Chapter 3
"What's Your Next Plan?"
*
Pprraaannggg~
Sebuah gelas dibantingkan dengan keras kedinding membuat serpihan pecahan kacanya berserakan dilantai.
"Sudah kuduga kakek tua itu pasti punya rencana sebelum kematiannya" kesal seorang lelaki diumur pertengahan 40an memandang layar TV diruang santainya yang menampilkan sebuah berita. Dia mengepalkan tangannya bersungut-sungut marah mengambil ponselnya yang sedari tadi diletakkannya diatas meja untuk melakukan sebuah panggilan dari ponselnya.
"Seokjin kau dimana?" Tanyanya begitu panggilannya tersambung dengan seorang diseberang sana.
"Aku sedang dirumah abu, ayah"
"Ck~ Masih saja kau sering kesana huh?" raut mukanya semakin bertambah marah. "Tidakkah kau ingat apa yang sudah mereka lakukan pada kita Seokjinie"
Tak ada jawaban, Seokjin diseberang sana hanya diam.
"Cepat pulang sekarang juga, Kakek dan sepupu kesayanganmu itu membuat masalah lagi" Perintahnya tegas dan langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban Seokjin terlebih dulu.
"Min Yoonsuk... Tidak akan kubiarkan hidup cucu kesayanganmu itu bahagia. Lihat saja nanti!!!" gumamnya yang lalu membanting ponselnya ke sofa dengan kasar dan berlalu pergi dari ruangan.
*
*
*
Langit malam terlihat suram, tak ada sinar bulan yang mancul bahkan bintangpun juga tak terlihat diatas sana, tidak jauh beda dengan suasana hati Yoongi saat ini. Hatinya selalu suram kala mengingat apa saja yang sudah menimpa dirinya. Rasanya baru kemarin ia masih hidup di Amerika dan baik-baik saja tapi sekarang seolah jam pasir yang dibalik, hidupnya berubah sepenuhnya, seperti ruang kosong pada jam pasir yang sedikit demi sedikit terisi oleh butiran pasir, semuanya harus dimulainya dari awal.
Yoongi memandangi suramnya langit malam dari balkon lantai dua rumah Jimin, bersandar pada pilar penyangga yang ada di balkon, merenungi segala hal yang terjadi pada dirinya. Dia masih rindu kakeknya meski dia sudah mengunjungi makamnya, harusnya dia bisa melihat wajah terakhir kakeknya sebelum kepergianya, dan meski benci jujur dia juga merindukan paman dan sepupunya. Dulu mereka sangat baik kepada Yoongi tapi kenapa bisa mereka setega itu kepadanya, apakah selama ini mereka hanya berpura-pura baik padanya, apakah harta dan kekuasaan memang lebih penting bagi mereka dari pada keluarga mereka sendiri. Apa jika Yoongi mengambil itu semua mereka akan kembali kepada Yoongi, menjadi keluarganya lagi.
Suara ketukan pintu yang terbuka dibelakang Yoongi, sedikit mengaketnya yang melamun, ia berbalik dan menemukan Hoseok berdiri disana.
"Maaf mengagetkan anda tuan... Saya hanya ingin menyampaikan kalau ini sudah jam makan malam, tuan Jimin sudah menunggu anda dimeja makan". ujarnya dengan senyum sopan.
Yoongi memutar bola matanya malas "Apa dia tidak bisa makan sendiri saja, kenapa harus menungguku?" gerutunya, meski ia sudah berkompromi untuk bekerja sama dengan Jimin untuk membalaskan dendamnya tapi tetap saja ia masih tidak suka dengan sikap arogan Jimin kepadanya beberapa hari ini.
Hoseok hanya mengangkat bahu tidak tahu, "Yang pasti tuan Jimin akan marah jika perintahnya dibantah, dan anda tidak akan suka itu"
Ya, Yoongi jelas tidak suka, dia pernah melihat sekali saat dirinya mogok makan dan Yoongi sangat tidak suka itu, bukannya dia takut dia hanya malas saja menghadapi arogansi Jimin, dia hanya ingin hidup tenang disini setidaknya sampai dendamnya terbalaskan, lagipula tanpa Jimin dia pasti tidak akan bisa menjalankan niatnya, Jimin baru saja membuktikan kehebatannya dengan merilis berita keberadaanya, setidaknya bagi Yoongi, Jimin bisa diandalkan.
Yoongi menghela nafas pasrah "Baiklah... aku akan turun" ia melangkah melewati Hoseok yang sudah membungkuk kepadanya.
"Dan... Hoseok!!!" panggilnya kembali berbalik "Kau tidak perlu bersikap terlalu sopan padaku, aku bukan tuanmu disini, panggil saja aku Yoongi"
Hoseok sudah siap membantah, namun Yoongi menghentikannya dengan gelengan "aku hanya ingin berteman" ujarnya tulus yang tidak mungkin ditolak Hoseok.
Hoseok lalu tersenyum simpul, "Baiklah... Yoongi" Jawabnya yang dibalas senyuman oleh Yoongi. Akhirnya setelah begitu banysk kesedihan yang ia alami Yoongi akhirnya tersenyum, ia telah banyak kehilangan, setidaknya memiliki seorang teman membuatnya memiliki sesuatu yang berharga lagi.
*
*
"Ck~ Apanya yang menunggu" Decak Yoongi yang menemukan Jimin makan dengan santainya dimeja makan, siapa tadi yang mengatakan akan menunggunya untuk makan, orang seperti Jimin mana mau repot-repot menunggu orang lain hanya untuk makan, harusnya Yoongi sudah hafal itu.
Yoongi menarik bangkunya berisik dengan sengaja untuk duduk ditempatnya, diujung meja makan berlawanan dengan Jimin. Seolah tidak mendengar, Jimin mengabaikan Yoongi dan masih melanjutkan menyantap hidangannya dengan sangat elegannya, Yoongi yang semakin kesal hanya ikut menyusul Jimin menyantap hidangannya.
Mereka berdua makan dengan khitmat, tidak ada yang bersuara diantara keduanya, suara kunyahan dari merekapun tak terdengar, sungguh acara makan malam yang membosankan.
Hingga pada saat mereka selesai dengan hidangan mereka Yoongi memulai percakapan "Apa rencanamu selanjutnya?"
"Tidur" Jawab Jimin singkat.
Sungguh Jimin akan menduduki peringkat pertama orang yang mudah membuat Yoongi kesal, apa dia sengaja atau... dia memang sengaja. "Kau tahu bukan itu yang kumaksudkan"
"Pertanyaanmu kurang spesifik, lagipula aku memang berencana tidur setelah ini" raut wajah Jimin biasa, terlalu biasa hingga Yoongi ingin sekali menghajarnya.
Yoongi menghela nafas jengah "Sudahlah lupakan, aku juga ingin tidur" Yoongi bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Jimin yang sudah menyeringai penuh kemenangan diwajahnya.
*
*
"Dasar iblis menyebalkan, terkutuklah kau Park Jimin" gerutu Yoongi sepanjang jalan ia memasuki kamarnya, kamar tempat ia pertama kali bangun dirumah ini, iya, tentu dia tidak akan mau tidur dikamar Jimin lagi, itu hanya akan mengingatkannya pada insiden dimalam itu. Malam dimana Yoongi hampir lupa diri menyerahkan dirinya, sedang Jimin malah mengabaikannya, sungguh terkutuklah Jimin.
Dia membuka lemari besar didalam kamarnya, melihat sekiranya ada pakaian yang bisa ia kenakan untuk tidur. Hoseok bilang Jimin sudah menyiapkan banyak pakaian untuknya, dan ternyata benar, ada banyak sekali pakaian dilemari itu, terlalu banyak. Dia memilih mengambil setelan piyama warna merah bermotif kotak-kotak setelah memilah-milah.
Digantungkannya piyama itu di handel pintu lemari dan mulai melepas pakaian yang ia kenakan saat ini.
Namun saat ia selesai melepas semua pakaiannya dan baru saja selesai mengenakan bagian atas piyamanya yang belum sempat ia kancingkan, pintu kamarnya dibuka begitu saja, Jimin masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.
Yoongi yang kaget hanya bisa menutupi tubuhnya dengan atasan piyama tanpa dikancing, dengan bagian bawah tubuhnya masih telanjang, beruntung bagian atas piyama itu cukup besar, menutup tubuhnya hingga sepaha.
"Ya~ A-apa kau tidak bisa mengetuk pintu" Marah Yoongi sembari merapatkan pelukan tangannya menutup piyama yang tak terkancing dengan kaki yang ia lipatkan gelisah, dia benar-benar tidak memakai apapun dibawah sana.
Jimin yang sudah berdiri didepan Yoongi hanya melirik tubuh Yoongi, dari kaki ramping nan mulusnya itu hingga rambutnya yang terlihat sedikit berantakan efek ganti baju. Yoongi berdiri semakin gelisah mencoba mundur selangkah menjauhi Jimin, namun seolah tak mengerti Jimin ikut maju selangkah mendekati Yoongi, terus begitu hingga punggung Yoongi menabrak pintu lemari, dia sudah tidak bisa mundur lagi, Jimin berhenti tepat didepannya dengan jarak yang terlalu tipis.
Yoongi gelisah, tubuhnya yang mungil semakin menyusut rasanya, dia melemparkan pandangan ke sembarang arah, tak berani memandang Jimin yang menatapnya penuh tujuan.
"A-Apa yang kau lakukan?" tanyanya gugup saat kedua tangan Jimin sudah berada diantara kepalanya yang menempel pada pintu lemari, Yoongi masih tak berani melihat Jimin, dan herannya kenapa dia sama sekali tak bisa melawan sikap kurang ajar Jimin kepadanya.
"kau bertanya apa rencanaku selanjutnya?" Bisik Jimin sensual ditelinga Yoongi yang seketika membuat bulu kuduk Yoongi berdiri, merasa terancam tiba-tiba.
"I-Iya... M-Maksutku apa rencanamu pada pamanku s-selanjutnya" Yoongi sedikit tergagap takut, namun selanjutnya ia sadar dan teringat akan ucapan Jimin, tentang Jimin yang tidak akan mengambil imbalannya dari Yoongi setelah balas dendam Yoongi selesai, harusnya Jimin tidak menyentuhnya saat ini bukan.
Yoongi berani menatap Jimin sekarang "Jimin... Kau bilang akan mengambil imbalanmu sa~" Namun kalimatnya tidak pernah selesai karena bibir Jimin sudah berhasil membungkam mulutnya yang terbuka. Lagi-lagi Jimin bersikap kurang ajar dengan tiba-tiba menciumnya, Yoongi berontak, reflek tangannya ia gerakkan untuk menahan tubuh Jimin yang semakin menghimpitnya yang sayangnya membuat piyama yang belum sempat terkancing itu terbuka dan memperlihatkan bagian depan tubuhnya.
Jimin semakin menekan ciumannya lebih menuntut, lambat laun Yoongi yang tersudut pun tidak memiliki pilihan lain selain menerima ciuman Jimin, matanya terpejam perlahan, dia mulai membalas ciuman Jimin, bibir mereka seolah melengkapi satu sama lain, saling meraup rakus kenikmatan masing-masing, lidah mereka saling bertemu, bertautan tak tahu malu. Yoongi pasrah tentang kapan Jimin akan menginginkannya, perjanjian ada ditangannya.
Tangan Yoongi yang menahan tubuh Jimin beralih meremas kemeja Jimin untuk pegangan karena tubuhnya yang semakin melemah kehabisan oksiden. Sebelah tangan Jimin sudah bergelayut dipinggulnya menahan berat tubuhnya yang melemas, kakinya sudah bagai jeli yang tak mampu berdiri.
Jimin menyudahi ciuman mereka saat keduanya benar-benar akan kehabisan oksigen sehingga menyisakan benang liur dari kedua bibir mereka, dan nafas yang tak beraturan.
"Aku memang akan mengambil imbalanku nanti, tapi bukan berarti aku tidak akan menyentuhmu, seperti menciummu saat ini" ucapnya pelan didepan bibir Yoongi yang masih sibuk mengatur nafas, matanya perlahan terbuka menatap mata gelap Jimin. Aneh, dia mersa terjebak dalam tatapan itu, hatinya mulai berdebar merasakan sesuatu yang aneh.
"Rencanaku selanjutnya adalah... menggali segala informasi yang dapat menjatuhkan perusahaan keluarga Min" Jimin mengecup kembali bibir Yoongi singkat, Yoongi hanya melongo merasa tak mengerti dengan situasi yang terjadi, baru saja Jimin memberitahuan rencananya selanjutnya?
Jimin menyeringai melihat kebingungan Yoongi, satu persatu ia kancingkan piyama Yoongi yang terbuka. "Beri tahu aku segala informasi yang kau punya, kau pernah menjadi bagian dari mereka bukan?" Jimin menepuk pelan pipi Yoongi lalu pergi meninggalkan Yoongi yang masih melongo.
Hingga setelah Jimin benar-benar hilang dari kamarnya, kesadaran baru menghampirinya, segera ia berlari kearah pintu kamarnya, menutup lalu menguncinya, tubuhnya merosot pada daun pintu setelahnya. Ingatkan Yoongi untuk mengunci pintunya setiap saat setelah ini.
*
*
*
Hari berlalu, kini Yoongi tengah berada diruang kerja Jimin, duduk berhadapan dimeja kerja Jimin. Jimin memberikannya beberapa berkas informasi tentang perusahaan milik keluarga Yoongi. Seolah tak terjadi apapun Jimin bersikap biasa saja, berbeda dengan Yoongi yang berusaha mati-matian untuk menahan jantungnya yang terus berdebar didekat Jimin, beribu kali ia merutuki jantungnya sendiri karena itu, mudah sekali ia berdebar hanya karena dicium Jimin, apa mungkin memang Min Yoongi adalah seorang yang murahan.
"Jadi... apa kau punya informasi lain selain data-data yang kutunjukan padamu?" Tanya Jimin mengagetkan Yoongi yang membaca berkas-berkas yang sebenarnya melamun itu.
Yoongi mengerjapkan mata mengembalikan kesadarannya "Kau hebat bisa mendapat semua informasi ini"Jawabnya mencoba bersikap biasa.
Jimin tersenyum sombong mendengarnya "Kita saingan, kau tahu. Kau harus tahu semua informasi dari musuhmu kalau kau ingin menang"
Lupakan debaran jantung Yoongi, kini dia kembali membenci sikap angkuh Jimin, selalu.
Sayang suara ketukan pintu menginterupsi Yoongi yang hendak memaki Jimin karena keangkuhannya itu.
"Masuk!!!" Jimin mempersilahkan.
Pintu terbuka, dan ternyata Hoseok yang datang masuk mendekat ke mereka.
"Tuan... Tuan Kim Taehyung datang" ujar Hoseok setelah membungkuk hormat singkat kepada keduanya.
"Sudah kubilang, rumahku tidak menerima tamu, suruh dia kembali. Kita bertemu besok saja dikantorku" Jimin mengibaskan tangannya untuk mengusir tamunya kepada Hoseok.
"Maaf tuan. Tapi istrinya ingin bertemu Yoongi"
"YOONGI?" Dahi Jimin berkerut mendengar perkataan Hoseok, sejak kapan Hoseok berani memanggil Yoongi hanya dengan sebutab nama.
"Aku yang memintanya" Jawab Yoongi menimpali "Aku tidak suka panggilan formal, dan aku senang Hoseok beradaptasi dengan cepat" Yoongi tersenyum mengacungkan jempolnya kepada Hoseok yang juga membalas tersenyum kepadanya.
"Aaahhh sudah, sudah" Jimin mengibaskan tangannya jengah dengan mereka berdua yang saling tersenyum "Aku tidak peduli soal kalian yang menjadi akrab. Kau bilang apa tadi? istri Taehyung ingin bertemu Yoongi? Jungkook maksudmu?
Hoseok mengangguk cepat, Yoongi yang mendengar nama istri dari tamu Jimin itu merasa familiar.
"Jungkook? Apa Jeon Jungkook?" Tanya Yoongi ragu, dia ingat punya adik angkatan sewaktu SMA yang dulu menjadi tetangganya, yang ia tahu bahwa Jungkook memang sudah menikah hanya saja ia lupa nama suaminya.
"Kau mengenalnya?" Jimin bertanya.
Yoongi mengangguk lalu bangkit berdiri untuk pergi dari ruangan kerja Jimin "Aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya" ujarnya sembari keluar.
Jimin menghela nafas lelah "Aku tidak suka ini" gerutunya melirik Hoseok yang berbalik tersenyum getir meminta maaf kepada Jimin.
*
*
*
*
*
To be Continoued
-
Hai-hai... tokohnya semakin bertambah ya biar rame, tinggal bpk Namjoon ajah yang belum ada, tahulah jadi apa dia nanti.
Jangan lupa reviewnya ya, masih banyak salah ini butuh masukan
Khamsahamnida
Jibangie
