Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu
ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT
CHAPTER 15 - CHIREIDEN
Ibukota lama atau Chireiden merupakan salah satu tempat tinggal dari klan penguasa Gensokyo, yaitu klan Komeiji. Tempat ini memiliki akses yang sulit, karena hanya memiliki satu pintu masuk dan dinding raksasa yang mengurung kota tersebut. Alasan dibalik semuanya bermacam-macam, tapi kebanyakan memilih untuk tidak banyak bertanya. Orang asing cukup jarang berkunjung, sehingga tidak banyak yang tahu juga apa isi kota tersebut. Klan Komeiji yang dulu berpengaruh menjalankan pemerintahan, masih berkontribusi di bidang lain semenjak Gensokyo disatukan dan dipecah menjadi lima daerah.
Rombongan keluarga Scarlet tiba di depan gerbang masuk setelah meminta izin untuk menemui Satori Komeiji. Parsee dan Kisume yang menjemput mereka dan disambut oleh Yuugi dan Yamame di sana.
"Selamat datang di Chireiden, nona Scarlet beserta rombongan!" Setelah bertukar sapa sejenak, termasuk Meiling dan Sakuya menggila bertemu dengan Yamame, mereka masuk ke dalam kota dan mulut mereka dibuat menganga oleh isinya.
Chireiden terlihat sibuk dan ramai oleh suasana jual beli. Di depan pintu masuk adalah toko-toko pakaian, restoran, pedagang buah dan sayur, pernak-pernik, dan lain-lain. Yang membuatnya semakin unik adalah ragamnya. Ada yang bernuansa oriental, barat bahkan Timur Tengah di sana. Telinga rombongan Scarlet bergetar mendengar bahasa selain Jepang yang bersahutan di sekeliling mereka. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan anak-anak yang bermain bersama. Melihat 4 penjaga Chireiden, mereka berhenti dan menghampiri rombongan dengan tawa riang.
"Kak Yuugi! Ayo main sama kita!"
"Kak Yamame! Lihat tarianku! Nanti aku mau jadi seperti kakak!"
"Kak Parsee! Oleh-olehnya mana?"
"Kak Kisume! Halo!"
Keempatnya disambut dengan suka cita. Yuugi mengacak-acak rambut salah satu anak sambil dengan sabar membalas ajakan anak-anak, Yamame menyanyi untuk mengiringi tarian anak-anak, Parsee dengan wajah tidak rela mengeluarkan sekantong permen dan coklat yang menbuatnya diserbu hingga tertimpa, Kisume bercakap-cakap dengan sisanya sambil sesekali menoleh ke arah Remilia. Tidak lama kemudian rombongan Scarlet dikelilingi oleh anak-anak. Selain Meiling, pakaian yang mereka gunakan bukan pakaian dari sini.
"Kakak-kakak semua dari mana? Eh, apa temannya kak Yuugi dan yang lain?" tanya salah satu kepada Yuugi.
"Oh, mereka ini tamu dari luar negeri anak-anak. Hari ini mereka datang kemari untuk bertemu dengan nona Komeiji. Jadi maaf ya, mainnya habis ini oke?"
Anak-anak tampak kecewa, tapi mengangguk tanda mengerti. Mereka semua berpisah dan melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Komeiji.
"Anak-anak itu lucu sekali. Mereka semua tampak bahagia." Ucap Flandre.
"Yah, begitulah mereka. Bermain setiap harinya tanpa ada beban. Setidaknya senyuman merekalah yang membuat kami merasa pekerjaan kami tidak sia-sia." Ujar Yuugi sambil meneguk minumannya.
"Kuperhatikan tempat ini tak memiliki batas suku dan ras, apakah memang seperti itu?" tanya Remilia.
"Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kami menerima mereka yang ingin awal baru. Asalkan mereka mau berusaha untuk hal itu, kami akan sediakan tempat tanpa memandang asal mereka. Itu saja."
Remilia mengangguk dan menanti saat bertemu dengan sang pemimpin. Beberapa menit berjalan, mereka tiba di rumah keluarga Komeiji. Bangunannya kuno, dengan gaya ala abad 19. Biarpun begitu, dindingnya berkilauan di bawah matahari, banyak tanaman hias di jalur masuk, dan gerbangnya sedikit lebih besar dari rumah Scarlet. Yuugi menekan tombol interkom di samping pintu. Gerbang besar itu terbuka dan mereka masuk. Di dalam sudah menunggu seorang wanita didampingi dua gadis di kedua sisinya.
"Nona Komeiji, kami mengantarkan rombongan keluarga Scarlet." Yuugi dan yang lainnya maju sambil memberi hormat. Wanita itu mengangkat tangannya, lalu mempersilakan keluarga Scarlet untuk mengikutinya. Mereka menyusuri sebuah koridor hingga mencapai sebuah pintu kayu besar. Dua gadis yang mendampingi Komeiji membukakan pintu. Komeiji masuk lebih dulu diikuti yang lain. Komeiji berbalik menghadap tamunya, lalu mengembangkan lengannya.
"Selamat datang di Chireiden, Remilia Scarlet dan teman-teman. Saya Satori Komeiji. Senang bertemu dengan kalian semua." Nada bicaranya tenang dan lembut. Ia memakai cardigan dan rok panjang serta kacamata baca yang memberikan kesan pintar padanya. Remilia Scarlet berjalan maju, dan menawarkan tangannya.
"Remilia Scarlet, senang bertemu dengan anda juga."
Mereka lalu menikmati jamuan yang dihidangkan. Kue susu, teh hitam, dan buah-buahan. Sakuya terkesan akan kesigapan dua gadis pendamping Satori. Yang satu berambut merah, tampak satu taringnya di tepi mulut. Yang satunya berambut hitam dan tinggi. Keduanya bekerja tanpa berbicara satu sama lain. Hal yang cukup membuat Sakuya penasaran adalah ekspresi mereka. Kosong. Biarpun begitu, ia memilih diam saja.
Patchouli berkali-kali menerawang ke arah rak buku di penjuru ruangan, Flandre dan Meiling berbincang-bincang dengan Yuugi dan lainnya sambil makan. Sedangkan Remilia dan Satori meninggalkan ruangan untuk berbicara secara pribadi.
"Jadi ada masalah apa, nona Remilia?" tanya Satori sambil menyeduh tehnya. Remilia membetulkan posisi duduknya dan bercerita. Ia menceritakan soal apa yang terjadi tempo hari pada Flandre dan teman-temannya. Mendengar itu, raut muka Satori menegang. Ia menengadah, memejamkan matanya sejenak, lalu meminum tehnya.
"Begitu rupanya. Saya pikir ini hanya kunjungan santai dari kalian, ternyata yang terjadi di luar seperti itu. Apa yang mereka berempat lakukan?"
"Ini bukan salah keempat gadis itu, nona Komeiji. Hanya saja, serangan-serangan itu bisa mengancam lebih banyak nyawa jika terjadi secara bersamaan. Tentunya mereka berempat tidak akan cukup untuk mengalahkan musuh."
"Apakah anda meragukan kemampuan mereka berempat?"
"Bukan begitu maksud saya. Saya hanya berpikir sulit apabila mereka kalah jumlah."
Senyum terkembang di wajah Satori membuat dahi Remilia naik.
"Nona Remilia, anda tidak keberatan ikut saya sebentar?"
Remilia tidak tahu harus bilang apa, tapi mengangguk saja. Ia berpikir lebih baik ikuti keinginan Satori saja sementara. Mereka kembali ke ruang utama. Satori mengangguk, dan dengan segera 4 penjaga Chireiden mohon pamit untuk kembali ke pekerjaan mereka. Remilia dan yang lain ikut bersama Satori keluar. Dari koridor utama mereka turun ke bawah tanah hingga mencapai sebuah gelanggang.
"Gelanggang ini ada sebagai tempat olahraga sekaligus latihan. Ini merupakan peninggalan saat ibukota lama menjadi tuan rumah turnamen bela diri."
"Wow! Luas sekali, dan sepertinya ini dirawat dengan baik." Cetus Meiling yang sedikit bersemangat mendengar kata bela diri. Satori tersenyum mendengar pujian tersebut.
"Orin, Okuu, kerja kalian bagus. Syukurlah tamu kita senang." Keduanya hanya mengangguk dan berterima kasih. Namun, lagi-lagi tidak ada rasa senang atau apapun.
"Anu, apa mereka berdua tidak apa-apa?" Flandre cemas melihat respon keduanya. Satori menggeleng.
"Tidak apa-apa. Mereka hanya tidak biasa diajak bicara oleh orang lain, sehingga setiap bertemu orang asing mereka tidak bereaksi sewajarnya."
Semuanya memaklumi. Kemudian Patchouli memutuskan bertanya.
"Nona Komeiji. Kenapa anda memanggil kami kemari? Apa ada yang ingin anda tunjukkan?"
"Tepat sekali, nona Patchouli." Tiba-tiba, seseorang memukul tengkuk Patchouli hingga membuatnya tak sadarkan diri. Saat yang lain mulai waspada, Meiling dan Sakuya juga dilumpuhkan, menyisakan Scarlet bersaudari.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?!" seru Remilia dengan geram. Flandre terlihat sedikit takut. Di samping Satori, perlahan terbentuk wujud seorang gadis. Ia mengenakan jaket bertudung dan kaos oblong dengan simbol mata di tengahnya. Celana olahraganya sobek di bagian lutut dan sepatunya tampak lusuh.
"Kakak? Jadi mereka mangsaku hari ini?" Seketika napas Remilia dan Flandre serasa sesak. Naluri membunuh muncul dari gadis itu.
"Tidak. Kali ini tidak ada percobaan. Sekarang saatnya kita uji kemampuanmu, Koishi." Terkekeh, Koishi mendongak. Senyumnya menampakkan deretan gigi putih yang menyeramkan. Dikeluarkannya spell card bergambar mata yang tertutup diikuti Satori yang mengeluarkan spell card juga.
"Maiden Sign – Eyes of the Hearts!"
"Maiden Sign – Master of the Minds!"
Keduanya berubah wujud menjadi sepasang youkai Satori, pembaca pikiran. Keduanya menempelkan diri ke satu sama lain, dan menunjuk ke arah Scarlet bersaudari.
"Scarlet! Kami berdua, Satori dan Koishi Komeiji, menantangmu untuk duel danmaku!"
Mendengar itu, keduanya terkejut. Remilia menarik spell card-nya, berniat menumpahkan emosinya.
"Kakak!"
"Flan, kamu awasi yang lain. Cukup aku saja yang ladeni."
Remilia berubah wujud. Namun Flandre tidak mengeluarkan kartunya sama sekali. Hal itu membuat Koishi mendengus.
"Hah? Si adik tidak mau bertarung? Tidak seru nih." Flandre tertegun. Ia hampir menarik kartunya.
"FLAN!"
"Kalau begitu, aku buat saja kamu berubah!"
Tanpa peringatan, Remilia terhempas jauh dari hadapan Flandre. Koishi muncul tepat di depan Flandre, dengan seringainya yang membuatnya bergidik.
"Nah, mau main denganku sekarang?"
