Serendipity

.

.

Cast:

Park Jimin

Min Yoonji

Jung Hoseok

.

.

Semuanya hanyalah kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan, sekaligus membahagiakan. Atau mungkin saja ini adalah jalan berbatu yang telah di tentukan oleh takdir? Jalan berbatu yang menyakitkan telapak kaki, tapi ditemani oleh pemandangan indah yang menyejukkan mata.

.

.

FF ini hanyalah FF dengan chapter2 pendek, yang terinspirasi dari teaser Jimin - Serendipity. Dan juga highlight reel love yourself. Ditambah oleh teori-teori seabrek dari ARMY yang sangat kreatif. Jadilah gw membuat sebuah ff dengan short chapter dari bahan2 tersebut. Tolong jangan sambungkan dengan teori, gw sendiri suka gagal paham dengan teori mereka. Jadi gw cuma mengarang bebas dengan menambah dari teaser, highlight, ataupun teori.

Disclaimer: cerita milik saya, V milik saya(?) BTS milik BIGHIT, orang tua mereka, dan juga Tuhan yang menciptakan mereka.

Happy reading

.

.

Apakah kebahagiaan tidak berlaku untukku?

Apakah dewi kebahagiaan membenciku?

Apakah takdir membenciku?

Apakah dunia membenciku?

.

.

Soal yang tadi, aku minta maaf. Tapi aku tidak akan menyerah."

Keheningan pun tercipta lagi seiring kata terakhir yang keluar dari bibir Jimin. Yoonji meremas ponsel yang ada ditangannya dengan kesal. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Jimin yang rumit.

'Hoseok-ah, cepatlah datang.'

Jimin menghelas nafasnya dengan penuh kegusaran. Mencoba memplajari setiap ekspresi yang Yoonji tunjukkan. Ekspresi kesal, marah, bingung dan mungkin juga jijik.

"Hahh... Lupakan saja perkataaanku yang tadi. Kau tahu, Hoseok hyung sudah seperti kakak untukku. Dia yang membuatku masih tetap bernafas hingga saat ini. Jika Hoseok hyung memang menyukaimu, aku akan mencoba untuk merelakan kalian. Bagaimanapun, akulah pecundangnya disini, ujar Jimin dengan kalimat panjang. Diselingi suara tawa canggung dan hambar.

Yoonji menatap Jimin dengan bingung.

"Sebenarnya apa maumu, Park Jimin-ssi? Aku tidak mengerti denganmu. Jika kau ingin menyerah, ya menyerah. Jika kau ingin mengejar, ya kejar. Bukan seperti ini."

"Maafkan aku."

Yoonji bangun dari duduknya dan menatap Jimin dengan tatapan kesal, "sebaiknya aku pergi."

Jimin langsung bangkit dari duduknya dan meraih lengan Yoonji dan menggenggamnya. Menatap Yoonji dengan tatapan memohon seolah memintanya jangan pergi.

Yoonji membalas tatapan Jimin dengan tatapan marah dan juga kasihan, "menyedihkan. Jadi alasanmu melukai tanganmu, adalah aku? Menjijikkan."

Jimin menunduk, merasa bahwa perkataan Yoonji tentang dirinya adalah benar. Dirinya memang menyedihkan. Dirinya memang menjijikkan. Bertingkah seperti pengecut dan ketakutan setiap saat. Dan kini, ia malah berringkah seolah rela tapi tak rela. Membuat semua orang bingung dengannya.

"Lepaskan aku," ujar Yoonji dengan nada tegas. Menghentakkan tangannya, berusaha melepaskan genggaman erat tangan Jimin.

Menjijikkan

Menyedihkan

Pecundang

Terlalu plin-plan, apa maumu?

Mencari belas kasihan?

Semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat Jimin sadari. Kata-kata penuh hinaan bermunculan dalam pikirannya bagaikan kaset musik, tanpa bisa dihentikan. Genggaman eratnya berubah menjadi genggaman lemah yang mudah dilepaskan.

Membuat Yoonji yang sedang menghentakkan tangannya dengan kencang, berharap Jimin melepaskan, kini terlempar menabrak dinding kaca karena tidak bisa memgendalikan kekuatannya sendiri.

Naas, kepalanya harus menjadi bagian tubuh pertama yang bertemu dinding kaca yang keras.

Membuatnya merasakan sakit pada kepalanya, dan pandangan yang mulai terlihat buram. Dengan Jimin yang baru sadar dari lamunan singkatnya, dan meneriakkan nama Yoonji.

Tapi seluruh pandangan Yoonji menjadi sepenuhnya gelap.

.

.

.

.

Hoseok melangkah dengan cepat menapaki anak tangga, menuju ke ruangan studio tari miliknya. Perasaannya mendadak terasa tak nyaman, seperti ada firasat buruk dengan janji untuk bertemu Yoonji malam ini

Ketika ia sudah hampir dekat dengan pintu ruang studio tari, ia mendengar suara teriakkan Jimin yang meneriakkan nama Yoonji. Dengan segera, Hoseok langsung mempercepat langkah kakinya dan langsung membuka pintu dengan keras.

Dihadapannya, terlihat Yoonji yang tidak sadarkan diri, dan Jimin yang sedang mencoba mendudukkan Yoonji sambil berusaha membuatnya sadar.

"Hyung," ujar Jimin begitu menyadari ada sosok Hoseok di ambang pintu yang sedang mengepalkan tangannya.

Hoseok mendekati Jimin dengan langkah cepat, dan meraih kerah baju Jimin lali menariknya bediri.

"Apa yang sudah kau lakukan, Park Jimin?"

"Aku tidak tahu, aku... ."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan mendarat di pipinya hingga ia terlempar ke belakang. Hoseok menatap dengan pandangan marah.

"Ugh," terdengar erangan dari bibir Yoonji.

Hoseok yang hendak memukul Jimin, langsung mendekati Yoonji. Begitu pula dengan Jimin, yang langsung bangun dan mendekati Yoonji dengan cepat.

"Menjauhlah," ujar Hoseok dengan nada marah begitu Jimin ingin mendudukkan dirinya disamping Yoonji. Membuat Jimin langsung menghentikan langkahnya dan berdiri mematung sambil melihat dengan tatapan khawatir. Rasa sakit di pipinya, ia abaikan.

"Yoonji-ya, kamu baik-baik saja?"

"Hoseok?" gumam Yoonji yang sedang meraba kepalanya yang terasa sakit.

Hoseok langsung berjongkok membelakangi Yoonji, "naiklah."

Yoonji langsung bergerak dengan pelan, berusaha meraih pundak Hoseok. Kepalanya terasa sangat sakit. Begitu Yoonji telah berada di punggung Hoseok dan mengalungkan kedua tangannya di leher Hoseok, Hoseok langsung berdiri dan memegangi bagian belakang.

"Jangan pernah mendekati Yoonji lagi," ujar Hoseok dengan tatapan marah. Lalu meninggalkan Jimin yang masih berdiri mematung. Dan tersenyum miris.

.

.

.

.

Jimin menggenggam dengan erat gagang payung yang ia pegang. Menatap punggung Yoonji yang berada digendongan Hoseok dari kejauhan. Hingga punggung itu menghilang di ujung jalan.

Ia hendak memberikan payung pada mereka, karena diluar masih hujan. Tapi Hoseok sudah lari menembus hujan.

Jimin menatap kearah depan dengan tatapan kosong.

"Aku ingin menyerah, tapi aku harus bagaimana jika dia sudah menjadi alasanku untuk bertahan hidup? Aku harus bagaimana, hyung?"

.

.

.

TBC

maafkan kalau lanjutan serendipitynya lama banget. Author sedang sibuk belajar bahasa inggris di rumah. Sampai ngebongkar isi gudang rumah orang tua, nyari buku smp dan sma hahahahaha. Krna sekarang author sedang pulkam dan belajar, jadi ga janji update cepat. Terima kasih buat yang masih nunggu ff unfaedah ini. Maafkan kalau chapter ini agak mengecewakan. Next, diusahakan utk lebih sedih(?). Mungkin beberapa chapter lagi akan end. Tdak bisa kasih spoiler, apakah akan sad ending ataukan happy ending.

Thank you :)