Disclaimer : Masashi Kishimoto
Thanks udah read, salam kenal ghwen :)
warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...
Melalui note yang ada di meja kerjanya, Naruto manghubungi Kakashi yang menjabat sebagai manager dan merangkap sebagai asisten pribadinya. menyuruhnya datang ke apartemen.
"Tidak biasanya kau menyuruhku datang kemari?" Tanya Kakashi saat sampai di apartemen Naruto.
Memang selama ini Naruto selalu melarang orang lain menyentuh area apartemennya, bahkan Kakashi orang kepercayaannya selalu menemui dan menunggu Naruto di area parkir atau lobi dan para petugas di apartemen selalu menjaga privasi Naruto dengan baik. Tanpa sepengetahuan orang lain, tentu ini tidak berlaku untuk Hinata yang diam – diam selalu berkunjung.
Kakashi, Naruto dan Sakura duduk berhadapan di ruang tamu. Sakura dan Naruto yang duduk bersebelahan menatap Kakashi yang ada di depan mereka dengan ragu.
"Apa benar kau Kakashi seperti yang tercatat di Note ini?" Celetuk Naruto curiga, Kakashi memandang Naruto penuh tanya.
"Aku tidak ada waktu untuk bermain – main Naruto! Jadi dia? Orang yang ingin kau beri kejutan itu? Sampai menyuruhku berbohong pada public, untuk bilang kau sedang berlibur mengunjungi sahabatmu di Suna" Cerocos Kakashi yang sempat panic karena Naruto menghilang dan keluar dari rencana awal.
"Kau tahu? Banyak orang mencarimu, termasuk gadis Hyuga yang kau bilang teman masa kecilmu itu! Haaah, sangat sulit menghadapi gadis Hyuga itu, dia pantang menyerah dan terus menggangguku. Selain itu, selama kau pergi aku harus bekerja keras menepis isu bahwa kau sakit parah sehingga perlu perawatan diam – diam. Selama kau tidak ada, begitu banyak tawaran job yang terbuang sia – sia. Kau malah menghilang sesukamu tanpa mengabariku! Untung saja, kau sedang tidak terikat kontrak. Jadi, sekarang jelaskan padaku! Kemana saja kau anak nakal!" Cerca Kakashi kesal.
Naruto dan Sakura saling pandang tidak mengerti.
"Emm, apa kau bisa di percaya ?!" Tanya Sakura kurang yakin. Kakashi menaikan sebelah alisnya meminta penjelasan atas kata – kata Sakura, kepala Kakashi terasa berdenyut menghadapi dua bocah di hadapannya itu.
"Tentu saja! Kau kira untuk apa Naruto menjadikanku manager sekaligus asisten pribadinya jika aku tidak dapat di percaya ehh" Desis Kakashi kesal, Naruto hanya tertawa lebar meminta maaf.
"S-sebenarnya… s-sebenarnya…" Desis Sakura ragu, Kakashi semakin menatap Sakura tajam. Tidak sabar menunggu apa yang akan di ucapkan Sakura.
"Aku amnesia !" Celetuk Naruto polos dan tanpa beban, sekejap Kakashi membulatkan matanya terkejut memandang Naruto.
"Hening"
"Hahaha…" Tiba – tiba Kakashi terbahak – bahak, Naruto dan Sakura cengo melihat Kakashi.
"Kau hebat sekali nak! Ektingmu semakin bagus, aku tertipu… haha" Celetuk Kakashi sambil tertawa terpingkal – pingkal.
"Tapi aku sedang tidak berekting! Aku serius tahu!" Kata Naruto mendengus kesal.
"Hening"
"Kau serius?" Tanya Kakashi memasang wajah serius, Naruto hanya mengangguk ngeri.
"Bakaaa! Apa – apaan kau! Jangan bergurau denganku heh!" Cerca Kakashi yang tiba – tiba menerjang Naruto sambil menggoncang – goncangkan Naruto meminta penjelasan.
Sakura bergidik ngeri melihat pemandangan di sampingnya, sementara Naruto hanya bisa pasrah.
Setelah mendengar semua cerita dari Naruto dan Sakura selama di rumah sakit akhirnya Kakashi lebih tenang.
"Jadi, hanya amnesia sementara eh?" Tanya Kakashi meminta kepastian, dan di sambut oleh anggukan lemah dari Naruto dan Sakura.
...
Setelah berbincang cukup lama dengan Kakashi dan Naruto akhirnya Sakura pamit pulang dan berjanji akan berkunjung lagi lain kali.
Kakashi mengamati apartemen Naruto yang terlihat rapi dan nyaman. Aroma lavender menyelimuti setiap ruangan memberikan ketenangan.
"Aku dulu selalu mengira apartemenmu sangat berantakkan, maka dari itu kau selalu melarangku datang. Aku tidak mengira kau pandai dalam tata ruang" Puji Kakashi, Naruto hanya tersenyum mendengarnya.
"Ngomong – ngomong bagaimana hubunganmu dengan gadis tadi? Aku sangat penasaran padanya, semua terasa abstrak bagiku. Kau tahu itu?!" Omel Kakashi kesal, sambil melipat kedua tangannya di depan dada bersikap sok serius.
"Hehe, maaf… karena aku hilang ingatan. Sampai saat ini, yang ku tahu dari Sakura. Dia sudah mengenalku dan menyukaiku sejak awal aku merintis karier. Dia kagum dengan usahaku yang pantang menyerah. Sakura itu juga seorang model tahu!" Terang Naruto bangga.
"Benarkah? Kenapa aku tidak begitu mengenalnya, lalu kenapa dulu kau menyembunyikan Sakura dari public dan sekarang membawanya bersamamu?" Tanya Kakashi semakin penasaran.
"Entahlah, mungkin saat itu aku belum siap" Sahut Naruto asal – asalan sambil berjalan pergi mengambil minuman di dapur, meninggalkan Kakashi yang masih duduk manis di depan Tv.
Ketika membuka almari es, Naruto sedikit terkejut melihat banyak makanan dan bahan makanan mentah di sana.
"Apa dulu aku sering memasak? Aku kan actor terkenal, kenapa tidak memesan makanan saja" Pikir Naruto bingung.
"Baiklah, melihat kondisimu saat ini aku tidak akan menerima kontrak bermain film. Aku hanya mengijinkanmu melakuhkan pemotretan dan bermain iklan!" Teriak Kakashi di seberang ruangan.
"Terserah kau saja!" Balas Naruto dengan suara cemprengnya.
"Owh ya, kau juga harus ke rumah sakit lagi! Pastikan otakmu baik – baik saja, Baka!" Perintah Kakashi.
"Aku baru tahu, kau sangan perduli padaku eh" Sindir Naruto dengan seringai andalannya.
"Baka! itu karena kau bintangku!" Sahut Kakashi kesal.
Naruto kembali menghampiri Kakashi "Maaf merepotkanmu!" Desis Naruto menyodorkan Kakashi minuman, Kakashi tersenyum menerimanya.
"Kita sudah banyak mengalami hal buruk bersama, jadi aku akan melindungimu sekuat tenagaku" Sahut Kakashi menegak minumannya. Naruto hanya tersenyum penuh harap pada Kakashi.
"Haha… kau tahu? Awalnya aku sempat mengira kau berkencan diam – diam dengan gadis Hyuga itu, karena aku pernah beberapa kali memergoki dia diam – diam ada di area parkir apartemenmu" Ungkap Kakashi menerawang jauh. Mengalihkan topic yang terasa menjadi serius baginya.
"Haiss… Kenapa kau terus membicarakan orang yang tak ku kenal heh? Membuatku pusing saja!" Gerutu Naruto dengan ekspresi memelas yang sengaja dia buat - buat, Kakashi hanya terkikik geli melihat Naruto. Entah kenapa dia merasa merindukan sikap konyol bintang yang sudah dia anggap sebagai adik itu.
…
Sasuke duduk termenung di apartemen barunya. Masih terbayang kejadian beberapa jam lalu di pikirannya. Kejadian dimana Sasuke yang bertahun – tahun tinggal di Suna kemudian bertemu Hinata. Gadis yang pernah diam – diam sangat dia puja dan menolaknya untuk seorang Uzumaki Naruto. Jadi, apakah itu takdir ? gadis yang selama ini dia hindari, malah menjadi orang pertama yang dia temui di Konoha. Kota yang pernah dia tinggalkan untuk melupakan gadis kecilnya itu.
…
Hinata sesenggukan menceritakan apa yang dialaminya pada Ino Yamanaka, sahabatnya yang berprofesi sebagai seorang staylist handal hanya dapat memandang iba pada Hinata yang sudah duduk berjam - jam dan menangis sendu di ruang tamunya.
"Sudahlah Hinata, mungkin Naruto berkata seperti itu karena ada fansnya di sana" Sahut Ino mengelus lembut punggung Hinata mencoba menenangkannya.
"Tapi kenapa mereka begitu dekat? Naruto juga tidak pernah menunjukan atau menceritakan tentang gadis itu padaku" Isak Hinata sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mungkin dia belum sempat, atau lupa" Jawab Ino gigih, yang masih setia duduk di samping Hinata. Mencoba untuk menguatkan hati dan memberi ketenangan pada Hinatanya.
"Tapi dia selalu menceritakan segalanya padaku jika dekat dengan orang lain, agar aku tidak salah paham!" Sahut Hinata tidak mau kalah.
"Atau mungkin dia menyembunyikannya dariku? Seperti dia menyembunyikanku dari dunia?" Desis Hinata terpancing emosi.
"Hey Hinata? Dulu saat dunia tidak pernah percaya pada Naruto, kau adalah gadis yang paling percaya dan memperjuangkannya. Kenapa kau jadi begini ?" Sahut Ino kesal dengan tingkah sahabatnya yang tiba – tiba suka berfikir negative itu.
"Entahlah Ino, aku merasa-"
"Jika sekarang kau juga tidak percaya padanya, siapa lagi yang akan percaya padanya ?" Potong Ino sambil menghela nafas panjang. Mungkin hanya Ino yang mengetahui kebenaran hubungan Hinata dan Naruto, membuat wanita itu tidak rela bila kedua sahabatnya saling menyakiti hanya karena kesalah pahaman dan kurangnya komunikasi.
Sesaat Hinata tersenyum kearah Ino, berterimakasih akan nasehat sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan menunggu dia menjelaskan padaku." Sahut Hinata mencoba tetap tegar, Ino mengangguk setuju.
Berbeda dari biasanya, Naruto tidak menelfon Hinata untuk sekedar menanyakan kabar atau bahkan menjelaskan apa yang telah terjadi. Hinata semakin gelisah, berbagai pikiran negative mempengaruhinya. Apalagi nomor Naruto yang tidak bisa di hubungi juga.
Beberapa hari Hinata terlihat murung dan tidak pergi lagi ke apartemen Naruto sejak kejadian itu, apa lagi tanpa kabar dari Naruto. Sementara di televisi, para wartawan semakin gencar memburu berita setelah melihat kedekatan Naruto dan Sakura yang mereka tunjukan secara terang – terangan di depan public. Bukan hanya berita positif, bahkan isu miring banyak beredar antara hubungan Naruto dan Sakura. Tetapi kedua pihak belum mau angkat bicara dan masih menyembunyikan tentang amnesia yang di derita Naruto.
"Hai Hinata, pergilah temui dia jika itu mengganggumu" Sahut Ino kesal, Hinata menggeleng lemah mematikan televisinya dan membaringkan tubuh mungilnya di sofa. Beberapa hari ini, Hinata memang sering menginap di rumah Ino karena merasa membutuhkan sahabatnya itu dalam masa – masa sulitnya ini.
"Lalu kau mau bagaimana hah? Terlihat menyedihkan begini hemm ?" Solot Ino, berkacak pinggang di depan Hinata. Menghalangi pandangan Hinata pada televisi yang sudah mati itu.
"Lalu apa yang harus aku lakuhkan jika dia memutuskanku? Kau lihat kan, akhir – akhir ini di televisi dia bilang sedang menjalin hubungan dengan gadis model bernama Haruno Sakura itu?" Solot Hinata kesal, Ino hanya mendelik tidak percaya. Akhir – akhir ini Ino merasa Hinata berubah, tidak ada lagi Hinata yang ramah, pemalu, sabar. Sekarang Hinata terlihat lebih mudah emosi, berperasangka buruk bahkan kurang percaya diri.
"T-tapi, dia tidak boleh mempermainkanmu Hinata! Paling tidak putuskan dia, kau bisa mendapat yang lebih darinya! " Protes Ino bergejolak kesal setelah akhir – akhir ini melihat Naruto yang terlihat mesra dan bahagia di depan kamera dengan kekasih barunya, tanpa memerdulikan keadaan dan perasaan Hinata.
Hinata hanya tersenyum miris.
...
Update cepet nih buat Namikaze TrueBlue PraZumaki,
Yah, kayaknya bakal ngecewain Mushi kara-chan nih, gimana ya endingnya..hehe. Owh ya, makasih ya masukannya.
Sipokeehh ! 2nd silent reader, semoga enggak kecewa ma endingnya nanti. hihihi... *laughtevil
Vicestering, maaf belum ghwen jelasin sebelumnya. Sebelum menghilang Naruto sudah meminta Managernya untuk mengatur liburan sebagai alibi untuk membuat kejutan pada Hinata. Jadi, gak ada yang merasa Naruto menghilang kecuali Hinata. Managernya juga sempat panik karena tiba - tiba ponsel Naruto mati. Tetapi dia berfikir positif, kalau itu sebagian dari rencana Naruto yang dia rancang sendiri. Sementara Hinata sendiri tidak bisa berbuat sembarangan karena setatusnya sebagai pacar 'rahasia'. Jika ia, salah bertindak. Dia bisa membuat naruto dlm masalah. Terus Sakura yang takut terkena masalah, dan kariernya hancur sebagai pendatang baru di modeling memilih menyembunyikan Naruto dan menjaganya sampai sembuh. Tapi Naruto malah salah paham sama sikap Sakura. haduuhh, rumitnya. ckckck...
