Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu
ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT
CHAPTER 5 – GIRLS ARE DECIDING…
Reimu, Marisa, dan Alice sedang berjalan pulang. Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka. Reimu sudah memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang dikatakan Suika, mencari tahu siapa orang yang datang menghentikannya, gadis vampir yang bertarung melawan Suika, juga Yakumo. Ia pun bingung karena yang tadi terjadi itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan manusia biasa. Karena itulah, ia berusaha mengajak Marisa dan Alice untuk membantunya dalam mencari agar dapat melindungi diri mereka apabila salah satu dari mereka muncul dan menyerang mereka.
"Marisa, Alice. Kalian sudah lebih tenang?" "Ya." "Um..y-ya."
"Jadi begini, aku berpikir kita sebaiknya mencari tahu tentang apa yang terjadi di musium tadi. Menurutku jika kita menghindari masalah ini, tanpa disadari kita akan terlibat lebih dalam lagi karena orang-orang itu pasti akan mencari kita. Menurut kalian, ada yang bisa kita tanya?"
Marisa dan Alice saling berpandangan, lalu Marisa menjawab, "Reimu, aku tahu kamu pasti penasaran sama hal ini, dan aku nggak masalah kalau kamu mau terlibat lebih dalam soal ini, tapi aku nggak mau berurusan sama monster-monster itu. Yang benar saja Reimu?! Kita, adalah reinkarnasi dari 3 tokoh Gensokyou? Aku nggak percaya ini! Kemana perginya kehidupan yang tenang?"
"Eh? Tapi kan Marisa, bukankah kau biasanya tertarik dengan hal-hal berbau petualangan begini? Kemana perginya rasa ingin tahumu yang tadi?" Reimu bertanya kembali.
"Begitu aku tahu bahwa hidupku akan terikat dengan semua kekacauan ini aku tidak mau tahu lagi, terserah jika kalian masih mau cari tahu, aku mau pulang." Marisa berlari pulang dan Reimu dan juga Alice tidak sempat menghentikannya.
"Hh, kenapa jadi begini ya? Aku juga tidak mau mati, tapi setidaknya kita bisa membela diri begitu kan bagus, benar kan Alice?" Alice berpikir sejenak kemudian memejamkan matanya, selang beberapa saat ia membuka matanya dan berkata kepada Reimu, "Reimu, sejujurnya aku tidak mau terlibat ke dalam situasi yang membahayakan diriku, tetapi kalian berdua adalah temanku yang berharga. Karena itu akan membantumu Reimu."
"Terima kasih Alice. Kalau saja Marisa bisa diajak bicara dulu, tapi itu nanti saja. Sebaiknya kita pulang dulu. Aku tahu kepada siapa kita sebaiknya bertanya."
"Siapa? Nona Ajuu?" "Bukan, kita akan bertemu dengan orang itu nanti. Aku beri tahu lagi."
"Baiklah, sampai nanti Reimu." "Ya, hati-hati ya." Reimu dan Alice menuju rumah mereka masing-masing sambil menenangkan pikiran mereka.
Di rumah Reimu...
Reimu melakukan pencarian melalui internet soal dirinya di masa lalu, miko Hakurei Reimu Hakurei. Isinya tidak jauh berbeda dengan yang ada di musium, hanya saja tidak ada gambarnya seperti di musium. Reimu kemudian juga mencari tahu soal Suika, Marisa, dan Alice. Menurut informasi yang ada, Gensokyou yang dulu sering mengalami kejadian-kejadian yang abnormal, walaupun sehari-harinya tempat ini dihuni berbagai macam makhluk dari manusia, siluman, hantu, peri, vampir, penyihir, celestial, lunarian, dan dewa. Agama yang ada juga lebih dari 1, ada Shinto, Buddha, dan Tao. 2 tokoh besar dari 2 agama terakhir tadi pernah menimbulkan insiden yang segera diselesaikan oleh Reimu dan teman-temannya. Marisa, yang sudah ia ketahui dari penjelasan Ajuu. Dan ada 2 lagi, Sanae Kochiya, "Pendeta Angin" dan Youmu Konpaku, "Tukang Kebun Setengah Manusia Setengah Roh". Reimu cukup terkejut mengetahui hal ini, dan kemudian ia mencari lagi dan ternyata masih ada lagi. Bahkan Suika juga ada, dan tadinya ia menimbulkan kekacauan sebelum dikalahkan dan menjadi sekutu Reimu. Semua kejadian abnormal tersebut dinamakan "Insiden". Namun, ketika ia mencari nama Yakumo, informasinya menjadi rahasia. Hanya disebutkan ia adalah penjaga batas wilayah Gensokyou, dan juga yang mengawasi seluruh Gensokyou. "Setidaknya aku jadi tahu kalau dia juga reinkarnasi sepertiku. Sekarang kita coba cari Scarlet." Baru saja Reimu ingin memasukkan kata kunci, Hpnya berdering dan di layar tampak tulisan "Alice". Reimu kemudian menerima panggilannya dan berbicara dengan Alice.
"Halo Alice, ada apa?"
"(Ah, Reimu. Begini, aku baru saja bertanya-tanya soal Yakumo dan Scarlet kepada nona Ajuu, dan beliau bilang ia tidak bisa bilang banyak soal Yakumo, karena ia punya perjanjian dengannya. Ia hanya bilang ada Yakumo yang dekat denganmu, sebaiknya bicara padanya. Soal Scarlet, ia tinggal di sebuah rumah bergaya Eropa di dekat danau di daerah selatan. Cari saja yang tempat dengan nama "Scarlet Devil Mansion". Pasti tidak akan salah.)"
"Oh, terima kasih Alice! Aku tidak perlu repot-repot lagi mencari info."
"(Hm, tentu saja! Oh ya soal itu...)"
"Hm?"
"(Biar aku yang coba meyakinkan Marisa. Dia mungkin hanya terguncang sedikit. Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa ingin tahunya.)"
"Hahaha, iya iya kau benar Alice. Mungkin aku tadi kesannya memaksa tanpa memikirkan perasaannya. Kalau begitu kuserahkan padamu ya, Alice."
"(Iya, serahkan padaku! Maaf menelpon malam-malam Reimu, kita bicara lagi di sekolah.)"
"Tidak apa-apa kok. Selamat malam Alice."
"(Selamat malam Reimu.)"
Rumah Alice...
"Oke, urusan yang ini selesai. Sekarang siap-siap tidur. Besok bicara sama Marisa." Kata Alice sambil meregangkan badan dan menguap. Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
"Eh? Siapa ya malam-malam begini?" Alice mengecek melalui lubang kecil di pintunya, tapi tidak ada orang. Kemudian ia menunduk sedikit dan melihat sesuatu, ada sepucuk surat di dekat kakinya. Sepertinya ada yang menyelipkannya. "Buka pintunya. Dari Ibumu, Alice *Peluk Cium*". Begitulah isi suratnya. Alice hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, ibunya memang suka bercanda dengannya agar ia lebih santai. Alice yang dulu memang sangat serius.
"Dasar ibu." Di depan pintu ada sebuah paket, yang isinya cukup ringan.
"(Apa ya isinya?)" Alice membuka paket tersebut, dan isinya...
"Sebuah buku?" Alice mencoba membuka buku tersebut dan tiba-tiba kepalanya serasa disetrum dan sesuatu mengalir ke sekujur tubuhnya. Alice memegang kepalanya sambil merunduk. Ia melemparkan buku itu dan ia merangkak mundur dengan nafas memburu dan berkeringat.
"Tadi..itu..apa? Aku sebaiknya tidur dulu. Ada yang aneh dengan buku itu, lelucon ibu tidak lucu." Alice mengambil buku itu dan meletakkannya di atas meja dan bersiap tidur. Tidak lama kemudian selembar kartu muncul di atas sampul buku tersebut.
Di sekolah...
"Hakurei, ada apa tiba-tiba ingin menemuiku?" Ada 1 Yakumo yang Reimu kenal dengan baik, yaitu guru matematikanya sendiri Ran Yakumo. Reimu dan Marisa mungkin sudah lama mengenalnya, tapi jika dipikir kembali mereka tidak pernah bicara soal masa lalu serta kehidupannya.
"Anu begini bu, kalau boleh bisa kita ketemu sepulang sekolah di kafe di depan stasiun?"
"Memangnya tidak bisa kau bicarakan di sini? Ibu sibuk Hakurei, lain kali saja kalau mau main ya." Ran beranjak dari kursinya dan bersiap meninggalkan ruangan.
"Beritahu aku segala yang ibu tahu soal keluarga Yakumo yang bertugas menjaga batas Gensokyou." Dan saat Reimu mengatakan kalimat itu, Ran langsung menoleh ke arah Reimu dan menghampirinya.
"Siapa saja selain dirimu?" "Marisa dan Alice, untuk Marisa aku masih belum yakin."
"Baik, sepulang sekolah. Hanya kalian bertiga saja, mengerti?" Reimu mengangguk dan keluar dari ruangan. Ran hanya terdiam sebentar, sambil memikirkan apa yang harus ia bilang nanti.
"Ran, ceritakan saja soal dirimu dan segala hal yang berhubungan dengan danmaku. Aku tidak ingin Reimu dan teman-temannya memihak kepada Scarlet. Tidak sekarang maksudku." Di belakang Ran, di balik celah-celah berwarna hitam pekat dengan bola-bola mata yang menakutkan terdengar suara yang memberi perintah kepada Ran.
"Apakah saya juga perlu menjelaskan kemampuan saya juga, nona Yukari?"
"Hm, itu terserah padamu. Tapi kalau bisa aku ingin kau mengajarinya cara mempertahankan diri. Ini akan menjadi hiburan menarik seandainya dia bisa bertahan melawan Suika. Ufufu."
"Nona Yukari, kalau bisa aku tidak ingin mereka terluka. Dan tolong jangan anggap murid-muridku mainanmu nona, aku terpaksa turun tangan kemarin."
"Wah, ternyata kamu punya naluri melindungi anak-anakmu ya? Kukira hanya Chen saja yang kau anggap anak."
"Chen berbeda dengan mereka, tapi selain karena aku tahu siapa mereka dan tugasku sebagai guru, aku juga ingin melakukan sesuatu yang menurutku benar nona Yukari."
"Baiklah, ternyata kau semakin bertambah dewasa Ran. Tidak kusangka kau sudah menjadi wanita yang bertanggung jawab dan tegas seperti ini, aku bangga *sniff*"
"Nona Yukari, apa anda-" "Tidak, hanya kemasukan debu. Kalau begitu terangkan pada mereka yang perlu mereka tahu sekarang. Jelaskan satu persatu, mengerti?"
"Mengerti. Serahkan padaku."
"Bagus, sampai nanti Ran. Oh ya, kelas sudah mau mulai tuh."
"Hah? Tidak! Aku belum makan siang! Uahhh!"
Sepulang sekolah...
"Marisa, aku dan Alice mau ketemu dengan bu Ran. Mau ikut tidak? "
"Maaf ya, aku tidak ikut."
"Hee, tapi kita mau ketemuan di kafe kok. Lagipula sudah lama kita tidak ketemu beliau untuk santai-santai. Ya? Mau ya?"
"Iya iya. Tapi sebentar saja ya."
"Yey! Marisa kamu baik deh!"
"Ih, kamu kenapa sih? Jadi jijik kamu tiba-tiba begitu."
"Ayolah, jangan cemberut gitu dong."
"Iya."
"Ah! Marisa tunggu!"
"Ada apa Alice?"
"Ini, aku sama Reimu mau-" "Aku ikut kok." "He?"
"Maaf ya Alice, aku kira kamu sudah bicara sama Marisa. Anggap saja seimbang atas kemarin oke?"
"Oi oi, kalau ini tentang pembicaraan kita kemarin, aku pulang nih."
"Eh eh eh, jangan pergi dulu. Apa hubungannya kemarin sama bicara dengan bu Ran?"
"Hm, iya juga sih. Tapi bu Ran kan marganya Yakumo." Reimu dan Alice langsung melongo.
"Ah, kalau aku nggak ikut kalian bakal maksa aku juga nantinya. Udah ayo cepat." Marisa berjalan meninggalkan kelas disusul Reimu dan Alice yang senang karena temannya mau mendengarkan penjelasan Ran dulu.
Café de Mystia
"Baik, kalian semua sudah hadir. Jadi aku langsung ke intinya saja." Ran langsung memasuki mode serius, mode yang menurut murid-muridnya hanya muncul ketika mengajar.
"Kalian semua adalah reinkarnasi dari 3 tokoh Gensokyou, itu kalian sudah tahu?" Ketiganya mengangguk. "Kalian tahu aku juga sama seperti kalian?" "Tunjukkan dulu padaku bu, keputusanku untuk ikut dengan Reimu dan Alice tergantung apakah ibu bisa menggunakan wujud yang sama dengan Suika." Marisa langsung memotong pembicaraan. Ran tersenyum, "Baiklah, tapi izinkan aku menggunakan ini dulu." Ran mengangkat tangannya dan semacam segel sihir muncul di depan telapak tanggannya. "Dimension Warp!". Dan sekejap semua orang kecuali mereka berempat hilang dari kafe.
"Dengan begini, aku lebih bebas menunjukkannya pada kalian. Maiden Sign - Nine-Tailed Shikigami!" Ran berubah wujud menjadi siluman rubah berekor 9 dengan topi yang ditempeli jimat dan pakaiannya berubah menjadi pakaian ala cina berwarna biru dengan putih di bagian pinggirnya. Di kepalanya juga ada topeng rubah yang diikat ke belakang.
"Ah! Kau kan-" "Ya, aku yang muncul di musium kemarin."
"Berarti ibu memang anak buah Yakumo ya?" Reimu menyilangkan tangannya sambil memastikan.
"Ya begitulah, baik kehidupanku yang dulu maupun yang sekarang aku merupakan shikigami dari nona Yakumo."
"Kenapa ibu menyembunyikan namanya? Apa orang itu tidak boleh diketahui publik?" Alice menanyakan.
"Justru karena beliau diketahui publik, beliau tidak mau membuat keributan jika identitasnya yang satu lagi ketahuan."
"Begitu ya, jadi selain bisa berubah begitu, ibu juga bisa menggunakan danmaku?"
"Tentu saja. Begitu juga spell card, dan kemampuan khususku."
"Kemampuan khusus?"
"Seperti Ajuu yang dapat mengingat semua kehidupan leluhurnya. Suika yang mampu mengatur kepadatan tubuhnya, menjadi besar dan kecil sesuai keinginannya. Dan aku, aku mampu menggunakan shikigami untuk membantu pekerjaanku."
"Bukannya ibu sendiri itu shikigami?" "Yah begitulah kenyataannya tidak perlu dipermasalahkan."
"Tidak percaya? Biar kutunjukkan shikigami andalanku, keluarlah Chen!" Dan dari sebuah celah gelap muncul gadis dengan baju ala cina berwarna merah. Dia memiliki telinga kucing dan 2 ekor, dan hal itu membingungkan ketiga gadis SMA itu. Ran hanya bilang jangan tanya dan mereka mengangguk.
"Chen adalah salah satu dari berbagai macam shikigami yang bisa kukendalikan. Dia adalah siluman kucing sesuai dengan yang kalian lihat." Chen hanya tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Reimu, Marisa, dan Alice.
"Wah! Keren sekali! Gimana caranya ibu bisa menggunakan kekuatan ini bu? Kayaknya cuma tahu kalau kita adalah reinkarnasi dari gadis-gadis Gensokyou itu belum menunjukkan kita memiliki kekuatan mereka." Marisa tiba-tiba menjadi bersemangat.
"Hm, apakah kalian menerima semacam benda yang unik atau misterius?" "Ya." Ketiganya menjawab bersamaan. Ran mengangguk tanda ia mengerti, dan meminta mereka mengeluarkannya apabila membawanya.
"Ah, soal itu..punyaku aku tinggal di rumah bu. Tapi aku menerima sebuah buku tadi malam, dan saat aku mencoba membukanya aku serasa disetrum. Di atas buku itu ada kartu ini bu." Alice menceritakan pengalamannya semalam dan menunjukkan kartu dengan gambar boneka-boneka bersenjata.
"Ah ini punyaku." "Aku juga." Reimu dan Marisa mengeluarkan kartu milik mereka. Reimu bergambar ofuda dengan bola yin-yang dan Marisa bergambar bintang jatuh.
"Aku kira kamu tidak mau terlibat Marisa."
"Ugh, suka-suka aku dong. Lagian aku cuma lupa ngeluarin kartu ini."
"Hihi, aku suka deh Marisa yang seperti ini."
"Ehem-ehem kalian berdua.." Alice berpura-pura batuk untuk mengembalikan keseriusan situasi.
"Sekarang aku minta kalian pegang masing-masing kartu kalian. Dan ikuti kata-kataku." Ketiganya mengangguk.
"Reimu, ucapkan Maiden Sign – Shrine Maiden of Fantasy, Marisa, Maiden Sign – Magician of Star, Alice Maiden Sign – Puppet Master."
"Maiden Sign – Shrine Maiden of Fantasy!"
"Maiden Sign – Magician of Star!"
"Maiden Sign – Puppet Master!"
Ketiganya dibungkus cahaya terang dan terlihat pakaian yang mereka gunakan berubah menjadi pakaian yang digunakan oleh inkarnasi mereka yang dulu.
"Dengan begini, fase pertama selesai. Berikutnya..."
To be continued
Catatan Penulis :
Terima kasih bagi yang sudah membaca. Semoga chapter ini menghibur bagi kalian. Oh ya, untuk Youkai diubah jadi siluman di sini. Kalau semisalnya ada yang punya saran untuk penamaan yang baiknya apa, mohon sarannya ya. Biar nggak perlu diubah-ubah lagi nanti. Mohon maaf karena updatenya lama. Berhubung ada janji yang berkali-kali digeser akhirnya saya memutuskan memprioritaskan ini dulu. Sampai jumpa di chapter berikutnya ^_^ (Maaf catatannya sedikit)
