf. Aku kira Hoseok sudah ada disini. Aku akan pergi," ujar Yoonji.

"Tunggu saja dia disini, diluar sedang hujan kan? Pura-pura saja aku tidak ada disini."

Yoonji melangkah dengan ragu, duduk di sudut ruangan sambil memegang ponselnya. Beberapa kali mencoba menghubungi Hoseok. Ia tidak ingin terjebak dengan suasana canggung bersama Jimin. Hingga suara Jimin terdengar memecahkan keheningan.

"Soal yang tadi, aku minta maaf. Tapi aku tidak akan menyerah."

.

.

.

.

TBC

Hello, maaf karena baru di up. Karena banyak kegiatan yang membuat sibuk seharian. Terimakasih utk yang udah luangin waktu memberi komentar. Maaf gw ga bisa ngasih jadwal tetap untuk updatenya. Tapi bakalan ge lanjutin semuanya, meski telat.

Thanks for reading my story.

See you at next chapter.