Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu
ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT
CHAPTER 6 – IT'S NOT EASY
Di hadapan Ran sekarang muncul 3 orang gadis yang membuatnya tersenyum senang. Di hadapannya muncul si miko Hakurei, si penyihir hitam putih, dan si pembuat boneka. Mereka selesai berubah wujud, dan reaksi mereka..
"Wah, persis seperti yang ada di foto di musium."
"Yeah, lihat aku! Sedikit berbeda dari yang di foto, tapi tetap aja keren!"
"Ini aku? Yah, tidak begitu buruk." Dan tepat setelah mereka mengatakan kesan pertama mereka, mereka kembali ke wujud semula.
"Eh? Apa-apaan ini? Kok udah selesai? Bu Ran nggak ngerjain kita kan?" Marisa langsung protes kepada Ran, sedangkan Reimu dan Alice hanya menunduk kecewa.
"Hahahaha, tentu saja tidak semudah itu! Kalian bisa berubah lebih dari 5 detik dan tidak pingsan sesudahnya sudah bagus menurutku."
"Memangnya kenapa bu? Biasanya tidak begitu?" Tanya Alice.
"Tidak ada yang pernah begitu, tapi menurut ibu kalian memiliki 1 kekurangan besar dibandingkan yang lain. Dan itu akan menghambat progres kalian dalam menguasai kekuatan ini jika tidak diasah."
"Apa kekurangan kami bu?"
"Kekuatan spiritual kalian. Jangan salah, untuk bisa menggunakan spell card saja, sudah cukup untuk menguras tenaga. Seandainya kalian memanggil shikigami seperti aku memanggil Chen, kalian pasti akan langsung kehabisan tenaga." Ketiga gadis itu sedikit tegang mendengarnya.
"Tapi kalian melampaui harapan ibu, jadi kalian lulus ujian pertama. Sekarang, biar kita bicara sambil santai saja oke?" Dan seluruh pemandangan di sekitar mereka kembali seperti semula dan pelayan kafe membawakan makanan mereka.
"Untuk bisa seperti itu pasti butuh latihan yang berat. Ibu dulu bagaimana latihannya?" Reimu bertanya sambil memakan kue yang dipesannya. Ran meneguk kopi espressonya dan menjawab pertanyaan Reimu, "Hm, enak juga ya. Ah, untuk pertanyaanmu Reimu, latihan ibu sebenarnya bisa dibilang masih 'ringan', memang porsinya saja yang banyak. Kalian mau mencoba? " Ketiganya langsung menggeleng.
"Hehehe, cuma bercanda kok. Untuk latihan mengukur kemampuan kalian, coba kumpulkan kekuatan spiritual kalian dalam benda pusaka milik kalian. Berarti bola yin-yang untuk Reimu, Marisa mini-hakkero, dan Alice buku yang kamu dapat itu. Dari yang ibu cari tahu soal inkarnasi kalian, ketiga benda ini adalah pusaka pelindung kalian. Jadi jangan sampai hilang dan gunakanlah sebagai media untuk memperkuat diri kalian. Kalian mulai dari itu dulu, untuk mencoba apakah kalian sudah terhubung dengan pusaka kalian, cobalah berubah lagi. Rasakan aliran tenaga yang mengalir dalam tubuh kalian dan bertahan dalam kondisi itu selama 5 menit. Setelah itu datanglah lagi ke ibu, akan ibu ajarkan cara menggunakan danmaku dan spell card."
"Yah, kalau gitu aja sih, aku bisa cepat melakukannya. Ayo Reimu, Alice, kita bakal latihan rutin untuk menguasai ini! Jangan sampai kita malah malu-maluin ibu Ran." "Ya!" Keduanya menjawab.
"Bagus, tapi jangan lupa belajar ya. Dan PR halaman 100 segera dikumpulkan akhir minggu ini, Marisa. Jangan coba-coba mengelak dari tugasmu ya nak."
"Hiks, iya deh bu. Aku nggak bakal kabur, nanti aku nggak bisa latihan." "Hahaha."
"Oh, 1 hal lagi. Ibu akan mengajari kalian semua tentang hal yang perlu kalian ketahui mengenai situasi kalian. Tetapi ingat baik-baik bahwa ibu memihak kepada Yakumo. Ibu tidak akan memaksa kalian bergabung, tapi selama tidak ada perintah untuk melawan kalian, ibu akan membantu kalian." Ran menegaskan apa tujuannya dan ketiganya mengangguk tahu bahwa Ran bersungguh-sungguh soal itu.
Keempatnya berpisah dan pulang menuju rumah masing-masing, dan ketiga gadis yang baru saja mendapatkan kemampuan baru mereka tidak bisa menyembunyikan kesenangan dan ketegangan mereka. Dari manga atau anime, genre gadis-gadis membuat kontrak untuk mendapat kekuatan super memang sedang popular. Ternyata hal seperti itu bisa juga terjadi di dunia nyata. Tapi mereka juga sadar ini adalah proses bertahan hidup bagi mereka. Mereka tahu guru mereka ada di pihak mereka, tapi dia juga sudah menegaskan di mana letak kesetiaannya.
Suika Ibuki berjalan sendirian ke rumahnya, sambil membawa 1 tas kresek berisi mi instan, 3 botol minuman keras, dan obat-obatan. Suika baru saja mendapat teguran keras dari Yakumo soal yang terjadi di musium. Dia mengaku dia kelewatan ketika menemui Reimu dan teman-temannya, tapi emosinya meningkat ketika Remilia muncul. Ia tahu Remilia pasti mengincar Yakumo dan Yuyuko mengatakan kalau dia yang menyarankannya datang ke musium. "Cih, ngeselin banget. Udah bagus menang lawan Scarlet, malah dimarah-marahin. Nenek tua banyak omong." Seketika bulu kuduk Suika berdiri semua seolah seseorang tengah memelototinya, dan ia menoleh untuk melihat apakah ada orang dan tidak ada siapa-siapa.
"Ups, harus hati-hati nih. Hehehe." Suika tiba di sebuah apartemen 2 tingkat berwarna coklat. Dia menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di ujung koridor. Dia mengeluarkan kunci dengan gantungan kunci guci sake, membuka pintunya, dan melihat pemandangan kota yang terlihat dari dekat kamarnya. Suika tersenyum sedikit, dan masuk ke kamarnya. "Aku pulang." Kamar Suika hanya berisi sampah dan futon yang berantakan, di pinggir ruangan juga terdapat cucian baju yang belum ia cuci serta manga yang berterbaran di depan TV. "Harus bersih-bersih nih. Besok saja deh." Ia menuju dapur untuk meletakkan makanannya, dan mengeluarkan isinya. "Hh, harus cari duit lagi." Dan tiba-tiba dari tas itu keluar sekotak puding coklat. Suika mengernyitkan dahi sebelum tertawa kecil. "Gadis itu, benar-benar deh. Padahal aku cuma mengantarkannya ke kasir. Kayak nggak pernah ke minimarket aja, padahal kasirnya ya pas dia masuk kan lewat. Tapi kapan ya terakhir kali aku ketemu orang kayak gitu, hmm. Ah sudahlah, kalau ketemu dia lagi, aku akan traktir sesuatu. "
Suika menyalakan TV yang sedang menayangkan drama, Suika tidak peduli. Ia hanya menyalakannya agar tidak sepi saat ia makan. Ia memutuskan untuk makan puding itu dan minum air putih saja. Ia tidak mau mencampur makanan manis pemberian orang dengan minuman keras. Rasanya tidak enak. Suika menelan sesuap puding itu, dan rasa manis lengkap dengan fla di atasnya membuat Suika menangis. "Enak sekali, kapan ya aku terakhir kali makan yang membuat senang begini, *sniff*". Suika diam sejenak, suasana hatinya bercampur aduk. Ia bahagia Reimu yang ia cintai muncul kembali di hadapannya, tapi dia bukan Reimu yang ada di dalam ingatannya, bahkan Suika juga tahu dia yang sekarang bukan Suika yang ada dalam kenangan itu. Ia hanya tersenyum pahit, menggaruk-garuk kepalanya, sambil menangis. "Sial, sial, sial, uhuk uhuk." Suika berdiri sambil membawa minumnya, dan melihat keluar jendela. Ia mengingat kembali saat Reimu memintanya untuk menjaga kuil sebelum ia pergi.
Kilas balik
Kuil Hakurei, sekitar 100 tahun yang lalu..
"Reimu, kamu mau ke mana?"
"Suika, aku mau pergi ke pusat gempa itu. Kamu tolong jaga kuilnya ya."
"Tidak! Biar aku ikut, kalau ada manusia yang terjebak di reruntuhan aku bisa bantu."
"Suika, aku hargai kebaikanmu. Tapi para kappa sudah diturunkan untuk membereskan hal itu, dan baru saja Aya memberitahuku kalau tidak ada korban jiwa. Keine secepatnya langsung menyembunyikan desa, jadi aman untuk sementara."
"Tapi aku khawatir kamu kenapa-napa Reimu! Gempa ini tidak wajar, untuk skala insiden ini terlalu besar.."
Reimu terdiam sejenak dan menggenggam kedua tangan Suika sambil tersenyum dan berkata, "Suika, aku adalah Reimu Hakurei. Miko yang tugasnya menyelesaikan masalah-masalah seperti ini dan melindungi Gensokyou. Lagipula aku tidak akan kemana-mana, masih ada yang harus aku lakukan sesudah ini."
"Tapi aku masih tidak yakin.." "Marisa akan ikut denganku, begitu juga orang-orang dari Scarlet Devil Mansion, penghuni gunung Youkai, dan kondisi di bawah tanah cukup kritis. Runtuhan ke lubang masuk sedikit menghambat akses kita, tapi para kappa bilang mereka sedang mengerjakannya. Sudahlah, tunggu aku di sini sampai matahari terbenam. Habis itu kita minum jus yang baru saja aku dapat, oke?"
"Oke Reimu. Kalau begitu hati-hati ya, dan jangan ragu untuk memanggilku!"
"Hm, pasti." Dan semenjak saat itu, Suika hanya menunggu di kuil Hakurei selama 3 hari, sebelum mencari tahu ke desa manusia, di mana yang menyambutnya hanyalah desa yang sudah hancur dan yang ditemuinya hanya Keine Kamishirasawa dan Akyuu Hieda saja.
"Ugh, itu lagi yang muncul. Tapi ya mau gimana lagi, yang udah terjadi ya terjadi." Setelah menghabiskan pudingnya, Suika bersiap tidur hingga lampu kamarnya mati. "Sial! Malah mati pas mau tidur, bikin repot saja! Ah, sekalian keluar aja kalau gitu. Malah jadi nggak ngantuk." Suika mengambil jaketnya dan sebotol sake agar tetap hangat kemudian meninggalkan kamarnya menuju malam.
Scarlet Devil Mansion
"Sial! Si oni itu kuat juga. Tanpa memakai spell card, aku mungkin bisa kalah dalam 1-2 pukulan" Remilia menggerutu karena kekalahannya melawan Suika, dan semenjak tersadar hanya itu saja yang dikatakannya.
"Tapi nona, bukannya pertarungan spell card bisa selesai lewat 1 serangan telak saja dari jurus kartu pamungkas?" Meiling bertanya sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.
"Tidak semudah itu, Meiling. Di aturan yang sekarang, ada semacam wasit yang mengatur pertandingannya. Jadi korban jiwa bisa diminimalisir, dan aturannya beragam. Di pertarungan kemarin yang berlaku hanya batas waktu serta menyerah atau pingsan. Tidak ada batasan harus menggunakan berapa spell card atau semacamnya."
"Kalau begitu, saya harus belajar lagi soal ini. Nona, saya permisi dulu. Saya akan kembali ke pos jaga dan berlatih."
"Baik, tapi jangan memaksakan diri. Kita semua harus tetap siap untuk menghadapi lawan apapun."
"Siap nona!" Meiling meninggalkan ruangan dan Patchouli masuk.
"Ada perlu apa Patche?"
"Kau perlu memperkuat dirimu Remi. Kalau hanya segini mau melawan siapapun kau pasti akan kalah. Hal ini akan melenceng dari misi yang kita dapat."
"Lalu, kau punya solusi untuk menyelesaikan masalah kita sekarang Patche?"
"Kita sebaiknya memperkuat diri kita dulu dan menyesuaikan diri dengan gaya bertarung di sini. Akan lebih mudah jika kita memahami permainan yang dimainkan lawan."
"Terus, untuk misi satunya?"
"Mencari Hakurei bisa kau serahkan padaku dan Flandre. Kau tidak keberatan kalau dia masuk ke Akademi Touhou?"
"Mau apa kamu masukkan dia ke sekolah?"
"Menjadi murid, apalagi. Aku akan mengawasi di sana sebagai penjaga perpustakaan. Kemarin ada lowongan yang mengatakan kalau penjaga yang lama akan pensiun, dan mereka akan sangat terbantu jika ada yang mau mengambil alih dengan cepat."
"Surat-suratnya?" "Sudah kukerjakan saat kalian jalan-jalan kemarin. Teknologi sangat membantu sekali."
"Padahal sihirmu masih tradisional." "Jangan memancingku Remi. Aku masih berbaik hati karena kamu temanku dan anak guru."
"Yah, tidak apa-apa kalau begitu. Flan sudah tahu?"
"Sudah. Dan sekarang dia sedang ditemani Sakuya untuk membeli perlengkapan. Kami akan masuk sekolah mulai besok."
"Baiklah, Patche. Terima kasih. Maaf aku terlalu terburu-buru dan mengacaukan rencana."
"Kau bertarung atau tidak bertarung pun aku akan melakukan rencana ini. Setidaknya kau ingin Flandre dianggap berguna tanpa perlu menurunkannya dalam pertarungan, ya kan?" Remilia terdiam dan Patchouli beranjak keluar. "Makanlah dulu, bisa-bisa mereka cemas karena kau belum makan." Remilia berdiri dan mengganti bajunya, kemudian berjalan menuju ruang makan. "Aku akan selesaikan ini tanpa perlu melibatkan Flandre terlalu dalam. Kejadian saat itu tidak boleh terulang lagi."
Di suatu tempat di sekitar kota...
"Nona Flandre ini bagaimana? Kenapa bisa tidak tahu kasir di mana? Seperti anak kecil saja."
"Hahaha, maaf Sakuya. Ini pertama kalinya aku datang ke sebuah toko serba ada seperti itu. Apa kau biasa membeli makanan di situ Sakuya?"
"Oh tidak nona. Saya membeli makanan di pasar atau di supermarket. Yang tadi kita datangi itu namanya minimarket. Ya, bisa dibilang toko yang menjual barang yang sama, tapi jumlahnya terbatas dan tidak selalu tersedia di mana-mana."
"Oh, begitu. Sekarang aku paham. Sakuya pintar ya. Sudah mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas seperti ini. Aku juga ingin membantumu, tetapi kakak pasti melarangku."
"Bukannya melarang nona, nona Remilia hanya tidak ingin nona tersesat seperti tadi. Kakak anda hanya tidak ingin anda repot mengurusi pekerjaan yang menjadi kewajiban saya sebagai pelayan dan kak Meiling sebagai penjaga. Kami yang bekerja melayani anda, dan itu saja sudah cukup."
"Terima kasih ya Sakuya. Dan terima kasih lagi sudah menemaniku membeli perlengkapan ini, aku tidak sabar bisa belajar di sekolah. Tentunya ini akan menjadi pengalaman baru bagiku."
"Hehehe, berhubung aku tidak bisa ke sekolah, nanti tolong ajari aku ya nona Flandre."
"Um, pasti." Mereka berjalan melewati taman dengan sebuah lampu yang terang. Dan di bangku yang terletak di bawahnya, ada seseorang yang tertidur lelap.
"Sakuya! Ada apa dengan orang itu? Kenapa ia tidur di taman?"
"Hanya tukang mabuk nona, sudahlah ayo pulang."
"Eh? Bantu aku dulu untuk membangunkan orang ini. Bisa-bisa ia ditangkap polisi karena mabuk."
"Hmm.." Orang tersebut tidur dengan membungkus dirinya menggunakan jaket. Flandre mengguncang-guncangkan tubuhnya untuk membangunkannya dan ia terkejut melihat siapa orang tersebut.
"Sakuya! Orang ini adalah orang yang membantuku di minimarket tadi!"
"Aduh, rupanya pemabuk yang membantu nonaku."
"I-itu tidak penting. Sekarang ayo bantu aku mengantarkannya ke rumahnya."
"Memangnya nona tahu rumahnya di mana?"
"Kita bisa tanyakan pada polisi, atau..." Flandre melihat dompet Suika di saku jaketnya. Walaupun enggan karena kesannya ia seperti pencuri, ia tetap memaksakan diri. Sakuya mengawasi sekitar dan bersiap menggunakan kekuatannya jika situasi mendesak.
"Suika Ibuki, xx tahun, alamat xxxxxx. Ah, ini ada alamatnya. Kita bisa mengantarkannya pulang."
"Memangnya nona tahu-" "KITA TANYA POLISI NANTI! AYO!" "B-b-baik…nona" Dan mereka berdua menggendong Suika yang tubuhnya ringan sehingga lebih mudah dibawa dan berjalan ke rumahnya, tanpa tahu siapa yang baru saja mereka tolong.
Catatan Penulis :
Hai. Saya putuskan untuk update cepat karena mungkin beberapa waktu ke depan updatenya akan lebih lambat. Terima kasih sekali bagi kalian yang sudah membaca, terutama sampai chapter terbaru. Maaf jika plot fanfic ini absurd atau aneh, karena idenya muncul pas saya lagi melakukan hal yang nggak ada hubungannya. Kalau cerita ini bisa membuat kalian tertarik dengan Touhou, maka saya senang. Sebenarnya saya punya beberapa ide cerita yang tidak hanya berpaku di Touhou juga, tetapi juga fandom lain. Tapi itu lihat sikonnya nanti, karena ini prioritas saya. Sampai jumpa di chapter berikutnya ^_^
