Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu

ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT

CHAPTER 11 - ALLIANCE?

"Selamat datang di Café de Mystia! Silahkan masuk, mari saya antar ke meja anda!" Seorang butler dengan rambut kehijauan pendek menyambut rombongan itu setibanya di kafe. Keempatnya duduk dan memesan. Butler itu mencatat semuanya kemudian memberikan catatannya ke depan konter dapur. Sambil menunggu pesanan, Remilia berbicara.

"Nyaman sekali tempat ini. Banyak tanaman dan bunga yang cantik. Alunan musik jazz yang membuat hati santai serta aroma makanan dan minuman yang menggugah selera. Ah, tepat sekali aku memilih tempat ini." Pujinya akan suasana kafe dan dirinya sendiri. Sakuya hanya bisa tertawa kecil, sedangkan Parsee serta Kisume tidak berbicara. Ekspresi Remilia yang tadinya tersenyum berubah menjadi serius.

"Baiklah, kalau bisa aku ingin menikmati waktuku di sini. Jadi bisa mulai ceritakan tentang diri kalian?" Remilia melipat tangannya dan menatap 2 bola mata hijau Parsee. Parsee mengangkat rambutnya dengan jarinya sebelum menjawab.

"Nona Remilia Scarlet, kami berdua adalah utusan dari nona Satori Komeiji, penguasa Chireiden. Anda mungkin sudah tahu soal pembagian wilayah kekuasaan di sini." Remilia mengangguk sebagai sinyal bagi Parsee untuk melanjutkan. "Tempat tinggal anda, seperti kafe ini, adalah wilayah Chireiden. Nona Satori cenderung membiarkan siapapun dan apapun untuk bebas melakukan apa saja di wilayahnya asal mereka tidak membuat ulah."

"Kalau aku boleh bertanya tempat tinggal majikan kalian ini di mana?" tanya Remilia. Parsee menahan nafas sejenak, tidak suka dipotong ketika berbicara.

"Di ibukota lama, letaknya di selatan dari tempat tinggal anda. Di sana ada dinding tebal yang menutupi sebuah kota. Jalan masuk sekaligus keluar hanya melalui 1 pintu." Terang Parsee. Remilia meletakkan jarinya di bawah dagu, kemudian mengangguk.

"Adakah tujuan tertentu ibukota lama dibangun seperti itu?"

"Aaah, dinding itu dibangun setelah nona Satori datang ke ibukota lama dan menduduki posisi pemimpin. Bisa dibilang beliau datang di saat yang tepat, karena tidak lama sesudahnya pembagian wilayah serta perjanjian pertarungan danmaku disetujui. Chireiden adalah tempat yang menerima mereka yang terbuang dari rumah mereka. Mereka yang ditolak oleh masyarakat. Mereka yang tidak memiliki perlindungan. Dan kami, maksudnya saya, Kisume, dan 2 teman kami yang lain, adalah pembawa pesan sekaligus penertib di sini." Tepat setelah itu, butler tadi kembali membawa pesanan mereka.

Remilia menenggak latte miliknya, Sakuya segera menyerbu parfait buah yang dipesannya, Parsee meminum pelan-pelan jusnya, sedangkan Kisume yang ternyata tidak memesan apapun hanya menerawang ketiga teman semejanya. Melihat Kisume, Remilia memanggil salah satu pelayan dan membisikkan sesuatu. Pelayan itu mengangguk dan segera berjalan menuju dapur. Ketiga orang lainnya tampak bingung melihat Remilia, tapi setelah Remilia mengembalikan fokusnya ke arah depan, mereka buru-buru beralih ke pesanan masing-masing.

"Menarik sekali. Apakah tidak apa-apa jika hanya berempat? Pengalamanku beberapa hari di sini, siluman-siluman di sini cukup merepotkan. Terutama mereka yang sifatnya memberontak akan persetujuan itu."

"Yah, semua pemimpin sudah diberitahu soal itu. Karena itu kami segera menemui anda untuk menyampaikan maksud kedatangan kami yang sebenarnya."

"Oh?"

Parsee menghabiskan jusnya kemudian mengelap mulutnya. Matanya melirik ke sekitar untuk memastikan apa yang akan disampaikannya tidak bocor.

"Kami memohon kerja sama anda untuk membantu dalam misi kami. Jika anda bersedia, akan kami ceritakan detailnya." Angin sore berhembus kencang menerpa keempatnya. Namun tidak satupun terpengaruh akan hal itu. Sakuya menghentikan suapannya di saat terakhir lalu perlahan-lahan meletakkan sendoknya kembali ke dalam gelas. Remilia berpikir. Aliansi dengan Chireiden berpotensi memperlambat misinya. Ia tidak berniat mengalihkan perhatiannya kepada hal lain selain berhadapan dengan Yakumo. Namun jika ia menerima persekutuan ini, ia bisa mendekati Satori Komeiji dan mendapatkan kepercayaannya. Dengan begitu, ia dapat menerima informasi mengenai Yakumo. Remilia menyeringai, membayangkan suksesnya rencana itu. Ia menghabiskan latte-nya sebelum memberikan jawaban.

"Nona Mizuhashi, saya sudah memutuskan. Saya akan menyetujui aliansi ini," Parsee tampak gembira mendengarnya, tapi wajahnya menjadi muram mendengar perkataan Remilia selanjutnya. "dengan syarat, Chireiden juga membantu saya dalam memenuhi tujuan saya. Bagaimana? Adil bukan?" Parsee kebingungan. Ia tidak menyangka Remilia akan meminta seperti itu. Ia memperkirakan kalau Remilia, yang harga dirinya tinggi, akan menolak tawaran ini. Tiba-tiba, seseorang menarik lengan bajunya. Parsee menoleh. Kisume yang biasanya diam, seperti berniat untuk mengungkapkan sesuatu.

"Ada apa Kisume?" tanya Parsee. Kisume menunjuk ke arah kue tiramisu dan milkshake vanila di hadapannya, seolah-olah meminta izin untuk memakannya. Parsee segera merubah pandangannya ke arah Remilia, yang tersenyum senang.

"Tidak enak jika hanya dia sendiri yang tidak makan atau minum. Anggap saja ini bagian dari niat baikku pada kalian. Nah, gadis kecil, tidak apa-apa. Kakak yang bayar itu, oke?" Kisume membungkukkan badannya sedikit untuk berterima kasih lalu menyantap hidangan yang dibawakan untuknya. Parsee hanya menggeleng dan Sakuya merengek minta tambah pada Remilia sebelum sentilan kecil membuat dahinya nyeri.

Tidak jauh dari sana, 2 orang gadis tengah dikepung oleh sekumpulan berandalan. Jumlahnya cukup banyak dan mereka bersenjata. Hanya saja, sesuatu terasa janggal. Tatapan mereka kosong, seperti mayat hidup.

"Yuugi, sebaiknya kita berubah sekarang. Parsee dan Kisume sudah menunggu." Ujar salah satunya sambil mengeluarkan kartu yang dililit oleh benang-benang.

"Salah siapa kita telat coba." Timpal yang satunya sambil memutar bola mata dan mengeluarkan kartu juga, hanya saja yang ini dililit rantai.

"Hau, kan tidak enak kalau aku nggak menyapa penggemarku. Hari ini sepertinya banyak yang baru datang. Ini demi kebaikan kita juga lho-Aw!" Balas yang pertama dengan pipi menggembung. Temannya tidak dapat menahan diri untuk mencubitnya.

"Haha. Ya ya, terserah kamu. Baiklah ayo kita bereskan ini. Maiden Sign – Unexplainable Phenomenon!" Teriaknya dengan keras. Temannya kembali fokus dan mengikutinya. "Maiden Sign – Bright Net of The Underground!"

Keduanya berubah wujud menjadi 2 figur penghuni bawah tanah Gensokyou, Yuugi Hoshiguma dan Yamame Kurodani. Yuugi mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan bunyi keras tanda ia siap bertempur. Yamame membentangkan tangannya dan seketika jaring laba-laba menyelimuti tangannya.

"Yuugi Hoshiguma..." "...dan Yamame Kurodani..." Keduanya memasang kuda-kuda dan para berandalan berubah galak dan mengayunkan senjata mereka. Dengan satu teriakan lantang bersamaan, keduanya maju ke arah lawan.

""SIAP BERTARUNG!""