Touhou Project Fanfiction –Negeri Ilusi yang Terlupakan Oleh Ruang dan Waktu

ARC I – THE SCARLET MOONLIGHT

CHAPTER 16 - LIMIT BREAK

Jantung Flandre Scarlet berdegup dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Bulu romanya berdiri setiap matanya bertemu dengan bola mata hijau Koishi Komeiji. Walaupun gadis itu tersenyum manis seolah tanpa dosa, kenyataannya berbeda. Remilia Scarlet tertanam di sebuah kawah kecil di tembok ruangan. Pakaiannya terkoyak dan darah mengalir di beberapa titik. Karena pertarungan danmaku belum secara resmi dimulai, luka Remilia merupakan luka sungguhan. Dadanya kembang kempis, tapi terasa lemah.

"Tenang saja, kakakmu tidak akan mati kok. Asal kamu mau main denganku, dia tidak akan ku apa-apakan." Ucap Koishi masih dengan nada bicara yang santai dan manis. Dengan berjinjit dan melebarkan kedua tangannya, ia mendekati Flandre. Flandre mulai ketakutan, air mata berkumpul dan menunggu terjun dari kelopak matanya.

"Mengapa? Mengapa anda sebegitu inginnya bermain dengan saya?" Flandre berusaha menahan Koishi dengan mengajaknya bicara. Koishi memiringkan kepalanya sambil meletakkan telunjuknya di dagu.

"Mengapa? Eh...hmm...habisnya kakak bilang ada tamu yang sepertinya baik dan bersahabat. Ya jadi aku mau menguji kemampuannya." Koishi berkedip.

"Nah, jangan menungguku bosan dong! Ayo cepat berubah dan bermain denganku." "KYA!"

Koishi berniat mencengkram leher Flandre, tapi Flandre buru-buru menjatuhkan diri. Cepat-cepat ia merangkak dan bangkit untuk melarikan diri dari Koishi.

"Ohohoho, main kucing-kucingan buat pemanasan? Boleh!" Koishi langsung muncul di depan Flandre, membuatnya lari ke arah berlawanan. Namun, lagi-lagi Koishi sudah berdiri dengan senyum mengerikannya. Flandre hanya bisa lari, lari, dan lari hingga ia terantuk dan jatuh. Air matanya bercucuran, kakinya nyeri, dan napasnya memburu. Belum sempat ia menenangkan diri, bayangan gadis bertopi itu sudah menaungi dirinya. Ia mendongak, dan Koishi menjilat bibirnya seolah siap menerkam Flandre.

"Ke-Te-Mu." Tangan Koishi mendekat ke arah Flandre. Flandre menutup matanya, menunggu Koishi menghabisinya, tapi itu tidak terjadi. Tombak berwarna merah terbang mengincar wajah Koishi. Teriakan Satori menyadarkan Koishi dan membuatnya berpindah ke samping Satori lagi. Pelan-pelan, Remilia mendarat di samping Flandre, menempatkan tangannya di depan Flandre, tanda kalau ia tidak mengizinkan mereka mendekati adiknya.

"KAKAK!"

"Diam di situ Flan! Biar kuhabisi dua saudari kurang ajar ini!" Bola-bola danmaku berkumpul di telapak tangan Remilia. Ia mengangkat keduanya, lalu bola-bola itu terpecah jadi pecahan kecil yang bergerak ke arah Satori dan Koishi. Keduanya dengan lihai terbang menghindari semua serangan hingga danmaku Remilia habis.

"Giliranku." Satori mengangkat tangan kanannya, dan alangkah terkejutnya Remilia melihat apa yang dipegang oleh Satori.

"Gungnir?" wajahnya dipenuhi reaksi kaget dan takut. Dengan ekspresi tidak peduli, Satori melemparkan tombak Gungnir ke arah Scarlet bersaudari. Remilia buru-buru melindungi Flandre, bersiap menanggung rasa sakit dari serangan andalannya sendiri. Namun, Gungnir malah menancap di lantai, tanpa ada jejak dari targetnya.

"Ah, meleset." Gumam Satori tanpa adanya kekesalan di nadanya. Pandangannya menerawang keberadaan mereka berdua. Setelah tahu, ia tersenyum kecil. Sakuya Izayoi yang sudah berubah wujud menghentikan waktu dan memindahkan mereka berdua.

"Nona Remilia! Nona Flandre! Anda berdua tidak apa-apa?"

""Sakuya!"" Keduanya tampak lega melihat Sakuya.

"Aduh, si pelayan sudah sadar. Oi, mainnya tunggu giliran dong."

"Diam kau! Orang yang berniat mencelakakan kedua majikanku ini akan membayar mahal."

Suasana semakin menegang. Sakuya sudah menyiapkan pisaunya sambil menunggu Satori dan Koishi bergerak. Satori memberi isyarat pada Orin untuk maju ke tengah lapangan.

"Pertarungan danmaku, Satori Komeiji dan Koishi Komeiji melawan Remilia Scarlet, Flandre Scarlet, dan Sakuya Izayoi." Biarpun ekspresinya tak berubah, suaranya tetap lantang dalam memposisikan dirinya sebagai pengawas pertarungan. Hanya saja, Remilia buru-buru meminta Orin untuk menghentikan pengumumannya.

"Tidak! Tidak usah libatkan Flan! Hei, hentikan!" Orin bergeming, tangannya diangkat dan ia berteriak.

"MULAI!"

Field sihir menyebar hingga menutupi seluruh arena, membuat pertarungan kali ini berganti ke aturan pertarungan danmaku.

"Jangan berpikiran buruk, nona Remilia. Saya hanya melakukan ini agar tidak perlu adanya korban jiwa."

"Keparat!"

Koishi dan Sakuya yang bergerak paling cepat dari kedua tim, saling mengejar dan menembakkan danmaku berbentuk panah dan pisau. Sakuya tampak kewalahan meladeni serangan Koishi, yang sepertinya lebih handal dalam mengatur kapan bergerak dan meluncurkan serangan. Remilia menembakkan danmaku, tapi Satori membalasnya dengan danmaku yang sama.

"Apa? Sama seperti Gungnir, dia bahkan bisa meniru danmaku -ku?" Raut wajahnya menyiratkan frustasi. Melihat Remilia, Koishi tertawa dan menjelaskan.

"Kakak memiliki kemampuan untuk menjiplak jurus apapun yang dimiliki oleh lawannya. Serangan andalanmu pun bisa ia gunakan kan tadi? Hah! Jangan sombong karena merasa punya jurus pamungkas yang kuat, Remilia Scarlet." Koishi mencemooh Remilia hingga ia tidak sabar lagi.

"Tutup mulutmu, bocah gila! Aku tidak sudi ditertawakan olehmu." Langkah Koishi terhenti, menghilang dan muncul di depan Remilia. Tiba-tiba, kedua tangannya mencekik Remilia dengan kuat hingga Remilia memucat.

"Bocah gila? Kau barusan bilang apa kelelawar bau? HAH?!"

"Jangan sentuh nona!" Sakuya bergegas menolong Remilia, tapi Satori menghentikannya dengan Killer Doll.

"Sakuya! Kakak!" Flandre hanya bisa berlutut lemas, tidak tahu harus apa untuk menolong keduanya. Patchouli dan Meiling belum sadar. Meskipun ini pertarungan danmaku, Koishi sepertinya tidak ragu untuk memaksa Flandre meminta timnya menyerah dan membunuh kakaknya.

"Ah..ah" Suara Remilia melemah, tapi Koishi tidak mau berhenti. Satori seolah tak peduli dan hanya mengunci pergerakan Sakuya berulang kali. Flandre merasa sakit melihatnya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Sesuatu itu panas.

"Hentikan." Tangannya bersiap merogoh sesuatu dari sakunya.

"Flan...jangan..." Suara Remilia tidak didengar oleh Flandre. Mata Flandre menghitam, pendengarannya lenyap, dan ia tidak memedulikan sekitarnya lagi.

"Ho? Apanya yang jangan? Memangnya dia bisa apa?" Koishi yang tidak tahu terus menguatkan cengkramannya.

"Kubilang hentikan." Nada bicara Flandre berubah. Di tangannya sudah ada kartu. Kartu yang di mana ia bersumpah tidak akan digunakan lagi.

"Flan..."

"JANGAN SAKITI KAKAKKU!" Tubuh Flandre dibungkus kabut merah yang tebal, membuat Koishi melepas cengkramannya dan di saat ia terpukau oleh Flandre, pandangannya memerah.

"ARGH!" Flandre mencakar matanya, membuat Satori yang dari tadi tak mengeluarkan ekspresi, akhirnya terkejut.

"Itu...jangan-jangan?"

"Tidak. Tidak."

Remilia dan Sakuya pasrah melihat Flandre berubah wujud. Sekarang ia berubah ke wujud yang mirip dengan Remilia. Ia mengecil dan pakaiannya berubah menjadi blus lengan pendek berwarna merah putih. Sayap di punggungnya tak seperti Remilia dan menggantung padanya adalah kristal berwarna pelangi. Ia tak tertawa, dan ia hanya bungkam. Tiba-tiba telapak tangannya menyala seolah mengeluarkan aliran energi dan dihantamkannya ke tubuh Koishi. Koishi terpental keras dan ia terbatuk-batuk.

"Kamu bilang mau main kan tadi?" Ia terbang menuju Koishi yang memegangi perutnya dan tersungkur kesakitan. Flandre dengan kasar menjambak rambut Koishi hingga wajahnya tepat berada di depan Flandre. Kali ini, Flandre lah yang tersenyum.

"Ayo, kita main."