Disclaimer : Masashi Kishimoto
Thanks udah read, salam kenal ghwen :)
warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...
...
Hinata, Ino dan Sasuke duduk berhadapan di sebuah ruangan khusus.
Beberapa saat seorang pegawai Mol masuk membawakan obat dan Hinata menerimanya, kemudian pegawai itu pergi memberikan privasi untuk ketiga orang terkenal di kotanya itu.
"Terimakasih sudah menolong kami." Lirih Hinata memecah keheningan, sambil mengobati lukanya yang tidak begitu parah.
"Kau selalu membuat masalah Hyuga!" Desis Sasuke acuh.
Hinata yang mendengar perkataan Sasuke hanya tertunduk merasa bersalah. Sementara Ino yang duduk di sampingnya, masih setia membantu Hinata membersihkan luka di tangannya dalam diam. Sasuke yang melihat respon Hinata hanya menghela nafas panjang.
"Emm… Jadi, apa kalian sudah saling kenal?" Tanya Ino hati – hati.
Sasuke hanya diam tak menjawab, Ino pun menatap Hinata meminta penjelasan.
Hinata yang merasa di tatap Ino hanya mengerutkan alisnya.
"Aku tidak yakin." Cicit Hinata ragu dengan jawabannya. Sasuke tersenyum sinis mendengar suara lirih Hinata.
"Bahkan kau tidak mengingatku. Benar, sejak awal hanya kau yang tidak pernah melihatku, hanya kau yang tidak pernah menyadari keberadaanku, dan hanya kaulah … yang menolakku" Pikir Sasuke mengingat masa SMAnya.
"…" Sasuke berlalu pergi tanpa memandang ke arah Hinata ataupun Ino, bahkan dia tidak meninggalkan sepatah katapun.
…
Di rumah sakit Naruto siuman,
"Kalian di sini? aku kenapa Sakura?" Tanya Naruto bingung, memandang sekitarnya dan meminta penjelasan.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi Naruto?" Tanya Sakura yang duduk di sebelah kanan tempat Naruto berbaring, sementara Naruto hanya menggeleng pelan.
"Baka! kau pingsan dan aku sangat khawatir tahu!" Desis Sakura memeluk Naruto. Naruto tersenyum dan mengelus lembut Sakura yang sesenggukan karena khawatir.
"Tidak apa, yang penting aku baik – baik saja kan?" Sahut Naruto menenangkan kekasihnya itu. Sementara Kakashi yang berdiri dengan setia di kiri Naruto hanya memandang malas, seperti sedang menonton film romance remaja yang menurutnya penuh drama.
Di sela – sela kegiatan yang menurut Kakashi 'mengharukan' itu, Dokter masuk membawa perkembangan hasil pemeriksaan Naruto. Hal itu, membuat Kakashi dapat bernafas lega karena merasa sudah tidak terabaikan seperti penonton atau bahkan seperti tidak ada di ruangan itu. Sakura dan Naruto pun mengakhiri kegiatan mereka sejenak, memfokuskan diri mereka pada Dokter.
"Tidak perlu cemas, Naruto tidak sadarkan diri karena dia terlalu memaksa dirinya untuk mengingat suatu hal. Aku memang menyarankan untuk mengingatkan Naruto pada kenangan – kenangannya, tetapi jangan terlalu memaksa." Terang dokter Tsunade yang sudah berdiri di kanan Naruto berhadapan dengan Sakura.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir." Sesal Naruto.
"Naruto, jika kau ingin ingatanmu cepat kembali. Ingatlah hal – hal itu secara perlahan, jika kau terlalu memaksa. Memorimu akan saling bertumbukan dan membuatmu bingung, itu sangat berbahaya. Kau bisa kehilangan memorimu selamanya" Sambung Tsunade khawatir.
"Aku mengerti, aku tidak akan melakuhkannya lagi." Sesal Naruto. Terlihat kesedihan terukir di wajah tampan Naruto, membuat siapa saja yang melihatnya luluh dan tidak tega.
Setelah mengecek keadaan Naruto dan dirasa sudah cukup baik serta tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, Tsunade pun meninggalkan ruangan Naruto .
"Maafkan aku Naruto, semua salahku. Andai kita tidak pergi mencari gaun, semua pasti tidak akan seperti ini." Desis Sakura penuh penyesalan sambil meraih pelan tangan Naruto, mencoba berbagi rasa dengan pemuda yang di sukainya itu.
"Sudahlah Sakura, hehe… tidak usah di pikirkan." Sahut Naruto berusaha seceria mungkin.
"Ngomong – ngomong, gaun untuk apa?" Lanjut Naruto bingung dan penasaran.
"Baka! kau benar – benar tidak ingat? kita mendapat undangan dari perusahaan Uchiha untuk datang ke pesta mereka. Karena senang aku memintamu menemaniku memilih gaun untuk ku pakai" Terang Sakura, terselip rasa bersalah di hatinya melihat kondisi Naruto sekarang.
"Sudahlah Sakura, ingat apa yang dokter tadi katakan. Jangan memaksanya mengingat sesuatu secara berlebihan" Desis Kakashi membuka suaranya.
"Maaf… " Desis Sakura merutuki perbuatannya.
"Tidak apa Kakashi, lagi pula sepertinya aku butuh refresing… jadi kita akan pergi ke pesta kan?" Tanya Naruto bersemangat.
"Tapi Naruto-!" Tolak Kakashi tidak setuju.
"Ayolahh… sekali ini saja, pasti akan menyenangkan. Iya kan Sakura ?" Potong Naruto sedikit merajuk.
"Hemm, kau ini … terserah kau saja!" Desis Kakashi menyerah melihat aksi merajuk yang terkesan berlebihan dari actornya itu.
"Tapi ingat! Jangan membuat masalah lagi baka!" Sahut Kakashi kesal, di sambut senyuman penuh kemenangan dari Naruto.
Sakura pun terlihat senang mendengar Kakashi mengijinkan Naruto pergi bersamanya.
...
Malam yang di tunggu – tunggu datang. Banyak yang memuji atas keberhasilan Sasuke, termasuk Naruto dan Sakura.
"Kau aneh dobe!" Sahut Sasuke datar, dia berdiri di pojok ruangan yang terlihat ramai di temani Sakura dan Naruto.
"Haaa? kau yang aneh, seenaknya memanggilku seperti itu." Desis Naruto dengan ekspresi yang berlebihan di hadapan Sasuke.
"Hn" Sahut Sasuke malas.
"Hahaha… jadi? apa kita teman dekat?" Tanya Naruto sedikit berbisik, menjajari Sasuke.
"…"
"Aku tidak mengenalimu, tapi entah kenapa aku merasa dekat denganmu. Jadi ku beritahu kau sedikit rahasia …" Sahut Naruto menarik perhatian Sasuke.
"…"
"Aku sedikit amnesia." Bisik Naruto sambil beberapa kali mengawasi orang – orang di sekitar mereka.
Sasuke tertegun beberapa saat mendengarnya.
"Jadi, kau benar – benar mengenalku?" Bisik Naruto, penasaran melihat perubahan ekspresi Sasuke. Entah kenapa sejak pertama melihat Uchiha Sasuke, Naruto merasa sudah mengenalinya atau entah kenapa dia merasa Sasuke orang yang dapat di percaya walau terlihat menyebalkan.
Sejenak terukir senyuman tipis di bibir Sasuke yang kemudian menegak minumannya, entah apa yang di pikiran pemuda itu. Naruto tidak tahu apakah Sasuke percaya atau tidak dengan apa yang baru dia katakan. Pemuda yang duduk di sampingnya itu memang sulit dimengerti, selain hemat bicara dia juga sedikit berekspresi.
"Dari Konoha Hight School, kita selalu bersaing dalam segala hal!" Terang Sasuke memandang jauh, membuka kembali lembar – lembar memori yang sempat ingin dia lupakan.
"Jadi, apa kau musuhku?" Tanya Naruto semakin penasaran.
"Hn"
…
Hinata yang dari tadi bersama Ino, pergi untuk mengambil minuman. Sampai terlihat Naruto dan Sakura yang terlihat mesra sedang berbincang dengan Uchiha Sasuke.
Sasuke yang sekarang berdiri di depan Sakura dan Naruto menatap tajam ke arah Hinata.
Hinata juga menatap tajam ke arah Sasuke, tetapi bukan Sasuke yang kini dia lihat melainkan dua orang yang ada di hadapan Sasuke dan memunggungi Hinata.
"Hemm, ternyata masih seperti dulu. Aku selalu ada di hadapanmu tetapi Narutolah yang kau lihat" Pikir Sasuke sambil kembali menenggak minumannya.
"Hai Hinata, ada apa?" Tanya Ino yang tiba – tiba menghampiri Hinata. Ino pun melihat ke mana arah pandangan Hinata tertuju.
"Maaf, aku harus ke toilet." Kata Hinata berlalu pergi.
"Hinata…" Desis Sasuke lirih menatap kepergian Hinata.
Walau lirih, entah kenapa Naruto merasa bisa mendengar nama itu dengan jelas 'Hinata'.
Saat Sasuke mentap kepergian Hinata, di saat bersamaan Ino diam – diam menatap kearah Sasuke. Melihat Sasuke yang selalu terlihat terluka bila melihat Hinata dari jauh.
"Benar, tidak akan ada harapan." Pikir Ino sambil melihat kearah Hinata pergi.
"Dia gadis yang baik, dia pantas mendapat laki – laki yang baik." Desis Ino tersenyum tipis.
Sakura hanyut dalam pesta saat bertemu dengan orang – orang yang dia kenal seperti Uchiha Sai, Karin, Shion dan teman – teman modeling yang lain. Naruto pun mencoba memisahkan diri dari Sakura, dia menuju tempat yang lebih jauh dari keramaian di gedung itu.
Naruto sampai ke tempat yang lebih sepi, dari kaca – kaca gedung yang besar. Naruto dapat melihat cahaya kelap – kelip lampu dari rumah – rumah di konoha. Bintang – bintang menaburi langit sabagai hiasan keadaan malam di kota itu. Walau di sana sepi dan tidak ada orang selain Naruto, tetapi dentuman musik dari tempat pesta masih terdengar menggema di sana.
"Hinata?" Desis Naruto mengeluarkan bungkusan dari saku jasnya.
Naruto membuka bungkusan itu, terlihat dua cincin berbentuk bintang yang melingkar dan di dalamnya terdapat ukiran inisial 'NH'
"Naruto Hinata ?!" Pikir Naruto ragu.
"-atau Naruto Haruno?" Desis Naruto menerawang jauh.
…
"Jadi, secepat itu kau melupakanku keh?"
"…"
"Apa kau mencintainya?"
"Tentu saja, kau tahu kan kalau sejak awal meniti karier aku sudah menyukainya? setidaknya dia ada dalam profesi hiburan sepertiku, dan dia begitu menyayangiku, menghargaiku, mengerti aku. Dan dia selalu perduli padaku, tidak seperti kau yang lebih memilih gallery dan lukisan." Ungkap Sakura penuh percaya diri.
Sai tersenyum mendengarnya.
"Kau tidak mencitainya, kau hanya mengaguminya." Sahut Sai tenang sambil tersenyum penuh keyakinan mendengar penuturan Sakura, Sakura sendiri tertegun tidak percaya mendengar kata – kata Sai.
"Jangan bercanda Sai! Tentu aku mencintainya!" Solot Sakura kesal.
"Tapi dari jawabanmu, kau hanya menyebutkan semua alasan yang membuat kau menyukainya. Dan Cinta tidak memiliki alasan." Sahut Sai datar.
"Apa kau masih berharap aku tidak keluar dari modelling?" Tanya Sai sambil tersenyum.
"Dengan membuatku cemburu, kau berharap aku masuk lagi ke dunia modeling seperti yang kau inginkan. Karena dengan cara itu, kau mau melihatku kembali?" Selidik Sai.
"Kau tidak mengerti Sai!" Potong Sakura.
"Kau yang tidak mengerti." Lirih Sai, Sakura hanya menatap Sai dengan kesal. Berusaha mengendalikan emosi dan amarahnya.
"Apa kau tahu aku masih mencintaimu? Aku hanya wanita biasa yang berusaha mempertahankan kariernya. Seandainya kau masih berada di sisiku. Menjadi model bersamaku, kita akan menjadi best couple. Dengan cara itu, aku dapat bersinar dan bersamamu seperti dulu" Pikir Sakura.
"Aku mencintainya dan akan ku buktikan!" Solot Sakura berlari pergi menahan semua perasaan yang berkecambuk dalam hatinya. Sai hanya menatapnya hampa.
"Andai kau tahu alasanku-"
"-Aku hanya ingin membuktikan pada semua, kalau kau tidak memanfaatkanku. Aku ingin semua orang tahu, kau masuk dalam modeling karena kemampuanmu. Dan aku hanya ingin kau percaya, tanpa aku di sisimu saat berjalan di catwalk kau pun mampu karena bakatmu. Aku akan selalu menggenggam tanganmu dan menjagamu dengan caraku, usahaku dan kemampuanku sendiri. Karena aku mencintaimu, dan gallery adalah jiwaku" Batin Sai.
Sai teringat beberapa tahun lalu saat setelah dia tampil bersama Sakura menggantikan pasangan Sakura yang tidak hadir, mereka mendapat banyak pujian. Tetapi tidak sengaja, Sai mendengar beberapa rekannya menggunjing Sakura yang termasuk pendatang baru. Mereka berkata Sai yang membuat Sakura dapat dengan mudah masuk di dunia modeling dan karena berpacaran dengan Sai, Sakura menjadi cepat terkenal dan bersinar. Bahkan banyak yang menginginkan Sai dan Sakura menjadi couple dalam peran ketika menjadi model mereka. Semua karena Sai, dan Sai ingin membuktikan bahwa itu tidak benar.
...
Maaf bila alur kecepetan, semoga tidak terlalu membingungkan. tunggu kelanjutannya ya... thanks
