Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu

ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT

CHAPTER 1 – THE ARRIVAL AND THE REVELATION

"Hah..hah..hah" "Ayo cepat Marisa, sebentar lagi gerbangnya tutup." Reimu dan Marisa mendengar bel masuk sekolah mulai dibunyikan, tanda kelas sebentar lagi akan dimulai. Sekarang keduanya berlari sekuat tenaga ke sekolah dan mencapai kelas sebelum guru pertama masuk.

"Yeah! Sampai juga *BRUK*" "Huh, sudah kesiangan lalu hampir telat lagi. Kenapa pagi-pagi sudah melelahkan begini sih?" Mereka berdua masuk tepat waktu, Marisa langsung duduk dan meletakkan kepalanya di atas meja sedangkan Reimu berjalan pelan-pelan menuju bangkunya.

Walaupun mereka berdua teman dekat, mereka duduk berjauhan. Reimu duduk tepat di depan meja guru dan Marisa duduk di belakang tepat di samping jendela, menurutnya tempat yang cocok untuk tidur ketika pelajaran mulai membosankan, atau lebih tepatnya semua membosankan baginya. Akademi Touhou tempat mereka bersekolah memiliki sekolah dari tingkat SD hingga SMA dan keduanya sudah bersekolah di sini dari SD. Reputasi mereka juga baik, namun bidangnya berbeda. Reimu terkenal sebagai siswi yang sangat baik hasilnya di bidang akademik. Marisa lebih condong ke bagian non-akademik di mana dia terkenal sebagai anggota tambahan yang sering membantu klub-klub olahraga untuk kegiatan lomba atau pertandingan biasa, tetapi dia tidak mengikuti 1 klub pun. Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan masuklah guru matematika, yaitu Ran Yakumo. Ran memiliki sifat yang tegas dan serius saat mengajar, tetapi lebih santai dan lembut ketika di luar. Ran juga merupakan wali kelas Reimu dan Marisa, yaitu kelas 2-E. Tiap tingkat mempunyai 5 kelas di SMA, dan sistem pembagian muridnya ditentukan dari hasil akhir saat naik kelas dari kelas 1. Khusus kelas 1 diambil dari hasil tes masuk.

"Berdiri. Memberi Salam." Ketua kelas memimpin seluruh siswa memberi salam kepada guru, sama seperti yang biasa terjadi di sekolah-sekolah."Duduk."

Ran membetulkan kacamatanya dan kemudian mulai berbicara. "Selamat pagi anak-anak. Hari ini bertemu lagi di pelajaran matematika. Minggu lalu Ibu sudah memberikan tugas untuk latihan akhir bab 1 dan 2, apa semua sudah mengerjakan?"

"(Hah? Ada tugas? Waaa, aku keasikan jalan-jalan di hutan sampai lupa)" Marisa berteriak panik dalam hati karena ia lupa akan tugas. Marisa memiliki hobi mencari benda kuno atau tanaman-tanaman langka di hutan. Hutan di Gensokyou memiliki spesies-spesies yang cukup bervariasi dan tidak banyak yang menduga bahwa mereka dapat ditemukan di hutan tersebut.

"Kirisame? Kamu sudah mengerjakan tugasnya 'kan? Ibu juga masih ingat dengan tugasmu minggu sebelumnya, apa sudah dikumpulkan ke meja Ibu?" Tanya Ran sambil tersenyum, namun entah kenapa senyum itu sepertinya memberikan pertanda buruk.

"Ahh, itu..te..tentu…"

"Tentu apa? Tentu saja sudah? Atau…BELUM?!"

"Hii…maaf Bu, sebenarnya saya sudah mengerjakannya, tetapi kemarin rumahku kehujanan dan buku tepat kena tumpahan air yang bocor. Aku keringkan di luar dan aku lupa mengambilnya Bu."

"Alasan macam apa itu? Mau mencoba membohongi Ibu? Cukup! Sekarang kamu berdiri di luar sampai pelajaran selesai dan kamu harus mengumpulkan semua tugasmu besok pagi. Oh, dan hari ini juga akan ada tugas, khusus untukmu besok harus dikumpulkan juga." Ran tanpa basa-basi langsung memberikan hukuman pada Marisa. Marisa hanya tertunduk lemas, tidak bisa protes. 'Lebih baik terima saja ketimbang ditambah tugasnya' pikirnya. Dan dia langsung beranjak keluar.

"Nah untuk yang lainnya sudah mengerjakan?" Seluruh kelas mengangguk. "Bagus, sekarang buka halaman 49, subbab 1…"

*TING TONG TING TONG* Bunyi bel jam pelajaran berakhir sudah berbunyi. Ran memberikan tugas ke 1 kelas dan meminta Reimu untuk memberi tahu Marisa apa saja tugasnya kemudian keluar. Ran berjalan melewati Marisa dan memandangnya dengan pandangan kecewa, tetapi hanya menghela nafas dan menyuruhnya masuk.

"Hueeh, bisa mati aku, berdiri 2 jam. Kakiku sakit sekali."

"Makanya, kerjakan PRmu. Memangnya kamu ke mana sih? Tugasnya juga tidak terlalu sulit."

"Kamu sih enak Reimu, belajar sedikit saja sudah nempel di kepala, aku diam menatap buku 1 menit aja udah nggak tahan."

"Ya yang penting belajar yang rajin, dipaksakan sedikit-sedikit. Kita sudah SMA, mulai seriuslah."

"Eh? Jangan mulai menceramahiku juga dong. Sudah cukup aku diceramahin Kourin tiap hari."

"Kak Rinnosuke hanya khawatir denganmu. Gara-gara kamu seenaknya pindah ke rumahnya, dia juga bertanggung jawab soal pendidikanmu."

"Iya deh, aku mulai belajar tapi kamu harus ajarin aku ya. Terutama pelajaran tadi, aku punya 3 tugas harus selesai besok…uuuu"

"Oke oke aku bantu. Tapi nanti sore temani aku belanja ya."

"Asik, mau masak makan malam nih? Duh, nggak usah repot-repot gitu dong Reimu.."

"Eh, siapa juga yang mau beli makanan? Aku mau beli buku tahu."

"Dasar kutu buku."

Jam istirahat tiba, Reimu dan Marisa pergi ke kantin untuk makan siang. Dan seperti biasa kantin akademi penuh dengan siswa.

"Bu, ramennya 1 ya" "Roti kacangnya masih ada Bu?" "Hei, jangan dorong-dorong! Antri!"

"Gweh, ramai sekali. Gimana nih Reimu, masih mau antri? Keburu masuk nanti."

"Aku lapar…" "Ah! Reimu! Marisa! Oi!" Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil mereka sambil melambaikan tangannya.

"Alice? Kamu tumben sekali makan di sini? Dan ngapain kamu teriak-teriak memanggil kami?" Marisa berkata sesaat setelah menghampiri siswi yang tadi memanggil mereka. Siswi tersebut bernama Alice Margatroid, dari kelas 2-C. Mereka dulunya teman sekelas di kelas 1. Alice berambut pirang pendek dan memakai bando berwarna merah dengan hiasan putih. Memiliki keahlian menjahit dan membuat boneka. Awalnya orang yang agak tertutup dan penakut, tetapi setelah bertemu Reimu dan Marisa, dia menjadi lebih ekspresif walaupun terkadang kelihatan aneh karena dia juga terkenal pendiam.

"Maaf maaf, habisnya kalau aku panggil pelan-pelan kalian tidak akan dengar."

"Ah ya benar juga, kamu makan sendirian?"

"Ah...um..tidak..aku sedang menunggu temanku. He he he"

"Sudahlah Alice, mengaku saja kamu makan sendiri. Kami temani ya, tapi bagi dulu makananmu..OW!" Reimu menepuk kepala Marisa

"Marisa, tidak boleh begitu. Tidak sopan dengan Alice"

"Eh, tidak apa-apa kok. Kalau begitu ini, cuma sandwich sih tapi kalau kalian mau silakan"

"Kalau begitu terima kas-" "Selamat Makan! OW!"

"Hihi, kalian berdua ini."

Setelah sekolah selesai, sesuai rencana Reimu akan membantu Marisa mengerjakan tugas dari Bu Ran, tetapi setelah Reimu membeli buku dulu.

"Ngomong-ngomong kamu mau beli buku apa sih?"

"Buku novel terbaru yang ditulis oleh penulis favoritku, Sato Rorin." Jawab Reimu sambil tersenyum.

"Sato Rorin, siapa itu?" Tanya Marisa dengan wajah bingung. Reimu hanya bisa menggelengkan kepala.

"Itu lho, penulis novel cerita misteri dari Ibukota Lama. Setelah menulis cerita misteri, dia bilang ingin menerbitkan sebuah buku yang dia tulis bersama kenalannya mengenai cerita sejarah. Katanya menyangkut sejarah Gensokyou."

"Oh, sepertinya menarik. Nanti ceritakan padaku isinya."

"Ya."

Reimu membeli buku tersebut dengan judul 'Gensokyou : Sejarah Ribuan Tahun'. Di sampul bukunya menggambarkan seorang gadis berbaju seperti seorang miko dan dia berhadap-hadapan dengan sesosok makhluk bersayap dengan latar langit yang berwarna merah pekat. Ada tulisan jilid ke-1 juga, sepertinya akan dirilis dalam beberapa seri.

"Uh, sudah tidak sabar rasanya ingin membaca ini."

"Oh ya, kau tidak keberatan pergi ke Kourin dulu kan? Sepertinya bukuku ketinggalan di sana."

"Huh, baiklah. Aku juga ingin bertemu Kak Rinnosuke, Ibuku berpesan untuk menyampaikan salam kepadanya kalau pergi ke sana."

Mereka berdua berjalan menuju sebuah toko barang antik yang letaknya berada di pinggir distrik toko serbaguna. Tokonya bernama 'Kourindou', dan disinilah Marisa menumpang tinggal sekarang. Walaupun bisa dikatakan toko barang antik, yang dijual sebenarnya hanya barang bekas yang kelihatannya bagus dan masih bisa diperbaiki lagi. Dan nilainya tidak seperti barang-barang antik umumnya. Biar begitu, toko ini juga menjual barang-barang rumah tangga dan lain-lain.

*Kling..kling* Lonceng berbunyi tanda pintu dibuka.

"Selamat datang! Ada yang bisa saya ban…tu.."

"Aku pulang Kourin, aku mau mengerjakan PR dengan Reimu. Jangan ganggu ya"

"Selamat sore Kak Rinnosuke, ada salam dari Ibu. Maaf mengganggu"

"Oh halo Reimu, lama tak jumpa. Tidak apa-apa, maaf jika Marisa selalu merepotkan."

"Kenapa aku terus sih yang dibilang merepotkan?" "Karena kamu memang begitu. Silahkan saja pakai ruang tengah untuk belajar, kalau butuh apa-apa panggil saja."

"Terima kasih Kak Rinnosuke."

Selama 2 jam Marisa mengerjakan tugas tersebut, Reimu membantu menjelaskan pelajarannya sambil membaca buku yang dia beli tadi. Reimu merasakan sesuatu ketika membaca bagian awal dari cerita tersebut. Dia merasa sudah pernah mengalami kejadian ini sendiri, tetapi mengingatkan dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin.

"(Begitu ya?)"

"(Aku yang paling kuat, jangan macam-macam denganku!)"

" (Cukup sampai disitu! Penyusup tidak akan kubiarkan lewat!)"

"(Hmm...siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke tempat ini?)"

"(Tidak akan kubiarkan siapapun mendekati Nona! Ini semua akan selesai sebelum kau menyadarinya. Bersiaplah!)"

"(Hm, ini hanya langkah awal bagiku untuk menunjukkan kekuatanku. Miko, jika kau masih menghargai nyawamu, kupersilahkan kau kembali ke tempat kau berasal. Tapi, mari kita bersenang-senang dulu…ufufu)"

"(Ah! Apa kau datang untuk bermain denganku?)"

Kata-kata tersebut terngiang di kepala Reimu, seolah meminta Reimu untuk mengingat di mana ia pernah mendengarnya. Reimu menutup matanya sambil berpikir keras.

"Reimu, kau kenapa? Sudah mengantuk? Apa sebaiknya kau pulang saja? Aku sudah mengerti apa saja yang perlu dikerjakan. Kau duluan saja."

"Eh, um..tidak apa-apa Marisa. Hanya teringat akan sesuatu. Buku ini menarik sekali, aku tidak sabar membacanya sampai habis."

"Kalau begitu pulanglah dan istirahat, besok kau ceritakan semuanya padaku. Aku juga mau istirahat dulu."

"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Kalau masih bingung, sms saja aku."

"Oke"

Sebelum Reimu meninggalkan Kourindou, mereka melihat Rinnosuke sedang mengerjakan sesuatu. Bentuknya cukup unik, dan kelihatannya sedikit berbeda dari barang-barang yang dijual pada umumnya. Penasaran mereka mendekatinya sekaligus pamit.

"Kourin, itu apa? Bentuknya unik sekali"

"Oh, kalian. Ini aku menemukan sebuah blueprint yang menunjukkan cara membuat mini-hakkero."

"Mini-hakkero?"

"Ya benda ini, entah kenapa aku tertarik untuk mencoba membuatnya. Siapa tahu bisa dijual kan?" Jawab Rinnosuke sambil senyum-senyum memikirkan uang yang bisa ia dapat.

"Hm, terserah kamu deh. Eh itu bola apa Kourin?" Marisa bertanya sambil menunjuk ke sebuah bola yang keliatan berkilauan dengan simbol yin-yang di dalamnya.

"Oh? Tidak tahu, aku menemukannya bersama dengan bagian-bagian mini -hakkero ini. Kalau mau kamu ambil, ambil saja Reimu." Jawa

"Eh, tidak terima kasih, aku cuma-" Tiba-tiba Reimu merasa tubuhnya bergetar setelah menyentuhnya.

"Reimu?" "Oh, eh kalau kau tidak keberatan boleh aku bawa bola ini? Mungkin Ibuku tahu sesuatu mengenai benda ini. Sepertinya di kuil aku pernah melihat benda yang mirip dengan ini."

"Baiklah, kalau begitu kuserahkan padamu. Apa kau mau pulang sekarang? Perlu kuantar?"

"Tidak usah repot-repot, kalau aku pergi sekarang, jalanan masih cukup ramai."

"Hati-hati Reimu. Terima kasih sudah mengajariku. Besok ketemu di tempat biasa oke?"

"Oke. Sampai jumpa Kak Rinnosuke, Marisa." Reimu pergi meninggalkan Kourindou menuju ke rumahnya. Dari kejauhan terdengar bunyi pertarungan. *KLANG**TAK**BUGH* hingga... "UAGHH!"*BRUK* sesuatu terjatuh, dan tidak bergerak. Seseorang mendekati sesuatu yang sudah mati tersebut. "Hmm, hanya seperti ini saja kemampuan penghuni di sini. Membosankan." "Aduh, Nona! Jangan membunuh di sini! Bagaimana kalau terjadi apa-apa?" Setelah orang pertama berbicara, ada seorang lagi yang datang menghampirinya. Yang pertama mengenakan topi bergaya khas Eropa, begitu juga pakaiannya yang bernuansa sama. Dari punggungnya terdapat sayap besar berwarna hitam seperti sayap kelelawar. Orang kedua berpenampilan seperti seorang pelayan, atau lebih tepatnya pelayan seperti di kafe-kafe atau pelayan orang kaya. Dia memegang sebuah jam antik di tangannya dan di kedua kakinya terdapat banyak sekali pisau yang berkilauan.

"Tenang saja Sakuya, pertarungan ini hanya pemanasan. Lagipula bukankah aku memang diminta untuk mencoba kekuatan ini kan?"

"Memang benar Nona. Tetapi apa harus melawan youkai-youkai penghuni kota ini? Misi dari Tuan Besar hanya untuk mencari informasi mengenai 'dia' dan melawannya kan?"

"Kalau soal itu, aku sudah punya siasat. Sakuya, kembali dulu ke wujud semula. Aku jadi kesal setiap kali berubah seperti ini."

"Baik Nona Remilia." Sakuya memejamkan mata dan menekan tombol di jam antik tersebut dan tubuhnya bersinar. Setelah sinarnya menghilang, Sakuya berubah menjadi gadis kecil dengan pakaian pelayan yang sama namun menyesuaikan dengan tubuhnya. Jam antiknya berubah menjadi jam tangan. Remilia juga memejamkan mata dan tubuhnya yang tadinya seperti anak kecil berubah menjadi wanita dewasa.

"Kenapa perubahan kita jadi terbalik begini ya? Sungguh tidak cocok sekali untukku, Remilia Scarlet menjadi wujudnya kelihatan kekanak-kanakan"

"Ufufu..tapi Nona kelihatan manis saat jadi anak kecil."

"Sakuya, kuminta kau berhenti sekarang sebelum aku menghukummu."

"*Begitulah Nona, cocok sekali ihihi*" Gumam Sakuya dalam hati.

"Pertama-tama kita mulai dulu dari kota ini. Berdasarkan informasi yang kuterima, 'dia' akan segera bangkit. Aku membutuhkan jawaban atas apa yang menyebabkan kita perlu datang ke kota ini."

Dan tidak lama kemudian mereka pergi, meninggalkan jejak darah sepanjang jalan mereka. Dengan tujuan untuk menemukan jati diri mereka, memulai sebuah misteri baru tentang apa yang sebenarnya tersembunyi di Gensokyou selain terdapatnya makhluk-makhluk selain manusia. "The Scarlet Devil has arrived…ufufufu"

Catatan Penulis :

Halo, Dupi94 disini. Yah berhubung masih weekend dan pas kebetulan punya ide, saya dapat mulai menulis chapter 1 dari arc 1 cerita ini. Tujuannya sih saya mau membuat cerita ini sampai 5 arc jadi mudah-mudahan cerita ini bisa sampai ke sana. Dari ending chapter ini, target saya mau memfokuskan ke cerita Reimu dan Marisa hingga mereka akan bertemu dengan tim Scarlet Devil Mansion. Untuk kenapa Remilia dan Sakuya memiliki 2 wujud, akan dijelaskan di chapter-chapter berikutnya. Untuk yang sudah menyempatkan membaca dan memberikan komentar, saya ucapkan terima kasih. Saya menjadi sangat terbantu dalam belajar menulis cerita. Semoga kalian mau mengikuti cerita ini sampai selesai. Terima kasih ^_^