Chapter 1
The Devil and His Palace
*
Kelopak mata Yoongi berkedut, hangat sinar matahari menyentuh wajahnya membuatnya perlahan membuka mata. Asing, itulah yang dirasa saat matanya menatap langit-langit ruangan berwarna putih. Terakhir kali yang ia lihat langit-langit apartemennya tidak berwarna seperti ini, melainkan berwarna hitam dengan motif bintang layaknya hamparan angkasa dimalam hari.
Perlahan kesadaran mengingatkannya akan apa yang sudah terjadi. Tentang kakeknya, tentang paman dan sepupunya, tentang dirinya diguyur hujan deras yang diusir dari rumah, dan tentang... Park Jimin.
Seketika matanya membelalak lebar, dia bangkit dari berbaring menjadi duduk diatas ranjang bekas ia tertidur. Pandangannya mengamati seisi ruangan yang sangat luas, mungkin lebih luas dari kamar apartemennya diamerika tapi tidak seluas kamar Yoongi di Seoul. Dengan nuansa putih dan emas, terkesan elegan bagai kamar-kamar dalam sebuah istana. Tangannya tanpa sadar meremas selimut tebal diatas pahanya, dia yakin pasti dirinya sekarang sedang berada dikediaman keluarga Park, mengingat terakhir kali Park Jimin sendiri yang meminta penjaganya untuk membawa dirinya ikut bersama Park Jimin. Keluarga Park terkenal akan selera mereka yang aristrokasi, kemawahan adalah hal utama bagi mereka tak berbeda jauh dengan keluarga Min. Bisnis keluarga Park juga merupakan saingan berat keluarga Min, kedua keluarga ini seolah sejalan namun tak beriringan.
Sejenak ia meraba tubuhnya yang telah berganti mengenakan piama satin berwarna dusty rose dari terakhir yang ia kenakan, beraninya seseorang telah mengganti pakaiannya tanpa seijinnya, dia hendak mencari ponselnya untuk mencari bantuan, jika bukan paman dan sepupunya mungkin salah satu temannya bisa membantunya, namun kemudian ia teringat kalau dirinya telah diusir tanpa membawa apapun. Dia mengigiti kukunya cemas, apa yang harus dilakukannya sekarang, dia telah diusir keluarganya dan sekarang terjebak dikandang musuh.
*
Sebuah ketukan pintu mengembalikan pikiran Yoongi, pintu itu lantas terbuka begitu saja tanpa seijinnya menampilkan seorang pelayan wanita membawa nampan makanan dan seorang pria lagi yang dikenali Yoongi, pria yang sudah menculiknya, Heosok namanya kalau Yoongi tidak salah mengingat. Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam kamar, si pelayan wanita setelah meninggalkan nampan makanan dimeja nakas samping tempat tidur berlalu pergi sesudahnya, sedang Heosok tetap tinggal berdiri disamping ranjang dengan memasang senyum diwajahnya.
"Selamat pagi tuan Yoongi, bagaimana keadaan anda? efek obat bius tidak membuat anda pusing kan?" sapanya tidak tahu malu. Yoongi hanya melirik ketus.
Heosok yang tak mendapat respon dari Yoongi itu hanya kembali memasang senyum, "Baiklah kalau begitu saya permisi, nikmati sarapan anda" sambungnya sambil menunjuk nampan yang berisi spotong sandwich potongan segitiga dan segelas susu putih dimeja nakas.
"Tunggu-" seru Yoongi saat Heosok hendak beranjak pergi. "Sampai kapan aku tinggal disini?"
"Tentu sampai ajal menjemput, itu kalau anda dan Tuan Jimin tidak bercerai" Heosok berbalik dan kembali tersenyum, lama-lama ingin rasanya Yoongi meninju giginya saja biar berhenti tersenyum seperti itu.
"Sudah kukatakan berhenti bicara omong kosong" kesal Yoongi.
Heosok menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghela nafas, tangannya merogoh saku dibalik kemejanya, mengeluarkan tablet, jarinya bergerak-gerak diatas layar tablet lalu menunjukkannya kepada Yoongi.
Pimpinan Min meninggal dunia akibat serangan jantung, cucu kesayangan sang penerus kerajaan Min justru tidak hadir dalam pemakaman
Header sebuah berita muncul dilayar tablet Heosok, yang seketika membuat Yoongi terkejut. Tidak, bukannya tidak hadir, dia bahkan tidak tahu kalau kakeknya meninggal.
Heosok menarik sejenak tabletnya dari hadapan Yoongi, mengusap-ngusap lagi layar tabletnya lalu ditunjukkan lagi kepada Yoongi
Pewaris keluarga Min tak peduli pada perusahaan bahkan kematian kakeknya sendiri
Seluruh aset keluarga Min diambil alih putra kedua mereka
Terlalu lama hidup diamerika cucu Pimpinan Min tak mau kembali ke korea
Header-header berita lain ditunjukkan Heosok yang membuat amarah Yoongi semakin naik dia meremas selimut sekencang-kencangnya. Tak satupun dari berita itu yang menyatakan kebenaran. Dan puncaknya, saat Heosok memperlihatkan salinan dokumen yang menyatakan bahwa dirinya dan Park Jimin telah menikah dengan tanda tangan kakeknya sebagai wali dirinya, tertera tanggal kalau dokumen itu dibuat 4 bulan yang lalu. Yoongi tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Marah? ia marah pada pamannya yang menyembunyikan kematian kakeknya dan mengusirnya. Kecewa? Kenapa kakeknya justru menikahkannya dengan seorang musuh. Sedih? Karena ia telah kehilangan kakek tercintanya untuk selamanya, seorang kakek yang telah mengurus dirinya penuh kasih sayang, menjaganya dengan segenap jiwa dan raga sejak kematian ayah dan ibunya saat ia masih sangat kecil. Dan ternyata perasaan kehilangan yang mendominasi membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata, tidak banyak, hanya setetes, mungkin karena terlalu sakit yang dirasakan olehnya.
Heosok yang melihat hanya memandangnya penuh iba, seolah ikut memahami apa yang dirasakan Yoongi.
*
*
*
Satu hari tinggal dikediaman Park dilalui Yoongi hanya dengan berbaring diatas ranjang tanpa makan, bahkan minum setetespun tidak. Tubuhnya yang mungil semakin terlihat ringkih, suhu tubuhnya juga sudah mulai meninggi, ia bahkan menolak saat pelayan hendak mengkompresnya. Dia kosong, dia hampa, ditinggalkan kakeknya, dikhianati keluarganya yang tersisa, dan berakhir ditangan musuh, apa tujuan hidupnya kini juga ia tak tahu lagi.
Seorang pelayan datang lagi membawa makanan, ini sudah yang kelima kalinya, Yoongi hanya melirik lalu membalikkan badan, menyingkur makanan yang diletakkan pelayan diatas meja nakas samping ranjang. Ia tak nafsu. Diingatnya pula Park Jimin sang pemilik rumah juga tidak mau repot-repot mengunjunginya, hanya beberapa pelayan pengantar makanan dan sesekali Heosok. Memang seperti itulah seharusnya, Yoongi yakin saat ia matipun Seorang Park Jimin tidak akan peduli.
Pprraaaanngggg~
Suara pecahan mengagetkan Yoongi yang seketika bangkit dari tidurnya. Itu dia, Park Jimin, dengan sengaja telah membanting nampan makanan yang baru saja dibawa oleh pelayan. Tubuh lemah Yoongi hanya memandangnya sayu tak mengerti.
"Kalau kau ingin mati, setidaknya jangan disini!!!" bentaknya. Yoongi hanya mengerlingkan kening tak bertenaga, bibirnya terlalu kering untuk menanggapinya.
"Ku beri kau dua pilihan... " ujarnya terilihan ada kilatan amaran dimatanya "... Pergi dari sini mati tidak berguna diluaran sana, atau... Tinggal disini bersamaku, membalas apa yang sudah dilakukan paman dan sepupumu, merebut kembali kekuasaan kakekmu?" Ucapan Jimin setidaknya menarik perhatian Yoongi kali ini.
"Ku beri kau waktu sampai malam ini, pergi diam-diam atau makan malam denganku nanti malam" ucapnya mengakhiri, Jimin lalu berbalik dengan mengibasakan ujung jas yang ia kenakan, saat pelayan lain hendak masuk untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya, ia justru menahan pelayan itu.
"Biarkan dia yang membereskan" jarinya menunjuk kearah Yoongi, si pelayan yang merasa takut hanya kembali keluar, disusul oleh Jimin yang menutup pintu kamar Yoongi dengan bantingan keras hingga membuat Yoongi berjinggit kaget.
Yoongi lalu memandang bekas makanan dan pecahan piring yang dibanting Jimin, Park Jimin serius dengan ucapannya, seorang Park selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan. Haruskah? haruskah Yoongi mempercayainya? bergantung padanya demi membalas paman dan sepupunya? Tapi jika tidak apakah Yoongi akan membiarkan hidupnya berakhir dengan sia-sia?
*
*
*
Apa mau dikata, bagai tak punya pilihan, kini Yoongi tengah duduk diujung meja makan yang panjang dan besar dengan Park Jimin yang duduk diujung satunya, menyantap hidangannya dengan santai dan elegannya.
Yoongi masih setengah sadar atas putusan yang telah dipilihnya bagaimana ia lebih memilih tinggal dengan Park Jimin juga seolah diluar kuasanya, Yoongi masih belum menyentuh hidangannya.
"Makan!!!" Jimin bersuara ditengah makannya tanpa melirik kepada Yoongi. Sungguh jika bukan karena terpaksa Yoongi tidak akan mau makan diperlakukan seperti ini.
Yoongi tak langsung menyantap hidangannya, pertama dengan gemetaran akibat tak makan selama dua hari,diminumnya segelas air putih dengan serakah, bagai air hujan yang menghapus kemarau panjang, segelas air menghapus semua dahaganya, sedikit mengembalikan energinya. Hal itu berhasil membuat Jimin meliriknya sebentar lalu kembali menyantap hidangnnya. Menyusul Jimin Yoongi juga mulai menyantap hidangannya tak begitu terburu namun juga terlihat lahap.
Setelah hidangan Jimin habis, dia meletakkan sendok dan garbu tengkurap diatas piringnya yang sudah kosong, meminum air putihnya, lalu mengelap bibirnya dengan saputangan diatas meja dengan anggun, dia melipat tangan menunggu Yoongi sampai selesai makan. Dan saat keduanya telah sama-sama selesai, mereka saling bersitatap, seolah memprovokasi satu sama lain.
"Jadi sudah kau putuskan untuk tinggal disini bersamaku?" Jimin memulai, memecahkan kediaman diantara keduanya.
"Tergantung dari rencanamu mengembalikan kekuasaan keluarga Min kepadaku?" jawab Yoongi tegas, ia tak mau lebih lama diintimidasi lagi.
Yoongi tidak mengerti Jimin justru tertawa terbahak mendangar ucapannya.
"Kenapa harus kembali dikeluarga Min? Tidakkah cukup dengan tinggal disini, menjadi pendampingku juga sama halnya kau menguasai kekayaan keluarga Park, kau tetap kaya pada akhirnya"
"itu tidak seperti yang kau tawarkan sebelumnya, Park" Yoongi tidak sabaran, apa arti dari ucapan Jimin, bukankah tadi dia bilang akan membalas perbuatan paman dan sepupunya, mengembalikan apa yang seharusnya jadi milik Yoongi, tapi kenapa sekarang Jimin justru menawarkan kekayaan keluarga Park.
"perlu kau ingat, kau juga Park sekarang, Min" Jimin menghela nafas. "Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdepat saat ini"
"kau yang memulai" sela Yoongi.
Jimin menhela nafas lagi, kenapa pemuda satu ini susah sekali dihadapi. "Baiklah kalau begitu, katakan bagaimana seharusnya aku memulai"
"Katakan padaku bagaimana caranya membalas perbuatan paman dan sepupuku, bagaimana caraku merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikku". Yoongi menatap tajam Jimin.
"Pertama, dengan kekuasaan keluarga Park kita akan menghancurkan bisnis keluarga Min"
"KAU GILA" Sela Yoongi begitu saja, tak terima mendengar kehancuran bisnis keluarga Min, bisnis yang susah payah dibangun kakeknya.
"Memang bagaimana lagi caranya, kakekmu tidak meninggalkan warisan untukmu, kalaupun iya, pamanmu dengan segala kelicikannya itu pasti sudah memusnahkannya. Lagipula kau bisa membangunnya lagi nanti, aku akan membantumu, kau bisa pegang ucapanku ini, seorang Park tidak pernah ingkar"
Yoongi diam, dia berpikir apa memang tidak ada cara lain, selain ini. "L-Lalu... apa imbalan yang kau inginkan atas bantuanmu itu? Aku tahu kau tidak akan melakukan semua itu dengan percuma" Iya, itu pasti, Yoongi tahu tidak ada bantuan yang diberikan cuma-cuma oleh seorang Park, mereka biasa hidup dari negosiasi.
Jimin diam sejenak, mengamati Yoongi yang membuatnya tak nyaman karena itu, tatapan menilai. "Dirimu!!!"
Sejenak Yoongi tak paham atas apa yang disebutkan Jimin, tapi kemudian ia mengerti "Apa??? Apa maksudmu dengan diriku sebagai imbalannya?"
Jimin mengangguk, "Iya dirimu, berikan dirimu seutuhnya padaku, jadi pendampingku, melayaniku dengan segenap jiwamu"
Yoongi kesal tak terima, merasa tersinggung, kedua tangannya meremas bahan satin celananya dipaha, apa dia pikir Yoongi seorang yang murahan, memberikan dirinya untuk sebuah pembalasan?
"Jangan tersinggung seperti itu, ingat kita sudah menikah. Kakekmu sendiri yang memberikanmu padaku" seolah tak mengerti kalimat Jimin justru membuat Yoongi semakin marah, justru karena kakeknya sendirilah yang sudah menyerahkan dirinya kepada Jimin semakin menyakiti hati Yoongi, kakek kesayangannya.
"Terserah dirimu, aku tidak memaksa. Kau terima atau tidak, tidak ada ruginya bagiku" Jimin bangkit dari duduknya, berjalan keujung meja makan mendekati tempat Yoongi duduk "Kau bisa pergi, aku bisa menceraikanmu. Atau... kalau kau menerima, kutunggu kau dikamarku malam ini" tepat dikalimat terakhir sengaja Jimin bisikkan langsung ditelinga Yoongi, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Yoongi dengan segala kekesalannya, pemikirannya, keputusannya.
*
*
*
To be contioued
-
Sudah dilanjut ya... gk nyangka banyak juga yang minta lanjut, padahal kemarin nulisnya iseng!!!
saya masih penulis amatir yang masih butuh banyak masukkan jadi ditunggu review2nya
Khamsahamnida!!!
Jibangie
