Chapter 2

Unaccountability

*

Takut-takut Yoongi melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua rumah Jimin, sempat beberapa kali akan kembali, namun beberapa kali juga ia urungkan. Dia sudah mengambil keputusan, dan keputusannya ialah menyerahkan dirinya kepada seorang iblis bernama Park Jimin. Bukankah kakeknya mengharapkan ini juga saat menyerahkan dirinya kepada Jimin dulu, bagaimana kakeknya bisa membuat keputusan seperti ini, Yoongi menduga bahwa kakeknya telah meprediksi apa yang tengah terjadi saat ini.

Dan saat dirinya telah sampai, tangannya ia naikkan untuk mengetuk pintu kamar Jimin, tidak susah mencari letak kamarnya, dari instruksi pelayan kamar Jimin memeliki dua daun pintu yang cukup lebar nan tinggi dan sepanjang dilantai dua ia mencari hanya kamar ini yang memiliki daun pintu seperti yang disebutkan pelayan. Yoongi sempat menolak saat pelayan akan mengantarnya, dia hanya merasa tidak perlu, diantar pelayan hanya akan membuatnya terlihat seperti akan dieksekuti mati, atau mungkin memang seperti itulah keadaanya saat ini. Ditahannya sebentar, dengan menghela nafas berat ia mengetuk pintu itu, ketukannya terdengar menakutkan ditelinganya sendiri.

"Masuk!!!" suara Jimin terdengar teredam dari balik pintu.

Lagi-lagi dia menghela nafas berat sebelum akhirnya menarik handel kedua daun pintu kemudian membukanya.

Dan disanalah dia, Park Jimin duduk dengan santainya diatas sofa kamar dengan kaki diluruskan diatas meja, dan tangannya mengangkat segelas wine, dia menoleh saat Yoongi telah berdiri disampingnya, memberikan seringaian yang sangat dibenci Yoongi.

"minum?" tawarnya sambil mengacungkan gelas yang dibawanya kearah Yoongi.

Yoongi melirik meja dimana disamping kaki Jimin terdapat sebotol wine dan satu gelas lagi, Yoongi tahu itu, pasti Jimin sudah menduga kalau pada akhirnya Yoongi akan datang padanya. Dengan kesalnya ia mengambil gelas wine ditangan Jimin tanpa peduli, menghabiskan sisa Jimin dengan sekali tenggak lalu meletakkan gelas dengan kasar diatas meja.

Jimin yang melihat hanya tersenyum sinis lalu menurunkan kakinya, beralih menatap Yoongi serius begitupun dengan Yoongi, keduanya lagi-lagi kembali saling bersitatap.

Jimin mengakhiri kegiatan saling menatap itu lebih dulu dengan berdiri sejajar menghadap Yoongi.

"Jadi..." Jarinya perlahan membelai pipi lembut Yoongi, sedang Yoongi hanya diam tak terlihat menolak tapi juga tak memerima "Perjanjian dimulai dari sekarang, hm?" bisik Jimin seduktif ditelinga Yoongi sengaja menabrakkan sedikit bibirnya yang dingin pada daun telinga Yoongi, membuat Yoongi sedikit bergedik merinding. Yoongi hanya bisa memejamkan mata, mengepalkan kedua tangannya, hati kecilnya sangat ingin berteriak menolak tapi tekadnya tidak mengijinkannya, sedang Jimin sudah sibuk mengendusi tengkuk leher Yoongi.

Yoongi benci dirinya yang seperti ini, tak berdaya karena keadaan. Sebenarnya bisa saja ia menolak tawaran seorang iblis seperti Jimin, merelakan segala kekuasaan keluarga Min pada pamannya dan memulai hidup sederhada diluaran sana, tapi harga dirinya tidak ingin dia menyerah begitu saja atas perlakuan tidak manusiawi pamannya, teganya dia membuang anggota keluarganya sendiri hanya karena kekuasaan dan harta. Yoongi ingin menunjukkan pada pamannya bahwa dia mampu melawan, dia bukan lagi Yoongi kecil yang lemah, yang bisa ditindas-tindas begitu saja, meski taruhannya adalah dirinya sendiri, sekarang sudah tak masalah baginya.

Didorong rasa amarah dan balas dendam, Yoongi mulai berani. Tangannya yang mengepal melonggar untuk meraih wajah Jimin dilehernya, dia memandang sejenak wajah Jimin yang juga berbalik memandangnya sendu, dan detik berikutnya Yoongi mencium bibir Jimin rakus, Jimin tersentak sejenak namun tersenyum penuh arti berikutnya dalam ciuman Yoongi, tanpa segan dia membalas ciuman Yoongi, mengimbangi setiap ritme pergerakan bibir Yoongi, menyesap, melumat bahkan saling bertaut lidah.

Perlahan Jimin menggiring Yoongi untuk berbaring diatas ranjang king sizenya dengan mulut masih saling memagut dengan Jimin menindih tubuh Yoongi, tangan Jimin sudah meraba-meraba membuka satu per satu kancing atasan piyama Yoongi memperlihatkan dada Yoongi yang putih mulus bagai porselin. Jimin menurunkan ciumannya merambat kedagu, meninggalkan Yoongi yang terengah meraup kembali oksigen untuknya bernafas, Yoongi gila, Yoongi pasti sudah gila, hanya dengan ciuman dan sentuhan Jimin ia sudah merasa diatas awan mengabaikan keterpaksaanya yang dirasakannya sebelumnya.

Bibir lembut Jimin mulai turun mengecupi leher Yoongi meninggalkan jejak kemarahan yang mungkin akan berubah jadi keunguan saat Yoongi bangun nanti.

"Nnghh" desahan tertahan tanpa permisi keluar dari bibir Yoongi saat ujung gigi-gigi Jimin menggigit bagian-bagian sensitifnya. Bibir kurang ajar itu terus bekerja bertemu puting Yoongi yang terlihat sudah sangat sensitif, tangan Yoongi bergerak mencari pegangan, mendapati surai halus Jimin untuk diremasnya, sedang Jimin tak peduli masih sibuk menyesap sebelah puting Yoongi dan sebelah lainnya diremas-remas tangannya.

Namun saat Yoongi mulai menikmanit dan hendak hilang akal, Jimin berhenti begitu saja dari semua kegiatannya, membuat Yoongi yang semula terpejam menjadi membuka mata waspada. Jimin sejenak melihat wajah Yoongi yang sudah berantakan itu lalu "aku tidak akan mengambil imbalanku sekarang" bisiknya ditelinga Yoongi, "Nanti... ketika semua keinginanmu terpenuhi, aku akan menagih imbalanku" sambungnya lalu bangkit dari tubuh Yoongi, Yoongi hanya terperangah.

"Tidurlah disini!!! ada tempat yang harus kau kunjungi besok" titah Jimin lalu pergi berlalu keluar dari kamarnya meninggalkan Yoongi yang terlihat menyedihkan.

Piyama yang berhasil dibuka Jimin ia tutup tanpa mengancingnya kembali, dipeluknya tubuhnya yang menyedihkan meringkuk diatas ranjang yang sangat besar itu. Jimin benar-benar seorang iblis, dia benar-benar sangat pandai mempermainkan manusia lemah yang terpojok seperti Yoongi. Rembesan air mata menetes dari matanya yang terpejam, dia tidak tahu harus senang atau sedih karena Jimin tidak jadi menidurinya, atau sedari awal memang inilah rencana Jimin, mempermainkan dirinya.

*

*

*

Yoongi membuka kotak persegi yang ditemukannya diatas ranjang saat ia baru saja bangun dari tidurnya. Sebuah setelan jas hitam dengan garis tiga pita putih dilengannya berada didalamnya, Yoongi tahu apa artinya ini, tapi apa mungkin.

"Kita akan ke makam kakekmu, kau belum sempat memberikan penghormatan terakhir kan?" Jimin yang datang tiba-tiba lengkap dengan setelan jas hitam yang rapi seolah tahu apa yang dipikirkan Yoongi.

"kau tahu tempatnya?" tanya Yoongi meragu.

"Tentu... aku datang saat pemakaman kakekmu, tentunya tanpa sepengetahuan pamanmu"

Yoongi mengerutkan dahi tidak mengerti, "Sebenarnya apa hubunganmu dengan kakekku, kenapa dia bisa menikahkanku denganmu, dan kau juga datang ke pemakamannya"

Jimin terlihat menimbang sekilas lalu mengangkat bahu, "Aku?... Aku hanya menolong seorang lelaki tua yang sekarat yang berharap hidup cucunya akan baik-baik saja saat ditinggalkannya"

"Ck~ Jangan sok baik" Yoongi berdecak sinis mendengar kalimat tak tulus Jimin, "Kurasa kakekku salah meminta pertolongan" gumamnya memalingkan muka dari Jimin.

"Terserah apa katamu... kalau kau membuatku menunggu lebih lama. Kesempatan mengunjungi makam kakekmu akan hilang" lagi-lagi Jimin meninggalkan Yoongi begitu saja, Yoongi menendang kasar selimut dikakinya, ingin sekali rasanya menghajar Jimin mati-matian saat ini.

*

Abu kakek Yoongi disemayamkan dirumah duka yang sama dimana abu ayah dan ibu Yoongi juga disemayamkan, harusnya Yoongi sudah menduga itu, harusnya dia bisa datang sendiri tanpa bantuan Jimin, betapa tidak bergunanya dirinya.

Sebuah guci berwarna putih, dengan papan kecil bertuliskan nama 'Min Yoongsuk" lengkap dengan sebuah figura foto kakek Yoongi diletakkn dirak kaca disamping sepasang guci kembar milik orang tuanya. Yoongi menarik setangkai bunga daisy putih dari buket bunga yang ia bawa, diletakkanya didepan guci sang kakek, dan meletakkan sisanya didepan kedua guci orang tuanya kemudian. Yoongi bersujud tiga kali berusaha menahan tangis sebagai bentuk penghormatan untuk ketiganya dihadapan makam mereka. Jimin dan Hoseok yang datang bersama Yoongi hanya menyaksikan berdiri diambang pintu ruang abu.

'Kakek... Yoongi menyesal tidak bisa menghadiri pemakaman kakek, Yoongi tidak sempat melihat wajah terakhir kakek. Tapi Yoongi sekarang sudah datang, dan akan sering datang untuk mengunjungi kalian. Yoongi akan hidup dengan baik tanpa paman dan Seokjin hyung. Jadi beristirahatlah dengan tenang. Ayah, ibu tolong jaga kakek'

Do'a Yoongi dalam hati dihadapan makam ketiganya, jarinya mengusap setetes air mata yang turun begitu saja dipipinya lalu berbalik berjalan menghampiri Jimin dan Hoseok bersiap untuk pergi yang keduanya sempa membungkuk pamit sejenak menghadap ketiga makam dibelakang Yoongi.

*

Mobil mereka lewat bersingsingan dengan mobil Seokjin saat mereka akan pulang dan Seokjin yang baru saja akan ke makam. Yoongi yang sadar akan itu, dia hapal betul bagaimana mobil sepupunya.

"Hyung~" lirihnya sembari matanya menatap haru mengikuti mobil Seokjin yang melewatinya. Sekilas ada tatapan kerinduan disana sebelum kesedihan mengingatkannya akan apa yang sudah dilakukan paman dan sepupunya itu. Dan Jimin yang duduk disampingnya sadar akan Yoongi, berusaha hanya mengabaikannya, membiarkan Yoongi dengan segala kesedihannya.

*

Seokjin datang berkunjung lagi, dia selalu rutin mengunjungi makam kakek dan kedua paman juga bibinya, namun kali ini terlihat berbeda. Matanya menangkap ada bunga dimakam ketiganya, bunga itu masih segar, seseorang telah datang berkunjung belum lama. Dia menoleh kebelakang mencari tahu, tentu saja ia tidak melihat apa-apa selain dirinya dimakam itu. Apakah Yoongi yang baru saja berkunjung batinnya, lalu matanya menatap sedih ketiga makam dihadapannya.

"Maafkan aku!!!" Hanya itu yang ia ucapkan sesudahnya entah pada siapa, kakeknya kah? paman dan bibinya kah? Yoongi kah? atau mungkin kepada semuanya?

*

*

*

'Min Yoongi cucu dari putra pertama pimpinan Min telah kembali ke korea, dan kabar mengejutkannya ia kembali sebagai istri dari satu-satunya pewaris keluarga Park. Ini sangat mengejutkan mengingat bagaimana cucu pimpinan Min tidak datang saat pemakamannya. Wakil dari pihak Park menjelaskan bila saat itu keadaan Min Yoongi tidak memungkinkan untuk datang ke pemakaman kakeknya jadi suaminya Park Jimin yang datang untuk mewakili, diketahui bila keduanya menikah jauh sebelum Pimpinan Min meninggal. Hingga saat ini baik Min Yoongi ataupun Park Jimin, keduanya masih belum bisa ditemui. Sekian berita dari HBS News hari ini'

"Ini... " Yoongi memandang Jimin penuh pertanyaan, baru saja dilihatnya sebuah siaran langsung sebuah berita dipapan reklame yang terpampang diperjalannya pulang.

Jimin hanya menaikkan bahu acuh tanpa melihat Yoongi "Ini langkah awal... Dunia harus tahu kau telah kembali" ucapnya datar.

Yoongi terperangah, mulutnya terbuka lebar. Jimin sudah memulainya, Jimin melakukannya, Jimin benar-benar membantunya.

*

*

*

To be continoued

-

Pertama saya mau sujud sembah sama bang Hobi. Maaf bang adek salah sebutin nama abang, adek cinta abang, jangan ceraikan adek bang #nangis dikaki Jeyop

Terimakasih buat Kunchen kasur yg udah mengingatkan hehehe

Saya benar2 masih belajar nulis jadi masukan kalian akan sangat berharga bagiku, ditunggu selalu review dari kalian yang membuatku semangat nulis

Khamsahamnida

Jibangie