Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu

ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT

CHAPTER 13 - REALITY CHECK

Bel berdering tanda berakhirnya hari terakhir ujian tengah semester. Ada yang menghela napas lega, ada yang tampak muram sambil menyerahkan lembar ujian mereka, dan ada yang biasa saja. Reimu, Marisa, Flandre berkumpul di luar kelas sambil menunggu Alice.

"Huaaah ... akhirnya selesai juga hari-hari penyiksaan ini." Marisa tersenyum lega, tetapi Reimu dan Flandre bisa melihat energi kehidupannya seperti tersedot perlahan-lahan menuju kegelapan. Flandre tertawa kecil dan memeluknya.

"Kerja bagus Kirisame. Kamu luar biasa." Marisa tampak bahagia dimanja dan dipuji oleh Flandre hingga ekspresinya yang seperti zombi berubah menjadi berbunga-bunga.

"Kerja bagus untuk kalian berdua. Jangan khawatir, kita kan sudah belajar dengan keras selama seminggu ini. Aku yakin kita semua lulus."

Keduanya membalas dengan anggukkan. Hari ini rencananya mereka berempat akan mengadakan pesta perayaan selesainya ujian di rumah Reimu. Selain Marisa, belum pernah ada yang pergi ke rumah Reimu jadinya atas kesepakatan bersama, mereka akan ke sana sekalian main. Tiba-tiba Flandre teringat sesuatu.

"Oh ya ampun! Saya lupa memberitahu Patchouli kalau saya tidak langsung pulang. Maaf teman-teman, saya akan ke perpustakaan dulu." Flandre membungkukkan badan sambil meminta maaf yang membuat Reimu dan Marisa buru-buru memintanya berhenti dan membiarkannya untuk menemui Patchouli. Reimu kemudian meminta Flandre untuk menuju gerbang sekolah saja sesudah dari perpustakaan.

"Kalau begitu, nanti kita berkumpul lagi di sana ya. Sampai jumpa." Flandre berjalan menuju perpustakaan dan tidak sedikit yang menyapanya. Flandre membalasnya satu persatu dengan senyum anggunnya yang membuat para siswa terpesona. Reimu dan Marisa memperhatikannya dari jauh dengan senang.

"Scarlet sekarang semakin terbiasa berinteraksi dengan siswa lain ya. Ia tidak butuh waktu lama untuk membaur tanpa merubah sikapnya." Pernyataan Reimu disetujui oleh Marisa.

"Benar sekali. Juga membantu sekali karena ia bisa bahasa Jepang. Mudah-mudahan kita bisa membuatnya betah hingga seterusnya di sini."

Keduanya melanjutkan pembicaraannya sambil menghampiri Alice, lalu menuju gerbang depan sekolah. Namun tiba-tiba sebuah kabut gelap menyelimuti sekolah, yang langsung membuat ketiganya waspada.

"Apa ini? Ada kebakaran?"

"Bukan. Ada hawa jahat yang terasa dari kabut ini."

"Hei teman-teman! Lihat!"

Teriakan Marisa membuat Reimu dan Alice berpaling ke sumber suara. Kabut hitam menipis dan muncullah sesosok monster besar yang menatap tajam mereka sebelum mengayunkan tangannya.

"AWAS!" Ketiganya dengan sigap menghindar sabetan tangannya. Monster itu meraung marah dan berniat menghantamkan tangannya ke arah mereka.

"Semuanya, ayo berubah!"

""YA!""

Ketiganya mengeluarkan spell card masing-masing yang memiliki simbol berbeda, yaitu orb yin-yang, bintang, dan buku sihir yang dililit benang. Ketiga benda itu bersinar dan ketiga gadis itu meneriakkan

"Maiden Sign Shrine Maiden of Fantasy!"

"Maiden Sign Magician of Star!"

"Maiden Sign Puppet Master!"

Ketiganya diselimuti cahaya terang yang membuat monster itu berhenti sejenak. Di atas dan bawah tempat berdiri Reimu muncul simbol yin-yang yang naik turun bersamaan membungkus tubuh Reimu. Pakaiannya berubah menjadi pakaian miko berwarna merah putih yang memperlihatkan ketiaknya. Ikat rambutnya berubah menjadi lebih besar dan tangannya muncul gohei.

Marisa mendapat sebuah topi hitam besar layaknya penyihir, lengkap diikuti pakaiannya yang berubah menjadi hitam putih. Sapu terbang dan mini-hakkero muncul di masing-masing tangan, siap untuk digunakan.

Jari-jari Alice dilingkari oleh cincin yang dari dalamnya keluar benang-benang. Kemudian bermaterialisasilah beberapa boneka yang masing-masing bersenjata, dai pedang, tombak, dan perisai. Pakaiannya pun berubah menjadi baju panjang warna biru.

Perlahan cahaya meredup dan ketiganya muncul dalam kondisi siap bertarung. Monster lawan tidak menunggu lama untuk membanting tangannya hingga meremukkan mereka. Tanpa disangka, ketiganya sudah menghindar dan melancarkan danmaku secara bertubi-tubi ke arahnya.

"Alice! Gunakan boneka-bonekamu untuk mengalihkan perhatiannya. Marisa! Kita hujani terus dengan danmaku !"

""BAIK!""

Jemari Alice menari-nari mengarahkan boneka-bonekanya untuk membuat monster itu membuka pertahanan. Yang membawa pedang dan tombak mencoba melukai bagian vital monster, tetapi kerap kali dihentikan oleh monster itu. Marisa coba melesatkan rentetan peluru sihir yang sayangnya tidak melemahkannya.

"Bagaimana ini? Serangan kita tidak ada satupun yang membuatnya lemah?" Alice tampak panik dan kelelahan. Pergerakan bonekanya melambat.

"Kuat sekali! Akan kupanggil bu Ran untuk membantu kita!" Marisa bergegas menaiki sapu terbangnya, tapi si monster menyadari keinginannya dan dengan sabetan tangannya, Marisa terhempas jauh.

"MARISA!" Reimu dan Alice menghampiri Marisa yang pingsan, ia kembali ke wujud semula. Alice berusaha membangunkan Marisa, sementara Reimu terbelalak melihat monster itu semakin mendekat. Ia mengangkat gohei-nya, dan di kedua sisinya muncul 2 orb yang menembakkan danmaku. Orb-orb itu mengikuti pergerakan Reimu, yang sekarang berlari menarik perhatian monster itu.

"Reimu! Apa yang kau lakukan?"

"Aku akan pancing dia ke tempat lain! Bawa Marisa ke tempat bu Ran! Cepat!" Sambil berusaha menghindari muntahan bola api dari monster itu, Reimu balik menyerang dan Alice segera membawa Marisa pergi dari sana.

"Semoga aku masih kuat!"


Di balik pohon, Flandre Scarlet gemetar ketakutan. Tepat sebelum ia menghampiri teman-temannya, ia terseret ke dalam kabut hitam. Di hadapannya pula, teman-temannya diserang oleh monster dan berubah wujud menjadi Genso Shojo. Flandre sebenarnya sudah tahu akan hal ini, tapi ia tak menyangka teman-temannya belum sanggup bertarung menggunakan wujud itu.

"Bagaimana ini? Jika saya diam saja, Hakurei dan yang lainnya bisa terbunuh. Tapi ..." dia menggenggam sebuah spell card, tetapi ia memejamkan matanya dan menggeleng, "kalau saya menggunakan ini lagi, mereka akan berada dalam bahaya juga."

"AAAAHH!" Teriakan Marisa membuat konsentrasinya kembali ke pertarungan. Marisa terkapar tak sadarkan diri. Flandre berusaha tak berteriak, menutup mulutnya sambil menahan air matanya yang keluar sedikit demi sedikit dari kelopak matanya.

"Tidak! Tidak! Seseorang ... seseorang tolong mereka! Saya mohon!" Seolah mendengar isi hati Flandre yang merasa tak berdaya, sebuah bayangan manusia lewat di sampingnya hingga berhenti di dekat Marisa dan Alice. Orang itu mengangkat tangannya dan keluar sebuah lubang hitam dengan bola mata mengerikan dari dalamnya. Marisa dan Alice terhisap kemudian lenyap.

"Kirisame! Margatroid!" Teriak Flandre melihat hal tersebut. Orang itu menyadari keberadaan Flandre. Mata Flandre menyala marah, sekilas membuat spell card-nya bersinar tanda ia akan berubah.

"Jangan khawatir. Teman-temanmu ada di tempat yang aman. Lebih baik kau segera memanggil bantuan daripada diam saja, Flandre Scarlet." Dengan nada yang tenang, orang itu berbicara pada Flandre. Namun Flandre terlihat tidak percaya.

"Saya tidak percaya padamu! Anda siapa? Mengapa bisa tahu nama saya?" Keluhnya dengan pelan-pelan meredam amarahnya. Orang itu mengangkat tangannya dan seketika kesadaran Flandre memudar. Flandre dihisap juga oleh lubang hitam itu.

"Maaf aku terlalu banyak bicara. Kalau terlambat, Hakurei bisa terbunuh." Dengan segera orang itu mengejar monster yang bertarung dengan Reimu.


Reimu menarik satunya-satunya spell card yang bisa ia gunakan. Bersama Ran ia terus mempelajari penggunaan spell card pamungkas yang hanya digunakan saat akan menyelesaikan pertarungan danmaku.

"Apa boleh buat. Akan kukerahkan tenagaku yang tersisa untuk satu serangan terakhir. Fantasy Heaven!" Orb-orb yin-yang bermunculan di sekeliling Reimu, berputar mengitarinya menunggu dilepaskan. Memusatkan sisa energinya ke semua orb, keluar banyak sekali danmaku berwujud kertas mantra yang diarahkan tepat menuju monster itu.

"Rasakan ini!" Orb-orb itu juga terbang ke arah monster dan semuanya meledak bagaikan rentetan kembang api. Reimu tersungkur hingga ia tak dapat berdiri, tapi ia tidak menyangka monster itu belum habis. Walaupun tubuhnya terluka, ia malah semakin marah dan bernafsu. Reimu hanya tertawa lemah sambil menunggu datangnya monster itu.

"GRAH!" Monster itu terlempar karena pukulan keras dari seseorang. Wajahnya tertutup topeng dan sorban, dan di lehernya terdapat syal tebal. Pakaiannya mirip dengan yang digunakan Ran, hanya saja yang ini berwarna hijau. Tangan kanannya dibalut perban dan di pergelangannya terdapat gelang rantai.

"Kau baik-baik saja?" terdengar suaranya jelas meskipun tertutup topeng. Reimu berusaha menjawab, tapi ia sudah kelelahan. Melihatnya, orang itu mengepalkan tangannya dan bersiap menyerang lagi monster itu.

"Hah!" Tangan kanannya yang diperban berputar membentuk angin topan kecil yang dihempaskan ke monster itu. Memanfaatkan bagian yang sudah terluka karena serangan Reimu, orang itu berkali-kali melepaskan topan kecil ke bagian tersebut. Saat monster itu mulai tersungkur, orang itu mengangkat tangan kirinya. Di sekitar monster itu, muncul sebuah lingkaran sihir. Tiba-tiba dari langit turun petir yang menyambar monster itu hingga habis terbakar. Kabut hitam yang mengelilingi mereka pudar sepenuhnya.

"Sudah selesai. Kau sudah berjuang dengan baik, tapi kurasa belum waktunya bagimu untuk bertarung melawan yang seperti ini." Ucap orang itu sambil meletakkan tangannya ke kepala Reimu. Mata Reimu terpejam dan langkah orang itu perlahan menjauh meninggalkannya.


Alice tengah menjaga Marisa yang tertidur lelap di ranjang. Pikirannya tidak tenang memikirkan Reimu yang tengah bertarung sendirian. Ia tidak menyangka walaupun sudah menguasai danmaku dan perubahan wujud, itu saja tidak cukup saat menghadapi situasi nyata antara hidup dan mati.

"Apa yang akan terjadi pada kita ke depannya? Seharusnya aku sudah tahu ini bukan hal yang mudah. Tapi..." Pikirannya kembali ke saat Marisa terkena serangan yang membuat keadaannya seperti sekarang. Di tangannya ia memeluk erat buku pemberian ibunya.

"Apa yang Alice Margatroid lakukan di saat seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri. Pintu kamar itu diketuk, Alice menjawabnya dan membukakannya. Orang yang menolong Reimu sekarang muncul di hadapannya.

"Maaf anda siapa?" sambil berusaha tetap kuat, Alice bertanya. Orang itu memberi hormat pada Alice dan mempersilakan seseorang. Alice tampak bingung, tapi rasa bingungnya hilang melihat yang muncul kemudian. Seorang wanita berambut pirang yang terurai. Senyum tipis tersimpul di wajahnya. Jantung Alice berdegup kencang.

"Selamat datang nona Margatroid. Saya Yukari Yakumo. Senang bertemu denganmu."