Disclaimer : Masashi Kishimoto

Thanks udah read, salam kenal ghwen :)

warning : abal, gaje, typo berserakan dan masih banyak kekurangan. thanks...

Dari toilet Hinata mencari tempat yang lebih sepi, dia tidak ingin masuk lagi ke arena pesta dan bertemu dua orang yang ia hindari. Siapa lagi kalau bukan Naruto dan Sakura?

Hinata bersandar di koridor yang sepi dan menghembuskan nafasnya kasar.

"Lari dari kenyataan keh?" Terdengar suara mengejek yang datang tiba – tiba.

"Kau lagi Sasuke?" Sahut Hinata yang mulai terbiasa dengan kehadiran Sasuke.

"Kau tidak terlihat canggung padaku, sudah mengingatku heh?" Tanya Sasuke yang ikut bersandar di samping Hinata.

Hinata menautkan kedua alisnya, heran memandang sang Uchiha di sampingnya ini.

"Ternyata belum." Lirih Sasuke tersenyum miris tanpa menatap Hinata, karena tanpa Hinata sadari Sasuke kini telah memandangnya melalui pantulan kaca gedung yang ada di depan mereka.

"Maaf… " Desis Hinata merasa bersalah.

"Aku menyukaimu hime," Celetuk Sasuke.

Hinata pun membola, tiba – tiba potongan kecil masa lalunya hadir dalam ingatannya.

Flashback :

Sasuke menyudutkan Hinata ke tembok dan mengunci Hinata dengan kedua tangannya.

"Sas… sasuke, A-apa yang kau lakuhkan?" Tanya Hinata gugup.

"Aku menyukaimu Hime, jadilah kekasihku!" Desis Sasuke tegas.

Hinata tertinduk merasa bersalah,

"M-maaf!" Lirih Hinata membuat Sasuke membatu.

"Aku mencintaimu, dari dulu!" Desis Sasuke lemah, Hinata tidak dapat berkata – kata lagi dia meneteskan air matanya merasa benar – benar bersalah melihat sorot mata Sasuke yang terluka.

Sasuke pun melepaskan Hinata, menghapus jejak air mata di pipi gadis yang di cintainya itu.

"Tidak apa, lupakan saja." Lanjut Sasuke berlalu pergi, sejak saat itu Hinata tidak pernah melihat Sasuke yang di kabarkan pindah ke Suna mengikuti jejak kakaknya.

Flashback end

"S-sasuke?!" Desis Hinata tidak percaya, matanya membulat memandang Sasuke.

Kini Sasuke memberanikan dirinya menatap Hinata dan tersenyum tulus.

"Aku pulang, Hime!" Lirih Sasuke.

Kini Hinata tertunduk lagi menyesali kebodohannya karena tidak mengenali Sasuke, dan perasaan tidak enak karena pernah menolaknya pun merasuki hatinya.

"Jangan seperti itu, kau mengenaliku saja sudah cukup." Kata Sasuke seperti membaca pikiran Hinata.

"Tapi, tetap saja aku terlalu ceroboh. Sampai tidak mengenali temanku sendiri." Cerca Hinata pada dirinya sendiri.

"Itu karena kau terlalu focus pada Naruto." sahut Sasuke kesal.

"…"

"Bicaralah padanya, mungkin semua hanya salah paham." Bisik Sasuke, Hinata mendongak memandang Sasuke yang terlihat lebih bersinar.

"Tidak, dia sudah menemukan gadis lain selain aku. Bahkan dia sudah mengakuinya di media bahwa Sakura itu-"

"Karena dia tidak mengingatmu." Potong Sasuke, Hinata menatap Sasuke bingung.

"Aku baru tahu kalau si Baka dobe amnesia karena kecelakaan." Desis Sasuke.

"Dan ini di rahasiakan," Lanjut Sasuke lirih.

"Jadi, selama ini. dia menghilang karena tidak mengenaliku?" Pikir Hinata.

"Kau bilang akan melindunginya kan? Buktikan padaku!" Celetuk Sasuke.

"Kau bukan pembual seperti julukan Naruto dulu kan Hinata?" Sambung Sasuke.

Hinata menatap Sasuke dalam – dalam.

"Tentu saja, aku… aku akan selalu di samping Naruto!" Tekat Hinata sambil tersenyum, secercah harapan memasuki hatinya yang gelap.

Sasuke membalas senyum Hinata dan mengacak lembut puncak kepalanya.

"Pergilah." Kata Sasuke, Hinata pun berlari pergi mencari Naruto.

Setelah menyuruh Hinata pergi. Sasuke pergi ke arah parkiran mobil hendak mencari suasana baru yang dapat menenangkan pikirannya, sampai dia melihat Yamanaka Ino berkeliaran sendirian di area parkir.

"Kau sedang apa keh? Ingin mencuri?" Sindir Sasuke.

"Jangan sembarangan ya tuan Uchiha! Aku kehilangan Hinata dan kunci mobilku ada di tasnya!" Cerca Ino.

"Kau tidak terlihat manis seperti saat pertama kita bertemu, apa pesonaku sudah memudar keh?" Desis Sasuke mengejek Ino, membuat Ino salah tingkah.

"Itu… ano, emm…" Kata Ino salah tingkah.

"Ayo pulang!" Sahut Sasuke memotong perkataan Ino yang abstrak dan menyambar sepasang sepetu Ino yang dari tadi sudah ia lepas dan ia jinjing.

"Ehh… mau kemana? Mobilku?" Tanya Ino gelagapan dan tidak di hiraukan oleh Sasuke.

Ino pun masuk ke mobil Sasuke dengan cemberut karena terpaksa menuruti perintah Sasuke yang terlihat cuek dan sombong itu.

"Tenang saja, mobilmu aman." Celetuk Sasuke.

"Bagaimana dengan Hinata?" Sahut Ino kesal.

"Kau sangat perduli padanya ya?" Sahut Sasuke menyeringai.

"Tentu saja, dia sudah seperti adikku!" Solot ino kesal.

"Kalau begitu sepertinya kita cocok!" Goda Sasuke masih menyeringai sambil memacu mobilnya pergi.

"Tidak cocok! Pemuda tidak berperasaan sepertimu mana mungkin cocok denganku!" Cibir Ino asal.

"Hn, kalau aku seperti itu. Sudah ku tinggalkan kau dari tadi." Sahut Sasuke cuek.

"Kau?! Apa hubunganmu dengan Hinata?" Tanya Ino to the point.

"Sejak aku kembali, dia sudah seperti adikku." Jawab Sasuke tersenyum tipis.

"Owh…" Sahut Ino sok cuek.

"Kau cemburu eh?" Goda Sasuke.

Wajah Ino memerah mendengar kata – kata Sasuke, dia hanya dapat memandang lurus ke dapan tanpa melirik Sasuke sedikitpun.

Sakura mencari Naruto yang menghilang,

"Naruto, kau sedang apa?" Tanya Sakura lembut saat menemukan Naruto.

Naruto tersenyum lebar menyambut kedatangan Sakura.

"…" beberapa saat mereka menikmati pemandangan dalam diam.

"Sakura, apa kau mencintaiku?" Tanya Naruto tiba – tiba.

"Tentu saja baka!" Sahut Sakura kesal.

"Kenapa?" Tanya Naruto lagi memandang Sakura datar, membuat gadis itu kebingungan.

"Maksudmu apa Naruto?" Tanya Sakura tidak mengerti.

"Apa alasanmu mencintaiku?" Tanya Naruto menatap Sakura lekat.

"Itu-"

"itu karena- "

"karena kau baik padaku. Pertama kali melihatmu, aku sudah menyukaimu." Jawab Sakura, Naruto tersenyum mendengar pengakuan Sakura.

"Aku juga sama sepertimu, saat pertama kali melihatmu di rumah sakit saat itu. Aku menyukaimu, kau sangat cantik dan bersinar saat itu." Lirih Naruto, Sakura hanya menatap Naruto bingung. Mencoba mencerna setiap kata kekasihnya itu.

"Tapi, ada yang salah di hatiku. Yang membuatku sadar saat itu… suara itu, suara yang awalnya aku yakini suaramu. Tetapi , saat melihat gadis itu. Saat mendengar suaranya dan saat dia terluka. Perasaanku mulai ragu." Pikir Naruto menerawang jauh.

"Kau tidak apa Naruto?" Tanya Sakura melihat sorot mata Naruto yang mulai sendu.

"Aku tidak apa, sebaiknya kita pulang Sakura." Sahut Naruto mencoba tetap tersenyum.

Tiba – tiba Sakura menarik tangan Naruto dan berjinjit, menyamakan tingginya dengan pemuda itu dan mencium bibir Naruto dengan tiba – tiba.

Semua terjadi begitu saja, Naruto hanya membeku. Terkejut dengan kejadian mendadak itu, sementara tak jauh dari tempat itu. Hinata hanya dapat mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, menahan suara tangisannya.

Setelah melihat kejadian yang mengejutkan itu, Hinata tidak ingat apapun lagi. Ketika dia membuka mata. Dia baru menyadari dirinya tidak lagi di gedung tempat pesta Uchiha crop di laksanakan.

"Dimana aku?" Desis Hinata mencoba bangkit dari tempatnya.

"Istirahatlah, kau tak sadarkan diri di lobi dan terlihat sangat tidak sehat. Jadi aku membawamu ke rumah sakit ini," Jawab seseorang bersurai hitam kelam.

Hinata hanya terdiam, mengamati pemuda yang ada di ruangan itu bersamanya.

"Perkenalkan, aku Uchiha Sai. Aku sempat melihatmu beberapa kali di berita bersama saudaraku Sasuke, jadi apa kau kekasihnya?" Tanya Sai memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.

"Awh itu, terimakasih sebelumnya. Tapi, aku dan Sasuke. Itu hanya salah paham, bukan seperti yang kau kira," Jawab Hinata sambil menunduk malu.

"Haha, Sayang sekali. Pasti menyenangkan memiliki kakak ipar semanis kau.. um? Hyuga Hinata," Goda Sai.

Hinata hanya tersenyum kikuk dan menunduk malu. Sejenak Hinata melihat sekitarnya.

"Kau mencari sesuatu?" Tanya Sai melihat gelagat Hinata.

"Ponselku, teman dan keluargaku pasti mencariku," Jawab Hinata cemas.

"Tenang, aku sudah memberitahu Sasuke. Dia sangat cemas mendengarmu pingsan dan menyuruhku menemanimu sampai sadar. Dia sedang dalam perjalanan kemari," Balas Sai.

"Maaf, aku selalu merepotkan kalian," Sesal Hinata.

Sai hanya tersenyum mendengarnya.

Karena sudah malam, Sai hanya menjaga Hinata sampai Sasuke datang. Walau Hinata menyuruh Sasuke pergi dan tidak perlu khawatir tentang keadaannya. Sasuke tetap setia menemani Hinata.

Pagi – pagi, setelah membereskan beberapa pekerjaan. Sasuke kembali menjenguk Hinata.

Saat berjalan di lobi rumah sakit, Sasuke dan Ino tidak sengaja bertemu.

"Kau!" Geram Ino.

"Hn"

"Kau bilang Hinata akan baik – baik saja? Mana buktinya? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit keh?" Cerca Ino memancing berpasang – pasang mata untuk memperhatikan mereka.

"Tenanglah, dia baik – baik saja. Hanya kecapekan dan kurang asupan nutrisi," Lirih Sasuke menenangkan.

"Dasar pembohong!" Umpat Ino kesal meninggalkan Sasuke.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Sasuke ketika telah sampai di ruangan Hinata.

"Lebih baik, terimakasih Sasuke." Ungkap Hinata.

"Kau dengar kan Ino!" Ejek Sasuke.

"Y-ya! Lebih baik, kalau tidak ada kau," Desis Ino sambil cemberut kesal.

"Kalian terlihat dekat?" Kata Hinata sukses membuat Sasuke dan Ino salah tingkah.

"Tidak!" Jawab Ino sambil membuang muka.

"Kanapa kau bisa pingsan semalam? Kata dokter kau terlalu setres dan kurang asupan gizi? Ini semua gara – gara si baka dobe!" Geram Ino sambil mengupas apel untuk Hinata.

Hinata hanya tertunduk diam,

"Tolong, jangan sebut dia lagi." Lirih Hinata, Sasuke dan Ino pun terdiam.

"Hhaha.. aku butuh refresing, jadi aku tidak ingin mendengar apapun dulu tentang.."

"Aku mengerti Hinata," Potong Ino sambil tersenyum lembut. Sasuke tersenyum tipis, sangat tipis melihat hangatnya persahabatan kedua orang di hadapannya ini.

"Ehem, aku tidak tahu kalau kalian disini." Kata seseorang mengintrupsi.

"Sai?" Gumam Sasuke

"Aku hanya berkunjung, haha... sekarang aku dan Hinata kan sudah berteman," Sahut Sai dengan senyum khasnya.

"Hai, aku Ino. Jadi, kau yang menolong Hinata? terimakasih ya," Ungkap Ino ramah, di sambut baik oleh Sai. Sasuke hanya mendengus kesal melihat mereka berdua. Hinata yang melihat ekspresi kesal di wajah Sasuke hanya terkikik geli.

"Hhaha.. baiklah, aku ingin membeli minuman di kantin rumah sakit dan tidak mengganggu kalian. Apa ada yang mau sesuatu?" Tawar Sai ramah.

"Aku ikut denganmu Sai." Celetuk Ino.

"Hei nona! Kau kesini untuk menjenguk Hinata!" Sahut Sasuke datar, Ino hanya mengerucutkan bibirnya kesal.

"Haha.. baiklah – baiklah! Aku mengerti sekarang." Goda Sai berlalu pergi meninggalkan 3 orang itu.

Ino pun melanjutkan kegiatan mengupas buah, sementara Sasuke merapikan beberapa tempat.

...

Hari ini jadwal Naruto untuk periksa keadaannya secara rutin. Dia pergi kerumah sakit sendirian, sementara Sakura biasanya akan menjemputnya setelah pemotretan selesai.

Ketika berjalan ke ruangan pemeriksaan, tiba – tiba kepala Naruto terasa pusing. Naruto terseok dan bersandar di tembok untuk menopang badannya. Ketika ingin mengambil Handphone untuk menghubungi Kakashi yang menunggunya di parkiran mobil. Tidak sengaja cicin yang Naruto selalu simpan di sakunya terjatuh dan menggelinding. Naruto berusaha mengambil cicinnya kembali.

Ketika sudah mendapatkan cicinnya, Naruto tidak sengaja melihat berita di Tv yang memberitakan kedekatan Uchiha Sasuke dan Hyuga Hinata yang beberapa kali kepergok sedang bersama.

Entah kenapa Naruto teringat pertemuan pertamanya dengan gadis bersurai indigo itu, gadis yang meneteskan air mata di depan matanya saat melihat dirinya bersama sakura di apartemen. Gadis yang terluka, karena melindunginya dan Sakura dari kejaran wartawan. Gadis yang terlihat selalu tegak berdiri di depannya, menjadi tameng baginya. Tanpa Naruto sadari, dia meremas erat cincin yang dia bawa.

Dia teringat saat Sasuke, orang asing yang menyebut nama gadis indigonya dengan seringai yang memuakan.

...

Sakura berlari kecil menuju taman rumah Sakit, terlihat Naruto terduduk di salah satu bangku dengan lesu.

"Naruto! apa yang terjadi?" Tanya Sakura khawatir.

"Aku tidak apa – apa Sakura," Jawab Naruto datar, Sakura tersenyum senang dan memeluk Naruto dengan posesif.

"Maaf..." Sahut Naruto, Sakura melepas pelukannya dan tersenyum.

"Jangan menakutiku lagi Naruto!" Bisik Sakura.

"Kau gadis yang baik Sakura, terlalu baik untukku. Sejak awal, kau memang spesial. Kau istimewa," Ungkap Naruto. Sakura menatap Naruto ragu, mencoba membaca ekspresi kekasihnya itu.

"Maaf.." Lirih Naruto, Sakura berusaha menatap mata Naruto. mencari tahu maksud pemuda itu.

Sakura melihat sepasang cincin di tangan kekasihnya itu, mencoba meraihnya.

"Apa ini?" tanya Sakura ragu.

"Apa kau mencintaiku?" Tanya Naruto, tiba – tiba mata Sakura berkaca – kaca. Entah kenapa terbesit sedikit rasa bersalah dan takut.

"Kenapa?" Tanya Sakura ragu.

"Apa kau mau menikah denganku?" Balas Naruto dengan ekspresi yang sulit terbaca.

Deg!

Sai yang tidak sengaja lewat dan melihat hal itu, entah kenapa tidak dapat menahan dirinya untuk tidak perduli.

Sakura tidak membalas, dia hanya terdiam dan meneteskan air mata. Lidahnya kelu.

"Maafkan aku," Lirih Sakura.

"Aku tahu, selama ini kau hanya mengagumiku!" Sahut Naruto.

Sakura tertegun melihat Naruto yang tersenyum,

"Begitu pula denganku, dia... sudah menungguku. Ada gadis lain yang selalu bersamaku, melindungi cita – citaku, mencintaiku, menggenggam erat tanganku." Ungkap Naruto.

Naruto menunjukan inisial cincin itu pada Sakura.

"Dia kekasihku, Hyuga Hinata! dan aku tidak ingin kehilangannya karena kebodohanku!" Kata Naruto mantab.

Air mata Sakura pun tumpah,

"Kalau begitu, perjuangkan lagi cintamu! Jangan sampai kau menyesal hanya karena egomu. Aku tidak ingin kau sepertiku, membohongi hatimu.." Jawab Sakura lirih.

"Terimkasih Sakura! Kau selalu spesial, kau sahabat terbaikku!" Balas Naruto sambil menghapus air mata Sakura.

Setelah melihat senyum tipis Sakura, Naruto hendak pergi memperjuangkan Cintanya.

"Hei bodoh! Dia di sini! Hyugamu!" Sahut Sai yang keberadaannya baru di ketahui oleh Naruto dan Sakura. Sakura hanya tertunduk malu.

...

Setelah kepergian Naruto.

"Kau menang!" Kata Sakura hendak pergi.

"Kembalilah padaku, aku selalu mencintaimu. Biarkan aku menjagamu, dengan caraku. Tolong, jangan ubah aku. Galerry adalah hidupku, tapi kau jiwaku." kata Sai. Sakura berkaca – kaca menatap Sai.

...

Setelah mendapat info dari Sai, Naruto berlari pergi keruanagan Hinata. mencari Hinata kemana – mana.

"Hinata!" Panggil Naruto setelah melihat Hinata yang berjalan bersama Sasuke.

Hinata mencoba mengacuhkan Naruto, memorinya terlalu menyakitkan melihat kedatangan Naruto.

"Pergilah Naruto..." Jawab Hinata singkat, Sasuke tidak mengerti dengan sikap Hinata. Bukankan bagus bila Naruto mencarinya, kenapa sekarang malah Hinata menyuruh Naruto pergi?

"Aku harus bicara dengan Hinata," Kata Naruto meminta pengertian Sasuke.

"Tidak!" Tolak Hinata tegas.

"Tapi Hinata," Protes Naruto.

"Sebaiknya kau pergi! Kau dengar kan?" Potong Sasuke menghalangi Naruto mendekati Hinata.

"Dengar, aku mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu! Aku akan selalu menggenggam tanganmu, karena aku tidak akan mengingkari janjiku!," Kata Naruto tidak mau menyerah.

"Katakan saja itu pada calon istrimu," Sahut Hinata Sinis.

Naruto tersenyum,

"Tentu saja, " Balas Naruto tegas.

Entah kenapa Hati hinata semakin tersayat mendengar kata – kata Naruto. Hinata memalingkan wajahnya memunggungi Naruto.

Perlahan naruto mendekat, Sasuke juga memberikan waktu untuk mereka bicara.

"Tentu saja! Sekarang aku sudah mengatakannya pada calon istriku." Bisik Naruto lembut.

"Hinata, aku menemukanmu! Walau ingatanku melupakanmu, tetapi hatiku selalu mengenalimu. Menikahlah denganku." Kata Naruto sambil memakaikan cincin berinisial NH pada jari manis Hinata.

Hinata tersentak dan memandang Naruto tidak percaya.

"Maaf, seharusnya aku melakuhkan ini saat ulang tahunmu dulu. Apa boleh buat? Takdir mengulur waktuku," Sahut Naruto sambil tersenyum.

Hinata merajuk dan memukul – mukul Naruto dengan kesal dan bahagia. Dari jauh Sasuke dan Ino hanya tersenyum maklum pada ke dua sahabatnya itu.

...

"Jangan terlalu cemburu!" Goda Ino.

"Hn, masih banyak gadis cantik yang menyukai pengusaha sukses dan tampan sepertiku." Sahut Sasuke menyeringai. Ino hanya mendecih kesal dan berlalu pergi.

END

thanks for read, sorry bila ending mengecewakan . hehe...